Meditasi Harian, 25 Juli 2017 ~ Pesta St. Yakobus anak Zebedeus, Rasul

DIPANGGIL UNTUK MELAYANI

Bacaan:

2Kor.4:7-15; Mzm.126:1-2ab.2c-3.4-5.6; Mat.20:20-28

Renungan:

Injil hari ini sekali lagi mengingatkan kita, bahwa nilai-nilai hidup kristiani berbanding terbalik dengan nilai-nilai dunia ini. Berbeda dengan dunia yang melakukan berbagai strategi dan usaha demi menduduki posisi pertama dan teratas, haus akan pengakuan publik atas prestasi dan pencapaian diri, mendedikasikan seluruh waktu hidupnya untuk memperkaya diri, meraih kekuasaan dan kehormatan, sekalipun harus menjatuhkan atau mengorbankan orang lain; iman kristiani justru mengajarkan bahwa “barangsiapa ingin menjadi yang terbesar di antata kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” (Mat.20:26-27).

Panggilan untuk melayani atau menjadi hamba dari semua umat Allah menuntut komitmen dan pengorbanan. Ini bukanlah sekadar memberikan sebagian waktu, uang, atau kemampuan kita. Tidak demikian. Malanglah jiwa yang berpuas diri atau merasa pemberian diri sedemikian sudah cukup untuk Kerajaan Allah. Panggilan untuk melayani Allah dan melakukan Kehendak-Nya adalah suatu panggilan untuk memberi “hidup kita seutuhnya” dan mempersembahkan “milik kita seluruhnya” bagi-Nya, Asal dan Tujuan hidup kita. Sebagaimana umat Allah zaman sekarang, kegagalan memahami tuntutan Injil ini juga pernah dialami oleh rasul Yakobus dan Yohanes, yang membujuk ibu mereka untuk meminta kedudukan bagi mereka berdua sebagai anaknya. Di balik kemarahan kesepuluh rasul lainnya, sebenarnya terselip keinginan yang sama namun belum sempat terkatakan. Kendati demikian, Putra Allah, yang mengenal dan mengetahui isi hati manusia, dengan penuh kesabaran dan kelembutan kasih memperlihatkan kepada kita akan tuntutan suci Kerajaan Allah, dalam segala kebenaran dan kepenuhannya. Seorang rasul Kristus pertama dan terutama haruslah menjadi seorang pelayan. Kemunduran rohani, penyesatan, dan kebobrokan moral dalam Gereja saat ini disebabkan oleh hilangnya kesadaran bahwa sama seperti Kristus, kita harus memiliki hati yang berkobar-kobar dalam kuasa cinta untuk melayani, bukannya mengharapkan dilayani. Kegagalan putra-putri Gereja untuk menjawab tantangan jaman saat ini bukan disebabkan kegigihannya membela Doktrin Iman atau mempertahankan Tradisi Suci, melainkan karena ketegaran hati untuk melayani Allah dan kehendak-Nya, sehingga jatuh dalam ketidak pedulian dan sikap mengkompromikan hidup beriman dengan nilai-nilai sesat dunia ini, yang berasal dari si jahat, bapa segala dusta.

Menjadi seorang beriman di jaman sekarang ini memerlukan hati seorang hamba, dibarengi sikap heroik dalam beriman, apapun risikonya. Untuk meminum cawan Tuhan, seorang harus siap menyangkal diri dan memikul salib. Malah bagi sebagian orang, kerasulan cintakasih ini harus dipuncaki dengan mahkota kemartiran. Diperlukan kerendahan hati untuk menerima ajaran dan mau dibentuk, serta kesediaan untuk dimurnikan hari demi hari, agar tapak-tapak yang kita namai derita ini berubah menjadi tapak-tapak cinta. Seorang beriman harus berani membuat komitmen dan bertekun dalam doa, untuk memahami bahwa panggilan melayani sebagai hamba Allah ini, sebenarnya memberi sukacita yang tak terkatakan bagi jiwa. Sukacita yang melenyapkan segala kecemasan dan kekuatiran akan dunia ini, sebagaimana para martir iman yang dengan senyum bahagia menghadapi kematian, sambil melantunkan madah rohani bagi Allah, di hadapan terkaman binatang-binatang buas dan pedang para algojo.

