Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan Biasa XI

image

KEKRISTENAN ADALAH CINTA

Bacaan:
2Kor.8:1-9; Mzm.146:2.5-6.7.8-9a; Mat.5:43-48

Renungan:
Nietzsche, seorang filsuf ateis terkemuka, pernah mengajukan pertanyaan kritis yang sungguh amat mengena mengenai Iman Kristiani. Beliau mengatakan, “Kalau orang-orang Kristen menghendaki agar kita percaya akan Sang Penebus mereka, mengapa mereka tidak sedikit lebih menunjukkan, bahwa mereka benar-benar telah ditebus?
Kritik Nietzsche seolah menemukan dasar pijakan ketika diperhadapkan pada kenyataan bahwa seringkali kita, yang berbangga telah ditebus dan diselamatkan oleh Tuhan, justru berperilaku seperti orang yang tidak ditebus dan diselamatkan, serta menjalani hidup seakan-akan tidak pernah mengenal Tuhan.
Kita menyapa Allah sebagai Cinta (Kasih), dan dalam doa-doa pribadi terkadang terlalu menuntut Dia untuk mencintai kita, seakan-akan cinta-Nya masih kurang, padahal kita sendiri justru enggan berbelas kasih terhadap sesama, dan mencinta secara bersyarat.
Cinta tidak serta-merta sama dengan berbuat baik, karena berbuat baik dapat saja dilakukan tanpa harus didasarkan oleh cinta.
Cinta berarti mempedulikan keberadaan hidup orang lain, menerima diri mereka seutuhnya, termasuk borok-borok mereka, serta memperhatikan mereka dengan tulus. Ini berarti pula memberikan diri, meskipun terkadang harus mengorbankan diri. Bahkan, dapat saja terjadi bahwa cinta sejati membawa kita untuk kehilangan hidup, agar dapat memberi hidup.
Cinta sejati menuntut kesediaan untuk melupakan diri, suatu pengingkaran diri.
Kita hanya dapat menemukan diri dengan jalan melupakan diri.
Dengan demikian, sebenarnya dengan mencintai sesama seutuhnya, kita justru menemukan keutuhan diri kita sendiri, hakekat diri kita yang tercipta karena cinta.
Kita seharusnya menjadi tanda-tanda hidup bagi dunia, rasul-rasul Cinta, yang menulari seluruh dunia dengan kegilaan yang sama. Dunia yang semakin memalingkan wajahnya dari Sang Cinta, yang menanyakan apa Tuhan itu ada atau tiada, apa Ia hidup atau sudah mati, untuk apa kita tercipta dan kemana kita pergi setelah ini. Di tengah dunia yang mengajukan rupa-rupa pertanyaan semacam inilah, seharusnya mereka yang bertanya dapat menemukan jawaban dengan perantaraan kita, para pengikut Kristus.
Jawaban yang mereka temukan bukan sekadar dalam kata-kata, melainkan sungguh nyata dalam kesaksian hidup yang berlimpah cinta dan sukacita Injil, dengan hati yang terbuka untuk mencinta dan dicinta.
Tidak mungkin mengatakan, “Aku mencintaimu“, kepada yang seorang, tetapi mengatakan kepada yang lain, “Aku benci kamu! Tiada maaf bagimu! Mati saja kau!
Bila itu terjadi, berarti cinta kita belumlah sempurna, demikian pula identitas Kekristenan kita cacat karenanya.
Inilah inti kekristenan, bukan sekedar hirarki, organisasi, atau doktrin, melainkan “Cinta“.
Bahasa kita adalah bahasa cinta. Panggilan kita adalah panggilan untuk mencinta.
Inilah “Trademark” kita, dengan tanda inilah dunia seharusnya mengenal kita. Kekristenan adalah Cinta.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan Biasa XI

