Meditasi Harian 2 Februari 2016 ~ PESTA TUHAN YESUS DIPERSEMBAHKAN DI KENISAH

image

HIDUPKU PERSEMBAHANKU

Bacaan:
Mal.3:1-4; Mzm.24:7.8.9.10; Ibr.2:14-18; Luk.2:22-40

Renungan:
Hari ini, 40 hari sesudah Hari Raya Natal, Gereja Katolik sedunia merayakan peristiwa Tuhan Yesus dipersembahkan di Kenisah oleh Santa Perawan Maria dan Santo Yosef, dengan disaksikan oleh Nabi Simeon dan Nabiah Hana. Perayaan ini awalnya dirayakan di Gereja Katolik Timur dengan sebutan perayaan “Perjumpaan“, dan pada abad-6 mulai dirayakan pula oleh Gereja Katolik Barat hingga saat ini. Dalam tradisi Gereja Katolik Roma sendiri, termasuk di Indonesia, perayaan ini memiliki makna penting lainnya, yaitu inilah hari dimana lilin-lilin doa kita secara khusus diberkati (Candlemas).

Melalui Peristiwa Tuhan Yesus dipersembahkan kepada Allah Bapa dalam Kenisah, Bunda Gereja mengingatkan kita akan saat dimana kita pun pertama kali dipersembahkan kepada Allah dan mengambil bagian sebagai anggota keluarga Kerajaan-Nya, melalui Sakramen Baptis.
Hidup seorang Kristiani adalah hidup yang sejak awal dipersembahkan kepada Allah, dan semata-mata demi menyatakan kemuliaan-Nya.
Maka, setiap kali kita merayakan perayaan ini, ingatlah akan tugas suci ini.
Anda dan saya, kita semua dipanggil menjadi lilin-lilin Suci, yang membawa cahaya Tuhan untuk menerangi lorong-lorong gelap dunia ini, dan mewartakan tahun rahmat Tuhan dengan penuh sukacita Injil.

Hari ini Tuhan menyapa kita melalui Sabda-Nya, untuk setiap hari mempersembahkan segenap hidup, keluarga, anak-anak, pekerjaan, pelayanan, harta milik, cita-cita, segala talenta dan karunia yang ada pada kita, sebagai persembahan yang hidup dan indah, yang harum dan berkenan di Hati Tuhan.
Tidak cukup bagi seorang Kristiani untuk berbangga bahwa dia telah diselamatkan dan menjadi pengikut Kristus. Persembahan hidup yang sejati adalah hidup yang tidak hanya mendatangkan keselamatan bagi diri sendiri, melainkan juga membawa orang lain menapaki jalan keselamatan yang sama. Hidup yang berbuah baik, hidup yang memenangkan jiwa-jiwa. Itulah persembahan yang berkenan di Hati Tuhan.

Kepada siapa selama ini engkau telah mempersembahkan hidupmu? Kepada Allah ataukah justru kepada si jahat? Kepada Tuhan Sang Pemilik Hidup, ataukah kepada kelekatanmu akan keluarga, penyakit, kemalasan, kekayaan, ambisi pribadi, hobi, atau berbagai hal lainnya yang selama ini menjadi alasan di balik penolakanmu untuk memberi diri melayani Tuhan dan memenangkan jiwa-jiwa bagi-Nya?Sudahkah hidupmu dan segala milik kepunyaanmu menjadi persembahan bagi Allah? Ataukah itu semua membuatmu semakin menjauh dari-Nya? Apakah hidupmu berbuah bagi Allah, ataukah justru hanya menjadi talenta yang dikubur dalam-dalam tanpa menghasilkan buah?

