Meditasi Harian ~ Kamis dalam Pekan Biasa XII

image

PECUNDANG atau PEMENANG ?

Bacaan:
Kej.16:1-12,15-16; Mzm.106:1-2,3-4a,4b-5; Mat.7:21-29

Renungan:
Sangat mudah bagi seseorang untuk bersaksi bahwa hidupnya didasarkan pada Tuhan, atau untuk mengatakan bahwa norma tertinggi dalam hidupnya adalah melakukan kehendak Allah.
Akan tetapi, berbeda dengan manusia yang cenderung memandang muka, Tuhan melihat hati.
Itulah sebabnya, untuk melihat kesejatian seorang “insan Allah”, perhatikanlah bagaimana ia bersikap di tengah “hujan badai, angin kencang, banjir bandang” kehidupan.
Seseorang dapat saja bersaksi dengan kata-kata indah akan segala kemurahan Tuhan, untuk kemakmuran yang ia terima dari-Nya, tetapi itu kesaksian yang berasal dari kemanisan rohai seperti itu sama sekali tak bernilai.
Kesaksian yang sejati justru nampak paling indah dan meyakinkan pada diri mereka yang dengan keheningan tanpa kata-kata melangkah masuk ke dalam malam gelap, ke dalam “ketiadaan Tuhan“, ke dalam “awan ketidaktahuan”, dengan sikap penyerahan diri, ketaatan, serta kepercayaan tanpa batas kepada Allah, dan tidak kehilangan sukacita iman di tengah semuanya itu.
Itulah sebabnya, Injil hari ini mengingatkan kita pentingnya “fondasi” hidup.
Bagaimana kita bersikap di tengah pergumulan hidup, sebenarnya adalah cerminan fondasi iman kita.
Pasir” atau “Batu” menentukan apakah seseorang akan keluar dari badai pergumulan hidup sebagai “pecundang iman” atau “Pemenang Iman” .
Bukan soal seberapa banyak kita berkata-kata tentang Tuhan, melainkan seberapa banyak firman Tuhan yang terukir di hati kita.
Apa yang berasal dari hati, akan nyata dalam perbuatan.
Bila Tuhan telah merajai hati kita sepenuhnya, sehingga Ia menjadi satu-satunya fondasi hidup kita, maka yakinlah, jangankan hujan, angin, atau banjir. Bahkan kendati dunia ini jungkir balik sekalipun, kita tidak akan pernah goyah.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan Biasa XII

image

BIJAKLAH MEMILIH !

Bacaan:
Kej.13:2,5-18; Mzm.15:2-3ab,3cd-4ab,5; Mat.7:6,12-14

Renungan:
Seorang pemuda yang benar-benar serius ingin menjadi seorang dokter, sewaktu kuliah tentu tidak akan dengan ceroboh memilih belajar di fakultas seni tari.
Seorang investor yang rasional dan kredibel, tidak akan menanamkan modalnya pada bisnis yang tidak memiliki ijin yang jelas, apalagi yang berbau ilegal.
Menarik sekali memang, betapa kita dapat begitu berhati-hati mengambil keputusan dalam berbagai kepentingan hidup kita di dunia ini, untuk memastikan keamanan jasmani kita, sementara dengan cerobohnya kita seringkali bersikap kurang peduli dan lalai dalam memilih jalan menuju keselamatan.
Kalau untuk kehidupan dunia yang fana saja kita begitu hati-hati untuk tidak salah memilih jalan, kenapa kita tidak bisa memiliki kebijaksanaan yang sama untuk juga hati-hati memilih antara jalan menuju surga atau kebinasaan?
Injil hari ini mengingatkan kita, bahwa memang benar bahwa jalan ke surga itu sangat sempit, yang dipenuhi penderitaan salib di sepanjang perjalanan.
Tetapi bukalah mata rohanimu untuk melihat tujuan akhir dari jalan itu, dan kenapa jalan pemurnian kesana menuntut penyangkalan diri yang teramat besar dari siapapun yang memilih jalan ini.
Itu karena dengan memilih jalan yang sempit itu, pada akhir perjalanan, kamu akan “menemukanHidup.
Akan tetapi, kalau kamu lebih suka memilih jalan yang luas dan lebar, bebas dari penderitaan, serta dipenuhi dengan segala kenikmatan dunia di sepanjang perjalanan, pada akhirnya kamu justru akan “kehilanganHidup.
Oleh karena itu, demi kemurahan dan cinta Allah, bijaklah memilih!

