Meditasi Harian 24 Maret 2017 ~ Jumat dalam Pekan III Prapaskah

CINTA SELALU PUNYA CARA
Bacaan:

Hos.14:2-10; Mzm.81:6c-8a.8b-9.10-11b.14.17; Mrk.12:28b-34

Renungan:

Dengan berbagai cara serta melalui berbagai situasi hidup, Allah selalu berusaha mengungkapkan cinta-Nya kepada kita. Disadari atau tidak, disyukuri atau tidak, bahkan sekalipun kita sama sekali tidak pantas memperolehnya, cinta Tuhan selalu menemukan jalan untuk masuk dan menembus hati manusia. Hosea dalam bacaan pertama hari ini memberi kesaksian akan cinta Tuhan kepada Israel, serta mengingatkan mereka untuk berbalik dari kesalahan mereka. Pada akhirnya, bangsa Israel pun menyadari bahwa bergantung pada dunia adalah kesia-siaan. Percuma mengharapkan persahabatan dengan dunia, bila karenanya kita harus kehilangan kemesraan cinta dengan Allah. 

Tidak ada cinta yang lebih besar selain cinta Tuhan Allah. Lihatlah betapa Dia begitu mengasihi kita, sehingga rela memberikan Putra-Nya sendiri, sebagai kurban pendamaian dosa-dosa kita. Itulah sebabnya, setiap kali seorang beriman merenungkan Jalan Salib dari Tuhan kita Yesus Kristus, adalah suatu kegilaan bila karenanya kita tidak tersungkur dengan hati remuk redam penuh penyesalan dan rasa syukur. Betapa malangnya jiwa yang menolak memandang kemanisan Salib. Dan ketahuilah ini, seberapapun jauhnya kamu melarikan diri, Tuhan selalu punya cara untuk menemukanmu di persimpangan hidup. Dia selalu sanggup mengubahnya menjadi persimpangan Salib yang menyelamatkan. Jika Dia bisa menemukan Longinus, Paulus, Agustinus, Fransiskus dari Assisi, Ignasius dari Loyola, Dorothy Day, dan tak terbilang banyaknya orang pada persimpangan hidup mereka, yakinlah, Dia yang sama pasti juga bisa menemukanmu. 

Pertanyaannya, “Maukah kamu menjawab ‘Ya’ ketika ditemukan oleh-Nya?” Kita yang saat ini berada dalam kubangan dosa, “Maukah kita menerima uluran tangannya untuk ditarik keluar?” Dengan demikian, kita menemukan suatu kenyataan iman yang jelas, yaitu pertobatan menuntut kerelaan untuk kembali menapaki jalan Tuhan. Ini bukan paksaan, melainkan suatu keputusan yang harus dilakukan dengan kehendak bebas. Olehnya, kita memperoleh keberanian untuk mendekati Altar Tuhan, dan menerima Dia, Sang Roti Kehidupan, serta diubahkan oleh daya hidup Ekaristi, karena hati kita tidak lagi menuduh kita. Itulah cinta yang sejati. Inilah belas kasih Tuhan yang melampaui pengertian, bukannya belas kasih palsu yang membenarkan hidup dalam dosa, melainkan belas kasih yang membebaskan serta mengubahkan hidup, karena si pendosa yang kembali pulang ke rumah, telah mengalami sentuhan rahmat Tuhan yang mempesonakan. Dengan demikian, kita akan mulai melihat dunia secara baru, dan dengan mata belas kasih Tuhan, kita mulai mencintai sesama dan alam semesta seutuhnya, karena hati kita yang terluka karena cinta, kini telah menemukan kesembuhan di dalam hati Tuhan.

