Meditasi Harian 8 Januari 2017 ~ HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN (EPIFANI) 

IMANMU ADALAH BINTANGMU

Bacaan:

Yes.60:1-6; Mzm.72:1-2.7-8.10-11.12-13; Ef.3:2-3a.5-6; Mat.2:1-12

Renungan:

Lihatlah! Tuhan, Sang Penguasa telah datang; dalam tangan-Nya kerajaan, kekuasaan, dan pemerintahan.” (Antifon Pembuka)

Hari ini kita merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan (Epifani), yang dikenal juga sebagai Pesta Tiga Majus/Raja dari Timur (Three Wise Men/Orient Kings From The East). Bersama seluruh umat Allah, kita mensyukuri kemurahan hati Bapa, yang berkenan menampakkan Cahaya Kemuliaan-Nya dalam diri Yesus, Putra-Nya. Perayaan ini hendak pula mengungkapkan bahwa keselamatan dari Allah Bapa, dalam diri Yesus Putra Tunggal-Nya, diperuntukkan bagi semua bangsa. Dan hanya dengan keterbukaan terhadap bimbingan Roh Kudus-lah, kita dapat mengenal dan menampakkan Wajah Kerahiman Allah, di dalam dan melalui karya kerasulan kita di dunia ini. 

Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” ( Yes.60:1.4.2)

Maka, bila terang Tuhan telah terbit atasmu, kamu pun dipanggil untuk datang mendekati Sang Terang. Inilah panggilan suci yang dijawab oleh Tiga Majus (Magi) dari Timur. Mereka keluar dari kegelapan negerinya, dan memulai perjalanan mengikuti cahaya bintang, untuk menemukan Dia yang telah menggerakkan hati mereka oleh kobaran Api Cinta, laksana mempelai wanita yang keluar mencari Sang Kekasih (bdk. Kidung Agung).
Sama seperti Tiga Majus dari Timur, siapapun yang hendak menemukan kebenaran, damai, keadilan, dan terang sejati, hanya dapat menemukan-NYA dengan mengikuti cahaya “Bintang“. Kita memerlukan cahaya “Iman”. Inilah karunia yang digerakkan oleh Api Roh Kudus. Api yang sanggup menghanguskan jiwa dalam keterpesonaan cinta akan Allah. Kita akan selalu memerlukan iman untuk menemukan Allah. Sebab kesederhanaan Hati Tuhan menjadikan pula Dia sebagai Yang Tersembunyi. Untuk menemukan Dia dalam keheningan Kandang Bethlehem, untuk memandang Dia yang sungguh hadir dalam Hosti Kudus, untuk tidak disesatkan oleh tekanan merubah doktrin dan ajaran Gereja, untuk dapat menyadari kehadiran-Nya selalu di dalam dan melalui berbagai peristiwa hidup. Maka, segelap apapun lembah kekelaman hidup yang kaujalani, jangan pernah lupa untuk berjalan dengan diterangi oleh cahaya iman. Di dalam iman, kita dapati gerakan Roh-Nya, yang dengan penuh kelembutan menuntun kita ke Aliran Hidup Yang Kekal.

Inilah panggilan kita. Suatu peziarahan suci menuju persatuan mistik yang sempurna dengan Allah. Satu hal yang hendaknya dimaklumi, bahwa perjalanan ini bukanlah tanpa kesalahan. Tetapi yakinlah, bahwa rahmat Tuhan akan selalu menyertaimu dalam perjalanan ini, asalkan kamu mau dengan rendah hati, dengan kepasrahan dan kepercayaan tanpa batas, menyerahkan dirimu untuk dibimbing oleh cahaya sukacita iman. Sama seperti Tiga Majus membawa persembahan, untuk diberikan kepada Sang Raja Semesta Alam, demikian pula perjalanan hidup kita hendaknya menjadi suatu persembahan yang hidup dan berkenan bagi Allah.

