Meditasi Harian 26 Maret 2017 ~ MINGGU IV PRAPASKAH (LAETARE)

DIA MELIHAT HATIMU

Bacaan:

1Sam.16:1b.6-7.10-13a; Mzm.23:1-3a.3b-4.5.6; Ef.5:8-14; Yoh.9:1-41

Renungan:

Hidup beriman ibarat suatu pendakian gunung. Perjalanannya tidak selalu mudah, bahkan tak jarang harus melalui bahaya dan melewati lereng-lereng yang tidak selalu diterangi oleh cahaya, dimana kegelapan menyulitkan kita untuk melihat kehendak Tuhan. Ketika pendakian rohani mulai mendekati puncak pun, kita akan semakin menderita kepayahan. Itulah sebabnya banyak yang memulai pendakian, tetapi sedikit saja yang tiba di puncak, untuk beristirahat bersama Allah.

Kemurnian hatilah yang memampukan kita untuk mendaki gunung Tuhan dan tiba di puncak-Nya yang Kudus (bdk.Mzm.24:4). Kemurnian hatilah yang mendatangkan urapan dan penyertaan Tuhan dalam peziarahan hidup kita menuju Allah. “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (1Sam.16:7d). Hati yang senantiasa memandang Allah, tidak akan pernah merasa kurang. Baginya Tuhan sungguh adalah Gembala Yang Baik, sebagaimana kata pemazmur (bdk.Mzm.23:1). Rahmat Tuhan cukup baginya. Hati yang selalu memandang Allah itu bagaikan lautan luas yang penuh kemurahan, sebab dia pun telah menyadari betapa banyak kemurahan Tuhan yang tercurah atas hidupnya. Hati yang mencintai Hukum Tuhan yang membebaskan, dan melihatnya sebagai kuk yang enak, serta beban yang ringan. Dengan demikian, hukum ditaati dan dilakukan penuh kecintaan. Semoga kita tidak akan menerima kecaman Tuhan, sebagaimana orang-orang Farisi dalam Injil hari ini. Sebab melebihi kebutaan dan cacat fisik lainnya, jauh lebih malang mereka yang mengalami kebutaan dan cacat rohani. 

Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak menerima belas kasih Tuhan. Akan tetapi, seringkali kebutaan dan cacat rohanilah yang menghalangi kita untuk sungguh mengalami, dan mensyukuri belas kasih Allah dalam segala kepenuhannya. Kita semua menerima cukup dari tangan kemurahan Tuhan, berlimpah malah. Kejatuhan dosalah yang membuat manusia selalu merasa kurang. Dosalah yang mengaburkan pandangan kita untuk memandang wajah belas kasih Allah melalui berbagai penderitaan hidup. Kendati tidak mencobai, Allah mengijinkan kita mengalaminya, untuk mendatangkan kebaikan dari rupa-rupa penderitaan hidup, seberapapun sakitnya itu. Pergumulannya mungkin berbeda, cara menyikapinya mungkin berbeda, demikian pula kita disembuhkan secara berbeda satu dengan yang lain. Tetapi, bila hati kita selalu memandang Hati Tuhan yang terluka, kita akan senantiasa beroleh kekuatan untuk melaluinya, dan pada akhirnya keluar sebagai pemenang. Hidup kita akan bercahaya, karena memantulkan cahaya cinta Tuhan. 

Semoga Masa Prapaskah ini mengarahkan kembali hati kita, untuk memandang Allah dengan penuh cinta, dan memandang sesama dengan penuh kemurahan. Minggu IV Prapaskah adalah Minggu “Laetare” (Sukacita). Di tengah mati raga, puasa dan laku tapa Prapaskah, putra-putri Gereja bersukacita, karena penghiburan yang berasal dari Allah. Panggilan untuk bertobat bukanlah beban yang memberatkan perjalanan, melainkan suatu rahmat untuk mengalami kasih Allah yang mengubahkan hidup, yang membukakan mata hati kita untuk mengarahkan pandangan kepada Allah. Saat dimana kelumpuhan dan segala cacat rohani kita akibat dosa disembuhkan, sehingga kita boleh bangkit dan  menerima segala rahmat yang disediakan dari kemurahan hati Allah, serta dengan penuh sukacita memikul salib, untuk kemudian berjalan menuju Allah.