image

KETIKA CINTA MULAI MATI

Bacaan:
2Kor.6:1-10; Mzm.98:1.2-3ab.3cd-4; Mat.5:38-42

Renungan:
Meskipun tekanan individualisme dan hedonisme saat ini cenderung mendorong manusia untuk memberi definisi baru dari cinta, Iman Kristiani sejak masa Gereja purba/perdana tidak pernah membedakan antara cinta kepada Allah dan cinta kepada manusia, antara mencintai Yang Mahatinggi dan mencintai sesama yang paling hina-dina dan menderita, termasuk yang paling sulit dicintai sekalipun.
Tidak mungkin mengatakan mencintai Allah tanpa memiliki cinta yang sama besarnya kepada sesama.
Adalah suatu tragedi kegagalan cinta yang terjadi, manakala seseorang melangkahkan kaki ke Gereja untuk menghadiri Misa Kudus, tetapi dalam perjalanannya justru mengabaikan mereka yang miskin, menderita, dilecehkan martabatnya, dikucilkan, dibuang, diperlakukan tidak adil, yang seolah tanpa harapan, bahkan yang membenci dan melukai kita di sepanjang perjalanan.
Pandangan dan hati seorang Kristiani memang harus selalu diarahkan ke surga, tetapi ini bukan menjadi pembenaran untuk tidak mau ambil pusing melihat penderitaan yang ada di dunia, apalagi menolak untuk mencintai sesama di tengah itu semua.
Kita dipanggil untuk berjumpa dengan Allah, tetapi haruslah dimengerti bahwa bertemu dengan Allah “dalam” sesama manusia merupakan bagian terpenting dari perjumpaan antara Allah dengan manusia.
Maka, kegagalan manusia memandang dan berjumpa dengan Allah dalam dunia sekarang ini, secara jujur haruslah diakui sebagai kegagalan manusia untuk memandang dan menjumpai Dia dalam sesama.
Tentu saja, cinta yang sejati haruslah selalu dan selalu “tak bersyarat“.
Sifat tak bersyarat dari cinta menuntut pula dari kita kesediaan untuk mencintai sampai “terluka“. Banyak orang Kristen mengalami kegagalan mencintai sesama, karena mereka berhenti melangkah saat mengalami luka ketika mencintai. Langkah cinta itu terhenti dikarenakan ketidaksiapan untuk menyadari sifat tak bersyarat dari cinta, yang haruslah pula selalu “mengampuni“, sesulit apapun itu.
Ingatlah baik-baik akan hal ini, setiap kali kita menemukan kesulitan untuk mencintai sampai terluka, atau merasa sulit untuk mengampuni, pandanglah Yesus Yang Tersalib, dan jika engkau memang merasa tuntutan cinta itu tidak adil atau terlampau berat, bawalah perkaramu di hadapan Salib Tuhan.
Orang yang sungguh memahami misteri Salib, ketika membawa perasaan terluka dan sulit mengampuni di hadapan Yesus Yang Tersalib, akan menemukan dirinya tertunduk malu dalam suatu ketidakpantasan yang suci, karena apa yang kita alami, sama sekali tidak sebanding dengan apa yang Dia alami.
Mereka yang menyebut diri pengikut Kristus, tetapi menolak untuk mencintai sampai terluka, dan enggan untuk mengampuni, mungkin sudah saatnya memikirkan jalan lain, karena jalan seorang Kristiani adalah jalan Salib, yang dipenuhi luka, dan menemukan sukacita dalam pengampunan.
Belajarlah mencintai tanpa syarat, tanpa mengharapkan sesuatu sebagai balasan. Ketika kita bertanya, “Apa yang telah kau perbuat bagiku untuk layak kucintai?“, pada saat itulah Cinta kita mulai Mati.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Pesta Hati Tersuci Maria

image

JANGAN BERSUMPAH !

Bacaan:
2Kor.5:14-21; Mzm.103:1-2.3-4.8-9.11-12; Mat.5:33-37

Renungan:
Umat Kristiani/Katolik di dataran Britania Raya dan Amerika Utara sering disapa sebagai “The Faithful“, yang meskipun hampir selalu diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai “Yang Beriman“, tetapi arti tepat lainnya dari kata tersebut adalah mereka, atau orang-orang “Yang Setia – Yang Memegang Janji“.

