Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan Biasa XI

image

KEKRISTENAN ADALAH CINTA

Bacaan:
2Kor.8:1-9; Mzm.146:2.5-6.7.8-9a; Mat.5:43-48

Renungan:
Nietzsche, seorang filsuf ateis terkemuka, pernah mengajukan pertanyaan kritis yang sungguh amat mengena mengenai Iman Kristiani. Beliau mengatakan, “Kalau orang-orang Kristen menghendaki agar kita percaya akan Sang Penebus mereka, mengapa mereka tidak sedikit lebih menunjukkan, bahwa mereka benar-benar telah ditebus?
Kritik Nietzsche seolah menemukan dasar pijakan ketika diperhadapkan pada kenyataan bahwa seringkali kita, yang berbangga telah ditebus dan diselamatkan oleh Tuhan, justru berperilaku seperti orang yang tidak ditebus dan diselamatkan, serta menjalani hidup seakan-akan tidak pernah mengenal Tuhan.
Kita menyapa Allah sebagai Cinta (Kasih), dan dalam doa-doa pribadi terkadang terlalu menuntut Dia untuk mencintai kita, seakan-akan cinta-Nya masih kurang, padahal kita sendiri justru enggan berbelas kasih terhadap sesama, dan mencinta secara bersyarat.
Cinta tidak serta-merta sama dengan berbuat baik, karena berbuat baik dapat saja dilakukan tanpa harus didasarkan oleh cinta.
Cinta berarti mempedulikan keberadaan hidup orang lain, menerima diri mereka seutuhnya, termasuk borok-borok mereka, serta memperhatikan mereka dengan tulus. Ini berarti pula memberikan diri, meskipun terkadang harus mengorbankan diri. Bahkan, dapat saja terjadi bahwa cinta sejati membawa kita untuk kehilangan hidup, agar dapat memberi hidup.
Cinta sejati menuntut kesediaan untuk melupakan diri, suatu pengingkaran diri.
Kita hanya dapat menemukan diri dengan jalan melupakan diri.
Dengan demikian, sebenarnya dengan mencintai sesama seutuhnya, kita justru menemukan keutuhan diri kita sendiri, hakekat diri kita yang tercipta karena cinta.
Kita seharusnya menjadi tanda-tanda hidup bagi dunia, rasul-rasul Cinta, yang menulari seluruh dunia dengan kegilaan yang sama. Dunia yang semakin memalingkan wajahnya dari Sang Cinta, yang menanyakan apa Tuhan itu ada atau tiada, apa Ia hidup atau sudah mati, untuk apa kita tercipta dan kemana kita pergi setelah ini. Di tengah dunia yang mengajukan rupa-rupa pertanyaan semacam inilah, seharusnya mereka yang bertanya dapat menemukan jawaban dengan perantaraan kita, para pengikut Kristus.
Jawaban yang mereka temukan bukan sekadar dalam kata-kata, melainkan sungguh nyata dalam kesaksian hidup yang berlimpah cinta dan sukacita Injil, dengan hati yang terbuka untuk mencinta dan dicinta.
Tidak mungkin mengatakan, “Aku mencintaimu“, kepada yang seorang, tetapi mengatakan kepada yang lain, “Aku benci kamu! Tiada maaf bagimu! Mati saja kau!
Bila itu terjadi, berarti cinta kita belumlah sempurna, demikian pula identitas Kekristenan kita cacat karenanya.
Inilah inti kekristenan, bukan sekedar hirarki, organisasi, atau doktrin, melainkan “Cinta“.
Bahasa kita adalah bahasa cinta. Panggilan kita adalah panggilan untuk mencinta.
Inilah “Trademark” kita, dengan tanda inilah dunia seharusnya mengenal kita. Kekristenan adalah Cinta.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan Biasa XI

