Meditasi Harian ~ HARI RAYA PASKAH KEBANGKITAN TUHAN

image

MAKAM ITU TELAH KOSONG

Bacaan:
Kis.10:34a.37-43; Mzm. 118:1-2.16ab-17.22-23; Kol.3:1-4 atau 1Kor.5:6b-8; Yoh.20:1-9

Renungan:
Untuk mengimani Kristus yang bangkit, setiap orang beriman harus terlebih dahulu berhadapan dengan misteri makam yang kosong.
Memang benar bahwa Yesus telah bangkit, tetapi Dia tidak serta-merta menampakkan diri kepada para murid-Nya dalam kemuliaan kebangkitan.
Pengakuan akan kebangkitan Tuhan pertama-tama haruslah berasal dari dalam diri para murid sendiri.
Sikap para murid dalam melihat makam yang kosong menunjukkan bahwa sekali lagi untuk memahami misteri iman, kita dituntut untuk memiliki relasi cinta yang sungguh pribadi dan dekat dengan Tuhan.
Maria Magdalena ketika melihat makam yang kosong justru menjadi begitu sedihnya dan berlari mendapatkan para murid yang lain untuk mengatakan, “Tuhan telah diambil orang dari kubur-Nya dan kami tidak tahu dimana Ia diletakkan.
Bahkan Petrus, Kepala para Rasul, mendengar kejadian itu berlari dan melihat ke makam, sesudah masuk ke dalam, dipenuhi kebingungan dan tanda tanya dalam hatinya.
Kemudian, masuklah ke dalam makam, murid yang dikasihi Yesus, dia yang tiba dahulu tetapi tidak masuk karena hormatnya kepada Petrus, yang telah diserahi tugas oleh Tuhan sebagai Kepala Gereja.
Murid yang pertama tiba itu adalah seorang yang selalu bersandar pada dada Tuhan, yang begitu mengasihi dan dicintai oleh Penyelamat kita. Murid yang terkasih itu kemudian masuk, melihat makam yang kosong, dan “percaya“.
Dia yang mencintai Tuhan dengan segenap hatinya adalah dia yang mengerti cara Tuhan bertindak, dan pada akhirnya menjadi dia yang pulang ke “rumah“, ke tengah dunia, sebagai pribadi yang diubahkan, sebagai saksi Kebangkitan.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ KAMIS PUTIH

image

PANGGILAN DI TENGAH MALAM

Bacaan:
Kel.12:1-8.11-14; Mzm.116:12-13.15-16bc.17-18; 1Kor.11:23-26; Yoh.13:1-15

Renungan:

“Setiap kali kita makan roti ini dan minum dari piala ini, kita menyatakan Iman kita.”

Seruan “Anamnese” ini mengungkapkan dengan begitu indah dan tepat maksud terdalam dari perayaan malam Kamis Putih.
Malam ini, “Passover” atau “Paskah” Yahudi sebagai kenangan saat Allah melawati Israel umat-Nya, menemukan makna baru dan kepenuhannya dalam Kristus, Roti Kehidupan yang sejati.
Malam ini seluruh alam semesta menyaksikan belas kasih Tuhan yang tanpa batas, bahkan sampai saat-saat terakhir.
Malam ini kita mengenangkan anugerah cinta terbesar dari-Nya, yaitu “Sakramen Ekaristi Yang Mahakudus“.
Sebagaimana para rasul merayakan perjamuan terakhir di ruang atas untuk menyantap Tubuh dan Darah Tuhan, demikianlah kita melakukan kembali kenangan yang sama.
Setiap kali umat beriman berkumpul di sekeliling altar untuk menyambut Tubuh dan Darah Tuhan, pada saat itulah kita menyatakan Iman Kristiani kita secara paling sempurna.
Gereja tanpa Ekaristi adalah mati.

