Meditasi Harian 24 Maret 2017 ~ Jumat dalam Pekan III Prapaskah

CINTA SELALU PUNYA CARA
Bacaan:

Hos.14:2-10; Mzm.81:6c-8a.8b-9.10-11b.14.17; Mrk.12:28b-34

Renungan:

Dengan berbagai cara serta melalui berbagai situasi hidup, Allah selalu berusaha mengungkapkan cinta-Nya kepada kita. Disadari atau tidak, disyukuri atau tidak, bahkan sekalipun kita sama sekali tidak pantas memperolehnya, cinta Tuhan selalu menemukan jalan untuk masuk dan menembus hati manusia. Hosea dalam bacaan pertama hari ini memberi kesaksian akan cinta Tuhan kepada Israel, serta mengingatkan mereka untuk berbalik dari kesalahan mereka. Pada akhirnya, bangsa Israel pun menyadari bahwa bergantung pada dunia adalah kesia-siaan. Percuma mengharapkan persahabatan dengan dunia, bila karenanya kita harus kehilangan kemesraan cinta dengan Allah. 

Tidak ada cinta yang lebih besar selain cinta Tuhan Allah. Lihatlah betapa Dia begitu mengasihi kita, sehingga rela memberikan Putra-Nya sendiri, sebagai kurban pendamaian dosa-dosa kita. Itulah sebabnya, setiap kali seorang beriman merenungkan Jalan Salib dari Tuhan kita Yesus Kristus, adalah suatu kegilaan bila karenanya kita tidak tersungkur dengan hati remuk redam penuh penyesalan dan rasa syukur. Betapa malangnya jiwa yang menolak memandang kemanisan Salib. Dan ketahuilah ini, seberapapun jauhnya kamu melarikan diri, Tuhan selalu punya cara untuk menemukanmu di persimpangan hidup. Dia selalu sanggup mengubahnya menjadi persimpangan Salib yang menyelamatkan. Jika Dia bisa menemukan Longinus, Paulus, Agustinus, Fransiskus dari Assisi, Ignasius dari Loyola, Dorothy Day, dan tak terbilang banyaknya orang pada persimpangan hidup mereka, yakinlah, Dia yang sama pasti juga bisa menemukanmu. 

Pertanyaannya, “Maukah kamu menjawab ‘Ya’ ketika ditemukan oleh-Nya?” Kita yang saat ini berada dalam kubangan dosa, “Maukah kita menerima uluran tangannya untuk ditarik keluar?” Dengan demikian, kita menemukan suatu kenyataan iman yang jelas, yaitu pertobatan menuntut kerelaan untuk kembali menapaki jalan Tuhan. Ini bukan paksaan, melainkan suatu keputusan yang harus dilakukan dengan kehendak bebas. Olehnya, kita memperoleh keberanian untuk mendekati Altar Tuhan, dan menerima Dia, Sang Roti Kehidupan, serta diubahkan oleh daya hidup Ekaristi, karena hati kita tidak lagi menuduh kita. Itulah cinta yang sejati. Inilah belas kasih Tuhan yang melampaui pengertian, bukannya belas kasih palsu yang membenarkan hidup dalam dosa, melainkan belas kasih yang membebaskan serta mengubahkan hidup, karena si pendosa yang kembali pulang ke rumah, telah mengalami sentuhan rahmat Tuhan yang mempesonakan. Dengan demikian, kita akan mulai melihat dunia secara baru, dan dengan mata belas kasih Tuhan, kita mulai mencintai sesama dan alam semesta seutuhnya, karena hati kita yang terluka karena cinta, kini telah menemukan kesembuhan di dalam hati Tuhan.

