Meditasi Harian 27 November 2016 ~ MINGGU I ADVENT

BERJAGA DALAM IMAN

Bacaan:

Yes.2:1-5; Mzm.122:1-2.4-5.6-7.8-9; Rm.13:11-14a; Mat.24:37-44

Renungan:

Berjaga-jaga adalah sikap beriman, yang senantiasa diharapkan Bunda Gereja dari putra-putrinya. Bacaan kitab suci di awal Masa Advent ini mengingatkan kita, akan satu kenyataan eskatologis dari awal Tahun Liturgi ini. Advent bukan hanya masa persiapan, akan perayaan kenangan kedatangan Tuhan yang pertama di Hari Raya Natal. Akan tetapi, kita juga hendaknya selalu membawa kesadaran, bahwa tempat kediaman kita di dunia ini hanyalah sementara. Maka, Advent juga merupakan masa penantian, yang mengingatkan kita untuk menantikan dengan rindu, akan kedatangan Tuhan kita kedua kalinya pada akhir zaman (Parousia).

Oleh karena itu, “Berjaga-jagalah!(Mat.24:42). Kendati hari dan waktunya tidak ada seorang pun yang tahu, tetapi pasti hari dan waktu Tuhan itu akan tiba. Berbahagialah mereka yang senantiasa menantikan dengan rindu, akan kedatangan Penyelamat kita Yesus Kristus. Malanglah mereka yang didapati tidak siap, bermalas-malasan, dimabukkan oleh kesementaraan dunia, bersikeras hidup dalam dosa. Kesiap-sediaan dalam Iman membuahkan kekudusan hidup, dan semangat untuk menanti dengan hati yang mencinta, ibarat pelita yang menerangi jiwa. Ketidaksiap-sediaan mendatangkan ketakutan, yang timbul sebagai akibat dosa, dan bersumber dari si jahat yang menggelapkan jiwa. Itulah sebabnya dalam Injil kita dapati adanya 2 sikap dalam menantikan Tuhan. 

Sama seperti di zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia (bdk.Mat.24:37). Sebagai putra-putri Advent, kita tidak hanya diingatkan untuk mempersiapkan diri kita sendiri, melainkan juga berusaha segiat-giatnya lewat karya kerasulan kita, untuk membawa sebanyak mungkin orang pada keselamatan dari Allah, pada sukacita Injil. Wartakanlah kepada para bangsa: “Sungguh, Allah Penyelamat kita akan datang” (Antifon Vesper I Minggu I Advent) .

Tentu saja di dalam Yesus Kristus, kita akan selalu menemukan wajah belas kasih Bapa. Akan tetapi, belas kasih tidak pernah bertentangan dengan keadilan dan kebenaran. Kasih sejati tidak akan pernah membenarkan kekerasan hati untuk hidup dalam dosa. Memang benar bahwa Allah adalah Kasih, tetapi jangan pernah lupa bahwa Dia juga adalah Hakim Yang Adil. Untuk itu milikilah senantiasa hati yang remuk redam dalam pertobatan. Inilah saatnya kita lebih merefleksikan hidup kita. Di awal Tahun Liturgi ini, mulailah untuk lebih bijak mempersiapkan dirimu bagi kekekalan. Semoga pada saatnya nanti, di saat kita akhirnya berdiri di depan Tahta Pengadilan Allah, kita didapatinya telah menjalani hidup yang ditandai dengan kesiap-sediaan, berjaga-jaga dalam doa dan karya, yang bagaikan persembahan harum dan berkenan di hadapan-Nya. Maka, dengan pandangan-Nya yang adil, kita akan menemukan ganjaran kemuliaan bersama para kudus di Surga. 

Santa Perawan Maria, Bunda Pengharapan dan Putri Advent yang sejati. Bimbinglah kami anak-anakmu, untuk senantiasa meneladani kesiap-sediaanmu, dalam menanggapi undangan keselamatan dari Allah, agar kami pun boleh didapati setia sampai akhir.

Regnare Christum volumus! 

