Meditasi Harian, 26 Juli 2017 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XVI

CINTA BUTUH BUKTI BUKAN JANJI

Bacaan:

Sir.44:1.10-15; Mzm.132:11.13-14.17-18; Mat.13:16-17

Renungan:

Tanah yang baik memberi jalan bagi benih yang ditanam untuk tumbuh, berkembang dan berbuah. Jika diumpamakan tanah itu adalah kita manusia dan benih adalah Firman Allah, maka keterbukaan terhadap rahmat Allah dengan segenap daya upaya kita untuk mengasihi Dia, sungguh menentukan bagaimana hidup kita diubahkan oleh kabar sukacita Kerajaan Allah. Tidak semua yang datang untuk berjumpa dan mendengar perkataan Tuhan dapat pula menangkap dan mengerti. Ada yang menerima dengan penuh sukacita dan seketika hidupnya diubahkan oleh pengalaman kasih Allah itu, ada pula yang memiliki kekuatiran akan konsekuensi hidup kekristenan kemudian mundur perlahan-lahan, dan banyak pula yang tidak sanggup melihat kenyataan bahwa ia harus berubah serta tidak sanggup mendengar perkataan yang keras dan menuntut itu, lalu pada akhirnya menolak dan meninggalkan jalan Tuhan.

Memang benar, bahwa rahmat Allah sendiri sanggup mengubahkan hidup kita. Kendati demikian, biasanya rahmat Allah bekerja lebih leluasa dalam diri mereka yang sungguh merindukan Dia, serta melakukan segala upaya untuk mencari wajah-Nya. Ia mendekat secara lebih mesra kepada mereka yang dalam kepasrahan seorang anak, memberanikan diri untuk datang mendekat kepada-Nya. Maka, secara sederhana dan tegas dapat diminta dari kita, “Kalau kamu sungguh mencintai Tuhan, ‘Buktikanlah!'” Ini bukan pertama-tama melalui tindakan-tindakan heroik yang mengagumkan seperti memberikan nyawa demi iman atau kasih akan sesama. Tidak serta-merta seperti itu.

Untuk mengalami kebesaran kasih Allah dan kelimpahan rahmat-Nya, seorang beriman dapat memulainya dari kesetiaan pada perkara-perkara kecil. Dimulai dari hal-hal yang seringkali amat mendasar dan mungkin terlalu sederhana, seperti bangun pagi-pagi benar untuk mempersembahkan hari kita kepada-Nya, memberikan waktu sejenak setiap hari untuk merenungkan Firman-Nya dalam Kitab Suci, mempersiapkan sarapan dan memastikan anak-anak berangkat ke sekolah tepat waktu, memberikan tempat duduk kita di bus kepada mereka yang lanjut usia, tidak melakukan pungutan liar melebihi ketentuan di kantor, memberikan salam dan dukungan semangat kepada mereka yang berbeban karena tekanan hidup, mengakhiri hari dengan pemeriksaan batin dan memohon pengampunan untuk menit-menit yang gagal dipersembahkan demi kemuliaan Tuhan, serta berbagai tindakan-tindakan kecil dan sederhana lainnya. Memang kecil dan sederhana, seolah tidak berdampak signifikan untuk merubah keburukan dunia ini, tetapi sebagaimana dosa datang karena kejatuhan satu orang dan keselamatan dunia datang pula karena “Satu Orang”, yakinlah persembahan dirimu, sekecil dan sesederhana apapun, bila dilakukan karena kobaran api cinta, pada akhirnya akan sanggup menyentuh dan menggetarkan Hati Allah, Sang Cinta, untuk mengarahkan pandangan belas kasih-Nya kepada-Mu dan mencurahkan rahmat-Nya secara melimpah ke dalam dan melalui dirimu. Pada waktu itu sekali lagi kamu akan mendengar suara-Nya yang amat lembut, “Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar” (Mat.13:16).