Semoga Perawan Maria yang terberkati, senantiasa menyertaimu dengan kasih keibuannya, agar tapak-tapak deritamu diubahkan menjadi tapak-tapak cinta. Tuhan selalu punya cara menemukanmu. Sekarang, mulailah juga dengan segenap daya upaya mencari dan membiarkan dirimu ditemukan oleh-Nya. “Aku menjawab engkau dengan bersembunyi di balik badai…Dengarkanlah suara-Ku.” (bdk.Mzm.61:8-9)

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 8 Juli 2016 ~ Jumat dalam Pekan Biasa XIV


DOMBA ATAU SERIGALA? 

Bacaan:

Hos.142:2-10; Mzm.51:3-4.8-9.12-13.14.17; Mat.10:16-23

Renungan:

Berbeda dengan Abad Pertengahan (Medieval), tidaklah mudah mewartakan Kabar Sukacita Injil dalam dunia dimana kita hidup saat ini. Hari demi hari kita merasakan bahkan mengalami secara nyata, rupa-rupa penolakan dunia akan nilai-nilai Kristiani dalam berbagai situasi dan strata hidup. Situasi yang kurang lebih sama juga dialami oleh Jemaat Perdana. Bagi sebagian orang, Iman pun tak jarang menjadi sesuatu yang dapat dikompromikan. Bila tekanan hidupnya berat, harganya pas, atau ruginya lebih banyak ketimbang untung, maka nilai-nilai Injil dalam hidup beriman pun dapat dikesampingkan, demi “mengikuti arus zaman“. 

Dalam Injil hari ini, ketika mengutus para rasul-Nya, tidak ada sesuatupun yang ditutup-tutupi oleh Tuhan kita. Sebelum mereka melangkah ke berbagai penjuru dunia untuk mewartakan Injil, Tuhan kita telah terlebih dahulu memperingatkan akan konsekuensi dari tugas kerasulan mereka. Tidak seperti pakar marketing, yang memaparkan segala keuntungan, reward, kenikmatan dari yang ditawarkan, Tuhan kita dengan terang-benderang dan secara mengejutkan justru berkata, “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala” (Mat.10:16a). Suatu pernyataan yang pasti mengguncangkan para rasul. Maka, Injil hari ini mengajak kita untuk merenungkan, “Jalan apakah yang saat ini kutempuh? Jalan Tuhan atau si jahat? Apakah aku ini masuk kategori domba atau serigala?

Satu hal yang boleh dijawab dengan pasti. Jalan Tuhan adalah jalan Salib. Jalan kecil kemana Tuhan mengarahkan, adalah jalan penderitaan. Maka, adalah mengherankan bila di antara mereka yang menyebut diri para pengikut Kristus, kita mendapati mereka yang menjanjikan kesuksesan finansial, terbebas dari sakit dan derita, serta kemakmuran duniawi, sebagai tolak ukur penyertaan dan urapan Tuhan atas hidup mereka. Inilah salah satu tantangan hidup beriman zaman sekarang, yaitu saat ini ada banyak pula serigala yang menyamar seperti domba, dengan rupa-rupa tawaran yang menyesatkan. Waspadalah dan berjaga-jagalah! 

Keberadaan kita sebagai domba di tengah-tengah kawanan serigala dapat pula mendatangkan godaan lain, yang tidak kalah berbahayanya, yaitu roh ketakutan dan kekuatiran, yang dapat membuat seekor domba tergoda untuk bertingkah laku seperti serigala, agar terhindar dari bahaya menjadi mangsa. Seorang dokter kandungan memilih melayani praktek aborsi dan mempromosikan alat-alat kontrasepsi, karena tidak mau kehilangan pasien-pasiennya; seorang hakim menjatuhkan vonis yang membebaskan koruptor, karena tergoda uang suap yang fantastis; orang tua merelakan anaknya pindah agama, agar dapat menikah dengan orang yang dia cintai, dan menyelamatkan diri dari aib keluarga; seorang mahasiswa gemar menggunakan umpatan dalam perbincangan sehari-hari, sambil memelihara gaya hidup tidak wajar, agar menjadi populer dalam pergaulan dengan teman-temannya; serta berbagai bentuk kompromi iman dan nilai-nilai Kristiani lainnya. Kebenaran dan Sukacita Injil dikubur dalam-dalam, karena ketakutan melawan arus zaman, karena kekuatiran kehilangan dunia, karena Kristus. 