Akan tetapi, malam ini kita tidak hanya mengenangkan penetapan Ekaristi.
Kamis Putih tidak dapat dipisahkan dari “Malam di Taman Zaitun“, yang didahului peristiwa Yesus membasuh kaki para rasul.
Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan itu memang tepat, sebab sungguh demikian. Maka dari itu kalau Aku Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, kamupun harus membasuh kaki satu sama lain.” (bdk.Yoh.13:13-14)
Pembasuhan kaki melambangkan panggilan kita untuk menerima bagian-bagian terburuk dan paling hina dari kemanusiaan, baik diri sendiri maupun sesama.
Akan tetapi, pembasuhan kaki sebenarnya juga memiliki makna yang lebih dalam, yaitu panggilan untuk menjemput kematian sebagai seorang hamba yang taat dan setia.
Setelah selesai membasuh kaki para murid, Yesus memulai bagian akhir dan parirpurna dari karya penebusan-Nya sebagai Putra Allah.
Hari ini Tuhan dan Penyelamat kita melangkah ke dalam malam gelap untuk berdoa dalam sakratul maut di Taman Zaitun, ditinggalkan dalam kesendirian oleh orang-orang yang dikasihi-Nya tanpa batas, dikhianati Yudas dengan sebuah kecupan, ditangkap oleh para prajurit Bait Allah, disangkal Petrus, digiring ke dalam pengadilan Sanhedrin yang penuh konspirasi serta ketidakadilan, hingga kemudian diserahkan kepada Pilatus untuk menerima penyaliban.
Marilah kita merenungkan sejenak rangkaian peristiwa malam di Taman Zaitun ini, karena disinilah terkandung rahasia penebusan kita.

image

Ke dalam malam yang ditandai dengan kehilangan komunikasi dan kemampuan untuk saling memandang ini, Yesus masuk untuk mengembalikan komunikasi yang terputus dengan Allah, sehingga semua orang boleh memandang Allah dalam diri-Nya tanpa harus binasa.
Di tengah kegelapan dimana si Iblis yang menjauhi Cahaya boleh leluasa menebar kematian, disaat segala sesuatu menjadi tak terpahami dan ketika kebenaran seolah terselubung, disitulah Yesus bercahaya dan mengenyahkan kegelapan, untuk menjadi jawaban dan pilihan terbaik, sehingga semua orang beroleh hidup dalam kebenaran.

Saat Tuhan dan Penyelamat kita melangkah ke dalam malam, Ia hendak mengingatkan kita bahwa sebuah pelita tidaklah berguna di dalam terang.
Para kudus yang beroleh mahkota dan bermandikan cahaya kemuliaan di surga, adalah orang-orang yang sepanjang hidupnya telah berjalan menyusuri lorong-lorong gelap dunia ini, mengatasi ketakutan dan kelemahan pribadi mereka, untuk membawa cahaya dan menerangi semua orang di sepanjang perjalanan hidup mereka, dan pada akhirnya keluar sebagai pemenang.
Mereka yang kehilangan hidupnya karena bercahaya seperti pelita sampai sehabis-habisnya, pada akhirnya akan memperoleh hidup dan sukacita surgawi bersama Allah.
Seorang Kristiani dipanggil untuk membawa cahaya ke dalam dunia dan mengenyahkan kegelapan malam dimanapun Tuhan menempatkan kita untuk hadir dan berkarya.
Oleh karena itu, sebagaimana Yesus melangkah ke dalam malam di Taman Zaitun, demikianlah kita juga dipanggil melewati malam dunia ini.
Bagaimana kita bertahan melalui malam ini dengan pelita yang bernyala, dan keluar sebagai pemenang, sangat ditentukan oleh 3 sikap ini.

Pertama: Milikilah kerendahan hati untuk berlutut. Injil mencatat bagaimana Tuhan Yesus mengajar kita untuk berlutut dalam doa (bdk.Luk.22:41). Bahkan, Matius dan Markus mencatat lebih lagi, yaitu Yesus bersujud dan merebahkan diri ke tanah (bdk.Mat.26:39; Mrk.14:35), sebagaimana yang dilakukan oleh Imam dalam liturgi Jumat Agung. Seorang Kristiani yang dapat berlutut dengan rendah hati di hadapan Allah, akan sanggup berdiri melawan kejahatan dunia dan tipu muslihat Si Jahat, karena berserah sepenuhnya pada kekuatan dari Allah, bukan dari dirinya sendiri.

Kedua: Bersikaplah selayaknya seorang anak. Dalam doa-Nya saat mengalami sakratul maut di Taman Zaitun, Tuhan Yesus menyapa Allah sebagai “Ya Abba- Ya Bapa” (bdk.Mrk14:36). Ini bukanlah sapaan yang biasa, melebihi sapaan “Ayah“, lebih seperti seorang anak kecil menyapa Papanya. Di dalamnya terkandung makna keakraban yang sangat dekat sebagai seorang anak, suatu ungkapan yang sangat berani untuk ditujukan kepada Allah. Maka, bilamana sebagai seorang Kristiani kita beroleh keistimewaan untuk menyapa Allah sebagai “Ya Abba- Ya Bapa“, kita dituntut pula untuk berlaku sebagaimana layaknya seorang anak. Kita harus senantiasa memelihara hidup kudus dan tak bercela di hadapan-Nya. Kita dipanggil untuk selalu menguduskan diri, menguduskan karya, dan menguduskan seluruh dunia melalui karya.