Bersama Gereja Kudus, hari ini kita memperingati pula dengan penuh syukur akan suami istri yang amat saleh, Santo Yoakim dan Santa Anna. Mereka berdua telah menunjukkan keteladanan kesetiaan dalam perkara-perkara kecil sehari-hari, dan pada akhirnya mempersembahkan permata terindah dalam Kekristenan, yakni putri mereka, Perawan Maria yang terberkati. Inilah keteladanan hidup yang sungguh menjadi persembahan yang harum dan berkenan di Hati Tuhan, dan menghasilkan buah yang disyukuri oleh seluruh umat manusia. Santa Maria, bimbinglah kami menuju Putra-mu, dalam keteladanan beriman sebagaimana ditunjukkan ayah dan ibumu, Santo Yoakim dan Santa Anna.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 26 Maret 2017 ~ MINGGU IV PRAPASKAH (LAETARE)

DIA MELIHAT HATIMU

Bacaan:

1Sam.16:1b.6-7.10-13a; Mzm.23:1-3a.3b-4.5.6; Ef.5:8-14; Yoh.9:1-41

Renungan:

Hidup beriman ibarat suatu pendakian gunung. Perjalanannya tidak selalu mudah, bahkan tak jarang harus melalui bahaya dan melewati lereng-lereng yang tidak selalu diterangi oleh cahaya, dimana kegelapan menyulitkan kita untuk melihat kehendak Tuhan. Ketika pendakian rohani mulai mendekati puncak pun, kita akan semakin menderita kepayahan. Itulah sebabnya banyak yang memulai pendakian, tetapi sedikit saja yang tiba di puncak, untuk beristirahat bersama Allah.

Kemurnian hatilah yang memampukan kita untuk mendaki gunung Tuhan dan tiba di puncak-Nya yang Kudus (bdk.Mzm.24:4). Kemurnian hatilah yang mendatangkan urapan dan penyertaan Tuhan dalam peziarahan hidup kita menuju Allah. “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (1Sam.16:7d). Hati yang senantiasa memandang Allah, tidak akan pernah merasa kurang. Baginya Tuhan sungguh adalah Gembala Yang Baik, sebagaimana kata pemazmur (bdk.Mzm.23:1). Rahmat Tuhan cukup baginya. Hati yang selalu memandang Allah itu bagaikan lautan luas yang penuh kemurahan, sebab dia pun telah menyadari betapa banyak kemurahan Tuhan yang tercurah atas hidupnya. Hati yang mencintai Hukum Tuhan yang membebaskan, dan melihatnya sebagai kuk yang enak, serta beban yang ringan. Dengan demikian, hukum ditaati dan dilakukan penuh kecintaan. Semoga kita tidak akan menerima kecaman Tuhan, sebagaimana orang-orang Farisi dalam Injil hari ini. Sebab melebihi kebutaan dan cacat fisik lainnya, jauh lebih malang mereka yang mengalami kebutaan dan cacat rohani. 

Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak menerima belas kasih Tuhan. Akan tetapi, seringkali kebutaan dan cacat rohanilah yang menghalangi kita untuk sungguh mengalami, dan mensyukuri belas kasih Allah dalam segala kepenuhannya. Kita semua menerima cukup dari tangan kemurahan Tuhan, berlimpah malah. Kejatuhan dosalah yang membuat manusia selalu merasa kurang. Dosalah yang mengaburkan pandangan kita untuk memandang wajah belas kasih Allah melalui berbagai penderitaan hidup. Kendati tidak mencobai, Allah mengijinkan kita mengalaminya, untuk mendatangkan kebaikan dari rupa-rupa penderitaan hidup, seberapapun sakitnya itu. Pergumulannya mungkin berbeda, cara menyikapinya mungkin berbeda, demikian pula kita disembuhkan secara berbeda satu dengan yang lain. Tetapi, bila hati kita selalu memandang Hati Tuhan yang terluka, kita akan senantiasa beroleh kekuatan untuk melaluinya, dan pada akhirnya keluar sebagai pemenang. Hidup kita akan bercahaya, karena memantulkan cahaya cinta Tuhan. 

