Meditasi Harian 18 Agustus 2016 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XX

DIPANGGIL UNTUK MENCINTA

Bacaan:

Yeh.36:23-28; Mzm.51:12-13.14-15.18-19; Mat.22:1-14


Renungan:

Ada dukacita yang tersembunyi di balik perumpamaan Injil hari ini. Itulah dukacita Tuhan. Adalah kita, umat kesayangan-Nya, yang seringkali didapati dalam sikap dingin serta acuh tak acuh menanggapi undangan cintakasih Allah. Setiap hari Tuhan mengundang kita untuk mendekat pada-Nya, ke dalam suatu relasi cinta yang ditandai komitmen total dan kepercayaan tanpa batas akan kasih-Nya. Bahkan, Ia tidak hanya mengundang kita untuk datang makan dari meja perjamuan. Lebih dari sekadar mengundang, Ia sendirilah yang menjadi Santapan Ilahi, Roti Surgawi bagi kita.

Inilah keindahan dan keagungan Sakramen Ekaristi. Suatu panggilan ke dalam persekutuan cintakasih, untuk bersatu dengan Sang Cinta, yang disantap dari Roti yang satu dan sama. Maka, sebenarnya dapat dikatakan bahwa kegagalan mencinta, ketidaksanggupan berkomitmen secara total, dan keengganan melangkah masuk untuk tenggelam dalam lautan cintakasih Allah, merupakan tanda jelas bahwa kita belum sepenuhnya menghargai dan menyadari anugerah agung Ekaristi.

Itulah sebabnya, menjadi sangat penting pula bagi kita, untuk senantiasa memelihara hidup dalam keadaan berahmat. Ini tidak serta-merta jatuh dari langit. Perlu perjuangan dan pengorbanan, bahkan tak jarang kita harus kehilangan segalanya, termasuk nyawa kita sendiri, untuk beroleh hidup. 

Injil hari ini adalah suatu ajakan bagi kita, untuk sungguh-sungguh mempersiapkan diri menyambut Tuhan, baik dalam Ekaristi Kudus setiap hari, maupun pada senja hidup kita. Jangan jadi orang Kristen rata-rata. Jadilah seorang Kudus. Ini bukanlah cita-cita semu yang dilandasi kesombongan, melainkan suatu cita-cita adikodrati, yang dilandasi kesadaran bahwa Allah Yang MahaKudus, hanya dapat didekati dalam kekudusan. Mereka yang enggan mengejar kekudusan, sebenarnya tidak sungguh-sungguh merindukan Tuhan. Orang yang demikian mungkin merindukan perbuatan-perbuatan Tuhan, tindakan dan karya agung-Nya, bimbingan dan pertolongan-Nya, tetapi hanya berhenti sampai disitu. Tidak mau melangkah lebih jauh, sebab dia tahu, bahwa dengan demikian dia harus “berubah“dan “diubahkan“. Kesadaran akan dosa seharusnya tidak pernah boleh membuat orang melangkah mundur, dan menolak undangan perjamuan. Justru sebaliknya, ia harus berani melangkah maju di jalan pemurnian, jalan pertobatan. Itulah satu-satunya cara bagimu untuk memperoleh “pakaian pesta“.

Maka, dalam kesadaran akan hal ini, kita pun menemukan kenyataan, bahwa sebenarnya Sakramen Ekaristi tidak dapat dipisahkan dari Sakramen Tobat. Untuk menjawab undangan Perjamuan Tuhan dengan sukacita, seorang beriman haruslah pula memiliki kerinduan yang sama besarnya, untuk melangkah masuk ke bilik Pengakuan Dosa. Menurunnya kerinduan untuk mengaku dosa, berakibat menurunnya pula penghormatan akan Ekaristi. Maka, berbagai usaha saat ini untuk membaharui liturgi, sia-sia jika tidak disertai kesadaran untuk menumbuhkan kesadaran umat beriman akan Sakramen Tobat. Semakin sering seorang beriman mengaku dosa, pergaulannya dengan Allah akan semakin ditandai dengan sikap hormat, dan sembah bakti yang sejati. Dan seiring dengan mengalirnya air mata penyesalan dan hati yang remuk redam, kamu akan keluar dari bilik Pengakuan Dosa dengan langkah yang semakin ringan, dan kamu akan mendapati dirimu mulai berjalan seirama dengan langkah Tuhan. Itulah saat dimana kamu sungguh telah memiliki “hati yang baru“, yang sungguh siap menjawab “Ya” kepada undangan kasih Tuhan. 