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 26 Oktober 2015 ~ Senin dalam Pekan Biasa XXX

image

SURSUM CORDA ~ KE ATASLAH HATIMU

Bacaan:
Rm.8:12-17; Mzm.68:2.6-7ab.20-21; Luk.13:10-17

Renungan:
Kekristenan adalah suatu panggilan untuk senantiasa memandang Allah. Panggilan yang dengan begitu indah diungkapkan dalam bagian Prefasi Doa Syukur Agung, “Sursum Corda – Ke Ataslah hatimu“.
Kita diajak supaya senantiasa mengarahkan hati kepada Tuhan.
Maka, wanita bungkuk dalam Injil hari ini melambangkan hidup kedosaan kita.
Roh jahat merasuki diri wanita itu selama 18 tahun, suatu kurun waktu yang panjang. Roh jahat ini membuat wanita malang itu harus menjalani hidupnya dalam penderitaan, karena ia tidak dapat berdiri tegak untuk “melihat ke atas“. Ia bahkan tidak dapat memandang Tuhan Yesus, yang sedang berdiri di hadapannya. Terjemahan lain dari teks Kitab Suci untuk ayat ini dengan jelas menyebut roh jahat ini “roh kelemahan“.

Inilah cara kerja si jahat. Melemahkan manusia dengan rupa-rupa cara, tawaran, godaan, kenikmatan, kedagingan, kedosaan yang menjadikan manusia tidak sanggup lagi memandang ke atas, kepada Allah.
Demikianlah kenyataan memilukan dari kedosaan manusia. Suatu ketidaksanggupan untuk mengarahkan pandangan cinta kepada Allah, yang saat ini sementara memandang kita umat-Nya dengan penuh cinta.
Seringkali kita terlalu sibuk memandang ke bawah, pada perkara-perkara dunia. Kita berusaha menyelesaikan berbagai hal dengan kekuatan sendiri, dan lupa untuk memandang ke atas, seraya mencari pertolongan dari-Nya.
Hanya saat kita sungguh-sungguh terpuruk dalam jurang dukacita dan keputusasaan, barulah kita mulai teringat untuk mengarahkan pandangan ke atas.
Hanya manakala kekeringan dan kemarau panjang melanda begitu lama, barulah manusia dengan rendah hati memandang ke atas, sambil menadahkan tangan memohon setitik air jatuh dari langit.

Injil hari ini mengajak kita untuk memandang Allah setiap waktu. Jangan mau dibelenggu si jahat selama bertahun-tahun, seperti wanita bungkuk dalam kisah Injil.
Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’ Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” (Rm.8:15.17)

Setiap hari kita dipanggil untuk bukan hanya memandang Allah, melainkan juga bersatu dengan-Nya dalam kurban Ekaristi. Dengan mata iman, lihatlah Ekaristi sebab Obat Ajaib, yang sanggup menyembuhkan segala penyakit dan kerapuhan kemanusiaan.
Renungkanlah Firman Tuhan setiap waktu, agar pandangan kita selalu terarah ke atas, sehingga kendati hidup di tengah dunia (di bawah), hati kita tidak melekat pada dunia ini, melainkan melekat kepada Allah.
Berlombalah menggapai kekudusan bersama seluruh anggota Gereja, umat Allah, untuk bersama-sama mengarahkan hati kepada Tuhan.
Dengan demikian, hidup kita akan dipenuhi sukacita karena tidak menggenggam kefanaan, melainkan melayang tinggi dalam kemuliaan dan menggenggam kekekalan.

Bagian akhir dari kisah Injil hari ini mengingatkan kita bahwa panggilan untuk merasul bagi karya Allah, bukanlah tanpa tantangan. Akan selalu ada orang-orang yang dibisikkan dorongan iri hati dari si jahat, untuk menyerang kita dari balik kemunafikan topeng kesalehan.
Janganlah gelisah atau mundur karenanya. Tetaplah berbuat baik.
Bagaikan tiang api dan tiang awan, penyertaan Tuhan akan meluputkan kita dari segala hal yang mencelakakan, dan Roh Kudus-Nya akan memimpin kita dengan kuasa Ilahi yang menghalaukan kegelapan.
Bercahayalah!
Pancarkanlah cahaya iman dan kasihmu, dalam kesetiaan kepada Bunda Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.
Semoga Santa Perawan Maria, keteladanan hidup beriman, selalu menyertai dengan doa dan kasih keibuannya, agar pandangan dan karya kerasulan kita senantiasa terarah kepada Yesus, Putranya.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 19 Oktober 2015 ~ Senin dalam Pekan Biasa XXIX