Teladanilah kemurahan hati Ibu kita, Perawan Maria yang amat suci. Kenalilah hatinya, maka hatinya akan membimbing kita dengan penuh kelembutan untuk menyentuh Hati Putranya, Tuhan kita Yesus Kristus. Waktunya semakin dekat, maka janganlah menunda lagi. “Bangunlah, hai kamu yang tidur, dan bangkitlah…maka Kristus akan bercahaya atas kamu” (Ef.5:14).

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 22 April 2016 ~ Jumat dalam Pekan IV Paskah

image

LAIN DI BIBIR LAIN DI HATI

Bacaan:
1Kis.13:26-33; Mzm.2:6-7.8-9.10-11; Yoh.14:1-6

Renungan:
Tidak dapat dipungkiri bahwa kita hidup dalam masyarakat yang majemuk. Berbagai ras, suku, budaya, bahasa, agama, dan berbagai bentuk pluralisme lainnya, tentu atas satu dan berbagai cara mempengaruhi seorang pengikut Kristus untuk merasul di tengah dunia. Semangat nasionalisme serta hidup berbangsa dan bernegara pun menuntut kita untuk mengungkapkan iman dengan sikap heroik, sebagaimana dikatakan oleh St. Josemaría Escrivá, yakni menjadi seorang “Katolik berarti cinta tanah air“.

Tantangan hidup beriman seorang Katolik Indonesia di masa sekarang ini, adalah bagaimana menjadi 100% Indonesia dan 100% Katolik yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa, tetapi disaat bersamaan, kita pun harus senantiasa memiliki semangat misioner untuk mewartakan Injil secara otentik. Seorang beriman tidak pernah dibenarkan untuk mengerdilkan hidup berimannya demi pluralisme. Paus Fransiskus dengan tegas menyatakan bahwa “Iman adalah sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan“. Iman itu harga mati, sebab Gereja Katolik adalah Gereja para Martir. Darah mereka telah menjadi ladang yang subur bagi benih iman.

Itulah sebabnya, kita dituntut untuk menjalani hidup beriman kita secara terpercaya dan meyakinkan, tanpa jatuh dalam fanatisme atau radikalisme.
Ada bahaya besar dalam hidup menggereja saat ini, dimana Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus hanya menjadi Jalan, Kebenaran, dan Hidup di bibir saja, tetapi tidak di hati.

Berbagai institusi pendidikan, kesehatan, maupun sosial karitatif, dengan bangga menyandang label “Katolik“, tetapi dijalankan dengan gaya sekuler yang kental, jauh dari jiwa Katolik. Demi pluralisme, kerasulan misioner dikesampingkan, tidak ada baptisan baru disitu, lupa akan tugas luhurnya untuk “menjadikan semua bangsa murid Tuhan, dan untuk membaptis mereka dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.” Bahkan untuk mengawali dan mengakhiri doa dengan Tanda Salib pun, harus pikir seribu kali demi pertimbangan toleransi? Iman Kristiani menjadi tidak lebih dari label yang menjamin mutu, atau salah satu mata kuliah yang wajib dipelajari. Seringkali terjadi bahwa tidak ada pewartaan dan keteladanan yang memenangkan jiwa disitu. Bahkan tak jarang, Salib pun diturunkan dari ruangan selain Kapel, semua atas nama toleransi.
Jikalau tidak demikian, “Apa bedanya kamu dengan  institusi pendidikan, kesehatan, dan lembaga-lembaga sekuler lainnya? Bahkan tanpa label Katolik, orang yang tidak beriman dan tidak mengenal Allah pun melakukan hal yang sama. Apa bedanya kamu dengan mereka?
Kekristenan tidak pernah bertentangan dengan pluralisme. Sebab Katolik itu sendiri berarti Universal.