Sama seperti para rasul dan murid Tuhan lainnya, kita pun berjumpa dengan Tuhan di persimpangan jalan hidup kita masing-masing. Tak jarang kita didapati-Nya dalam keadaan teramat rapuh, dipenuhi borok yang busuk, dan diangkat-Nya dari kubangan atau lembah kedosaan. Di saat menjawab panggilan suci untuk mengikuti Dia, seringkali kita pun belum sepenuhnya menyadari, apalagi menerima konsekuensi dari panggilan itu. Tak jarang pula mereka yang dipanggil ke jalan Tuhan, sebenarnya di mata dunia adalah yang paling berdosa, celaka, dikucilkan, malang dan paling cacat di antara yang lain. Tetapi, kenyataan bahwa Tuhan toh tetap berkenan memanggil dan mengutus kita, itu seharusnya sudah lebih dari cukup menjadi hiburan rohani, serta meneguhkan ima kita akan rahmat dan karya Allah yang mengagumkan. Bahwa bukan karena kuat dan hebat kita, melainkan rahmat dan belas kasih Tuhanlah, yang telah memampukan kita untuk melangkah di jalan-Nya.

Santo Yakobus Rasul, yang hari ini kita peringati kemartirannya, juga menerima panggilan Tuhan dalam keadaan yang tidak jauh berbeda dengan kita. Gereja mengajak kita untuk meneladani hidupnya, yang dalam kesadaran akan kerapuhannya, memilih untuk bersandar pada kekuatan Allah, dan dengan rendah hati mau dibentuk serta dimurnikan oleh-Nya. Betapa luar biasa dan mengherankan karya Tuhan dalam diri mereka, yang mau melayani dan melakukan kehendak-Nya. Santo Yakobus Rasul yang di awal jalan kerasulan menghendaki kedudukan dan kuasa, pada akhir hidupnya sebagai Uskup Yerusalem, justru menjadi yang pertama di antara para rasul dalam menerima mahkota kemartiran. Jutaan umat beriman setiap tahun melakukan peziarahan dengan berjalan kaki sejauh ratusan kilometer, menuju Katedral Santiago de Compostola, untuk berdoa di hadapan relikui Santo Yakobus Rasul, sambil memohonkan dari Allah keberanian iman, sebagaimana diteladankan oleh rasul-Nya yang kudus ini.

Semoga kita pun beroleh hati seorang hamba, yang mau selalu taat dan setia di jalan Tuhan, serta rahmat untuk tidak mengingini apapun selain Allah dan kehendak-Nya. Ya Perawan Maria yang terberkati, engkau yang selama hidupmu telah melayani Yesus Putramu dalam ketersembunyian, tunjukkanlah jalan kerendahan hati bagi kami, agar sama seperti Santo Yakobus Rasul, kami pun menjadi para pelayan yang tekun dan setia, demi kemuliaan Allah dan Gereja Kudus-Nya.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 10 Agustus 2015 ~ Pesta St. Laurensius, Diakon & Martir

image

MILIKILAH IMAN YANG BERSAKSI

Bacaan:
2Kor.9:6-10; Mzm.112:1-2,5-6,7-8,9; Yohanes.12:24-26

Renungan:
Hari ini, Gereja Roma mengajak kita untuk merenungkan dalam perayaan suci akan kemartiran St. Laurensius, seorang Diakon Agung dalam Keuskupan Roma yang menerima mahkota kemartiran pada abad-3.
Kemartiran St. Laurensius mengingatkan kita bahwa mengikuti jejak Kristus (imitatio Christi) berarti menyatakan kesiapsediaan menjadi saksi Kristus, apapun risikonya, termasuk bilamana karena iman akan Dia mengakibatkan kita harus kehilangan segala-galanya, bahkan nyawa kita sendiri.
Tertulianus mengatakan, “Darah para Martir adalah Benih bagi Gereja.
Gereja tumbuh dan berkembang karena kesaksian hidup dan kemartiran putra-putri Gereja.
Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” (Yohanes.12:24)

