Meditasi Harian, 17 Juli 2017 ~ Senin dalam Pekan Biasa XV

LEBIH DARI SEGALANYA

Bacaan:

Kel.1:8-14.22; Mzm.124:1-3.4-6.7-8; Mat.10:34-11:1

Renungan:

Panggilan mengikuti Tuhan di jalan-Nya membawa seorang beriman pada tuntutan suci, untuk menempatkan Allah serta mengasihi Dia di atas segala-galanya, jauh melampaui cinta bakti kepada orang tua serta semua yang terdekat di hati, dan melepaskan kelekatan akan segala sesuatu yang disebut sebagai harta milik, serta menyerahkan diri dengan hati tak terbagi dan tanpa syarat pada desakan untuk mendahulukan kehendak Allah, melebihi segala harapan dan cita-cita yang kamu dambakan dalam kesementaraan dunia ini. “Haruskah saya menaati mereka yang membesarkanku dan kehilangan Dia yang menciptaku?” Inilah pertanyaan St. Agustinus dari Hippo yang dapat menjadi dasar permenungan kita akan tuntutan Injil hari ini. Kenyataan bahwa kita tercipta karena Cinta, sudah lebih dari cukup sebagai alasan bagi kita untuk mempersembahkan segenap hidup kita bagi kemuliaan-Nya. Sembah bakti kita secara total dan mutlak kepada Allah, sama sekali tidak menimbulkan pertentangan antara hukum pertama dan keempat dari “Dekalog“, malah semakin memperjelas tatanan relasi manusia dengan Allah dan sesamanya dalam karya keselamatan. 

Maka, sangatlah disayangkan apabila kita harus menutup mata, telinga dan hati terhadap panggilan Tuhan yang lemah lembut, hanya karena kita tidak ingin mengecewakan orang tua, mereka yang terdekat di hati, atau lebih menyedihkan lagi, bilamana kita mengabaikan kehendak Allah hanya karena tidak sanggup kehilangan persahabatan dengan dunia. Itulah sebabnya, panggilan Kristiani menuntut pula kehendak bebas manusia untuk mengalami kemiskinan roh, suatu bentuk pengosongan diri, sebagaimana terlebih dahulu dilakukan oleh Kristus sendiri, Putra Allah dan Tuhan kita. Kalau seorang rasul Kristus sungguh merindukan surga dan persatuan sempurna dengan Allah, biarlah hatinya tidak melekat pada apapun selain Allah. “Solo Dios Basta – Allah saja Cukup“, demikian kata St. Teresa dari Avila.

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat.10-38-39). Kendati demikian, “Jangan takut!” Kuatkan hatimu dan buatlah keputusan heroik beriman untuk merangkul, menapaki jalan-Nya, tergantung, bahkan mati di salib demi Allah dan Kehendak-Nya. Lebih baik kamu kehilangan seluruh dunia dengan segala kemuliaan yang ditawarkannya, daripada kehilangan Allah dan ganjaran kehidupan kekal. Lebih baik berjalan bersama Tuhan di tengah kegelapan, daripada berjalan sendirian tanpa Tuhan di tengah cahaya. “Adiutorium nostrum in nomine Domini qui fecit caelum et terram” (Mzm.124:8). Semoga Santa Perawan Maria, Ratu para pengaku iman, menyertai jalan panggilanmu menuju Putranya.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian, 15 Juli 2017 ~ Sabtu dalam Pekan Biasa XIV

TAKUTMU BEDA DENGAN TAKUTKU

Bacaan:

Kej.49:29-32 dan 50:15-24; Mzm.105:1-2.3-4.6-7; Mat.10:24-33

Renungan:

