Meditasi Harian, 26 Juli 2017 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XVI

CINTA BUTUH BUKTI BUKAN JANJI

Bacaan:

Sir.44:1.10-15; Mzm.132:11.13-14.17-18; Mat.13:16-17

Renungan:

Tanah yang baik memberi jalan bagi benih yang ditanam untuk tumbuh, berkembang dan berbuah. Jika diumpamakan tanah itu adalah kita manusia dan benih adalah Firman Allah, maka keterbukaan terhadap rahmat Allah dengan segenap daya upaya kita untuk mengasihi Dia, sungguh menentukan bagaimana hidup kita diubahkan oleh kabar sukacita Kerajaan Allah. Tidak semua yang datang untuk berjumpa dan mendengar perkataan Tuhan dapat pula menangkap dan mengerti. Ada yang menerima dengan penuh sukacita dan seketika hidupnya diubahkan oleh pengalaman kasih Allah itu, ada pula yang memiliki kekuatiran akan konsekuensi hidup kekristenan kemudian mundur perlahan-lahan, dan banyak pula yang tidak sanggup melihat kenyataan bahwa ia harus berubah serta tidak sanggup mendengar perkataan yang keras dan menuntut itu, lalu pada akhirnya menolak dan meninggalkan jalan Tuhan.

Memang benar, bahwa rahmat Allah sendiri sanggup mengubahkan hidup kita. Kendati demikian, biasanya rahmat Allah bekerja lebih leluasa dalam diri mereka yang sungguh merindukan Dia, serta melakukan segala upaya untuk mencari wajah-Nya. Ia mendekat secara lebih mesra kepada mereka yang dalam kepasrahan seorang anak, memberanikan diri untuk datang mendekat kepada-Nya. Maka, secara sederhana dan tegas dapat diminta dari kita, “Kalau kamu sungguh mencintai Tuhan, ‘Buktikanlah!'” Ini bukan pertama-tama melalui tindakan-tindakan heroik yang mengagumkan seperti memberikan nyawa demi iman atau kasih akan sesama. Tidak serta-merta seperti itu.

Untuk mengalami kebesaran kasih Allah dan kelimpahan rahmat-Nya, seorang beriman dapat memulainya dari kesetiaan pada perkara-perkara kecil. Dimulai dari hal-hal yang seringkali amat mendasar dan mungkin terlalu sederhana, seperti bangun pagi-pagi benar untuk mempersembahkan hari kita kepada-Nya, memberikan waktu sejenak setiap hari untuk merenungkan Firman-Nya dalam Kitab Suci, mempersiapkan sarapan dan memastikan anak-anak berangkat ke sekolah tepat waktu, memberikan tempat duduk kita di bus kepada mereka yang lanjut usia, tidak melakukan pungutan liar melebihi ketentuan di kantor, memberikan salam dan dukungan semangat kepada mereka yang berbeban karena tekanan hidup, mengakhiri hari dengan pemeriksaan batin dan memohon pengampunan untuk menit-menit yang gagal dipersembahkan demi kemuliaan Tuhan, serta berbagai tindakan-tindakan kecil dan sederhana lainnya. Memang kecil dan sederhana, seolah tidak berdampak signifikan untuk merubah keburukan dunia ini, tetapi sebagaimana dosa datang karena kejatuhan satu orang dan keselamatan dunia datang pula karena “Satu Orang”, yakinlah persembahan dirimu, sekecil dan sesederhana apapun, bila dilakukan karena kobaran api cinta, pada akhirnya akan sanggup menyentuh dan menggetarkan Hati Allah, Sang Cinta, untuk mengarahkan pandangan belas kasih-Nya kepada-Mu dan mencurahkan rahmat-Nya secara melimpah ke dalam dan melalui dirimu. Pada waktu itu sekali lagi kamu akan mendengar suara-Nya yang amat lembut, “Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar” (Mat.13:16).

