Meditasi Harian 1 Januari 2016 ~ HARI RAYA SANTA MARIA BUNDA ALLAH

image

KENAPA HARUS MARIA ?

Bacaan:
Bil.6:22-27; Mzm.66: 2-3.5.6.8; Gal.4: 4-7; Luk.2: 6-21

Renungan:
Bersama Gereja Katolik sedunia, hari ini kita merayakan Hari Raya Santa Maria Bunda Allah. Kenapa harus Maria? Di saat seluruh dunia tenggelam dalam kemeriahan dan sukacita perayaan Tahun Baru, kenapa Gereja Katolik justru merayakan Hari Raya Santa Maria Bunda Allah? Apakah institusi yang telah berusia 2000-an tahun ini benar-benar menyembah Maria? Suatu pertanyaan yang menggeletik akal budi dan sikap beriman, bukan hanya bagi dunia, tetapi mungkin juga bagi beberapa warga Gereja. Bukankah Maria hanyalah manusia biasa yang rahimnya dipinjam Allah untuk melahirkan Putra Allah ke dunia? Tidak…sekali-kali tidaklah demikian.

Maria memang adalah manusia biasa, sama seperti kita. Dia terlahir dan dibesarkan oleh orang tuanya, pasangan Santa Anna dan Santo Yoakim, dalam sebuah keluarga, sama seperti kebanyakan dari antara kita. Kita juga bisa menemukan hidup yang dijalani oleh Maria di sekitar hidup kita sehari-hari. Tetapi, terlepas dari berbagai kesamaan hidup yang demikian, kita menemukan suatu kenyataan iman bahwa ternyata di balik segala hal yang biasa dan sama dengan kita, ada suatu misteri iman teramat agung yang membuat hidup Wanita ini sungguh pantas dirayakan di awal tahun yang baru ini. Manakala Gereja menetapkan Hari Raya Santa Maria Bunda Allah untuk dirayakan pada hari pertama dalam tahun, itu semata-mata karena dalam perayaan ini, Gereja menginginkan kita merayakan martabat dan panggilan luhur kita sebagai manusia. Maria memang adalah manusia biasa, namun bagaimana rahmat Allah bekerja dalam dirinya, dan bagaimana ia menanggapi kehendak Allah di sepanjang hidupnya, itulah yang menjadikannya luar biasa.

Allah dapat saja menciptakan dunia yang lebih baik daripada dunia dimana kita hidup saat ini, tetapi Dia tidak dapat menciptakan dan menetapkan Ibu yang lebih sempurna selain Ibu-Nya, Maria. Demikian kata-kata para teolog serta para kudus (Santo dan Santa) mengenai Bunda kita yang tercinta ini.
Sejak awal hidupnya, Maria telah dipenuhi rahmat dan dipilih secara isimewa oleh Allah untuk menjadi Bunda Allah. Oleh karena itu, sejak dalam kandungan sampai wafatnya, Maria telah dibebaskan dari segala dosa. Bilamana Hawa, ibu dari semua yang hidup, membuat seluruh umat manusia jatuh ke dalam dosa, maka Maria tampil sebagai “Hawa Baru”, yang melahirkan Dia, Sang Penebus dosa seluruh umat manusia. Maria satu-satunya manusia yang beroleh kehormatan menjadi Bunda Sang Pencipta (Mater Creatoris) dan Bunda Sang Juruselamat (Mater Salvatoris). Di sepanjang hidup Maria, kita dapat melihat suatu keteladanan beriman yang teramat patut dipuji, yang sanggup menyentuh hati Allah oleh “Fiat-nya”. Dialah satu-satunya manusia yang selalu menjawab “Ya” kepada Allah. Tak pernah sekalipun dalam hidupnya dia menjawab “Tidak”, meskipun dengan menjadi Bunda Allah, dia sekaligus menjadi Bunda Dukacita. Melebihi semua manusia yang pernah hidup, dia menjalani hidup sebagai hamba Allah, yang setia melalui malam-malam gelap, tenggelam dalam cinta yang menghanguskan.