Kekristenan saat ini berada dalam masa paling suram sejak didirikan oleh Tuhan Yesus Kristus 2000 tahun lalu.
Kita dipanggil untuk mewartakan iman kita dengan berbagai cara, melebihi masa-masa sebelumnya.
Iman adalah sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan, tidak bisa ditawar-tawar. Di tengah krisis dalam hidup beriman saat ini, kita diingatkan akan panggilan kita untuk bersaksi, apapun risikonya.
Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.” (Yoh.12:25)
Tidak ada ruang untuk bersikap setengah hati dalam beriman, kita tidak pernah boleh mencintai Allah dan Gereja-Nya dengan hati suam-suam kuku.
Sekalipun mungkin tidak semua orang beriman akan mengalami kemartiran sehebat St. Laurensius, kita tidak boleh lengah untuk menyadari bahwa para pengikut Kristus saat ini diperhadapkan pada berbagai bentuk kemartiran baru. Apapun panggilan, profesi kerja, karya kerasulan dan pelayanan yang kita lakukan, bawalah nilai-nilai Kristiani ke dalamnya, dan jadilah seorang Katolik yang sejati.
Seorang dokter harus berani mempertahankan kehidupan bukan melenyapkan kehidupan, yaitu dengan mengatakan tidak pada aborsi, euthanasia, promosi alat kontrasepsi, dan berbagai tindakan medis lainnya yang bertentangan dengan Iman Kristiani.
Orang tua dalam keluarga Kristiani hendaknya membesarkan anak-anak mereka dalam kelimpahan cinta, dan tidak pernah lupa untuk mewariskan iman.
Seorang hakim menjatuhkan keputusan dengan adil atas suatu perkara, bukannya dibutakan oleh uang suap untuk memenangkan pihak yang bersalah.
Apapun profesi kerjamu, bawalah nilai-nilai Kristiani ke dalamnya untuk menguduskan pekerjaanmu, dan memenangkan jiwa-jiwa karena kerasulan di tengah pekerjaanmu.
Gereja Katolik boleh saja memiliki anggota umat yang sukses, sekolah dan universitas yang bermutu, rumah sakit dan tempat rehabilitasi yang ternama, bangunan Gereja Katedral dan Basilika yang indah dan megah. Akan tetapi, kalau itu semua tidak disemangati oleh karya kerasulan untuk bersaksi dan berbuah, untuk membawa lebih banyak orang menjadi pengikut Kristus, untuk membela hak kaum miskin dan tertindas, untuk membawa seluruh dunia ke dalam pangkuan Bunda Gereja, maka segala karya itu adalah karya yang mandul, prestise sia-sia, dan ungkapan iman dangkal yang tidak berbuah.

Anda boleh saja menyebut diri seorang rasul Kristus, tetapi kalau tidak ada jiwa yang dimenangkan, tidak ada yang dikurbankan, sesungguhnya anda bukanlah pengikut Kristus.
Semoga St. Laurensius yang kita peringati hari ini mengingatkan kita, bahwa sebagai putra-putri Gereja, kita dipanggil untuk berdiri di tengah dunia bukan untuk kehilangan nyawa dalam kesia-siaan, melainkan kehilangan nyawa guna memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus, sehingga pada akhirnya kita beroleh mahkota kemuliaan dalam kehidupan kekal.
Santa Laurensius, Diakon & Martir, doakanlah kami.
Santa Perawan Maria, Ratu para Martir, sertailah kami.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Sabtu dalam Pekan Biasa XI

