Meditasi Harian 2 Februari 2016 ~ PESTA TUHAN YESUS DIPERSEMBAHKAN DI KENISAH

image

HIDUPKU PERSEMBAHANKU

Bacaan:
Mal.3:1-4; Mzm.24:7.8.9.10; Ibr.2:14-18; Luk.2:22-40

Renungan:
Hari ini, 40 hari sesudah Hari Raya Natal, Gereja Katolik sedunia merayakan peristiwa Tuhan Yesus dipersembahkan di Kenisah oleh Santa Perawan Maria dan Santo Yosef, dengan disaksikan oleh Nabi Simeon dan Nabiah Hana. Perayaan ini awalnya dirayakan di Gereja Katolik Timur dengan sebutan perayaan “Perjumpaan“, dan pada abad-6 mulai dirayakan pula oleh Gereja Katolik Barat hingga saat ini. Dalam tradisi Gereja Katolik Roma sendiri, termasuk di Indonesia, perayaan ini memiliki makna penting lainnya, yaitu inilah hari dimana lilin-lilin doa kita secara khusus diberkati (Candlemas).

Melalui Peristiwa Tuhan Yesus dipersembahkan kepada Allah Bapa dalam Kenisah, Bunda Gereja mengingatkan kita akan saat dimana kita pun pertama kali dipersembahkan kepada Allah dan mengambil bagian sebagai anggota keluarga Kerajaan-Nya, melalui Sakramen Baptis.
Hidup seorang Kristiani adalah hidup yang sejak awal dipersembahkan kepada Allah, dan semata-mata demi menyatakan kemuliaan-Nya.
Maka, setiap kali kita merayakan perayaan ini, ingatlah akan tugas suci ini.
Anda dan saya, kita semua dipanggil menjadi lilin-lilin Suci, yang membawa cahaya Tuhan untuk menerangi lorong-lorong gelap dunia ini, dan mewartakan tahun rahmat Tuhan dengan penuh sukacita Injil.

Hari ini Tuhan menyapa kita melalui Sabda-Nya, untuk setiap hari mempersembahkan segenap hidup, keluarga, anak-anak, pekerjaan, pelayanan, harta milik, cita-cita, segala talenta dan karunia yang ada pada kita, sebagai persembahan yang hidup dan indah, yang harum dan berkenan di Hati Tuhan.
Tidak cukup bagi seorang Kristiani untuk berbangga bahwa dia telah diselamatkan dan menjadi pengikut Kristus. Persembahan hidup yang sejati adalah hidup yang tidak hanya mendatangkan keselamatan bagi diri sendiri, melainkan juga membawa orang lain menapaki jalan keselamatan yang sama. Hidup yang berbuah baik, hidup yang memenangkan jiwa-jiwa. Itulah persembahan yang berkenan di Hati Tuhan.

Kepada siapa selama ini engkau telah mempersembahkan hidupmu? Kepada Allah ataukah justru kepada si jahat? Kepada Tuhan Sang Pemilik Hidup, ataukah kepada kelekatanmu akan keluarga, penyakit, kemalasan, kekayaan, ambisi pribadi, hobi, atau berbagai hal lainnya yang selama ini menjadi alasan di balik penolakanmu untuk memberi diri melayani Tuhan dan memenangkan jiwa-jiwa bagi-Nya?Sudahkah hidupmu dan segala milik kepunyaanmu menjadi persembahan bagi Allah? Ataukah itu semua membuatmu semakin menjauh dari-Nya? Apakah hidupmu berbuah bagi Allah, ataukah justru hanya menjadi talenta yang dikubur dalam-dalam tanpa menghasilkan buah?

Semoga Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel menyertaimu dalam pendakian menuju puncak Gunung Tuhan, kepada perjumpaan cinta sempurna dengan Dia. Suatu perjumpaan Cinta yang menuntut kelepasan darimu, dan pemberian diri secara total dan tanpa syarat kepada-Nya.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 4 Oktober 2015 ~ MINGGU BIASA XXVII

image

JANGAN BERTEGAR HATI !