Memang banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih. Banyak yang menyapa Tuhan sebagai Kekasih, tetapi sangat sedikit yang sungguh mengarahkan hati, jiwa, dan segenap hidup mereka kepada-Nya. Semoga Perawan Suci Maria,  cermin kekudusan, memantulkan cahaya Ilahi untuk menerangi jalan peziarahan kita menuju Allah. Kiranya teladan hidup Santa Helena, yang kita peringati pula hari ini, meneguhkan keyakinan kita, bahwa bila kita sungguh mencari Tuhan dengan penuh kerinduan, Ia akan memperkenankan Diri-Nya ditemukan oleh kita. Pada saat itu, seperti St. Agustinus, kita pun akan berseru, “Terlambat, Ya Tuhan…Terlambat aku mencintai-Mu.
Regnare Christum volumus!
✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian ~ VIGILI PASKAH

image

DIPANGGIL UNTUK BERCAHAYA

Bacaan:
Kej.1:1 – 2:2; Mzm.104:1-2a.5-6.10.12.13-14.24.35c atau Mzm.33:4-5.6-7.12-13.20.22; Kej.22:1-18; Mzm.16:5.8.9-10.11; Kel.14:15 – 15:1; MT Kel.15:1-2.3-4.5-6.17-18; Yes.54:5-14; Mzm.30:2.4.5-6.11.12a.13b; Yes.55:1-11; MT Yes.12:2-3.4bcd.5-6; Bar.3:9-15.32 – 4:4; Mzm.19:8.9.10.11; Yeh.36:16-17a.18-28; Mzm.42:3.5bcd – 43:3.4 atau kalau ada pembaptisan MT Yes.12:2-3.4bcd.5-6 atau juga Mzm.51:12-13.14-15.18-19; Rm.6:3-11; Mzm.118:1-2.16ab-17.22-23; Mrk.16:1-8

Renungan:
Inilah malam dimana Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus mengalahkan maut dan kegelapan dengan Cahaya Kebangkitan.
Pada malam ini Gereja Katolik merayakan Puncak dari semua perayaan Liturginya.
Malam ini umat beriman merayakan dasar dari keseluruhan imannya. Sebagaimana diungkapkan begitu tepatnya oleh St. Paulus Rasul, “Seandainya saja Kristus tidak dihidupkan kembali dari kematian, maka tidak ada gunanya kami memberitakan apa-apa dan tidak ada gunanya pula kalian percaya, sebab kepercayaanmu itu tidak mempunyai dasar apa-apa. Dan kalau Kristus tidak dihidupkan kembali maka kepercayaanmu hanyalah impian belaka; itu berarti kalian masih dalam keadaan berdosa dan tidak mempunyai harapan sama sekali. Tetapi nyatanya Kristus sudah dihidupkan kembali dari kematian. Inilah jaminan bahwa orang-orang yang sudah mati akan dihidupkan kembali. Sebab kematian masuk ke dalam dunia dengan perantaraan satu orang, begitu juga hidup kembali dari kematian diberikan kepada manusia dengan perantaraan satu orang pula.” (bdk.Kor.15:14.17.20-21)

Vigili Paskah atau Malam Paskah adalah awal penciptaan yang baru. Ketika Allah menciptakan alam semesta dari kekosongan, ketiadaan dan kegelapan, dia terlebih dahulu menciptakan “Terang“. Maka, malam Paskah dikatakan awal penciptaan baru karena pada malam ini, Allah mengalahkan kegelapan dosa dan maut dengan “Terang Sejati” yang berasal dari Kristus Yang Bangkit.