image

KETIKA CINTA MULAI MATI

Bacaan:
2Kor.6:1-10; Mzm.98:1.2-3ab.3cd-4; Mat.5:38-42

Renungan:
Meskipun tekanan individualisme dan hedonisme saat ini cenderung mendorong manusia untuk memberi definisi baru dari cinta, Iman Kristiani sejak masa Gereja purba/perdana tidak pernah membedakan antara cinta kepada Allah dan cinta kepada manusia, antara mencintai Yang Mahatinggi dan mencintai sesama yang paling hina-dina dan menderita, termasuk yang paling sulit dicintai sekalipun.
Tidak mungkin mengatakan mencintai Allah tanpa memiliki cinta yang sama besarnya kepada sesama.
Adalah suatu tragedi kegagalan cinta yang terjadi, manakala seseorang melangkahkan kaki ke Gereja untuk menghadiri Misa Kudus, tetapi dalam perjalanannya justru mengabaikan mereka yang miskin, menderita, dilecehkan martabatnya, dikucilkan, dibuang, diperlakukan tidak adil, yang seolah tanpa harapan, bahkan yang membenci dan melukai kita di sepanjang perjalanan.
Pandangan dan hati seorang Kristiani memang harus selalu diarahkan ke surga, tetapi ini bukan menjadi pembenaran untuk tidak mau ambil pusing melihat penderitaan yang ada di dunia, apalagi menolak untuk mencintai sesama di tengah itu semua.
Kita dipanggil untuk berjumpa dengan Allah, tetapi haruslah dimengerti bahwa bertemu dengan Allah “dalam” sesama manusia merupakan bagian terpenting dari perjumpaan antara Allah dengan manusia.
Maka, kegagalan manusia memandang dan berjumpa dengan Allah dalam dunia sekarang ini, secara jujur haruslah diakui sebagai kegagalan manusia untuk memandang dan menjumpai Dia dalam sesama.
Tentu saja, cinta yang sejati haruslah selalu dan selalu “tak bersyarat“.
Sifat tak bersyarat dari cinta menuntut pula dari kita kesediaan untuk mencintai sampai “terluka“. Banyak orang Kristen mengalami kegagalan mencintai sesama, karena mereka berhenti melangkah saat mengalami luka ketika mencintai. Langkah cinta itu terhenti dikarenakan ketidaksiapan untuk menyadari sifat tak bersyarat dari cinta, yang haruslah pula selalu “mengampuni“, sesulit apapun itu.
Ingatlah baik-baik akan hal ini, setiap kali kita menemukan kesulitan untuk mencintai sampai terluka, atau merasa sulit untuk mengampuni, pandanglah Yesus Yang Tersalib, dan jika engkau memang merasa tuntutan cinta itu tidak adil atau terlampau berat, bawalah perkaramu di hadapan Salib Tuhan.
Orang yang sungguh memahami misteri Salib, ketika membawa perasaan terluka dan sulit mengampuni di hadapan Yesus Yang Tersalib, akan menemukan dirinya tertunduk malu dalam suatu ketidakpantasan yang suci, karena apa yang kita alami, sama sekali tidak sebanding dengan apa yang Dia alami.
Mereka yang menyebut diri pengikut Kristus, tetapi menolak untuk mencintai sampai terluka, dan enggan untuk mengampuni, mungkin sudah saatnya memikirkan jalan lain, karena jalan seorang Kristiani adalah jalan Salib, yang dipenuhi luka, dan menemukan sukacita dalam pengampunan.
Belajarlah mencintai tanpa syarat, tanpa mengharapkan sesuatu sebagai balasan. Ketika kita bertanya, “Apa yang telah kau perbuat bagiku untuk layak kucintai?“, pada saat itulah Cinta kita mulai Mati.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Pesta Hati Tersuci Maria

image

JANGAN BERSUMPAH !

Bacaan:
2Kor.5:14-21; Mzm.103:1-2.3-4.8-9.11-12; Mat.5:33-37

Renungan:
Umat Kristiani/Katolik di dataran Britania Raya dan Amerika Utara sering disapa sebagai “The Faithful“, yang meskipun hampir selalu diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai “Yang Beriman“, tetapi arti tepat lainnya dari kata tersebut adalah mereka, atau orang-orang “Yang Setia – Yang Memegang Janji“.

Dengan memahami arti kata ini, dan dalam terang Sakramen Baptis, kita bisa lebih memahami Injil hari ini, dan mengerti kenapa orang Katolik sekalipun “tidak dilarang“, tetapi sangat “berhati-hati” untuk bersumpah dengan menggunakan “Nama Tuhan“.
Kalau berjanji demi diri sendiri sudah cukup, maka janganlah bersumpah demi nama Tuhan, karena manakala seorang Katolik berjanji demi dirinya, sebenarnya dia telah memberikan dirinya, mempertaruhkan martabat Kristiani-nya sebagai jaminan atas kata-katanya. Dengan memahami arti sejati “The Faithful – Kaum Beriman – Yang Setia – Yang Memegang Janji“, harusnya janji seorang Katolik sudah lebih dari cukup, tanpa perlu untuk bersumpah.
Demikian pula dapat dikatakan, bahwa seorang beriman yang mengucapkan janji palsu, apalagi sumpah palsu, telah berdosa terhadap Allah, mendatangkan kemalangan bagi tubuh dan jiwanya, dan merusak citra Allah dan martabat Kristiani dalam dirinya.