Bacaan:
Kej.2:18-24; Mzm.128:1-2.3.4-5.6; Ibr.2:9-11; Mrk.10:2-16

Renungan:
Sejak awal penciptaan, Sakramen Pernikahan selalu bersifat monogami dan tak terceraikan antara seorang pria dan seorang wanita. Hukum Tuhan ini sedemikian jelas sehingga tidak ada celah bagi interpretasi yang berbeda, apalagi untuk memberinya makna baru dengan dalih supaya lebih sesuai dengan arus zaman.
Ketegaran hati manusialah yang seringkali mengaburkan dan berujung penolakan terhadap kebenaran ini.
Itulah sebabnya, putra-putri Gereja Katolik harus senantiasa membawa cahaya dan sukacita iman lewat kesaksian hidup yang meyakinkan.
Iman Kristiani hendaknya diwartakan secara otentik dan dihidupi secara total, kendati seringkali harus melawan arus zaman.
Iman kita adalah harga mati dan tidak bisa dinegosiasikan. Iman bukanlah gaya hidup yang dapat usang dan berganti seiring waktu.
Sabda Tuhan hari ini kembali mengajak kita untuk melihat martabat luhur dan kekudusan Sakramen Pernikahan serta kesejatian Keluarga dalam terang Iman.

Kendati didirikan oleh Tuhan Yesus sendiri, Gereja Katolik tidak menciptakan definisi dari Sakramen Pernikahan. Demikian pula segala institusi buatan manusia pun tidak.
Allah sendirilah yang telah menetapkannya.
TUHAN Allah berfirman: ‘Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.’ Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” (Kejadian 2:18.21-22.24)

Maka, manakala Gereja Katolik saat ini membela mati-matian martabat Pernikahan dan kesejatian Keluarga dari berbagai usaha si jahat yang mencoba merusaknya, itu sama sekali bukanlah sikap yang usang, ketinggalan zaman, apalagi diartikan secara diskriminatif dan tidak manusiawi.
Justru segala bentuk serangan terhadap kebenaran sejati inilah yang sebenarnya mendatangkan pengrusakan terhadap martabat hidup manusia, serta mengaburkan citra Allah dalam dirinya.

Sakramen Pernikahan adalah suatu panggilan yang Ilahi, di dalamnya kita dapat memandang pula gambaran cinta Kristus kepada Gereja sebagai Mempelai-Nya.
Sebagian besar umat beriman dipanggil untuk menapaki jalan panggilan luhur ini. Dan sebagaimana Firman-Nya, bahwa tidak ada satupun manusia boleh menceraikan atau merusak apa yang telah disatukan Tuhan, maka perceraian dan segala usaha merusak pernikahan maupun kesejatian keluarga, merupakan kekejian serta perlawanan terhadap rancangan indah dari Allah.

Amatlah mendukakan bahwa saat ini, bukan hanya mereka yang tak beriman, melainkan justru banyak orang yang menyebut diri pengikut Kristus, kini mulai meragukan, mempertanyakan, bahkan tak jarang menyerah di jalan suci dan luhur ini.
Jangan sampai kata-kata Tuhan Yesus menjadi teguran nyata bagi kita, bahwa “ketegaran hatimulah” yang telah membutakan serta membuatmu berpaling dari kesempurnaan kemanusiaan ini.

Dunia saat ini mengalami ketiadaan Allah yang luar biasa, suatu kegelapan iman dan penolakan terhadap Sang Cinta, melebihi masa-masa sebelumnya dalam sejarah.
Ketegaran hati dunia telah membuat banyak pasangan suami-istri jatuh dan menyerah dari panggilan untuk mencintai ketidaksempurnaan secara sempurna; pada ketidaksetiaan dan perzinahan; pada pemusnahan kehidupan dengan tindakan aborsi dan Euthanasia; pada kontrasepsi dan penciptaan maupun rekayasa kehidupan layaknya produk buatan pabrik; pada menjadi budak uang dan ambisi berkuasa, sampai lupa menyediakan waktu untuk orang yang mereka kasihi; pada kemajuan teknologi dan komunikasi, yang bukannya mendekatkan, melainkan semakin menjauhkan satu sama lain; pada interpretasi baru akan arti pernikahan maupun keluarga; dan pada hawa nafsu dunia yang menyesatkan.