Ketiga: Jawablah selalu “Ya” kepada Allah dan “Tidak” kepada Si Jahat. Di Taman Zaitun, Yesus mengungkapkan sikap ini dengan begitu mengagumkan dalam doa-Nya, “Tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (bdk.Mrk.14:36)
Iman seorang Kristiani untuk percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah, mengandung pula konsekuensi kepasrahan untuk menyerahkan seluruh kehidupan kita tanpa syarat dan dengan kepercayaan tanpa batas, terutama di saat rancangan dan jalan Tuhan berlawanan dengan apa yang kita rancangkan atau inginkan untuk dijalani.

Semoga sama seperti Tuhan Yesus menemukan kekuatan untuk merangkul Salib setelah melewati malam di Taman Zaitun, kita pun menemukan kekuatan yang sama untuk menjadi pelita di tengah kegelapan zaman ini, serta memenangkan seluruh dunia karena Salib Kristus. Semoga santapan Tubuh dan Darah Tuhan dalam Sakramen Ekaristi Yang Mahakudus, senantiasa menjadi sumber kekuatan dan daya hidup kita. Dan kiranya doa dan kasih keibuan Santa Perawan Maria, Bunda Penolong yang baik, menghantar kita untuk menemukan sukacita Injil di balik misteri Salib.

Pax, in aeternum.
Fernando

ALLAH saja CUKUP!

MINGGU BIASA VIII ( TAHUN LITURGI – A )

Bacaan I – Yesaya 49: 14-15

Mazmur Tanggapn – Mzm. 62: 2-3. 6-7. 8-9ab

Bacaan II – 1 Korintus 4: 1-5

Bacaan Injil – Matius 6: 24-34

 

ALLAH saja CUKUP!

“Dapatkah seorang ibu melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak kandungnya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan dikau.” (Yes.49:15)

Saudara-saudari terkasih.

Di tengah situasi dunia yang dipenuhi berbagai ketidakpastian, peperangan, kemiskinan, kelaparan, ketidakadilan, dan berbagai kejahatan lainnya, dan di tengah kebisingan dunia yang membuat dunia mempertanyakan eksistensi dari Allah Yang Mahakuasa dan Mahacinta, kalimat dari kitab Yesaya ini merupakan suatu hiburan dan kekuatan bagi setiap orang yang percaya. Tuhan tidak pernah berhenti menyayangi umat-Nya. Dunia yang tercipta karena cinta-Nya yang besar, tidak mungkin akan ada dan sudah pasti binasa tanpa Tuhan. Allah senantiasa setia, meskipun umat manusia berulang kali tidak setia. Apabila dunia ini kehilangan keteraturan dan jatuh dalam jurang kegelapan dan ketiadaan cinta, hal itu dikarenakan sama seperti manusia pertama, kitalah yang telah berpaling meninggalkan persatuan cintakasih dengan Allah.

Si jahat telah menaburkan ke dalam hati dan pikiran kita suatu dorongan untuk mencari kepastian bahwa kita sungguh-sungguh dicintai Allah, dan karena kekuatiran akan hal itu, perlahan hati kita mulai tidak berpaut lagi kepada Allah. Daripada menyerahkan hidupnya kepada Allah, sebagian orang mencoba mengandalkan kekuatannya sendiri, yang lain mempercayakan dirinya pada organisasi maupun pribadi yang dianggap mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, malahan ada pula yang bertindak lebih jauh lagi dengan menyerahkan diri untuk menjadi budak dosa dan tawaran si jahat yang menjanjikan kebahagiaan palsu.

Bunda Gereja, yang “kepadanya telah dipercayakan rahasia Allah,” (bdk.1Kor.4:1c) hari ini menyuarakan kembali seruan Yesus, “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Mat.6: 24)

Saudara-saudari terkasih.

Segala kekuatiran manusia semuanya berakar pada kurangnya iman akan penyelenggaraan dan belas kasih Allah. Adalah menarik bahwa Yesus membandingkan hidup kita dengan burung-burung di langit, dan bunga bakung di ladang. Dalam menggunakan perbandingan demikian, kita  hendaknya bijaksana untuk melihat bahwa Yesus tidak bermaksud mengesampingkan pentingnya kerja. Sebab, bila kita sungguh-sungguh melihat, dalam kesehariannya ada proses kerja yang harus dilakukan baik oleh burung di langit maupun bunga bakung di ladang untuk hidup. Akan tetapi, maksud utama Yesus ialah untuk mengingatkan kita bahwa Allah turut bekerja di dalam semuanya itu. Jikalau hewan dan tumbuhan saja dipelihara oleh-Nya, maka sudah pasti Ia lebih lagi memelihara hidup manusia, yang diciptakan dalam gambar dan rupa-Nya.