Sebagaimana Caspar dari India, bawalah “Emas”, yakni kesediaanmu untuk mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan lewat hidup dan karyamu. Kalau kamu sungguh-sungguh melayani Allah, buanglah keinginan untuk memperkaya diri atau mendatangkan kemuliaan bagi dirimu sendiri. Suatu paradoks yang indah bahwa kekayaan Kristus justru nampak dalam kemiskinan-Nya. Dalam pengosongan Diri-Nya yang tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, sehingga rela mengosongkan Diri-Nya dan mengambil rupa seorang Hamba (Manusia).
Itulah sebabnya, bagi siapapun yang menyebut diri pengikut Kristus, mulailah melepaskan segala, dan persembahkanlah emasmu, ketidaklekatanmu, kepada Kristus, Sang Segala.

Sebagaimana Melchior dari Persia, bawalah kepada-Nya “Mur”, lambang Penyembuhan dan Penyerahan Diri sebagai Kurban. Kekristenan adalah panggilan untuk terikat dengan Kristus. Kita mengingini apa yang Ia ingini, kita menolak apa yang Ia tolak, dan kita mencintai apa yang Ia cintai.
Konsekuensi dari ini ialah, Salib. Untuk dapat merangkul salib dengan bahagia, persembahkanlah mur, lambang kesediaan untuk terluka, namun juga kesediaan untuk mengampuni. Hanya dengan kesediaan untuk terluka dan mengampuni, yang membuat perjalanan hidup ini sungguh dipenuhi sukacita dalam segala situasi hidup, seburuk apapun itu.

Sebagaimana Balthasar dari Arabia, bawalah kepada-Nya “Kemenyan”, lambang pengudusan. Allah adalah Kudus, demikian pula kamu dipanggil kepada kekudusan, kepada kemerdekaan sejati, bukannya perbudakan serta kebinasaan. Kamu dipanggil untuk bercahaya dalam cahaya kesucian. Kuduskanlah dirimu, kuduskanlah karyamu, dan kuduskanlah dunia ini dengan karyamu.
Kekudusan bukanlah suatu kemewahan yang hanya diperuntukkan bagi segelintir orang, melainkan suatu panggilan bagi kita semua, tanpa terkecuali.
Kekudusan sejati tumbuh dari kesadaran untuk berkanjang dalam doa. Seorang yang ingin Kudus, hendaknya terlebih dahulu menjadi seorang pendoa. Pendoa yang bukan melulu meminta, melainkan mencinta.

Betapa mengagumkan untuk mengetahui, bahwa apa yang dipersembahkan oleh Tiga Majus dari Timur, semuanya dapat ditemukan dalam diri seorang wanita yang paling bercahaya dalam Gereja. Dialah Perawan Suci Maria, Bunda Allah dan Bunda Gereja.
Barangsiapa yang mengingini hidupnya menjadi suatu persembahan hidup, yang harum dan berkenan bagi Allah, hendaknya meneladani Bunda Maria, Bunga Mawar Mistik dan Gambaran Kesempurnaan Gereja. Hidupnya semata-mata senantiasa menunjuk kepada Kristus. Dialah teladan yang paling aman. Mereka yang hendak memandang Allah, dapat melihatnya pada dan melalui mata Maria, yang senantiasa terarah kepada Putranya.
Semoga Hari Raya Penampakan Tuhan ini menjadi perayaan iman, yang mengobarkan hati kita untuk menjalani hidup yang senantiasa memandang Allah.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

PS:

Renungan “Jalan Kecil” kini telah hadir melalui Facebok Fan Page “Serviam Domini“. Silakan di-add dan di-share

Meditasi Harian 27 November 2016 ~ MINGGU I ADVENT

BERJAGA DALAM IMAN

Bacaan:

Yes.2:1-5; Mzm.122:1-2.4-5.6-7.8-9; Rm.13:11-14a; Mat.24:37-44

Renungan:

Berjaga-jaga adalah sikap beriman, yang senantiasa diharapkan Bunda Gereja dari putra-putrinya. Bacaan kitab suci di awal Masa Advent ini mengingatkan kita, akan satu kenyataan eskatologis dari awal Tahun Liturgi ini. Advent bukan hanya masa persiapan, akan perayaan kenangan kedatangan Tuhan yang pertama di Hari Raya Natal. Akan tetapi, kita juga hendaknya selalu membawa kesadaran, bahwa tempat kediaman kita di dunia ini hanyalah sementara. Maka, Advent juga merupakan masa penantian, yang mengingatkan kita untuk menantikan dengan rindu, akan kedatangan Tuhan kita kedua kalinya pada akhir zaman (Parousia).