Bersama Gereja Kudus, hari ini kita memperingati pula dengan penuh syukur akan suami istri yang amat saleh, Santo Yoakim dan Santa Anna. Mereka berdua telah menunjukkan keteladanan kesetiaan dalam perkara-perkara kecil sehari-hari, dan pada akhirnya mempersembahkan permata terindah dalam Kekristenan, yakni putri mereka, Perawan Maria yang terberkati. Inilah keteladanan hidup yang sungguh menjadi persembahan yang harum dan berkenan di Hati Tuhan, dan menghasilkan buah yang disyukuri oleh seluruh umat manusia. Santa Maria, bimbinglah kami menuju Putra-mu, dalam keteladanan beriman sebagaimana ditunjukkan ayah dan ibumu, Santo Yoakim dan Santa Anna.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 26 Juli 2016 ~ Selasa dalam Pekan Biasa XVII (Peringatan Santa Ana & Santo Yoakim, Orang Tua dari Santa Perawan Maria)

KELUARGA YANG MERASUL

Bacaan:
Sir.44:1.10-15; Mzm.132:11.13-14.17-18; Mat.13:16-17

Renungan:
St. Agustinus mengatakan bahwa, “Allah yang menciptakan kamu tanpa melibatkan kamu, tidak akan menyelamatkan kamu tanpa melibatkan kamu“. Meskipun datangnya dari Tuhan, anugerah keselamatan bukanlah sesuatu yang jatuh begitu saja dari langit. Hidup seorang Kristen sejati haruslah menampakkan tanda-tanda, serta “meninggalkan jejak” yang sungguh menunjukkan bahwa dirinya adalah orang yang sungguh diselamatkan. Kristuslah wajah belas kasih Bapa. Oleh karena itu, bagaimana Sang Penyelamat dikenal oleh dunia, sungguh ditentukan pula oleh keteladanan hidup kita, para pengikut-Nya, yang senantiasa menjadi rekan kerja dan tanda nyata keselamatan dari Allah itu. St. Paulus Rasul pun berkata, “Kerjakan keselamatanmu!” (Flp.2:12).

Jangan sia-siakan karunia iman yang telah kamu terima. Sama seperti Santa Ana dan Santo Yoakim, yang telah mewariskan iman akan Allah Yang Hidup, kepada Santa Perawan Maria, dan telah menyiapkan wanita paling berbahagia dan teramat suci ini, untuk menjadi ibu Sang Juruselamat, demikian pula kamu telah menerima warisan iman yang sama melalui keluarga, dalam kesatuan dengan Bunda Gereja, sebagaimana diungkapkan dalam bacaan pertama hari ini (bdk. Sirakh 44).

Dalam dunia yang semakin mengerdilkan arti keluarga dan perannya dalam karya keselamatan, di tengah segala usaha untuk memperkenalkan definisi baru yang keliru akan keluarga, dan diperhadapkan dengan berbagai bentuk serangan si jahat terhadap keluhuran martabat Sakramen Pernikahan, peringatan Santa Ana dan Yoakim hari ini semakin menyadarkan kita akan pentingnya peranan keluarga-keluarga Kristiani dalam karya keselamatan. Keluarga Kristiani hendaknya menjadi Tanda Keselamatan yang otentik dan meyakinkan bagi dunia. Sebab di dalam keluarga kristiani yang sejati, anak-anak dapat “belajar untuk mencintai sebanyak mereka dicintai tanpa syarat, mereka belajar menghargai orang lain sebanyak mereka dihargai, mereka belajar mengenal wajah Allah sebanyak mereka menerima wahyu Allah pertama dari seorang ayah dan ibu yang penuh perhatian pada mereka” (Kongregasi Ajaran Iman, surat kepada para Uskup – 31 Mei 2004)

