Meditasi Harian ~ Sabtu V Prapaska

image

IMAN ITU HARGA MATI

Bacaan:
Yeh.37:21-28; MT Yer.31:10.11-12ab.13; Yoh.11:45-56

Renungan:
Yesus adalah satu-satunya yang ingin disampaikan oleh Allah. Tidak hanya dalam kitab Yehezkiel yang kita renungkan hari ini, melainkan seluruh bagian dari Perjanjian Lama, semua nubuat yang diberikan para nabi, mempersiapkan umat Allah untuk kedatangan Putra Allah. Hidup dan karya Yesus adalah Perjanjian Baru, yang melengkapi seluruh pewahyuan Allah.
Oleh karena itu, penolakan bangsa Yahudi dan persepakatan untuk membunuh Tuhan Yesus, yang juga seolah hendak dimaklumkan dengan nubuat palsu dari Imam Besar Kayafas, merupakan penolakan langsung terhadap perjanjian dan belas kasih Allah.
Mereka yang setiap hari merenungkan Hukum Taurat, menolak menerima kegenapan dari pewahyuan Allah dalam diri Tuhan kita Yesus Kristus.

Kegagalan mengenal Tuhan Yesus dan penolakan terhadap kabar keselamatan yang diwartakan-Nya, sebagaimana dilakukan oleh kaum Yahudi di bawah pimpinan Imam Besar, para ahli Taurat, dan para pemuka agama lainnya, bukan tidak mungkin dapat terjadi juga di dalam Gereja.
Mereka yang diserahi tugas luhur untuk menggembalakan umat Allah senantiasa diingatkan untuk menjaga kemurnian ajaran iman Gereja dari bahaya penyesatan. Kiranya Allah menghindarkan kita semua dari kegagalan mengenali kehendak-Nya.

Di tengah serangan yang semakin terang-terangan terhadap pokok-pokok iman dan ajaran sosial Gereja, orang dapat keliru pula dalam memahami pernyataan “Ecclesia semper reformanda”.
Memang benar bahwa Gereja haruslah selalu membaharui diri, untuk dapat menjelaskan imannya dengan lebih baik, agar bisa menemukan bentuk-bentuk baru yang lebih tepat bagi karya kerasulan saat ini.
Akan tetapi, Ajaran Iman Gereja bukanlah sesuatu yang dapat dirubah sesuai opini publik atau semangat zaman yang keliru. Kita tidak boleh mengabaikan suara-suara kenabian yang mengingatkan kita untuk tetap setia memelihara Iman Katolik secara otentik, dalam kesatuan dengan Bapa Suci di Roma.
Kemurnian iman adalah harga mati yang tidak dapat dikompromikan.

Saat ini, Gereja begitu diombang-ambingkan oleh arus kehidupan. Menjadi seorang Kristiani di masa sekarang ini seringkali menemui berbagai tantangan dan pergumulan.
Diperhadapkan pada kenyataan demikian, putra-putri Gereja harus senantiasa berjaga-jaga, bertekun dalam iman, menjadikan hidup doa sebagai perisai, agar tidak terjerat pada perangkap si jahat.
Percaya saja tidak cukup, kita harus mengetahui apa yang kita percayai, untuk bisa mengimani dan merangkulnya dengan penuh sukacita.
Setiap anggota Gereja di masa sekarang ini haruslah sungguh-sungguh memahami apa yang dia imani, sehingga kita bisa selalu menjawab tantangan dunia ini, yang seringkali mengaburkan pandangan kita dalam mengenali Tuhan dan kehendak-Nya.

Berdoalah agar kita semua dapat menjadi rasul-rasul Kristus yang teguh dalam iman, apapun bentuk panggilan hidup dan karya kita. Berdoalah pula bagi para Uskup kita yang terkasih, yang sementara mempersiapkan diri untuk menghadiri  Sinode Keluarga pada bulan Oktober nanti di Roma. Semoga mereka pun, dalam kesatuan dengan Bapa Suci, meneguhkan apa yang baik, benar dan berkenan di hati Allah, serta dapat memberikan jawaban yang lebih tepat dan sesuai bagi tantangan keluarga-keluarga Kristiani di masa sekarang ini, tanpa kehilangan kemurnian imannya.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Jumat V Prapaska