Semoga Perawan Maria yang terberkati, senantiasa menyertaimu dengan kasih keibuannya, agar tapak-tapak deritamu diubahkan menjadi tapak-tapak cinta. Tuhan selalu punya cara menemukanmu. Sekarang, mulailah juga dengan segenap daya upaya mencari dan membiarkan dirimu ditemukan oleh-Nya. “Aku menjawab engkau dengan bersembunyi di balik badai…Dengarkanlah suara-Ku.” (bdk.Mzm.61:8-9)

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 6 Juli 2016 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XIV

DARI BIASA MENJADI LUAR BIASA


Bacaan:

Hos.10:1-3.7-8.12; Mzm.105:2-3.4-5.6-7; Mat.10:1-7


Renungan:

Di sepanjang sejarah keselamatan kita menemukan, bagaimana Allah secara amat personal memilih orang-orang “biasa” dalam pandangan manusia, untuk melakukan perkara-perkara “luar biasa” dalam Nama-Nya. Demikian pula yang terjadi saat Tuhan kita memilih 12 Rasul, yang diserahi tugas untuk menyatakan, “Kerajaan Sorga sudah dekat” (Mat.10:7). Bahwa satu di antara ke-12 Rasul pada akhirnya mengkhianati Dia, sebenarnya menunjukkan pula kerapuhan kemanusiaan akibat dosa dan kegagalan menanggapi panggilan Allah. 

Maka, ketika di kemudian hari para Rasul ini (dengan segala keberadaan dan kerapuhan yang ada) menjadi saksi-saksi Kebangkitan, dan darah mereka menjadi ladang subur bagi tumbuhnya Gereja Perdana, yang juga dengan gilang-gemilang memancarkan cahaya sukacita Injil lewat hidup dan kemartiran mereka; siapapun yang melihat atau mendengar bagaimana mereka menjalani hidup beriman secara heroik dan otentik, akan memberikan pujian, hormat dan kemuliaan bukan kepada para rasul atau jemaat perdana, melainkan kepada Allah yang telah berkarya begitu dashyat dan mengagumkan di dalam dan melalui hidup mereka semua. 

Inilah  panggilan kita, “menjadi rasul-rasul Kristus“. Panggilan yang bukan berujung pada kefanaan, melainkan kebakaan. Mereka yang menabur dalam keadilan, pada akhirnya akan menuai kasih setia (bdk.Hos.10:12). Nyatakanlah Kerajaan Allah dengan hidupmu yang dijalani sedemikian rupa, sehingga mendatangkan pengenalan dalam kekaguman akan Kristus. 

Kalau kita, yang dipanggil dari keadaan dunia yang “biasa“, sungguh rindu untuk melakukan karya-karya “luar biasa” di dalam Nama-Nya, dan demi kemuliaan-Nya, maka ada satu keutamaan yang harus kita minta dari-Nya. Mintalah karunia “kerendahan hati” untuk selalu bersedia dibentuk Tuhan. Dengan demikian, kita akan selalu sanggup menerima tugas kerasulan apapun yang diberikan dari tangan kemurahan Tuhan, dalam kesadaran bahwa diri kita semata-mata hanyalah alat, kompas yang senantiasa menunjuk ke Utara, kepada Allah. Kristuslah yang harus dikenal, bukan kita. Kerajaan-Nyalah yang hendaknya diwartakan, bukan agenda pribadi kita. 

Kegagalan Yudas Iskariot di jalan kerasulan hendaknya mengingatkan kita bahwa segala yang kita miliki berasal dari Allah, bukan karena kekuatan dan kehebatan kita belaka. “Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!” (Mzm.105:4). Jalan kerasulan akan selalu mendatangkan sukacita, dan langkah ke sorga terasa begitu ringan, bila dijalani dengan kerendahan hati. Sebab benarlah kata St. Paulus Rasul, “Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2Kor.4:7).

Semoga Santa Perawan Maria, Ratu para Rasul, menyertai jalan kerasulan kita dengan kasih keibuannya, agar seluruh bangsa menerima kabar sukacita dari Allah. “Kerajaan Sorga sudah dekat“. Sudah waktunya untuk mencari Tuhan (bdk.Hos.10:12).

Regnare Christum volumus!



