Meditasi Harian 3 Februari 2016 ~ Rabu dalam Pekan Biasa IV

image

KEAKRABAN MEMADAMKAN CINTA

Bacaan:
2Sam.24:2.9-17; Mzm.32:1-2.5.6.7; Mrk.6:1-6

Renungan:
Salah satu penghalang bagi Karya Allah dalam hidup kita adalah kelekatan. Dalam Injil hari ini, kita mendapati suatu bentuk kelekatan yang seringkali membutakan mata rohani seseorang terhadap sapaan Tuhan, yaitu “keakraban“.
Ada pepatah dari dunia Barat yang mengatakan, “familiarity breeds contempt“, yaitu bahwa keakraban atau kedekatan kita dengan seseorang, jika dijalani secara keliru, seringkali dapat berbuah pada penolakan, kebencian, dan rasa tidak hormat terhadap diri orang itu.
Inilah yang dialami oleh Tuhan kita Yesus Kristus, ketika dia kembali ke kampung halamannya, Nazaret.
Sanak-saudara-Nya dan warga sekampungnya justru menolak Karya Allah yang diwartakan-Nya, semata-mata karena mereka “beranggapan” bahwa mereka telah begitu mengenal siapa Dia, seluk-beluk kehidupan-Nya, masa lalu-Nya, keluarga dan profesi-Nya, sebagaimana terungkap dalam kata-kata mereka, “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita? Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.” (Mrk.6:3)

Dalam karya kerasulan, keakraban dapat menjadi rintangan bagi sukacita Injil untuk dialami. Anda menolak kabar sukacita semata-mata karena telah begitu mengenal hidup “manusiawi” seseorang, sampai gagal melihat karya “Ilahi” yang sedang bekerja dalam dirinya. Anda takjub dan heran akan karya ajaib dan buah-buah Roh yang dihasilkannya, tetapi menolak diubahkan oleh-Nya, sehingga tidak dapat mengalami mukjizat Tuhan yang seharusnya juga terjadi dalam hidupmu.
Kegagalan yang bersumber dari keakraban yang “cacat rohani” seperti ini, pada akhirnya menjadi sumber kebencian, perpecahan, kegersangan, kekurangan sukacita, ketiadaan kasih, dan kehilangan buah-buah Roh. Seperti penyakit yang menggeroti hidup beriman dan menggereja, yang memadamkan Api Roh dan merintangi Karya Allah.

Belajarlah memiliki kerendahan hati, kepekaan rohani, dan “kasih persaudaraan” yang sejati. Dengan demikian keakraban atau perasaan sudah begitu mengenal, tidak menjadi penghalang bagi Karya Allah dinyatakan dalam hidupmu, keluargamu, lingkungan kerjamu, komunitasmu, parokimu, dan berbagai peristiwa hidup lainnya.
Dalam karya kerasulan, milikilah kebijaksanaan untuk menyadari bahwa dibalik “dia” yang begitu kamu kenal, ada “DIA” yang sejak awal penciptaan telah mengenal kamu, jauh melebihi orang-orang yang terdekat sekalipun.
Jangan mengandalkan pengertian sendiri, dan mulailah menaruh kepercayaan pada gerak cinta Tuhan, yang seringkali justru bergerak dengan kegerakan yang di luar apa yang kamu pikir telah kamu ketahui secara “pasti“.
Belajarlah dari mukjizat St. Blasius, bahwa seringkali “tulang ikan” yang menghambat “tenggorokan rohanimu” untuk menjawab “Ya” pada Allah, berawal dari kerakusanmu untuk menelan utuh berbagai peristiwa hidup, tanpa mengunyahnya secara perlahan dan bijaksana, sehingga gagal berbuah “kontemplasi“.

Semoga kita senantiasa memiliki hati seperti Ibu Maria. Dia begitu mengenal siapa Tuhan Yesus, Putranya, melebihi siapapun. Tetapi, keakrabannya dengan Sang Putra adalah keakraban yang bersumber dari “Cinta Sejati”, dari hati seluas samudera, yang sekalipun takjub dan heran, tidak berbuah penolakan, tetapi “memandang dalam kuasa cinta“, membenamkannya dalam lautan kerahiman, menyimpannya dalam hati yang mencinta, sehingga hidupnya diubahkan oleh Sang Cinta.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

HARI RAYA SANTO YOSEF, SUAMI SANTA PERAWAN MARIA

image

Bacaan I
2 Samuel 7: 4-5a.12-14a.16
Mazmur Tanggapan
Mazmur 89: 2-3,4-5,27,29
Bacaan II
Roma 4: 13,16-18,22
BACAAN INJIL
Matius 1: 16.18-21.24a
atau
Lukas 2: 41-51a