image

MENEMUKAN HARTA YANG SEJATI

Bacaan:
Rm.4:20-25; MT Luk.1:69-70.71-72.73-75; Luk.12:13-21

Renungan:
Siapapun yang pernah secara langsung maupun tidak langsung berhadapan dengan perselisihan mengenai pembagian uang maupun harta warisan, pasti memahami betapa rumitnya penyelesaian masalah demikian.
Ini adalah persoalan yang tidak mudah diselesaikan, apalagi bila pihak-pihak yang berselisih, tidak sepaham mengenai berapa bagian dari uang atau harta yang berhak mereka terima, akan siapa yang layak menerima lebih banyak dan siapa yang layak menerima lebih sedikit.
Bahkan, dalam berbagai perkara, perselisihan semacam ini seringkali berujung di pengadilan, merusak hubungan kekeluargaan dan persaudaraan, menjadikan mereka yang bertikai untuk saling membenci seumur hidup, dan lebih jauh lagi untuk saling menyakiti atau membunuh karena dendam dan sakit hati.

Kenapa Tuhan Yesus menolak permintaan seorang dari khalayak untuk menjadi hakim atau penengah sengketa warisannya?
Karena Tuhan, yang telah melihat jauh ke dalam lubuk hati manusia, tahu bahwa akar dari permintaannya bukanlah tuntutan keadilan atau pembagian yang sama rata.
Permintaan orang itu berasal dari dosa kerakusan dan iri hati. Jeritan yang tidak murni, karena berasal dari ketamakan dan dorongan jahat untuk tidak pernah merasa cukup.

Kekristenan menuntut kita untuk memiliki, tanpa melekatkan hati pada kepemilikan.
Kita boleh memiliki segalanya, karena dalam penciptaan, Allah sendiri yang telah mempercayakan semuanya itu untuk kebahagiaan kita.
Tidak ada sesuatu yang berdosa dari kekayaan, sejauh itu diperoleh dari kerja keras dan diusahakan secara halal.
Akan tetapi, kebijaksanaan dan cintakasih hendaknya selalu menyertai kekayaan, agar kita tidak terpisah dari Allah karenanya.
Kita dipanggil bukan untuk melekat pada pemberian, melainkan kepada Dia, Sang Pemberi, yang kepada-Nya kita berdoa, “berikanlah kepada kami pada hari ini rezeki (makanan) kami yang secukupnya” (bdk. Pater Noster).
Dekalog (10 Perintah Allah) pun sebenarnya dapat disimpulkan menjadi 2 perintah sederhana ini, “Jangan menyembah berhala, dan jangan mengingini (iri hati) akan milik sesamamu“.
Dan tentu saja, semua hukum Tuhan mendapat kepenuhan dan terangkum dalam Hukum Cintakasih yakni, “Kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu“.
Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus tidak hanya memperingati saudara yang mengajukan pertanyaan itu, tetapi juga kepada kita semua, para pengikut-Nya, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu” (Luk.12:15).

Ketamakan berlawanan dengan Kasih. Karena disaat Kasih mempersatukan semua orang, ketamakan justru memisahkan dan membawa perpecahan bagi banyak orang, bahkan mereka yang terikat oleh ikatan darah dan keluarga sekalipun.
Banyak pernikahan, keluarga, persahabatan, komunitas, dan bangsa yang terpecah belah karena ketamakan akan uang dan harta kekayaan.
Maka, siapapun yang hendak menghindari dosa kerakusan dan ketamakan, hendaknya senantiasa memenuhi hatinya dengan kasih akan Allah dan sesama.
Berdoalah senantiasa agar hidup kita senantiasa dipenuhi kesempurnaan kasih, sehingga entah beroleh kekayaan atau tidak, kita tidak menjadi tamak, rakus, dan iri hati karenanya.
Barangsiapa senantiasa mengenakan kasih, akan menemukan dirinya tidak pernah berada dalam keadaan berkekurangan, melainkan dalam segala kelimpahan dan kepenuhan rahmat Allah.
Berbahagialah mereka yang menemukan kekayaan sejati, yang jauh berbeda dari kekayaan menurut ukuran dunia ini.
Sebab kekayaan dunia ini sementara adanya, laksana bayang berlalu. Maut akan menghentikan semuanya.
Akan tetapi, mereka yang telah menemukan kekayaan sejati di dalam Allah, tidak akan pernah gentar menghadapi maut, karena mereka telah menjalani kesementaraan peziarahan dunia ini, sambil tetap mengarahkan dan mempersiapkan diri untuk kehidupan kekal.

