Meditasi Harian, 14 Juli 2017 ~ Jumat dalam Pekan Biasa XIV

BERANI MATI UNTUK HIDUP

Bacaan:

Kej.46:1-7.28-30; Mzm.37:3-4.18-19.27-28.39-40; Mat.10:16-23

Renungan:

Injil hari ini membawa kita lebih jauh lagi ke dalam realita seorang pengikut Kristus, serta panggilan kerasulan kita untuk menyatakan karya Tuhan. Sesudah meneguhkan hati kita bahwa hidup kristiani adalah hidup yang disertai dengan tanda-tanda penuh kuasa dari-Nya, untuk membawa banyak orang pada pengalaman akan kasih Allah, hari ini Tuhan kita berbicara soal konsekuensi yang sudah pasti tidak kita harapkan. Setelah kemarin memperingatkan kita yang diutus, agar tidak memiliki kelekatan atau “membawa banyak” hal yang justru membebani tugas kerasulan kita, hari ini Tuhan mengutarakan satu lagi kenyataan dari panggilan kita sebagai saksi-saksi Kebangkitan, yaitu bahwa Sang Gembala Yang Baik ini mengutus kita “seperti domba ke tengah-tengah serigala” (Mat.10:16). Seekor domba berhadapan satu lawan satu dengan seekor serigala saja sudah cukup sukar, apalagi untuk hidup di tengah-tengah kawanan serigala.

Siapapun yang hendak melangkah di jalan Tuhan, haruslah terlebih dahulu menyadari betul konsekuensi iman ini. Jalan kecil Tuhan pada hakekatnya adalah jalan Salib, dimana seorang akan kehilangan segala, bahkan nyawanya sendiri, untuk beroleh kesejatian hidup. Predikat “Hamba Tuhan” bukanlah gelar kehormatan, yang darinya seorang dapat menuntut perlakuan istimewa, kenyamanan hidup, kekayaan, kemakmuran, pujian dan kehormatan duniawi lainnya, apalagi menipu mereka yang dipercayakan kepadanya dengan kejahatan bertopeng kerohanian. Jika itu yang kamu harapkan, maka sesungguhnya kamu telah menjadi “hamba mamon“, tak ubahnya seperti “serigala berbulu domba”. Kamu tidak hanya kehilangan aroma domba, melainkan kamu sudah bukan lagi seekor domba. Seorang rasul Kristus diutus ke tengah kegelapan dunia untuk bercahaya, bukan meredupkan apalagi memadamkan cahayanya untuk bergabung dengan saudara-saudari kegelapan. Kita adalah putra-putri Paskah, manusia-manusia kebangkitan, yang hendaknya dengan lantang berseru, “bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21). Dia yang telah memberi diri untuk Tuhan, tetapi masih menyayangi hidupnya sendiri dan hatinya masih melekat pada segala sesuatu diluar Tuhan, pada akhirnya justru akan kehilangan ganjaran hidup kekal dalam kebahagiaan Surga, serta beroleh kebinasaan kekal dalam ratapan dan kertak gigi.

Memang benar bahwa kita diutus ke tengah-tengah serigala. Akan tetapi, “Janganlah kamu kuatir” (Mat.10:29), akan mereka yang hanya dapat membunuh tubuh, tetapi tidak berkuasa sama sekali melenyapkan jiwa. Bersiaplah untuk kehilangan “tubuh” demi menyatakan Kerajaan Allah, maka pada akhirnya nanti baik tubuh maupun jiwamu dapat beroleh kekekalan. Melangkahlah dengan iman layaknya Yakub yang berangkat dalam getaran suara cinta Tuhan, “Akulah Allah, Allah ayahmu, janganlah takut…Aku sendiri akan menyertai engkau…dan tentulah Aku juga akan membawa engkau kembali” (Kej.46:3-4). Milikilah ketulusan merpati dalam kesederhanaan beriman dan kerendahan hati untuk dibentuk serta dimurnikan oleh Tuhan, dan jagalah sikap kerasulan kita dalam kehati-hatian yang suci dan penuh hikmat, agar kita tidak jatuh ke dalam jerat perangkap si jahat, yang menawarkan banyak hal supaya kita menyimpang dari jalan kesempurnaan. Cerdiklah seperti ular untuk bertahan dalam semangat kerasulan di tengah serigala, sebab “barangsiapa bertahan sampai kesudahannya akan selamat” (bdk.Mat.10:22).