image

SIAP SEDIALAH UNTUK DITOLAK

Bacaan:
Yer.20:10-13; Mzm.18:2-3a.3bc-4.5-6.7; Yoh.10:31-42

Renungan:
Meskipun bangsa Yahudi melihat betapa mengagumkan karya Allah yang bekerja di dalam diri Tuhan Yesus, pengajaran-Nya yang penuh hikmat dan kuasa, penyembuhan yang Ia kerjakan, pengusiran roh-roh jahat yang Ia lakukan, bahkan sekalipun mereka melihat sendiri bagaimana Yesus membangkitkan orang mati, toh mereka tetap menolak Yesus.
Keberatan utama yang menyebabkan bangsa Yahudi menolak Yesus bukanlah pada “perbuatan baik” yang Ia kerjakan, melainkan pada pengakuan Yesus akan Diri-Nya sebagai “Anak Allah”.
Dalam bacaan hari ini kita mendapati kenyataan lain dari penolakan banyak orang untuk menerima sukacita Injil.
Terlepas dari banyaknya perbuatan baik yang kita lakukan bagi sesama, tak jarang kita ditolak bukan karena perbuatan-perbuatan baik itu, melainkan semata-mata karena kita adalah seorang Kristen, putra-putri Allah.
Di banyak negara dan tempat, setiap hari kita mendengar dan menyaksikan putra-putri Gereja menderita penganiayaan, penolakan, bahkan dibunuh karena Kristus. Banyak karya misi yang bertujuan memberi hidup dan mengembalikan martabat manusia ditolak semata-mata karena karya baik itu dilakukan oleh anak-anak Allah.
Kita pun terkadang mengalami penolakan serupa dalam karya kerasulan kita.
Mengalami perlakuan demikian, dalam bacaan pertama kita bisa mengerti akan rasa frustasi dan kekecewaan yang dialami oleh Nabi Yeremia. Tidak hanya Yeremia, di sepanjang sejarah pun kita menyaksikan dalam hidup para kudus, baik nabi, rasul, martir, serta para saksi iman, bagaimana mereka mengalami penolakan, rasa frustasi dan kekecewaan serupa dari sesama mereka, bahkan penolakan itu datang dari orang-orang yang terdekat dengan mereka.
Sejenak kita bisa memahami pula latar belakang dari seruan terkenal Improperia, yang sering kita dengarkan dalam Liturgi pada Jumat Agung, Popule meus, quid feci tibi? Aut in quo contris tavite? Responde mihi!” ~ “Hai umat-Ku, apa salah-Ku padamu? Kapan Aku menyusahkanmu? Jawablah Aku!”
Penolakan akan selalu ada. Akan tetapi, waspadalah!
Jangan sampai karena tidak ingin ditolak dalam melakukan perbuatan baik, kita kemudian berkompromi dengan dunia, dan menanggalkan identitas Kristiani kita, ke-Katolik-an kita.
Sekolah dan rumah sakit Katolik begitu dikenal karena kualitasnya, tetapi jangan pernah lupa apa yang menjiwai itu semua.
Anda mungkin seorang atlit Katolik yang meraih prestasi luar biasa dalam suatu pertandingan olahraga, tetapi jangan pernah lupa semangat Iman yang memampukan anda melalui berbagai hal untuk sampai disitu.
Seorang pengacara Katolik dapat memenangkan banyak perkara di pengadilan, tetapi jangan pernah memutarbalikkan apa yang adil dan benar, hanya karena uang dan ketakutan kehilangan klien.
Kita semua dipanggil untuk menjadi Katolik sejati, yang membawa Kristus di tengah dunia, di dalam keluarga, profesi kerja, hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, “apapun” resikonya.
Sama seperti Tuhan dan Penyelamat kita mengalami penolakan, demikian pula kita.
Inilah konsekuensi dari Iman Kristiani kita.
Kendati demikian, belajarlah dari Tuhan Yesus dan para kudus. Di tengah semua penolakan, kekecewaan, air mata, dan ketika darah mereka harus mengalir, bahkan sampai kehilangan nyawa karenanya, dalam kesetiaan iman mereka tetap dipenuhi dengan cinta yang meluap-luap akan sesama, untuk melayani dan mengasihi tanpa batas.
St. Josemaría Escrivá mengatakan, “Seandainya seluruh dunia dengan segala kekuatannya melawanmu, mengapa hal tersebut merisaukan hatimu? Engkau, majulah terus!”
Semoga kita selalu menemukan kekuatan pada Salib Tuhan. Semoga Perawan Suci Maria, hamba Allah yang setia, selalu menyertai kita dengan doa dan kasih keibuannya dalam menjalankan tugas kerasulan kita dengan gembira, dipenuhi sukacita Injil, agar semua orang boleh melihat perbuatan kita yang baik, dan memuliakan Allah Bapa di surga.