Maka, jalanilah hidup dengan sikap beriman yang tepat. Dengan mengarahkan segala harta dan kepemilikan, segenap usaha dan kerja,  semua talenta dan karunia yang telah Tuhan  percayakan di tanganmu, untuk kemuliaan-Nya, sebagai persembahan kasih yang harum dan berkenan di Hati-Nya.
Sebagaimana Abraham dibenarkan dan menjadi Bapa Kaum Beriman, karena kesanggupannya untuk melepaskan segala demi Allah, Sang Segala, demikianlah kita pun dipanggil untuk mengalami kebebasan sejati yang sama.
Semoga Santa Perawan Maria, teladan kemurahan hati dan ketaatan, senantiasa menyertai perjalanan iman kita menuju Putra-nya, satu-satunya Harta Yang Paling Berharga dalam hidup, baik di dunia ini, maupun dalam kehidupan mendatang dalam keabadian.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian ~ VIGILI PASKAH

image

DIPANGGIL UNTUK BERCAHAYA

Bacaan:
Kej.1:1 – 2:2; Mzm.104:1-2a.5-6.10.12.13-14.24.35c atau Mzm.33:4-5.6-7.12-13.20.22; Kej.22:1-18; Mzm.16:5.8.9-10.11; Kel.14:15 – 15:1; MT Kel.15:1-2.3-4.5-6.17-18; Yes.54:5-14; Mzm.30:2.4.5-6.11.12a.13b; Yes.55:1-11; MT Yes.12:2-3.4bcd.5-6; Bar.3:9-15.32 – 4:4; Mzm.19:8.9.10.11; Yeh.36:16-17a.18-28; Mzm.42:3.5bcd – 43:3.4 atau kalau ada pembaptisan MT Yes.12:2-3.4bcd.5-6 atau juga Mzm.51:12-13.14-15.18-19; Rm.6:3-11; Mzm.118:1-2.16ab-17.22-23; Mrk.16:1-8

Renungan:
Inilah malam dimana Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus mengalahkan maut dan kegelapan dengan Cahaya Kebangkitan.
Pada malam ini Gereja Katolik merayakan Puncak dari semua perayaan Liturginya.
Malam ini umat beriman merayakan dasar dari keseluruhan imannya. Sebagaimana diungkapkan begitu tepatnya oleh St. Paulus Rasul, “Seandainya saja Kristus tidak dihidupkan kembali dari kematian, maka tidak ada gunanya kami memberitakan apa-apa dan tidak ada gunanya pula kalian percaya, sebab kepercayaanmu itu tidak mempunyai dasar apa-apa. Dan kalau Kristus tidak dihidupkan kembali maka kepercayaanmu hanyalah impian belaka; itu berarti kalian masih dalam keadaan berdosa dan tidak mempunyai harapan sama sekali. Tetapi nyatanya Kristus sudah dihidupkan kembali dari kematian. Inilah jaminan bahwa orang-orang yang sudah mati akan dihidupkan kembali. Sebab kematian masuk ke dalam dunia dengan perantaraan satu orang, begitu juga hidup kembali dari kematian diberikan kepada manusia dengan perantaraan satu orang pula.” (bdk.Kor.15:14.17.20-21)

Vigili Paskah atau Malam Paskah adalah awal penciptaan yang baru. Ketika Allah menciptakan alam semesta dari kekosongan, ketiadaan dan kegelapan, dia terlebih dahulu menciptakan “Terang“. Maka, malam Paskah dikatakan awal penciptaan baru karena pada malam ini, Allah mengalahkan kegelapan dosa dan maut dengan “Terang Sejati” yang berasal dari Kristus Yang Bangkit.

Di malam Paskah ini, Gereja Katolik mengungkapkan atau menerangkan imannya akan Kristus Yang Bangkit dengan liturgi yang begitu indah, tepat dan penuh kekayaan makna, melalui bentuk yang sangat unik dan sederhana, yaitu Lilin Paskah.
Dari liturgi sederhana ini kita diajak untuk merenungkan 2 sikap yang harus dimiliki oleh setiap orang beriman yang dipanggil menjadi saksi-saksi iman akan Kristus Yang Bangkit.