Semoga Perawan Terberkati Maria, Bunda umat beriman, menyertai kita di jalan kecil ini dengan doa dan kasih keibuannya, agar kita senantiasa melangkah dengan penuh sukacita. “Orang-orang benar akan diselamatkan oleh Tuhan; Dialah tempat perlindungan mereka pada waktu kesesakan; Tuhan menolong dan meluputkan mereka dari tangan orang-orang fasik. Tuhan menyelamatkan mereka, sebab mereka berlindung pada-Nya” (Mzm.37:39-40). Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, doakanlah kami.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian, 13 Juli 2017 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XIV

KERASULAN CINTAKASIH

Bacaan:

Kej.44:18-21.23b-29 dan 45:1-5; Mzm.105:16-17.18-19.20-21; Mat.10:7-15

Renungan:

Injil hari ini berbicara mengenai desakan Tuhan Yesus, agar murid-muridnya pergi memberitakan kabar sukacita tentang Kerajaan Allah ke seluruh dunia. Kita, yang menyebut diri “rasul-rasul Kristus“, dipanggil untuk membawa sebanyak mungkin orang kepada pengenalan akan Allah. Ke dalam pergaulan mesra dan persatuan mistik dengan-Nya. Ini berarti bahwa tidaklah cukup menghantar jiwa-jiwa untuk beriman. Sebab sebagaimana “iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati” (bdk.Yak.2:26), maka panggilan untuk mewartakan Kerajaan Allah, adalah tugas luhur yang menuntut perubahan hidup seutuhnya. Hidup yang diubahkan ke dalam habitus baru, dimana iman kristiani sungguh-sungguh dijalani dalam karya nyata, serta kesaksian hidup yang otentik dan meyakinkan. Karya kerasulan yang sejati mendatangkan penyembuhan bukan luka, kesatuan bukan perpecahan, damai sejahtera bukan perselisihan, saling melayani bukan saling menjatuhkan, mempertahankan hidup bukan melenyapkan, melestarikan alam ciptaan bukan merusak, mengangkat martabat manusia bukan merendahkan, melawan ketidakadilan bukan berdiri di atas penderitaan orang lain, dan membangun jembatan bukan tembok.

Di tengah dunia yang semakin kehilangan pengharapan ini, disitulah kita, para pengikut Kristus ditempatkan untuk bercahaya dan membawa damai sejahtera. Satu hal yang tidak pernah boleh kita lupakan, yaitu ibarat suatu cermin, kita bercahaya karena memantulkan cahaya sejati yang berasal dari Allah. Demikian pula kita hanya dapat menjadi rasul-rasul Kristus yang membawa damai sejahtera, manakala kita senantiasa memandang Allah dan memohonkan karunia cintakasih, yang mengalir dari Hati-Nya Yang Mahakudus. Tugas kita adalah mewartakan, terlepas dari kenyataan kita dapat diterima dan dapat pula ditolak. Kalau diterima, bersyukurlah kepada Allah dan milikilah kerendahan hati untuk selalu mengingat, bahwa kamu semata-mata hanyalah alat. Kalau ditolak, bersyukurlah pula bahwa kamu beroleh keistimewaan untuk mengambil bagian dalam sengsara Tuhan kita. Lakukanlah karya kerasulanmu itu dengan penuh sukacita, sebab kehendak Allah-lah yang mendesak kita, bukan kehendak manusia. Kemuliaan-Nyalah yang kita nyatakan, bukan kemuliaan diri atau motif kodrati lainnya. Sebagaiman kata St. Josemaria Escriva, “Berikan suatu motif adikodrati pada pekerjaanmu sehari-hari, maka engkau akan menyucikan pekerjaanmu itu” (Jalan, 359). Biarlah Tuhan semakin besar, dan kita semakin kecil. Dialah yang harus dikenal, dan biarlah kita berkarya dan melayani Dia dalam ketersembunyian. Teladanilah Santa Perawan Maria, Ratu para Rasul. Dialah cermin kekudusan yang bercahaya begitu gemilang karena persatuan mesranya dengan Allah, Sang Kekasih dan Segalanya. Semoga kita senantiasa menjadi rasul-rasul cintakasih yang memantulkan cahaya cintakasih dari Allah, Sang Damai sejati.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 8 Januari 2017 ~ HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN (EPIFANI) 