Untuk menyadari penyelenggaraan dan belas kasih Allah yang sedemikian besarnya, kita memerlukan iman dan cinta yang besar pula. Kita tidak dapat mengabdi Dia setengah-setengah. Iman dan cinta kepada Allah, haruslah total dan tak terbagi, sebagaimana diungkapkan oleh St. Josemaria Escriva, “Tiada artinya bagiku hati yang mendua, bila kuberikan hatiku akan kuserahkan seluruhnya.” Sikap seperti inilah yang menjadikan kita hamba-hamba Kristus yang sejati, dan juga memberi makna baru dalam segala kerja yang kita lakukan sebagai sarana kekudusan. Sebagai rekan kerja Allah dalam karya penciptaan, kita dipanggil untuk “bekerja segiat-giat-Nya bagi Tuhan semesta alam,” demikian kata Yesaya. Jadikanlah pekerjaanmu sebagai sarana pengudusan diri, pengudusan kerja, dan pengudusan seluruh dunia melalui kerja. Lakukanlah semua itu dengan totalitas dan cinta, tanpa kekuatiran akan hari esok. Janganlah cemas, takut, dan kuatir, sebab di dalam Dia ada kelimpahan rahmat. “Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepada-Mu.” (Mat.6:33)

Kiranya Bunda Maria senantiasa menyertai kita dan menghantar kita pada kesadaran bahwa Allah saja Cukup, sehingga dengan demikian kita akan menyadari bahwa doa itu bukan soal meminta melainkan mencinta, dan bahwa Tuhan Yang Mahatahu, akan selalu mencukupkan segala yang kita butuhkan, asalkan kita menjalankan bagian kita untuk percaya, untuk mencinta, dan untuk berkarya bagi-Nya. (Verol Fernando Taole)

Cinta… cinta… cinta…

MINGGU BIASA VII ( Tahun Liturgi – A )

Bacaan I – Imamat 19: 1-2. 17-18

Mazmur Tanggapan – Mzm.103: 1-2. 3-4. 8. 10. 12-13

Bacaan II – 1 Korintus 3: 16-23

Bacaan Injil – Matius 5: 38-48

 

CINTA…CINTA…CINTA…

Saudara-saudari terkasih,

Dalam salah satu tradisi suci Kristiani diceritakan bahwa, di usia senjanya, Rasul Yohanes ditanya oleh murid-muridnya, “Guru, kenapa setiap hari engkau hanya berbicara tentang Cinta, cinta, dan cinta? Apakah tidak ada hal lain yang diajarkan oleh Yesus selain Cinta?” Dengan penuh kelembutan hati seorang bapa, Rasul Yohanes menjawab, “Karena dari seluruh ajaran Yesus, tidak ada satupun yang lebih penting selain Cinta, cinta, dan cinta.”

Hari ini Yesus memberi suatu Hukum Baru untuk menyempurnakan hukum yang lama. Pernyataan sabda, “Mata ganti mata dan gigi ganti gigi,” (Mat.5:38b) tidak boleh semata-mata dilihat sebagai pembenaran terhadap pembalasan dendam, melainkan sebenarnya hendak mengingatkan umat Allah di masa Pejanjian Lama, yakni mereka yang mengenal Allah dengan pemahaman yang sangat terbatas, bahwa pembalasan dendam ada batasnya, sebab dari semula kebencian dan dendam bukanlah kehendak Allah, jangan sampai kita menuruti dorongan kebencian dalam diri kita, sehingga pada akhirnya, kita melakukan tindakan yang justru berakibat putusnya relasi kita dengan Allah dan sesama. Sebab, sebagaimana kata pemazmur, “Tuhan itu pengasih dan penyayang, lambat akan marah dan penuh kasih setia.” (Mzm.103:8) Berulang kali Allah memperkenankan manusia mengenal Dia, agar sebagaimana Dia dikenal, demikian juga manusia, yang diciptakan oleh-Nya dan secitra dengan-Nya, seharusnya dikenal. Dengan perantaraan Musa, Allah kembali mengingatkan umat kesayangan-Nya dengan berkata, “Kuduslah kamu, sebab Aku ini Kudus. Janganlah engkau membenci saudaramu di  dalam hatimu…melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (bdk.Im.19:2.17-18) Kita kembali diingatkan akan kemurnian panggilan kita. “Panggilanku adalah Cinta,” demikianlah kata St. Theresia dari Lisieux. Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini bagaikan sebuah jendela bagi kita untuk melihat ke dalam hati Tuhan, asal segala Cinta, dan serentak tersungkur dalam keharuan dan rasa malu yang mendalam dalam kesadaran akan ketidaksempurnaan kita. Pesan Injil hari ini, “haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu di surga sempurna adanya,” (Mat.5:48) merupakan panggilan untuk membentuk diri kita hari demi hari agar semakin serupa dengan-Nya, suatu panggilan yang menuntut kita untuk melepaskan segala sesuatu, entah dosa, kenginan-keinginan pribadi, kelekatan, dan segala hal lain yang di luar Allah, suatu panggilan untuk mengosongkan diri dari dunia, serta memenuhi diri kita dengan Allah dan kehendak-Nya. Karena belas kasih-Nya, Allah telah mengijinkan saudara dan saya untuk mendekati Dia dalam kelimpahan cinta. Namun, untuk bersatu secara sempurna dengan-Nya dalam cinta, adalah penting bagi kita untuk memahami hakekat Cinta Sejati di dalam Dia, yang berbeda dengan cinta semu yang ditawarkan oleh dunia.

