Meditasi Harian 26 Maret 2017 ~ MINGGU IV PRAPASKAH (LAETARE)

DIA MELIHAT HATIMU

Bacaan:

1Sam.16:1b.6-7.10-13a; Mzm.23:1-3a.3b-4.5.6; Ef.5:8-14; Yoh.9:1-41

Renungan:

Hidup beriman ibarat suatu pendakian gunung. Perjalanannya tidak selalu mudah, bahkan tak jarang harus melalui bahaya dan melewati lereng-lereng yang tidak selalu diterangi oleh cahaya, dimana kegelapan menyulitkan kita untuk melihat kehendak Tuhan. Ketika pendakian rohani mulai mendekati puncak pun, kita akan semakin menderita kepayahan. Itulah sebabnya banyak yang memulai pendakian, tetapi sedikit saja yang tiba di puncak, untuk beristirahat bersama Allah.

Kemurnian hatilah yang memampukan kita untuk mendaki gunung Tuhan dan tiba di puncak-Nya yang Kudus (bdk.Mzm.24:4). Kemurnian hatilah yang mendatangkan urapan dan penyertaan Tuhan dalam peziarahan hidup kita menuju Allah. “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (1Sam.16:7d). Hati yang senantiasa memandang Allah, tidak akan pernah merasa kurang. Baginya Tuhan sungguh adalah Gembala Yang Baik, sebagaimana kata pemazmur (bdk.Mzm.23:1). Rahmat Tuhan cukup baginya. Hati yang selalu memandang Allah itu bagaikan lautan luas yang penuh kemurahan, sebab dia pun telah menyadari betapa banyak kemurahan Tuhan yang tercurah atas hidupnya. Hati yang mencintai Hukum Tuhan yang membebaskan, dan melihatnya sebagai kuk yang enak, serta beban yang ringan. Dengan demikian, hukum ditaati dan dilakukan penuh kecintaan. Semoga kita tidak akan menerima kecaman Tuhan, sebagaimana orang-orang Farisi dalam Injil hari ini. Sebab melebihi kebutaan dan cacat fisik lainnya, jauh lebih malang mereka yang mengalami kebutaan dan cacat rohani. 

Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak menerima belas kasih Tuhan. Akan tetapi, seringkali kebutaan dan cacat rohanilah yang menghalangi kita untuk sungguh mengalami, dan mensyukuri belas kasih Allah dalam segala kepenuhannya. Kita semua menerima cukup dari tangan kemurahan Tuhan, berlimpah malah. Kejatuhan dosalah yang membuat manusia selalu merasa kurang. Dosalah yang mengaburkan pandangan kita untuk memandang wajah belas kasih Allah melalui berbagai penderitaan hidup. Kendati tidak mencobai, Allah mengijinkan kita mengalaminya, untuk mendatangkan kebaikan dari rupa-rupa penderitaan hidup, seberapapun sakitnya itu. Pergumulannya mungkin berbeda, cara menyikapinya mungkin berbeda, demikian pula kita disembuhkan secara berbeda satu dengan yang lain. Tetapi, bila hati kita selalu memandang Hati Tuhan yang terluka, kita akan senantiasa beroleh kekuatan untuk melaluinya, dan pada akhirnya keluar sebagai pemenang. Hidup kita akan bercahaya, karena memantulkan cahaya cinta Tuhan. 

Semoga Masa Prapaskah ini mengarahkan kembali hati kita, untuk memandang Allah dengan penuh cinta, dan memandang sesama dengan penuh kemurahan. Minggu IV Prapaskah adalah Minggu “Laetare” (Sukacita). Di tengah mati raga, puasa dan laku tapa Prapaskah, putra-putri Gereja bersukacita, karena penghiburan yang berasal dari Allah. Panggilan untuk bertobat bukanlah beban yang memberatkan perjalanan, melainkan suatu rahmat untuk mengalami kasih Allah yang mengubahkan hidup, yang membukakan mata hati kita untuk mengarahkan pandangan kepada Allah. Saat dimana kelumpuhan dan segala cacat rohani kita akibat dosa disembuhkan, sehingga kita boleh bangkit dan  menerima segala rahmat yang disediakan dari kemurahan hati Allah, serta dengan penuh sukacita memikul salib, untuk kemudian berjalan menuju Allah.

Teladanilah kemurahan hati Ibu kita, Perawan Maria yang amat suci. Kenalilah hatinya, maka hatinya akan membimbing kita dengan penuh kelembutan untuk menyentuh Hati Putranya, Tuhan kita Yesus Kristus. Waktunya semakin dekat, maka janganlah menunda lagi. “Bangunlah, hai kamu yang tidur, dan bangkitlah…maka Kristus akan bercahaya atas kamu” (Ef.5:14).