IMANMU ADALAH BINTANGMU

Bacaan:

Yes.60:1-6; Mzm.72:1-2.7-8.10-11.12-13; Ef.3:2-3a.5-6; Mat.2:1-12

Renungan:

Lihatlah! Tuhan, Sang Penguasa telah datang; dalam tangan-Nya kerajaan, kekuasaan, dan pemerintahan.” (Antifon Pembuka)

Hari ini kita merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan (Epifani), yang dikenal juga sebagai Pesta Tiga Majus/Raja dari Timur (Three Wise Men/Orient Kings From The East). Bersama seluruh umat Allah, kita mensyukuri kemurahan hati Bapa, yang berkenan menampakkan Cahaya Kemuliaan-Nya dalam diri Yesus, Putra-Nya. Perayaan ini hendak pula mengungkapkan bahwa keselamatan dari Allah Bapa, dalam diri Yesus Putra Tunggal-Nya, diperuntukkan bagi semua bangsa. Dan hanya dengan keterbukaan terhadap bimbingan Roh Kudus-lah, kita dapat mengenal dan menampakkan Wajah Kerahiman Allah, di dalam dan melalui karya kerasulan kita di dunia ini. 

Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” ( Yes.60:1.4.2)

Maka, bila terang Tuhan telah terbit atasmu, kamu pun dipanggil untuk datang mendekati Sang Terang. Inilah panggilan suci yang dijawab oleh Tiga Majus (Magi) dari Timur. Mereka keluar dari kegelapan negerinya, dan memulai perjalanan mengikuti cahaya bintang, untuk menemukan Dia yang telah menggerakkan hati mereka oleh kobaran Api Cinta, laksana mempelai wanita yang keluar mencari Sang Kekasih (bdk. Kidung Agung).
Sama seperti Tiga Majus dari Timur, siapapun yang hendak menemukan kebenaran, damai, keadilan, dan terang sejati, hanya dapat menemukan-NYA dengan mengikuti cahaya “Bintang“. Kita memerlukan cahaya “Iman”. Inilah karunia yang digerakkan oleh Api Roh Kudus. Api yang sanggup menghanguskan jiwa dalam keterpesonaan cinta akan Allah. Kita akan selalu memerlukan iman untuk menemukan Allah. Sebab kesederhanaan Hati Tuhan menjadikan pula Dia sebagai Yang Tersembunyi. Untuk menemukan Dia dalam keheningan Kandang Bethlehem, untuk memandang Dia yang sungguh hadir dalam Hosti Kudus, untuk tidak disesatkan oleh tekanan merubah doktrin dan ajaran Gereja, untuk dapat menyadari kehadiran-Nya selalu di dalam dan melalui berbagai peristiwa hidup. Maka, segelap apapun lembah kekelaman hidup yang kaujalani, jangan pernah lupa untuk berjalan dengan diterangi oleh cahaya iman. Di dalam iman, kita dapati gerakan Roh-Nya, yang dengan penuh kelembutan menuntun kita ke Aliran Hidup Yang Kekal.