Oleh karena itu, “Berjaga-jagalah!(Mat.24:42). Kendati hari dan waktunya tidak ada seorang pun yang tahu, tetapi pasti hari dan waktu Tuhan itu akan tiba. Berbahagialah mereka yang senantiasa menantikan dengan rindu, akan kedatangan Penyelamat kita Yesus Kristus. Malanglah mereka yang didapati tidak siap, bermalas-malasan, dimabukkan oleh kesementaraan dunia, bersikeras hidup dalam dosa. Kesiap-sediaan dalam Iman membuahkan kekudusan hidup, dan semangat untuk menanti dengan hati yang mencinta, ibarat pelita yang menerangi jiwa. Ketidaksiap-sediaan mendatangkan ketakutan, yang timbul sebagai akibat dosa, dan bersumber dari si jahat yang menggelapkan jiwa. Itulah sebabnya dalam Injil kita dapati adanya 2 sikap dalam menantikan Tuhan. 

Sama seperti di zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia (bdk.Mat.24:37). Sebagai putra-putri Advent, kita tidak hanya diingatkan untuk mempersiapkan diri kita sendiri, melainkan juga berusaha segiat-giatnya lewat karya kerasulan kita, untuk membawa sebanyak mungkin orang pada keselamatan dari Allah, pada sukacita Injil. Wartakanlah kepada para bangsa: “Sungguh, Allah Penyelamat kita akan datang” (Antifon Vesper I Minggu I Advent) .

Tentu saja di dalam Yesus Kristus, kita akan selalu menemukan wajah belas kasih Bapa. Akan tetapi, belas kasih tidak pernah bertentangan dengan keadilan dan kebenaran. Kasih sejati tidak akan pernah membenarkan kekerasan hati untuk hidup dalam dosa. Memang benar bahwa Allah adalah Kasih, tetapi jangan pernah lupa bahwa Dia juga adalah Hakim Yang Adil. Untuk itu milikilah senantiasa hati yang remuk redam dalam pertobatan. Inilah saatnya kita lebih merefleksikan hidup kita. Di awal Tahun Liturgi ini, mulailah untuk lebih bijak mempersiapkan dirimu bagi kekekalan. Semoga pada saatnya nanti, di saat kita akhirnya berdiri di depan Tahta Pengadilan Allah, kita didapatinya telah menjalani hidup yang ditandai dengan kesiap-sediaan, berjaga-jaga dalam doa dan karya, yang bagaikan persembahan harum dan berkenan di hadapan-Nya. Maka, dengan pandangan-Nya yang adil, kita akan menemukan ganjaran kemuliaan bersama para kudus di Surga. 

Santa Perawan Maria, Bunda Pengharapan dan Putri Advent yang sejati. Bimbinglah kami anak-anakmu, untuk senantiasa meneladani kesiap-sediaanmu, dalam menanggapi undangan keselamatan dari Allah, agar kami pun boleh didapati setia sampai akhir.

Regnare Christum volumus! 

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 14 Juli 2016 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XV

HIDUP TANPA BEBAN DI JALAN-NYA

Bacaan:

Yes.26:7-9.12.16-19; Mzm.102:13-14ab.15.16-18.19-21; Mat.11:18-20

Renungan:

Panggilan Kristiani adalah panggilan untuk “melepaskan“.

Apa yang harus dilepaskan? Dosa.