Berjaga-jagalah sebab setan, si ular tua, saat ini mencoba melemahkan Gereja dengan menyerang Sakramen Pernikahan dan hidup berkeluarga.
Si jahat tahu, bahwa tanpa Sakramen Pernikahan dan Keluarga Kristiani yang sejati, tidak akan ada putra-putri Cahaya, tidak akan ada mereka yang memberi diri dalam panggilan suci, tidak akan ada karya kerasulan, tidak akan ada pewarisan Iman, tidak akan ada Gereja.

Dalam bagian akhir Injil hari ini, Tuhan Yesus menutup pengajaran-Nya mengenai keagungan Sakramen Pernikahan dan pentingnya Keluarga, dengan mengundang anak-anak datang kepada-Nya, sambil mengecam mereka yang mencoba menghalangi kehadiran anak-anak.
Maka, celakalah kamu, hai putra-putri kegelapan, yang mencoba merubah Ajaran Gereja dengan lobi-lobi kotormu; yang kini telah mengubah undang-undang di banyak negara untuk memberi definisi baru bagi Pernikahan, sebagai bukan lagi antara pria dan wanita; yang melegalkan aborsi, suatu tindakan keji untuk membunuh dengan dalih kemanusiaan maupun alasan medis; yang membenarkan bahkan memaksakan penggunaan berbagai bentuk kontrasepsi untuk menghalangi kehadiran anak-anak sebagai buah cinta; yang menghina Allah dengan rekayasa genetika untuk penciptaan manusia dari meja riset dan laboratorium; dan yang menentang panggilan prokreasi atas pertimbangan ekonomi, gejolak sosial serta politik.

Bukanlah suatu kebetulan bahwa mujizat pertama yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus dilakukan di Kana, di tengah Pernikahan, di dalam Keluarga. Oleh karena itu, Sabda Tuhan hari ini kiranya membaharui panggilan kita, serta pandangan iman kita akan Sakramen Pernikahan dan kesejatian Keluarga.
Tentu saja ada rupa-rupa tantangan dalam hidup pernikahan, akan selalu ada rupa-rupa pergumulan untuk melangkah bersama sebagai keluarga.
Tetapi, “Jangan Takut!
Pandanglah selalu salib Tuhan kita dan temukanlah kekuatan disana.
Santapan Ekaristi, Firman Tuhan, doa, puasa, matiraga, serta karya kerasulan hendaknya menjadi sumber kekuatanmu.
Bukankah Tuhan selalu ada di dalam kamu dan kamu di dalam Dia? Jika Tuhan berada di pihakmu, kenapa takut atau kuatir? Bersukacitalah!
Asalkan kamu selalu setia untuk melangkah bersama Dia, maka mujizat di Kana akan terjadi juga di dalam pernikahanmu, di dalam keluargamu. Tuhan selalu sanggup mengubah air menjadi anggur. Percaya saja!