Di malam Paskah ini, Gereja Katolik mengungkapkan atau menerangkan imannya akan Kristus Yang Bangkit dengan liturgi yang begitu indah, tepat dan penuh kekayaan makna, melalui bentuk yang sangat unik dan sederhana, yaitu Lilin Paskah.
Dari liturgi sederhana ini kita diajak untuk merenungkan 2 sikap yang harus dimiliki oleh setiap orang beriman yang dipanggil menjadi saksi-saksi iman akan Kristus Yang Bangkit.

Pertama, lilin akan menghabiskan dirinya untuk bercahaya. Sebagaimana lilin yang menebarkan cahaya sambil perlahan-lahan menghabiskan dirinya, demikian pula hidup seorang rasul Kristus. Panggilan kita untuk membawa cahaya ke tengah kegelapan dunia adalah juga panggilan untuk mencintai sampai sehabis-habisnya, sama seperti Kristus. Suatu panggilan untuk kehilangan hidup, agar dapat memberi hidup. Hidup seorang Kristen adalah suatu pemberian diri yang total, bahkan sekalipun karenanya ia harus mengurbankan nyawanya, demi imannya akan Allah dan demi membawa keselamatan serta cahaya sukacita Injil kepada semua orang.

Kedua, cahaya lilin adalah api. Ini bukanlah cahaya yang dingin dan tidak memiliki dampak apa-apa jika disentuh, melainkan cahaya yang membawa kehangatan, bahkan sanggup membakar dan menghanguskan siapapun yang disentuh olehnya. Demikian pulalah seharusnya hidup seorang rasul Kristus. Hidupnya harus selalu membawa kehangatan cinta dan belas kasih Allah bagi siapapun yang berjumpa dengannya. Hidup dan karyanya harus selalu membawa orang pada pengenalan iman akan Kristus, dan membuat hati siapapun yang disentuh oleh kehadirannya menjadi berkobar-kobar dan dihanguskan oleh cinta akan Allah.

Di malam Paskah ini, seruan Kristus kembali bergema, “Kamu adalah Terang dunia.
Kita bukanlah anak-anak kegelapan, kita adalah putra-putri Cahaya
Oleh karena itu, malam ini pula Gereja, umat Allah, dengan memegang lilin yang bercahaya di tangannya, membaharui kembali janji baptisnya untuk menjadi putra-putri Cahaya, yang membawa terang dan sukacita Paskah dalam hidup dan karyanya.

Semoga Santa Perawan Maria, Bintang Timur dan Bunda Gereja, menyertai kita dengan doa dan kasih keibuannya, agar kita bisa menjadi saksi-saksi iman akan Kristus Yang Bangkit, serta mengenyahkan kegelapan dunia ini melalui hidup dan karya kita.

Selamat Paskah! Surrexit Christus, Alleluia!

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Sabtu V Prapaska

image

IMAN ITU HARGA MATI

Bacaan:
Yeh.37:21-28; MT Yer.31:10.11-12ab.13; Yoh.11:45-56

Renungan:
Yesus adalah satu-satunya yang ingin disampaikan oleh Allah. Tidak hanya dalam kitab Yehezkiel yang kita renungkan hari ini, melainkan seluruh bagian dari Perjanjian Lama, semua nubuat yang diberikan para nabi, mempersiapkan umat Allah untuk kedatangan Putra Allah. Hidup dan karya Yesus adalah Perjanjian Baru, yang melengkapi seluruh pewahyuan Allah.
Oleh karena itu, penolakan bangsa Yahudi dan persepakatan untuk membunuh Tuhan Yesus, yang juga seolah hendak dimaklumkan dengan nubuat palsu dari Imam Besar Kayafas, merupakan penolakan langsung terhadap perjanjian dan belas kasih Allah.
Mereka yang setiap hari merenungkan Hukum Taurat, menolak menerima kegenapan dari pewahyuan Allah dalam diri Tuhan kita Yesus Kristus.