Kenapa harus dilepaskan?
Karena dosa membebani hidup seorang beriman, dan melenyapkan kehidupan. Dosa adalah beban berat yang diletakkan iblis dalam perjalanan peziarahan kita menuju Allah. Dosa membuat kita merasa begitu kepayahan, terbebani dengan hebatnya, depresi dan jatuh dalam jurang keputusasaan. Itulah sebabnya banyak orang berhenti dan tidak mau berjalan lagi di jalan Tuhan, bahkan tak jarang mengalami kebinasaan dengan pindah ke jalan si jahat, karena beban dosa yang amat berat itu.

Maka, ketika Tuhan Yesus mengatakan, “Marilah datang kepada-Ku, kalian semua yang letih lesu memikul beban berat, Aku akan memberikan kelegaan bagimu,” seruan lembut Tuhan itu bagaikan panggilan di tengah padang gurun, untuk mendekat ke mata air dan minum sampai sepuasnya.
Untuk beroleh kelegaan, hanya satu yang perlu kamu lakukan yaitu “melepaskan“. 

Pertanyaannya, “Beranikah kamu untuk melepaskan?

Keengganan untuk melepaskan berakar pada kelekatan dengan dosa, yang tidak akan membuatmu mencapai mahkota kemuliaan.
Lepaskanlah dirimu dari persahabatan dengan dosa. Engkau tentu saja mengenal dirimu sendiri, dan tahu betul beban apa, halangan terberat apa, atau dosa apa yang menghalangi kamu untuk melangkah maju menuju Allah.
Entah itu dosa kerakusan, penyangkalan kuasa Allah, pornografi, nafsu seksual yang menyimpang, iri hati, kebiasaan bergosip, apapun bentuk dosa itu, “Lepaskanlah!”, “Bertobatlah!”.
Beranilah berkata “Tidak” kepada si jahat, dan jawablah “Ya” kepada Allah.
Sesudah engkau berani “melepaskan“, maka Tuhan akan menggantikan “beban” itu dengan memberimu suatu “kuk“.
Kuk ini sungguh berbeda dengan beban, karena bila beban membuatmu berhenti berjalan menuju Allah, maka kuk ini bagaikan sepasang sayap yang akan membuatmu melesat dan terbang tinggi bagai rajawali, yang menjadikan perjalananmu menuju Allah terasa enak dan lebih ringan. Terjemahan lain dari bahasa asli Yunani mengenai ungkapan bahwa kuk itu “enak“, ialah bahwa kuk itu sungguh “sepantasnya“, diberikan secara pas, tidak lebih dan tidak kurang. Inipun menjadi penghiburan bagi kita yang mengalami rupa-rupa pengalaman dalam hidup beriman. Segala rancangan Tuhan itu benar-benar sesuai dengan kemampuan kita menanggungnya, tidak lebih dan tidak kurang. Ini pula yang kita doakan dalam kerinduan setiap hari dengan berseru, “Berikanlah kami rejeki secukupnya“.

Tentu saja rupa-rupa halangan dan rintangan akan selalu ada. Akan selalu ada binatang buas yang mencoba menerkam kamu di sepanjang perjalanan. Namun, dengan kuk yang dipasang Tuhan atasmu, dengan komitmen untuk memikul salib yang diletakkannya atas bahumu, engkau akan terus berjalan maju diterangi sukacita Injil, dan pada akhirnya akan tiba pada tujuan akhir perjalananmu, yaitu beristirahat bersama Allah. Jiwa kita tidak akan pernah beroleh ketenangan, sebelum beristirahat di dalam Dia. Belajarlah dari Hati Tuhan yang lemah lembut dan rendah hati, maka jiwamu akan senantiasa beroleh ketenangan. Panggilanmu adalah panggilan untuk melepaskan segala, untuk beroleh Allah, Sang Segala. 