Injil hari ini mengajak kita semua untuk merenungkan kedalaman hidup beriman kita. Sebagaimana kepada Musa, ALLAH mengungkapkan Diri-Nya dengan pernyataan, “AKU adalah AKU” (Kel.3:14), demikian pula YESUS mengungkapkan ke-ALLAH-an-Nya dengan mengatakan, “AKU-lah JALAN, KEBENARAN, dan HIDUP”.
Tidak ada pendiri agama, nabi, rasul, atau manusia manapun yang sanggup membuat klaim demikian. Hanya ALLAH yang dapat melakukannya.

Maka, “Jangan salah pilih Jalan! Wartakanlah sukacita Injil dalam Kebenaran, tanpa ditutup-tutupi, dan tanpa terjebak dalam tembok pluralisme semu yang mematikan kerasulan. Dengan demikian, kamu akan beroleh Hidup.

Semoga Santa Perawan Maria, Bintang Timur, meneguhkan imanmu untuk tidak dikompromikan dengan berbagai situasi hidup, yang dapat berujung pada kehilangan rasa beriman. Anda bukan warga negara yang setengah-setengah, maka jangan juga menjalani imanmu setengah-setengah. Jangan hanya mengatakan diri beriman dengan ucapan bibir. Berimanlah dengan Hati.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 21 April 2016 ~ Kamis dalam Pekan IV Paskah

image

SETIA DALAM KEBENARAN

Bacaan:
Kis.13:13-25; Mzm.89:2-3.21-22.25.27;Yoh.13:16-20

Renungan:
Dikhianati oleh orang yang kita kasihi dan berada dalam lingkaran dekat persahabatan, seringkali terasa sangat menyakitkan.
Injil hari ini mengangkat isu penting dalam setiap relasi cinta, yakni perihal kesetiaan versus ketidaksetiaan. 
Di saat-saat terakhir sebelum sengsara-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus sudah tahu bahwa salah seorang dari 12 rasul-Nya yang terkasih, akan mengkhianati Dia.
Akan tetapi, pengetahuan akan kenyataan pahit ini tidak membuat Tuhan Yesus menjaga jarak, membentengi diri, dan berhenti mengasihi. Justru sebaliknya, Ia mencurahkan kasih sehabis-habisnya bagi mereka semua, tanpa terkecuali, termasuk kepada Yudas, yang seolah “menikam-Nya dari belakang“, yang siap menjual Tuhan-Nya pada harga yang tepat baginya. 
Untuk mengungkapkan kesedihan-Nya, Tuhan Yesus menyatakannya dalam seruan Mzm.41:9, “Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku.” (bdk.Yoh.13:18)
Pernyataan “mengangkat tumitnya“, hendak mengungkapkan betapa luar biasa menyakitkannya pengkhianatan itu, suatu dosa yang teramat keji dan jahat. Sebaliknya, untuk “makan roti bersama” dalam budaya Yahudi waktu itu adalah ungkapan kepercayaan dan persahabatan.
Maka, ketika Tuhan Yesus duduk makan roti bersama Yudas, kendati tahu isi hati rasul-Nya yang siap mengkhianati Dia, sebenarnya hendak mengajar kita bahwa cintakasih adalah panggilan yang wajib diberikan oleh seorang Kristiani, dalam situasi apapun, seberapa pun beratnya itu, bahkan kendati kita harus kehilangan hidup kita karenanya.
Dalam terang Iman inilah, kita pun diajak untuk merenungkan hidup para martir di sepanjang sejarah, yang dibunuh di daerah-daerah konflik, disaat mereka justru sedang melakukan karya cintakasih sehabis-habisnya bagi semua orang, termasuk kepada mereka yang bukan saudara-saudari seiman, malah membenci nama Yesus dan Gereja Kudus-Nya.
Kita teringat akan 4 Biarawati dari Kongregasi Misionaris Cinta Kasih, yang terbunuh di Yaman. Dan tidak hanya di Yaman. Dimanapun berada, seorang Kristiani dipanggil untuk menjalani hidup berimannya secara otentik. Untuk mengasihi dan mengampuni sampai sehabis-habisnya. “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yoh.13.35)

Bagian akhir dari Injil hari ini menegaskan kembali kenyataan bahwa Iman adalah sesuatu yang tidak bisa dikompromikan. “Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.” (Yoh.13:20)
Perkataan ini sangat jelas dan tidak multi tafsir. Jawaban atasnya sangat menentukan, karena konsekuensi dari kebenaran menyentuh dasar keselamatan.
Siapapun yang mengimani Allah, haruslah menerima semua kebenaran yang diwartakan Yesus, Putra Allah.
Kebenaran yang dengan setia dimaklumkan oleh Gereja-Nya yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.

