Meditasi Harian ~ Pesta St. Markus, Penginjil (25 April)

image

JANGAN PERNAH LUPA MISIMU !

Bacaan:
1Ptr.5:6b-14; Mzm.89: 2-3.6-7.16.17; Mrk.16:15-20

Renungan:
Bersama Gereja Katolik sedunia, hari ini (25 April), kita merayakan Pesta St. Markus, Penginjil.
Pergilah ke seluruh dunia. Beritakanlah Injil kepada segala makhluk,” demikianlah seruan Antifon Pembuka (diambil dari Mrk.16:15) Misa hari ini.
Ini adalah pesan terakhir Tuhan Yesus sebelum naik ke Surga, yang diterima oleh Gereja Katolik bukan sebagai kata-kata perpisahan biasa, melainkan sebagai Mandat Apostolik, Amanat Agung, sebagai Misi Utama dari karya kerasulannya.
Gereja Katolik bukanlah lembaga sosial atau badan amal, bukan NGO atau penjaga perdamaian biasa, bukan pula pembela hak asasi manusia atau pemerhati lingkungan belaka. Bahwa Gereja Katolik melakukan peran-peran tersebut dalam karya kerasulannya, itu memang benar.
Akan tetapi, Evangelisasi yang dilakukan oleh Gereja tidak sama dengan advertising atau marketing.
Di balik itu semua, ada motif adikodrati yang sungguh Ilahi dari semua yang dilakukannya.
Ketika Gereja Katolik merawat orang-orang sakit di rumah-rumah sakitnya; mendidik manusia dari berbagai suku, agama dan bangsa di sekolah-sekolah serta universitas-universitasnya; merawat para lanjut usia, sekarat, pengemis dan gelandangan, korban narkoba maupun kekerasan seksual, anak-anak jalanan, dan para penyandang cacat di rumah-rumah perawatan dan pusat-pusat rehabilitasinya; bahkan ketika melakukan penggalian arkeologi, penelitian ilmiah di berbagai bidang dan menjelajah luar angkasa sebagaimana dilakukan oleh berbagai lembaga risetnya; itu semua semata-mata dilakukan oleh Gereja Katolik karena kesetiaan pada Mandat Apostolik, Amanat Agung, Misi Utama yang diterimanya langsung dari Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus, yakni “pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil kepada seluruh makhluk” (bdk.Mrk.16:15).
Sangat menyedihkan manakala ada begitu banyak putra-putri Gereja saat ini yang mulai melupakan motif adikodrati, tugas Ilahi, serta panggilan kerasulan suci dalam segala karya yang kita lakukan ini.
Adalah suatu kegilaan bilamana kayu Salib, arca Tuhan dan para kudus, atau simbol-simbol Katolik lainnya harus diturunkan dari sekolah-sekolah dan rumah-rumah sakit, doa dan Misa bersama ditiadakan, bahkan mengawali semua aktivitas dengan tanda salib pun harus dikesampingkan demi toleransi yang keliru.
Toleransi menjadi salah dan membinasakan jiwa, manakala identitas ke-Katolik-an dan panggilan serta tugas evangelisasi kita justru diabaikan karenanya.
Usaha menghilangkan identitas dasar Katolik semacam itu hanyalah awal dari kesesatan yang lebih besar, yang mencoba mengerdilkan atau malah menghilangkan sama sekali jiwa misioner yang justru mendasari semua karya Allah yang dengan setia dikerjakan oleh Gereja Katolik.
Tidak mungkin kamu berkarya bagi Allah tanpa membawa pula jiwa dan misi Katolik yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus sendiri ke dalamnya.
Hai putra-putri Gereja, jangan pernah lupa misimu! Misimu adalah memberitakan sukacita Injil kepada segala makhluk secara otentik.
Segenap hidup dan karyamu, dalam situasi apapun, dan dimanapun Tuhan menempatkan kamu, kerasulan suci ini haruslah menjadi tugas dan misi utamamu.
Kalau apa yang kaulakukan saat ini tidak memiliki semangat misioner, kehilangan identitas Katolik, membuatmu harus berseberangan atau menentang ajaran Iman dan Tradisi Suci Gereja, maka sudah pasti apa yang kaulakukan bukanlah Evangelisasi. Kamu telah jatuh ke dalam jerat dan perangkap si jahat, bapa segala dusta.
Bukan Injil yang kamu beritakan, melainkan pemahaman pribadimu yang keliru dan sesat tentang tujuan eksistensimu, baik di dunia ini maupun di dalam Gereja.
Semoga Pesta St. Markus Penginjil, yang kita rayakan hari ini, membawa kita pada kesadaran iman akan panggilan suci kita untuk berbagi sukacita Injil secara otentik, sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah, dan yang dengan setia diwartakan oleh Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.

Pax, in aeternum.
Fernando