Jika dikatakan bahwa sebagai seorang kristiani, kita dipanggil untuk menjadi berkat Allah bagi banyak orang (bdk. Bacaan I), Maria sebenarnya telah lebih dahulu melakukannya. Malahan, Maria tidak hanya sekedar menjadi berkat, melainkan lebih dari itu, dia melahirkan Sang Berkat, yakni Yesus Kristus, Imanuel. “Kita dilahirkan oleh karena Hawa, dan diangkat ke surga oleh karena Maria,” demikian kata Santo Agustinus, seorang Uskup pada abad-5. Keteladanan iman Wanita suci ini, telah dipuji dan dirayakan oleh Gereja Perdana, selama 2000 tahun, jauh sebelum munculnya Reformasi pada abad-15. Karena itu, mereka yang membuang tradisi suci ini sebenarnya telah menyangkal kekayaan iman yang telah diwartakan dengan bangga, dan diwariskan sejak zaman para Rasul.

Dengan dasar-dasar iman inilah kita boleh memahami, bahwa sebenarnya Hari Raya Santa Maria Bunda Allah, bukanlah perayaan akan Maria semata-mata, melainkan suatu perayaan keselamatan akan karya agung Allah. Gereja menampilkan bagi kita sosok teladan, warga Gereja yang paling bercahaya, hamba Allah yang paling setia, gambaran kesempurnaan Gereja. Bagaikan sebuah lukisan, Maria adalah lukisan terindah dari Allah, Sang Pelukis Yang Agung.

Hari ini Gereja mengundang kita, untuk melihat hidup kita masing-masing dalam diri Maria. Tahun-tahun kehidupan Maria telah dia jalani dalam cinta yang meluap-luap akan Allah, dalam kesetiaan tanpa syarat dan kepercayaan tanpa batas akan segala rancangan Tuhan. Bagaikan sebuah kertas kanvas yang kosong, Maria telah membiarkan hidupnya dilukis oleh Tuhan menjadi sebuah lukisan yang teramat indah. Lihatlah perayaan iman ini sebagai saat sentuhan rahmat bagi kita, untuk membiarkan Allah berkarya dalam tahun-tahun kehidupan kita, untuk membiarkan Sang Pelukis Agung melukiskan karya-Nya dalam kertas kanvas kosong kita masing-masing, agar sama seperti Maria, kita boleh menjadi lukisan yang indah bagi kemuliaan Allah,sehingga semua orang boleh berseru, “Ya Abba, Ya Bapa.” (Gal. 4: 6c)

Selamat menjalani Tahun yang baru. “Tuhan memberkati dan melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.” (Bil. 6: 23-26)

Regnare Christum Volumus!

Meditasi Harian ~ HARI RAYA PENTAKOSTA

image

PENTAKOSTA VS BABEL

Bacaan:
Kis.2:2-11; Mzm.104: 1ab.24ac.29bc.30.31.34; Gal.5:16-25; Yoh.15:26-27. 16:12-15

Renungan:
Pentakosta adalah perayaan kesatuan umat dalam iman, pemahaman, kesaksian, dan komunikasi kasih.
Umat manusia saat ini dengan bangganya menyatakan bahwa dirinya semakin menjadi dekat satu dengan yang lain karena kemajuan dalam komunikasi, transportasi, teknologi, dan berbagai kemajuan zaman lainnya. Batasan-batasan geografis, suku, agama, dan budaya, seakan mulai sirna.
Kendati demikian, kitapun menyaksikan bahwa justru di tengah berbagai usaha manusia untuk mendekatkan diri satu sama lain dengan berbagai sarana dari kemajuan tersebut, peradaban kita saat ini semakin ditandai pula dengan berbagai bentuk kebencian, konflik, semakin sulitnya komunikasi dan kesepahaman antara generasi, kecenderungan untuk semakin menutup diri dan terjebak dalam arus jejaring sosial yang membuat manusia kehilangan komunikasi yang lebih nyata dan personal, pemaksaan nilai-nilai baru yang justru merusak martabat manusia, dan egoisme serta kerakusan untuk memenangkan kepentingannya sendiri dengan berbagai cara.
Jikalau demikian, dapatkah benar-benar dikatakan bahwa umat manusia zaman sekarang lebih dekat dibanding sebelumnya, semakin bersatu, semakin saling memahami dan saling berbagi?
Tidakkah usaha manusia saat ini memiliki kesamaan dengan keadaan di masa lalu saat menara Babel dibangun?