Semoga Masa Prapaskah ini mengarahkan kembali hati kita, untuk memandang Allah dengan penuh cinta, dan memandang sesama dengan penuh kemurahan. Minggu IV Prapaskah adalah Minggu “Laetare” (Sukacita). Di tengah mati raga, puasa dan laku tapa Prapaskah, putra-putri Gereja bersukacita, karena penghiburan yang berasal dari Allah. Panggilan untuk bertobat bukanlah beban yang memberatkan perjalanan, melainkan suatu rahmat untuk mengalami kasih Allah yang mengubahkan hidup, yang membukakan mata hati kita untuk mengarahkan pandangan kepada Allah. Saat dimana kelumpuhan dan segala cacat rohani kita akibat dosa disembuhkan, sehingga kita boleh bangkit dan  menerima segala rahmat yang disediakan dari kemurahan hati Allah, serta dengan penuh sukacita memikul salib, untuk kemudian berjalan menuju Allah.

Teladanilah kemurahan hati Ibu kita, Perawan Maria yang amat suci. Kenalilah hatinya, maka hatinya akan membimbing kita dengan penuh kelembutan untuk menyentuh Hati Putranya, Tuhan kita Yesus Kristus. Waktunya semakin dekat, maka janganlah menunda lagi. “Bangunlah, hai kamu yang tidur, dan bangkitlah…maka Kristus akan bercahaya atas kamu” (Ef.5:14).

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 8 Januari 2017 ~ HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN (EPIFANI) 

IMANMU ADALAH BINTANGMU

Bacaan:

Yes.60:1-6; Mzm.72:1-2.7-8.10-11.12-13; Ef.3:2-3a.5-6; Mat.2:1-12

Renungan:

Lihatlah! Tuhan, Sang Penguasa telah datang; dalam tangan-Nya kerajaan, kekuasaan, dan pemerintahan.” (Antifon Pembuka)

Hari ini kita merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan (Epifani), yang dikenal juga sebagai Pesta Tiga Majus/Raja dari Timur (Three Wise Men/Orient Kings From The East). Bersama seluruh umat Allah, kita mensyukuri kemurahan hati Bapa, yang berkenan menampakkan Cahaya Kemuliaan-Nya dalam diri Yesus, Putra-Nya. Perayaan ini hendak pula mengungkapkan bahwa keselamatan dari Allah Bapa, dalam diri Yesus Putra Tunggal-Nya, diperuntukkan bagi semua bangsa. Dan hanya dengan keterbukaan terhadap bimbingan Roh Kudus-lah, kita dapat mengenal dan menampakkan Wajah Kerahiman Allah, di dalam dan melalui karya kerasulan kita di dunia ini. 

Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” ( Yes.60:1.4.2)

Maka, bila terang Tuhan telah terbit atasmu, kamu pun dipanggil untuk datang mendekati Sang Terang. Inilah panggilan suci yang dijawab oleh Tiga Majus (Magi) dari Timur. Mereka keluar dari kegelapan negerinya, dan memulai perjalanan mengikuti cahaya bintang, untuk menemukan Dia yang telah menggerakkan hati mereka oleh kobaran Api Cinta, laksana mempelai wanita yang keluar mencari Sang Kekasih (bdk. Kidung Agung).
Sama seperti Tiga Majus dari Timur, siapapun yang hendak menemukan kebenaran, damai, keadilan, dan terang sejati, hanya dapat menemukan-NYA dengan mengikuti cahaya “Bintang“. Kita memerlukan cahaya “Iman”. Inilah karunia yang digerakkan oleh Api Roh Kudus. Api yang sanggup menghanguskan jiwa dalam keterpesonaan cinta akan Allah. Kita akan selalu memerlukan iman untuk menemukan Allah. Sebab kesederhanaan Hati Tuhan menjadikan pula Dia sebagai Yang Tersembunyi. Untuk menemukan Dia dalam keheningan Kandang Bethlehem, untuk memandang Dia yang sungguh hadir dalam Hosti Kudus, untuk tidak disesatkan oleh tekanan merubah doktrin dan ajaran Gereja, untuk dapat menyadari kehadiran-Nya selalu di dalam dan melalui berbagai peristiwa hidup. Maka, segelap apapun lembah kekelaman hidup yang kaujalani, jangan pernah lupa untuk berjalan dengan diterangi oleh cahaya iman. Di dalam iman, kita dapati gerakan Roh-Nya, yang dengan penuh kelembutan menuntun kita ke Aliran Hidup Yang Kekal.