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan Biasa XII

image

PENGHAKIMAN DALAM KUASA CINTA

Bacaan:
Kej.12:1-9; Mzm.33:12-13,18-19,20,22; Mat.7:1-5

Renungan:
Sikap “tinggi hati” menjadikan seseorang seolah begitu lihai melihat apa yang dalam pandangannya “kurang” atau salah dari diri sesamanya.
Bersamaan dengan itu, muncul pula godaan si jahat yang menggelapkan hati, untuk begitu disenangkan boleh melihat kekurangan orang lain, dan merasa diri tidak memiliki kekurangan sebagaimana yang dilihatnya.
Kesenangan untuk menghakimi, apalagi secara tergesa-gesa dan keliru, seringkali menjadi perusak persahabatan, rumah tangga, hidup berkomunitas, dan lebih parah lagi, merusak citra Allah dalam diri seseorang.
Kalau Tuhan sanggup menerima segala yang lemah, kurang, maupun terbatas dari diri kita, dan kalau kita seringkali menemukan diri kita pun memiliki banyak kelemahan, kekurangan maupun keterbatasan…kenapa harus kaget melihat kelemahan, kekurangan, dan keterbatasan dalam diri sesama?
Setiap hari akhirilah segala aktifitas harianmu dengan melakukan pemeriksaan batin, untuk merenungkan keseharianmu, maka engkau akan berlutut dengan rendah hati di hadapan Tuhan, karena kesadaran bahwa kamupun tidak luput dari cacat jiwa yang sama.
Berbahagialah mereka yang “rendah hati“, yang selalu berusaha melihat cahaya kebaikan di balik kejatuhan, kegagalan, dan kekurangan sesama.
Sikap rendah hati memampukan kita untuk mencintai sesama bukan dalam segala kelebihannya, melainkan terutama dalam segala kekurangannya.
Ingatlah selalu kata-kata Yesus dalam Injil hari ini, “Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
Bagi mereka yang diserahi tugas untuk menghakimi di dunia ini, para pejabat pengadilan, pemegang kuasa pemerintahan, bahkan termasuk pula para pembesar biara dan komunitas, para bapa pengakuan serta pembimbing rohani, Injil hari ini mengingatkan anda sekalian untuk sungguh-sungguh menjatuhkan penghakiman atas dasar pertimbangan yang benar-benar matang. Bawalah segala perkara yang dipercayakan kepadamu ke hadapan tahta Allah Yang Mahabijaksana, dan mohonkanlah selalu kebijaksanaan Ilahi, untuk dapat menghakimi dan memberikan pertimbangan yang adil, baik, dan benar.
Agar supaya akal budi dapat menghakimi secara adil, milikilah hati yang mencinta.
Hanya oleh kuasa cinta, kita sanggup menghakimi secara adil. Dan dalam kuasa cinta yang sama pula, kitapun kelak akan dihakimi, sebagaimana kata St. Yohanes dari Salib, “Pada senja hidup, kita akan diadili menurut (ukuran) cinta.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ VIGILI PASKAH

image

DIPANGGIL UNTUK BERCAHAYA

Bacaan:
Kej.1:1 – 2:2; Mzm.104:1-2a.5-6.10.12.13-14.24.35c atau Mzm.33:4-5.6-7.12-13.20.22; Kej.22:1-18; Mzm.16:5.8.9-10.11; Kel.14:15 – 15:1; MT Kel.15:1-2.3-4.5-6.17-18; Yes.54:5-14; Mzm.30:2.4.5-6.11.12a.13b; Yes.55:1-11; MT Yes.12:2-3.4bcd.5-6; Bar.3:9-15.32 – 4:4; Mzm.19:8.9.10.11; Yeh.36:16-17a.18-28; Mzm.42:3.5bcd – 43:3.4 atau kalau ada pembaptisan MT Yes.12:2-3.4bcd.5-6 atau juga Mzm.51:12-13.14-15.18-19; Rm.6:3-11; Mzm.118:1-2.16ab-17.22-23; Mrk.16:1-8