Kisah Babel adalah gambaran kemanusiaan yang ingin bersatu, ingin semakin saling memahami dan memiliki bentuk komunikasi yang sama agar lebih mendekatkan diri satu dengan yang lain, serta tidak ingin lagi tercerai-berai. Tetapi, segala usaha ini dilakukan tanpa Tuhan. Mereka merasa dapat menciptakan sendiri jalan ke surga, dan didorong oleh hasrat untuk menciptakan surga serta berkuasa atas hidupnya tanpa Tuhan.
Dan lihatlah, pada akhirnya yang terjadi justru kekacauan dan kehancuran.

Apa yang terjadi di zaman Babel, memiliki kesamaan dengan masa sekarang ini, hidup kita saat ini. Berbagai kemajuan dan ilmu pengetahuan telah memberi kita kekuatan untuk mendominasi kekuatan alam, untuk memanipulasi unsur-unsur dalam kehidupan kita, untuk mereproduksi makhluk hidup, hampir ke titik penciptaan manusia yang seutuhnya. Dalam situasi demikian, berdoa kepada Allah seolah menjadi sesuatu yang ketinggalan zaman, sia-sia, karena kita dapat membangun dan menciptakan apapun yang kita inginkan tanpa Tuhan. Kita tidak menyadari bahwa atas satu dan berbagai cara, kita sebenarnya menghidupkan kembali pengalaman yang sama seperti Babel.
Ada suatu paradoks, bahwa kendati dengan bangganya kita mengatakan atau mengklaim bahwa berbagai kemajuan saat ini telah membuat kita semakin dekat, semakin komunikatif, semakin bersatu, dan semakin saling memahami satu dengan yang lain, pada kenyataannya justru kita semakin enggan untuk saling memahami, semakin merasa tidak percaya, curiga, takut, terancam, menjatuhkan satu dengan yang lain.
Kalau demikian, apa yang sebenarnya yang salah? Bagaimana kita dapat benar-benar memiliki hidup dalam keharmonisan yang sejati?

Jawabannya ada dalam Kitab Suci: persatuan hanya bisa ada dan nyata bila Roh Allah juga berkarya di dalamnya. Sebab hanya oleh Roh-Nya kita dapat diberi hati yang baru dan lidah baru, kemampuan baru untuk berkomunikasi. Inilah yang terjadi pada hari Pentakosta. Pada pagi itu, lima puluh hari setelah Paskah, angin kuat bertiup di atas Yerusalem, dan api Roh Kudus turun atas para murid yang berkumpul disitu. Roh Allah dalam rupa lidah-lidah api itu turun dan menetap di atas kepala masing-masing dari mereka, dan memicu di dalamnya api ilahi, api cinta yang mampu mengubah segala hal. Ketakutan mereka menghilang, hati mereka dipenuhi dengan kekuatan baru, lidah mereka dikendurkan dan mereka mulai berbicara dengan bebas, sedemikian rupa sehingga semua orang yang menyaksikan dan mendengar mereka, beroleh kesaksian akan Kristus yang bangkit. Pada hari Pentakosta, dimana ada perpecahan dan ketidaksepahaman, persatuan dan kesepahaman lahir.