image

PERCAYA TANPA MENDUA HATI

Bacaan:
2Kor.12:1-10; Mzm.34:8-9,10-11,12-13; Mat.6:24-34

Renungan:
Kata-kata Injil hari ini mungkin sulit dimengerti oleh dunia saat ini.
“Jangan kuatir? Bagaimana mungkin saya tidak kuatir?”
Coba lihat harga-harga kebutuhan pokok yang kian melambung naik. Situasi ekonomi di banyak negara yang semakin tidak stabil. Perang dan teror dimana-mana. Bencana alam dan kelaparan semakin sering terdengar. Dengan segala kekacauan dan ketidakpastian dunia saat ini, bagaimana mungkin Tuhan mengatakan padaku untuk tidak kuatir? Apa Dia menghendakiku berhenti bekerja, berhenti mengusahakan sesuatu, dan duduk diam saja menanti berkat-Nya?
Sudah bertahun-tahun saya berdoa meminta hal yang sama, tapi tidak pernah dikabulkan. Bertahun-tahun lamanya saya melayani Dia, tetapi penyakit saya tidak pernah Ia sembuhkan. Bagaimana mungkin Dia memintaku untuk terus berharap pada-Nya?

Allah tidak pernah menghendaki kita mengikuti Dia dengan melarikan diri dari kenyataan hidup.
Tentu saja bukan itu maksud-Nya. Kita justru diminta untuk bekerja segiat-giatnya sebagai rekan kerja Allah, mengusahakan apa yang baik bagi hidup kita, melakukan segala daya upaya seturut Iman Kristiani agar hidup kita bahagia, sehat, dan sejahtera, bukan nanti pada kehidupan kekal, melainkan sedari masih di dunia ini.
Dia pun bukan Allah yang tidak tahu atau tidak peduli dengan pergumulan hidup kita.
Sama seperti tidak ada yang terjadi secara kebetulan, demikian pun tidak ada sesuatupun di dunia ini yang terjadi tanpa sepengetahuan Tuhan atau sama sekali lepas dari jangkauan kasih dan kuasa-Nya.
Dalam bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus hendak mengingatkan kita bahwa Allah Bapa kita sungguh amat baik, dan kita diminta untuk menaruh pengharapan sepenuhnya kepada-Nya.
Memang benar bahwa hidup manusia ditandai oleh rupa-rupa pergumulan. Itu semua terjadi dan dijiinkan Tuhan untuk kita alami guna memurnikan cinta kita kepada-Nya, serta menguduskan kita.

Seorang karyawan dapat melakukan pekerjaan dengan dedikasi tinggi, hanya untuk mendapati bahwa orang lain yang tidak bekerja apa-apa yang justru beroleh penghargaan.
Seorang ibu membesarkan anak-anaknya dengan penuh cinta, serta mengasihi suaminya seutuhnya, hanya untuk mendapati bahwa suaminya diam-diam berselingkuh dengan sahabat baiknya, dan anak-anaknya menelantarkan dia di hari tuanya.
Seorang pengusaha begitu terlibat aktif dalam hidup menggereja dan gemar beramal, hanya untuk mendapati ekspansi usahanya justru merugi dan gagal total, seolah tak diberkati Tuhan.
Seorang calon Imam menjawab panggilan Tuhan untuk menjadi penjala manusia, dan bersyukur atas kedua orang tuanya yang telah membesarkan dia seturut Iman Katolik, serta dengan dukungan cinta dan doa mereka turut membantu tumbuh suburnya benih panggilannya, hanya untuk mendapati berita mendukakan bahwa kedua orang tuanya tewas mengenaskan dalam sebuah kecelakaan beberapa jam sebelum Misa Pentahbisannya, dan meninggal tanpa sempat memperoleh Sakramen Pengurapan Minyak Suci.
Seorang petani yang mengharapkan hasil panen yang baik dan setiap hari pergi ke ladang untuk menjaga dan merawat tanamannya, hanya untuk mendapati bahwa serangan hama menyerang tanamannya dan menggagalkan panenannya.