Inilah panggilan kita. Suatu peziarahan suci menuju persatuan mistik yang sempurna dengan Allah. Satu hal yang hendaknya dimaklumi, bahwa perjalanan ini bukanlah tanpa kesalahan. Tetapi yakinlah, bahwa rahmat Tuhan akan selalu menyertaimu dalam perjalanan ini, asalkan kamu mau dengan rendah hati, dengan kepasrahan dan kepercayaan tanpa batas, menyerahkan dirimu untuk dibimbing oleh cahaya sukacita iman. Sama seperti Tiga Majus membawa persembahan, untuk diberikan kepada Sang Raja Semesta Alam, demikian pula perjalanan hidup kita hendaknya menjadi suatu persembahan yang hidup dan berkenan bagi Allah.

Sebagaimana Caspar dari India, bawalah “Emas”, yakni kesediaanmu untuk mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan lewat hidup dan karyamu. Kalau kamu sungguh-sungguh melayani Allah, buanglah keinginan untuk memperkaya diri atau mendatangkan kemuliaan bagi dirimu sendiri. Suatu paradoks yang indah bahwa kekayaan Kristus justru nampak dalam kemiskinan-Nya. Dalam pengosongan Diri-Nya yang tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, sehingga rela mengosongkan Diri-Nya dan mengambil rupa seorang Hamba (Manusia).
Itulah sebabnya, bagi siapapun yang menyebut diri pengikut Kristus, mulailah melepaskan segala, dan persembahkanlah emasmu, ketidaklekatanmu, kepada Kristus, Sang Segala.

Sebagaimana Melchior dari Persia, bawalah kepada-Nya “Mur”, lambang Penyembuhan dan Penyerahan Diri sebagai Kurban. Kekristenan adalah panggilan untuk terikat dengan Kristus. Kita mengingini apa yang Ia ingini, kita menolak apa yang Ia tolak, dan kita mencintai apa yang Ia cintai.
Konsekuensi dari ini ialah, Salib. Untuk dapat merangkul salib dengan bahagia, persembahkanlah mur, lambang kesediaan untuk terluka, namun juga kesediaan untuk mengampuni. Hanya dengan kesediaan untuk terluka dan mengampuni, yang membuat perjalanan hidup ini sungguh dipenuhi sukacita dalam segala situasi hidup, seburuk apapun itu.

Sebagaimana Balthasar dari Arabia, bawalah kepada-Nya “Kemenyan”, lambang pengudusan. Allah adalah Kudus, demikian pula kamu dipanggil kepada kekudusan, kepada kemerdekaan sejati, bukannya perbudakan serta kebinasaan. Kamu dipanggil untuk bercahaya dalam cahaya kesucian. Kuduskanlah dirimu, kuduskanlah karyamu, dan kuduskanlah dunia ini dengan karyamu.
Kekudusan bukanlah suatu kemewahan yang hanya diperuntukkan bagi segelintir orang, melainkan suatu panggilan bagi kita semua, tanpa terkecuali.
Kekudusan sejati tumbuh dari kesadaran untuk berkanjang dalam doa. Seorang yang ingin Kudus, hendaknya terlebih dahulu menjadi seorang pendoa. Pendoa yang bukan melulu meminta, melainkan mencinta.

Betapa mengagumkan untuk mengetahui, bahwa apa yang dipersembahkan oleh Tiga Majus dari Timur, semuanya dapat ditemukan dalam diri seorang wanita yang paling bercahaya dalam Gereja. Dialah Perawan Suci Maria, Bunda Allah dan Bunda Gereja.
Barangsiapa yang mengingini hidupnya menjadi suatu persembahan hidup, yang harum dan berkenan bagi Allah, hendaknya meneladani Bunda Maria, Bunga Mawar Mistik dan Gambaran Kesempurnaan Gereja. Hidupnya semata-mata senantiasa menunjuk kepada Kristus. Dialah teladan yang paling aman. Mereka yang hendak memandang Allah, dapat melihatnya pada dan melalui mata Maria, yang senantiasa terarah kepada Putranya.
Semoga Hari Raya Penampakan Tuhan ini menjadi perayaan iman, yang mengobarkan hati kita untuk menjalani hidup yang senantiasa memandang Allah.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