Dalam terang sukacita Injil inilah kita pun hendaknya bergembira bahwa Sinode Keluarga yang baru saja berlalu, kini semakin bisa dinikmati buah-buahnya dengan dimaklumkannya Eksortasi Apostolik “Amoris Laetitia” oleh Bapa Suci Paus Fransiskus.
Inilah jawaban terhadap berbagai kesulitan hidup dan panggilan mengasihi dalam Sakramen Pernikahan dan tantangan hidup berkeluarga.
Akan tetapi, kita pun diingatkan bahwa cintakasih tidak pernah bertentangan dengan keadilan. Demikian pula perhatian pastoral, sebaik apapun itu menurut pemahaman manusiawi, akan selalu menjadi aplikasi dari doktrin atau ajaran Gereja bukan sebaliknya, apalagi bertentangan.
Kesetiaan terhadap Sakramen Pernikahan dan hidup berkeluarga, haruslah ditandai dengan kesediaan untuk merangkul Iman Kristiani secara otentik, kepada pengenalan akan Kitab Suci, Tradisi dan Ajaran Gereja.
Untuk memahami keluhuran serta martabat Pernikahan dan Keluarga dalam semangat baru (kepenuhan Roh) yang mendatangkan sukacita, bukannya menafsirkannya secara baru yang malah memadamkan Roh.
Maka, barangsiapa sungguh hendak mengasihi Allah dan sesama, haruslah juga menerima kebenaran dalam segala kepenuhannya, tanpa “mengkompromikan” imannya dikarenakan pemahaman belas kasih yang keliru.
Hukum Tuhan yang tertulis menjadi hukum yang menghidupkan karena cinta, tetapi cinta tidak pernah boleh dijadikan pembenaran untuk mengabaikan apalagi mengerdilkan arti hukum itu. Sebab jikalau demikian, cintamu palsu demikian pula kesetiaanmu.

Semoga Perawan Suci Maria, Bunda Gereja, selalu menyertai kita dalam panggilan untuk mengasihi secara sempurna dan untuk mengasihi dalam kebenaran.
Untuk membenci dosa, tapi mengasihi pendosa. Nyatakanlah tanda salib sebagai bukti cinta dan imanmu akan Yesus Sang Putra Allah, bukan hanya dalam gerakan tangan, melainkan juga dalam hidup dan karya. Untuk berbelas kasih seperti Bapa, sebab “Allah adalah Kasih“.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 29 Maret 2016~SELASA DALAM OKTAF PASKAH

image

DIALAH SEGALANYA BAGIKU

Bacaan:
Kis.2:36-41; Mzm.33:4-5.18-19.20.22; Yoh.20:11-18

Renungan:
Dalam kisah Injil hari ini, kita mendapati dan diajak untuk merenungkan dukacita seorang  wanita yang sungguh-sungguh mencintai Tuhan. Kendati sering disalah mengerti dalam sejarah keselamatan, Maria Magdalena mungkin dapat dikatakan adalah wanita Kudus yang paling mengasihi Tuhan kita, setelah Santa Perawan Maria, Bunda-Nya.
Hati wanita ini begitu terarah kepada Allah. Diselubungi airmata ketidaktahuan mistik saat menemukan malam telah kosong, dia menangis tersedu-sedu, dan dari balik tangisan itu, keluarlah kata-kata yang hanya dapat timbul dari hati yang mencinta, “Mereka telah mengambil Tuhanku…” (bdk.Yoh.20:13d)
Inilah seruan dari seorang yang senantiasa memandang Allah dalam ketepesonaan cinta, sebagaimana diungkapkan oleh pemazmur, “Jiwaku menanti-nantikan Tuhan“. (bdk.Mzm.33:20)

Bagi Maria Magdalena, Tuhan Yesus adalah harta paling berharga baginya. Dialah Kekasihnya. Dialah Segalanya baginya.
Hidup Maria Magdalena, hatinya yang mencinta, seolah membawa kita pada permenungan pribadi perihal kedalaman cinta kita akan Allah. Apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan kita? Sudahkah kita melayani Dia seutuhnya?
Sebagian orang memanggil Allah sebagai kekasih, padahal Ia tidak sungguh-sungguh menjadi yang terkasih, karena hati mereka tidak pernah terarah kepada Allah,” demikian kata St. Yohanes dari Salib.