Dalam pelbagai situasi sulit demikianlah, Injil hari ini seolah membawa kita pada suatu kesadaran akan apa artinya beriman kepada Allah, dan tanpa kuatir menaruh pengharapan pada Penyelenggaraan Ilahi-Nya.
Dalam pergumulan hidup yang demikian, disaat doa dan air mata seolah tak terjawab, disaat Allah seolah diam tak menjawab, ingatlah seruan ini, “Jangan kuatir! Jangan takut! Berharaplah kepada Allah! Percaya saja!
Allah tetap masuk akal, meskipun segala yang terjadi seolah tidak masuk akal. Tetaplah percaya dan berharaplah senantiasa kepada Allah, kendati tidak ada satupun alasan untuk percaya, dan tidak ada satupun dasar untuk berharap.
Dalam hidup para tokoh dalam Kitab Suci seperti Abraham, Ayub, Musa, Perawan Maria, Rasul Paulus, dan para saksi iman di sepanjang sejarah, kita dapat melihat bagaimana mereka meletakkan segala kekuatiran mereka, serta menaruh pengharapan hanya kepada Allah.
Laut yang tenang tidak akan menjadikan seorang pelaut mahir.
Di balik kegelapan hidup yang demikian, milikilah kepastian iman untuk memandang cahaya Tuhan.
Ibarat sebuah lukisan mahakarya seorang pelukis terkenal, kalau dilihat terlalu dekat dengan mata kita, seolah hanya sebuah goresan tanpa makna dan nilai seni.
Tetapi ketika mengambil langkah untuk mundur, menjauh selangkah demi selangkah, perlahan kita akan melihat keindahan lukisan itu secara utuh.
Demikianlah hidup beriman kita di dunia ini.
Yakinlah, bahwa Tuhan selalu tahu apa yang lebih baik bagi kita.
Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” (Mt.6:26)
Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?” (Mt.6:30)
Percayalah kepada Tuhan tanpa syarat, dan dengan kepercayaan tanpa batas.

Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Mt.6:34)
Sikap tidak kuatir dan pengharapan kepada Allah, tidak sama dengan masa bodoh dan pasrah menghadapi hidup, apalagi jika dengan cerobohnya kamu mencobai Tuhan dengan tidak bekerja dan melakukan apa-apa, atas landasan kekeliruan beriman, serta kesesatan memahami arti sejati dari Penyelenggaraan Ilahi.
Ini bukan berarti duduk diam tidak bekerja, mengharapkan makanan dan rejeki jatuh dari langit, seperti Manna di padang gurun. Ini bukan berarti mengurung diri di kamar sambil berdoa novena menantikan jodoh yang seiman, padahal engkau tidak pernah melangkah keluar dari kamar untuk berelasi. Ini juga bukan berarti keyakinan tidak sehat akan mukjizat Tuhan saat didiagnosa kanker, namun bersikeras menolak tindakan medis, dan justru berlari kesana-kemari seperti orang yang ketergantungan narkotika, untuk menghadiri KKR Pengkhotbah “Superstar” yang memberi janji surga telinga, bahwa semua orang pasti disembuhkan oleh minyak urapan dan mukjizat Tuhan, yang seringkali palsu dan dijalankan seperti bisnis berkedok pelayanan Kristiani dengan tujuan mengisi pundi-pundi uang dari hasil keringat orang yang putus asa, serta menggunakan kuasa yang bersumber dari iblis yang menyamar sebagai malaikat terang.
Belajarlah beriman secara sehat dan bertanggung jawab.
Mukjizat dan pertolongan Tuhan bukanlah barang jajanan di etalase toko, bukan pula sesuatu yang dipertontonkan dan memukau di bawah sorotan lampu serta asap di panggung layaknya konser profan.
Jangan pernah merendahkan kuasa Tuhan pada tingkatan serendah itu.

Cinta, belas kasih, dan pertolongan Tuhan itu sifatnya personal sekaligus komunal.
Hidupmu sungguh berharga bagi Allah, begitu berharganya sehingga bila diandaikan dengan ukuran cinta, Allah mencintaimu seolah-olah hanya ada kamu saja satu-satunya di dunia ini untuk dicintai. Demikianlah kebaikan dan cinta Tuhan kepada kita masing-masing.
Sadar akan kebaikan-Nya, kita pun diingatkan bahwa, “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan.” (Mt.6:24a)
Jangan mendua hati!
Kalau Allah mencintaimu seutuhnya dan sepenuhnya dengan hati yang tak terbagi, demikianlah pula hendaknya kamu membalas cinta-Nya.
Jangan pernah mengatakan kamu mencintai Allah dengan segenap hati, bila pada kenyataannya kamu masih menduakan Dia dengan keenggananmu untuk melepaskan segala berhala, kelekatan, persahabatan dengan dosa, dan hidup dalam kegelapan.
Kalau kamu sungguh merindukan Dia serta mengharapkan belas kasihan dan berkat-Nya, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mt.6:33)