Cinta selalu siap untuk terluka & mengampuni

Cinta selalu siap untuk terluka & mengampuni

Pertama. Cinta sejati selalu siap untuk terluka. Cinta tanpa luka, bukanlah cinta. Cinta tanpa salib, bukanlah cinta. Cinta tanpa kerelaan untuk melepaskan, bukanlah cinta. Sama seperti Yesus yang mengosongkan diri dari ke-Allah-an-Nya dan mengambil rupa seorang hamba, demikianlah kita diminta untuk mengosongkan diri dari segala ke-Aku-an dan membiarkan kehendak Allah memenuhi diri kita. Sama seperti Kristus yang terluka, dimana semakin paku menghujam menembus tangan dan kaki-Nya, yang ada bukan kekurangan cinta melainkan kelimpahan cinta, demikianlah juga hendaknya kita. Kesejatian cinta kita semakin sempurna bilamana kita menerima segala luka, ketidakadilan, fitnah, hinaan, perlakuan kasar, dan berbagai kemalangan lainnya yang ditimpakan kepada kita oleh sesama kita, serta membiarkan luka cinta ini menghantar kita pada hakekat cinta yang kedua, yakni, mengampuni. Cinta sejati selalu bersedia untuk mengampuni. Pengampunan bagi jiwa merupakan suatu obat ilahi yang memurnikan jiwa dan memampukannya untuk mencintai tanpa syarat dan tanpa batas. Sama seperti Kristus, yang selalu dan selalu mengampuni, demikian juga hendaknya kita. Keengganan untuk mengampuni sama artinya dengan tunduknya jiwa pada belenggu setan, membiarkan diri kita untuk dirantai oleh amarah, kebencian dan dendam. Pengampunan bagaikan kunci yang membebaskan kita dari belenggu dosa, yang membuat kita terlepas dari rantai amarah, kebencian dan dendam. Pengampunan mengubah kemanusiaan kita yang rusak karena dosa, menjadi sempurna dalam segala keutuhannya. Bilamana kita sungguh-sungguh menerima hakekat cinta ini, dan hidup di dalam kesejatian cinta yang demikian, maka pada saat itulah kita menjadi sempurna, sama seperti Bapa adalah sempurna.

Saudara-saudari terkasih,

Sejak awal, Kekristenan telah menjadi penyangkalan terhadap dunia. Nilai-nilai Kristiani serta berbagai tuntutan moral yang terkandung dalam panggilan Kristiani, seolah bertentangan dengan dunia ini. Kita dipanggil untuk merasul di tengah dunia, yang awalnya tercipta karena Cinta, tetapi yang sekarang memalingkan wajahnya dari Sang Cinta. Perang saudara, pembunuhan massal, diskriminasi, kemiskinan dan kelaparan, aborsi, perceraian, hubungan bebas dan narkotika, semuanya seolah menjadi tanda zaman bahwa dunia ini semakin kehilangan arti Cinta yang sejati. Di tengah semuanya ini, kita semua dipanggil sebagai putra-putri Sang Cinta, untuk menjadi tanda yang menimbulkan perbantahan, sekaligus menjadi tanda iman dan seruan pertobatan, agar dunia ini, yang telah dibawa si jahat ke dalam jurang kegelapan yang dingin karena ketiadaan cinta, kelak boleh kembali dihangatkan oleh kobaran api cinta. Jadilah pelita-pelita yang dengan segala daya upaya dan karya, membawa cahaya bagi sesama. Semoga Perawan Tersuci Maria, Bunda Gereja, senantiasa memohonkan karunia-karunia Roh Kudus bagi hidup dan karya kita, agar karenanya, kita boleh mendatangkan api yang membakar seluruh dunia dalam nyala api cinta. (By: Verol Fernando Taole)