Semoga sukacita Paskah juga mengobarkan dalam hati kita kerinduan untuk selalu memandang wajah Tuhan, dan mengungkapkan cinta kita kepada-Nya, bukan hanya dengan menyapa Dia sebagai “Kekasihku“, tetapi mengungkapkannya secara nyata dalam hidup dan karya.
Kalau kamu sungguh mencintai Tuhan dan hatimu benar-benar selalu terarah pada-Nya, kalau memang Dia sungguh adalah yang terkasih dalam hidupmu; Buktikanlah! Mulailah bersikap sebagaimana layaknya seorang kekasih. “Dilige et quod vis fac ~ Cintailah dan lakukan apa saja yang kamu kehendaki” (St. Agustinus dari Hippo).
Semoga Bunda Maria senantiasa menjadi Bintang Timur, penunjuk jalan yang aman menuju Putranya. Kiranya Santa Maria Magdalena menyertai peziarahan batinmu di tengah dunia ini, agar kamu selalu dapat mengenali suara lembut Sang Guru (Rabboni). Sebab Dialah Cahaya Paskah yang sejati. Dialah Sukacitamu. Dialah Kekasihmu.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 24 Agustus 2015 ~ Pesta St. Bartolomeus, Rasul

image

JANGAN ADA DUSTA DI ANTARA KITA

Bacaan:
Why.21:9b-14; Mzm.145:10-11,12-13ab,17-18; Yoh.1:45-51

Renungan:
Rasul St. Bartolomeus yang diperingati oleh Gereja Katolik pada hari ini, adalah salah satu dari 12 Rasul dari Tuhan kita Yesus Kristus. Ia dikenal pula dengan nama “Natanael“. Di kemudian hari setelah Tuhan Yesus naik ke surga, Rasul St. Bartolomeus mewartakan Injil ke jazirah Arabia, termasuk Syria dan Persia, bahkan sampai ke India. Pada akhir hidupnya, ia mewartakan Injil ke Armenia, dan berhasil menobatkan Polymius, seorang Raja Armenia, hingga akhirnya dia minta dibaptis oleh Rasul St. Bartolomeus. Peristiwa tersebut mendatangkan kemarahan Astyages, adik Raja Polymius, yang kemudian memerintahkan sang Rasul untuk dibunuh. Rasul St. Bartolomeus menerima mahkota kemartiran dengan cara dikuliti hidup-hidup kemudian wafat disalib dalam posisi terbalik pada akhir abad ke-1 Masehi di Albanopolis, Armenia.
Di kemudian hari jenasahnya dipindahkan dari Armenia, dan saat ini sebagian besar dari potongan tulang jenasahnya disemayamkan dengan penuh hormat dalam Gereja Katolik Basilika St. Bartolomeus, yang terletak di sebuah pulau di tengah sungai Tiber (Roma).
Hidup Rasul St. Bartolomeus memancarkan suatu kesaksian iman akan Allah yang luar biasa. Dalam bacaan Injil hari ini pun, dikatakan bahwa Tuhan Yesus memuji kejujuran hidup Rasul St. Bartolomeus dengan berkata, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!

