Meditasi Harian 20 Agustus 2015 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XX

image

IA MENGUNDANGMU, DATANGLAH !
Peringatan Wajib St. Bernardus dari Clairvaux

Bacaan:
Hak.11:29-39a; Mzm.40:5,7-10; Mat.22:1-14

Renungan:
Ibarat seorang Raja yang mengadakan jamuan makan, kita beroleh keistimewaan boleh menerima undangan dari-Nya. Lihatlah betapa besar kasih Allah bagi kita. Dengan berbagai cara dan melalui berbagai situasi hidup, berulang kali dia mengundang kita untuk mendekat pada-Nya. Undangan paling mendesak, tindakan cinta terbesar yang dilakukan-Nya, ialah dengan mengutus Putra-nya sendiri, yang membawa undangan damai, yang memulihkan relasi cinta kita dengan-Nya yang rusak karena dosa.
Tetapi dari perumpamaan dalam bacaan Injil hari ini, dikatakan bahwa (dan memang seringkali demikianlah adanya) undangan kasih dari Allah ditanggapi dingin oleh umat kesayangan-Nya. Berulang kali Ia mengetuk pintu hati kita, tetapi berulang kali pula Ia mendapati hati yang bebal, yang tidak mau peduli, acuh tak acuh. Kita membiarkan Sang Cinta berdiri di depan pintu yang tertutup, seolah harus mengemis cinta dari kita, malah tak jarang Ia ditendang dan diusir pergi karena kita melihat konsekuensi jalan kekudusan dari-Nya sebagai beban, bukannya rahmat.
Kita tidak mau meninggalkan persahabatan dengan dosa, enggan melepaskan kelekatan kita.
Padahal setiap hari Ia mengundang kita ke dalam Perjamuan Surgawi, yaitu Misa Kudus.
Dalam Sakramen Ekaristi, Yesus sendiri yang mengundang kita, dan Ia sendiri yang menjadi santapan untuk memberi hidup kekal bagi siapapun yang menyantap-Nya.
Namun, tak jarang mereka yang menyebut diri putra-putri Gereja, adalah justru mereka yang dengan sengaja mengabaikan Misa Kudus, serta bersikap tidak pantas saat menyambut Hosti Kudus.

Ada yang sanggup antri berjam-jam bahkan membayar mahal untuk menghadiri suatu kebaktian atau konser rohani karena iming-iming mujizat maupun urapan dari tangan seorang manusia biasa dalam topeng kerohanian, yang diselenggarakan di hotel mewah dan di stadion terbuka berbalutkan cahaya lampu panggung superstar yang gemerlap.
Sementara untuk menghadiri Misa Kudus, hadiah terbesar dari Allah yang dianugerahkan secara gratis tanpa bayar, kita sering terlambat dan menuda-nunda, langkah kaki terasa begitu berat. Waktu Misa Kudus yang hanya sesaat dirasakan terlalu lama, Homili dilewatkan begitu saja karena dianggap tidak menarik, Konsekrasi dikaburkan oleh pelanturan dan skrupel. Kita tidak dapat melihat kemuliaan Tuhan dalam kesederhanaan Hosti Kudus, sama seperti raja Herodes yang tidak mengenali Sang Juruselamat dalam kelemah-lembutan seorang Bayi mungil di kandang hina Bethlehem.
Ada pula yang menghadiri undangan pejabat dunia, maupun pesta pora yang memabukkan dengan pakaian kebesaran dari koleksi baju terbaik. Sementara untuk menghadiri Misa Kudus, untuk melangkah ke depan altar dan menyambut Raja Segala Raja dalam Komuni Kudus, tanpa rasa bersalah dan ketiadaan hormat kita datang mengenakan pakaian yang jauh dari kepantasan, mempertontonkan bagian tubuh yang tidak semestinya dijadikan tontonan, padahal Misa Kudus adalah Perjamuan Tuhan, bukan tempat hiburan malam.