Dengan memahami arti kata ini, dan dalam terang Sakramen Baptis, kita bisa lebih memahami Injil hari ini, dan mengerti kenapa orang Katolik sekalipun “tidak dilarang“, tetapi sangat “berhati-hati” untuk bersumpah dengan menggunakan “Nama Tuhan“.
Kalau berjanji demi diri sendiri sudah cukup, maka janganlah bersumpah demi nama Tuhan, karena manakala seorang Katolik berjanji demi dirinya, sebenarnya dia telah memberikan dirinya, mempertaruhkan martabat Kristiani-nya sebagai jaminan atas kata-katanya. Dengan memahami arti sejati “The Faithful – Kaum Beriman – Yang Setia – Yang Memegang Janji“, harusnya janji seorang Katolik sudah lebih dari cukup, tanpa perlu untuk bersumpah.
Demikian pula dapat dikatakan, bahwa seorang beriman yang mengucapkan janji palsu, apalagi sumpah palsu, telah berdosa terhadap Allah, mendatangkan kemalangan bagi tubuh dan jiwanya, dan merusak citra Allah dan martabat Kristiani dalam dirinya.

Larangan Tuhan Yesus untuk mengucapkan sumpah dengan mengatas namakan Tuhan hendaknya tidak ditafsirkan secara keliru, karena dalam Kitab Suci dan Tradisi Gereja pun kita sering mendapati bahwa kaum beriman dan saleh menggunakan nama Tuhan dalam bersumpah.
Yang dikecam Yesus bukanlah hakekat dari sumpah itu sendiri, melainkan bagaimana orang-orang pada masanya (dan juga pada masa sekarang ini) yang secara sadar, sembarangan, gampangan, dan tidak hormat menggunakan nama Tuhan dalam sumpah yang mereka lakukan.
Maka, dalam terang iman kita pun diajak untuk memahami kecaman Tuhan Yesus secara benar dan bijaksana.

Sumpah demi nama Tuhan berarti memanggil Kebenaran Ilahi untuk menjadi Saksi Agung atas kata-kata dari orang yang mengucapkan sumpah itu. Dengan mendasarkan pada Perintah Allah yang ke-2, harusnya setiap orang beriman sungguh merenungkan konsekuensi Ilahi manakala hendak mengucapkan sumpah yang demikian.
Sumpah dengan mengatas namakan Tuhan, hanya boleh dilakukan oleh seorang Katolik dalam situasi yang sungguh benar, berat dan mendesak, bilamana sungguh diperlukan dan diwajibkan oleh Negara (dan wajar), atau demi terlaksananya proses peradilan yang jujur dan adil atas suatu perkara.

Dunia saat ini dipenuhi dengan saling tidak percaya, saling curiga, menjatuhkan satu sama lain, yang bila direnungkan, salah satu penyebab utamanya adalah sikap manusia yang yang merendahkan sumpah dan janji yang mereka buat di hadapan Allah dan sesama, dengan berulang kali melanggarnya.
Setiap hari kira menyaksikan dan melihat bagaimana dalam berbagai tingkatan, lingkup kehidupan, dan relasi sosial, terutama di bidang pemerintahan, hukum dan politik, dimana banyak orang, bahkan termasuk mereka yang menyebut diri kaum beriman, justru melanggar sumpah dan janji yang telah mereka ucapkan di hadapan Tuhan dan sesama.
Kiranya kecaman Yesus mengingatkan kita akan panggilan Kristiani untuk menjadi saksi-saksi Kebenaran.

Pada Pesta Hati Tersuci Santa Perawan Maria ini, marilah kita meneladani kemurnian hati dari Bunda kita yang terkasih.
Saat ia menjawab “Ya” kepada Allah, dan “Tidak” kepada si jahat, maka jawaban itu adalah jawaban final yang terus ia pegang dalam situasi apapun, tanpa syarat, dan dengan kepercayaan tanpa batas, sampai akhir hidupnya di dunia, melebihi semua janji dan sumpah dari manusia manapun di sepanjang sejarah.
Dengan demikian, Pesta Hati Tersuci Maria, yang diperingati sehari sesudah Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus ini, tidak dimaksudkan untuk menyaingi atau seolah hendak men-Tuhan-kan Maria, melainkan semata-mata hendak mengungkapkan bahwa bilamana kemarin umat beriman merayakan kelimpahan cinta Tuhan yang mengalir dari Hati Kudus-Nya, hari ini Gereja bersukacita karena boleh memperingati seorang wanita beriman yang paling bercahaya di antara semua manusia, seorang teladan dalam hal ketaatan untuk membalas cinta Tuhan itu, dengan “Fiat-nya” yang terpancar dari kemurnian hati seorang hamba Allah yang setia.
Itulah inti Pesta Hati Tersuci Maria pada hari ini.