Kepada kita, Tuhan memberikan pesan Injil yang jelas mengenai bagaimana bersikap di tengah tantangan dan bahaya, serta penolakan dunia ini. “Hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Mat.10:16b). Cerdiklah seperti ular. Bijaksanalah! Ada kalanya kita harus gesit bergerak menghindari perangkap dunia. Tetapi, jangan lupa pula bahwa lebih sering seekor ular justru seolah diam. Diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa atau cari aman. Diam berarti menunggu waktu yang tepat untuk menangkap jiwa-jiwa bagi Allah. Seorang rasul Kristus ibarat seorang yang membangun rumah, harus duduk terlebih dahulu sebelum mulai bekerja, guna membuat perencanaan dan persiapan secara tepat, demikian pula seorang pewarta sukacita Injil. Ikutilah tuntunan Roh Kebijaksanaan, yang dapat diperoleh melalui pergaulan mesra dengan Allah (doa, puasa, mati raga), tanpa mengabaikan ketekunan mempelajari segala hal yang perlu, agar kerasulanmu dapat menjala banyak jiwa bagi Allah.

Kecerdikan ular harus pula disertai ketulusan seperti merpati. Kesederhanaan dan kemurnian hati mutlak perlu dimiliki oleh seorang rasul Kristus. Dengan demikian, dia akan terhindar dari bahaya jatuh dalam dosa kesombongan diri, dari bahaya pemuliaan diri. Tuhanlah yang harus dikenal. Karya-Nyalah yang kita lakukan. Hendaknya Dia semakin besar, dan kita semakin kecil. Rendah hatilah, dan bawalah damai, kemanapun tangan Tuhan membawamu untuk menebarkan jala. Apabila kamu telah melakukan itu semua, dan toh kamu masih harus berhadapan dengan rupa-rupa pencobaan, tantangan, dan bahaya: “Jangan Takut!“, sabda Tuhan. 

Yakinlah bahwa sengsara dunia ini sama sekali tidak sebanding dengan kemuliaan, yang akan kita peroleh di surga kelak. Tentu saja kita merasul demi Tuhan, bukan demi ganjaran kemuliaan itu saja. Tetapi, semua ini dikatakan sebagai penghiburan Ilahi bagimu. Maka,”Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu. Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Mat.10:19-20.22).

Semoga Santa Perawan Maria, pertolongan orang Kristen, senantiasa menuntun kamu di jalan Tuhan, agar kamu tidak hanya sampai ke Kalvari, melainkan juga beroleh mahkota kemuliaan surgawi, sebagaimana dianugerahkan kepada Bunda kita oleh Yesus Putranya. Bangkitlah! Bercahayalah! 
Regnare Christum volumus! 



✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 7 Juli 2016 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XIV


MERASUL TANPA KELEKATAN


Bacaan
:

Hos.11:1.3-4.8c-9; Mzm.80:2ac.3b.15-16; Mat.10:7-15

Renungan
:

Ketika dibaptis, suatu tugas suci telah diletakkan ke dalam hati kita, yaitu mewartakan Kerajaan Allah kepada segala bangsa. Meskipun banyak di antara kita menerima anugerah pembaptisan sewaktu masih bayi, namun tugas ini tidak pernah boleh dilupakan. Disinilah panggilan keluarga, orang tua dan wali baptis mendapat makna yang adikodrati. Jangan pernah lupa mewariskan iman dan Amanat Agung kerasulan ini. Oleh sakramen pembaptisan, kita telah mengalami hidup dalam segala kepenuhan dan kasih karunia. Hidup sejati sebagai anak-anak Perjanjian. Ini bukan karena jasa-jasa kita, tetapi semata-mata karena kasih karunia Allah. Maka sadarilah dan syukurilah kebaikan Tuhan ini. Berhentilah menjalani hidup dalam perhambaan akan dunia. Tinggalkanlah kegelapan dan perbudakan dosa, dan melangkahlah menuju cahaya dengan dikobarkan oleh Api kerasulan.