Kejujuran adalah salah satu kebajikan dalam hidup Kristiani yang menyukakan hati Tuhan.
Jika “Ya“, katakan “Ya“. Jika “Tidak“, katakan “Tidak“.
Seorang Katolik tidak boleh bersikap abu-abu atau suam-suam kuku.
Dalam hidup menggereja, dalam pelayanan kasih, karya kerasulan dalam bentuk apapun, termasuk dalam profesi kerja dan panggilan apapun yang kita jalani, seorang Katolik harus selalu menghindari bahaya “kepalsuan” dalam hidup.
Tidak boleh menjadi orang Katolik yang setengah-setengah. Mengatakan menyembah Allah, tetapi masih memelihara berhala-berhala dab berpegang pada hal atau benda yang bukan bersumber dari kuasa Allah.
Jadilah teladan kejujuran dalam pekerjaanmu, sesederhana apapun itu. Jalanilah panggilan hidupmu dengan senantiasa menjunjung tinggi kebenaran. Jadilah lilin yang bernyala sampai titik penghabisan, kendati disaat semua orang disekitarmu memilih menjadi lilin yang padam di tengah jalan, karena tidak sanggup melawan desakan untuk turut serta dalam kegelapan.

Kejujuran di hadapan sesama hanya mungkin dilakukan bilamana kita terlebih dahulu telah bersikap jujur di hadapan Tuhan.
Bukankah Tuhan Mahatahu, bahkan tak sehelai rambutmu pun yang jatuh tanpa sepengetahuan-Nya?
Jikalau demikian, bagaimana mungkin kamu menjalani hidup dalam kebusukan dosa yang dikubur dalam-dalam, berusaha menyembunyikannya dalam topeng kepalsuan, sambil tetap melayani Tuhan dan menyembut dirimu hamba yang setia, seolah Tuhan bisa dibodohi atau didustai?
Meskipun anak-anak kegelapan mencoba menyamar sebagai malaikat terang dan menipu banyak orang, di hadapan Tuhan tidak ada yang tersembunyi.
Maka, bila kamu memang adalah putra-putri Cahaya, jujurlah di hadapan Sang Cahaya. Jangan berusaha bercahaya, sambil tetap memelihara kegelapan dalam jiwa. Kendati demikian, jangan pernah menjadikan alasan “masih punya dosa“, sebagai pembenaran untuk menjadi cahaya yang menerangi kegelapan dunia. Kejujuran bukan berarti tidak pernah jatuh dalam dosa, ketiadaan cacat, atau tidak pernah melakukan kesalahan.
Kejujuran berarti kesadaran akan kerapuhan diri, yang mendorong kita untuk meletakkannya ke dalam tangan belas kasih Tuhan, untuk diubahkan. Mereka yang berani jujur dan merendahkan diri di hadapan Allah dalam penyerahan diri total, akan mendapati ketidaksempurnaan dalam dirinya secara perlahan disempurnakan oleh Allah.
Jalanilah hidup setiap hari bagaikan di tengah medan pertempuran antara membiarkan dirimu dikalahkan dan jatuh dalam kepalsuan si jahat, atau untuk menjadi pemenang dalam kejujuran dan kebenaran di hadapan Allah dan sesama.

Anda dan saya tahu, dalam hal apa secara spesifik kita sering bersikap tidak jujur. Ketidakjujuran orang yang satu mungkin berbeda dengan orang yang lain. Tetapi, kendati bentuk, situasi, atau tindakannya berbeda, pada hakikatnya untuk dapat mengikuti Tuhan secara “bebas“, kepalsuan demikian haruslah “dilepaskan“.
Semoga Rasul St. Bartolomeus menjadi teladan kita, akan bagaimana untuk hidup tanpa kepalsuan, dan bagaimana memiliki keberanian beriman untuk mewartakan kebenaran sampai titik darah penghabisan.
Kiranya Santa Perawan Maria, Bunda Tak Bercela, membimbing kita di jalan kejujuran menuju Yesus Putranya, Sang Kebenaran Sejati.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 23 Agustus 2015 ~ Minggu Biasa XXI

image

HIDUP ITU PILIHAN, BIJAKLAH MEMILIH !