Kebebasan sejati hanya ada di dalam Tuhan

MINGGU BIASA VI ( TAHUN LITURGI – A )

Bacaan I – Putra Sirakh 15: 15-20

Mazmur Tanggapan – Mazmur 119: 1-2. 4-5. 17-18. 33-34

Bacaan II – 1 Korintus 2: 6-10

Bacaan Injil – Matius 5: 17-37

 

KEBEBASAN SEJATI HANYA ADA DI DALAM TUHAN

Saudara-saudariku yang terkasih.

Kebebasan merupakan suatu kata yang kuat. Karena kerinduan akan kebebasan, seorang yang miskin secara materi dapat bekerja keras untuk keluar dari jurang kemiskinan, seorang wartawan dapat dengan gigih menyampaikan berita yang mengungkapkan ketidakadilan, seorang dokter dapat melakukan berbagai penelitian medis untuk mencari obat dari penyakit yang mematikan, suatu bangsa dapat bangkit melawan perbudakan, dan sebuah rezim pemerintahan yang lalim dapat digulingkan. Kehendak bebas merupakan suatu anugerah Allah yang diberikan secara istimewa bagi manusia.

Akan tetapi, menjadi sesuatu yang sungguh amat membahayakan dan merusak kemanusiaan manakala kebebasan diartikan sebagai penyangkalan sepenuhnya terhadap hukum Tuhan. Kebebasan bukanlah kesewenang-wenangan, bukanlah semata-mata untuk menghendaki yang jahat. Celakalah orang yang memperjuangkan kebebasan manusia untuk hidup, tetapi disaat yang sama membenarkan aborsi yang melenyapkan kehidupan. Celakalah orang yang berusaha meningkatkan kualitas hidup manusia di bidang medis, tetapi disaat yang sama membenarkan euthanasia. Celakalah suatu bangsa yang berjuang untuk kemakmuran rakyatnya dengan menjajah bahkan memperbudak yang lain. Celakalah suatu kelompok masyarakat yang menghendaki kemapanan ekonomi, namun memalingkan wajah dari kemiskinan, membiarkan ketidakadilan, dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan itu. Bilamana demikian, maka sebenarnya itu bukanlah kebebasan, melainkan penghinaan terhadap tujuan utama dari kebebasan itu sendiri, penyangkalan terhadap martabat kemanusiaan yang mulia, dan perlawanan terhadap Hukum Tuhan yang akhirnya berujung pada kebinasaan. Kebebasan palsu yang demikian berasal dari si Jahat, bapa segala dusta.

Saudara-saudariku yang terkasih.

Pahamilah ini! Segala hukum manusia hanya dapat mendatangkan kebebasan sejati, manakala dibuat sejalan dengan hukum Tuhan. Hukum manusia manapun yang tidak mendatangkan kebebasan semua umat manusia, bukanlah hukum Tuhan. Kekebasan haruslah selalu dikejar untuk mencapai kebahagiaan semua manusia. Tidak ada kebahagiaan sejati di luar Tuhan. Kebebasan bukanlah penyangkalan terhadap hukum Tuhan, bukan pula ketidaksetiaan merangkul misteri salib. Oleh karena itu, ketaatan kepada kehendak Allah, kesetiaan untuk menjalankan hukum-hukum

Kebebasan sejati hanya dapat ditemukan di dalam Allah, dan dalam kesetiaan merangkul Salib.

Kebebasan sejati hanya dapat ditemukan di dalam Allah, dan dalam kesetiaan merangkul Salib.

Tuhan, serta ketekunan menapaki jalan Saliblah, yang pada akhirnya akan membebaskan kita. “Asal sungguh mau engkau dapat menepati hukum, dan berlaku setia pun dapat kaupilih.” (Sir.15:15) Jangan melihat kesetiaan akan hukum Tuhan sebagai sesuatu yang membebani, sehingga kita mencoba mencari celah-celah hukum untuk terbebas darinya. Lihatlah keindahan hukum Tuhan sebagai suatu panggilan suci untuk mengalami libertas filiorum Dei, kebebasan sejati anak-anak Allah. Ketidaksetiaan akan hukum Tuhan sebenarnya berarti kejatuhan dari kebebasan ke dalam belenggu dosa dan kuasa maut yang membinasakan. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menegaskan kembali bahwa kehadiran-Nya, kebebasan sejati yang Ia tawarkan, bukanlah untuk meniadakan atau membatalkan hukum-hukum Tuhan, melainkan untuk menggenapinya. Serangkaian aturan hukum Taurat yang dikemukakan dalam bacaan Injil hari ini, memperoleh makna baru di dalam Yesus. Asalkan kita sungguh-sungguh setia, seturut rahmat Tuhan, hukum-hukum-Nya akan terukir di hati kita, dan kita akan dengan penuh kerinduan mencari kehendak-Nya, karena kesadaran bahwa hanya dalam ketaatan mutlak kepada hukum Tuhanlah kita akhirnya menemukan kebebasan kita yang sejati. Barangsiapa dengan sungguh-sungguh dan penuh cinta melaksanakan segala hukum Tuhan, pada akhirnya, sebagaiamana kata-kata rasul Paulus, “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1Kor.2:9)