Kegagalan mengenal Tuhan Yesus dan penolakan terhadap kabar keselamatan yang diwartakan-Nya, sebagaimana dilakukan oleh kaum Yahudi di bawah pimpinan Imam Besar, para ahli Taurat, dan para pemuka agama lainnya, bukan tidak mungkin dapat terjadi juga di dalam Gereja.
Mereka yang diserahi tugas luhur untuk menggembalakan umat Allah senantiasa diingatkan untuk menjaga kemurnian ajaran iman Gereja dari bahaya penyesatan. Kiranya Allah menghindarkan kita semua dari kegagalan mengenali kehendak-Nya.

Di tengah serangan yang semakin terang-terangan terhadap pokok-pokok iman dan ajaran sosial Gereja, orang dapat keliru pula dalam memahami pernyataan “Ecclesia semper reformanda”.
Memang benar bahwa Gereja haruslah selalu membaharui diri, untuk dapat menjelaskan imannya dengan lebih baik, agar bisa menemukan bentuk-bentuk baru yang lebih tepat bagi karya kerasulan saat ini.
Akan tetapi, Ajaran Iman Gereja bukanlah sesuatu yang dapat dirubah sesuai opini publik atau semangat zaman yang keliru. Kita tidak boleh mengabaikan suara-suara kenabian yang mengingatkan kita untuk tetap setia memelihara Iman Katolik secara otentik, dalam kesatuan dengan Bapa Suci di Roma.
Kemurnian iman adalah harga mati yang tidak dapat dikompromikan.

Saat ini, Gereja begitu diombang-ambingkan oleh arus kehidupan. Menjadi seorang Kristiani di masa sekarang ini seringkali menemui berbagai tantangan dan pergumulan.
Diperhadapkan pada kenyataan demikian, putra-putri Gereja harus senantiasa berjaga-jaga, bertekun dalam iman, menjadikan hidup doa sebagai perisai, agar tidak terjerat pada perangkap si jahat.
Percaya saja tidak cukup, kita harus mengetahui apa yang kita percayai, untuk bisa mengimani dan merangkulnya dengan penuh sukacita.
Setiap anggota Gereja di masa sekarang ini haruslah sungguh-sungguh memahami apa yang dia imani, sehingga kita bisa selalu menjawab tantangan dunia ini, yang seringkali mengaburkan pandangan kita dalam mengenali Tuhan dan kehendak-Nya.

Berdoalah agar kita semua dapat menjadi rasul-rasul Kristus yang teguh dalam iman, apapun bentuk panggilan hidup dan karya kita. Berdoalah pula bagi para Uskup kita yang terkasih, yang sementara mempersiapkan diri untuk menghadiri  Sinode Keluarga pada bulan Oktober nanti di Roma. Semoga mereka pun, dalam kesatuan dengan Bapa Suci, meneguhkan apa yang baik, benar dan berkenan di hati Allah, serta dapat memberikan jawaban yang lebih tepat dan sesuai bagi tantangan keluarga-keluarga Kristiani di masa sekarang ini, tanpa kehilangan kemurnian imannya.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian – Selasa IV Prapaska

image

YESUS SUMBER HIDUP

Bacaan:
Yeh.47: 1-9,12; Mzm.46:2-3,5-6,8-9; Yoh.5:1-3a,5-16

Renungan:
Sebagaimana Yesus yang bagaikan aliran sungai, memberi hidup dan sukacita kemanapun Dia mengalir, demikian pula kita.
Setiap orang beriman dipanggil untuk terikat dengan Kristus, dan diubahkan oleh-Nya, sehingga dimanapun kita hadir serta berkarya, kita memberi hidup dan sukacita, bukan sebaliknya.

Pax, in aeternum.