Hidup beriman saat ini diperhadapkan dengan kemerosotan semangat merasul di tengah dunia. Banyak rasul-rasul Kristus yang kehilangan visi kerasulan, sehingga karya-karyanya tidak berbuah bagi Kerajaan Allah. Cahaya iman mulai meredup, garam cintakasih menjadi tawar, dan kesaksian hidup melemah menjadi seolah tak berpengharapan. Kita tidak boleh lupa bahwa panggilan merasul ini bukan sekadar tugas biasa, melainkan bersumber dari kesadaran bahwa kita adalah “anak-anak Allah“, kesadaran sebagai ahli waris Kerajaan-Nya.

Tanpa kesadaran ini, maka seorang dapat jatuh dalam kegagalan untuk memberi nilai adikodrati dalam segala karya, sehingga menjadi karya manusia belaka, bukannya Karya Tuhan. Jangan pernah lupa bahwa panggilanmu adalah panggilan untuk Kemuliaan. Kemuliaan yang hanya dapat diperoleh bilamana kita menjalankan tugas kerasulan dengan penuh cinta dan ketekunan. Dalam Injil hari ini Tuhan Yesus mengutus para rasul dengan bersabda, “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat.10:7-8).

Kerajaan Allah itulah yang harus kamu wartakan. Wartakanlah itu dengan hidupmu, dengan senantiasa membawa tanda-tanda milik Kristus, dengan sikap heroik beriman yang mendatangkan kekaguman dan membuat seluruh dunia bertanya dan mencari tahu siapa Kristus itu, karena karya-karya agung yang dikerjakan-Nya dalam hidupmu. 

Jalan kerasulan ini bukanlah jalan yang dapat dilalui oleh mereka yang lemah hati. Kuatkanlah hatimu dengan senantiasa melekatkannya kepada Hati Tuhan. Santo Josemaría Escrivá mengatakan, “Hatimu melemah dan engkau mencari pegangan dunia ini. Bagus, tetapi berhati-hatilah agar pegangan yang menopangmu supaya tidak jatuh itu, tidak akan menjadi beban yang justru akan menyeretmu ke bawah, atau rantai yang akan memperbudakmu” (Camino, pasal 159). Kelekatan akan dunia dengan segala tawaran semunya, adalah perangkap si jahat yang harus dihindari oleh setiap rasul Kristus. Kelekatan seringkali disertai kesedihan yang berwujud kemurungan, suam-suam kuku, kemalasan, serta padamnya kerinduan untuk merasul dan mencari wajah Allah dalam diri sesama. 

Dalam surat pastoral kepada putra-putrinya, Prelat Opus Dei Msgr. Javier Echevarría mengingatkan, “Seorang Kristiani yang sungguh menyadari bahwa dia adalah anak Allah tidak akan pernah dikuasai oleh kesedihan… Kita adalah orang-orang yang hidup di tengah-tengah dunia, jadi wajar saja bahwa masalah-masalah mendesak dunia kontemporer saat ini – pergumulan melawan narkoba, berbagai krisis dalam kesatuan keluarga, sikap dingin yang disebabkan individualisme, serta krisis ekonomi, sangat mempengaruhi hidup kita. Diperhadapkan pada kenyataan ini seharusnya tidak membuat kita menjadi sedih. Yakinlah bahwa bila kita tetap dekat dengan Hati Yesus, kita akan selalu beroleh penghiburan, dan itu tidak hanya dialami pada kehidupan kekal” (Surat Bapa Prelat Juli 2016).