Hidup tanpa beban di jalan Tuhan bukan berarti ketiadaan masalah. Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang mengajarkan kemakmuran palsu. Jalan kekristenan adalah jalan yang berpuncak di Kalvari. Kekristenan yang hanya menawarkan kesuksesan, kemapanan finansial, dan ketiadaan penderitaan hidup, adalah “palsu“. Hidup tanpa beban di jalan Tuhan berarti masuk ke dalam badai hidup, untuk mengalami goncangan dan pergumulan, dan pada akhirnya keluar sebagai pemenang dalam Iman. Ini dapat disalah mengerti, dan dirasakan sebagai beban berat karena dosa-dosa kitalah, yang mengaburkan penyertaan dan rahmat Tuhan yang senantiasa menyertai kita untuk melalui semuanya itu. 

Menapaki jalan Tuhan memang adalah suatu perjuangan, tetapi bila dimengerti dalam Terang Iman, yakinlah bahwa perjuangan itu sungguh pantas untuk diperjuangkan, karena berujung pada kebahagiaan kekal bersama Allah dan para kudusnya. Tujuannya jelas, tanah air surgawi. Tidak ada jalan lain, sebab jalan manapun di luar itu, adalah perangkap si jahat yang berujung pada kebinasaan. Karena itu mulailah melepaskan segala beban dosa yang membebani hidupmu. Bertobatlah dan berubahlah! Tinggalkanlah jalan si jahat, dan mulailah berbalik untuk menapaki jalan Tuhan. Belajarlah dari Ibu kita Maria, Bintang Timur yang menunjukkan jalan menuju Kristus, Putranya. Dengan penuh kasih keibuan, dia akan menuntunmu bersama semua putra-putri Gereja, untuk memandang dan mulai berjalan ke Timur, kepada Kristus, Sang Surya Kehidupan Abadi. 

Regnare Christum volumus! 


✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Renungan Harian 13 Juli 2016 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XV


BAHAGIA ITU SEDERHANA


Bacaan:

Yes.10:5-7.13-16; Mzm.94:5-6.7-8.9-10.14-15; Mat.11:25-27



Renungan
:

Mereka yang tahu bersyukur adalah mereka yang telah menemukan kebahagiaan beriman dalam kesederhanaan, dalam ketidak punyaan, dalam kemiskinan roh. Demikian pula dapat dikatakan, bahwa kepemilikan akan kesementaraan dunia, merupakan awal ketidak bahagiaan. Ini bukanlah paham sosialis komunis, melainkan berakar dalam hakekat Kekristenan itu sendiri. Ini bukan pula penolakan atau larangan bagi kita untuk memiliki sesuatu dalam hidup, tetapi milikilah tanpa melekatkan hatimu kepada apa yang kamu miliki. Dengan demikian, sesungguhnya kuk yang dipasang atasmu itu enak, dan bebanmupun ringan. Sadarilah bahwa hidupmu semata-mata adalah kasih karunia Allah. Ibarat seorang anak yang terpesona menyaksikan barisan semut yang mencari makan, mulailah memiliki keterpesonaan cinta, dalam kesadaran akan betapa kecilnya dirimu di hadapan kebesaran dan kemahakuasaan Allah. Hidup kerasulan, pelayanan, dan doa-doamu seharusnya adalah agar “Ia harus semakin besar, tetapi aku harus semakin kecil” (Yoh.3:30).

Sebab bukankah apa yang kamu dapatkan, semata-mata adalah anugerah-Nya? Nafas hidup, kesehatan, keluarga, rumah, pekerjaan, harta benda, pakaian dan perhiasan yang menutupi tubuh, kesehatan, kenyamanan hidup, bahkan kepemilikan dalam bentuk yang paling kecil sekalipun, semuanya berasal dari-Nya? Maka, kalau apa yang kamu dapatkan, yang kamu punya, dan kamu sebut milikku, semuanya berasal dari Allah, tidakkah sudah sewajarnya pula bila kamu memilikinya tanpa kelekatan, dan mempersembahkan semuanya sebagai persembahan yang indah, harum dan berkenan di hadirat-Nya?