Pax, in aeternum.
Fernando

MINGGU PRAPASKA V

image

KRISTEN BERARTI KRIMINAL

Bacaan I
Yer.31: 31-34
Mazmur Tanggapan
Mzm.51: 3-4.12-13.14-15
Bacaan II
Ibr.5:7-9
BACAAN INJIL
Yoh.12:20-33

Renungan:
“Jikalau biji gandum jatuh ke dalam tanah dan mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (bdk.Yoh.12:24).
Adalah menarik untuk melihat kisah hidup Gereja Perdana. Dari sejarah kita mengetahui bahwa di Antiokhia-lah para pengikut Kristus pertama kali beroleh gelar “Kristen”. Para penguasa Romawi-lah yang memberi gelar atau sebutan itu. Maka, seorang Kristen, menurut hukum Romawi, adalah mereka yang dianggap rekan kerja Kristus, anggota partai Kristus. Tentu saja penguasa Romawi sudah pasti tahu bahwa Tuhan Yesus Kristus dihukum mati sebagai seorang Penjahat atau Kriminal. Oleh karena itu, menjadi seorang Kristen berarti menjadi pengikut seorang penjahat dan sebagai akibatnya, karena mereka mengikuti ajaran Kristus, orang-orang Kristen layak dihukum mati. Mereka dianggap sebagai bagian dari organisasi kriminal. Dengan demikian, sebutan “Kristen” menjadi suatu istilah resmi dalam Hukum Pidana pada waktu itu: siapapun yang menyandang gelar ini tanpa harus melakukan kesalahan apapun, sudah bersalah dengan sendirinya. Menjadi seorang Kristen berarti menaruh papan besar di dada kita yang bertuliskan “Siap Dihukum Mati”.
Akan tetapi, yang mengagumkan ialah, kendati mengandung makna yang sedemikian menakutkan, toh orang-orang Kristen pada waktu itu justru tidak gentar, merangkul salib, bahkan dengan bangga mengakui bahwa memang benar mereka “Kristen”.
Inilah suatu kenyataan yang terus-menerus disaksikan oleh dunia sepanjang sejarah sampai saat ini, mulai St. Stefanus Martir Pertama, para martir awal di Roma, St. Thomas Moore di Inggris, St. Edith Stein di masa Nazi Jerman, bahkan sampai pada para martir di Syria, Iraq, dan Libya di masa sekarang ini.
Tak terbilang banyaknya mereka yang mati karena nama Kristus. Darah para martir telah membasahi muka bumi ini sepanjang sejarah dan menjadi bagaikan benih yang mati dan menghasilkan banyak buah.
Oleh karena itu, perkataan Kristus dalam Injil hari ini mengandung suatu kebenaran yang tidak bisa dipungkiri, bahwa konsekuensi menjadi seorang Kristen ialah panggilan untuk menjadi “Martir”.
Untuk menerima kenyataan ini secara penuh, seseorang harus mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah.
Mati terhadap segala kelekatan terhadap dunia, bahkan kecintaan akan nyawa kita sendiri, demi Allah dan Kerajaan-Nya.
Sama seperti Kristus membawa keselamatan bagi dunia melalui sengsara dan wafat-Nya di salib, demikian pula kita saat ini dipanggil untuk membawa tanda-tanda penderitaan Kristus di tengah dunia yang kini semakin memalingkan wajahnya dari kasih Allah.
Kita diminta untuk membawa kesaksian iman kita di tengah keluarga, persahabatan, pekerjaan, dalam segala lingkup kehidupan, apapun resikonya.
Melalui Sakramen Pembaptisan yang diteguhkan kembali dalam Sakramen Krisma, Allah telah meletakkan dalam hati kita kecintaan akan Hukum-Nya.
Suatu ketaatan suci bagaikan sebuah luka cinta, yang membuat hati kita tidak pernah tenang sebelum beristirahat dalam Dia.
Jadilah rasul-rasul Kristus yang meluap-luap dalam cinta akan Dia, dan tularkanlah kegilaan yang sama ke seluruh dunia.
Masa Prapaska adalah saat rahmat bagi kita untuk menyadari kembali panggilan luhur ini.
Mendekatlah kepada Allah, maka Allah akan mendekat pada-Mu, dan mengobarkan hatimu dalam cinta akan Dia.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Sabtu IV Prapaska

image

Yesus mengajar di Sinagoga

SIAPAKAH YESUS BAGIMU ?

Bacaan:
Yer.11:18-20; Mzm.7:2-3,9bc-10,11-12; Yoh.7:40-53

Renungan:
Sebelum memulai karya kerasulan, setiap pengikut Kristus, tanpa kecuali, harus terlebih dahulu mengajukan pertanyaan ini pada dirinya, “Siapakah Yesus bagiku?”
Jawaban dari pertanyaan ini akan sangat menentukan bagaimana seorang Kristen bersikap di tengah badai, dan bagaimana ia melalui rupa-rupa tantangan maupun rintangan di jalan kerasulannya.
Kegagalan kaum Farisi dan ahli Taurat menjawab pertanyaan ini berbuah penolakan terhadap Sang Juruselamat.
Oleh karena itu, renungkanlah pertanyaan ini setiap hari, terutama di saat anda mengalami keraguan Iman, karena jawaban atas pertanyaan tersebut akan sangat menentukan apakah anda akan tetap berdiam dalam kegelapan atau melangkah menuju cahaya, apakah anda akan memilih meninggalkan salib atau meminta kekuatan untuk terentang pada salib.

Pax, in aeternum.
Fernando