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 8 Januari 2017 ~ HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN (EPIFANI) 

IMANMU ADALAH BINTANGMU

Bacaan:

Yes.60:1-6; Mzm.72:1-2.7-8.10-11.12-13; Ef.3:2-3a.5-6; Mat.2:1-12

Renungan:

Lihatlah! Tuhan, Sang Penguasa telah datang; dalam tangan-Nya kerajaan, kekuasaan, dan pemerintahan.” (Antifon Pembuka)

Hari ini kita merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan (Epifani), yang dikenal juga sebagai Pesta Tiga Majus/Raja dari Timur (Three Wise Men/Orient Kings From The East). Bersama seluruh umat Allah, kita mensyukuri kemurahan hati Bapa, yang berkenan menampakkan Cahaya Kemuliaan-Nya dalam diri Yesus, Putra-Nya. Perayaan ini hendak pula mengungkapkan bahwa keselamatan dari Allah Bapa, dalam diri Yesus Putra Tunggal-Nya, diperuntukkan bagi semua bangsa. Dan hanya dengan keterbukaan terhadap bimbingan Roh Kudus-lah, kita dapat mengenal dan menampakkan Wajah Kerahiman Allah, di dalam dan melalui karya kerasulan kita di dunia ini. 

Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” ( Yes.60:1.4.2)

Maka, bila terang Tuhan telah terbit atasmu, kamu pun dipanggil untuk datang mendekati Sang Terang. Inilah panggilan suci yang dijawab oleh Tiga Majus (Magi) dari Timur. Mereka keluar dari kegelapan negerinya, dan memulai perjalanan mengikuti cahaya bintang, untuk menemukan Dia yang telah menggerakkan hati mereka oleh kobaran Api Cinta, laksana mempelai wanita yang keluar mencari Sang Kekasih (bdk. Kidung Agung).
Sama seperti Tiga Majus dari Timur, siapapun yang hendak menemukan kebenaran, damai, keadilan, dan terang sejati, hanya dapat menemukan-NYA dengan mengikuti cahaya “Bintang“. Kita memerlukan cahaya “Iman”. Inilah karunia yang digerakkan oleh Api Roh Kudus. Api yang sanggup menghanguskan jiwa dalam keterpesonaan cinta akan Allah. Kita akan selalu memerlukan iman untuk menemukan Allah. Sebab kesederhanaan Hati Tuhan menjadikan pula Dia sebagai Yang Tersembunyi. Untuk menemukan Dia dalam keheningan Kandang Bethlehem, untuk memandang Dia yang sungguh hadir dalam Hosti Kudus, untuk tidak disesatkan oleh tekanan merubah doktrin dan ajaran Gereja, untuk dapat menyadari kehadiran-Nya selalu di dalam dan melalui berbagai peristiwa hidup. Maka, segelap apapun lembah kekelaman hidup yang kaujalani, jangan pernah lupa untuk berjalan dengan diterangi oleh cahaya iman. Di dalam iman, kita dapati gerakan Roh-Nya, yang dengan penuh kelembutan menuntun kita ke Aliran Hidup Yang Kekal.

Inilah panggilan kita. Suatu peziarahan suci menuju persatuan mistik yang sempurna dengan Allah. Satu hal yang hendaknya dimaklumi, bahwa perjalanan ini bukanlah tanpa kesalahan. Tetapi yakinlah, bahwa rahmat Tuhan akan selalu menyertaimu dalam perjalanan ini, asalkan kamu mau dengan rendah hati, dengan kepasrahan dan kepercayaan tanpa batas, menyerahkan dirimu untuk dibimbing oleh cahaya sukacita iman. Sama seperti Tiga Majus membawa persembahan, untuk diberikan kepada Sang Raja Semesta Alam, demikian pula perjalanan hidup kita hendaknya menjadi suatu persembahan yang hidup dan berkenan bagi Allah.

Sebagaimana Caspar dari India, bawalah “Emas”, yakni kesediaanmu untuk mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan lewat hidup dan karyamu. Kalau kamu sungguh-sungguh melayani Allah, buanglah keinginan untuk memperkaya diri atau mendatangkan kemuliaan bagi dirimu sendiri. Suatu paradoks yang indah bahwa kekayaan Kristus justru nampak dalam kemiskinan-Nya. Dalam pengosongan Diri-Nya yang tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, sehingga rela mengosongkan Diri-Nya dan mengambil rupa seorang Hamba (Manusia).
Itulah sebabnya, bagi siapapun yang menyebut diri pengikut Kristus, mulailah melepaskan segala, dan persembahkanlah emasmu, ketidaklekatanmu, kepada Kristus, Sang Segala.

Sebagaimana Melchior dari Persia, bawalah kepada-Nya “Mur”, lambang Penyembuhan dan Penyerahan Diri sebagai Kurban. Kekristenan adalah panggilan untuk terikat dengan Kristus. Kita mengingini apa yang Ia ingini, kita menolak apa yang Ia tolak, dan kita mencintai apa yang Ia cintai.
Konsekuensi dari ini ialah, Salib. Untuk dapat merangkul salib dengan bahagia, persembahkanlah mur, lambang kesediaan untuk terluka, namun juga kesediaan untuk mengampuni. Hanya dengan kesediaan untuk terluka dan mengampuni, yang membuat perjalanan hidup ini sungguh dipenuhi sukacita dalam segala situasi hidup, seburuk apapun itu.