Perasaan takut punya kuasa yang besar. Seorang dapat menjadi sangat cemas atau melarikan diri karena rasa takut. Akan tetapi, rasa takut dapat pula menghantar kita untuk berdiri teguh dalam iman, dan melakukan tindakan-tindakan heroik sebagai ungkapan nyata dari iman kita. Berlawanan dengan si jahat yang menanamkan benih ketakutan, dan membuat banyak orang berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan nyawanya, sambil menghambakan diri kepada kedagingan; rasa takut yang suci akan Allah adalah obat penawar, yang melenyapkan ketakutan akan kehilangan nyawa. Rasa takut yang suci akan Allah membuahkan kebijaksanaan, kedewasaan rohani, dan discernment yang tepat dalam menjalani hidup. Darinya lahir keberanian yang luar biasa untuk menjadi saksi-saksi kebangkitan, rasul-rasul Kristus yang berani mewartakan Injil sampai ke ujung bumi, serdadu-serdadu Kristus yang siap-sedia menghalau kegelapan dan maju dalam pertempuran iman secara heroik. Bersaksilah melalui hidupmu kekristenanmu yang sungguh-sungguh memantulkan cahaya kemuliaan Tuhan. Hindarilah segala perbuatan yang dapat menciderai karya Allah di dalam dan melalui dirimu, kemudian mulailah lebih giat lagi bersaksi akan karya-karya mengagumkan yang dikerjakan-Nya di dalam dan melalui dirimu. 

Apapun profesi hidupmu, mulailah melihat panggilan adikodrati di dalamnya. Hidupmu adalah Altarmu di hadapan Tuhan. Kamu adalah rekan kerja Allah dalam karya keselamatan dunia. Persembahkanlah hanya keharuman di atas Altar kerjamu itu, bukan kejahatan dan perbuatan lainnya yang tidak berkenan di Hati Tuhan. Tentu ini bukanlah suatu pemberian hidup tanpa risiko. Tak jarang kamu dapat kehilangan kehormatan, karir cemerlang, sahabat, harta milik, keluarga, segalanya, bahkan nyawamu sendiri. Tetapi disinilah letak keindahan panggilan kristiani kita, yaitu “melepaskan segala demi beroleh Kristus, Sang Segala“, kata St. Yohanes dari Salib. Jangan takut! Wartakanlah apapun juga risikonya. Takutlah akan Tuhan yang mengingatkan kita bahwa, “Barangsiapa mengakui Aku di hadapan manusia, dia akan Kuakui juga di depan Bapa-Ku yang di surga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, dia akan Kusangkal di hadapan Bapa-Ku yang di surga” (Mat.10:32-33). Ketakutan sejati selalu berbuah cinta bakti serta penyerahan diri seutuhnya kepada Allah dan kehendak-Nya. Kamu dipanggil dari tengah dunia untuk menjadi saksi-saksi dari Karya Allah.

Temukanlah kekuatan untuk berani menjadi saksi-saksi Kristus di dalam Sakramen Ekaristi. Itulah Roti Kehidupan yang menyempurnakan hidup doamu, mati raga, laku tapa, dan segala karya kerasulanmu. Seberapa dalam persatuan cintamu dengan Allah adalah faktor utama, yang sangat menentukan apakah pertempuranmu melawan si jahat dapat dimenangkan atau tidak. Pandanglah Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, gambaran kesempurnaan Gereja. Hidupnya adalah teladan yang paling mengagumkan dari hidup seorang hamba Tuhan. Hidup yang senantiasa diliputi sukacita di tengah hujaman pedang dukacita, karena dia selalu menjawab “Ya” kepada Allah, dan “Tidak” kepada si jahat. Kiranya dengan kelembutan kasih keibuannya, kita dituntunnya masuk dalam awan kemuliaan Tuhan, ke dalam pergaulan yang penuh hormat dengan Dia, untuk kemudian sujud menyembah dalam ketakutan yang suci di hadirat-Nya. Santa Maria dari Gunung Karmel, doakanlah kami.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian, 14 Juli 2017 ~ Jumat dalam Pekan Biasa XIV

BERANI MATI UNTUK HIDUP

Bacaan:

Kej.46:1-7.28-30; Mzm.37:3-4.18-19.27-28.39-40; Mat.10:16-23

Renungan:

Injil hari ini membawa kita lebih jauh lagi ke dalam realita seorang pengikut Kristus, serta panggilan kerasulan kita untuk menyatakan karya Tuhan. Sesudah meneguhkan hati kita bahwa hidup kristiani adalah hidup yang disertai dengan tanda-tanda penuh kuasa dari-Nya, untuk membawa banyak orang pada pengalaman akan kasih Allah, hari ini Tuhan kita berbicara soal konsekuensi yang sudah pasti tidak kita harapkan. Setelah kemarin memperingatkan kita yang diutus, agar tidak memiliki kelekatan atau “membawa banyak” hal yang justru membebani tugas kerasulan kita, hari ini Tuhan mengutarakan satu lagi kenyataan dari panggilan kita sebagai saksi-saksi Kebangkitan, yaitu bahwa Sang Gembala Yang Baik ini mengutus kita “seperti domba ke tengah-tengah serigala” (Mat.10:16). Seekor domba berhadapan satu lawan satu dengan seekor serigala saja sudah cukup sukar, apalagi untuk hidup di tengah-tengah kawanan serigala.

Siapapun yang hendak melangkah di jalan Tuhan, haruslah terlebih dahulu menyadari betul konsekuensi iman ini. Jalan kecil Tuhan pada hakekatnya adalah jalan Salib, dimana seorang akan kehilangan segala, bahkan nyawanya sendiri, untuk beroleh kesejatian hidup. Predikat “Hamba Tuhan” bukanlah gelar kehormatan, yang darinya seorang dapat menuntut perlakuan istimewa, kenyamanan hidup, kekayaan, kemakmuran, pujian dan kehormatan duniawi lainnya, apalagi menipu mereka yang dipercayakan kepadanya dengan kejahatan bertopeng kerohanian. Jika itu yang kamu harapkan, maka sesungguhnya kamu telah menjadi “hamba mamon“, tak ubahnya seperti “serigala berbulu domba”. Kamu tidak hanya kehilangan aroma domba, melainkan kamu sudah bukan lagi seekor domba. Seorang rasul Kristus diutus ke tengah kegelapan dunia untuk bercahaya, bukan meredupkan apalagi memadamkan cahayanya untuk bergabung dengan saudara-saudari kegelapan. Kita adalah putra-putri Paskah, manusia-manusia kebangkitan, yang hendaknya dengan lantang berseru, “bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21). Dia yang telah memberi diri untuk Tuhan, tetapi masih menyayangi hidupnya sendiri dan hatinya masih melekat pada segala sesuatu diluar Tuhan, pada akhirnya justru akan kehilangan ganjaran hidup kekal dalam kebahagiaan Surga, serta beroleh kebinasaan kekal dalam ratapan dan kertak gigi.

Memang benar bahwa kita diutus ke tengah-tengah serigala. Akan tetapi, “Janganlah kamu kuatir” (Mat.10:29), akan mereka yang hanya dapat membunuh tubuh, tetapi tidak berkuasa sama sekali melenyapkan jiwa. Bersiaplah untuk kehilangan “tubuh” demi menyatakan Kerajaan Allah, maka pada akhirnya nanti baik tubuh maupun jiwamu dapat beroleh kekekalan. Melangkahlah dengan iman layaknya Yakub yang berangkat dalam getaran suara cinta Tuhan, “Akulah Allah, Allah ayahmu, janganlah takut…Aku sendiri akan menyertai engkau…dan tentulah Aku juga akan membawa engkau kembali” (Kej.46:3-4). Milikilah ketulusan merpati dalam kesederhanaan beriman dan kerendahan hati untuk dibentuk serta dimurnikan oleh Tuhan, dan jagalah sikap kerasulan kita dalam kehati-hatian yang suci dan penuh hikmat, agar kita tidak jatuh ke dalam jerat perangkap si jahat, yang menawarkan banyak hal supaya kita menyimpang dari jalan kesempurnaan. Cerdiklah seperti ular untuk bertahan dalam semangat kerasulan di tengah serigala, sebab “barangsiapa bertahan sampai kesudahannya akan selamat” (bdk.Mat.10:22).