Renungan:
Inilah malam dimana Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus mengalahkan maut dan kegelapan dengan Cahaya Kebangkitan.
Pada malam ini Gereja Katolik merayakan Puncak dari semua perayaan Liturginya.
Malam ini umat beriman merayakan dasar dari keseluruhan imannya. Sebagaimana diungkapkan begitu tepatnya oleh St. Paulus Rasul, “Seandainya saja Kristus tidak dihidupkan kembali dari kematian, maka tidak ada gunanya kami memberitakan apa-apa dan tidak ada gunanya pula kalian percaya, sebab kepercayaanmu itu tidak mempunyai dasar apa-apa. Dan kalau Kristus tidak dihidupkan kembali maka kepercayaanmu hanyalah impian belaka; itu berarti kalian masih dalam keadaan berdosa dan tidak mempunyai harapan sama sekali. Tetapi nyatanya Kristus sudah dihidupkan kembali dari kematian. Inilah jaminan bahwa orang-orang yang sudah mati akan dihidupkan kembali. Sebab kematian masuk ke dalam dunia dengan perantaraan satu orang, begitu juga hidup kembali dari kematian diberikan kepada manusia dengan perantaraan satu orang pula.” (bdk.Kor.15:14.17.20-21)

Vigili Paskah atau Malam Paskah adalah awal penciptaan yang baru. Ketika Allah menciptakan alam semesta dari kekosongan, ketiadaan dan kegelapan, dia terlebih dahulu menciptakan “Terang“. Maka, malam Paskah dikatakan awal penciptaan baru karena pada malam ini, Allah mengalahkan kegelapan dosa dan maut dengan “Terang Sejati” yang berasal dari Kristus Yang Bangkit.

Di malam Paskah ini, Gereja Katolik mengungkapkan atau menerangkan imannya akan Kristus Yang Bangkit dengan liturgi yang begitu indah, tepat dan penuh kekayaan makna, melalui bentuk yang sangat unik dan sederhana, yaitu Lilin Paskah.
Dari liturgi sederhana ini kita diajak untuk merenungkan 2 sikap yang harus dimiliki oleh setiap orang beriman yang dipanggil menjadi saksi-saksi iman akan Kristus Yang Bangkit.

Pertama, lilin akan menghabiskan dirinya untuk bercahaya. Sebagaimana lilin yang menebarkan cahaya sambil perlahan-lahan menghabiskan dirinya, demikian pula hidup seorang rasul Kristus. Panggilan kita untuk membawa cahaya ke tengah kegelapan dunia adalah juga panggilan untuk mencintai sampai sehabis-habisnya, sama seperti Kristus. Suatu panggilan untuk kehilangan hidup, agar dapat memberi hidup. Hidup seorang Kristen adalah suatu pemberian diri yang total, bahkan sekalipun karenanya ia harus mengurbankan nyawanya, demi imannya akan Allah dan demi membawa keselamatan serta cahaya sukacita Injil kepada semua orang.

Kedua, cahaya lilin adalah api. Ini bukanlah cahaya yang dingin dan tidak memiliki dampak apa-apa jika disentuh, melainkan cahaya yang membawa kehangatan, bahkan sanggup membakar dan menghanguskan siapapun yang disentuh olehnya. Demikian pulalah seharusnya hidup seorang rasul Kristus. Hidupnya harus selalu membawa kehangatan cinta dan belas kasih Allah bagi siapapun yang berjumpa dengannya. Hidup dan karyanya harus selalu membawa orang pada pengenalan iman akan Kristus, dan membuat hati siapapun yang disentuh oleh kehadirannya menjadi berkobar-kobar dan dihanguskan oleh cinta akan Allah.