Ya Yesus, semoga kami selalu menjaga kemurnian hati seperti hati tersuci Ibu-Mu, untuk dapat selalu menjawab “Ya” kepada-Mu, dan “Tidak” kepada si jahat. Amen.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ HARI RAYA PASKAH KEBANGKITAN TUHAN

image

MAKAM ITU TELAH KOSONG

Bacaan:
Kis.10:34a.37-43; Mzm. 118:1-2.16ab-17.22-23; Kol.3:1-4 atau 1Kor.5:6b-8; Yoh.20:1-9

Renungan:
Untuk mengimani Kristus yang bangkit, setiap orang beriman harus terlebih dahulu berhadapan dengan misteri makam yang kosong.
Memang benar bahwa Yesus telah bangkit, tetapi Dia tidak serta-merta menampakkan diri kepada para murid-Nya dalam kemuliaan kebangkitan.
Pengakuan akan kebangkitan Tuhan pertama-tama haruslah berasal dari dalam diri para murid sendiri.
Sikap para murid dalam melihat makam yang kosong menunjukkan bahwa sekali lagi untuk memahami misteri iman, kita dituntut untuk memiliki relasi cinta yang sungguh pribadi dan dekat dengan Tuhan.
Maria Magdalena ketika melihat makam yang kosong justru menjadi begitu sedihnya dan berlari mendapatkan para murid yang lain untuk mengatakan, “Tuhan telah diambil orang dari kubur-Nya dan kami tidak tahu dimana Ia diletakkan.
Bahkan Petrus, Kepala para Rasul, mendengar kejadian itu berlari dan melihat ke makam, sesudah masuk ke dalam, dipenuhi kebingungan dan tanda tanya dalam hatinya.
Kemudian, masuklah ke dalam makam, murid yang dikasihi Yesus, dia yang tiba dahulu tetapi tidak masuk karena hormatnya kepada Petrus, yang telah diserahi tugas oleh Tuhan sebagai Kepala Gereja.
Murid yang pertama tiba itu adalah seorang yang selalu bersandar pada dada Tuhan, yang begitu mengasihi dan dicintai oleh Penyelamat kita. Murid yang terkasih itu kemudian masuk, melihat makam yang kosong, dan “percaya“.
Dia yang mencintai Tuhan dengan segenap hatinya adalah dia yang mengerti cara Tuhan bertindak, dan pada akhirnya menjadi dia yang pulang ke “rumah“, ke tengah dunia, sebagai pribadi yang diubahkan, sebagai saksi Kebangkitan.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ KAMIS PUTIH

image

PANGGILAN DI TENGAH MALAM

Bacaan:
Kel.12:1-8.11-14; Mzm.116:12-13.15-16bc.17-18; 1Kor.11:23-26; Yoh.13:1-15

Renungan:

“Setiap kali kita makan roti ini dan minum dari piala ini, kita menyatakan Iman kita.”

Seruan “Anamnese” ini mengungkapkan dengan begitu indah dan tepat maksud terdalam dari perayaan malam Kamis Putih.
Malam ini, “Passover” atau “Paskah” Yahudi sebagai kenangan saat Allah melawati Israel umat-Nya, menemukan makna baru dan kepenuhannya dalam Kristus, Roti Kehidupan yang sejati.
Malam ini seluruh alam semesta menyaksikan belas kasih Tuhan yang tanpa batas, bahkan sampai saat-saat terakhir.
Malam ini kita mengenangkan anugerah cinta terbesar dari-Nya, yaitu “Sakramen Ekaristi Yang Mahakudus“.
Sebagaimana para rasul merayakan perjamuan terakhir di ruang atas untuk menyantap Tubuh dan Darah Tuhan, demikianlah kita melakukan kembali kenangan yang sama.
Setiap kali umat beriman berkumpul di sekeliling altar untuk menyambut Tubuh dan Darah Tuhan, pada saat itulah kita menyatakan Iman Kristiani kita secara paling sempurna.
Gereja tanpa Ekaristi adalah mati.