Sebagaimana Balthasar dari Arabia, bawalah kepada-Nya “Kemenyan”, lambang pengudusan. Allah adalah Kudus, demikian pula kamu dipanggil kepada kekudusan, kepada kemerdekaan sejati, bukannya perbudakan serta kebinasaan. Kamu dipanggil untuk bercahaya dalam cahaya kesucian. Kuduskanlah dirimu, kuduskanlah karyamu, dan kuduskanlah dunia ini dengan karyamu.
Kekudusan bukanlah suatu kemewahan yang hanya diperuntukkan bagi segelintir orang, melainkan suatu panggilan bagi kita semua, tanpa terkecuali.
Kekudusan sejati tumbuh dari kesadaran untuk berkanjang dalam doa. Seorang yang ingin Kudus, hendaknya terlebih dahulu menjadi seorang pendoa. Pendoa yang bukan melulu meminta, melainkan mencinta.

Betapa mengagumkan untuk mengetahui, bahwa apa yang dipersembahkan oleh Tiga Majus dari Timur, semuanya dapat ditemukan dalam diri seorang wanita yang paling bercahaya dalam Gereja. Dialah Perawan Suci Maria, Bunda Allah dan Bunda Gereja.
Barangsiapa yang mengingini hidupnya menjadi suatu persembahan hidup, yang harum dan berkenan bagi Allah, hendaknya meneladani Bunda Maria, Bunga Mawar Mistik dan Gambaran Kesempurnaan Gereja. Hidupnya semata-mata senantiasa menunjuk kepada Kristus. Dialah teladan yang paling aman. Mereka yang hendak memandang Allah, dapat melihatnya pada dan melalui mata Maria, yang senantiasa terarah kepada Putranya.
Semoga Hari Raya Penampakan Tuhan ini menjadi perayaan iman, yang mengobarkan hati kita untuk menjalani hidup yang senantiasa memandang Allah.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

PS:

Renungan “Jalan Kecil” kini telah hadir melalui Facebok Fan Page “Serviam Domini“. Silakan di-add dan di-share

Meditasi Harian 21 September 2016 ~ Pesta St. Matius Rasul, Martir

PANGGILAN ITU MISTERI 
Bacaan:

Ef.4:1-7.11-13; Mzm.19:2-3.4-5; Mat.9:9-13

Renungan:

Panggilan itu misteri. Siapa? Bagaimana mungkin? Kenapa? Kapan? Kemana?, hanyalah sebagian dari begitu banyak pertanyaan yang menyertai saat Tuhan memanggil seseorang di jalan-Nya. 

Hari ini kita pun menemukan dalam Injil, bagaimana Tuhan memanggil Matius si pemungut cukai untuk menjadi rasul-Nya. Tentu Tuhan kita sungguh tahu dan sepenuhnya menyadari pekerjaan Matius. Pemungut cukai di zaman Yesus adalah pekerjaan terkutuk, paling korup,  dan dibenci oleh bangsa Yahudi, karena profesi ini merenggut kesejahteraan rakyat untuk diberikan kepada bangsa penjajah Romawi, sekaligus memperkaya diri si pemungut cukai dengan menagih lebih, bahkan tak jarang mengancam mereka yang kesulitan membayar cukai. Matius menjalani hidup yang menempatkannya berdiri di atas penderitaan orang lain. Itulah yang dilihat rakyat pada waktu itu, dan juga yang kita simak saat merenungkan bacaan ini. Semua orang memandang Matius seorang berdosa, yang layak dibenci dan dikucilkan.
Kalau demikian, muncul pertanyaan, “Apa sebenarnya yang dilihat Tuhan Yesus dalam diri Matius, yang tidak dilihat orang lain?

Kita teringat saat Allah mengutus Nabi Samuel ke rumah Isai, untuk mengurapi salah satu dari anak-anaknya sebagai Raja (bdk.1Sam.16:1-13). Tidak satupun dari tujuh anak yang dibawa Isai ke hadapan Samuel yang dipilih Tuhan, kendati mereka punya berbagai keunggulan dan keutamaan. Pilihan Tuhan Allah Semesta Alam justru jatuh pada yang bungsu, yaitu Daud. Tuhan pun mengutarakan kenapa Daud yang Ia pilih, bahwasanya “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati” (1Sam.16:7).
Hati Daud bagaikan kompas yang menunjuk ke Utara, kepada Allah.

Sebagaimana Daud, demikian pula halnya dengan Matius. Dia mungkin tidak terlihat di Bait Allah, dengan jubah agung dan jumbai yang panjang. Dia tidak dengan bangga menatap ke atas saat berdoa sambil mengungkapkan peribadatan, pengorbanan dan berbagai bentuk pemberian yang telah ia lakukan bagi Tuhan. Namun demikian, dari balik meja cukainya, Matius menyingkapkan cahaya hati yang merindukan panggilan Tuhan. Oleh karena itu, hanya butuh 2 kata saja dari Yesus, 2 kata yang telah dinanti-nantikan oleh Matius. “Ikutlah Aku!