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Jumat dalam Pekan Biasa XI

image

MELEKATLAH KEPADA ALLAH

Bacaan:
2Kor.11:18,21b-30; Mzm.34:2-3,4-5,6-7; Mat.6:19-23

Renungan:
Kita pasti sudah pernah mendengar perkataan bahwa, “Hidup di dunia ini hanya sementara.
Kendati demikian, banyak orang menjalani hidup seolah-olah tidak akan pernah berjumpa dengan “saudari maut“, dan tidak sedikit pula kita jumpai mereka, termasuk di antaranya saudara-saudari seiman, yang menghadapi detik-detik terakhir hidupnya dalam penolakan, serta bersikap seolah-olah mereka tidak pernah hidup.
Kelekatan seringkali menjadi penyebab utama.
Bagaimana seorang beriman menghadapi kematian, sangat ditentukan oleh bagaimana dia memandang dan menjalani hidup.
Kematian bagi mereka yang menjalani hidup tanpa kelekatan akan dunia ini, adalah saat yang sungguh membahagiakan, sedangkan bagi mereka yang begitu melekat dan tenggelam dalam dunia ini, kematian dapat menjadi peristiwa yang menakutkan, yang begitu bodohnya berusaha dihindari dengan berbagai cara.
Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus mengingatkan kita, “Dimana hartamu berada, disitu hatimu berada“.
Iman Kristiani tidak pernah melarang kita untuk menginginkan atau memiliki sesuatu dalam hidup.
Seorang pekerja mengharapkan gaji yang lebih baik, promosi jabatan, atau bonus tahunan. Sebuah keluarga muda akhirnya memiliki rumah impian dari hasil tabungan mereka selama bertahun-tahun. Seorang pengusaha ingin melakukan ekspansi bisnis agar usahanya semakin berkembang. Seorang petani bersukacita karena hasil yang baik dari panenan tahun ini.
Tidak ada yang salah dari semuanya itu.
Menjadi keliru bilamana hati kita melekat pada apa yang kita sebut sebagai “kepunyaan, harta, atau milik” itu. Segala usaha dan kerja kita hendaknya menjadi sarana bagi kita untuk menguduskan diri dan sesama, sambil tetap mengarahkan hati kita untuk melekat kepada Allah.
Salah satu cara untuk menghindari kelekatan adalah dengan setiap hari merenungkan kata “cukup“.
Ensiklik “Laudato Si’” yang kemarin dimaklumkan oleh Bapa Suci Paus Fransiskus, dilatarbelakangi oleh keprihatinan pastoral melihat kerakusan manusia yang tidak pernah merasa cukup.
Bahkan, doa Bapa Kami, yang kita renungkan perikopnya kemarin, dengan jelas berseru kepada Allah Bapa kita untuk memberi rezeki/makanan yang “secukupnya“.
Kelekatan dan kerakusan akan harta/milik pun merupakan salah satu sumber ketidakbahagiaan terbesar manusia di segala zaman.
Belajarlah merasa cukup.
Kalau diberi karunia makanan berlimpah, belajarlah berbagi dengan yang kelaparan. Kalau mobil yang lama masih layak dan baik kondisinya, tidak perlu membeli mobil yang baru, apalagi dengan uang yang bukan hakmu. Kalau gaji suami hampir tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan bulanan, janganlah memaksakan diri untuk membeli tas atau barang bermerek.
Belajarlah merasa cukup untuk berbahagia. Mereka yang berbahagia adalah mereka yang tahu bersyukur.
Hendaknya dimengerti pula bahwa harta yang menjadi kelekatan kita tidak selalu berarti uang. Itu dapat berupa hobi, minuman keras, gosip, bahkan tontonan pornografi atau hiburan yang menjerumuskan orang ke dalam kegelapan.
Oleh karena itu hari ini renungkanlah, “Apa hartaku yang paling berharga, yang membuat hatiku tidak melekat pada Allah?
Mohonkanlah rahmat Allah untuk melepaskan kelekatan itu, dan mulailah mengarahkan pandangan “mata-mu” kepada Allah, supaya hidupmu bercahaya dan mendatangkan keselamatan atasmu dan semua orang yang berjumpa dan disentuh olehmu dalam peziarahan di dunia yang sementara ini.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Kamis dalam Pekan Biasa XI