Di bulan Rosario ini, marilah kita mengarahkan pandangan kepada Perawan Suci Maria. Mujizat di Kana terjadi karena Bunda Maria yang memintanya. Dialah gambaran kesempurnaan Gereja. Dia tampil bersama Santo Yosef sebagai teladan beriman suami-istri, sebagai keluarga Kudus.
Maka, adalah baik dan sungguh pantas bagi setiap keluarga Katolik untuk berlindung dan mempercayakan hidup rumah tangga mereka pada kasih keibuan Maria, untuk menyentuh Hati Yesus Yang Mahakudus melalui Hati Tersuci Maria.
Marilah kita juga membawa Sinode Keluarga 2015 yang hari ini akan dibuka di Kota Suci Roma.
Semoga Roh Kudus menyertai Bapa Suci Paus Fransiskus dan para Bapa Sinode, untuk tetap setia dalam kemurnian Ajaran Iman, dan membuahkan segala yang baik lewat Sinode ini, bagi keluhuran martabat Sakramen Pernikahan serta kesejatian keluarga, untuk menjawab berbagai tantangan dalam Pernikahan dan Keluarga Kristiani saat ini.
Yakinlah, bahwa sebagaimana Allah sendiri yang telah menetapkan Sakramen Pernikahan dan membentuk keluarga-keluarga Kristiani, Allah jugalah yang akan menyertai “Ecclesia Domestica” ini senantiasa.
Pada akhirnya, ketegaran hati pasti akan dikalahkan oleh kuasa Cinta Allah.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian ~ JUMAT AGUNG

image

KEBODOHAN SALIB

Bacaan:
Yes.52:13 – 53:12; Mzm.31:2.6.12-13-15-16.17.25; Ibr.4:14-16. 5:7-9; Yoh.18:1 – 19:42

Renungan:

Hari ini seluruh umat Allah berdiam sambil memandang dan merenungkan dalam suatu keheningan mistik akan sengsara dan wafat Tuhan kita Yesus Kristus di kayu salib. Kita memandang misteri salib dalam suatu kekaguman dan rasa syukur akan bukti cinta kasih Allah yang terbesar, tindakan yang menyelamatkan, yang memulihkan kembali hubungan manusia dengan Allah yang rusak akibat dosa.

Akan tetapi, hukuman penyaliban sendiri sebenarnya adalah bentuk hukuman paling keji dan hina di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi di masa lalu.
Seorang yang menerima hukuman salib, harus mengalami penderitaan luar biasa selama berjam-jam. Proses kematiannya pun berlangsung sangat lama, perlahan-lahan dan luar biasa menyakitkan. Bahkan, terkadang orang-orang yang menyaksikan hukuman ini harus mengambil inisiatif untuk mematahkan kaki para terhukum salib, agar penderitaan mereka boleh berakhir dan mati.
Begitu mengerikan, tidak manusiawi dan terkutuknya bentuk hukuman ini, sampai hukum Romawi pun mengatur bahwa seorang warga negara Romawi (masyarakat kelas I pada masa itu) tidak pernah boleh dihukum dengan cara seperti itu.

Karena itu, janganlah heran bilamana kita menyaksikan atau menemukan di sepanjang sejarah, sejak zaman para Rasul, bahkan sampai detik ini, orang-orang yang sulit memahami apalagi menerima kenyataan ini dan berkata, “Bagaimana mungkin Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus, apalagi sampai mati pada sepotong kayu dengan cara yang teramat memalukan, demi keselamatan umat manusia?”
Bagi orang Yahudi, ini sebuah skandal atau batu sandungan, sedangkan bagi mereka yang bukan Yahudi, ini suatu kebodohan. (bdk.1 Kor.1:23)

Akan tetapi, bagi kita yang dipanggil untuk mengikuti jalan Sang Tersalib, wafat-Nya di kayu Salib adalah bukti cinta kasih Allah yang terbesar, yang selamanya kita syukuri dan dengan bangga akui dalam pengakuan iman kita.
Pengakuan iman yang di sepanjang zaman seringkali berakibat kemartiran. Iman akan Kristus yang tersalib menyebabkan para pengikut Kristus dimusuhi oleh dunia, kehilangan sahabat dan kedudukan dalam masyarakat, dikucilkan, dihina, dianiaya, dirajam, dibakar hidup-hidup, dipenggal, bahkan dibunuh secara massal dan membabi-buta.