Akan tetapi, malam ini kita tidak hanya mengenangkan penetapan Ekaristi.
Kamis Putih tidak dapat dipisahkan dari “Malam di Taman Zaitun“, yang didahului peristiwa Yesus membasuh kaki para rasul.
Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan itu memang tepat, sebab sungguh demikian. Maka dari itu kalau Aku Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, kamupun harus membasuh kaki satu sama lain.” (bdk.Yoh.13:13-14)
Pembasuhan kaki melambangkan panggilan kita untuk menerima bagian-bagian terburuk dan paling hina dari kemanusiaan, baik diri sendiri maupun sesama.
Akan tetapi, pembasuhan kaki sebenarnya juga memiliki makna yang lebih dalam, yaitu panggilan untuk menjemput kematian sebagai seorang hamba yang taat dan setia.
Setelah selesai membasuh kaki para murid, Yesus memulai bagian akhir dan parirpurna dari karya penebusan-Nya sebagai Putra Allah.
Hari ini Tuhan dan Penyelamat kita melangkah ke dalam malam gelap untuk berdoa dalam sakratul maut di Taman Zaitun, ditinggalkan dalam kesendirian oleh orang-orang yang dikasihi-Nya tanpa batas, dikhianati Yudas dengan sebuah kecupan, ditangkap oleh para prajurit Bait Allah, disangkal Petrus, digiring ke dalam pengadilan Sanhedrin yang penuh konspirasi serta ketidakadilan, hingga kemudian diserahkan kepada Pilatus untuk menerima penyaliban.
Marilah kita merenungkan sejenak rangkaian peristiwa malam di Taman Zaitun ini, karena disinilah terkandung rahasia penebusan kita.

image

Ke dalam malam yang ditandai dengan kehilangan komunikasi dan kemampuan untuk saling memandang ini, Yesus masuk untuk mengembalikan komunikasi yang terputus dengan Allah, sehingga semua orang boleh memandang Allah dalam diri-Nya tanpa harus binasa.
Di tengah kegelapan dimana si Iblis yang menjauhi Cahaya boleh leluasa menebar kematian, disaat segala sesuatu menjadi tak terpahami dan ketika kebenaran seolah terselubung, disitulah Yesus bercahaya dan mengenyahkan kegelapan, untuk menjadi jawaban dan pilihan terbaik, sehingga semua orang beroleh hidup dalam kebenaran.

Saat Tuhan dan Penyelamat kita melangkah ke dalam malam, Ia hendak mengingatkan kita bahwa sebuah pelita tidaklah berguna di dalam terang.
Para kudus yang beroleh mahkota dan bermandikan cahaya kemuliaan di surga, adalah orang-orang yang sepanjang hidupnya telah berjalan menyusuri lorong-lorong gelap dunia ini, mengatasi ketakutan dan kelemahan pribadi mereka, untuk membawa cahaya dan menerangi semua orang di sepanjang perjalanan hidup mereka, dan pada akhirnya keluar sebagai pemenang.
Mereka yang kehilangan hidupnya karena bercahaya seperti pelita sampai sehabis-habisnya, pada akhirnya akan memperoleh hidup dan sukacita surgawi bersama Allah.
Seorang Kristiani dipanggil untuk membawa cahaya ke dalam dunia dan mengenyahkan kegelapan malam dimanapun Tuhan menempatkan kita untuk hadir dan berkarya.
Oleh karena itu, sebagaimana Yesus melangkah ke dalam malam di Taman Zaitun, demikianlah kita juga dipanggil melewati malam dunia ini.
Bagaimana kita bertahan melalui malam ini dengan pelita yang bernyala, dan keluar sebagai pemenang, sangat ditentukan oleh 3 sikap ini.

