Meditasi Harian, 26 Juli 2017 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XVI

CINTA BUTUH BUKTI BUKAN JANJI

Bacaan:

Sir.44:1.10-15; Mzm.132:11.13-14.17-18; Mat.13:16-17

Renungan:

Tanah yang baik memberi jalan bagi benih yang ditanam untuk tumbuh, berkembang dan berbuah. Jika diumpamakan tanah itu adalah kita manusia dan benih adalah Firman Allah, maka keterbukaan terhadap rahmat Allah dengan segenap daya upaya kita untuk mengasihi Dia, sungguh menentukan bagaimana hidup kita diubahkan oleh kabar sukacita Kerajaan Allah. Tidak semua yang datang untuk berjumpa dan mendengar perkataan Tuhan dapat pula menangkap dan mengerti. Ada yang menerima dengan penuh sukacita dan seketika hidupnya diubahkan oleh pengalaman kasih Allah itu, ada pula yang memiliki kekuatiran akan konsekuensi hidup kekristenan kemudian mundur perlahan-lahan, dan banyak pula yang tidak sanggup melihat kenyataan bahwa ia harus berubah serta tidak sanggup mendengar perkataan yang keras dan menuntut itu, lalu pada akhirnya menolak dan meninggalkan jalan Tuhan.

Memang benar, bahwa rahmat Allah sendiri sanggup mengubahkan hidup kita. Kendati demikian, biasanya rahmat Allah bekerja lebih leluasa dalam diri mereka yang sungguh merindukan Dia, serta melakukan segala upaya untuk mencari wajah-Nya. Ia mendekat secara lebih mesra kepada mereka yang dalam kepasrahan seorang anak, memberanikan diri untuk datang mendekat kepada-Nya. Maka, secara sederhana dan tegas dapat diminta dari kita, “Kalau kamu sungguh mencintai Tuhan, ‘Buktikanlah!'” Ini bukan pertama-tama melalui tindakan-tindakan heroik yang mengagumkan seperti memberikan nyawa demi iman atau kasih akan sesama. Tidak serta-merta seperti itu.

Untuk mengalami kebesaran kasih Allah dan kelimpahan rahmat-Nya, seorang beriman dapat memulainya dari kesetiaan pada perkara-perkara kecil. Dimulai dari hal-hal yang seringkali amat mendasar dan mungkin terlalu sederhana, seperti bangun pagi-pagi benar untuk mempersembahkan hari kita kepada-Nya, memberikan waktu sejenak setiap hari untuk merenungkan Firman-Nya dalam Kitab Suci, mempersiapkan sarapan dan memastikan anak-anak berangkat ke sekolah tepat waktu, memberikan tempat duduk kita di bus kepada mereka yang lanjut usia, tidak melakukan pungutan liar melebihi ketentuan di kantor, memberikan salam dan dukungan semangat kepada mereka yang berbeban karena tekanan hidup, mengakhiri hari dengan pemeriksaan batin dan memohon pengampunan untuk menit-menit yang gagal dipersembahkan demi kemuliaan Tuhan, serta berbagai tindakan-tindakan kecil dan sederhana lainnya. Memang kecil dan sederhana, seolah tidak berdampak signifikan untuk merubah keburukan dunia ini, tetapi sebagaimana dosa datang karena kejatuhan satu orang dan keselamatan dunia datang pula karena “Satu Orang”, yakinlah persembahan dirimu, sekecil dan sesederhana apapun, bila dilakukan karena kobaran api cinta, pada akhirnya akan sanggup menyentuh dan menggetarkan Hati Allah, Sang Cinta, untuk mengarahkan pandangan belas kasih-Nya kepada-Mu dan mencurahkan rahmat-Nya secara melimpah ke dalam dan melalui dirimu. Pada waktu itu sekali lagi kamu akan mendengar suara-Nya yang amat lembut, “Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar” (Mat.13:16).