Inilah panggilan kita. Suatu peziarahan suci menuju persatuan mistik yang sempurna dengan Allah. Satu hal yang hendaknya dimaklumi, bahwa perjalanan ini bukanlah tanpa kesalahan. Tetapi yakinlah, bahwa rahmat Tuhan akan selalu menyertaimu dalam perjalanan ini, asalkan kamu mau dengan rendah hati, dengan kepasrahan dan kepercayaan tanpa batas, menyerahkan dirimu untuk dibimbing oleh cahaya sukacita iman. Sama seperti Tiga Majus membawa persembahan, untuk diberikan kepada Sang Raja Semesta Alam, demikian pula perjalanan hidup kita hendaknya menjadi suatu persembahan yang hidup dan berkenan bagi Allah.

Sebagaimana Caspar dari India, bawalah “Emas”, yakni kesediaanmu untuk mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan lewat hidup dan karyamu. Kalau kamu sungguh-sungguh melayani Allah, buanglah keinginan untuk memperkaya diri atau mendatangkan kemuliaan bagi dirimu sendiri. Suatu paradoks yang indah bahwa kekayaan Kristus justru nampak dalam kemiskinan-Nya. Dalam pengosongan Diri-Nya yang tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, sehingga rela mengosongkan Diri-Nya dan mengambil rupa seorang Hamba (Manusia).
Itulah sebabnya, bagi siapapun yang menyebut diri pengikut Kristus, mulailah melepaskan segala, dan persembahkanlah emasmu, ketidaklekatanmu, kepada Kristus, Sang Segala.

Sebagaimana Melchior dari Persia, bawalah kepada-Nya “Mur”, lambang Penyembuhan dan Penyerahan Diri sebagai Kurban. Kekristenan adalah panggilan untuk terikat dengan Kristus. Kita mengingini apa yang Ia ingini, kita menolak apa yang Ia tolak, dan kita mencintai apa yang Ia cintai.
Konsekuensi dari ini ialah, Salib. Untuk dapat merangkul salib dengan bahagia, persembahkanlah mur, lambang kesediaan untuk terluka, namun juga kesediaan untuk mengampuni. Hanya dengan kesediaan untuk terluka dan mengampuni, yang membuat perjalanan hidup ini sungguh dipenuhi sukacita dalam segala situasi hidup, seburuk apapun itu.

Sebagaimana Balthasar dari Arabia, bawalah kepada-Nya “Kemenyan”, lambang pengudusan. Allah adalah Kudus, demikian pula kamu dipanggil kepada kekudusan, kepada kemerdekaan sejati, bukannya perbudakan serta kebinasaan. Kamu dipanggil untuk bercahaya dalam cahaya kesucian. Kuduskanlah dirimu, kuduskanlah karyamu, dan kuduskanlah dunia ini dengan karyamu.
Kekudusan bukanlah suatu kemewahan yang hanya diperuntukkan bagi segelintir orang, melainkan suatu panggilan bagi kita semua, tanpa terkecuali.
Kekudusan sejati tumbuh dari kesadaran untuk berkanjang dalam doa. Seorang yang ingin Kudus, hendaknya terlebih dahulu menjadi seorang pendoa. Pendoa yang bukan melulu meminta, melainkan mencinta.

Betapa mengagumkan untuk mengetahui, bahwa apa yang dipersembahkan oleh Tiga Majus dari Timur, semuanya dapat ditemukan dalam diri seorang wanita yang paling bercahaya dalam Gereja. Dialah Perawan Suci Maria, Bunda Allah dan Bunda Gereja.
Barangsiapa yang mengingini hidupnya menjadi suatu persembahan hidup, yang harum dan berkenan bagi Allah, hendaknya meneladani Bunda Maria, Bunga Mawar Mistik dan Gambaran Kesempurnaan Gereja. Hidupnya semata-mata senantiasa menunjuk kepada Kristus. Dialah teladan yang paling aman. Mereka yang hendak memandang Allah, dapat melihatnya pada dan melalui mata Maria, yang senantiasa terarah kepada Putranya.
Semoga Hari Raya Penampakan Tuhan ini menjadi perayaan iman, yang mengobarkan hati kita untuk menjalani hidup yang senantiasa memandang Allah.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