image

BAHAYA RUTINITAS

Bacaan:
2Kor.11:1-11; Mzm.111:1-2.3-4.7-8; Mat.6:7-15

Renungan:
Bangsa Yahudi dikenal karena ketekunan mereka dalam doa, bukan hanya di masa lalu, melainkan di sepanjang sejarah sampai saat ini. Di balik berbagai kejatuhan, kemalangan, maupun pergumulan yang mereka hadapi sebagai umat kesayangan Allah, doa selalu menjadi pusat kehidupan mereka, sumber kekuatan mereka. Doa resmi mereka pun dilakukan 3 waktu dalam sehari. Suatu warisan iman yang dalam tradisi Kristiani memperoleh bentuk dan keindahan tersendiri lewat “Doa Ofisi” (Doa Brevir), dan dikenal pula sebagai salah satu bentuk “Doa Vokal” (Doa Lisan).
Dalam Injil hari ini kita diajak merenungkan doa sejati, sebagaimana diajarkan oleh Tuhan kita. Yesus memperingatkan para murid akan bahaya menjadikan doa sebagai rutinitas atau formalitas, yang dapat menurunkan derajat doa menjadi suatu tindakan mekanis tanpa makna. Pada titik rendah demikian, doa memang diarahkan kepada Allah, tetapi menjadi hampa karena tidak disertai kerinduan untuk memikirkan Dia, menyembah Dia, dan mencintai Dia.
Entah Awam, Biarawan-biarawati, Imam, siapapun kita, apapun latar belakang hidup dan profesi kita, panggilan untuk berdoa adalah suatu hal yang mutlak perlu.
Tidak mungkin mencapai kekudusan tanpa doa.
Adalah sangat baik pula untuk memiliki jam doa harian, baik secara pribadi maupun komunitas.
Namun, dalam Injil hari ini, kita diajak untuk menghindari bahaya menjadikan doa harian kita sebagai suatu rutinitas.
Doa harusnya merupakan tindakan cinta, suatu perjumpaan cinta antara Allah dengan manusia.
Itulah sebabnya, diperhadapkan pada kecenderungan dimana doa menjadi bertele-tele, panjang tanpa makna, Tuhan Yesus mengajar kita bagaimana seharusnya berdoa.
Dia mewariskan kepada kita doa “Bapa Kami“.
Keberanian menyapa Allah sebagai “Bapa” dalam doa, sebagaimana yang diajarkan oleh Tuhan kita, menunjukkan keluhuran panggilan kita sebagai putra-putri Allah, sekaligus mengungkapkan bagaimana kita seharusnya mendekati Dia dalam doa, yakni suatu kemesraan cinta antara seorang anak dengan Bapanya.
Inilah doa sejati, bukan rutinitas atau formalitas, bukan rasa hormat yang kaku seolah menghadapi pemimpin lalim, melainkan rasa hormat berlandaskan cinta mesra seorang anak yang menyapa Bapanya.
Doa “Bapa Kami” adalah Doa Agung yang diajarkan oleh Tuhan kita sendiri. Iman Katolik dan Tradisi Gereja, telah mewarisi doa ini dari Tuhan sendiri, untuk kita serukan sesering mungkin dengan kesederhanaan dan kemurnian hati seorang anak.
Sangatlah disayangkan, bahwa dalam banyak komunitas Kristiani dan saudara-i seiman, kita jumpai kenyataan bahwa doa inipun mulai ditinggalkan atau menjadi rutinitas belaka. Bahkan, banyak pengkhotbah yang merasa dirinya guru dalam doa, justru mengajarkan metode-metode doa baru, terkadang tidak Kristiani, yang justru mengembalikan doa pada bentuk bertele-tele, kesalehan palsu berselubung pengucapan doa yang lantang dan manis didengar.
Doa yang sederhana, bila didoakan dalam keheningan batin oleh hati yang mencinta, jauh lebih bernilai dibandingkan doa yang memukau yang diucapkan di atas panggung dengan sorotan lampu konser oleh seorang pendoa yang berlagak “superstar“.
Doa bukanlah pertunjukan di hadapan manusia, melainkan suatu gerakan cinta dalam ketersembunyian batin bersama Allah.
Temukanlah keindahan doa yang sederhana dalam doa “Bapa Kami“, sebagaimana diajarkan oleh Tuhan kita, suatu doa agung yang merangkum seluruh ungkapan hati manusia kepada Allah. Melangkahlah dalam doa dengan cinta seorang anak yang mendekati Bapanya, dan biarlah keheningan doa itu membawamu pada persatuan cinta yang mesra dengan Allah.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Rabu dalam Pekan Biasa XI