Bersama Gereja Kudus, hari ini kita memperingati pula dengan penuh syukur akan suami istri yang amat saleh, Santo Yoakim dan Santa Anna. Mereka berdua telah menunjukkan keteladanan kesetiaan dalam perkara-perkara kecil sehari-hari, dan pada akhirnya mempersembahkan permata terindah dalam Kekristenan, yakni putri mereka, Perawan Maria yang terberkati. Inilah keteladanan hidup yang sungguh menjadi persembahan yang harum dan berkenan di Hati Tuhan, dan menghasilkan buah yang disyukuri oleh seluruh umat manusia. Santa Maria, bimbinglah kami menuju Putra-mu, dalam keteladanan beriman sebagaimana ditunjukkan ayah dan ibumu, Santo Yoakim dan Santa Anna.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian, 25 Juli 2017 ~ Pesta St. Yakobus anak Zebedeus, Rasul

DIPANGGIL UNTUK MELAYANI

Bacaan:

2Kor.4:7-15; Mzm.126:1-2ab.2c-3.4-5.6; Mat.20:20-28

Renungan:

Injil hari ini sekali lagi mengingatkan kita, bahwa nilai-nilai hidup kristiani berbanding terbalik dengan nilai-nilai dunia ini. Berbeda dengan dunia yang melakukan berbagai strategi dan usaha demi menduduki posisi pertama dan teratas, haus akan pengakuan publik atas prestasi dan pencapaian diri, mendedikasikan seluruh waktu hidupnya untuk memperkaya diri, meraih kekuasaan dan kehormatan, sekalipun harus menjatuhkan atau mengorbankan orang lain; iman kristiani justru mengajarkan bahwa “barangsiapa ingin menjadi yang terbesar di antata kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” (Mat.20:26-27).

Panggilan untuk melayani atau menjadi hamba dari semua umat Allah menuntut komitmen dan pengorbanan. Ini bukanlah sekadar memberikan sebagian waktu, uang, atau kemampuan kita. Tidak demikian. Malanglah jiwa yang berpuas diri atau merasa pemberian diri sedemikian sudah cukup untuk Kerajaan Allah. Panggilan untuk melayani Allah dan melakukan Kehendak-Nya adalah suatu panggilan untuk memberi “hidup kita seutuhnya” dan mempersembahkan “milik kita seluruhnya” bagi-Nya, Asal dan Tujuan hidup kita. Sebagaimana umat Allah zaman sekarang, kegagalan memahami tuntutan Injil ini juga pernah dialami oleh rasul Yakobus dan Yohanes, yang membujuk ibu mereka untuk meminta kedudukan bagi mereka berdua sebagai anaknya. Di balik kemarahan kesepuluh rasul lainnya, sebenarnya terselip keinginan yang sama namun belum sempat terkatakan. Kendati demikian, Putra Allah, yang mengenal dan mengetahui isi hati manusia, dengan penuh kesabaran dan kelembutan kasih memperlihatkan kepada kita akan tuntutan suci Kerajaan Allah, dalam segala kebenaran dan kepenuhannya. Seorang rasul Kristus pertama dan terutama haruslah menjadi seorang pelayan. Kemunduran rohani, penyesatan, dan kebobrokan moral dalam Gereja saat ini disebabkan oleh hilangnya kesadaran bahwa sama seperti Kristus, kita harus memiliki hati yang berkobar-kobar dalam kuasa cinta untuk melayani, bukannya mengharapkan dilayani. Kegagalan putra-putri Gereja untuk menjawab tantangan jaman saat ini bukan disebabkan kegigihannya membela Doktrin Iman atau mempertahankan Tradisi Suci, melainkan karena ketegaran hati untuk melayani Allah dan kehendak-Nya, sehingga jatuh dalam ketidak pedulian dan sikap mengkompromikan hidup beriman dengan nilai-nilai sesat dunia ini, yang berasal dari si jahat, bapa segala dusta.