PS:

Renungan “Jalan Kecil” kini telah hadir melalui Facebok Fan Page “Serviam Domini“. Silakan di-add dan di-share

Meditasi Harian 27 November 2016 ~ MINGGU I ADVENT

BERJAGA DALAM IMAN

Bacaan:

Yes.2:1-5; Mzm.122:1-2.4-5.6-7.8-9; Rm.13:11-14a; Mat.24:37-44

Renungan:

Berjaga-jaga adalah sikap beriman, yang senantiasa diharapkan Bunda Gereja dari putra-putrinya. Bacaan kitab suci di awal Masa Advent ini mengingatkan kita, akan satu kenyataan eskatologis dari awal Tahun Liturgi ini. Advent bukan hanya masa persiapan, akan perayaan kenangan kedatangan Tuhan yang pertama di Hari Raya Natal. Akan tetapi, kita juga hendaknya selalu membawa kesadaran, bahwa tempat kediaman kita di dunia ini hanyalah sementara. Maka, Advent juga merupakan masa penantian, yang mengingatkan kita untuk menantikan dengan rindu, akan kedatangan Tuhan kita kedua kalinya pada akhir zaman (Parousia).

Oleh karena itu, “Berjaga-jagalah!(Mat.24:42). Kendati hari dan waktunya tidak ada seorang pun yang tahu, tetapi pasti hari dan waktu Tuhan itu akan tiba. Berbahagialah mereka yang senantiasa menantikan dengan rindu, akan kedatangan Penyelamat kita Yesus Kristus. Malanglah mereka yang didapati tidak siap, bermalas-malasan, dimabukkan oleh kesementaraan dunia, bersikeras hidup dalam dosa. Kesiap-sediaan dalam Iman membuahkan kekudusan hidup, dan semangat untuk menanti dengan hati yang mencinta, ibarat pelita yang menerangi jiwa. Ketidaksiap-sediaan mendatangkan ketakutan, yang timbul sebagai akibat dosa, dan bersumber dari si jahat yang menggelapkan jiwa. Itulah sebabnya dalam Injil kita dapati adanya 2 sikap dalam menantikan Tuhan. 

Sama seperti di zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia (bdk.Mat.24:37). Sebagai putra-putri Advent, kita tidak hanya diingatkan untuk mempersiapkan diri kita sendiri, melainkan juga berusaha segiat-giatnya lewat karya kerasulan kita, untuk membawa sebanyak mungkin orang pada keselamatan dari Allah, pada sukacita Injil. Wartakanlah kepada para bangsa: “Sungguh, Allah Penyelamat kita akan datang” (Antifon Vesper I Minggu I Advent) .

Tentu saja di dalam Yesus Kristus, kita akan selalu menemukan wajah belas kasih Bapa. Akan tetapi, belas kasih tidak pernah bertentangan dengan keadilan dan kebenaran. Kasih sejati tidak akan pernah membenarkan kekerasan hati untuk hidup dalam dosa. Memang benar bahwa Allah adalah Kasih, tetapi jangan pernah lupa bahwa Dia juga adalah Hakim Yang Adil. Untuk itu milikilah senantiasa hati yang remuk redam dalam pertobatan. Inilah saatnya kita lebih merefleksikan hidup kita. Di awal Tahun Liturgi ini, mulailah untuk lebih bijak mempersiapkan dirimu bagi kekekalan. Semoga pada saatnya nanti, di saat kita akhirnya berdiri di depan Tahta Pengadilan Allah, kita didapatinya telah menjalani hidup yang ditandai dengan kesiap-sediaan, berjaga-jaga dalam doa dan karya, yang bagaikan persembahan harum dan berkenan di hadapan-Nya. Maka, dengan pandangan-Nya yang adil, kita akan menemukan ganjaran kemuliaan bersama para kudus di Surga. 