Bagaimana mungkin seorang begitu memikirkan bagaimana bersikap dan berbusana saat akan bertemu manusia biasa, menghabiskan berjam-jam untuk memilih baju demi menghadap seorang pejabat dunia yang korup, membungkukkan badan serendah-rendahnya untuk bersalaman dengan pemimpin lalim dunia ini, tetapi sebaliknya seolah tidak peduli bagaimana bersikap dan berpakaian di hadapan Tuhan Allah Semesta Alam, yang berkuasa baik atas hidupmu selagi di dunia, maupun hidupmu sesudah meninggalkan dunia ini nanti?
Bagaimana mungkin seorang menyambut Tubuh Tuhan dengan tangannya tanpa menunjukkan sikap hormat, sementara hati dan pikirannya sedari awal memasuki pintu masuk Gereja sampai keluar tidak pernah sedetikpun terarah kepada Allah?
Kegagalan kita dalam bersikap di hadapan Allah, dan pergaulan kita yang tidak hormat dengan Dia, merupakan indikasi jelas bahwa kita sebenarnya miskin dalam cinta akan Dia. Mengatakan cinta pada-Nya dengan bibir, tetapi tidak dengan hati dan segenap diri kita.
Santo Bernardus dari Clairvaux yang kita peringati hari ini mengatakan, “Ukuran mencintai Allah, adalah mencintai tanpa ukuran.

Injil hari ini berbicara tentang undangan kasih dari Allah. Kita dipanggil untuk menjawab undangan itu dengan datang ke dalam Misa Kudus, sebagaimana diumpamakan dan dilambangkan sebagai Pesta Perjamuan dalam Injil.
Dan karena kita beroleh keistimewaan untuk diundang, datanglah dengan mengenakan pakaian Pesta, putuskanlah ikatan persahabatanmu dengan belenggu dosa si jahat, dan melangkahlah dengan hati yang terarah karena cinta kepada-Nya, kemudian sambutlah Dia sebagai santapan surgawi dengan sikap penuh kekaguman dan hormat, seperti Musa di gunung Sinai yang bergaul begitu mesra dan penuh hormat dengan Allah.

Mulailah melihat hidup berimanmu secara lebih serius dan bertanggung jawab. Sudahkah saya menanggapi undangan Tuhan dalam Misa Kudus, bukan karena kebutuhan, bukan pula karena rutinitas atau kewajiban belaka, melainkan karena kerinduan akan Dia? Apakah saya sudah bersikap penuh hormat, berpakaian rohani maupun jasmani yang sepantasnya saat menyambut Sakramen Ekaristi?
Semoga Perawan Suci Maria dengan kasih keibuan menghantar kita pada kekaguman akan Yesus Putranya. Suatu kekaguman yang membuat kita tersungkur dengan hati yang remuk redam dan dipenuhi rasa syukur karena boleh diundang ke dalam Perjamuan Kasih-Nya, serta didorong oleh kobaran api cinta yang menggerakkan kita untuk melangkah ke depan Altar dan menyambut Komuni Kudus, Tubuh Tuhan sendiri sebagai santapan, sementara wajah kita berlinangan air mata kebahagiaan atas anugerah Sakramen Ekaristi.
Memang benar bahwa “Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih“. Karena itu bertekunlah dalam Iman, mohonkanlah agar Tuhan selalu menambah karunia cinta akan Misa Kudus dalam hatimu, agar kamu tidak hanya merasa terpanggil, tetapi pada akhirnya juga menjadi yang terpilih untuk beroleh mahkota kemuliaan di surga.
Santa Maria, Bunda Ekaristi, doakanlah kami.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 19 Agustus 2015 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XX

image

IA MEMANGGILMU, BEKERJALAH !