Pertama: Milikilah kerendahan hati untuk berlutut. Injil mencatat bagaimana Tuhan Yesus mengajar kita untuk berlutut dalam doa (bdk.Luk.22:41). Bahkan, Matius dan Markus mencatat lebih lagi, yaitu Yesus bersujud dan merebahkan diri ke tanah (bdk.Mat.26:39; Mrk.14:35), sebagaimana yang dilakukan oleh Imam dalam liturgi Jumat Agung. Seorang Kristiani yang dapat berlutut dengan rendah hati di hadapan Allah, akan sanggup berdiri melawan kejahatan dunia dan tipu muslihat Si Jahat, karena berserah sepenuhnya pada kekuatan dari Allah, bukan dari dirinya sendiri.

Kedua: Bersikaplah selayaknya seorang anak. Dalam doa-Nya saat mengalami sakratul maut di Taman Zaitun, Tuhan Yesus menyapa Allah sebagai “Ya Abba- Ya Bapa” (bdk.Mrk14:36). Ini bukanlah sapaan yang biasa, melebihi sapaan “Ayah“, lebih seperti seorang anak kecil menyapa Papanya. Di dalamnya terkandung makna keakraban yang sangat dekat sebagai seorang anak, suatu ungkapan yang sangat berani untuk ditujukan kepada Allah. Maka, bilamana sebagai seorang Kristiani kita beroleh keistimewaan untuk menyapa Allah sebagai “Ya Abba- Ya Bapa“, kita dituntut pula untuk berlaku sebagaimana layaknya seorang anak. Kita harus senantiasa memelihara hidup kudus dan tak bercela di hadapan-Nya. Kita dipanggil untuk selalu menguduskan diri, menguduskan karya, dan menguduskan seluruh dunia melalui karya.

Ketiga: Jawablah selalu “Ya” kepada Allah dan “Tidak” kepada Si Jahat. Di Taman Zaitun, Yesus mengungkapkan sikap ini dengan begitu mengagumkan dalam doa-Nya, “Tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (bdk.Mrk.14:36)
Iman seorang Kristiani untuk percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah, mengandung pula konsekuensi kepasrahan untuk menyerahkan seluruh kehidupan kita tanpa syarat dan dengan kepercayaan tanpa batas, terutama di saat rancangan dan jalan Tuhan berlawanan dengan apa yang kita rancangkan atau inginkan untuk dijalani.

Semoga sama seperti Tuhan Yesus menemukan kekuatan untuk merangkul Salib setelah melewati malam di Taman Zaitun, kita pun menemukan kekuatan yang sama untuk menjadi pelita di tengah kegelapan zaman ini, serta memenangkan seluruh dunia karena Salib Kristus. Semoga santapan Tubuh dan Darah Tuhan dalam Sakramen Ekaristi Yang Mahakudus, senantiasa menjadi sumber kekuatan dan daya hidup kita. Dan kiranya doa dan kasih keibuan Santa Perawan Maria, Bunda Penolong yang baik, menghantar kita untuk menemukan sukacita Injil di balik misteri Salib.

Pax, in aeternum.
Fernando

ALLAH saja CUKUP!

MINGGU BIASA VIII ( TAHUN LITURGI – A )

Bacaan I – Yesaya 49: 14-15

Mazmur Tanggapn – Mzm. 62: 2-3. 6-7. 8-9ab

Bacaan II – 1 Korintus 4: 1-5

Bacaan Injil – Matius 6: 24-34

 

ALLAH saja CUKUP!

“Dapatkah seorang ibu melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak kandungnya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan dikau.” (Yes.49:15)

Saudara-saudari terkasih.

Di tengah situasi dunia yang dipenuhi berbagai ketidakpastian, peperangan, kemiskinan, kelaparan, ketidakadilan, dan berbagai kejahatan lainnya, dan di tengah kebisingan dunia yang membuat dunia mempertanyakan eksistensi dari Allah Yang Mahakuasa dan Mahacinta, kalimat dari kitab Yesaya ini merupakan suatu hiburan dan kekuatan bagi setiap orang yang percaya. Tuhan tidak pernah berhenti menyayangi umat-Nya. Dunia yang tercipta karena cinta-Nya yang besar, tidak mungkin akan ada dan sudah pasti binasa tanpa Tuhan. Allah senantiasa setia, meskipun umat manusia berulang kali tidak setia. Apabila dunia ini kehilangan keteraturan dan jatuh dalam jurang kegelapan dan ketiadaan cinta, hal itu dikarenakan sama seperti manusia pertama, kitalah yang telah berpaling meninggalkan persatuan cintakasih dengan Allah.