Fidei Defensor ~ Fernando

Meditasi Harian 3 Februari 2016 ~ Rabu dalam Pekan Biasa IV

image

KEAKRABAN MEMADAMKAN CINTA

Bacaan:
2Sam.24:2.9-17; Mzm.32:1-2.5.6.7; Mrk.6:1-6

Renungan:
Salah satu penghalang bagi Karya Allah dalam hidup kita adalah kelekatan. Dalam Injil hari ini, kita mendapati suatu bentuk kelekatan yang seringkali membutakan mata rohani seseorang terhadap sapaan Tuhan, yaitu “keakraban“.
Ada pepatah dari dunia Barat yang mengatakan, “familiarity breeds contempt“, yaitu bahwa keakraban atau kedekatan kita dengan seseorang, jika dijalani secara keliru, seringkali dapat berbuah pada penolakan, kebencian, dan rasa tidak hormat terhadap diri orang itu.
Inilah yang dialami oleh Tuhan kita Yesus Kristus, ketika dia kembali ke kampung halamannya, Nazaret.
Sanak-saudara-Nya dan warga sekampungnya justru menolak Karya Allah yang diwartakan-Nya, semata-mata karena mereka “beranggapan” bahwa mereka telah begitu mengenal siapa Dia, seluk-beluk kehidupan-Nya, masa lalu-Nya, keluarga dan profesi-Nya, sebagaimana terungkap dalam kata-kata mereka, “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita? Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.” (Mrk.6:3)

Dalam karya kerasulan, keakraban dapat menjadi rintangan bagi sukacita Injil untuk dialami. Anda menolak kabar sukacita semata-mata karena telah begitu mengenal hidup “manusiawi” seseorang, sampai gagal melihat karya “Ilahi” yang sedang bekerja dalam dirinya. Anda takjub dan heran akan karya ajaib dan buah-buah Roh yang dihasilkannya, tetapi menolak diubahkan oleh-Nya, sehingga tidak dapat mengalami mukjizat Tuhan yang seharusnya juga terjadi dalam hidupmu.
Kegagalan yang bersumber dari keakraban yang “cacat rohani” seperti ini, pada akhirnya menjadi sumber kebencian, perpecahan, kegersangan, kekurangan sukacita, ketiadaan kasih, dan kehilangan buah-buah Roh. Seperti penyakit yang menggeroti hidup beriman dan menggereja, yang memadamkan Api Roh dan merintangi Karya Allah.

Belajarlah memiliki kerendahan hati, kepekaan rohani, dan “kasih persaudaraan” yang sejati. Dengan demikian keakraban atau perasaan sudah begitu mengenal, tidak menjadi penghalang bagi Karya Allah dinyatakan dalam hidupmu, keluargamu, lingkungan kerjamu, komunitasmu, parokimu, dan berbagai peristiwa hidup lainnya.
Dalam karya kerasulan, milikilah kebijaksanaan untuk menyadari bahwa dibalik “dia” yang begitu kamu kenal, ada “DIA” yang sejak awal penciptaan telah mengenal kamu, jauh melebihi orang-orang yang terdekat sekalipun.
Jangan mengandalkan pengertian sendiri, dan mulailah menaruh kepercayaan pada gerak cinta Tuhan, yang seringkali justru bergerak dengan kegerakan yang di luar apa yang kamu pikir telah kamu ketahui secara “pasti“.
Belajarlah dari mukjizat St. Blasius, bahwa seringkali “tulang ikan” yang menghambat “tenggorokan rohanimu” untuk menjawab “Ya” pada Allah, berawal dari kerakusanmu untuk menelan utuh berbagai peristiwa hidup, tanpa mengunyahnya secara perlahan dan bijaksana, sehingga gagal berbuah “kontemplasi“.

Semoga kita senantiasa memiliki hati seperti Ibu Maria. Dia begitu mengenal siapa Tuhan Yesus, Putranya, melebihi siapapun. Tetapi, keakrabannya dengan Sang Putra adalah keakraban yang bersumber dari “Cinta Sejati”, dari hati seluas samudera, yang sekalipun takjub dan heran, tidak berbuah penolakan, tetapi “memandang dalam kuasa cinta“, membenamkannya dalam lautan kerahiman, menyimpannya dalam hati yang mencinta, sehingga hidupnya diubahkan oleh Sang Cinta.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 19 Januari 2016 ~ Selasa dalam Pekan Biasa II