Menjadi seorang beriman di jaman sekarang ini memerlukan hati seorang hamba, dibarengi sikap heroik dalam beriman, apapun risikonya. Untuk meminum cawan Tuhan, seorang harus siap menyangkal diri dan memikul salib. Malah bagi sebagian orang, kerasulan cintakasih ini harus dipuncaki dengan mahkota kemartiran. Diperlukan kerendahan hati untuk menerima ajaran dan mau dibentuk, serta kesediaan untuk dimurnikan hari demi hari, agar tapak-tapak yang kita namai derita ini berubah menjadi tapak-tapak cinta. Seorang beriman harus berani membuat komitmen dan bertekun dalam doa, untuk memahami bahwa panggilan melayani sebagai hamba Allah ini, sebenarnya memberi sukacita yang tak terkatakan bagi jiwa. Sukacita yang melenyapkan segala kecemasan dan kekuatiran akan dunia ini, sebagaimana para martir iman yang dengan senyum bahagia menghadapi kematian, sambil melantunkan madah rohani bagi Allah, di hadapan terkaman binatang-binatang buas dan pedang para algojo.

Sama seperti para rasul dan murid Tuhan lainnya, kita pun berjumpa dengan Tuhan di persimpangan jalan hidup kita masing-masing. Tak jarang kita didapati-Nya dalam keadaan teramat rapuh, dipenuhi borok yang busuk, dan diangkat-Nya dari kubangan atau lembah kedosaan. Di saat menjawab panggilan suci untuk mengikuti Dia, seringkali kita pun belum sepenuhnya menyadari, apalagi menerima konsekuensi dari panggilan itu. Tak jarang pula mereka yang dipanggil ke jalan Tuhan, sebenarnya di mata dunia adalah yang paling berdosa, celaka, dikucilkan, malang dan paling cacat di antara yang lain. Tetapi, kenyataan bahwa Tuhan toh tetap berkenan memanggil dan mengutus kita, itu seharusnya sudah lebih dari cukup menjadi hiburan rohani, serta meneguhkan ima kita akan rahmat dan karya Allah yang mengagumkan. Bahwa bukan karena kuat dan hebat kita, melainkan rahmat dan belas kasih Tuhanlah, yang telah memampukan kita untuk melangkah di jalan-Nya.

Santo Yakobus Rasul, yang hari ini kita peringati kemartirannya, juga menerima panggilan Tuhan dalam keadaan yang tidak jauh berbeda dengan kita. Gereja mengajak kita untuk meneladani hidupnya, yang dalam kesadaran akan kerapuhannya, memilih untuk bersandar pada kekuatan Allah, dan dengan rendah hati mau dibentuk serta dimurnikan oleh-Nya. Betapa luar biasa dan mengherankan karya Tuhan dalam diri mereka, yang mau melayani dan melakukan kehendak-Nya. Santo Yakobus Rasul yang di awal jalan kerasulan menghendaki kedudukan dan kuasa, pada akhir hidupnya sebagai Uskup Yerusalem, justru menjadi yang pertama di antara para rasul dalam menerima mahkota kemartiran. Jutaan umat beriman setiap tahun melakukan peziarahan dengan berjalan kaki sejauh ratusan kilometer, menuju Katedral Santiago de Compostola, untuk berdoa di hadapan relikui Santo Yakobus Rasul, sambil memohonkan dari Allah keberanian iman, sebagaimana diteladankan oleh rasul-Nya yang kudus ini.

Semoga kita pun beroleh hati seorang hamba, yang mau selalu taat dan setia di jalan Tuhan, serta rahmat untuk tidak mengingini apapun selain Allah dan kehendak-Nya. Ya Perawan Maria yang terberkati, engkau yang selama hidupmu telah melayani Yesus Putramu dalam ketersembunyian, tunjukkanlah jalan kerendahan hati bagi kami, agar sama seperti Santo Yakobus Rasul, kami pun menjadi para pelayan yang tekun dan setia, demi kemuliaan Allah dan Gereja Kudus-Nya.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian, 20 Juli 2017 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XV

KELEKATAN MEMADAMKAN CINTA

Bacaan:

Kel.3:13-20; Mzm.105:1,5,8-9,24-25,26-27; Mat.11:28-30

Renungan:
Panggilan Kristiani adalah panggilan untuk “melepaskan“. Apa yang harus dilepaskan? Dosa. Kenapa harus dilepaskan? Karena dosa adalah beban berat yang diletakkan iblis dalam perjalanan peziarahan kita menuju Allah. Karenanya kita merasa begitu kepayahan, terbebani, malah seringkali dengan hebatnya; depresi dan jatuh dalam jurang keputusasaan, yang pada akhirnya membuat banyak orang berhenti dan tidak mau berjalan lagi. Bahkan tak jarang seorang rasul Tuhan mengalami kebinasaan, dikarenakan beban dosa yang amat berat itu. Maka, ketika Tuhan kita mengatakan, “Marilah datang kepada-Ku, kalian semua yang letih lesu memikul beban berat, Aku akan memberikan kelegaan bagimu,” seruan-Nya yang lemah lembut ini bagaikan panggilan di tengah padang gurun, untuk mendekat ke mata air dan minum sampai sepuasnya. Siapapun yang merindukan kelegaan, yang perlu ia lakukannl hanya satu, “melepaskan“. Pertanyaannya, “Beranikah kamu untuk melepaskan?

Keengganan untuk melepaskan merupakan bentuk kelekatan akan dosa yang dapat sangat menyulitkan, memayahkan, bahkan bisa mematikan panggilan seorang beriman dan perjuangannya untuk beroleh mahkota kemuliaan. Lepaskanlah dirimu dari persahabatan dengan dosa. Engkau tentu saja mengenal dirimu sendiri, dan tahu betul beban apa, halangan terberat seperti apa, atau cacat dan kedosaan manakah, yang selama ini telah menghalangi kamu untuk melangkah maju menuju Allah. Entah itu dosa kerakusan, penyangkalan kuasa Allah, pornografi, nafsu seksual yang menyimpang, iri hati, kebiasaan bergosip, atau apapun bentuk dosa itu, “Lepaskanlah!”, “Bertobatlah!”. Beranilah berkata “Tidak” kepada si jahat, dan jawablah “Ya” kepada Allah. Sesudah engkau berani “melepaskan“, maka Tuhan akan menggantikan “beban” itu dengan memberimu suatu “kuk“. Kuk ini sungguh berbeda dengan beban, karena bila beban membuatmu berhenti berjalan menuju Allah, maka kuk ini bagaikan sepasang sayap yang akan membuatmu melesat dan terbang tinggi bagai rajawali, yang menjadikan perjalananmu menuju Allah terasa enak dan lebih ringan. Tentu saja rupa-rupa halangan dan rintangan lainnya akan tetap ada, akan selalu ada binatang buas yang mencoba menerkam kamu di sepanjang perjalanan. Namun, dengan kuk yang dipasang Tuhan atasmu, serta dengan komitmen teguh untuk memikul salib yang diletakkannya atas bahumu, engkau akan terus berjalan maju diterangi sukacita Injil, dan pada akhirnya akan tiba pada tujuan akhir perjalananmu, yaitu beristirahat bersama Allah. Jiwa kita tidak akan pernah beroleh ketenangan, sebelum beristirahat di dalam Dia. Belajarlah dari Hati Tuhan yang lemah lembut dan rendah hati, maka jiwamu akan senantiasa beroleh ketenangan. Panggilan kita adalah panggilan untuk melepaskan segala, untuk beroleh Allah, Sang Segala. Semoga Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, melindungi kita dalam mantol ke-Ibu-annya, dan menjadi bagaikan Bintang Timur yang menuntun kita menuju Yesus, Putranya. Per Mariam ad Iesum.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian, 19 Juli 2017 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XV

KEMESRAAN DAN SEMBAH BAKTI


Bacaan:

Kel.3:1-6.9-11; Mzm.103:1-2,3-4,6-7; Mat.11:25-27


Renungan
:

Hidup kita adalah untuk menyatakan kemuliaan Allah. Luapan hati seorang beriman untuk memuji Dia, bersumber dari kesadaran dan keterpesonaan akan karya Allah yang dinyatakan dalam hidupnya. Namun, kita seringkali gagal menyadari karya Allah yang bekerja di setiap detik kehidupan kita. Kebijaksanaan dan kepandaian duniawi tak jarang mengaburkan pandangan rohani kita untuk melihat bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu, bahkan melalui perkara-perkara yang terlampau kecil dan sederhana dalam pandangan kita. Dia berkarya di setiap hembusan nafas kita, mulai dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, melalui senyum sapa yang kita terima dari sesama. Kehadirannya nampak dalam ciptaan seperti lebah madu yang mengambil sari bunga di taman atau kicauan burung gereja, dalam tetesan embun pagi di dedaunan pohon, melalui kerja keras para buruh di pabrik dan para pekerja yang masuk ke lorong-lorong gelap di pertambangan, bahkan dalam tugas sederhana seorang ibu rumah tangga yang mempersiapkan makan malam di ruang makan bagi suami dan anak-anaknya. Tanpa jatuh dalam “pantheisme“, hendaknya disadari oleh kita semua bahwa Allah hadir dan berkarya di dalam segala sesuatu. Kaum bijak dan pandai seringkali gagal memahami kebenaran ini.

Itulah sebabnya karya Allah yang indah dalam segala hal, hanya dapat dilihat, dimengerti, dan disyukuri oleh mereka yang kecil dan sederhana, mereka yang rendah hati, yang karena kesadaran akan semuanya itu kemudian berseru, “Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!” (Mzm.103:1)
Mereka yang bergaul mesra dengan Allah, adalah mereka yang sanggup melihat karya-Nya dalam segala. Dengan demikian, dapat pula dikatakan bahwa mereka yang mencintai Allah dalam segala, adalah pula mereka yang dalam kuasa cinta juga meratapi kecenderungan jahat manusia yang merusak segala. Ensiklik Laudato Si’, yang dimaklumkan Bapa Suci Paus Fransiskus, merupakan panggilan Gereja yang menyerukan umat manusia untuk memandang dan mencintai Allah dalam segala, dalam karya ciptaan-Nya.

Perjumpaan Musa dengan Allah dalam rupa semak-belukar yang bernyala, seolah mengingatkan kita, bahwa semakin kita merusak alam ciptaan, kita pun akan semakin sulit berjumpa dan memandang Allah dalam karya ciptaan-Nya. Seorang tidak bisa mengatakan bahwa ia telah bergaul mesra dengan Allah, atau menyebut dirinya seorang insan Allah, seorang pendoa, seorang rasul Kristus, kalau pada kenyataannya ia tidak memiliki kepedulian akan lingkungan hidup, merusak alam semesta, menghilangkan jejak-jejak Allah dalam karya ciptaan-Nya. Sama seperti Musa yang terdorong hormat dan sembah bakti sambil menutupi wajah-Nya juga menanggalkan kasutnya untuk mendekati Allah dalam semak-belukar yang bernyala, demikian pula ketika seorang beriman mendekati Allah dan bergaul mesra dengan-Nya, sikap dan cara bergaulnya dengan Allah akan semakin penuh hormat dan ditandai sembah bakti yang sungguh nampak melalui hidup dan karyanya. Dia akan bersikap lebih hormat untuk menyambut Komuni Kudus dan tanpa ragu berlutut di hadapan keagungan Allah yang ia sambut dengan lidahnya, berusaha memelihara alam ciptaan agar dapat tetap melihat jejak-jejak Allah dan berjumpa dengan-Nya, dengan berani membela martabat hidup dan menentang segala bentuk pembenaran medis maupun sosial untuk melenyapkan hidup, serta melakukan banyak tindakan heroik beriman lainnya. Ia akan memiliki hati seperti Hati Allah. Segala karya yang ia lakukan akan memiliki motif adikodrati dan bernilai pengudusan. Inilah kemesraan dan sembah bakti yang sejati, suatu kurban yang harum dan berkenan di Hati Allah. 