Pertama, lilin akan menghabiskan dirinya untuk bercahaya. Sebagaimana lilin yang menebarkan cahaya sambil perlahan-lahan menghabiskan dirinya, demikian pula hidup seorang rasul Kristus. Panggilan kita untuk membawa cahaya ke tengah kegelapan dunia adalah juga panggilan untuk mencintai sampai sehabis-habisnya, sama seperti Kristus. Suatu panggilan untuk kehilangan hidup, agar dapat memberi hidup. Hidup seorang Kristen adalah suatu pemberian diri yang total, bahkan sekalipun karenanya ia harus mengurbankan nyawanya, demi imannya akan Allah dan demi membawa keselamatan serta cahaya sukacita Injil kepada semua orang.

Kedua, cahaya lilin adalah api. Ini bukanlah cahaya yang dingin dan tidak memiliki dampak apa-apa jika disentuh, melainkan cahaya yang membawa kehangatan, bahkan sanggup membakar dan menghanguskan siapapun yang disentuh olehnya. Demikian pulalah seharusnya hidup seorang rasul Kristus. Hidupnya harus selalu membawa kehangatan cinta dan belas kasih Allah bagi siapapun yang berjumpa dengannya. Hidup dan karyanya harus selalu membawa orang pada pengenalan iman akan Kristus, dan membuat hati siapapun yang disentuh oleh kehadirannya menjadi berkobar-kobar dan dihanguskan oleh cinta akan Allah.

Di malam Paskah ini, seruan Kristus kembali bergema, “Kamu adalah Terang dunia.
Kita bukanlah anak-anak kegelapan, kita adalah putra-putri Cahaya
Oleh karena itu, malam ini pula Gereja, umat Allah, dengan memegang lilin yang bercahaya di tangannya, membaharui kembali janji baptisnya untuk menjadi putra-putri Cahaya, yang membawa terang dan sukacita Paskah dalam hidup dan karyanya.

Semoga Santa Perawan Maria, Bintang Timur dan Bunda Gereja, menyertai kita dengan doa dan kasih keibuannya, agar kita bisa menjadi saksi-saksi iman akan Kristus Yang Bangkit, serta mengenyahkan kegelapan dunia ini melalui hidup dan karya kita.

Selamat Paskah! Surrexit Christus, Alleluia!

Pax, in aeternum.
Fernando

HARI RAYA SANTO YOSEF, SUAMI SANTA PERAWAN MARIA

image

Bacaan I
2 Samuel 7: 4-5a.12-14a.16
Mazmur Tanggapan
Mazmur 89: 2-3,4-5,27,29
Bacaan II
Roma 4: 13,16-18,22
BACAAN INJIL
Matius 1: 16.18-21.24a
atau
Lukas 2: 41-51a

Renungan:
Bersama Gereja Katolik sedunia, hari ini kita merayakan Hari Raya Santo Yosef, Suami dari Santa Perawan Maria dan Bapa Pemelihara dari Tuhan kita Yesus Kristus.
Sesudah Santa Perawan Maria, Santo Yosef adalah orang Kudus terbesar dan paling dihormati dalam Gereja.
Kenapa Gereja begitu menghormati St. Yosef, bahkan menjadikannya sebagai Pelindung Gereja universal?
Dalam Kitab Suci sendiri, tidak pernah tercatat sepatah katapun keluar dari mulut St. Yosef.
Kalau demikian, dimanakah letak kebesaran St. Yosef?
Kebesaran St. Yosef nampak dalam penyerahan dirinya secara total kepada kehendak Allah, tanpa banyak bicara. Dialah hamba yang lurus, bijaksana, tekun, dan setia. Dengan penuh tanggung jawab, St. Yosef memelihara Keluarga Kudus, menjaga serta melindunginya.
Kitab Suci mencatat betapa lurusnya hati St. Yosef, yang ketika mengetahui bahwa St. Maria sudah mengandung sebelum mereka berumah tangga, hendak menceraikannya secara diam-diam, karena tidak ingin mempermalukan St. Maria dan tidak ingin mendatangkan fitnah dan bahaya lainnya atas Perawan Suci.
Kitab Suci juga mencatat bagaimana St. Yosef bergumul dalam Tuhan, untuk sungguh-sungguh memikirkan keputusannya, membawanya dalam doa setiap hari.
Karena itu, manakala malaikat Tuhan menampakkan diri untuk memberitahukan bahwa St. Perawan Maria telah mengandung dari Roh Kudus, dalam kesetiaannya kepada Allah, St. Yosef menerima tugasnya untuk menjadi Bapa Pemelihara Keluarga Kudus.
Salah satu ujian terakhir St. Yosef, yang juga tercatat dengan begitu indahnya dalam Kitab Suci, adalah peristiwa diketemukannya Kanak-kanak Yesus di Bait Allah, setelah dengan susah payah dicari selama tiga hari. Untuk kesekian kalinya, tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut St. Yosef. Dalam keheningan, sekali lagi dia menunjukkan kebijaksanaan sejati yang tidak sedikitpun mempertanyakan rancangan Tuhan. Tanpa kata-kata, seluruh hidup St. Yosef adalah suatu pemberian diri yang total dan kepercayaan tanpa batas kepada Penyelenggaraan Ilahi.
Kenyataan bahwa St. Yosef melakukan semuanya itu di dalam suatu kegelapan iman, dan keberaniannya untuk melangkah di dalam gelap, menunjukkan betapa cahaya Tuhan bersinar begitu cemerlang di dalam hatinya, sehingga malam tidak lagi gelap baginya.