Semoga Perawan Terberkati Maria, Bunda umat beriman, menyertai kita di jalan kecil ini dengan doa dan kasih keibuannya, agar kita senantiasa melangkah dengan penuh sukacita. “Orang-orang benar akan diselamatkan oleh Tuhan; Dialah tempat perlindungan mereka pada waktu kesesakan; Tuhan menolong dan meluputkan mereka dari tangan orang-orang fasik. Tuhan menyelamatkan mereka, sebab mereka berlindung pada-Nya” (Mzm.37:39-40). Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, doakanlah kami.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian, 13 Juli 2017 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XIV

KERASULAN CINTAKASIH

Bacaan:

Kej.44:18-21.23b-29 dan 45:1-5; Mzm.105:16-17.18-19.20-21; Mat.10:7-15

Renungan:

Injil hari ini berbicara mengenai desakan Tuhan Yesus, agar murid-muridnya pergi memberitakan kabar sukacita tentang Kerajaan Allah ke seluruh dunia. Kita, yang menyebut diri “rasul-rasul Kristus“, dipanggil untuk membawa sebanyak mungkin orang kepada pengenalan akan Allah. Ke dalam pergaulan mesra dan persatuan mistik dengan-Nya. Ini berarti bahwa tidaklah cukup menghantar jiwa-jiwa untuk beriman. Sebab sebagaimana “iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati” (bdk.Yak.2:26), maka panggilan untuk mewartakan Kerajaan Allah, adalah tugas luhur yang menuntut perubahan hidup seutuhnya. Hidup yang diubahkan ke dalam habitus baru, dimana iman kristiani sungguh-sungguh dijalani dalam karya nyata, serta kesaksian hidup yang otentik dan meyakinkan. Karya kerasulan yang sejati mendatangkan penyembuhan bukan luka, kesatuan bukan perpecahan, damai sejahtera bukan perselisihan, saling melayani bukan saling menjatuhkan, mempertahankan hidup bukan melenyapkan, melestarikan alam ciptaan bukan merusak, mengangkat martabat manusia bukan merendahkan, melawan ketidakadilan bukan berdiri di atas penderitaan orang lain, dan membangun jembatan bukan tembok.

Di tengah dunia yang semakin kehilangan pengharapan ini, disitulah kita, para pengikut Kristus ditempatkan untuk bercahaya dan membawa damai sejahtera. Satu hal yang tidak pernah boleh kita lupakan, yaitu ibarat suatu cermin, kita bercahaya karena memantulkan cahaya sejati yang berasal dari Allah. Demikian pula kita hanya dapat menjadi rasul-rasul Kristus yang membawa damai sejahtera, manakala kita senantiasa memandang Allah dan memohonkan karunia cintakasih, yang mengalir dari Hati-Nya Yang Mahakudus. Tugas kita adalah mewartakan, terlepas dari kenyataan kita dapat diterima dan dapat pula ditolak. Kalau diterima, bersyukurlah kepada Allah dan milikilah kerendahan hati untuk selalu mengingat, bahwa kamu semata-mata hanyalah alat. Kalau ditolak, bersyukurlah pula bahwa kamu beroleh keistimewaan untuk mengambil bagian dalam sengsara Tuhan kita. Lakukanlah karya kerasulanmu itu dengan penuh sukacita, sebab kehendak Allah-lah yang mendesak kita, bukan kehendak manusia. Kemuliaan-Nyalah yang kita nyatakan, bukan kemuliaan diri atau motif kodrati lainnya. Sebagaiman kata St. Josemaria Escriva, “Berikan suatu motif adikodrati pada pekerjaanmu sehari-hari, maka engkau akan menyucikan pekerjaanmu itu” (Jalan, 359). Biarlah Tuhan semakin besar, dan kita semakin kecil. Dialah yang harus dikenal, dan biarlah kita berkarya dan melayani Dia dalam ketersembunyian. Teladanilah Santa Perawan Maria, Ratu para Rasul. Dialah cermin kekudusan yang bercahaya begitu gemilang karena persatuan mesranya dengan Allah, Sang Kekasih dan Segalanya. Semoga kita senantiasa menjadi rasul-rasul cintakasih yang memantulkan cahaya cintakasih dari Allah, Sang Damai sejati.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 4 Oktober 2015 ~ MINGGU BIASA XXVII

image

JANGAN BERTEGAR HATI !