Ya Santa Perawan Maria, engkaulah cermin kekudusan tahta kebijaksanaan. Tuntunlah kami dengan kasih keibuanmu untuk merindukan kemesraan dengan Allah, mendekati Dia penuh hormat dan sembah bakti.

Regnare Christum volumus!

 Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian, 17 Juli 2017 ~ Senin dalam Pekan Biasa XV

LEBIH DARI SEGALANYA

Bacaan:

Kel.1:8-14.22; Mzm.124:1-3.4-6.7-8; Mat.10:34-11:1

Renungan:

Panggilan mengikuti Tuhan di jalan-Nya membawa seorang beriman pada tuntutan suci, untuk menempatkan Allah serta mengasihi Dia di atas segala-galanya, jauh melampaui cinta bakti kepada orang tua serta semua yang terdekat di hati, dan melepaskan kelekatan akan segala sesuatu yang disebut sebagai harta milik, serta menyerahkan diri dengan hati tak terbagi dan tanpa syarat pada desakan untuk mendahulukan kehendak Allah, melebihi segala harapan dan cita-cita yang kamu dambakan dalam kesementaraan dunia ini. “Haruskah saya menaati mereka yang membesarkanku dan kehilangan Dia yang menciptaku?” Inilah pertanyaan St. Agustinus dari Hippo yang dapat menjadi dasar permenungan kita akan tuntutan Injil hari ini. Kenyataan bahwa kita tercipta karena Cinta, sudah lebih dari cukup sebagai alasan bagi kita untuk mempersembahkan segenap hidup kita bagi kemuliaan-Nya. Sembah bakti kita secara total dan mutlak kepada Allah, sama sekali tidak menimbulkan pertentangan antara hukum pertama dan keempat dari “Dekalog“, malah semakin memperjelas tatanan relasi manusia dengan Allah dan sesamanya dalam karya keselamatan. 

Maka, sangatlah disayangkan apabila kita harus menutup mata, telinga dan hati terhadap panggilan Tuhan yang lemah lembut, hanya karena kita tidak ingin mengecewakan orang tua, mereka yang terdekat di hati, atau lebih menyedihkan lagi, bilamana kita mengabaikan kehendak Allah hanya karena tidak sanggup kehilangan persahabatan dengan dunia. Itulah sebabnya, panggilan Kristiani menuntut pula kehendak bebas manusia untuk mengalami kemiskinan roh, suatu bentuk pengosongan diri, sebagaimana terlebih dahulu dilakukan oleh Kristus sendiri, Putra Allah dan Tuhan kita. Kalau seorang rasul Kristus sungguh merindukan surga dan persatuan sempurna dengan Allah, biarlah hatinya tidak melekat pada apapun selain Allah. “Solo Dios Basta – Allah saja Cukup“, demikian kata St. Teresa dari Avila.

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat.10-38-39). Kendati demikian, “Jangan takut!” Kuatkan hatimu dan buatlah keputusan heroik beriman untuk merangkul, menapaki jalan-Nya, tergantung, bahkan mati di salib demi Allah dan Kehendak-Nya. Lebih baik kamu kehilangan seluruh dunia dengan segala kemuliaan yang ditawarkannya, daripada kehilangan Allah dan ganjaran kehidupan kekal. Lebih baik berjalan bersama Tuhan di tengah kegelapan, daripada berjalan sendirian tanpa Tuhan di tengah cahaya. “Adiutorium nostrum in nomine Domini qui fecit caelum et terram” (Mzm.124:8). Semoga Santa Perawan Maria, Ratu para pengaku iman, menyertai jalan panggilanmu menuju Putranya.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian, 15 Juli 2017 ~ Sabtu dalam Pekan Biasa XIV

TAKUTMU BEDA DENGAN TAKUTKU

Bacaan:

Kej.49:29-32 dan 50:15-24; Mzm.105:1-2.3-4.6-7; Mat.10:24-33

Renungan:

Perasaan takut punya kuasa yang besar. Seorang dapat menjadi sangat cemas atau melarikan diri karena rasa takut. Akan tetapi, rasa takut dapat pula menghantar kita untuk berdiri teguh dalam iman, dan melakukan tindakan-tindakan heroik sebagai ungkapan nyata dari iman kita. Berlawanan dengan si jahat yang menanamkan benih ketakutan, dan membuat banyak orang berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan nyawanya, sambil menghambakan diri kepada kedagingan; rasa takut yang suci akan Allah adalah obat penawar, yang melenyapkan ketakutan akan kehilangan nyawa. Rasa takut yang suci akan Allah membuahkan kebijaksanaan, kedewasaan rohani, dan discernment yang tepat dalam menjalani hidup. Darinya lahir keberanian yang luar biasa untuk menjadi saksi-saksi kebangkitan, rasul-rasul Kristus yang berani mewartakan Injil sampai ke ujung bumi, serdadu-serdadu Kristus yang siap-sedia menghalau kegelapan dan maju dalam pertempuran iman secara heroik. Bersaksilah melalui hidupmu kekristenanmu yang sungguh-sungguh memantulkan cahaya kemuliaan Tuhan. Hindarilah segala perbuatan yang dapat menciderai karya Allah di dalam dan melalui dirimu, kemudian mulailah lebih giat lagi bersaksi akan karya-karya mengagumkan yang dikerjakan-Nya di dalam dan melalui dirimu. 

Apapun profesi hidupmu, mulailah melihat panggilan adikodrati di dalamnya. Hidupmu adalah Altarmu di hadapan Tuhan. Kamu adalah rekan kerja Allah dalam karya keselamatan dunia. Persembahkanlah hanya keharuman di atas Altar kerjamu itu, bukan kejahatan dan perbuatan lainnya yang tidak berkenan di Hati Tuhan. Tentu ini bukanlah suatu pemberian hidup tanpa risiko. Tak jarang kamu dapat kehilangan kehormatan, karir cemerlang, sahabat, harta milik, keluarga, segalanya, bahkan nyawamu sendiri. Tetapi disinilah letak keindahan panggilan kristiani kita, yaitu “melepaskan segala demi beroleh Kristus, Sang Segala“, kata St. Yohanes dari Salib. Jangan takut! Wartakanlah apapun juga risikonya. Takutlah akan Tuhan yang mengingatkan kita bahwa, “Barangsiapa mengakui Aku di hadapan manusia, dia akan Kuakui juga di depan Bapa-Ku yang di surga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, dia akan Kusangkal di hadapan Bapa-Ku yang di surga” (Mat.10:32-33). Ketakutan sejati selalu berbuah cinta bakti serta penyerahan diri seutuhnya kepada Allah dan kehendak-Nya. Kamu dipanggil dari tengah dunia untuk menjadi saksi-saksi dari Karya Allah.

Temukanlah kekuatan untuk berani menjadi saksi-saksi Kristus di dalam Sakramen Ekaristi. Itulah Roti Kehidupan yang menyempurnakan hidup doamu, mati raga, laku tapa, dan segala karya kerasulanmu. Seberapa dalam persatuan cintamu dengan Allah adalah faktor utama, yang sangat menentukan apakah pertempuranmu melawan si jahat dapat dimenangkan atau tidak. Pandanglah Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, gambaran kesempurnaan Gereja. Hidupnya adalah teladan yang paling mengagumkan dari hidup seorang hamba Tuhan. Hidup yang senantiasa diliputi sukacita di tengah hujaman pedang dukacita, karena dia selalu menjawab “Ya” kepada Allah, dan “Tidak” kepada si jahat. Kiranya dengan kelembutan kasih keibuannya, kita dituntunnya masuk dalam awan kemuliaan Tuhan, ke dalam pergaulan yang penuh hormat dengan Dia, untuk kemudian sujud menyembah dalam ketakutan yang suci di hadirat-Nya. Santa Maria dari Gunung Karmel, doakanlah kami.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