Sesungguhnya bahagia itu sederhana. Bahagia itu sangat ditentukan oleh kesediaan untuk “melepaskan“. Melepaskan bukan dalam arti kehampaan tanpa beroleh apa-apa, tetapi dalam kesadaran bahwa kita telah menemukan dan memiliki Dia, yang sungguh berharga, jauh melebihi semua yang telah kita lepaskan. St. Yohanes dari Salib mengungkapkannya dengan sangat tepat dan indah, yaitu bahwa “untuk memiliki Kristus Sang Segala, lepaskanlah segala“. Bahagia itu sederhana. Saking sederhananya, sampai sulit dirangkul oleh mereka yang dianggap bijak dan pandai oleh dunia ini. Paus Emeritus Benediktus XVI mengatakan, “Kebahagiaan yang kamu cari, kebahagiaan yang berhak kamu nikmati, memiliki nama dan wajah, yaitu Yesus dari Nazareth“. Dialah wajah belas kasih Bapa. Selama kamu masih mencari kebahagiaan diluar Dia, dan tidak melepaskan diri dari kelekatan akan dunia, sesungguhnya kamu tidak akan benar-benar bahagia. Demikian pula sebaliknya. Selama kamu senantiasa memandang Dia, dan mengajak semua orang melalui hidup kerasulanmu, untuk mengarahkan pandangan, serta merubah arah hidup kepada-Nya, kamu akan selalu menyaksikan perkenanan dan penyertaan Tuhan dengan kuasa-Nya atas hidupmu. Olehnya, seperti Santa Teresa Avila kamupun akan berkata, “Allah saja Cukup!

Teladanilah kesederhanaan beriman Bunda kita Maria, hamba Allah yang paling berkenan di Hati Tuhan. Ia selalu mensyukuri segala perkara yang dinyatakan Tuhan dalam hidupnya. Kiranya keteladanan berimannya yang selalu menjawab “Ya” kepada Allah, menjadi bagian hidup beriman kita pula. 
Regnare Christum volumus!
✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 11 Juli 2016 ~ Peringatan St. Benediktus, Abbas

BERDOA KEPADA-NYA DAN BEKERJA BAGI-NYA

Bacaan:

Yes.1:11-17; Mzm.50:8-9.16bc-17.21.23; Mat.10:34 – 11:1


Renungan:

Bersama Gereja Katolik sedunia, hari ini kita memperingati St. Benediktus dari Nursia, Bapa Hidup Monastik Barat dan Pelindung Eropa. Seturut regulanya sebagai Bapa Pendiri, para rahib dan rubiah Benediktin senantiasa hidup dalam semangat, “Ora et Labora – Berdoa dan Bekerja“, dalam kesadaran bahwa keduanya sama pentingnya, sama-sama memiliki nilai Adikodrati, dan bahwa keduanya harus berjalan seiring, tanpa mengabaikan atau hanya mengunggulkan salah satunya. Jangan melulu berdoa tanpa bekerja, demikian pula sebaliknya, jangan tenggelam dalam pekerjaan sampai lupa berdoa. Doakan apa yang kita kerjakan, dan kerjakan apa yang kita doakan, sehingga doamu menjadi kerjamu, dan kerjamu menjadi doamu. Baik dalam doa maupun dalam kerja, lakukanlah semuanya karena dan bagi Tuhan Semesta Alam. Dengan demikian, hidupmu akan menjadi persembahan yang murni, harum dan berkenan di Hati Tuhan (bdk.Yes.1:11-17 & Mzm.50:8-9.16bc-17.21.23 ). Maka, bila seluruh hidupmu sejatinya milik Tuhan dan seutuhnya dipersembahkan bagi-Nya, adalah suatu konsekuensi iman pula untuk menjadikan kehendak-Nya sebagai prioritas utama di hidup kita, baik dalam doa maupun kerjamu. Jika ini sungguh dihidupi, sesungguhnya perkataan Tuhan kita dalam Injil hari ini tidaklah mengejutkan, dipandang sebagai tuntutan berat, atau menakutkan bagi kita, apalagi mendatangkan pertentangan akan Dekalog 1 dan 4. 

Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat.10:34-38).