Bacaan:
Yos.24:1-2a,15-17,18b; Mzm.34:2-3,16-17,18-19,20-21,22-23; Ef.5:21-32; Yoh.6:60-69

Renungan:
Saat menyeberangi Sungai Yordan, ketika tinggal sedikit lagi akan sampai ke Tanah Terjanji, Yosua berpaling kepada bangsa Israel dan meminta mereka untuk memilih.
Rasul Paulus dalam bacaan II hari ini juga berbicara mengenai konsekuensi dari pilihan hidup, terutama dalam hal pernikahan dan menggereja.
Dan dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus pun, mengetahui bahwa saat penyaliban-Nya semakin dekat, ketika paripurna tindakan cinta-Nya sudah di depan mata, Dia mulai mengungkapkan kedalaman tuntutan hidup yang Ia harapkan dapat di-Amin-kan oleh para pengikut-Nya, akan bagaimana mereka harus melihat Dia dalam pernyataan Diri yang senyata-Nya.
Bahwa Dia adalah benar-benar makanan, dan hanya dengan makan Tubuh-Nya dan minum Darah-Nya kita dapat beroleh kekekalan.
Untuk bisa memahami kedalaman bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini, ada suatu kenyataan iman yang harus dimengerti oleh kita.

Ibarat seorang mempelai pria yang begitu mencintai mempelai wanita, sebagaimana diungkapkan Rasul St. Paulus dalam bacaan II hari ini, akan ada saat dalam hidup beriman kita, dimana Sang Kekasih, untuk dapat mencurahkan cinta-Nya secara sempurna, untuk mengalami persatuan mistik dengan Dia, untuk dapat mengalami kedalaman cinta dan pengenalan akan Dia secara baru, akan ada saat dimana Tuhan akan meminta kita untuk “memilih“.
Itulah saat dimana Tanah Terjanji semakin dekat. Sama seperti bangsa Israel yang ditanyakan oleh Yosua, saat itu kamupun akan diminta untuk memilih, “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini.” Berbahagialah kamu bilamana dalam keadaan demikian, sanggup menjawab, “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!
Seiring dengan ayunan langkah cintamu yang semakin dekat mendekati Tuhan, kamu akan mulai merasakan gerak Cinta-Nya yang sama sekali baru, bagaikan suatu api yang membakarmu sampai hangus, yang menuntutmu untuk melepaskan segala, untuk beroleh Dia yang adalah Sang Segala.
Untuk memandang Tuhan dengan suatu kesadaran mistik akan tuntutan-Nya menyambut Roti dan Anggur dalam Sakramen Ekaristi sebagai benar-benar Tubuh dan Darah-Nya.
Kamu mungkin berkata, “Tentu saja saya tahu Hosti itu adalah Tubuh Tuhan. Iman Katolik mengajar saya demikian. Bertahun-tahun saya menyambut-Nya dengan keyakinan yang sama.
Bagi banyak orang Katolik, permenungan ini mungkin terkesan menggugat rasa beriman.
Akan tetapi, sudahkah kita benar-benar memahami Sakramen Ekaristi sebagai sungguh-sungguh Tubuh dan Darah Tuhan?
Pernyataan Yesus dalam Injil hari ini adalah saat menentukan dimana Iman akan Dia menuntut para Pengikut-Nya untuk memilih.
Mereka mulai mengerti bahwa bila mereka ingin benar-benar menerima Yesus sebagai Santapan untuk hidup kekal, untuk dapat meng-Amin-kan tubuh dan Darah-Nya sebagai makanan, mereka pun akan menerima konsekuensi dari persatuan itu.
Perkataan Tuhan Yesus begitu keras, sehingga muncullah reaksi para pengikut-Nya dalam Yoh.6:66 (yang seringkali diibaratkan sebagai ayat AntiKris), sebab “Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.

Mengertilah hal ini.
Iman kita tidak diuji dalam air yang tenang, melainkan dalam api. Kesejatian seorang pengikut Kristus akan terlihat bukan terutama dari bagaimana dia bersikap saat hari yang cerah dan berbunga, disaat dia menjalani hidup dalam kelimpahan susu dan madu (kemanisan rohani), saat doa hampir selalu terjawab. Dengan kata lain, saat Tuhan seolah meletakkanmu di pangkuan-Nya dan membelaimu dengan penuh kasih. Walaupun memang kita dapat menemukan kenyataan bahwa seorang beriman dapat durhaka dan melupakan Tuhan di tengah segala kelimpahan rahmat-Nya, namun bukan itu ujian terbesar dalam hidup berimannya.
Ujian terbesar dalam hidup seorang beriman, kesejatian imannya akan terlihat dari bagaimana dia bersikap di dalam badai, saat doa seolah tak pernah terjawab, saat hidup keluarganya dan harta bendanya berantakan seolah Tuhan telah menutup keran-keran berkat-Nya dan membiarkan hidup keluarganya kering kerontang, saat musibah datang silih berganti dan langit yang cerah diganti awan kelam disusul malam rohani yang gelap dan mencekam.
Saat Tuhan menurunkan kamu dari pangkuan, dan membiarkanmu mulai berjalan bersama Dia secara baru.