Bagi kita di masa sekarang ini, St. Yosef adalah teladan beriman. Bagi para pekerja, St. Yosef adalah teladan bagaimana menunaikan segala tugas dan tanggung jawab dengan hasil akhir yang mengagumkan dan mendatangkan pujian bagi karya Allah. Bagi keluarga-keluarga Kristiani dalam dunia yang serba instan dan modern ini, St. Yosef sungguh menjadi gambaran sempurna dari keluhuran Sakramen Perkawinan. Ketika menerima St. Maria yang mengandung dari Roh Kudus, dan kendati bukan ayah biologis dari Tuhan Yesus, perhatian dan kasih sayang yang total dari St. Yosef, menjadi tamparan bagi banyak pasangan hidup dewasa ini yang dengan mudahnya menyerah di saat mengalami berbagai tantangan dan badai pergumulan hidup. St. Yosef mengingatkan kita bahwa cinta yang sejati adalah cinta yang tak bersyarat. Kenyataan bahwa St. Maria tetap Perawan sesudah menikah sampai wafatnya St. Yosef, sekali lagi menjadi refleksi Iman bagi keluarga-keluarga Kristiani maupun bagi mereka yang menjalani hidup berelasi hanya sebagai sarana pemuas hawa nafsu belaka, bahwa cinta yang sejati tidak harus memiliki.

Hari Raya St. Yosef mengajak kita untuk melihat kembali nilai-nilai luhur dari Sakramen Perkawinan, akan hidup sebagai keluarga Kristiani yang sejati, serta bagaimana menjadi hamba Allah yang lurus, tekun, setia, dan bijaksana, sehingga pada senja hidup kita, sebagaimana St. Yosef, kita pun boleh mendengar suara lembut dari surga yang menyambut kita, “Bagus, engkau hamba yang baik dan setia. Masuklah ke dalam kebahagiaan Tuhanmu.” (Antifon Komuni bdk. Mat.25:21)

Terpujilah nama Yesus, Maria, dan Yosef, sekarang dan selama-lamanya.

Pax, in aeternum.
Fernando

Enyahlah, Iblis!

MINGGU PRAPASKA I  ( Tahun Liturgi – A )

Bacaan I – Kejadian 2: 7-9; 3: 1-7

Mazmur Tanggapan – Mzm. 51: 4-4. 5-6a. 12-13. 14. 17

Bacaan II – Roma 5: 12-19

Bacaan Injil – Matius 4: 1-11

 

Enyahlah, Iblis!

Saudara-saudariku yang terkasih,

“Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” (Kej.2:7) Demikianlah bacaan pertama hari ini mengungkapkan keindahan dan kemuliaan manusia. Tidak ada makhluk hidup di alam semesta ini, selain manusia, yang dihembusi nafas kehidupan oleh Allah sendiri. Demikianlah tinggi dan berharganya nilai kita di hati Tuhan. Namun, di balik keindahan penciptaan manusia, terungkap pula kerapuhannya. Kita dibentuk dari debu tanah, dari sebuah materi yang begitu rapuh dan hina. Oleh karena itu, adalah teramat penting untuk disadari bahwa kita yang tercipta dari debu tanah, karena rahmat dan belas kasih Allah, telah diangkat sedemikian tinggi, melebihi semua makhluk hidup di dunia, bahkan melebihi para malaikat dan makhluk surgawi lainnya, kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, dihembusi nafas kehidupan oleh Allah sendiri. Ini bukan karena jasa-jasa kita, melainkan anugerah Allah semata-mata. Jikalau demikian, sudah pasti dan tidak mungkin dibantah bahwa manusia hanya bisa menemukan kesejatian hidup di dalam Dia, yang menciptakan kita. Dia yang memberi makna dalam hidup kita. Sang Cinta yang telang mencipta kita karena cinta, dan memanggil kita ke dalam persatuan cinta dengan-Nya. Di dalam ketaatan kepada kehendak-Nyalah kita akan menemukan kemerdekaan sejati kita. Terpisah dari Allah berarti keterpisahan dari Sang Pemberi Hidup, Asal dan Tujuan hidup kita. Terpisah dari-Nya berarti kehampaan dan kebinasaan. Kita mungkin saja hidup, tetapi menjalaninya layaknya seorang yang tidak memiliki hidup, karena kita telah menyerahkan kebebasan kita untuk menjadi budak si jahat.