Mendengar panggilan Tuhan itu, Matius pun segera berdiri dan mengikuti Yesus (bdk.Matius 9:9). Inilah jawaban hati yang mencinta, kepada panggilan Sang Cinta. Cinta yang sejati akan Dia, Sang Segala, menyanggupkan kita untuk melepaskan segala. Sebagaimana misteri panggilan itu juga menampilkan realita bahwa banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih, demikian pun umat beriman seringkali diperhadapkan pada misteri yang merupakan bagian dari panggilan Ilahi, yaitu bahwa waktu Tuhan bukanlah waktu kita.

Panggilan Matius pun mendatangkan pertanyaan akan kenyataan ini. 
Kenapa Tuhan tidak memanggil Matius tidak bersamaan waktunya dengan Petrus dan Yohanes, serta para rasul lainnya?” Itu karena panggilan Tuhan yang lemah-lembut selalu datang tepat pada waktunya, tidak datang terlalu awal, dan tidak pula terlambat. Dia datang dan memanggil kita di waktu yang tepat, saat hati kita telah siap untuk menjawab “Ya” kepada panggilannya. Sebagaimana Matius dipanggil pada saat sementara melakukan pekerjaannya, demikian pula Tuhan memanggil kita pada waktu-Nya yang mungkin sekali berbeda dengan waktu kita, tetapi itulah waktu yang paling tepat. Yang satu dipanggil saat sementara bergumul dengan kegagalan, yang lain justru dipanggil saat sementara menikmati kesuksesan. Yang satu dipanggil melalui sakit dan penderitaan, yang lain dipanggil saat sementara menjalani hidup dalam kegelapan malam yang mematikan baik tubuh maupun jiwa. Yang satu dipanggil saat bahtera rumah tangganya diombang-ambingkan badai kehidupan, yang lain justru dipanggil saat sementara berjalan sendirian tanpa arah tujuan.

Satu hal yang pasti, yaitu bahwa waktu Tuhan itu sempurna, dan ketika hatimu disentuh oleh nyala api cinta Tuhan, hidupmu takkan pernah sama lagi. Panggilan Tuhan pun seringkali melalui hal dan cara yang seringkali tidak lazim, bahkan tak jarang melawan arus jaman, serta menabrak serangkaian aturan. Maka, bagian terakhir dari Injil hari ini sebenarnya mengungkapkan pula Hati Tuhan yang berlimpah cinta, serentak mengajak kita untuk berbelas kasih sama seperti Dia. “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit…Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mat.9:12-13).

Maka, kita yang berdosa ini, senantiasa memerlukan bantuan rahmat Allah, untuk menolong kita dalam menjawab panggilan Tuhan dengan hati yang mencinta. Kiranya Santa Perawan Maria menghantar kita pada pengenalan cinta Tuhan, serta pengertian akan kedalaman misteri panggilan Putra-Nya. Semoga kita pun memiliki keberanian sebagaimana St. Matius Rasul, yang Pesta kemartirannya dirayakan hari ini oleh Gereja Katolik sedunia. Keberanian menjawab panggilan Tuhan untuk melayani Dia, bukan hanya dengan kata-kata dan janji kosong, melainkan dengan dengan tindakan nyata, yang memerdekaan jiwa dari segala kelekatan akan segala, dan melepaskannya agar dapat memiliki Kristus, Sang Segala. Untuk itu mari kita berdoa, sebagaimana Bapa Gereja kita St. Agustinus (354-430) berdoa, “Tuhan Yesus, Juruselamat kami, perkenankanlah kami sekarang datang kepada-Mu: Hati kami dingin, Tuhan, hangatkanlah dengan cinta-Mu yang tanpa pamrih. Hati kami penuh dosa, bersihkanlah dengan darah-Mu yang berharga. Hati kami lemah, kuatkanlah dengan Roh Sukacita-Mu… Hati kami kosong, penuhilah dengan kehadiran Ilahi-Mu. Tuhan Yesus, hati kami adalah milikmu. Kuasailah selalu dan seutuhnya bagi-Mu“.

Regnare Christum volumus! 

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 23 Agustus 2015 ~ Minggu Biasa XXI

image

HIDUP ITU PILIHAN, BIJAKLAH MEMILIH !

Bacaan:
Yos.24:1-2a,15-17,18b; Mzm.34:2-3,16-17,18-19,20-21,22-23; Ef.5:21-32; Yoh.6:60-69

Renungan:
Saat menyeberangi Sungai Yordan, ketika tinggal sedikit lagi akan sampai ke Tanah Terjanji, Yosua berpaling kepada bangsa Israel dan meminta mereka untuk memilih.
Rasul Paulus dalam bacaan II hari ini juga berbicara mengenai konsekuensi dari pilihan hidup, terutama dalam hal pernikahan dan menggereja.
Dan dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus pun, mengetahui bahwa saat penyaliban-Nya semakin dekat, ketika paripurna tindakan cinta-Nya sudah di depan mata, Dia mulai mengungkapkan kedalaman tuntutan hidup yang Ia harapkan dapat di-Amin-kan oleh para pengikut-Nya, akan bagaimana mereka harus melihat Dia dalam pernyataan Diri yang senyata-Nya.
Bahwa Dia adalah benar-benar makanan, dan hanya dengan makan Tubuh-Nya dan minum Darah-Nya kita dapat beroleh kekekalan.
Untuk bisa memahami kedalaman bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini, ada suatu kenyataan iman yang harus dimengerti oleh kita.