Bacaan:
Kej.2:18-24; Mzm.128:1-2.3.4-5.6; Ibr.2:9-11; Mrk.10:2-16

Renungan:
Sejak awal penciptaan, Sakramen Pernikahan selalu bersifat monogami dan tak terceraikan antara seorang pria dan seorang wanita. Hukum Tuhan ini sedemikian jelas sehingga tidak ada celah bagi interpretasi yang berbeda, apalagi untuk memberinya makna baru dengan dalih supaya lebih sesuai dengan arus zaman.
Ketegaran hati manusialah yang seringkali mengaburkan dan berujung penolakan terhadap kebenaran ini.
Itulah sebabnya, putra-putri Gereja Katolik harus senantiasa membawa cahaya dan sukacita iman lewat kesaksian hidup yang meyakinkan.
Iman Kristiani hendaknya diwartakan secara otentik dan dihidupi secara total, kendati seringkali harus melawan arus zaman.
Iman kita adalah harga mati dan tidak bisa dinegosiasikan. Iman bukanlah gaya hidup yang dapat usang dan berganti seiring waktu.
Sabda Tuhan hari ini kembali mengajak kita untuk melihat martabat luhur dan kekudusan Sakramen Pernikahan serta kesejatian Keluarga dalam terang Iman.

Kendati didirikan oleh Tuhan Yesus sendiri, Gereja Katolik tidak menciptakan definisi dari Sakramen Pernikahan. Demikian pula segala institusi buatan manusia pun tidak.
Allah sendirilah yang telah menetapkannya.
TUHAN Allah berfirman: ‘Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.’ Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” (Kejadian 2:18.21-22.24)

Maka, manakala Gereja Katolik saat ini membela mati-matian martabat Pernikahan dan kesejatian Keluarga dari berbagai usaha si jahat yang mencoba merusaknya, itu sama sekali bukanlah sikap yang usang, ketinggalan zaman, apalagi diartikan secara diskriminatif dan tidak manusiawi.
Justru segala bentuk serangan terhadap kebenaran sejati inilah yang sebenarnya mendatangkan pengrusakan terhadap martabat hidup manusia, serta mengaburkan citra Allah dalam dirinya.

Sakramen Pernikahan adalah suatu panggilan yang Ilahi, di dalamnya kita dapat memandang pula gambaran cinta Kristus kepada Gereja sebagai Mempelai-Nya.
Sebagian besar umat beriman dipanggil untuk menapaki jalan panggilan luhur ini. Dan sebagaimana Firman-Nya, bahwa tidak ada satupun manusia boleh menceraikan atau merusak apa yang telah disatukan Tuhan, maka perceraian dan segala usaha merusak pernikahan maupun kesejatian keluarga, merupakan kekejian serta perlawanan terhadap rancangan indah dari Allah.

Amatlah mendukakan bahwa saat ini, bukan hanya mereka yang tak beriman, melainkan justru banyak orang yang menyebut diri pengikut Kristus, kini mulai meragukan, mempertanyakan, bahkan tak jarang menyerah di jalan suci dan luhur ini.
Jangan sampai kata-kata Tuhan Yesus menjadi teguran nyata bagi kita, bahwa “ketegaran hatimulah” yang telah membutakan serta membuatmu berpaling dari kesempurnaan kemanusiaan ini.

Dunia saat ini mengalami ketiadaan Allah yang luar biasa, suatu kegelapan iman dan penolakan terhadap Sang Cinta, melebihi masa-masa sebelumnya dalam sejarah.
Ketegaran hati dunia telah membuat banyak pasangan suami-istri jatuh dan menyerah dari panggilan untuk mencintai ketidaksempurnaan secara sempurna; pada ketidaksetiaan dan perzinahan; pada pemusnahan kehidupan dengan tindakan aborsi dan Euthanasia; pada kontrasepsi dan penciptaan maupun rekayasa kehidupan layaknya produk buatan pabrik; pada menjadi budak uang dan ambisi berkuasa, sampai lupa menyediakan waktu untuk orang yang mereka kasihi; pada kemajuan teknologi dan komunikasi, yang bukannya mendekatkan, melainkan semakin menjauhkan satu sama lain; pada interpretasi baru akan arti pernikahan maupun keluarga; dan pada hawa nafsu dunia yang menyesatkan.