PS:

Renungan “Jalan Kecil” kini telah hadir melalui Facebok Fan Page “Serviam Domini“. Silakan di-add dan di-share

Meditasi Harian 27 November 2016 ~ MINGGU I ADVENT

BERJAGA DALAM IMAN

Bacaan:

Yes.2:1-5; Mzm.122:1-2.4-5.6-7.8-9; Rm.13:11-14a; Mat.24:37-44

Renungan:

Berjaga-jaga adalah sikap beriman, yang senantiasa diharapkan Bunda Gereja dari putra-putrinya. Bacaan kitab suci di awal Masa Advent ini mengingatkan kita, akan satu kenyataan eskatologis dari awal Tahun Liturgi ini. Advent bukan hanya masa persiapan, akan perayaan kenangan kedatangan Tuhan yang pertama di Hari Raya Natal. Akan tetapi, kita juga hendaknya selalu membawa kesadaran, bahwa tempat kediaman kita di dunia ini hanyalah sementara. Maka, Advent juga merupakan masa penantian, yang mengingatkan kita untuk menantikan dengan rindu, akan kedatangan Tuhan kita kedua kalinya pada akhir zaman (Parousia).

Oleh karena itu, “Berjaga-jagalah!(Mat.24:42). Kendati hari dan waktunya tidak ada seorang pun yang tahu, tetapi pasti hari dan waktu Tuhan itu akan tiba. Berbahagialah mereka yang senantiasa menantikan dengan rindu, akan kedatangan Penyelamat kita Yesus Kristus. Malanglah mereka yang didapati tidak siap, bermalas-malasan, dimabukkan oleh kesementaraan dunia, bersikeras hidup dalam dosa. Kesiap-sediaan dalam Iman membuahkan kekudusan hidup, dan semangat untuk menanti dengan hati yang mencinta, ibarat pelita yang menerangi jiwa. Ketidaksiap-sediaan mendatangkan ketakutan, yang timbul sebagai akibat dosa, dan bersumber dari si jahat yang menggelapkan jiwa. Itulah sebabnya dalam Injil kita dapati adanya 2 sikap dalam menantikan Tuhan. 

Sama seperti di zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia (bdk.Mat.24:37). Sebagai putra-putri Advent, kita tidak hanya diingatkan untuk mempersiapkan diri kita sendiri, melainkan juga berusaha segiat-giatnya lewat karya kerasulan kita, untuk membawa sebanyak mungkin orang pada keselamatan dari Allah, pada sukacita Injil. Wartakanlah kepada para bangsa: “Sungguh, Allah Penyelamat kita akan datang” (Antifon Vesper I Minggu I Advent) .

Tentu saja di dalam Yesus Kristus, kita akan selalu menemukan wajah belas kasih Bapa. Akan tetapi, belas kasih tidak pernah bertentangan dengan keadilan dan kebenaran. Kasih sejati tidak akan pernah membenarkan kekerasan hati untuk hidup dalam dosa. Memang benar bahwa Allah adalah Kasih, tetapi jangan pernah lupa bahwa Dia juga adalah Hakim Yang Adil. Untuk itu milikilah senantiasa hati yang remuk redam dalam pertobatan. Inilah saatnya kita lebih merefleksikan hidup kita. Di awal Tahun Liturgi ini, mulailah untuk lebih bijak mempersiapkan dirimu bagi kekekalan. Semoga pada saatnya nanti, di saat kita akhirnya berdiri di depan Tahta Pengadilan Allah, kita didapatinya telah menjalani hidup yang ditandai dengan kesiap-sediaan, berjaga-jaga dalam doa dan karya, yang bagaikan persembahan harum dan berkenan di hadapan-Nya. Maka, dengan pandangan-Nya yang adil, kita akan menemukan ganjaran kemuliaan bersama para kudus di Surga. 