Salib adalah bagian tak terpisahkan dari hidup seorang Kristen. Tidak mungkin mengimani Yesus sebagai Tuhan dan Penyelamat,  tetapi menolak merangkul jalan penderitaan yang berujung pada Salib.
Apa yang bagi orang lain merupakan kebodohan dan batu sandungan, bagi kita adalah suatu keuntungan.
Pilihan untuk mengikuti Sang Tersalib sama sekali bukanlah batu sandungan, kebodohan, atau kesia-siaan.
Mereka yang setia sampai akhir, pada akhirnya akan menerima ganjaran kebangkitan dan hidup kekal bersama Allah.

Oleh karena itu, manakala Gereja Katolik di Jumat Agung ini mengenangkan Sengsara dan Wafat Tuhan, sambil menghormati dan berlutut mencium salib dengan penuh cinta bakti, kita sebenarnya hendak menyatakan iman kita kepada dunia, serentak kembali diingatkan untuk menerima panggilan kita untuk membawa iman akan Sang Tersalib kepada semua orang, apapun resikonya, agar seluruh dunia ini boleh turut memperoleh buah-buah penebusan Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus.

Cintailah pengurbanan; karena itu adalah sumber kehidupan rohani. Cintailah Salib, yaitu altar pengurbanan. Cintailah sakit, sampai engkau minum seperti Kristus, hingga tetesan terakhir dari piala itu.” ~ St. Josemaría Escrivá

Pax, in aeternum.
Fernando

MINGGU PRAPASKA V

image

KRISTEN BERARTI KRIMINAL

Bacaan I
Yer.31: 31-34
Mazmur Tanggapan
Mzm.51: 3-4.12-13.14-15
Bacaan II
Ibr.5:7-9
BACAAN INJIL
Yoh.12:20-33

Renungan:
“Jikalau biji gandum jatuh ke dalam tanah dan mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (bdk.Yoh.12:24).
Adalah menarik untuk melihat kisah hidup Gereja Perdana. Dari sejarah kita mengetahui bahwa di Antiokhia-lah para pengikut Kristus pertama kali beroleh gelar “Kristen”. Para penguasa Romawi-lah yang memberi gelar atau sebutan itu. Maka, seorang Kristen, menurut hukum Romawi, adalah mereka yang dianggap rekan kerja Kristus, anggota partai Kristus. Tentu saja penguasa Romawi sudah pasti tahu bahwa Tuhan Yesus Kristus dihukum mati sebagai seorang Penjahat atau Kriminal. Oleh karena itu, menjadi seorang Kristen berarti menjadi pengikut seorang penjahat dan sebagai akibatnya, karena mereka mengikuti ajaran Kristus, orang-orang Kristen layak dihukum mati. Mereka dianggap sebagai bagian dari organisasi kriminal. Dengan demikian, sebutan “Kristen” menjadi suatu istilah resmi dalam Hukum Pidana pada waktu itu: siapapun yang menyandang gelar ini tanpa harus melakukan kesalahan apapun, sudah bersalah dengan sendirinya. Menjadi seorang Kristen berarti menaruh papan besar di dada kita yang bertuliskan “Siap Dihukum Mati”.
Akan tetapi, yang mengagumkan ialah, kendati mengandung makna yang sedemikian menakutkan, toh orang-orang Kristen pada waktu itu justru tidak gentar, merangkul salib, bahkan dengan bangga mengakui bahwa memang benar mereka “Kristen”.
Inilah suatu kenyataan yang terus-menerus disaksikan oleh dunia sepanjang sejarah sampai saat ini, mulai St. Stefanus Martir Pertama, para martir awal di Roma, St. Thomas Moore di Inggris, St. Edith Stein di masa Nazi Jerman, bahkan sampai pada para martir di Syria, Iraq, dan Libya di masa sekarang ini.
Tak terbilang banyaknya mereka yang mati karena nama Kristus. Darah para martir telah membasahi muka bumi ini sepanjang sejarah dan menjadi bagaikan benih yang mati dan menghasilkan banyak buah.
Oleh karena itu, perkataan Kristus dalam Injil hari ini mengandung suatu kebenaran yang tidak bisa dipungkiri, bahwa konsekuensi menjadi seorang Kristen ialah panggilan untuk menjadi “Martir”.
Untuk menerima kenyataan ini secara penuh, seseorang harus mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah.
Mati terhadap segala kelekatan terhadap dunia, bahkan kecintaan akan nyawa kita sendiri, demi Allah dan Kerajaan-Nya.
Sama seperti Kristus membawa keselamatan bagi dunia melalui sengsara dan wafat-Nya di salib, demikian pula kita saat ini dipanggil untuk membawa tanda-tanda penderitaan Kristus di tengah dunia yang kini semakin memalingkan wajahnya dari kasih Allah.
Kita diminta untuk membawa kesaksian iman kita di tengah keluarga, persahabatan, pekerjaan, dalam segala lingkup kehidupan, apapun resikonya.
Melalui Sakramen Pembaptisan yang diteguhkan kembali dalam Sakramen Krisma, Allah telah meletakkan dalam hati kita kecintaan akan Hukum-Nya.
Suatu ketaatan suci bagaikan sebuah luka cinta, yang membuat hati kita tidak pernah tenang sebelum beristirahat dalam Dia.
Jadilah rasul-rasul Kristus yang meluap-luap dalam cinta akan Dia, dan tularkanlah kegilaan yang sama ke seluruh dunia.
Masa Prapaska adalah saat rahmat bagi kita untuk menyadari kembali panggilan luhur ini.
Mendekatlah kepada Allah, maka Allah akan mendekat pada-Mu, dan mengobarkan hatimu dalam cinta akan Dia.