Pandanglah Perawan Maria, Bunda Kebijaksanaan. dalam dirinya Gereja melihat seorang hamba Tuhan yang tak bercela dalam kesetiaan akan hukum Tuhan. Maria telah mencari Tuhan dengan segenap hati. Kini, dia memperoleh kebebasan sejati, dan karenanya beroleh kelimpahan anugerah surgawi. Suatu kebebasan sebagai anak Allah yang diawali dengan kalimat sederhana, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.” Semoga Bunda Maria senantiasa menuntun kita, laksana Bintang Timur, yang menunjukkan jalan kesetiaan menuju Allah, sumber kebebasan, harapan dan sukacita kita yang sejati. ( By: Verol Fernando Taole )

Jadilah Garam dan Terang bagi dunia!

Salt and Light of the world

Jadilah Garam dan Terang bagi dunia!

RENUNGAN MINGGU BIASA KE – V ( TAHUN LITURGI – A )

Bacaan I – Yesaya 58: 7-10

Mazmur Tanggapan – Mzm.112: 4-5.6-7.8a.9

Bacaan II – 1 Korintus 2: 1-5

Bacaan Injil – Matius 5: 13-16

 

Jadilah Garam dan Terang bagi dunia!

Saudara-saudariku yang terkasih,

Hari ini, meskipun berbicara melalui suatu perumpamaan, Tuhan Yesus memberikan suatu gambaran yang sangat jelas, akan tugas dan panggilan kita sebagai seorang Kristen.

Kamu adalah Garam dunia

Pada zaman Yesus, garam adalah komoditas berharga. Orang-orang menggunakannya sebagai alat tukar dalam perdagangan, seperti halnya emas dan saham di masa kini. Di musim panas pada waktu itu, jauh sebelum ditemukannya listrik maupun kulkas, garam tidak hanya dipergunakan sebagai penyedap masakan, melainkan juga dipergunakan untuk mencegah daging dan bahan makanan sejenis lainnya dari pembusukan, atau dengan kata lain, untuk menjaga keutuhan dan kemurnian makanan itu agar terhindar dari perubahan.  Oleh karena itu, manakala Yesus menyebut para pengikut-Nya sebagai garam dunia, Dia hendak menunjukkan bagaimana seharusnya seorang Kristen hidup. Yesaya dalam bacaan I mengungkapkan kesejatian seorang hamba Allah. Ia dipanggil untuk memberi makan, perlindungan, pakaian, untuk tidak menyembunyikan diri maupun menutup mata terhadap dunia dengan segala kekurangannya, untuk tidak menebar fitnah dan dusta terhadap sesama. (bdk.Yes.58:7) Seorang Kristen yang sejati haruslah menjadi pribadi yang menghadirkan damai dan sukacita bagi setiap orang yang dia jumpai, untuk membawa sentuhan yang menyembuhkan bukannya melukai, untuk mempertahankan kemurnian martabat kemanusiaan yang diciptakan secitra dengan Allah, untuk mempertahankan hidup bukannya melenyapkan hidup, untuk senantiasa setia kepada martabatnya sebagai putra-putri Allah. Suatu panggilan luhur untuk menguduskan diri, menguduskan karya, dan menguduskan dunia melalui karya. “Jangan biarkan hidupmu menjadi sia-sia. Jadilah manusia yang berguna. Tinggalkan jejak. Pancarkan cahaya iman dan cinta kasihmu,” demikianlah kata St. Josemaria Escriva. Kegagalan menjalankan tugas luhur ini merupakan penyangkalan akan Allah dan kemanusiaan kita sendiri. Dengan keras Yesus mengatakan bahwa untuk orang yang demikian, “tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”  (Mat.5:13c)