Iblis, si ular tua itu, sangat tahu akan betapa mulia dan berharganya kita di hati Tuhan. Oleh karena itu, sejak awal penciptaan, dengan segenap daya upaya, ia telah menyiapkan perangkap untuk menjatuhkan manusia dari kemuliaan dan martabat ilahinya. Perangkap itulah yang kita sebut dosa. Adalah menarik untuk diperhatikan bahwa manusia pertama tidak kehilangan Eden karena menghambakan diri secara total kepada si jahat, kejatuhan pertama terjadi bukan saat manusia berkata kepada iblis, “Ya, mulai saat ini aku mau menyembah setan.” Tidak demikian. Manusia jatuh ke dalam dosa karena dia tergoda akan argumen si jahat bahwa dia dapat hidup tanpa Tuhan, akan nafsu keinginan untuk menjadi seperti Allah. Manusia pertama mengalami kejatuhan dosa karena kegagalannya untuk mengatakan “Tidak!” kepada bujukan si jahat. Ia tergoda untuk melepaskan perlindungan dan belas kasih Tuhan, dan mencoba berjalan sendiri tanpa Tuhan.

Dalam pemahaman ini, kita bisa lebih memahami kenapa dunia ini semakin jahat, padahal tidak semua orang jahat nyata-nyata mengaku bahwa setanlah yang mereka sembah, atau menyatakan penyerahan diri kepada Iblis secara terang-terangan di hadapan umum. Para ateis yang hidup di negara-negara komunis maupun di berbagai belahan dunia lainnya, kebanyakan bukanlah anggota sekte-sekte gelap. Sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang memiliki dedikasi, kerja keras, falsafah hidup yang baik, nilai-nilai moral, akal budi yang cerdas. Mereka adalah orang-orang yang kerap kali terbukti memberikan sumbangan yang berarti bagi kemajuan dunia. Tetapi, sama seperti manusia pertama, mereka berpikir bahwa mereka dapat berjalan tanpa Tuhan, mereka dapat menemukan kebebasan dan kesejatian hidup tanpa Dia. Kegagalan mengatakan “Tidak!” kepada si jahat semacam inilah yang membuat seorang ibu dapat berjuang mati-matian melawan hukuman mati serta memperjuangkan hak-hak hidup seseorang, tetapi membenarkan aborsi, membunuh darah dagingnya sendiri. Seorang ayah dapat membesarkan anak-anaknya dengan penuh perhatian, tetapi di sisi lain sanggup membunuh banyak orang atas pemahaman ideologi dan keyakinan yang sesat. Seorang bankir dapat bekerja keras untuk memperoleh kemakmuran dalam hidup, tetapi membiarkan kerakusannya itu membawa kehancuran ekonomi suatu negara, dan membuat banyak orang jatuh dalam jurang kemiskinan. Dunia dapat jatuh dalam kesedihan mendalam karena menurunnya indikator-indikator ekonomi, dan begitu depresi atas jatuhnya harga-harga saham, tapi dunia tidak lagi berdukacita atas meninggalnya begitu banyak tunawisma dan gelandangan di jalan-jalan kota setiap hari. Keinginan manusia untuk menggapai langit tanpa Tuhan, merupakan bukti nyata bahwa tanpa disadari, manusia telah jatuh dalam jurang dosa dan belenggu si jahat.

Apakah dengan kenyataan demikian, kita yang adalah anggota Gereja, dapat melihat diri kita sebagai kumpulan orang yang tidak mengalami kejatuhan yang sama seperti mereka?