Semoga Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel menyertaimu dalam pendakian menuju puncak Gunung Tuhan, kepada perjumpaan cinta sempurna dengan Dia. Suatu perjumpaan Cinta yang menuntut kelepasan darimu, dan pemberian diri secara total dan tanpa syarat kepada-Nya.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 8 Oktober 2015 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XXVII

image

MILIKILAH SIKAP TIDAK TAHU MALU YANG SUCI

Bacaan:
Mal.3:13-20a; Mzm.1:1-2.3.4.6; Luk.11:5-13

Renungan:
Persatuan yang tetap dengan sesama melibatkan badan, sedangkan persatuan yang tetap dengan Tuhan melibatkan renungan jiwa dan persembahan doa,” demikian kata St. Isaac dari Syria.
Para murid Yesus menyadari bahwa untuk berhubungan dengan Allah dan memiliki kemesraan dengan-Nya, mereka hanya bisa mendapatkannya dalam doa. Tuhan Yesus pun kemudian mengajari mereka bagaimana harus berdoa. Ia mewahyukan doa “Bapa Kami“, yang merupakan awal baru dari cara umat beriman bersikap dan menyapa Allah dalam doa. Bahwa Allah adalah Bapa kita, dan kita semua adalah anak-anak-Nya.
Senada dan sebagai kelanjutan dari pewahyuan itu, dalam Injil hari ini kita diajak untuk berkanjang dalam doa.
Kunjungan di waktu malam dan ucapan-ucapan yang mengikutinya merupakan anjuran tegas bagi kita semua untuk bertahan dalam doa.
Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Luk.11:9)
Allah selalu menjawab doa kita Meskipun mungkin tidak sesuai dengan jalan yang kita harapkan, atau mungkin kita tidak menyukai jawaban yang kita terima, satu hal yang pasti, yakni bahwa Allah selalu menjawab doa kita.

Dalam Injil hari ini, kita pun boleh melihat sejenak kedalaman hati Allah yang penuh belas kasih.
Seakan Tuhan merasa perlu menjelaskan tindakan-Nya, untuk menjawab pernyataan banyak orang mengenai doa-doa mereka yang tak terjawab, atau hidup mereka yang sengsara dan dipenuhi kemalangan, bila dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah mempedulikan perkara dan kehendak Tuhan, sebagaimana diungkapkan dalam kitab Maleakhi (bacaan pertama).
Meskipun tidak secara langsung, Tuhan memberi gambaran yang sungguh manusiawi untuk menjelaskan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan demikian, dengan memberi contoh sahabat yang tidur, seorang Bapa yang tidak akan memberi ular atau kalajengking saat anaknya minta ikan atau telur.
Tuhan yang Ilahi, mendekati kita secara insani.
Maka, hilangkanlah bayangan atau pemikiran bahwa Allah itu kejam, tidak peduli, tidak menjawab, keras hati, apalagi mencelakakan. Allah selalu menghendaki yang terbaik bagi kita, jauh melebihi mereka yang paling mengasihi kita.
Bahkan lebih lagi, Ia memberikan Roh-Nya sendiri, bagi siapapun yang merindukan dan meminta-Nya.

Setan tahu dan iri akan kebaikan Allah itu. Si jahat sungguh tahu betapa baiknya, betapa luas dan dalamnya belas kasih yang berasal dari Hati Allah.
Karena itu, dengan berbagai cara, dan melalui rupa-rupa situasi hidup yang menyulitkan dan mendukakan, ia berusaha keras membisikkan kata-kata dusta bahwa Allah tidak mengerti atau peduli.
Jangan biarkan si pendusta itu menang dan menghentikanmu beriman, berharap, serta mencinta. Tetaplah berdoa dengan penuh sukacita.

Semua hal yang mudah didapat, akan mudah hilang. Doa yang selalu mudah terjawab, justru jika tidak disikapi secara bijaksana dapat mencelakakan, tidak disyukuri, dan tidak menumbuhkan cinta.
Itulah sebabnya, Tuhan menjawab kita seturut cinta kita kepada-Nya. Sentuhlah Hati-Nya dengan hatimu. Biarkanlah Dia melihat betapa kamu sungguh merindukan persatuan cinta dengan-Nya. Jika engkau tidak berusaha, engkau tidak akan menemukan-Nya; dan jika engkau tidak mengetuk pintu dengan kuat, disertai rasa tidak tahu malu untuk menunggu di depan pintu tanpa mempedulikan waktu; maka pintu itu tidak akan terbuka dan engkau tidak akan menemukan jawaban.