image

PENGHAKIMAN YANG BERBELAS KASIH

Bacaan:
1Sam.16:1-13; Mzm.89:20.21-22.27-28; Mrk.2:23-28

Renungan:
Who am I to judge?” adalah pernyataan Paus Fransiskus yang dianggap kontroversial oleh banyak orang, baik di dalam maupun di luar Gereja Katolik. Tak sedikit pula orang yang kemudian menggunakan pernyataan singkat ini untuk saling menuding kelompok lain sebagai bersalah, ada juga yang menjadikan kata-kata Paus ini sebagai pembenaran atas posisi dan pilihan hidup mereka.
Belajar dari bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini, kita diingatkan bahwa penghakiman yang terburu-buru, seringkali justru dapat merintangi Karya Allah.

Samuel menggunakan pengertiannya sendiri untuk menilai siapa yang layak diurapi sebagai seorang raja. Dia lupa bahwa, “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1Sam.16:7)
Dalam hidup beriman, kita pun pernah mendapati saat-saat dimana pengertian pribadi yang terpisah dari relasi pribadi nan mesra dengan Allah dalam doa, seringkali berujung pada pilihan-pilihan yang tidak tepat dan keliru.
Dalam Injil hari ini, kita juga mendapati bentuk kegagalan beriman serupa, dalam diri orang-orang Farisi. Mereka begitu mengagung-agungkan Hukum Tuhan, sehingga Hukum Tuhan yang sejatinya membebaskan, justru dijalankan sebagai belenggu bagi orang banyak, sebagai dasar untuk menyerang Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya. Perintah Allah ditaati kata demi kata, detik demi detik, tetapi pada kenyataannya hanya dijadikan sebagai aturan hidup di kulit saja, tetapi tidak mengubah hati.
Lebih baik menaati Hukum Tuhan dan membiarkan orang kelaparan, daripada dengan murah hati memberi makan kepada mereka yang lapar. Sikap pertama berasal dari kegagalan mengenal Allah dan kehendak-Nya, sedangkan sikap kedua bersumber dari pengalaman cinta akan Allah dalam doa, dimana hati meluap-luap dalam cinta dan kehausan akan jiwa-jiwa, karena kesadaran bahwa Allah sendiri telah menciptakan setiap orang menurut gambar dan rupa-Nya.

Marilah di tahun Yubileum Kerahiman ini, dalam kesatuan dengan Bapa Suci di Roma, kita kembali melihat arti panggilan Kristiani kita, yaitu suatu panggilan untuk menghakimi dengan berbelas kasih; untuk bermurah hati kepada sesama, sebagaimana Allah Bapa kita adalah murah hati; untuk melayani, mengampuni, dan mengasihi, sebagaimana Allah telah lebih dahulu melakukan gerak cinta yang sama kepada kita semua.
Dengan demikian, Hukum Tuhan tidak disalahartikan sebagai serangkaian aturan yang membebani, melainkan sebagai pedoman hidup menuju kebebasan sejati anak-anak Allah, dimana karunia Iman benar-benar menjadi sukacita yang tak terkatakan, suatu perjumpaan dengan Allah yang hidup, Yang memanggil kita untuk memberi hidup bagi sesama, serta menjadi saluran rahmat Allah bagi dunia.
Semoga Bunda Maria, Perawan yang amat bijaksana, membimbing kita untuk mencintai kebijaksanaan, yang bersumber dari relasi cinta dengan Putranya, Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 16 Januari 2016 ~ Sabtu dalam Pekan Biasa I

image

CINTA KOTAK-KOTAK

Bacaan:
1Sam.9:1-4.17-19~10:1a; Mzm.21:2-3.4-5.6-7; Mrk.2:13-17

Renungan:
Kaum ortodoks Yahudi pada zaman Tuhan Yesus punya kebiasaan untuk memisahkan semua orang menjadi 2 kelompok: mereka yang dengan sangat ketat menaati Hukum Musa dari menit ke menit, dan mereka yang tidak melakukannya.
Kelompok kedua dianggap warga kelas dua. Kaum ortodoks menghindari pergaulan dengan mereka, menolak berbisnis dengan mereka, menolak pemberian apapun dari mereka, melarang pernikahan dengan mereka, dan menolak menghadiri perayaan apapun bersama mereka, termasuk perjamuan makan.
Inilah latar belakang yang membuat kita mendapat gambaran yang jelas akan kenapa para ahli Taurat dan orang Farisi mempertanyakan Tuhan Yesus yang makan bersama para pemungut cukai dan orang berdosa.
Jawaban Tuhan Yesus sederhana, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit!” (Mrk.2:17)