Ibarat seorang mempelai pria yang begitu mencintai mempelai wanita, sebagaimana diungkapkan Rasul St. Paulus dalam bacaan II hari ini, akan ada saat dalam hidup beriman kita, dimana Sang Kekasih, untuk dapat mencurahkan cinta-Nya secara sempurna, untuk mengalami persatuan mistik dengan Dia, untuk dapat mengalami kedalaman cinta dan pengenalan akan Dia secara baru, akan ada saat dimana Tuhan akan meminta kita untuk “memilih“.
Itulah saat dimana Tanah Terjanji semakin dekat. Sama seperti bangsa Israel yang ditanyakan oleh Yosua, saat itu kamupun akan diminta untuk memilih, “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini.” Berbahagialah kamu bilamana dalam keadaan demikian, sanggup menjawab, “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!
Seiring dengan ayunan langkah cintamu yang semakin dekat mendekati Tuhan, kamu akan mulai merasakan gerak Cinta-Nya yang sama sekali baru, bagaikan suatu api yang membakarmu sampai hangus, yang menuntutmu untuk melepaskan segala, untuk beroleh Dia yang adalah Sang Segala.
Untuk memandang Tuhan dengan suatu kesadaran mistik akan tuntutan-Nya menyambut Roti dan Anggur dalam Sakramen Ekaristi sebagai benar-benar Tubuh dan Darah-Nya.
Kamu mungkin berkata, “Tentu saja saya tahu Hosti itu adalah Tubuh Tuhan. Iman Katolik mengajar saya demikian. Bertahun-tahun saya menyambut-Nya dengan keyakinan yang sama.
Bagi banyak orang Katolik, permenungan ini mungkin terkesan menggugat rasa beriman.
Akan tetapi, sudahkah kita benar-benar memahami Sakramen Ekaristi sebagai sungguh-sungguh Tubuh dan Darah Tuhan?
Pernyataan Yesus dalam Injil hari ini adalah saat menentukan dimana Iman akan Dia menuntut para Pengikut-Nya untuk memilih.
Mereka mulai mengerti bahwa bila mereka ingin benar-benar menerima Yesus sebagai Santapan untuk hidup kekal, untuk dapat meng-Amin-kan tubuh dan Darah-Nya sebagai makanan, mereka pun akan menerima konsekuensi dari persatuan itu.
Perkataan Tuhan Yesus begitu keras, sehingga muncullah reaksi para pengikut-Nya dalam Yoh.6:66 (yang seringkali diibaratkan sebagai ayat AntiKris), sebab “Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.

Mengertilah hal ini.
Iman kita tidak diuji dalam air yang tenang, melainkan dalam api. Kesejatian seorang pengikut Kristus akan terlihat bukan terutama dari bagaimana dia bersikap saat hari yang cerah dan berbunga, disaat dia menjalani hidup dalam kelimpahan susu dan madu (kemanisan rohani), saat doa hampir selalu terjawab. Dengan kata lain, saat Tuhan seolah meletakkanmu di pangkuan-Nya dan membelaimu dengan penuh kasih. Walaupun memang kita dapat menemukan kenyataan bahwa seorang beriman dapat durhaka dan melupakan Tuhan di tengah segala kelimpahan rahmat-Nya, namun bukan itu ujian terbesar dalam hidup berimannya.
Ujian terbesar dalam hidup seorang beriman, kesejatian imannya akan terlihat dari bagaimana dia bersikap di dalam badai, saat doa seolah tak pernah terjawab, saat hidup keluarganya dan harta bendanya berantakan seolah Tuhan telah menutup keran-keran berkat-Nya dan membiarkan hidup keluarganya kering kerontang, saat musibah datang silih berganti dan langit yang cerah diganti awan kelam disusul malam rohani yang gelap dan mencekam.
Saat Tuhan menurunkan kamu dari pangkuan, dan membiarkanmu mulai berjalan bersama Dia secara baru.