Di malam Paskah ini, seruan Kristus kembali bergema, “Kamu adalah Terang dunia.
Kita bukanlah anak-anak kegelapan, kita adalah putra-putri Cahaya
Oleh karena itu, malam ini pula Gereja, umat Allah, dengan memegang lilin yang bercahaya di tangannya, membaharui kembali janji baptisnya untuk menjadi putra-putri Cahaya, yang membawa terang dan sukacita Paskah dalam hidup dan karyanya.

Semoga Santa Perawan Maria, Bintang Timur dan Bunda Gereja, menyertai kita dengan doa dan kasih keibuannya, agar kita bisa menjadi saksi-saksi iman akan Kristus Yang Bangkit, serta mengenyahkan kegelapan dunia ini melalui hidup dan karya kita.

Selamat Paskah! Surrexit Christus, Alleluia!

Pax, in aeternum.
Fernando

HARI RAYA KABAR SUKACITA

image

SEANDAINYA DIA MENJAWAB TIDAK

Bacaan I
Yes.7:10-14; 8:10
Mazmur Tanggapan
Mzm.40:7-8a.8b-9.10.11
Bacaan II
Ibr.10:4-10
BACAAN INJIL
Luk.1:26-38

Renungan:

“Adapun Bapa yang penuh belaskasihan menghendaki, supaya penjelmaan Sabda didahului oleh persetujuan dari pihak dia, yang telah ditetapkan menjadi Bunda-Nya. Dengan demikian, seperti dulu wanita mendatangkan maut, sekarang pun wanitalah yang mendatangkan kehidupan.” (Lumen Gentium, 56)

Seandainya waktu di dunia ini pernah berhenti, maka itu sangat mungkin terjadi pada hari dimana Perawan Suci menerima Kabar Sukacita dari Allah melalui malaikat Gabriel.
Ada suatu momen keheningan mendalam yang terjadi pada hari itu, saat dimana seluruh penghuni surga membungkuk untuk melayangkan pandangan ke bumi dalam keheningan, kepada seorang gadis sederhana bernama Maria, untuk mendengar jawaban apa yang hendak dia berikan.
Sebuah jawaban yang akan menentukan keselamatan seluruh umat manusia.
Kenyataan bahwa Tuhan begitu menghormati kebebasan manusia, dan tidak memaksakan kehendak-Nya kepada kita, sebagaimana nyata dalam diri Maria di hari itu, semakin membuat momen itu mendebarkan bagi seluruh alam semesta.
Datang atau tidaknya Sang Penyelamat ke dalam dunia, sepenuhnya tergantung pada jawaban Maria.
Maria bisa saja menjawab “Tidak”.

Akan tetapi, dalam diri dan “Fiat/Ya” Maria, setiap orang beriman boleh memandang dan merenungkan dalam kekaguman akan rahmat Allah yang bekerja di dalam diri Maria.
Itulah juga sebabnya kenapa malaikat Gabriel tidak menyapa Maria dengan namanya, melainkan menyebut dia sebagai yang “penuh rahmat.”
Karena, sama seperti sebelum Allah menciptakan manusia, terlebih dahulu Dia menciptakan langit dan bumi beserta seluruh isinya dalam kebaikan, sehingga bisa menjadi kediaman yang membahagiakan bagi manusia, demikian pula sebelum mengutus Putra-Nya yang terkasih ke dalam dunia, Allah sungguh-sungguh memilih dan menetapkan wanita terbaik, seorang Perawan Suci, serta menghujaninya dengan segala kelimpahan rahmat sebagai Bunda Allah.

“Fiat” Maria hendaknya menjadi “Fiat” kita juga. Jawaban “Ya” Maria hendaknya menjadi jawaban “Ya” kita juga, tidak hanya disaat kehendak Tuhan begitu jelas kelihatan, melainkan juga disaat jawaban “Ya” itu menuntut kita untuk melangkah di dalam kegelapan malam.
Sama seperti Maria, milikilah keberanian iman untuk percaya sekalipun tidak ada dasar untuk percaya, untuk berharap sekalipun tidak ada dasar untuk berharap.
Dalam keadaan sesulit apapun dalam hidup, ketika iman kita diuji, bahkan kendati seluruh dunia mendesak kita untuk mempertanyakan rancangan Tuhan, biarlah suara Tuhan ini selalu bergema di hati kita, “Jangan Takut! Percaya saja!”
Semoga Hari Raya Kabar Sukacita ini mengingatkan kita akan begitu besar belas kasih Allah atas umat-Nya, sambil meneladani Perawan Suci Maria yang menemukan kebebasan sejati dalam penyerahan diri secara total dan bebas kepada kehendak Allah.
“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut kehendak-Mu.”