Hari ini kaum muda Katolik dari seluruh dunia mengawali World Youth Day 2016. Jutaan muda-mudi dari 187 Negara kini berkumpul di Kraków, Polandia. Peringatan Santa Anna dan Santo Yoakim hari ini, mengingatkan kita bahwa masa depan Gereja Katolik, berada di pundak anggota-anggota termuda dari Bunda Gereja, dan kehadiran dan peran orang tua sangat menentukan menjadi apakah anak-anak mereka kelak. Seorang Karol Wojtyła (St. Yohanes Paulus II), Helena Kowalska (St. Faustina), Raymund Kolbe (St. Maximilianus Maria Kolbe), Marie Françoise Thérèse Martin (St. Teresia dari Kanak-Kanak Yesus), dan Edith Stein (St. Teresia Benedikta dari Salib), mereka semuanya terlahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga. Akan tetapi, demikian pula Adolf Hitler, Mussolini, Kaisar Nero, dan Osama Bin Laden. Mereka pun terlahir dalam sebuah keluarga. Maka, sekali lagi kita diajak untuk menyadari, bahwa peran orang tua sangatlah penting dan menentukan akan menjadi apakah anak-anak kita, putra-putri Gereja kelak. Bagi mereka yang dipanggil ke dalam Sakramen Pernikahan, milikilah kesadaran akan tugas luhur kalian. Jadilah keluarga Katolik yang sejati! Kobarkanlah semangat kerasulan dalam keluarga, dengan menanamkan benih-benih Injil, serta mewariskan kekayaan imanmu kepada anak-anak dan cucu-cucumu. Nyatakanlah imanmu lewat kesaksian hidup keluarga, yang senantiasa memancarkan cahaya Kristiani secara otentik dan meyakinkan. 

Sudah pasti tantangan, halangan, dan rintangan akan selalu ada di jalan keselamatan serta kerasulan keluarga ini. Tetapi, yakinlah. Dia yang sanggup menenangkan gelora lautan dan menenangkan badai, sanggup pula membawamu keluar sebagai Pemenang atas badai hidup yang menerpa bahtera keluargamu. Kendati mungkin Tuhan “seolah” tertidur, tetapi bukankah kenyataan bahwa Tuhan terlelap dalam perahumu, itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi Sumber ketenangan dan sukacitamu, dibandingkan perahu-perahu lainnya yang mengarungi badai tanpa Tuhan?

Keluargamu berharga di mata Tuhan, tanda Kerajaan Allah, diingini oleh-Nya, dan menjadi tempat kediaman-Nya (bdk.Mzm.132:14). Yakinlah, selama kita tidak pernah terpisah dari Yesus, dan menyerahkan hidup seutuhnya ke dalam tangan belas kasih-Nya, niscaya perahu kehidupan kita tidak akan pernah terbalik atau tenggelam. Dengan demikian, perkataan Kristus dalam Injil hari akan menjadi dasar pengharapan dan sukacitamu. “Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya” (Mat.13:16-17).

Semoga Santa Perawan Maria, menjadi Bintang Timur yang menuntunmu kepada Yesus, Putranya. Kiranya Santa Ana dan Santo Yoakim menyertai keluargamu, dalam keteladanan hidup mereka sebagai rekan kerja Allah dalam karya keselamatan, sehingga keluargamu menjadi keluarga yang merasul. 

Regnare Christum volumus!


✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

 

Meditasi Harian ~ Rabu dalam Pekan Biasa VIII

image

GEMBALA = HAMBA = PELAYAN

Bacaan:
Sir.36:1,4-5a,10-17; Mzm.79:8,9,11,13; Mrk.10:32-45

Renungan:
Merenungkan bacaan Injil hari ini, kita teringat akan peringatan Bapa Suci Paus Fransiskus dalam homilinya beberapa hari yang lalu, yakni bahwa seorang Kristiani haruslah membuang jauh-jauh niat untuk mengikuti Yesus karena didasarkan pada ambisi pribadi.
Ketika Yakobus dan Yohanes meminta Yesus untuk memberikan mereka tempat terhormat untuk duduk di sisi-Nya dalam kemuliaan, permintaan tersebut menuai kemarahan dari kesepuluh murid yang lain. Di balik kemarahan dan kecaman para rasul lainnya, tersembunyi ambisi yang sama, bahwa di dalam hati, mereka pun  sebenarnya juga mengharapkan hal yang sama. Keinginan hati para rasul akan kemuliaan, yang dengan terus-terang diungkapkan oleh Yakobus dan Yohanes, menunjukkan juga kegagalan yang sama dari para pengikut Kristus lainnya untuk memahami, bahwa kemuliaan sebagai rasul Kristus, hanya bisa ditemukan dalam kesediaan untuk merangkul salib dengan setia dan penuh cinta.