Larangan Tuhan Yesus untuk mengucapkan sumpah dengan mengatas namakan Tuhan hendaknya tidak ditafsirkan secara keliru, karena dalam Kitab Suci dan Tradisi Gereja pun kita sering mendapati bahwa kaum beriman dan saleh menggunakan nama Tuhan dalam bersumpah.
Yang dikecam Yesus bukanlah hakekat dari sumpah itu sendiri, melainkan bagaimana orang-orang pada masanya (dan juga pada masa sekarang ini) yang secara sadar, sembarangan, gampangan, dan tidak hormat menggunakan nama Tuhan dalam sumpah yang mereka lakukan.
Maka, dalam terang iman kita pun diajak untuk memahami kecaman Tuhan Yesus secara benar dan bijaksana.

Sumpah demi nama Tuhan berarti memanggil Kebenaran Ilahi untuk menjadi Saksi Agung atas kata-kata dari orang yang mengucapkan sumpah itu. Dengan mendasarkan pada Perintah Allah yang ke-2, harusnya setiap orang beriman sungguh merenungkan konsekuensi Ilahi manakala hendak mengucapkan sumpah yang demikian.
Sumpah dengan mengatas namakan Tuhan, hanya boleh dilakukan oleh seorang Katolik dalam situasi yang sungguh benar, berat dan mendesak, bilamana sungguh diperlukan dan diwajibkan oleh Negara (dan wajar), atau demi terlaksananya proses peradilan yang jujur dan adil atas suatu perkara.

Dunia saat ini dipenuhi dengan saling tidak percaya, saling curiga, menjatuhkan satu sama lain, yang bila direnungkan, salah satu penyebab utamanya adalah sikap manusia yang yang merendahkan sumpah dan janji yang mereka buat di hadapan Allah dan sesama, dengan berulang kali melanggarnya.
Setiap hari kira menyaksikan dan melihat bagaimana dalam berbagai tingkatan, lingkup kehidupan, dan relasi sosial, terutama di bidang pemerintahan, hukum dan politik, dimana banyak orang, bahkan termasuk mereka yang menyebut diri kaum beriman, justru melanggar sumpah dan janji yang telah mereka ucapkan di hadapan Tuhan dan sesama.
Kiranya kecaman Yesus mengingatkan kita akan panggilan Kristiani untuk menjadi saksi-saksi Kebenaran.

Pada Pesta Hati Tersuci Santa Perawan Maria ini, marilah kita meneladani kemurnian hati dari Bunda kita yang terkasih.
Saat ia menjawab “Ya” kepada Allah, dan “Tidak” kepada si jahat, maka jawaban itu adalah jawaban final yang terus ia pegang dalam situasi apapun, tanpa syarat, dan dengan kepercayaan tanpa batas, sampai akhir hidupnya di dunia, melebihi semua janji dan sumpah dari manusia manapun di sepanjang sejarah.
Dengan demikian, Pesta Hati Tersuci Maria, yang diperingati sehari sesudah Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus ini, tidak dimaksudkan untuk menyaingi atau seolah hendak men-Tuhan-kan Maria, melainkan semata-mata hendak mengungkapkan bahwa bilamana kemarin umat beriman merayakan kelimpahan cinta Tuhan yang mengalir dari Hati Kudus-Nya, hari ini Gereja bersukacita karena boleh memperingati seorang wanita beriman yang paling bercahaya di antara semua manusia, seorang teladan dalam hal ketaatan untuk membalas cinta Tuhan itu, dengan “Fiat-nya” yang terpancar dari kemurnian hati seorang hamba Allah yang setia.
Itulah inti Pesta Hati Tersuci Maria pada hari ini.

Ya Yesus, semoga kami selalu menjaga kemurnian hati seperti hati tersuci Ibu-Mu, untuk dapat selalu menjawab “Ya” kepada-Mu, dan “Tidak” kepada si jahat. Amen.

Pax, in aeternum.
Fernando