Pax, in aeternum.
Fernando

Cinta akan rumah-Mu menghanguskan daku

MINGGU PRAPASKA II ( TAHUN LITURGI – A )

Bacaan I – Kejadian 12: 1-4a

Mazmur Tanggapan – Mzm. 33: 4-5. 18-19. 20. 22

Bacaan II – 2 Timotius 1: 8b-10

Bacaan Injil – Matius 17: 1-8

CINTA AKAN RUMAH-MU MENGHANGUSKAN DAKU

“Seturut sabda-Mu kucari wajah-Mu, wajah-Mu kucari, Ya Tuhan. Janganlah wajah-Mu Kausembunyikan daripadaku.” (Mzm.26: 8-9)

Demikianlah antifon pembuka hari ini menghantar kita memasuki perjumpaan dengan Allah dalam Misa Kudus hari ini. Kata-kata pemazmur yang indah ini sebenarnya mengungkapkan kodrat dan tujuan keberadaan kita di dunia ini. Sebagai manusia, kita berasal dari Allah dan pada akhirnya, seturut besarnya cinta kita untuk mencari Dia, kita akan kembali kepada Dia, Sang Pemberi Hidup. Santo Agustinus berkata, “Engkau telah mencipta kami bagi Diri-Mu, dan hati kami tidak tenteram sebelum beristirahat di dalam Engkau.” Allah sendiri telah meletakkan dalam hati kita, suatu kerinduan untuk mencari dan menemukan-Nya. Suatu panggilan suci yang penuh misteri, untuk mengalami kemuliaan dan sukacita Tabor. Akan tetapi, salah satu kegagalan terbesar para pengikut Kristus, terlebih di masa sekarang ini, adalah kegagalan untuk melihat bahwa Jalan Salib adalah satu-satunya jalan yang menghantar kita untuk mengalami transfigurasi, untuk berubah rupa dan mengalami persatuan sempurna dengan Allah. Kekristenan tanpa salib adalah palsu.  Panggilan untuk menapaki jalan kesempurnaan adalah suatu perjalanan yang harus dilalui dalam tapak-tapak derita, tapak-tapak dukacita dan air mata. Seperti Abram yang dipanggil keluar ke tanah yang dijanjikan Tuhan, kita akan melihat bahwa perjalanan panggilan ini bagaikan suatu perjalanan melewati malam gelap, suatu pendakian gunung rohani untuk masuk dalam awan ketidaktahuan bersama Allah. “Ikutlah menderita bagi Injil Tuhan dengan kekuatan Allah.” (2 Tim.1: 8c)

Petrus, Yakobus dan Yohanes melihat Yesus berubah rupa di gunung Tabor, sambil berbicara dengan Musa dan Elia.

Petrus, Yakobus dan Yohanes melihat Yesus berubah rupa di gunung Tabor, sambil berbicara dengan Musa dan Elia.

Yesus memahami ketidakmengertian dan ketakutan para murid untuk menapaki jalan ini. Karena itulah Dia mengajak para murid untuk mendaki gunung dan beroleh kesempatan memandang Transfigurasi, agar para murid dapat melihat cahaya dan mahkota kemuliaan di balik misteri Salib.

Saudara-saudari terkasih.