Siapapun yang diberi kepercayaan oleh Allah untuk menjadi seorang pemimpin rohani, harus terlebih dahulu memiliki pemahaman yang benar akan 3 tugas yang menyertai dan diemban oleh seorang pemimpin rohani yang sejati.
Pertama, dia harus menjadi seorang gembala yang baik, yang memelihara jiwa, bukannya menghilangkan atau menyesatkan jiwa yang dipercayakan kepadanya oleh Allah. Dia hendaknya menjadi seorang gembala yang “berjalan di depan” (bdk.Mrk.10:32) terlebih dahulu dalam merangkul salib. Untuk mengajak orang berdoa, dia haruslah terlebih dahulu menjadi seorang pendoa. Untuk berbicara tentang kasih dan pengampunan, dia haruslah lebih dulu mengasihi dan mengampuni. Inilah keteladanan yang membuat domba-dombanya mengenal suara sang gembala.
Kedua, dia harus menjadi seorang hamba yang taat kepada Tuan-nya, yakni Allah sendiri. Di dalam segenap pemberian diri dan karya kerasulannya, Kristus harus semakin besar, dan dia semakin kecil, bukan sebaliknya. Tuhanlah yang harus dia taati. Jangan sampai dia menghambakan diri pada mamon, atau memuliakan dirinya sendiri. Ketaatan kepada Allah akan nampak pula secara sempurna dalam ketaatan mutlaknya kepada Magisterium Gereja Kudus.
Ketiga, dia harus menjadi seorang pelayan. Yesus telah menunjukkan keteladanan itu, ketika Dia membasuh kaki murid-murid-Nya. Maka, seorang pemimpin rohani adalah juga seorang yang siap untuk melayani, bukan hanya bagian terbaik, melainkan terutama bagian terburuk dari kemanusiaan, sebagaimana Tuhan dan Guru kita telah lebih dahulu melakukannya bagi kita.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kegagalan seorang pemimpin rohani untuk berbuah baik dalam karya kerasulannya, disebabkan karena pemahaman yang keliru atau ketika ia begitu lekat dengan dunia, sehingga melupakan makna sejati dari 3 tugas dasar ini. Jangan berbangga dan gila hormat menyebut diri gembala, hamba, dan pelayan Tuhan, bilamana pada kenyataannya yang dilakukan justru berbanding terbalik dari arti sejati seorang gembala, hamba, dan pelayan Tuhan yang sejati.
Semoga Tuhan senantiasa mengaruniakan kepada para pemimpin rohani di tengah kita kerendahan hati, serta keterbukaan untuk dimurnikan dan diubahkan oleh Api Roh Kudus, sehingga sungguh-sungguh menjadi gembala, hamba, dan pelayan yang sejati.
Santa Maria, doakanlah kami.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan Biasa VIII

image

MELEPASKAN SEGALA UNTUK BEROLEH SEGALA

Bacaan:
Sir.35: 1-12; Mzm.5:5-6.7-8.14.23;. Mrk.10:28-31

Renungan:
Kelekatan adalah salah satu penyebab utama ketidakbahagiaan, dan penghalang terbesar bagi setiap orang Kristen untuk mengalami kepenuhan dari hidup berimannya.
Orang dapat saja memiliki segalanya, namun tetap tidak bahagia. Kita boleh memiliki sebuah keluarga, tempat tinggal, pekerjaan dan finansial yang mapan, pertemanan, hobi atau talenta, dan berbagai hal lain yang kita sebut sebagai “milik“.
Akan tetapi, dalam Injil hari ini, Yesus mengingatkan kita agar “Janganlah hatimu melekat padanya.”
Ketika seorang anak enggan melepaskan mainan kesayangannya untuk disumbangkan kepada tempat penampungan anak terlantar, itulah kelekatan. Ketika seorang konglomerat, jatuh dalam depresi akibat kehilangan jutaan dollar dalam suatu investasi yang merugikan, itulah kelekatan. Ketika seorang wanita menghabiskan uang begitu banyaknya karena tidak mau tubuhnya mengalami perubahan seiring usia, itulah kelekatan. Ketika seorang Imam setengah hati untuk taat pada Uskupnya, yang memberi tugas ke tempat baru, sehingga ia harus meninggalkan umat yang begitu ia kasihi selama ini, itulah kelekatan.