Santa Perawan Maria, Bunda Pengharapan dan Putri Advent yang sejati. Bimbinglah kami anak-anakmu, untuk senantiasa meneladani kesiap-sediaanmu, dalam menanggapi undangan keselamatan dari Allah, agar kami pun boleh didapati setia sampai akhir.

Regnare Christum volumus! 

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 18 Agustus 2016 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XX

DIPANGGIL UNTUK MENCINTA

Bacaan:

Yeh.36:23-28; Mzm.51:12-13.14-15.18-19; Mat.22:1-14


Renungan:

Ada dukacita yang tersembunyi di balik perumpamaan Injil hari ini. Itulah dukacita Tuhan. Adalah kita, umat kesayangan-Nya, yang seringkali didapati dalam sikap dingin serta acuh tak acuh menanggapi undangan cintakasih Allah. Setiap hari Tuhan mengundang kita untuk mendekat pada-Nya, ke dalam suatu relasi cinta yang ditandai komitmen total dan kepercayaan tanpa batas akan kasih-Nya. Bahkan, Ia tidak hanya mengundang kita untuk datang makan dari meja perjamuan. Lebih dari sekadar mengundang, Ia sendirilah yang menjadi Santapan Ilahi, Roti Surgawi bagi kita.

Inilah keindahan dan keagungan Sakramen Ekaristi. Suatu panggilan ke dalam persekutuan cintakasih, untuk bersatu dengan Sang Cinta, yang disantap dari Roti yang satu dan sama. Maka, sebenarnya dapat dikatakan bahwa kegagalan mencinta, ketidaksanggupan berkomitmen secara total, dan keengganan melangkah masuk untuk tenggelam dalam lautan cintakasih Allah, merupakan tanda jelas bahwa kita belum sepenuhnya menghargai dan menyadari anugerah agung Ekaristi.

Itulah sebabnya, menjadi sangat penting pula bagi kita, untuk senantiasa memelihara hidup dalam keadaan berahmat. Ini tidak serta-merta jatuh dari langit. Perlu perjuangan dan pengorbanan, bahkan tak jarang kita harus kehilangan segalanya, termasuk nyawa kita sendiri, untuk beroleh hidup. 

Injil hari ini adalah suatu ajakan bagi kita, untuk sungguh-sungguh mempersiapkan diri menyambut Tuhan, baik dalam Ekaristi Kudus setiap hari, maupun pada senja hidup kita. Jangan jadi orang Kristen rata-rata. Jadilah seorang Kudus. Ini bukanlah cita-cita semu yang dilandasi kesombongan, melainkan suatu cita-cita adikodrati, yang dilandasi kesadaran bahwa Allah Yang MahaKudus, hanya dapat didekati dalam kekudusan. Mereka yang enggan mengejar kekudusan, sebenarnya tidak sungguh-sungguh merindukan Tuhan. Orang yang demikian mungkin merindukan perbuatan-perbuatan Tuhan, tindakan dan karya agung-Nya, bimbingan dan pertolongan-Nya, tetapi hanya berhenti sampai disitu. Tidak mau melangkah lebih jauh, sebab dia tahu, bahwa dengan demikian dia harus “berubah“dan “diubahkan“. Kesadaran akan dosa seharusnya tidak pernah boleh membuat orang melangkah mundur, dan menolak undangan perjamuan. Justru sebaliknya, ia harus berani melangkah maju di jalan pemurnian, jalan pertobatan. Itulah satu-satunya cara bagimu untuk memperoleh “pakaian pesta“.