Bacaan:
Hak.9:6-15; Mzm.21:2-3,4-5,6-7; Mat.20:1-16a

Renungan:
Allah memanggil setiap orang beriman, masing-masing secara pribadi, untuk melayani Dia dalam karya kerasulan. Setiap orang dipanggil-Nya pada waktu, situasi, keadaan yang berbeda dalam peziarahan hidupnya. Sebagian orang malah dipanggil dan menjawab undangan Tuhan untuk melayani “pagi-pagi benar“, sedari masa mudanya.
Yang dimaksud dengan upah “sedinar” sehari adalah ganjaran “kehidupan kekal” bersama Dia, yaitu boleh mengambil bagian dalam kebahagiaan abadi bersama Dia.
Suatu bentuk kehidupan dan kebahagiaan yang tidak dapat dibandingkan dengan segala kesia-siaan dunia ini.
Akan tetapi, hendaknya kita selalu disadarkan, bahwa kendati demikian, kita justru dipanggil untuk melayani dan berkarya bagi Allah “di tengah dunia” ini, bukan melarikan diri atau mengasingkan diri dari dunia ini. Kita dipanggil untuk menghadirkan Kerajaan Allah bagi semua yang hidup.
Siapapun kamu, berapapun usiamu saat ini, Tuhan memanggilmu untuk menjadi rekan kerja-Nya dalam karya penebusan dunia ini.

Dalam segala waktu, kamu harus senantiasa memiliki jiwa merasul, kamu harus menjadi tanah yang subur bagi benih Injil, hidupmu harus berbuah baik. Untuk mempercakapkan Kristus dalam keluargamu, komunitasmu, lingkungan pergaulanmu. Untuk mempersembahkan segenap kerja, buah karya, dan pelayananmu dalam suatu nilai adikodrati, karena dilakukan dengan dedikasi sedemikian rupa sehingga mendatangkan kekaguman, bukan kepadamu, melainkan kepada Allah yang berkarya di dalam dan melalui dirimu. Kesaksian akan sukacita Injil dalam dirimu, haruslah nampak secara nyata dan gemilang melalui karya dan pelayananmu, di lingkungan atau profesi kerja apapun dimana dan kemana Tuhan membawa serta menempatkanmu.
Tidak mungkin mengatakan bahwa dirimu telah mengikuti Kristus dengan penuh sukacita, sementara kamu justru menyimpan sukacita itu bagi dirimu sendiri, tanpa niat mempergunakan dan melipatgandakan talenta yang diberikan Tuhan kepadamu.
Sukacita Injil yang sejati haruslah senantiasa dibagikan. Kamu yang tergila-gila akan Kristus wajib membawa semua orang yang kamu jumpai, bahkan seluruh dunia pada ketergila-gilaan cinta yang sama akan Dia.
Mereka yang sungguh-sungguh mencintai Kristus, adalah mereka yang merasul, yang setiap hari, menit dan detik berusaha memenangkan bukan hanya jiwanya, melainkan sebanyak mungkin jiwa-jiwa kepada pengenalan dan persatuan cinta dengan Allah.
Inilah jawaban atas panggilan Tuhan untuk berkarya di kebun anggur-Nya.

Tentu saja keadilan Tuhan berbeda dengan keadilan manusia. Bagi setiap orang yang dipanggil-Nya dan menjawab panggilan-Nya, upah yang diberikan adalah adil dan sama, yakni “sedinar sehari“. Semua beroleh ganjaran yang sama, yakni “Surga“.
Kendati ada tingkatan di surga, semua yang setia di kebun anggur Tuhan, berhak memperoleh “Firdaus” yang sama.
Mereka yang merindukan surga, hendaknya membuang jauh-jauh iri hati dalam dirinya. Tuhan dapat memanggil siapa saja seturut kehendak hati-Nya, pada waktu yang tepat dalam pertimbangan-Nya.
Kamu hanya perlu menjawab “Ya“, bukan mempertanyakan kepada siapa, atau kenapa cara Tuhan memanggil dan bekerja seringkali begitu jauh berbeda dalam kehidupan pribadi manusia yang satu dengan yang lain?
Kenapa kuk maupun cobaan yang diizinkan Tuhan untuk menimpa, berbeda antara saya dengan dirinya?
Jangan bertanya “Apa upahku?
Rasul St. Paulus telah menjawab pertanyaanmu itu, “Upahmu adalah boleh mewartakan tanpa upah.
Melayani dan berkarya bagi Allah adalah kehormatan, bukan sekadar tugas semata yang mengandaikan adanya upah.