Maka, renungkanlah pertanyaan ini dan jawablah dengan jujur, “Sudahkah saya benar-benar mengimani Sakramen Ekaristi sebagai benar-benar Tubuh dan Darah Tuhan? Sudahkan saya benar-benar melihat hidup saya dalam terang Ekaristi?”
Bahwa sebagaimana Tuhan menjadikan Tubuh dan Darah-Nya sebagai santapan bagimu, maka demikian pula hendaknya hidupmu adalah hidup yang senantiasa terbagi-bagi, terpecah-pecah untuk “memberi makan” kepada sesama. Kalau kamu memang setiap hari sungguh mengimani Ekaristi, seharusnya kamu tidak akan pernah kaget mendapati dirimu dimusuhi dunia, tidak perlu heran manakala mendapati tuntutan salib terasa berat di sepanjang perjalanan, tidak perlu bingung ketika diperhadapkan pada berbagai pertanyaan hidup, apalagi mencari jawaban pada juru ramal, sihir dan okultisme, narkoba, pornografi, seks bebas, hamba uang dan kekuasaan, maupun hiburan-hiburan tidak sehat lainnya.
Bila memang benar kamu menghidupi Ekaristi dalam keluargamu, seharusnya kamu tidak begitu mudah menyerah terhadap pernikahanmu, terhadap ketidaksetiaan suamimu, terhadap kekurangan yang kautemukan dalam diri istrimu. Seharusnya kamu tidak mengijinkan anak-anak memilih agama seperti dari katalog belanja atas nama toleransi dan kebebasan yang keliru, atau kehilangan kesabaran merawat anakmu yang terlahir dalam keadaan cacat fisik atau mental, apalagi membuang mereka dan melakukan tindakan aborsi sebelum terlahir ke dunia.
Saat kamu melangkah ke depan altar dalam Komuni Kudus, untuk menjawab “Amin” terhadap perkataan “Tubuh Kristus” yang diucapkan oleh Imam sambil memberikan Hosti Kudus sebagai santapan bagimu, seharusnya daya hidup yang bersumber dari santapan Ekaristi membuatmu tahu bersikap di tengah badai dan pergumulan hidup.

Jangan manja dalam beriman. Kenalilah imanmu. Hidupilah imanmu. Tidak cukup hanya mengakui diri rasul Ekaristi, hidupmu seharusnya menjadi suatu kesaksian yang otentik dan meyakinkan.
Bilamana kamu telah sungguh memahami tuntutan suci dan konsekuensi beriman dari Injil hari ini, maka semoga kamu dapat menjawab pertanyaan Tuhan dalam Injil hari ini, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?
Sama seperti Rasul Petrus, jawablah, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal.
Suatu jawaban yang lahir dari pengenalan cinta yang sejati akan Dia.
Inilah “Rahasia Besar” dari persatuan cinta yang dimaksud oleh Rasul Paulus dalam bacaan II hari ini. Suatu cinta mistik, yang membuatmu sanggup menerima “apapun” dari tangan Tuhan, dan tidak pernah berkurang dalam cinta akan Dia, malah sanggup melihat segala sesuatu yang terjadi di hidupmu dalam terang cinta-Nya, ibarat mempelai wanita yang menyukakan hati Sang Mempelai Pria, yakni Kristus sendiri.
Semoga St. Perawan Maria, Bunda para Mistikus dan Teladan Cinta Sejati akan Allah, membimbingmu pada persatuan cinta yang sempurna dengan Yesus, Putranya, satu-satunya Jawaban dan Pilihan Terbaik.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++