Di hari Peringatan Konsekrasi Gereja Santa Perawan Maria dari Torreciudad, marilah kita mohon penyertaan Bunda kita yang tersuci ini, bagi siapa saja yang melayani Yesus Putranya di jalan kerasulan suci. Semoga mereka senantiasa memandang Kristus, dan melayani di tengah dunia tanpa melekatkan hati pada segala yang fana, agar pada akhirnya dapat beroleh ganjaran mahkota surgawi, dalam kemuliaan kekal bersama Allah dan para kudusnya.
Regnare Christum volumus! 
✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥ 

Meditasi Harian 6 Juli 2016 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XIV

DARI BIASA MENJADI LUAR BIASA


Bacaan:

Hos.10:1-3.7-8.12; Mzm.105:2-3.4-5.6-7; Mat.10:1-7


Renungan:

Di sepanjang sejarah keselamatan kita menemukan, bagaimana Allah secara amat personal memilih orang-orang “biasa” dalam pandangan manusia, untuk melakukan perkara-perkara “luar biasa” dalam Nama-Nya. Demikian pula yang terjadi saat Tuhan kita memilih 12 Rasul, yang diserahi tugas untuk menyatakan, “Kerajaan Sorga sudah dekat” (Mat.10:7). Bahwa satu di antara ke-12 Rasul pada akhirnya mengkhianati Dia, sebenarnya menunjukkan pula kerapuhan kemanusiaan akibat dosa dan kegagalan menanggapi panggilan Allah. 

Maka, ketika di kemudian hari para Rasul ini (dengan segala keberadaan dan kerapuhan yang ada) menjadi saksi-saksi Kebangkitan, dan darah mereka menjadi ladang subur bagi tumbuhnya Gereja Perdana, yang juga dengan gilang-gemilang memancarkan cahaya sukacita Injil lewat hidup dan kemartiran mereka; siapapun yang melihat atau mendengar bagaimana mereka menjalani hidup beriman secara heroik dan otentik, akan memberikan pujian, hormat dan kemuliaan bukan kepada para rasul atau jemaat perdana, melainkan kepada Allah yang telah berkarya begitu dashyat dan mengagumkan di dalam dan melalui hidup mereka semua. 

Inilah  panggilan kita, “menjadi rasul-rasul Kristus“. Panggilan yang bukan berujung pada kefanaan, melainkan kebakaan. Mereka yang menabur dalam keadilan, pada akhirnya akan menuai kasih setia (bdk.Hos.10:12). Nyatakanlah Kerajaan Allah dengan hidupmu yang dijalani sedemikian rupa, sehingga mendatangkan pengenalan dalam kekaguman akan Kristus. 

Kalau kita, yang dipanggil dari keadaan dunia yang “biasa“, sungguh rindu untuk melakukan karya-karya “luar biasa” di dalam Nama-Nya, dan demi kemuliaan-Nya, maka ada satu keutamaan yang harus kita minta dari-Nya. Mintalah karunia “kerendahan hati” untuk selalu bersedia dibentuk Tuhan. Dengan demikian, kita akan selalu sanggup menerima tugas kerasulan apapun yang diberikan dari tangan kemurahan Tuhan, dalam kesadaran bahwa diri kita semata-mata hanyalah alat, kompas yang senantiasa menunjuk ke Utara, kepada Allah. Kristuslah yang harus dikenal, bukan kita. Kerajaan-Nyalah yang hendaknya diwartakan, bukan agenda pribadi kita. 

Kegagalan Yudas Iskariot di jalan kerasulan hendaknya mengingatkan kita bahwa segala yang kita miliki berasal dari Allah, bukan karena kekuatan dan kehebatan kita belaka. “Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!” (Mzm.105:4). Jalan kerasulan akan selalu mendatangkan sukacita, dan langkah ke sorga terasa begitu ringan, bila dijalani dengan kerendahan hati. Sebab benarlah kata St. Paulus Rasul, “Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2Kor.4:7).