Jikalau memang benar demikian adanya, bahwa Tuhan memanggil kita untuk memulai suatu perjalanan yang dipenuhi penderitaan, dukacita, dan kegelapan iman, apa yang menggerakkan tak terbilang banyaknya para kudus di sepanjang zaman untuk berani melangkahkan kaki tanpa keraguan di jalan ini? Para kudus sesudah zaman Gereja Perdana, bukanlah saksi mata langsung akan peristiwa Transfigurasi semulia itu, tetapi toh dalam kegelapan iman yang luar biasa menyedihkan, gelap dan menakutkan, meskipun seolah-olah air laut belum terbelah, mereka memberanikan diri untuk melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam air, dan di tengah angin kencang dan badai bergemuruh, mereka sanggup berjalan di atas air. Apa yang mendorong kegilaan iman untuk mengikuti Tuhan semacam itu?

Cinta…cinta…cinta…cintalah yang mendorong kegilaan merasul mereka…Sang Mempelai telah meninggalkan dalam hati kita sebuah luka cinta, dan tidak ada yang bisa menyembuhkan luka itu, selain Dia yang telah melukai kita. Bayangkanlah suatu perasaan cinta antara dua orang kekasih yang paling mesra di dunia ini, dan lipatgandakanlah itu beratus-ratus bahkan beribu-ribu kali. Demikianlah api cinta yang ditimbulkan oleh luka cinta dari Tuhan. Sama seperti Abram dan bagaikan seorang mempelai wanita yang meluap-luap dalam cinta akan Kekasihnya, demikianlah panggilan Tuhan telah memabukkan kita dalam cinta, sehingga kita berlari keluar, layaknya orang gila dalam pandangan dunia ini, meninggalkan segala yang merintangi kita, demi mencari Sang Cinta.

Dan lihatlah betapa luar biasanya kobaran cinta yang dinyalakan Roh Cintakasih itu. Jangankan untuk berkarya bagi Allah, untuk mengisahkan tentang Dia pun sudah membuat hati kita berdebar-debar karena luapan cinta.  Panggilan cinta ini bukanlah suatu panggilan untuk mengabaikan dunia, melainkan suatu panggilan untuk merasul dan menulari semua orang dengan kegilaan cinta yang sama. St. Josemaria Escriva  berkata, “Cintamu sedikit bila engkau tidak bersemangat menyelamatkan jiwa-jiwa. Cintamu miskin bila engkau tidak berhasrat untuk menulari rasul-rasul lain dengan kegilaanmu. Jangan biarkan hidupmu menjadi sia-sia, Jadilah manusia yang berguna. Tinggalkan jejak. Pancarkan cahaya iman dan cinta kasihmu. Dengan hidup merasul, lenyapkanlah bekas-bekas yang buruk dan kotor yang ditaburkan oleh penyebar kebencian. Terangilah jalan-jalan dunia ini dengan terang Kristus yang kaubawa dalam hatimu.” Jangan meminta diturunkan dari salibmu, tetapi mohonkanlah kekuatan untuk terentang pada salib. Berharaplah kepada Tuhan. “Dialah penolong dan perisai kita.” (Mzm.33: 20b)

Saudara-saudari terkasih.

Saat ini Yesus berbicara kepadamu, “Berdirilah, jangan takut!” (Mat.17: 7b) Sama seperti ketika pertama kali Ia memanggil Petrus, Yakobus, dan Yohanes, Allah saat ini memanggil engkau tepat di tengah-tengah pekerjaanmu, untuk menjadi “penjala manusia”. Jawablah “Ya” kepada-Nya, hari ini, besok dan sampai selama-lamanya. Kuduskanlah dirimu, kuduskanlah perkerjaanmu, dan kuduskanlah semua orang melalui pekerjaanmu. Inilah panggilan cinta kita, inilah kerasulan kita. Bilamana kita setia, pada senja hidup kita, kita akan mengalami kemuliaan dan sukacita Tabor, berbahagia selamanya bersama Sang Cinta.

Semoga Perawan Maria yang terberkati, selalu menyertai kita dengan doa-doanya, serta melindungi kita dalam naungan kasih dan mantol ke-ibu-annya, agar kita bisa mencapai cita-cita rohani ini, sebagaimana dia sendiri telah lebih dahulu menjalaninya dan beroleh mahkota kemuliaan karenanya. “Regnare Christum volumus!”  – “Kami ingin Kristus meraja!” (VFT)