image

KESALEHAN YANG SEJATI

Bacaan:
2Kor.9:6-11; Mzm.112:1-2.3-4.9; Mat.6:1-6.16-18

Renungan:
Berdoa, berpuasa, dan berderma adalah 3 kebajikan utama dalam hidup keagamaan bangsa Yahudi. Ini mereka lihat sebagai tanda-tanda kesalehan seseorang, 3 pilar utama yang mendasari kebaikan hidup seseorang menurut ukuran keagamaan Yahudi. Jika demikian, kenapa Tuhan Yesus memperingati para murid perihal menjalankan 3 kebajikan ini?
Tuhan Yesus sebenarnya hendak mengajak kita semua untuk melihat tujuan sejati dari kebajikan-kebajikan ini. Mengapa kita berdoa, berpuasa, dan berderma?
Apa selama ini kita melakukannya sekadar menjalankan kewajiban agama, berharap untuk dilihat orang, dan dipuji sebagai orang yang saleh? Ataukah kita menjalankannya terdorong oleh semangat kesalehan sejati untuk memuliakan Tuhan lewat kebajikan-kebajikan itu?
Kesalehan sejati bukanlah sekadar merasa lebih baik dari orang lain atau untuk terlihat kudus di hadapan orang. Pemikiran semacam itu justru hanya akan melahirkan kesalehan palsu.
Kita bisa saja mendapat pujian dunia dari kesalehan palsu demikian, tetapi di hadapan Allah yang melihat jauh ke kedalaman jiwa kita, itu sama sekali tak bernilai. Tidak ada yang tersembunyi di hadapan Dia, maka malanglah dia yang mencari kemuliaan dunia yang fana, tetapi kehilangan kemuliaan kekal karenanya.
Kesalehan yang sejati dilakukan semata-mata karena cinta bakti kepada Allah.
Kita berdoa karena memandang doa sebagai perjumpaan yang mesra dengan Allah, Kekasih jiwa kita. Kita berpuasa didorong oleh hati yang remuk redam untuk memurnikan diri kita dari segala bentuk kedagingan, dan dari persahabatan dengan dosa. Kita berderma, karena menyadari bahwa segala kepunyaan sebenarnya bukanlah milik kita, melainkan milik Allah yang kita terima dari tangan kemurahan-Nya, sehingga sudah sewajarnya juga bila dipersembahkan kembali bagi karya Allah.
Inilah kesalehan sejati yang seharusnya mendasari kebajikan-kebajikan yang kita lakukan. Suatu bentuk kesalehan yang bersumber dari api cinta, sembah bakti, keterpesonaan, dan ketaatan suci kepada Allah.
Inilah kesalehan sejati yang sanggup menyentuh hati Tuhan, yang karena melihat kemurnian cinta dari doa, puasa, dan derma kita, pada akhirnya menggerakkan Hati-Nya untuk berbelas kasih serta melimpahi kita dengan segala kepenuhan rahmat-Nya.

Pax, in aeternum.
Fernando