Semoga Santa Perawan Maria, Ratu para Rasul, menyertai jalan kerasulan kita dengan kasih keibuannya, agar seluruh bangsa menerima kabar sukacita dari Allah. “Kerajaan Sorga sudah dekat“. Sudah waktunya untuk mencari Tuhan (bdk.Hos.10:12).

Regnare Christum volumus!



Fidei Defensor ~ Fernando

Meditasi Harian ~ HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS

image

BERILAH HATIMU KEPADA HATINYA

Bacaan:
Hos.11:1.3-4.8c-9; Yes.12:2-3.4bcd.5-6; Ef.3:8-12.14-19; Yoh.19:31-37

Renungan:
Penginjil St. Yohanes Rasul dalam surat-surat pastoralnya berulang kali mengungkapkan bahwa, “Allah adalah Cinta (Kasih)“.
Bahkan pada senja hidupnya dikatakan bahwa St. Yohanes Rasul seringkali duduk berjam-jam lamanya, untuk berbagi sukacita Injil akan hal itu di tengah murid-muridnya yang masih muda.
Suatu ketika, saat sedang mengajar, salah seorang muridnya mengeluh kepada St. Yohanes Rasul, “Bapa…kami selalu mendengarmu berbicara tentang cintakasih, bagaimana Allah begitu mencintai kita, dan bagaimana kita juga dipanggil untuk mencintai sesama. Tetapi, masih banyak hal lain yang diajarkan oleh Tuhan kita. Kenapa Bapa tidak berbicara tentang hal-hal lain itu, selain daripada Cinta?
Maka Sang Rasul, yang pada masa mudanya pernah menyandarkan kepalanya pada Hati Kudus Yesus itu pun menjawab dengan penuh kelembutan, “Karena tiada sesuatupun yang lebih penting selain cinta…cinta…cinta…!

Karena cinta-Nya yang besar, Allah menjadi manusia, menjadi sama dengan kita, kecuali dalam hal dosa. Dalam kelimpahan cinta dari Hati Kudus-Nya, sekalipun ditolak oleh umat kesayangan-Nya yang tidak mau membalas cinta-Nya, Ia rela menderita sengsara yang amat mengerikan, bahkan sampai wafat di kayu salib, supaya umat manusia dapat beroleh keselamatan dan beroleh hidup kekal.
Sebenarnya, Allah dalam ke-Mahakuasaan-Nya dapat saja menyelamatkan dunia dengan cara-cara lain, tanpa harus memberi Diri-Nya sebagai kurban.
Akan tetapi, kiranya baik untuk dikatakan bahwa hanya dengan cara inilah, hanya dengan “memandang Dia yang mereka tikam“, hanya dengan merangkul “Hati Yesus Raja Cinta, yang ditembusi tombak bengis“, umat manusia dapat benar-benar memahami kedalaman cinta yang mengalir dengan begitu melimpah dari Hati Tuhan.
Inilah makna terdalam dari Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus pada hari ini. Hari ini, Bunda Gereja sekali lagi mengajak kita untuk merenungkan misteri cinta yang bersumber dari Hati Tuhan.
Perlu juga untuk dimengerti bahwa devosi Hati Kudus Yesus tidak dapat dipisahkan dari Sakramen Ekaristi.
Dalam Misa Kudus, umat beriman dapat selalu mengecap dan menikmati secara sempurna saat rahmat ketika Allah memberikan Diri-Nya, Tubuh dan Darah-Nya, sebagai santapan yang memberi kita kekekalan.
Inilah Sakramen Agung dimana darinya mengalir darah dan air yang memberi hidup, yang memungkinkan manusia untuk memandang Hati Kudus-Nya secara tersamar, yang memampukan kita untuk bersatu dengan Allah tanpa harus binasa, serta yang sanggup mengubah hati kita seperti Hati-Nya.