Injil hari ini mengungkapkan penegasan Yesus akan hal ini dengan begitu indahnya: “Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (Yoh.16:13).
Dalam Injil hari ini, Yesus hendak juga menjelaskan bagaimana Gereja seharusnya menampilkan dirinya di tengah dunia, yakni kita dipanggil untuk menjadi tempat dimana semua orang dapat menemukan persatuan yang sejati, komunikasi kasih tanpa kepalsuan, jalan yang aman untuk bersatu dengan Allah. Gereja harus menjadi tempat dimana semua orang menemukan hati yang terbuka dan mencinta, dimana martabat manusia dihargai, dan dimana kehidupan senantiasa diperjuangkan dan memperoleh makna.

Dengan demikian, orang dapat melihat dengan jelas mengapa Pentakosta adalah Pentakosta, dan Babel adalah Babel.
Kitapun mengerti apa yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus, yang memperingatkan kita untuk senantiasa dipimpin oleh Roh, dan menjauhi kedagingan.
Pentakosta ditandai dengan buah-buah Roh, sedangkan Babel mengalami kehancuran karena didasarkan pada keinginan-keinginan daging.
Kita tidak bisa memiliki keduanya. Kita harus memiliki keberanian untuk memilih di pihak mana kita berdiri.
Semoga Perawan Suci Maria, Mempelai Roh Kudus, menjadi Bintang Timur yang menunjukkan jalan yang benar bagi kita, mengingatkan kita di pihak mana kita harus berdiri, agar sebagaimana Bunda Maria, kita senantiasa terbuka terhadap pimpinan Roh, kita pun membiarkan Roh Allah berkarya seluas-luasnya dalam hidup kita, sehingga pada akhirnya kita boleh menemukan kesatuan, pemahaman, komunikasi kasih, dan iman yang sejati, yang membawa kita untuk beroleh keselamatan yang kekal di dalam Allah.

Veni Sancte Spiritus !

Pax, in aeternum.
Fernando

Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah

Santa Maria Bunda Allah

Santa Maria Bunda Allah

Hari Raya Maria Bunda Allah

( Tahun Liturgi A – B – C )

 

Bacaan I – Bilangan 6: 22-27

Mazmur Tanggapan – Mazmur 66: 2-3.5.6.8

Bacaan II – Galatia 4: 4-7

Bacaan Injil – Lukas 2: 6-21

KANVAS YANG KOSONG

Kenapa harus Maria? Di saat seluruh dunia tenggelam dalam kemeriahan dan sukacita perayaan Tahun Baru, kenapa Gereja Katolik merayakan Hari Raya Santa Maria Bunda Allah? Apakah institusi yang telah berusia 2000-an tahun ini benar-benar menyembah Maria? Suatu pertanyaan yang menggeletik akal budi dan sikap beriman, bukan hanya bagi dunia, tetapi mungkin juga bagi beberapa warga Gereja. Bukankah Maria hanyalah manusia biasa yang rahimnya dipinjam Allah untuk melahirkan Putra Allah ke dunia? Tidak…sekali-kali tidaklah demikian.

Maria memang adalah manusia biasa, sama seperti kita. Dia terlahir dan dibesarkan oleh orang tuanya, pasangan Santa Anna dan Santo Yoakim, dalam sebuah keluarga, sama seperti kebanyakan dari antara kita. Kita juga bisa menemukan hidup yang dijalani oleh Maria di sekitar hidup kita sehari-hari. Tetapi, terlepas dari berbagai kesamaan hidup yang demikian, kita menemukan suatu kenyataan iman bahwa ternyata di balik segala hal yang biasa dan sama dengan kita, ada suatu misteri iman teramat agung yang membuat hidup Wanita ini sungguh pantas dirayakan di awal tahun yang baru ini. Manakala Gereja menetapkan Hari Raya Santa Maria Bunda Allah untuk dirayakan pada hari pertama dalam tahun, itu semata-mata karena dalam perayaan ini, Gereja menginginkan kita merayakan martabat dan panggilan luhur kita sebagai manusia. Maria memang adalah manusia biasa, namun bagaimana rahmat Allah bekerja dalam dirinya, dan bagaimana ia menanggapi kehendak Allah di sepanjang hidupnya, itulah yang menjadikannya luar biasa.