Sebagaimana berulang kali kukatakan bahwa kesejatian doa itu bukan soal meminta, melainkan mencinta.
Maka, di balik semua permintaan dan air matamu dalam doa, kiranya Tuhan menemukan hati yang mencinta.
Hati yang akan tetap mencinta sekalipun yang diminta seolah tak pernah diberi. Mempelai yang akan tetap mencari Tuhan, sekalipun Sang Kekasih Jiwa seolah tidak mau memperlihatkan Wajah Kudus-Nya. Jiwa yang akan tetap mengetuk, sekalipun diusir berulang kali dan seolah pintu tidak akan pernah dibukakan.
Pada akhirnya, pasti akan tiba saatnya dimana permohonan berhenti, pencarian berakhir, ketukan pintu tidak diperlukan lagi, karena Penguasa Rumah telah turun mendengar, Dia telah datang memperlihatkan Diri-Nya, membukakan pintu, dan mempersilakanmu masuk dalam kebahagiaan kekal bersama Dia. Dan kemudian…Airmatapun mengalir.

Semoga Perawan Suci Maria, sebagai yang pertama mengalami sukacita demikian di antara semua ciptaan, akan menghantar kita semua pada persatuan cinta yang sama, agar sama seperti dia, kita pun akan memandang Allah dan berseru, “Ya Tuhanku…Ya Allahku…Ya Segalaku…Ecce ancílla Dómini, fiat mihi secúndum verbum tuum.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah

PESTA YESUS DIPERSEMBAHKAN DI KENISAH

Bacaan I – Maleakhi 3: 1-4

Mazmur Tanggapan – Mzm. 24: 7, 8, 9, 10

Bacaan II – Ibrani 2: 14-18

Bacaan Injil – Lukas 2: 22-40

 

MERANGKUL SALIB DI BALIK CAHAYA

Hari ini, 2 Februari, 40 hari sesudah Hari Raya Natal, Gereja Timur maupun Barat merayakan suatu tradisi liturgi tua yang pada zaman dahulu memiliki makna penting dalam hidup umat beriman. Suatu perayaan yang awalnya menekankan kemurnian dan ketaatan Perawan Maria, kini beroleh makna baru dalam Terang Kristus, dan sekarang dikenal dengan Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah.

Ketika tiba waktu pentahiran menurut hukum Musa, 40 hari sesudah kelahiran-Nya, orang tua Yesus, Maria dan Yusuf membawa Yesus untuk dipersembahkan kepada Allah. Liturgi Gereja mengangkat satu bagian dari kisah Injil Lukas ini yang dengan indah menceritakan perjumpaan antara Bayi Yesus dengan Nabi Simeon yang sudah lanjut umurnya. Suatu perjumpaan yang melampaui segala perjumpaan manusia manapun di dunia. Saking berlimpah dalam kebahagiaan akan perjumaan itu, Simeon pun berseru, “Sekarang Tuhan, perkenankanlah hamba-Mu berpulang dalam damai sejahtera, menurut sabda-Mu.” (Luk.2:29) Dalam Gereja Yunani, peristiwa ini dirayakan dalam liturgi dengan nama Hypapanti, artinya Pertemuan/Perjumpaan. Perjumpaan antara Sang Bayi dan Nabi tua ini menggambarkan perjumpaan antara dunia kekafiran dengan dunia baru dalam Kristus, antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru, antara umat perjanjian yang begitu disayangi Allah dengan Gereja, yang membuka jalan keselamatan bagi semua bangsa. Apa yang hendak diwartakan oleh Gereja dalam perayaan ini bukan sekedar akhir dari masa lampau dan awal dari sesuatu yang baru. Bukanlah suatu pemisahan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Sebab seandainya demikian, berarti sia-sialah penantian Simeon dan Hana, karena karya keselamatan yang dibawa Kristus tidak diperuntukkan bagi mereka. Tetapi tidaklah demikian. Penantian Simeon dan Hana tidaklah sia-sia.