Si jahat telah menaburkan ke dalam hati dan pikiran kita suatu dorongan untuk mencari kepastian bahwa kita sungguh-sungguh dicintai Allah, dan karena kekuatiran akan hal itu, perlahan hati kita mulai tidak berpaut lagi kepada Allah. Daripada menyerahkan hidupnya kepada Allah, sebagian orang mencoba mengandalkan kekuatannya sendiri, yang lain mempercayakan dirinya pada organisasi maupun pribadi yang dianggap mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, malahan ada pula yang bertindak lebih jauh lagi dengan menyerahkan diri untuk menjadi budak dosa dan tawaran si jahat yang menjanjikan kebahagiaan palsu.

Bunda Gereja, yang “kepadanya telah dipercayakan rahasia Allah,” (bdk.1Kor.4:1c) hari ini menyuarakan kembali seruan Yesus, “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Mat.6: 24)

Saudara-saudari terkasih.

Segala kekuatiran manusia semuanya berakar pada kurangnya iman akan penyelenggaraan dan belas kasih Allah. Adalah menarik bahwa Yesus membandingkan hidup kita dengan burung-burung di langit, dan bunga bakung di ladang. Dalam menggunakan perbandingan demikian, kita  hendaknya bijaksana untuk melihat bahwa Yesus tidak bermaksud mengesampingkan pentingnya kerja. Sebab, bila kita sungguh-sungguh melihat, dalam kesehariannya ada proses kerja yang harus dilakukan baik oleh burung di langit maupun bunga bakung di ladang untuk hidup. Akan tetapi, maksud utama Yesus ialah untuk mengingatkan kita bahwa Allah turut bekerja di dalam semuanya itu. Jikalau hewan dan tumbuhan saja dipelihara oleh-Nya, maka sudah pasti Ia lebih lagi memelihara hidup manusia, yang diciptakan dalam gambar dan rupa-Nya.

Untuk menyadari penyelenggaraan dan belas kasih Allah yang sedemikian besarnya, kita memerlukan iman dan cinta yang besar pula. Kita tidak dapat mengabdi Dia setengah-setengah. Iman dan cinta kepada Allah, haruslah total dan tak terbagi, sebagaimana diungkapkan oleh St. Josemaria Escriva, “Tiada artinya bagiku hati yang mendua, bila kuberikan hatiku akan kuserahkan seluruhnya.” Sikap seperti inilah yang menjadikan kita hamba-hamba Kristus yang sejati, dan juga memberi makna baru dalam segala kerja yang kita lakukan sebagai sarana kekudusan. Sebagai rekan kerja Allah dalam karya penciptaan, kita dipanggil untuk “bekerja segiat-giat-Nya bagi Tuhan semesta alam,” demikian kata Yesaya. Jadikanlah pekerjaanmu sebagai sarana pengudusan diri, pengudusan kerja, dan pengudusan seluruh dunia melalui kerja. Lakukanlah semua itu dengan totalitas dan cinta, tanpa kekuatiran akan hari esok. Janganlah cemas, takut, dan kuatir, sebab di dalam Dia ada kelimpahan rahmat. “Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepada-Mu.” (Mat.6:33)

Kiranya Bunda Maria senantiasa menyertai kita dan menghantar kita pada kesadaran bahwa Allah saja Cukup, sehingga dengan demikian kita akan menyadari bahwa doa itu bukan soal meminta melainkan mencinta, dan bahwa Tuhan Yang Mahatahu, akan selalu mencukupkan segala yang kita butuhkan, asalkan kita menjalankan bagian kita untuk percaya, untuk mencinta, dan untuk berkarya bagi-Nya. (Verol Fernando Taole)