Santa Perawan Maria, Bunda Pengharapan dan Putri Advent yang sejati. Bimbinglah kami anak-anakmu, untuk senantiasa meneladani kesiap-sediaanmu, dalam menanggapi undangan keselamatan dari Allah, agar kami pun boleh didapati setia sampai akhir.

Regnare Christum volumus! 

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 27 September 2016 ~ Peringatan St. Vincent de Paul, Imam

NYALA API CINTA

Bacaan:

Ayb.3:1-3.11-17.20-23; Mzm.88:2-8; Luk.9:51-56

Renungan:

Sukacita Injil harus senantiasa diwartakan, dalam situasi hidup sesulit apapun, termasuk ketika diperhadapkan pada kenyataan bahwa akan selalu ada penolakan, terhadap karya keselamatan dari Allah. Untuk itu seorang rasul Kristus harus senantiasa mengingat bahwa tugas kita adalah mewartakan secara meyakinkan dan otentik, tetapi jangan pula kecewa jika tidak semua orang mau diyakinkan oleh pewartaan Injil. Penolakan kerasulan cintakasih akan selalu ada, dan tak jarang berujung kemartiran. Tetapi, “jangan pernah merasa lelah jadi orang baik. Berbuatlah baik, entah disadari atau tidak, dihargai atau tidak, diterima atau tidak“, sebagaimana dilakukan oleh Tuhan kita Yesus Kristus. 

Itulah misi kita, memperlihatkan wajah Allah yang berbelas kasih, lewat hidup dan karya kita. Sebab sebagaimana Anak Manusia datang, bukan untuk membinasakan orang, melainkan untuk menyelamatkan-Nya, demikian pula kita. Kita dipanggil untuk menjadi rasul-rasul cintakasih, seturut teladan St. Vincent de Paul, yang kita peringati pada hari ini. “Panggilan kita adalah untuk pergi dan mengobarkan hati semua orang, supaya melakukan apa yang Tuhan Yesus lakukan. Dia yang mendatangkan api ke dalam dunia, dan membiarkannya bernyala dalam kuasa Cinta-Nya. Apa lagi yang dapat kita minta, selain agar Cinta-Nya berkobar dan menghanguskan segala“, demikian kata St. Vincent de Paul. Tugas suci ini tidak hanya dihadirkan oleh para Imam dan Biarawati, dari Kongregasi yang didirikan seturut spiritualitasnya, melainkan juga bersumber dari Amanat Agung Tuhan kita, yang dengan demikian menjadikannya tugas kita pula. Kita mencita-citakan dan berusaha mewujudkan suatu dunia, yang dijalani dalam kasih persaudaraan dan sembah bakti, akan Allah Tritunggal Mahakudus. 

Maka, agar api cintakasih dalam hati kita kita senantiasa bernyala, harus disadari pula dari mana sebenarnya kobaran api cinta itu berasal, yakni dari Kristus sendiri. Bukan karena kuat dan hebatmu semata, melainkan dari Allah. “Nemo dat quod non habet – kamu tidak dapat memberi apa yang tidak kamu miliki”. Hanya pergaulan mesra dengan Allah dalam doalah, yang dapat menjaga agar api cinta itu tidak pernah akan padam. Barangsiapa ingin senantiasa berkobar dalam kerasulan pelayanan dan melakukan kehendak-Nya, hanya dapat melakukannya bilamana ia senantiasa berkanjang dalam doa, dan tekun merenungkan Firman-Nya. Tidak ada kekudusan tanpa doa, demikian pula karya cintakasih tanpa doa itu palsu, sehebat apapun itu. Wajah belas kasih Allah hanya dapat diperlihatkan dengan segala kebenaran dan kepenuhan-Nya, manakala kita terlebih dahulu memiliki kerendahan hati untuk mau dibentuk, dan mengalami perubahan hidup, yang terarah pada persatuan mistik dalam kuasa cinta dengan Dia. Selama itu tidak menjadi kerinduan terdalammu, maka sesungguhnya pemberian dirimu itu semu, dan yang kamu layani adalah dirimu sendiri, bukan Allah. Kehendakmu, bukan kehendak-Nya. 