Berjaga-jagalah sebab setan, si ular tua, saat ini mencoba melemahkan Gereja dengan menyerang Sakramen Pernikahan dan hidup berkeluarga.
Si jahat tahu, bahwa tanpa Sakramen Pernikahan dan Keluarga Kristiani yang sejati, tidak akan ada putra-putri Cahaya, tidak akan ada mereka yang memberi diri dalam panggilan suci, tidak akan ada karya kerasulan, tidak akan ada pewarisan Iman, tidak akan ada Gereja.

Dalam bagian akhir Injil hari ini, Tuhan Yesus menutup pengajaran-Nya mengenai keagungan Sakramen Pernikahan dan pentingnya Keluarga, dengan mengundang anak-anak datang kepada-Nya, sambil mengecam mereka yang mencoba menghalangi kehadiran anak-anak.
Maka, celakalah kamu, hai putra-putri kegelapan, yang mencoba merubah Ajaran Gereja dengan lobi-lobi kotormu; yang kini telah mengubah undang-undang di banyak negara untuk memberi definisi baru bagi Pernikahan, sebagai bukan lagi antara pria dan wanita; yang melegalkan aborsi, suatu tindakan keji untuk membunuh dengan dalih kemanusiaan maupun alasan medis; yang membenarkan bahkan memaksakan penggunaan berbagai bentuk kontrasepsi untuk menghalangi kehadiran anak-anak sebagai buah cinta; yang menghina Allah dengan rekayasa genetika untuk penciptaan manusia dari meja riset dan laboratorium; dan yang menentang panggilan prokreasi atas pertimbangan ekonomi, gejolak sosial serta politik.

Bukanlah suatu kebetulan bahwa mujizat pertama yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus dilakukan di Kana, di tengah Pernikahan, di dalam Keluarga. Oleh karena itu, Sabda Tuhan hari ini kiranya membaharui panggilan kita, serta pandangan iman kita akan Sakramen Pernikahan dan kesejatian Keluarga.
Tentu saja ada rupa-rupa tantangan dalam hidup pernikahan, akan selalu ada rupa-rupa pergumulan untuk melangkah bersama sebagai keluarga.
Tetapi, “Jangan Takut!
Pandanglah selalu salib Tuhan kita dan temukanlah kekuatan disana.
Santapan Ekaristi, Firman Tuhan, doa, puasa, matiraga, serta karya kerasulan hendaknya menjadi sumber kekuatanmu.
Bukankah Tuhan selalu ada di dalam kamu dan kamu di dalam Dia? Jika Tuhan berada di pihakmu, kenapa takut atau kuatir? Bersukacitalah!
Asalkan kamu selalu setia untuk melangkah bersama Dia, maka mujizat di Kana akan terjadi juga di dalam pernikahanmu, di dalam keluargamu. Tuhan selalu sanggup mengubah air menjadi anggur. Percaya saja!

Di bulan Rosario ini, marilah kita mengarahkan pandangan kepada Perawan Suci Maria. Mujizat di Kana terjadi karena Bunda Maria yang memintanya. Dialah gambaran kesempurnaan Gereja. Dia tampil bersama Santo Yosef sebagai teladan beriman suami-istri, sebagai keluarga Kudus.
Maka, adalah baik dan sungguh pantas bagi setiap keluarga Katolik untuk berlindung dan mempercayakan hidup rumah tangga mereka pada kasih keibuan Maria, untuk menyentuh Hati Yesus Yang Mahakudus melalui Hati Tersuci Maria.
Marilah kita juga membawa Sinode Keluarga 2015 yang hari ini akan dibuka di Kota Suci Roma.
Semoga Roh Kudus menyertai Bapa Suci Paus Fransiskus dan para Bapa Sinode, untuk tetap setia dalam kemurnian Ajaran Iman, dan membuahkan segala yang baik lewat Sinode ini, bagi keluhuran martabat Sakramen Pernikahan serta kesejatian keluarga, untuk menjawab berbagai tantangan dalam Pernikahan dan Keluarga Kristiani saat ini.
Yakinlah, bahwa sebagaimana Allah sendiri yang telah menetapkan Sakramen Pernikahan dan membentuk keluarga-keluarga Kristiani, Allah jugalah yang akan menyertai “Ecclesia Domestica” ini senantiasa.
Pada akhirnya, ketegaran hati pasti akan dikalahkan oleh kuasa Cinta Allah.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan Biasa XIII