Maka, renungkanlah pertanyaan ini dan jawablah dengan jujur, “Sudahkah saya benar-benar mengimani Sakramen Ekaristi sebagai benar-benar Tubuh dan Darah Tuhan? Sudahkan saya benar-benar melihat hidup saya dalam terang Ekaristi?”
Bahwa sebagaimana Tuhan menjadikan Tubuh dan Darah-Nya sebagai santapan bagimu, maka demikian pula hendaknya hidupmu adalah hidup yang senantiasa terbagi-bagi, terpecah-pecah untuk “memberi makan” kepada sesama. Kalau kamu memang setiap hari sungguh mengimani Ekaristi, seharusnya kamu tidak akan pernah kaget mendapati dirimu dimusuhi dunia, tidak perlu heran manakala mendapati tuntutan salib terasa berat di sepanjang perjalanan, tidak perlu bingung ketika diperhadapkan pada berbagai pertanyaan hidup, apalagi mencari jawaban pada juru ramal, sihir dan okultisme, narkoba, pornografi, seks bebas, hamba uang dan kekuasaan, maupun hiburan-hiburan tidak sehat lainnya.
Bila memang benar kamu menghidupi Ekaristi dalam keluargamu, seharusnya kamu tidak begitu mudah menyerah terhadap pernikahanmu, terhadap ketidaksetiaan suamimu, terhadap kekurangan yang kautemukan dalam diri istrimu. Seharusnya kamu tidak mengijinkan anak-anak memilih agama seperti dari katalog belanja atas nama toleransi dan kebebasan yang keliru, atau kehilangan kesabaran merawat anakmu yang terlahir dalam keadaan cacat fisik atau mental, apalagi membuang mereka dan melakukan tindakan aborsi sebelum terlahir ke dunia.
Saat kamu melangkah ke depan altar dalam Komuni Kudus, untuk menjawab “Amin” terhadap perkataan “Tubuh Kristus” yang diucapkan oleh Imam sambil memberikan Hosti Kudus sebagai santapan bagimu, seharusnya daya hidup yang bersumber dari santapan Ekaristi membuatmu tahu bersikap di tengah badai dan pergumulan hidup.

Jangan manja dalam beriman. Kenalilah imanmu. Hidupilah imanmu. Tidak cukup hanya mengakui diri rasul Ekaristi, hidupmu seharusnya menjadi suatu kesaksian yang otentik dan meyakinkan.
Bilamana kamu telah sungguh memahami tuntutan suci dan konsekuensi beriman dari Injil hari ini, maka semoga kamu dapat menjawab pertanyaan Tuhan dalam Injil hari ini, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?
Sama seperti Rasul Petrus, jawablah, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal.
Suatu jawaban yang lahir dari pengenalan cinta yang sejati akan Dia.
Inilah “Rahasia Besar” dari persatuan cinta yang dimaksud oleh Rasul Paulus dalam bacaan II hari ini. Suatu cinta mistik, yang membuatmu sanggup menerima “apapun” dari tangan Tuhan, dan tidak pernah berkurang dalam cinta akan Dia, malah sanggup melihat segala sesuatu yang terjadi di hidupmu dalam terang cinta-Nya, ibarat mempelai wanita yang menyukakan hati Sang Mempelai Pria, yakni Kristus sendiri.
Semoga St. Perawan Maria, Bunda para Mistikus dan Teladan Cinta Sejati akan Allah, membimbingmu pada persatuan cinta yang sempurna dengan Yesus, Putranya, satu-satunya Jawaban dan Pilihan Terbaik.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian ~ HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS

image

BERILAH HATIMU KEPADA HATINYA

Bacaan:
Hos.11:1.3-4.8c-9; Yes.12:2-3.4bcd.5-6; Ef.3:8-12.14-19; Yoh.19:31-37

Renungan:
Penginjil St. Yohanes Rasul dalam surat-surat pastoralnya berulang kali mengungkapkan bahwa, “Allah adalah Cinta (Kasih)“.
Bahkan pada senja hidupnya dikatakan bahwa St. Yohanes Rasul seringkali duduk berjam-jam lamanya, untuk berbagi sukacita Injil akan hal itu di tengah murid-muridnya yang masih muda.
Suatu ketika, saat sedang mengajar, salah seorang muridnya mengeluh kepada St. Yohanes Rasul, “Bapa…kami selalu mendengarmu berbicara tentang cintakasih, bagaimana Allah begitu mencintai kita, dan bagaimana kita juga dipanggil untuk mencintai sesama. Tetapi, masih banyak hal lain yang diajarkan oleh Tuhan kita. Kenapa Bapa tidak berbicara tentang hal-hal lain itu, selain daripada Cinta?
Maka Sang Rasul, yang pada masa mudanya pernah menyandarkan kepalanya pada Hati Kudus Yesus itu pun menjawab dengan penuh kelembutan, “Karena tiada sesuatupun yang lebih penting selain cinta…cinta…cinta…!

Karena cinta-Nya yang besar, Allah menjadi manusia, menjadi sama dengan kita, kecuali dalam hal dosa. Dalam kelimpahan cinta dari Hati Kudus-Nya, sekalipun ditolak oleh umat kesayangan-Nya yang tidak mau membalas cinta-Nya, Ia rela menderita sengsara yang amat mengerikan, bahkan sampai wafat di kayu salib, supaya umat manusia dapat beroleh keselamatan dan beroleh hidup kekal.
Sebenarnya, Allah dalam ke-Mahakuasaan-Nya dapat saja menyelamatkan dunia dengan cara-cara lain, tanpa harus memberi Diri-Nya sebagai kurban.
Akan tetapi, kiranya baik untuk dikatakan bahwa hanya dengan cara inilah, hanya dengan “memandang Dia yang mereka tikam“, hanya dengan merangkul “Hati Yesus Raja Cinta, yang ditembusi tombak bengis“, umat manusia dapat benar-benar memahami kedalaman cinta yang mengalir dengan begitu melimpah dari Hati Tuhan.
Inilah makna terdalam dari Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus pada hari ini. Hari ini, Bunda Gereja sekali lagi mengajak kita untuk merenungkan misteri cinta yang bersumber dari Hati Tuhan.
Perlu juga untuk dimengerti bahwa devosi Hati Kudus Yesus tidak dapat dipisahkan dari Sakramen Ekaristi.
Dalam Misa Kudus, umat beriman dapat selalu mengecap dan menikmati secara sempurna saat rahmat ketika Allah memberikan Diri-Nya, Tubuh dan Darah-Nya, sebagai santapan yang memberi kita kekekalan.
Inilah Sakramen Agung dimana darinya mengalir darah dan air yang memberi hidup, yang memungkinkan manusia untuk memandang Hati Kudus-Nya secara tersamar, yang memampukan kita untuk bersatu dengan Allah tanpa harus binasa, serta yang sanggup mengubah hati kita seperti Hati-Nya.

