Cinta… cinta… cinta…

MINGGU BIASA VII ( Tahun Liturgi – A )

Bacaan I – Imamat 19: 1-2. 17-18

Mazmur Tanggapan – Mzm.103: 1-2. 3-4. 8. 10. 12-13

Bacaan II – 1 Korintus 3: 16-23

Bacaan Injil – Matius 5: 38-48

 

CINTA…CINTA…CINTA…

Saudara-saudari terkasih,

Dalam salah satu tradisi suci Kristiani diceritakan bahwa, di usia senjanya, Rasul Yohanes ditanya oleh murid-muridnya, “Guru, kenapa setiap hari engkau hanya berbicara tentang Cinta, cinta, dan cinta? Apakah tidak ada hal lain yang diajarkan oleh Yesus selain Cinta?” Dengan penuh kelembutan hati seorang bapa, Rasul Yohanes menjawab, “Karena dari seluruh ajaran Yesus, tidak ada satupun yang lebih penting selain Cinta, cinta, dan cinta.”

Hari ini Yesus memberi suatu Hukum Baru untuk menyempurnakan hukum yang lama. Pernyataan sabda, “Mata ganti mata dan gigi ganti gigi,” (Mat.5:38b) tidak boleh semata-mata dilihat sebagai pembenaran terhadap pembalasan dendam, melainkan sebenarnya hendak mengingatkan umat Allah di masa Pejanjian Lama, yakni mereka yang mengenal Allah dengan pemahaman yang sangat terbatas, bahwa pembalasan dendam ada batasnya, sebab dari semula kebencian dan dendam bukanlah kehendak Allah, jangan sampai kita menuruti dorongan kebencian dalam diri kita, sehingga pada akhirnya, kita melakukan tindakan yang justru berakibat putusnya relasi kita dengan Allah dan sesama. Sebab, sebagaimana kata pemazmur, “Tuhan itu pengasih dan penyayang, lambat akan marah dan penuh kasih setia.” (Mzm.103:8) Berulang kali Allah memperkenankan manusia mengenal Dia, agar sebagaimana Dia dikenal, demikian juga manusia, yang diciptakan oleh-Nya dan secitra dengan-Nya, seharusnya dikenal. Dengan perantaraan Musa, Allah kembali mengingatkan umat kesayangan-Nya dengan berkata, “Kuduslah kamu, sebab Aku ini Kudus. Janganlah engkau membenci saudaramu di  dalam hatimu…melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (bdk.Im.19:2.17-18) Kita kembali diingatkan akan kemurnian panggilan kita. “Panggilanku adalah Cinta,” demikianlah kata St. Theresia dari Lisieux. Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini bagaikan sebuah jendela bagi kita untuk melihat ke dalam hati Tuhan, asal segala Cinta, dan serentak tersungkur dalam keharuan dan rasa malu yang mendalam dalam kesadaran akan ketidaksempurnaan kita. Pesan Injil hari ini, “haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu di surga sempurna adanya,” (Mat.5:48) merupakan panggilan untuk membentuk diri kita hari demi hari agar semakin serupa dengan-Nya, suatu panggilan yang menuntut kita untuk melepaskan segala sesuatu, entah dosa, kenginan-keinginan pribadi, kelekatan, dan segala hal lain yang di luar Allah, suatu panggilan untuk mengosongkan diri dari dunia, serta memenuhi diri kita dengan Allah dan kehendak-Nya. Karena belas kasih-Nya, Allah telah mengijinkan saudara dan saya untuk mendekati Dia dalam kelimpahan cinta. Namun, untuk bersatu secara sempurna dengan-Nya dalam cinta, adalah penting bagi kita untuk memahami hakekat Cinta Sejati di dalam Dia, yang berbeda dengan cinta semu yang ditawarkan oleh dunia.

Cinta selalu siap untuk terluka & mengampuni

Cinta selalu siap untuk terluka & mengampuni

Pertama. Cinta sejati selalu siap untuk terluka. Cinta tanpa luka, bukanlah cinta. Cinta tanpa salib, bukanlah cinta. Cinta tanpa kerelaan untuk melepaskan, bukanlah cinta. Sama seperti Yesus yang mengosongkan diri dari ke-Allah-an-Nya dan mengambil rupa seorang hamba, demikianlah kita diminta untuk mengosongkan diri dari segala ke-Aku-an dan membiarkan kehendak Allah memenuhi diri kita. Sama seperti Kristus yang terluka, dimana semakin paku menghujam menembus tangan dan kaki-Nya, yang ada bukan kekurangan cinta melainkan kelimpahan cinta, demikianlah juga hendaknya kita. Kesejatian cinta kita semakin sempurna bilamana kita menerima segala luka, ketidakadilan, fitnah, hinaan, perlakuan kasar, dan berbagai kemalangan lainnya yang ditimpakan kepada kita oleh sesama kita, serta membiarkan luka cinta ini menghantar kita pada hakekat cinta yang kedua, yakni, mengampuni. Cinta sejati selalu bersedia untuk mengampuni. Pengampunan bagi jiwa merupakan suatu obat ilahi yang memurnikan jiwa dan memampukannya untuk mencintai tanpa syarat dan tanpa batas. Sama seperti Kristus, yang selalu dan selalu mengampuni, demikian juga hendaknya kita. Keengganan untuk mengampuni sama artinya dengan tunduknya jiwa pada belenggu setan, membiarkan diri kita untuk dirantai oleh amarah, kebencian dan dendam. Pengampunan bagaikan kunci yang membebaskan kita dari belenggu dosa, yang membuat kita terlepas dari rantai amarah, kebencian dan dendam. Pengampunan mengubah kemanusiaan kita yang rusak karena dosa, menjadi sempurna dalam segala keutuhannya. Bilamana kita sungguh-sungguh menerima hakekat cinta ini, dan hidup di dalam kesejatian cinta yang demikian, maka pada saat itulah kita menjadi sempurna, sama seperti Bapa adalah sempurna.

Saudara-saudari terkasih,

Sejak awal, Kekristenan telah menjadi penyangkalan terhadap dunia. Nilai-nilai Kristiani serta berbagai tuntutan moral yang terkandung dalam panggilan Kristiani, seolah bertentangan dengan dunia ini. Kita dipanggil untuk merasul di tengah dunia, yang awalnya tercipta karena Cinta, tetapi yang sekarang memalingkan wajahnya dari Sang Cinta. Perang saudara, pembunuhan massal, diskriminasi, kemiskinan dan kelaparan, aborsi, perceraian, hubungan bebas dan narkotika, semuanya seolah menjadi tanda zaman bahwa dunia ini semakin kehilangan arti Cinta yang sejati. Di tengah semuanya ini, kita semua dipanggil sebagai putra-putri Sang Cinta, untuk menjadi tanda yang menimbulkan perbantahan, sekaligus menjadi tanda iman dan seruan pertobatan, agar dunia ini, yang telah dibawa si jahat ke dalam jurang kegelapan yang dingin karena ketiadaan cinta, kelak boleh kembali dihangatkan oleh kobaran api cinta. Jadilah pelita-pelita yang dengan segala daya upaya dan karya, membawa cahaya bagi sesama. Semoga Perawan Tersuci Maria, Bunda Gereja, senantiasa memohonkan karunia-karunia Roh Kudus bagi hidup dan karya kita, agar karenanya, kita boleh mendatangkan api yang membakar seluruh dunia dalam nyala api cinta. (By: Verol Fernando Taole)