Kedatangan Kristus sungguh adalah peristiwa yang telah dinanti-nantikan. Dalam diri Bayi Yesus, terpenuhilah nubuat Nabi Maleakhi, “Tuhan yang kamu nanti-nantikan segera akan datang ke kenisah-Nya,” (Mal.3:1b) agar nantinya, seperti yang dikatakan oleh penulis kitab Ibrani, “Ia menjadi Imam Agung yang berbelas kasih dan yang setia kepada Allah, untuk memberi pepulih atas dosa seluruh bangsa.” (Ibr.2:17b) Inilah yang dinanti-nantikan oleh umat manusia sejak kejatuhannya dalam dosa. Suatu pengharapan bagi semua orang, pengharapan yang melampaui kematian karena mendatangkan kehidupan kekal. Dalam sukacita iman akan perjumpaan yang telah dinanti-nantikan inilah, Simeon yang mewakili umat pilihan Allah, dalam kepenuhan Roh Kudus, menyebut Sang Bayi Yesus sebagai, “Cahaya untuk menerangi para bangsa.” (Luk.2:32) Dalam terang Injil inilah, liturgi Gereja merayakan hari ini sebagai Pesta Cahaya. “Siapakah Raja Mulia itu? Tuhan semesta alam, Dialah Raja Mulia.” (Mzm.24:10) Dialah Sang Kristus, Cahaya dunia.

Namun demikian, di balik sukacita Pesta Cahaya hari ini, secara tersamar kita bisa melihat misteri Salib. Sesudah memadahkan Nunc Dimittis-nya, pandangannya Simeon terarah kepada Maria. Dalam diri Maria, Simeon memandang Gereja dan berkata, “Suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri” (Luk.2:35) Kata-kata ini mengingatkan Gereja bahwa untuk senantiasa hidup di dalam cahaya, berarti kita dipanggil juga untuk mencintai salib dan merangkulnya dalam kesetiaan. Dengan dibaptis, kita telah mempersembahkan hidup kita seutuhnya sebagai milik Allah, sebagai putra-putri kesayangan-Nya, untuk merindukan apa yang Dia rindukan, dan mencintai apa yang Dia cintai, sebagaimana Kristus sendiri.

Simeon menerima Sang Kristus

Simeon menerima Sang Kristus

Sama seperti Kristus, kita diingatkan bahwa, untuk menjadi cahaya, kita harus merangkul salib kita sebagai tanda iman, kemudian melangkah ke Kalvari. Tidak ada kemuliaan tanpa salib. Siap-sedialah manakala dunia menghujamkan pedangnya menembus jiwa kita. Kesetiaan kita merangkul salib sampai akhir dengan sendirinya akan menjadi tanda pengharapan serta mendatangkan cahaya iman bagi banyak orang. Jadikanlah dirimu sebagai persembahan yang hidup dan berkenan di hati Allah. Hiduplah sebagai anak-anak Terang, yang senantiasa merindukan Tuhan dan membiarkan diri kita dimurnikan oleh nyala api cinta-Nya. Bersama Tuhan kita akan mengalahkan dunia. Ekaristi adalah sumber kekuatan kita. Dalam Sakramen Suci ini, kita tidak hanya berjumpa dengan Tuhan, melainkan kita menjadi satu dengan Dia. Dengan makan Tubuh Tuhan dan minum Darah-Nya, Ia tinggal di dalam kita dan kita tinggal di dalam Dia. Suatu daya hidup yang memampukan kita untuk senantiasa menguduskan diri, menguduskan karya, serta menguduskan seluruh dunia melalui karya kita.

Semoga Santa Perawan Maria, Bunda Dukacita, menuntun kita dengan kasih keibuannya untuk selalu merindukan Putranya, mempersembahkan hidup kita seutuhnya bagi pewartaan Kerajaan Allah, dan menjadi putra-putri Cahaya yang menghalau kegelapan dosa dimanapun kita berada dan berkarya. ( Verol Fernando Taole )