Tidak mungkin memiliki devosi yang besar terhadap Hati Kudus Yesus, tanpa memiliki kecintaan yang besar pula akan Misa Kudus, disertai kerinduan sejati untuk menyambut Tubuh dan Darah Tuhan sesering mungkin.
Siapapun yang hendak mencoba memahami kedalaman cinta dari Hati Tuhan, hanya akan menemukan jawabannya manakala ia menanggapi undangan Tuhan untuk bersatu dengan-Nya dalam Misa Kudus.
Orang tidak dapat menyentuh Hati Tuhan dengan akal budi belaka. Demikian pula, seorang beriman hanya dapat melangkah mendekati Altar Tuhan dalam tuntunan kuasa cinta, agar dapat dengan penuh Iman dan hormat bakti menyambut Tubuh dan Darah Tuhan.
Di tengah tantangan untuk beriman di dunia, diperhadapkan dengan berbagai usaha jahat untuk melemahkan Gereja dari luar dan terutama dari dalam, kita dipanggil, malah dituntut oleh suatu desakan yang suci, untuk menemukan kekuatan dan jawaban terbaik hanya dalam Misa Kudus. Obat paling ampuh untuk melawan kejahatan zaman ini adalah Sakramen Ekaristi.
Semakin sering seseorang menimba dari mata air Ekaristi, hatinya akan semakin diubah menjadi seperti Hati Tuhan, cintanya akan semakin murni dan sempurna sebagaimana Cinta Tuhan.

Cinta hanya akan menemukan kesempurnaan ketika yang mencinta sangat serupa atau telah menjadi satu dengan yang dicintainya.
Ibarat mempelai wanita, seorang Kristiani hanya dapat menemukan kesempurnaan cinta ketika ia, yang telah tergila-gila karena luka cinta, melangkah keluar di malam gelap yang memurnikan, untuk mencari Kekasih jiwanya, yakni Allah sendiri.
Dan seolah masuk ke dalam awan ketidaktahuan, ia pun kemudian berubah rupa dan menjadi satu dengan Sang Cinta, satu-satunya Pribadi yang dapat menyembuhkan luka cinta itu.
Sebab bukan dalam kelimpahan harta seseorang memperoleh hidup, bukan pula dalam kenikmatan, kekuasaan, ketenaran, kenyamanan, kesuksesan, maupun segala hal lain, sebagaimana yang dibisikkan oleh bapa segala dusta, yang meracuni hati manusia.
Bukan dalam segala kefanaan itu seseorang beroleh hidup kekal, melainkan hanya saat ia dicinta dan mencinta, ia beroleh “Hidup“.
Keseluruhan tujuan hidup Kristiani adalah untuk membuka mata hati kita agar dapat melihat, menyentuh, dan menjadi satu dengan Hati Tuhan.

Semoga Hati Kudus Yesus yang terluka karena cinta, menuntun kita untuk menemukan makna hidup yang sejati di dalam Dia, karena menyadari bahwa kita teramat berharga di Hati Tuhan, dicintai oleh-Nya sampai sehabis-habisnya, dan dipanggil untuk mencintai sampai terluka sama seperti Dia.
Di hari istimewa ini, berdoalah secara khusus bagi para Imam, agar mereka dapat menjadi gembala yang baik, lemah lembut dan rendah hati, sebagaimana telah diteladankan oleh Sang Gembala Agung, Tuhan kita Yesus Kristus.
Tugas kerasulan kita saat ini adalah untuk membawa Hati Tuhan ke dalam dunia, dan memenangkan hati sebanyak mungkin orang bagi Allah.
Dunia adalah ladang atau medan tempur kita. Jiwa-jiwa adalah tuaian yang harus kita menangkan.
Oleh karena itu, berilah hatimu kepada Hati-Nya, dan sesudah hatimu dikobarkan oleh api cinta-Nya, jalanilah hidup dan karyamu “sedemikian rupa“, sehingga Hati Kudus Yesus semakin dikasihi oleh dunia.
Bersama Hati Kudus Yesus, marilah kita menguduskan diri, menguduskan karya, dan menguduskan seluruh dunia melalui karya.

Pax, in aeternum.
Fernando