Tidak mungkin memiliki devosi yang besar terhadap Hati Kudus Yesus, tanpa memiliki kecintaan yang besar pula akan Misa Kudus, disertai kerinduan sejati untuk menyambut Tubuh dan Darah Tuhan sesering mungkin.
Siapapun yang hendak mencoba memahami kedalaman cinta dari Hati Tuhan, hanya akan menemukan jawabannya manakala ia menanggapi undangan Tuhan untuk bersatu dengan-Nya dalam Misa Kudus.
Orang tidak dapat menyentuh Hati Tuhan dengan akal budi belaka. Demikian pula, seorang beriman hanya dapat melangkah mendekati Altar Tuhan dalam tuntunan kuasa cinta, agar dapat dengan penuh Iman dan hormat bakti menyambut Tubuh dan Darah Tuhan.
Di tengah tantangan untuk beriman di dunia, diperhadapkan dengan berbagai usaha jahat untuk melemahkan Gereja dari luar dan terutama dari dalam, kita dipanggil, malah dituntut oleh suatu desakan yang suci, untuk menemukan kekuatan dan jawaban terbaik hanya dalam Misa Kudus. Obat paling ampuh untuk melawan kejahatan zaman ini adalah Sakramen Ekaristi.
Semakin sering seseorang menimba dari mata air Ekaristi, hatinya akan semakin diubah menjadi seperti Hati Tuhan, cintanya akan semakin murni dan sempurna sebagaimana Cinta Tuhan.

Cinta hanya akan menemukan kesempurnaan ketika yang mencinta sangat serupa atau telah menjadi satu dengan yang dicintainya.
Ibarat mempelai wanita, seorang Kristiani hanya dapat menemukan kesempurnaan cinta ketika ia, yang telah tergila-gila karena luka cinta, melangkah keluar di malam gelap yang memurnikan, untuk mencari Kekasih jiwanya, yakni Allah sendiri.
Dan seolah masuk ke dalam awan ketidaktahuan, ia pun kemudian berubah rupa dan menjadi satu dengan Sang Cinta, satu-satunya Pribadi yang dapat menyembuhkan luka cinta itu.
Sebab bukan dalam kelimpahan harta seseorang memperoleh hidup, bukan pula dalam kenikmatan, kekuasaan, ketenaran, kenyamanan, kesuksesan, maupun segala hal lain, sebagaimana yang dibisikkan oleh bapa segala dusta, yang meracuni hati manusia.
Bukan dalam segala kefanaan itu seseorang beroleh hidup kekal, melainkan hanya saat ia dicinta dan mencinta, ia beroleh “Hidup“.
Keseluruhan tujuan hidup Kristiani adalah untuk membuka mata hati kita agar dapat melihat, menyentuh, dan menjadi satu dengan Hati Tuhan.

Semoga Hati Kudus Yesus yang terluka karena cinta, menuntun kita untuk menemukan makna hidup yang sejati di dalam Dia, karena menyadari bahwa kita teramat berharga di Hati Tuhan, dicintai oleh-Nya sampai sehabis-habisnya, dan dipanggil untuk mencintai sampai terluka sama seperti Dia.
Di hari istimewa ini, berdoalah secara khusus bagi para Imam, agar mereka dapat menjadi gembala yang baik, lemah lembut dan rendah hati, sebagaimana telah diteladankan oleh Sang Gembala Agung, Tuhan kita Yesus Kristus.
Tugas kerasulan kita saat ini adalah untuk membawa Hati Tuhan ke dalam dunia, dan memenangkan hati sebanyak mungkin orang bagi Allah.
Dunia adalah ladang atau medan tempur kita. Jiwa-jiwa adalah tuaian yang harus kita menangkan.
Oleh karena itu, berilah hatimu kepada Hati-Nya, dan sesudah hatimu dikobarkan oleh api cinta-Nya, jalanilah hidup dan karyamu “sedemikian rupa“, sehingga Hati Kudus Yesus semakin dikasihi oleh dunia.
Bersama Hati Kudus Yesus, marilah kita menguduskan diri, menguduskan karya, dan menguduskan seluruh dunia melalui karya.

Pax, in aeternum.
Fernando

Bangunlah dan Bercahayalah !