Kerasulan yang sejati berarti melayani Tuhan dengan “hati tak terbagi“, sebab Firman Allah “lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh” (Ibr.4:12). Menempatkan kelekatan, keinginan, hobi, ambisi dan relasi apapun melebihi kemesraan kita dengan Allah, berarti mem-berhala-kan segala, yang pada akhirnya mendatangkan permusuhan dengan Sang Segala.

Hari Peringatan St. Benediktus ini mengingatkan kita sekalian akan konsekuensi iman dari “Ora et Labora“. Untuk apa dan bagi siapa kamu berdoa? Untuk apa dan bagi kamu bekerja?” Kalau Tuhan bukanlah jawaban dari pertanyaan itu, itu artinya Tuhan bukanlah “Yang Terkasih” bagimu. Dia belum menjadi “Yang Terutama” bagimu. 

Semoga Perawan Suci Maria senantiasa menyertai hidupmu sebagai Ibu, yang dengan penuh kasih dan kesetiaan menunjukkan kepadamu jalan menuju Yesus, Putranya. Dan sebagaimana St. Benediktus juga dihormati sebagai Pelindung Eropa, berdoalah bagi dunia Barat. Hari demi hari kita menyaksikan, bagaimana mereka semakin memalingkan wajah mereka dari akar Kristiani, dan menggantikannya dengan nilai-nilai baru yang melukai hati Tuhan, serta mendatangkan kemusnahan secara perlahan atas peradaban mereka sendiri. Semoga karena perantaraan doa St. Benediktus, belas kasih Ilahi menyentuh kedalaman jiwa mereka, untuk menyadari akar Kristiani yang memberi mereka hidup dalam segala kelimpahan kasih karunia, dan dengan hati yang penuh pertobatan berbalik kepada Allah, Sang Sumber Hidup.

Regnare Christum volumus! 
✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 9 Juli 2016 ~ Sabtu dalam Pekan Biasa XIV

JANGAN SALAH PILIH !

Bacaan:

Yes.6:1-8; Mzm.93:1ab.1c-2.5; Mat.10:24-33


Renungan:

Kendati berawal dari Timur, Iman Kristiani sama sekali tidak mengenal atau memiliki paham mistik Timur “Yin-Yang“. Analogi demikian “mungkin” dapat dibenarkan dalam penerapan hidup bermasyarakat lainnya, tetapi tidak pernah boleh ada dalam hidup beriman seorang Kristen. Kita tidak pernah dibenarkan untuk mencari titik keseimbangan antara Kebaikan dan Kejahatan, atau antara Terang dan Gelap. Iman Kristiani tidak mengenal daerah neutral. Sikap suam-suam kuku, berdiri di antara 2 pilihan, haram hukumnya bagi seorang Kristen. Hanya ada 2 pilihan: Anda berdiri di pihak ALLAH, atau berdiri di pihak Si Jahat. Jangan salah pilih! Kesalahan memilih berakibat kehilangan hidup kekal dan kemuliaan surgawi. Pilihlah ALLAH dan lakukanlah Karya-Nya! Memilih ALLAH berarti menolak Setan dengan segala perbuatan dan tawarannya.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga” (Mat.10:32-33). 

Seperti serafim yang memurnikan kenajisan dengan sentuhan bara pada bibir Yesaya (Yes.6:6-7), demikian pula santapan Ekaristi telah menyentuh bibir rohani kita. Daya hidup Ekaristi telah mengalir dan memurnikan panggilan kita, serta mengobarkan Api Kerasulan yang mendorong kita untuk bekerja segiat-giatnya bagi Kerajaan Allah. Jangan jadi orang Kristen setengah-setengah!

Semoga Santa Perawan Maria, yang selalu menjawab “Ya” kepada ALLAH, menyertai perjalanan panggilan kita agar setiap kali Tuhan bertanya, “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?”, kita menjadi rasul-rasul Ekaristi yang dengan lantang menjawab,  “Ini aku, utuslah aku!” (Yes.6:8).
Regnare Christum volumus! 



✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