Sejak awal hidupnya, Maria telah dipenuhi rahmat dan dipilih secara isimewa oleh Allah untuk menjadi Bunda Allah. Oleh karena itu, sejak dalam kandungan sampai wafatnya, Maria telah dibebaskan dari segala dosa. Bilaman Hawa, ibu dari semua yang hidup, membuat seluruh umat manusia jatuh ke dalam dosa, maka Maria tampil sebagai Hawa “Baru”, yang melahirkan Dia, Sang Penebus dosa seluruh umat manusia. Di sepanjang hidup Maria, kita dapat melihat suatu keteladanan beriman yang teramat patut dipuji, yang sanggup menyentuh hati Allah oleh “Fiat-nya”. Dialah satu-satunya manusia yang selalu menjawab “Ya” kepada Allah. Tak pernah sekalipun dalam hidupnya dia menjawab “Tidak”, meskipun dengan menjadi Bunda Allah, dia sekaligus menjadi Bunda Dukacita. Melebihi semua manusia yang pernah hidup, dia menjalani hidup sebagai hamba Allah, yang setia melalui malam-malam gelap, tenggelam dalam cinta yang menghanguskan.

Jika dikatakan bahwa sebagai seorang kristiani, kita dipanggil untuk menjadi berkat Allah bagi banyak orang (bdk. Bacaan I), Maria sebenarnya telah lebih dahulu melakukannya. Malahan, Maria tidak hanya sekedar menjadi berkat, melainkan lebih dari itu, dia melahirkan Sang Berkat, yakni Yesus Kristus, Imanuel. “Kita dilahirkan oleh karena Hawa, dan diangkat ke surga oleh karena Maria,” demikian kata Santo Agustinus, seorang Uskup pada abad-5. Keteladanan iman Wanita suci ini, telah dipuji dan dirayakan oleh Gereja Perdana, selama 2000 tahun, jauh sebelum munculnya Reformasi pada abad-15. Karena itu, mereka yang membuang tradisi suci ini sebenarnya telah menyangkal kekayaan iman yang telah diwartakan dengan bangga, dan diwariskan sejak zaman para Rasul.

Dengan dasar-dasar iman inilah kita boleh memahami, bahwa sebenarnya Hari Raya Santa Maria Bunda Allah, bukanlah perayaan akan Maria semata-mata, melainkan suatu perayaan keselamatan akan karya agung Allah. Gereja menampilkan bagi kita sosok teladan, warga Gereja yang paling bercahaya, hamba Allah yang paling setia, gambaran kesempurnaan Gereja. Bagaikan sebuah lukisan, Maria adalah lukisan terindah dari Allah, Sang Pelukis Yang Agung.

Hari ini Gereja mengundang kita, untuk melihat hidup kita masing-masing dalam diri Maria. Tahun-tahun kehidupan Maria telah dia jalani dalam cinta yang meluap-luap akan Allah, dalam kesetiaan tanpa syarat dan kepercayaan tanpa batas akan segala rancangan Tuhan. Bagaikan sebuah kertas kanvas yang kosong, Maria telah membiarkan hidupnya dilukis oleh Tuhan menjadi sebuah lukisan yang teramat indah. Lihatlah perayaan iman ini sebagai saat sentuhan rahmat bagi kita, untuk membiarkan Allah berkarya dalam tahun-tahun kehidupan kita, untuk membiarkan Sang Pelukis Agung melukiskan karya-Nya dalam kertas kanvas kosong kita masing-masing, agar sama seperti Maria, kita boleh menjadi lukisan yang indah bagi kemuliaan Allah,sehingga semua orang boleh berseru, “Ya Abba, Ya Bapa.” (Gal. 4: 6c)

Selamat menjalani Tahun yang baru. “Tuhan memberkati dan melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.” (Bil. 6: 23-26) – fernando