Kenyataan bahwa Tuhan justru berkenan memanggilmu dari tengah kerumunan orang banyak, itu seharusnya sudah lebih dari cukup dijadikan alasan bagimu untuk bersyukur.
Kalau dipikirkan lebih jauh, bukankah kamu bukan sekadar orang upahan biasa, melainkan justru adalah putra-putri Raja, ahli waris kerajaan-Nya?
Bekerja bersama Kristus sebagai rekan kerja dalam karya penebusan-Nya berarti “meraja” bersama Dia.
Itulah kebahagiaanmu, sekaligus dukacitamu. Kenapa dikatakan dukacita?
Perhatikanlah salah satu bagian Injil hari ini dengan seksama. Toh kendati hari sudah hampir malam, ketika jam kerja sudah hampir berakhir, ketika Kerahiman Tuhan seolah sudah mendekati paripurna, dikatakan bahwa Tuhan masih keluar memanggil untuk mencari mereka yang ingin bekerja bagi Dia, dan Ia “masih” menemukan orang di jalan yang tidak bekerja, sehingga dalam keheranan Tuhan pun bertanya, “Mengapa kalian menganggur saja disini sepanjang hari?
Jawaban mereka lebih mengejutkan dan menyayat hati, tidak hanya mendukakan hati Allah, melainkan seharusnya membuat siapapun yang menyebut diri seorang rasul Kristus tertunduk malu karena masih kurang berbuah dalam karya kerasulan.
Mereka menjawab karena “Tidak ada orang yang mengupah (mempekerjakan) kami.
Hai rasul-rasul Kristus, inilah yang seharusnya menjadi dukacitamu, yaitu bahwa masih ada begitu banyak orang di zaman sekarang ini yang belum mendengar dan diubahkan oleh sukacita Injil. Banyak di antara mereka justru sudah dibaptis, tetapi iman mereka tidak berbuah malah mulai luntur oleh tekanan dunia dan karena “tidak ada yang mengajak mereka untuk merasul, untuk menjadi rekan kerja Kristus.

Kamu mungkin termasuk dalam kategori mereka yang tidak tahu bagaimana menjadikan hidup berimannya untuk berbuah. Injil hari ini menyapa kamu, “Kenalilah Imanmu! Kenalilah Kristus!“. Temukanlah saudara-saudari seiman yang telah mendahului kamu dalam menjawab panggilan Tuhan untuk merasul, dan katakan pada mereka dengan penuh kesungguhan, bahwa kamu juga ingin hidupmu berbuah, sebagaimana mereka telah berbuah. Bahwa kamu rindu untuk merasul, sebagaimana mereka telah lebih dahulu merasul, kemudian belajarlah dari dan bersama mereka.
Bagi kamu yang berada dalam kategori mereka yang telah menjawab panggilan Tuhan untuk bekerja di kebun anggur-Nya, Injil hari ini seharusnya menjadi teguran keras, suatu cambuk kerasulan bagimu.
Temukanlah jiwa-jiwa, dan menangkanlah jiwa-jiwa!“.
Jadilah rasul Kristus yang mencari dan menemukan yang hilang, seturut teladan Kristus sendiri.
Bila kamu seorang rasul Kristus, semoga selagi masih hidup dan bernafas di dunia ini, “tidak akan pernah didapati” di antara keluargamu, teman-temanmu, satu sekolah denganmu, rekan kerja atau yang seprofesi denganmu, di antara mereka yang duduk bersamamu, seperjalanan denganmu, bahkan yang tanpa disengaja makan siang bersama atau menikmati minum teh di sore hari bersamamu, semoga di antara mereka tidak akan pernah didapati ada yang berkata, “Jangankan merasul bagi Kristus, berbicara untuk memperkenalkan Tuhan Yesus kepada saya, atau sekadar membagikan sukacita Injil dalam Iman Kristiani kepada saya pun dia tidak pernah“.
Inilah dukacita Allah yang seharusnya menjadi dukacitamu.

Sebagai putra-putri Gereja Katolik, Allah merindukanmu untuk merasul dan menjadi tanda kehadiran-Nya bagi dunia. Oleh karena itu, berusahalah dengan segenap daya upaya, agar Kristus semakin dikenal dan dicintai melalui hidup, karya, dan pelayananmu.
Semoga Santa Perawan Maria, Ratu para Rasul, menyertai kerasulanmu supaya senantiasa berbuah, agar Tuhan Yesus, Putranya yang terkasih, semakin dicintai, dipuji dan dimuliakan di seluruh dunia.

Fidei Defensor ~ Fernando