Tentu saja tidaklah demikian. Gereja itu Kudus, tetapi selagi di dunia ini, kita adalah Gereja yang sedang berziarah, dengan segala pergumulan dan jatuh bangun menuju kesempurnaan. Yang membedakan kita dengan dunia adalah rahmat Tuhan yang bekerja secara istimewa dalam Gereja. Dengan pembaptisan, kita telah dibebaskan dari dosa asal, sekaligus mulai dihantar pada pengenalan yang sempurna akan Allah, di dalam Iman. Oleh karena itu, jikalau kegagalan dunia untuk bepaut kepada Tuhan adalah dosa, maka, kegagalan Gereja untuk berpaut pada Tuhan adalah dosa yang lebih besar lagi. Kenapa demikian? Karena kita telah dipanggil ke dalam pengakuan akan satu Tuhan, satu Iman, dan satu Baptisan. Dunia tidak mengikuti Tuhan, tetapi kita, putra-putri Gereja, yang telah bertahun-tahun mengikuti Dia, bagaimana mungkin kita tidak mengenal Dia? Bagaimana mungkin hati kita tidak merasa remuk-redam disaat kita mengalami kejatuhan dosa?

Manakala kita dengan sadar membiarkan diri jatuh dalam dosa layaknya anak-anak kegelapan dari dunia ini, sesungguhnya dosa kita jauh lebih besar lagi, karena kita melakukannya di saat kita telah mengenal Allah dan kehendak-Nya.

Saudara-saudari terkasih.

Dalam kesadaran akan kerapuhan dan kegagalan kita, marilah kita memandang cahaya Ilahi dalam bacaan Injil hari ini. Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai iblis. Berbeda dengan manusia pertama yang membiarkan dirinya untuk tergoda dan jatuh dalam dosa, Yesus menunjukkan kepada kita, bahwa sebagai manusia, kita bisa mengatakan “Tidak!” kepada si jahat. Putra Allah, yang adalah sungguh-sungguh manusia, menjalani pencobaan selama 40 hari, mematahkan segala argumen si ular tua itu, dan pada akhirnya menang atas pencobaan. Injil hari ini merupakan peneguhan iman bagi kita semua, untuk melihat hidup kita masing-masing ibarat padang gurun, dimana si jahat senantiasa menyiapkan perangkap, argumen, dan tipu daya dengan berbagai cara untuk menjatuhkan kita dari kemerdekaan sejati anak-anak Allah. Ketika Kitab Suci berbicara bahwa Yesus “dibawa oleh Roh”, hal ini menunjukkan bahwa peristiwa pencobaan itu terjadi sepengetahuan dan dalam penyertaan Tuhan. Oleh karena itu, yakinlah, kemanapun Tuhan membawa kita, dalam situasi apapun itu, semenakutkan dan seberat apapu itu, apapun nama yang kita berikan atas peristiwa itu, entah padang gurun, malam gelap, awan ketidaktahuan, apapun namanya, iblis ada disana, tetapi kuasa Tuhan yang jauh lebih besar juga ada disana. Selama kita tetap setia mendengarkan suara Tuhan, bilamana kita tetap berpaut pada-Nya dan tidak membiarkan diri kita terlepas dari-Nya, maka, pada waktu yang tepat, Dia akan memberi kita kekuatan untuk mengatakan “Tidak!” dan meludahi si jahat. Tetaplah setia. Biarlah Sabda Tuhan, doa, puasa, laku tapa dan mati ragamu menjadi baju zirahmu untuk melawan si jahat. Biarlah Ekaristi dan sakramen-sakramen Gereja menjadi daya hidup yang membuat tubuhmu kuat untuk bertempur, sehingga ular tua itu lari ketakutan dari medan pertempuran rohani ini.

Semoga Perawan Tersuci Maria, teladan ketaatan, senantiasa mengajar kita untuk selalu menjawab “Ya!” kepada Allah, dan mengatakan “Tidak!” kepada si jahat. Kiranya segenap orang kudus, para malaikat dan balatentara surgawi, bertempur bersama kita, secara khusus di masa Prapaska ini, sehingga pada akhirnya kita dapat menjadi manusia-manusia Paska, putra-putri Cahaya, yang menghalau kegelapan dari dunia ini, dan memenangkan tidak hanya jiwa kita, melainkan juga jiwa-jiwa banyak orang, merenggutnya dari kuasa kegelapan, serta membawa mereka ke dalam Cahaya.

Inilah panggilan kita, inilah medan pertempuran yang harus kita menangkan. Bersama Tuhan pasti bisa! (VFT)