Maka, dalam kesadaran akan hal ini, kita pun menemukan kenyataan, bahwa sebenarnya Sakramen Ekaristi tidak dapat dipisahkan dari Sakramen Tobat. Untuk menjawab undangan Perjamuan Tuhan dengan sukacita, seorang beriman haruslah pula memiliki kerinduan yang sama besarnya, untuk melangkah masuk ke bilik Pengakuan Dosa. Menurunnya kerinduan untuk mengaku dosa, berakibat menurunnya pula penghormatan akan Ekaristi. Maka, berbagai usaha saat ini untuk membaharui liturgi, sia-sia jika tidak disertai kesadaran untuk menumbuhkan kesadaran umat beriman akan Sakramen Tobat. Semakin sering seorang beriman mengaku dosa, pergaulannya dengan Allah akan semakin ditandai dengan sikap hormat, dan sembah bakti yang sejati. Dan seiring dengan mengalirnya air mata penyesalan dan hati yang remuk redam, kamu akan keluar dari bilik Pengakuan Dosa dengan langkah yang semakin ringan, dan kamu akan mendapati dirimu mulai berjalan seirama dengan langkah Tuhan. Itulah saat dimana kamu sungguh telah memiliki “hati yang baru“, yang sungguh siap menjawab “Ya” kepada undangan kasih Tuhan. 

Memang banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih. Banyak yang menyapa Tuhan sebagai Kekasih, tetapi sangat sedikit yang sungguh mengarahkan hati, jiwa, dan segenap hidup mereka kepada-Nya. Semoga Perawan Suci Maria,  cermin kekudusan, memantulkan cahaya Ilahi untuk menerangi jalan peziarahan kita menuju Allah. Kiranya teladan hidup Santa Helena, yang kita peringati pula hari ini, meneguhkan keyakinan kita, bahwa bila kita sungguh mencari Tuhan dengan penuh kerinduan, Ia akan memperkenankan Diri-Nya ditemukan oleh kita. Pada saat itu, seperti St. Agustinus, kita pun akan berseru, “Terlambat, Ya Tuhan…Terlambat aku mencintai-Mu.
Regnare Christum volumus!
✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 26 Juli 2016 ~ Selasa dalam Pekan Biasa XVII (Peringatan Santa Ana & Santo Yoakim, Orang Tua dari Santa Perawan Maria)

KELUARGA YANG MERASUL

Bacaan:
Sir.44:1.10-15; Mzm.132:11.13-14.17-18; Mat.13:16-17

Renungan:
St. Agustinus mengatakan bahwa, “Allah yang menciptakan kamu tanpa melibatkan kamu, tidak akan menyelamatkan kamu tanpa melibatkan kamu“. Meskipun datangnya dari Tuhan, anugerah keselamatan bukanlah sesuatu yang jatuh begitu saja dari langit. Hidup seorang Kristen sejati haruslah menampakkan tanda-tanda, serta “meninggalkan jejak” yang sungguh menunjukkan bahwa dirinya adalah orang yang sungguh diselamatkan. Kristuslah wajah belas kasih Bapa. Oleh karena itu, bagaimana Sang Penyelamat dikenal oleh dunia, sungguh ditentukan pula oleh keteladanan hidup kita, para pengikut-Nya, yang senantiasa menjadi rekan kerja dan tanda nyata keselamatan dari Allah itu. St. Paulus Rasul pun berkata, “Kerjakan keselamatanmu!” (Flp.2:12).

Jangan sia-siakan karunia iman yang telah kamu terima. Sama seperti Santa Ana dan Santo Yoakim, yang telah mewariskan iman akan Allah Yang Hidup, kepada Santa Perawan Maria, dan telah menyiapkan wanita paling berbahagia dan teramat suci ini, untuk menjadi ibu Sang Juruselamat, demikian pula kamu telah menerima warisan iman yang sama melalui keluarga, dalam kesatuan dengan Bunda Gereja, sebagaimana diungkapkan dalam bacaan pertama hari ini (bdk. Sirakh 44).