Pax, in aeternum.
Fernando

Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah

PESTA YESUS DIPERSEMBAHKAN DI KENISAH

Bacaan I – Maleakhi 3: 1-4

Mazmur Tanggapan – Mzm. 24: 7, 8, 9, 10

Bacaan II – Ibrani 2: 14-18

Bacaan Injil – Lukas 2: 22-40

 

MERANGKUL SALIB DI BALIK CAHAYA

Hari ini, 2 Februari, 40 hari sesudah Hari Raya Natal, Gereja Timur maupun Barat merayakan suatu tradisi liturgi tua yang pada zaman dahulu memiliki makna penting dalam hidup umat beriman. Suatu perayaan yang awalnya menekankan kemurnian dan ketaatan Perawan Maria, kini beroleh makna baru dalam Terang Kristus, dan sekarang dikenal dengan Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah.

Ketika tiba waktu pentahiran menurut hukum Musa, 40 hari sesudah kelahiran-Nya, orang tua Yesus, Maria dan Yusuf membawa Yesus untuk dipersembahkan kepada Allah. Liturgi Gereja mengangkat satu bagian dari kisah Injil Lukas ini yang dengan indah menceritakan perjumpaan antara Bayi Yesus dengan Nabi Simeon yang sudah lanjut umurnya. Suatu perjumpaan yang melampaui segala perjumpaan manusia manapun di dunia. Saking berlimpah dalam kebahagiaan akan perjumaan itu, Simeon pun berseru, “Sekarang Tuhan, perkenankanlah hamba-Mu berpulang dalam damai sejahtera, menurut sabda-Mu.” (Luk.2:29) Dalam Gereja Yunani, peristiwa ini dirayakan dalam liturgi dengan nama Hypapanti, artinya Pertemuan/Perjumpaan. Perjumpaan antara Sang Bayi dan Nabi tua ini menggambarkan perjumpaan antara dunia kekafiran dengan dunia baru dalam Kristus, antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru, antara umat perjanjian yang begitu disayangi Allah dengan Gereja, yang membuka jalan keselamatan bagi semua bangsa. Apa yang hendak diwartakan oleh Gereja dalam perayaan ini bukan sekedar akhir dari masa lampau dan awal dari sesuatu yang baru. Bukanlah suatu pemisahan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Sebab seandainya demikian, berarti sia-sialah penantian Simeon dan Hana, karena karya keselamatan yang dibawa Kristus tidak diperuntukkan bagi mereka. Tetapi tidaklah demikian. Penantian Simeon dan Hana tidaklah sia-sia.