Kekristenan adalah panggilan untuk “menyembuhkan“. Panggilan ini menuntut kerendahan hati untuk mengampuni ketika disakiti, mengasihi sekalipun tidak dihargai, dan melihat semua orang, siapapun dia, sebagai berharga di mata Tuhan. Kenyataan bahwa manusia diciptakan seturut gambar dan rupa Allah (Imago Dei), seharusnya menyadarkan kita bahwa sesulit apapun itu, kita dipanggil untuk memandang dan mengasihi wajah Allah dalam diri sesama.
Cinta tidak pernah boleh bersyarat, cinta tidak berada dalam batasan kotak-kotak. Tidak ada dalam kamus kekristenan, bahwa kita hanya perlu bergaul dengan mereka yang hidupnya sempurna saja, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” (Roma 3:23)

Tuhan dan Penyelamat kita telah menunjukkan teladan yang sangat jelas. Dia datang ke dunia untuk menyelamatkan “kita semua“, tanpa kecuali. Dalam kesadaran ini, marilah kita merenungkan hidup kita, keluarga, sahabat, kenalan, rekan kerja, komunitas, dan kebersamaan apapun yang kita miliki. Hadirlah bersama mereka yang terucapkan, terpinggirkan, diperlakukan tidak adil, diasingkan, tidak dimengerti, dan dianggap sampah oleh masyarakat. Hadirlah dengan hati yang mencinta, dan bawalah cahaya Iman dalam hidup mereka, agar mereka mengalami belaskasih Bapa melalui hidup dan karyamu sebagai rasul Kristus yang sejati. Kita semua adalah manusia yang tidak sempurna yang dipanggil untuk mencintai sesama yang tidak sempurna, secara sempurna.
Hidup itu penuh warna, jangan dijadikan satu warna. Belajarlah melihat wajah Allah dalam setiap bentuk kehidupan. Bahwa benar ada kecenderungan dosa dalam diri setiap orang, hendaknya tidak membuat kita lupa bahwa, “Bencilah dosa, tetapi cintailah pendosa.” Demikian kata St. Isaac dari Syria.
Itulah sebabnya kita selalu memerlukan bantuan rahmat Allah, hembusan Roh-Nya dalam hidup kita, untuk memurnikan cinta kita.
Mulailah melayani lebih sungguh, mengasihi lebih sungguh, dan mengampuni lebih sungguh.

Semoga Perawan Suci Maria, yang sekalipun hatinya dihembusi pedang dukacita, tetapi tetap dipenuhi sukacita Iman, boleh menjadi teladan cintakasih. Semoga Bunda kita membimbing kita dengan kasih keibuannya, untuk mengenal dan merangkul cinta tak bersyarat, bukan cinta kotak-kotak. Cinta yang selalu bisa melihat gambar dan rupa Allah dalam diri sesama. Dengan hatimu yang berkobar-kobar dalam cinta akan Allah, bawalah semua orang untuk mengalami belas kasih Bapa, dan bimbinglah tangan mereka untuk menyentuh Hati-Nya.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 15 Januari 2016 ~ Jumat dalam Pekan Biasa I

image

IMAN GAYA NEKAT

Bacaan:
1Sam.8:4-7.10-22a; Mzm.89:16-17.18-19; Mrk.2:1-12

Renungan:
Ada kalanya tindakan iman itu beda tipis dengan berbuat nekat. Atau mungkin lebih tepat dikatakan bahwa “terkadang“, untuk mengalami mujizat atau pertolongan Tuhan, entah bagi diri sendiri maupun bagi orang lain, kita perlu melakukan hal-hal nekat untuk menggerakkan hati Tuhan.
Penderita kusta yang mendekati Yesus (bacaan kemarin), perempuan yang sakit pendarahan yg menerobos kerumunan untuk menjamah jumbai jubah Tuhan, Zakheus yang mendaki pohon, dan dalam Injil hari ini, keempat orang yang membuka atap untuk menurunkan si lumpuh tepat di depan Tuhan Yesus.