Dalam dunia yang semakin mengerdilkan arti keluarga dan perannya dalam karya keselamatan, di tengah segala usaha untuk memperkenalkan definisi baru yang keliru akan keluarga, dan diperhadapkan dengan berbagai bentuk serangan si jahat terhadap keluhuran martabat Sakramen Pernikahan, peringatan Santa Ana dan Yoakim hari ini semakin menyadarkan kita akan pentingnya peranan keluarga-keluarga Kristiani dalam karya keselamatan. Keluarga Kristiani hendaknya menjadi Tanda Keselamatan yang otentik dan meyakinkan bagi dunia. Sebab di dalam keluarga kristiani yang sejati, anak-anak dapat “belajar untuk mencintai sebanyak mereka dicintai tanpa syarat, mereka belajar menghargai orang lain sebanyak mereka dihargai, mereka belajar mengenal wajah Allah sebanyak mereka menerima wahyu Allah pertama dari seorang ayah dan ibu yang penuh perhatian pada mereka” (Kongregasi Ajaran Iman, surat kepada para Uskup – 31 Mei 2004)

Hari ini kaum muda Katolik dari seluruh dunia mengawali World Youth Day 2016. Jutaan muda-mudi dari 187 Negara kini berkumpul di Kraków, Polandia. Peringatan Santa Anna dan Santo Yoakim hari ini, mengingatkan kita bahwa masa depan Gereja Katolik, berada di pundak anggota-anggota termuda dari Bunda Gereja, dan kehadiran dan peran orang tua sangat menentukan menjadi apakah anak-anak mereka kelak. Seorang Karol Wojtyła (St. Yohanes Paulus II), Helena Kowalska (St. Faustina), Raymund Kolbe (St. Maximilianus Maria Kolbe), Marie Françoise Thérèse Martin (St. Teresia dari Kanak-Kanak Yesus), dan Edith Stein (St. Teresia Benedikta dari Salib), mereka semuanya terlahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga. Akan tetapi, demikian pula Adolf Hitler, Mussolini, Kaisar Nero, dan Osama Bin Laden. Mereka pun terlahir dalam sebuah keluarga. Maka, sekali lagi kita diajak untuk menyadari, bahwa peran orang tua sangatlah penting dan menentukan akan menjadi apakah anak-anak kita, putra-putri Gereja kelak. Bagi mereka yang dipanggil ke dalam Sakramen Pernikahan, milikilah kesadaran akan tugas luhur kalian. Jadilah keluarga Katolik yang sejati! Kobarkanlah semangat kerasulan dalam keluarga, dengan menanamkan benih-benih Injil, serta mewariskan kekayaan imanmu kepada anak-anak dan cucu-cucumu. Nyatakanlah imanmu lewat kesaksian hidup keluarga, yang senantiasa memancarkan cahaya Kristiani secara otentik dan meyakinkan. 

Sudah pasti tantangan, halangan, dan rintangan akan selalu ada di jalan keselamatan serta kerasulan keluarga ini. Tetapi, yakinlah. Dia yang sanggup menenangkan gelora lautan dan menenangkan badai, sanggup pula membawamu keluar sebagai Pemenang atas badai hidup yang menerpa bahtera keluargamu. Kendati mungkin Tuhan “seolah” tertidur, tetapi bukankah kenyataan bahwa Tuhan terlelap dalam perahumu, itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi Sumber ketenangan dan sukacitamu, dibandingkan perahu-perahu lainnya yang mengarungi badai tanpa Tuhan?

Keluargamu berharga di mata Tuhan, tanda Kerajaan Allah, diingini oleh-Nya, dan menjadi tempat kediaman-Nya (bdk.Mzm.132:14). Yakinlah, selama kita tidak pernah terpisah dari Yesus, dan menyerahkan hidup seutuhnya ke dalam tangan belas kasih-Nya, niscaya perahu kehidupan kita tidak akan pernah terbalik atau tenggelam. Dengan demikian, perkataan Kristus dalam Injil hari akan menjadi dasar pengharapan dan sukacitamu. “Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya” (Mat.13:16-17).

Semoga Santa Perawan Maria, menjadi Bintang Timur yang menuntunmu kepada Yesus, Putranya. Kiranya Santa Ana dan Santo Yoakim menyertai keluargamu, dalam keteladanan hidup mereka sebagai rekan kerja Allah dalam karya keselamatan, sehingga keluargamu menjadi keluarga yang merasul. 

Regnare Christum volumus!


✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