Kamu adalah Terang dunia

Sebuah pelita pada zaman dahulu mempunyai fungsi yang kurang lebih sama dengan berbagai alat penerangan di zaman kita sekarang ini, yakni memampukan kita untuk melihat dan bekerja dalam kegelapan, membuat kita bisa melihat dengan lebih jelas, serta menjaga kita agar tidak tersandung dan jatuh. Seorang Kristen haruslah menjadi seorang pembawa cahaya untuk menghalau kegelapan dunia ini. Bagaikan sebuah kota yang berada di atas gunung yang tidak mungkin tersembunyi (Mat.5:14b), kita dipanggil untuk membuat semua orang melihat dengan jelas Kerajaan Allah dalam diri kita. Panggilan kita adalah untuk selalu berada di atas, untuk mengatasi dunia ini dan menerangi sebanyak mungkin orang melalui hidup dan karya kita, sehingga semua orang “melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu di surga.” (Mat.4:16b)

Saudara-saudariku yang terkasih,

Dua tugas kerasulan yang disampaikan hari ini, sudah pasti menuntut dari kita suatu keberanian iman untuk menjalani hidup kita sebagai suatu kesaksian akan kebaikan Allah, suatu keberanian untuk menapaki pendakian hidup yang dipenuhi berbagai jerat perangkap dan marabahaya yang telah disiapkan oleh si jahat. Sebab, dengan menjadi garam, berarti kita merelakan diri kita untuk tenggelam dan larut dalam dunia dengan segala kejahatannya, suatu tugas yang menuntut pengorbanan diri untuk menjadi makanan bagi dunia. Untuk menjadi terang yang menerangi banyak orang, pastilah akan banyak penderitaan yang harus kita rasakan dan alami. Dalam tugas luhur ini, tidak ada ruang untuk cinta diri, tidak ada sesuatu yang boleh kita jadikan sebagai milik yang harus dipertahankan, sebab dimana hartamu berada disitulah hatimu berada. Hartamu adalah Kristus. Karena itu, kehendak Kristus haruslah menjadi kehendakmu, kerinduan Kristus haruslah menjadi kerinduanmu, kecintaan Kristus haruslah menjadi kecintaanmu, luka-luka Kristus haruslah menjadi luka-lukamu. Kamu dipanggil “untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu, selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.” (1 Kor.2:2)

Hai para serdadu Kristus, lihatlah hidupmu! Lihatlah segala karya baik yang kamu lakukan!

Kamu yang seorang dokter, tukang, biarawati, pembantu rumah tangga, karyawan, pengusaha, buruh, hakim, tentara, imam, seniman, arsitek, penyapu jalan, apapun karya yang engkau kerjakan, ada suatu rahasia suci di balik semua yang kalian lakukan, sesederhana apapun itu dalam pandangan dunia. Ketahuilah bahwa Allah hendak menyatakan Kerajaan dan kemuliaan-Nya melalui pekerjaaanmu. Izinkanlah dunia merasakan sentuhan rahamat Allah melalui kehadiranmu di tengah dunia. Berikanlah motif adikodrati pada pekerjaanmu, maka engkau akan menguduskan dirimu dan seluruh dunia. Itulah arti sejati dari menjadi garam dan terang bagi dunia. Jangan takut! “Orang jujur tidak pernah akan goyah, ia akan dikenang selama-lamanya. Ia tidak gentar akan kabar buruk, hatinya teguh, penuh kepercayaan kepada Tuhan.” (bdk.Mzm.112:4-7) Jadilah seorang rasul Kristus yang berani, dan tularilah dunia ini dengan kegilaan dan kecintaanmu akan Kristus.

Dalam melakukan kerasulan suci ini, setiap orang pasti akan memiliki kelemahan, rasa takut dan gentar. Tetapi, milikilah kerendahan hati untukmengakui semuanya itu, dan temukanlah kekuatan dalam Roh Tuhan, “supaya imanmu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah,” (1 Kor.2:5) suatu kekuatan yang selalu bisa kamu temukan dalam Ekaristi Kudus dan sakramen-sakramen suci lainnya, dalam ketekunan merenungkan firman Tuhan, dalam doa, puasa dan mati raga.

Semoga Perawan Suci Maria, Ibu semua orang beriman, senantiasa menyertai kita dalam peziarahan iman dan kerasulan suci ini, sehingga sebagaimana Maria, yang selamanya menjadi hamba Allah yang setia, kita pun beroleh keberanian untuk selalu menjawab “Fiat voluntas tua” seumur hidup kita, sampai tiba saatnya Tuhan menentukan berakhirnya tugas kerasulan kita di dunia yang fana ini, dan memulai kerasulan yang baru kelak, di tanah air surgawi. ( Verol Fernando Taole )