Injil hari ini menyuarakan pesan yang sangat kuat bagi mereka yang melakukan karya kerasulan jiwa-jiwa. Masih ada begitu banyak orang di dunia ini yang belum mengenal dan mengimani Tuhan. Bahkan dalam kalangan mereka yang menyebut diri beriman pun, kita menemukan hidup yang suam-suam kuku.
Injil hari ini adalah tamparan bagi kita yang menyebut diri rasul-rasul Kristus, para pekerja di kebun anggur-Nya, hamba-hamba Allah yang setia.
Kita dipanggil bukan hanya memenangkan jiwa kita, tetapi membawa sebanyak mungkin jiwa kepada Allah.

Oleh karena itu, sama seperti keempat orang dalam bacaan Injil hari ini, kita pun diminta untuk memiliki sikap beriman gaya nekat. Melakukan segala cara yang mungkin untuk membawa semua orang pada pengenalan sejati akan Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus. Mereka yang seperti “orang lumpuh“, yang tidak dapat menjumpai Tuhan dengan kekuatannya sendiri.
Hai para rasul Kristus. Inilah panggilan luhur kita. Untuk membawa mereka semua menemukan Tuhan, disentuh oleh-Nya, dan beroleh kesembuhan dari-Nya. Kesembuhan sejati yang mendatangkan keselamatan, tidak hanya bagi tubuh, melainkan terutama bagi jiwa. Kamu dipanggil untuk menebarkan jala dan menangkap sebanyak mungkin jiwa-jiwa bagi Tuhan.

Ini bukanlah suatu panggilan baru, yang serta merta menuntutmu mengambil profesi yang sama sekali baru. Sama sekali tidak. Kamu masih tetap menjalani karyamu saat ini, entah seorang ibu rumah tanggal, petugas kebersihan, polisi, dokter, pengusaha, guru, mahasiswa, atau profesi apapun. Tetapi kamu dipanggil untuk melakukan semua itu dengan kesadaran, bahwa di balik itu semua, panggilan Kristiani menuntutmu untuk memberi nilai Ilahi di dalam segenap hidup dan karyamu. Lakukanlah semuanya itu dengan dedikasi dan semangat misioner untuk membawa orang-orang yang kaujumpai dalam perjalanan, kepada pengenalan akan Kristus, kepada hidup beriman.
Kamu paling tahu siapa orang-orang di sekitarmu yang belum mengenal Tuhan, yang memerlukan Tuhan, yang bagaikan orang-orang lumpuh dan tidak bisa melangkah menuju Tuhan tanpa bantuan.
Untuk merekalah kamu dipanggil. Lakukan segala cara yang baik dan benar, agar mereka pun boleh merasakan sukacita Injil, sebagaimana yang telah kamu alami. Tugas adalah menjadi alat-alat Tuhan, rasul-rasul-Nya, untuk mendatangkan keselamatan atas hidup mereka.
Cintamu hanya cinta yang kerdil bila engkau tidak bersemangat menyelamatkan semua jiwa. Cintamu miskin bila engkau tidak berhasrat untuk menulari rasul-rasul lain dengan kegilaanmu.” Demikian kata St. Josemaría Escrivá.

Jangan Takut! Bila engkau sungguh memiliki niat suci untuk merasul dan memenangkan jiwa-jiwa, dengan hidup doa yang tekun dan dengan bantuan rahmat-Nya, Allah akan selalu sanggup membuat jala-jala kerasulanmu dipenuhi dengan keberhasilan. Ingatlah pula, bahwa kamu mempunyai seorang Ibu, Perawan Suci Maria, Ratu para Rasul. Dia yang selalu setia menyertaimu dengan doa dan kasih keibuannya. Dialah pula yang akan menjadi penolong yang sejati dalam karya kerasulanmu.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++