Kedatangan Kristus sungguh adalah peristiwa yang telah dinanti-nantikan. Dalam diri Bayi Yesus, terpenuhilah nubuat Nabi Maleakhi, “Tuhan yang kamu nanti-nantikan segera akan datang ke kenisah-Nya,” (Mal.3:1b) agar nantinya, seperti yang dikatakan oleh penulis kitab Ibrani, “Ia menjadi Imam Agung yang berbelas kasih dan yang setia kepada Allah, untuk memberi pepulih atas dosa seluruh bangsa.” (Ibr.2:17b) Inilah yang dinanti-nantikan oleh umat manusia sejak kejatuhannya dalam dosa. Suatu pengharapan bagi semua orang, pengharapan yang melampaui kematian karena mendatangkan kehidupan kekal. Dalam sukacita iman akan perjumpaan yang telah dinanti-nantikan inilah, Simeon yang mewakili umat pilihan Allah, dalam kepenuhan Roh Kudus, menyebut Sang Bayi Yesus sebagai, “Cahaya untuk menerangi para bangsa.” (Luk.2:32) Dalam terang Injil inilah, liturgi Gereja merayakan hari ini sebagai Pesta Cahaya. “Siapakah Raja Mulia itu? Tuhan semesta alam, Dialah Raja Mulia.” (Mzm.24:10) Dialah Sang Kristus, Cahaya dunia.

Namun demikian, di balik sukacita Pesta Cahaya hari ini, secara tersamar kita bisa melihat misteri Salib. Sesudah memadahkan Nunc Dimittis-nya, pandangannya Simeon terarah kepada Maria. Dalam diri Maria, Simeon memandang Gereja dan berkata, “Suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri” (Luk.2:35) Kata-kata ini mengingatkan Gereja bahwa untuk senantiasa hidup di dalam cahaya, berarti kita dipanggil juga untuk mencintai salib dan merangkulnya dalam kesetiaan. Dengan dibaptis, kita telah mempersembahkan hidup kita seutuhnya sebagai milik Allah, sebagai putra-putri kesayangan-Nya, untuk merindukan apa yang Dia rindukan, dan mencintai apa yang Dia cintai, sebagaimana Kristus sendiri.

Simeon menerima Sang Kristus

Simeon menerima Sang Kristus

Sama seperti Kristus, kita diingatkan bahwa, untuk menjadi cahaya, kita harus merangkul salib kita sebagai tanda iman, kemudian melangkah ke Kalvari. Tidak ada kemuliaan tanpa salib. Siap-sedialah manakala dunia menghujamkan pedangnya menembus jiwa kita. Kesetiaan kita merangkul salib sampai akhir dengan sendirinya akan menjadi tanda pengharapan serta mendatangkan cahaya iman bagi banyak orang. Jadikanlah dirimu sebagai persembahan yang hidup dan berkenan di hati Allah. Hiduplah sebagai anak-anak Terang, yang senantiasa merindukan Tuhan dan membiarkan diri kita dimurnikan oleh nyala api cinta-Nya. Bersama Tuhan kita akan mengalahkan dunia. Ekaristi adalah sumber kekuatan kita. Dalam Sakramen Suci ini, kita tidak hanya berjumpa dengan Tuhan, melainkan kita menjadi satu dengan Dia. Dengan makan Tubuh Tuhan dan minum Darah-Nya, Ia tinggal di dalam kita dan kita tinggal di dalam Dia. Suatu daya hidup yang memampukan kita untuk senantiasa menguduskan diri, menguduskan karya, serta menguduskan seluruh dunia melalui karya kita.

Semoga Santa Perawan Maria, Bunda Dukacita, menuntun kita dengan kasih keibuannya untuk selalu merindukan Putranya, mempersembahkan hidup kita seutuhnya bagi pewartaan Kerajaan Allah, dan menjadi putra-putri Cahaya yang menghalau kegelapan dosa dimanapun kita berada dan berkarya. ( Verol Fernando Taole )