image

KESETIAAN DI DALAM BADAI

Bacaan:
Kej.19:15-29; Mzm.26:2-3,9-10,11-12; Mat.8:23-27

Renungan:
Laut yang tenang tidak akan menjadikan seorang pelaut menjadi handal.
Demikian halnya iman kristiani tumbuh menjadi lebih kuat di dalam badai pergumulan hidup.
Orang seringkali menjadi lupa berdoa, bersyukur, dan melayani kehendak Tuhan di tengah segala kelimpahan “susu dan madu“.
Tuhan tidak pernah mencobai manusia, apalagi melebihi kemampuan mereka. Namun, terdorong oleh belas kasih-Nya yang besar, Dia “mengijinkan” manusia mengalami semuanya itu untuk mendatangkan kebaikan.
Ibarat seorang ibu, yang harus berhenti menyusui anaknya pada usia tertentu, kemudian menurunkan anaknya dari pangkuannya, untuk membiarkan anaknya belajar merangkak dan berjalan.
Si anak pasti merasa kesulitan, bahkan mungkin menangis, marah dan kecewa, karena tidak bisa lagi berdiam di pangkuan ibunya, apalagi harus mengalami jatuh bangun dalam usahanya untuk merangkak dan berjalan.
Tetapi, si ibu melakukannya untuk kebaikan, demi pertumbuhan dan kedewasaan si anak.
Siapapun yang memahami maksud si ibu, tidak akan menyalahkan dia.
Demikianlah pula gerak cinta Tuhan. Dia mengijinkan kita mengalami rupa-rupa pergumulan dan kesulitan hidup yang kita sebut “salib kehidupan“, untuk memurnikan kita.
Seringkali di dalam malam gelap kehidupannya, orang mulai menjadi lebih rendah hati, tahu bersyukur dan berserah, berdoa tak kunjung putus, dan caranya bersikap dan bergaul dengan Tuhan menjadi lebih “sopan“, lebih “tahu diri“, bahwa hidup kita hampa tanpa Dia, dan hanya akan menemukan makna di dalam Dia.
Oleh karena itu, belajarlah untuk setia menantikan pertolongan Tuhan di tengah badai hidupmu. Pada waktu yang tepat, seturut waktu dan kehendak-Nya, Ia akan meredakan laut yang bergelora, dan membimbingmu dengan selamat ke pelabuhan yang tenang.
Kalaupun badai seolah tidak menunjukkan tanda-tanda akan berlalu, maka anda mungkin termasuk dalam bilangan kekasih Allah yang secara khusus dipilihnya untuk mengalami cinta-Nya yang lebih dalam. Bukankah dibandingkan perahu-perahu lain yang melalui badai itu sendirian, anda jauh lebih beruntung karena memiliki Yesus dalam perahu?
Keyakinan bahwa “selagi ada Tuhan dalam perahu saya, maka saya percaya bahwa perahu ini tidak akan pernah terbalik“, itu sudah lebih dari cukup bagi mereka yang dipanggil secara khusus pada persatuan cinta yang sempurna dengan Allah.
Keyakinan iman sebagaimana diungkapkan dengan begitu indah oleh St. Teresa dari Avila yang dalam kobaran api cinta berkata, “Solo Dios basta – Allah saja cukup“.

Pax, in aeternum.
Fernando