MINGGU PRAPASKA IV – LAETARE ( TAHUN LITURGI – A )

Bacaan I – 1 Samuel 16: 1-13

Mazmur Tanggapan – Mzm.23: 1-3a, 3b-4, 5, 6

Bacaan II – Efesus 5: 8-14

Bacaan Injil – Yohanes 9: 1-41

Come and be My Light

Bangunlah dan Bercahayalah !

BANGUNLAH DAN BERCAHAYALAH !

Dalam Injil hari ini, kita membaca bagaimana Yesus menyembuhkan seorang yang buta sejak lahirnya. Kebutaan adalah suatu keadaan yang sungguh menyedihkan, karena menjadi  buta berarti menjalani hidup dalam kegelapan. Bahkan untuk berjalanpun dan melakukan berbagai aktivitas, mereka memerlukan waktu yang lebih lama, karena harus melakukannya secara perlahan, setapak demi setapak. Oleh karena itu, tergerak oleh belas kasihan atas orang yang buta sejak lahirnya itu, Yesus pun kemudian, dengan cara yang punya kedalaman arti tersendiri, memelekkan mata orang buta itu, sehingga ia dapat melihat.

Tindakan Yesus ini mendapat tentangan dari orang banyak, khususnya orang-orang Farisi, karena Yesus melakukan karya mujizat-Nya pada hari Sabat. Disinilah kita mulai melihat maksud terdalam dari penginjil Yohanes, untuk secara khusus mengisahkan penyembuhan orang buta ini dalam Injilnya. Dengan adanya pertentangan dari banyak orang yang melihat tindakan belas kasih Yesus sebagai pelanggaran terhadap hukum Tuhan, kepada kita ditunjukkan bahwa di balik kebutaan fisik yang dijalani oleh orang yang buta sejak lahirnya itu, ada kebutaan yang jauh lebih membinasakan baik tubuh maupun jiwa yang dialami justru oleh orang-orang di sekitar si buta tadi. Melebihi si buta, orang-orang yang yakin bahwa mereka dapat melihat, nyatanya memiliki kebutaan yang jauh lebih gelap, yakni kebutaan rohani. “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” (1 Sam.16:7ef) Yesus mengetahui kegelapan isi hati khalayak ramai yang melihat tindakan penyembuhan Yesus sebagai suatu tanda yang menimbulkan perbantahan.

“Sekiranya buta kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata, ‘Kami melihat,’ maka tetaplah dosamu.” (Yoh.9:41b) Tidak ada kebutaan yang lebih menyedihkan daripada mereka yang menolak untuk melihat. Karena kekerasan hati mereka yang begitu yakin akan kemampuannya untuk melihat, mereka menolak, bahkan memalingkan wajah mereka dari Yesus, Sang Terang Dunia.  Tidak ada dosa yang lebih berat daripada penolakan gerakan Roh yang membimbing kita untuk  melihat dan menanggapi belas kasih Allah dalam diri Yesus Kristus, Putra-Nya.

Sejenak peristiwa penyembuhan orang buta ini juga menggambarkan perjalanan iman seorang beriman secara umum, maupun seorang katekumen secara khusus, dimana oleh karena belas kasih Allah, secara perlahan, setapak demi setapak, Ia berkenan menghantar kita pada pemahaman yang semakin sempurna akan Dia. Dalam iman, kita dihantar dari suatu kebutaan rohani kepada pengenalan akan Allah, sehingga pada akhirnya kita akan mengenal Dia sebagaimana Dia seharusnya dikenal, kemudian masuk dalam persatuan cinta yang mesra dengan-Nya. Untuk itu, diperlukan keterbukaan, kerendahan hati, penyerahan diri tanpa syarat dan kepercayaan tanpa batas atas Penyelenggaraan Ilahi dalam hidup kita. Sebagaimana si buta, kita harus berani mengakui segala kelemahan dan keterbatasan kita, serta dengan hati yang remuk redam dalam pertobatan, beranjak dari kegelapan, untuk kemudian berjalan mendekati Allah, sehingga terang Kristus bercahaya atas kita. Dengan demikian, kita akan mengalami secara penuh rahmat berlimpah yang terkandung dalam pembaptisan yang telah kita terima. Dengan dibaptis, kita yang dahulu hidup dalam kegelapan, kini menjadi manusia baru yang hidup dalam terang Tuhan. Inilah konsekuensi sekaligus anugerah indah yang terkandung dalam panggilan Kristiani kita, yakni untuk mengalahkan kegelapan, dan membawa cahaya ke dalam dunia.

“Saudara-saudara, dahulu kamu hidup dalam kegelapan, tetapi sekarang kamu hidup dalam terang Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang…Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu…Bangunlah hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” (Ef.5:8,11,14)

Semoga Perawan Suci Maria, yang telah membawa Sang Terang itu ke dalam dunia, menyertai kita dengan doa dan kasih keibuannya, agar kita dapat menjadi putra-putri Ekaristi, untuk senantiasa membawa cahaya Kristus dan menghalaukan kegelapan dunia, sehingga kelak kita boleh memandang kemuliaan Allah dalam kekudusan, serta beroleh mahkota kemuliaan di surga. (vft)