Renungan:
Bersama Gereja Katolik sedunia, hari ini kita merayakan Hari Raya Santo Yosef, Suami dari Santa Perawan Maria dan Bapa Pemelihara dari Tuhan kita Yesus Kristus.
Sesudah Santa Perawan Maria, Santo Yosef adalah orang Kudus terbesar dan paling dihormati dalam Gereja.
Kenapa Gereja begitu menghormati St. Yosef, bahkan menjadikannya sebagai Pelindung Gereja universal?
Dalam Kitab Suci sendiri, tidak pernah tercatat sepatah katapun keluar dari mulut St. Yosef.
Kalau demikian, dimanakah letak kebesaran St. Yosef?
Kebesaran St. Yosef nampak dalam penyerahan dirinya secara total kepada kehendak Allah, tanpa banyak bicara. Dialah hamba yang lurus, bijaksana, tekun, dan setia. Dengan penuh tanggung jawab, St. Yosef memelihara Keluarga Kudus, menjaga serta melindunginya.
Kitab Suci mencatat betapa lurusnya hati St. Yosef, yang ketika mengetahui bahwa St. Maria sudah mengandung sebelum mereka berumah tangga, hendak menceraikannya secara diam-diam, karena tidak ingin mempermalukan St. Maria dan tidak ingin mendatangkan fitnah dan bahaya lainnya atas Perawan Suci.
Kitab Suci juga mencatat bagaimana St. Yosef bergumul dalam Tuhan, untuk sungguh-sungguh memikirkan keputusannya, membawanya dalam doa setiap hari.
Karena itu, manakala malaikat Tuhan menampakkan diri untuk memberitahukan bahwa St. Perawan Maria telah mengandung dari Roh Kudus, dalam kesetiaannya kepada Allah, St. Yosef menerima tugasnya untuk menjadi Bapa Pemelihara Keluarga Kudus.
Salah satu ujian terakhir St. Yosef, yang juga tercatat dengan begitu indahnya dalam Kitab Suci, adalah peristiwa diketemukannya Kanak-kanak Yesus di Bait Allah, setelah dengan susah payah dicari selama tiga hari. Untuk kesekian kalinya, tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut St. Yosef. Dalam keheningan, sekali lagi dia menunjukkan kebijaksanaan sejati yang tidak sedikitpun mempertanyakan rancangan Tuhan. Tanpa kata-kata, seluruh hidup St. Yosef adalah suatu pemberian diri yang total dan kepercayaan tanpa batas kepada Penyelenggaraan Ilahi.
Kenyataan bahwa St. Yosef melakukan semuanya itu di dalam suatu kegelapan iman, dan keberaniannya untuk melangkah di dalam gelap, menunjukkan betapa cahaya Tuhan bersinar begitu cemerlang di dalam hatinya, sehingga malam tidak lagi gelap baginya.

Bagi kita di masa sekarang ini, St. Yosef adalah teladan beriman. Bagi para pekerja, St. Yosef adalah teladan bagaimana menunaikan segala tugas dan tanggung jawab dengan hasil akhir yang mengagumkan dan mendatangkan pujian bagi karya Allah. Bagi keluarga-keluarga Kristiani dalam dunia yang serba instan dan modern ini, St. Yosef sungguh menjadi gambaran sempurna dari keluhuran Sakramen Perkawinan. Ketika menerima St. Maria yang mengandung dari Roh Kudus, dan kendati bukan ayah biologis dari Tuhan Yesus, perhatian dan kasih sayang yang total dari St. Yosef, menjadi tamparan bagi banyak pasangan hidup dewasa ini yang dengan mudahnya menyerah di saat mengalami berbagai tantangan dan badai pergumulan hidup. St. Yosef mengingatkan kita bahwa cinta yang sejati adalah cinta yang tak bersyarat. Kenyataan bahwa St. Maria tetap Perawan sesudah menikah sampai wafatnya St. Yosef, sekali lagi menjadi refleksi Iman bagi keluarga-keluarga Kristiani maupun bagi mereka yang menjalani hidup berelasi hanya sebagai sarana pemuas hawa nafsu belaka, bahwa cinta yang sejati tidak harus memiliki.

Hari Raya St. Yosef mengajak kita untuk melihat kembali nilai-nilai luhur dari Sakramen Perkawinan, akan hidup sebagai keluarga Kristiani yang sejati, serta bagaimana menjadi hamba Allah yang lurus, tekun, setia, dan bijaksana, sehingga pada senja hidup kita, sebagaimana St. Yosef, kita pun boleh mendengar suara lembut dari surga yang menyambut kita, “Bagus, engkau hamba yang baik dan setia. Masuklah ke dalam kebahagiaan Tuhanmu.” (Antifon Komuni bdk. Mat.25:21)

Terpujilah nama Yesus, Maria, dan Yosef, sekarang dan selama-lamanya.

Pax, in aeternum.
Fernando