Semoga St. Perawan Maria, Ibu semua orang beriman, menghantar kita kepada hidup yang senantiasa dikobarkan oleh api cinta kasih Putranya, dihanguskan dari mengingini segala, agar dalam kuasa cinta beroleh Kristus, Sang Segala. 

Regnare Christum volumus! 

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 2 Februari 2016 ~ PESTA TUHAN YESUS DIPERSEMBAHKAN DI KENISAH

image

HIDUPKU PERSEMBAHANKU

Bacaan:
Mal.3:1-4; Mzm.24:7.8.9.10; Ibr.2:14-18; Luk.2:22-40

Renungan:
Hari ini, 40 hari sesudah Hari Raya Natal, Gereja Katolik sedunia merayakan peristiwa Tuhan Yesus dipersembahkan di Kenisah oleh Santa Perawan Maria dan Santo Yosef, dengan disaksikan oleh Nabi Simeon dan Nabiah Hana. Perayaan ini awalnya dirayakan di Gereja Katolik Timur dengan sebutan perayaan “Perjumpaan“, dan pada abad-6 mulai dirayakan pula oleh Gereja Katolik Barat hingga saat ini. Dalam tradisi Gereja Katolik Roma sendiri, termasuk di Indonesia, perayaan ini memiliki makna penting lainnya, yaitu inilah hari dimana lilin-lilin doa kita secara khusus diberkati (Candlemas).

Melalui Peristiwa Tuhan Yesus dipersembahkan kepada Allah Bapa dalam Kenisah, Bunda Gereja mengingatkan kita akan saat dimana kita pun pertama kali dipersembahkan kepada Allah dan mengambil bagian sebagai anggota keluarga Kerajaan-Nya, melalui Sakramen Baptis.
Hidup seorang Kristiani adalah hidup yang sejak awal dipersembahkan kepada Allah, dan semata-mata demi menyatakan kemuliaan-Nya.
Maka, setiap kali kita merayakan perayaan ini, ingatlah akan tugas suci ini.
Anda dan saya, kita semua dipanggil menjadi lilin-lilin Suci, yang membawa cahaya Tuhan untuk menerangi lorong-lorong gelap dunia ini, dan mewartakan tahun rahmat Tuhan dengan penuh sukacita Injil.

Hari ini Tuhan menyapa kita melalui Sabda-Nya, untuk setiap hari mempersembahkan segenap hidup, keluarga, anak-anak, pekerjaan, pelayanan, harta milik, cita-cita, segala talenta dan karunia yang ada pada kita, sebagai persembahan yang hidup dan indah, yang harum dan berkenan di Hati Tuhan.
Tidak cukup bagi seorang Kristiani untuk berbangga bahwa dia telah diselamatkan dan menjadi pengikut Kristus. Persembahan hidup yang sejati adalah hidup yang tidak hanya mendatangkan keselamatan bagi diri sendiri, melainkan juga membawa orang lain menapaki jalan keselamatan yang sama. Hidup yang berbuah baik, hidup yang memenangkan jiwa-jiwa. Itulah persembahan yang berkenan di Hati Tuhan.

Kepada siapa selama ini engkau telah mempersembahkan hidupmu? Kepada Allah ataukah justru kepada si jahat? Kepada Tuhan Sang Pemilik Hidup, ataukah kepada kelekatanmu akan keluarga, penyakit, kemalasan, kekayaan, ambisi pribadi, hobi, atau berbagai hal lainnya yang selama ini menjadi alasan di balik penolakanmu untuk memberi diri melayani Tuhan dan memenangkan jiwa-jiwa bagi-Nya?Sudahkah hidupmu dan segala milik kepunyaanmu menjadi persembahan bagi Allah? Ataukah itu semua membuatmu semakin menjauh dari-Nya? Apakah hidupmu berbuah bagi Allah, ataukah justru hanya menjadi talenta yang dikubur dalam-dalam tanpa menghasilkan buah?

Semoga Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel menyertaimu dalam pendakian menuju puncak Gunung Tuhan, kepada perjumpaan cinta sempurna dengan Dia. Suatu perjumpaan Cinta yang menuntut kelepasan darimu, dan pemberian diri secara total dan tanpa syarat kepada-Nya.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++