Panggilan Kristiani adalah panggilan untuk berbahagia dan bersukacita. Maka, bilamana hidup kita ditandai dengan rupa-rupa ketidakbahagiaan dan ketiadaan sukacita, itu berarti ada kelekatan yang harus kita lepaskan.
Saat orang mulai mencari dan menemukan kebahagiaan pada kepemilikan, pada saat itulah dia sebenarnya mulai kehilangan kebahagiaan. Tidak ada satupun yang abadi dari kepemilikan seperti itu. Kita hanya akan menemukan kebahagiaan dan sukacita yang sejati, apabila hati kita melekat erat dan bersatu sepenuhnya dalam Hati Tuhan.
Oleh karena itu, berjalanlah di tengah dunia, tetapi hindarilah dirimu dari keinginan untuk menggenggam sesuatu dalam perjalanan, untuk menjadikannya sebagai milik yang harus dipertahankan.
Melangkahlah seperti seorang peziarah yang dipimpin oleh Roh kemiskinan yang suci, sehingga sekalipun memiliki, namun hatimu tidak melekat pada semua itu, sebab hatimu hanya senantiasa memandang Allah.

St. Yohanes dari Salib mengungkapkan paradoks kristiani ini dengan begitu indahnya dengan mengatakan bahwa, “untuk beroleh Kristus Sang Segala, lepaskanlah segala“.
Seringkali terjadi bahwa kelekatanlah yang membuat kita sulit untuk dapat selalu menjawab “Ya” kepada Allah, atau mengalami Dia sebagai Pribadi yang terlalu banyak menuntut. Ketidakmampuan kita untuk mencintai Tuhan dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatan, disebabkan oleh kelekatan. Hari ini renungkanlah, apa saja kelekatan-kelekatan yang membuat kita seringkali jatuh dalam dosa yang sama, yang berulang kali melukai hati Tuhan dengan kecenderungan-kecenderungannya yang jahat?
Hari ini Tuhan menunggu jawaban darimu, “Jika engkau benar-benar mengasihi Aku lebih dari segala sesuatu, lepaskanlah itu“.

Pandanglah Ibu Maria, dan belajarlah darinya. Dia adalah hamba Allah yang paling setia dan gambaran kesempurnaan Gereja. Perawan Maria dikatakan berbahagia, hidupnya selalu dipenuhi sukacita dan dipuji oleh segala bangsa, karena sepanjang hidupnya dia senantiasa memenuhi hatinya dengan cinta akan Allah, Kekasih jiwanya. Hatinya begitu melekat erat dan bersatu dalam Allah, sebab dia tidak pernah mengijinkan satu bagian pun dalam ruang-ruang hatinya bagi kelekatan atau “milik” yang harus dipertahankan.
Inilah kebahagiaannya. Inilah sukacitanya. Suatu kepenuhan mistik yang Ilahi, sebagaimana diutarakan oleh St. Teresa dari Avila, yaitu “Allah saja cukup ~ solo Dios basta“.
Semoga Roh Allah memurnikan cinta kita, agar menemukan kebahagiaan dan sukacita dalam kelepasan akan segala, sehingga pada akhirnya kita semua beroleh Kristus Sang Segala.

Pax, in aeternum.
Fernando

Kebebasan sejati hanya ada di dalam Tuhan

MINGGU BIASA VI ( TAHUN LITURGI – A )

Bacaan I – Putra Sirakh 15: 15-20

Mazmur Tanggapan – Mazmur 119: 1-2. 4-5. 17-18. 33-34

Bacaan II – 1 Korintus 2: 6-10

Bacaan Injil – Matius 5: 17-37

 

KEBEBASAN SEJATI HANYA ADA DI DALAM TUHAN

Saudara-saudariku yang terkasih.

Kebebasan merupakan suatu kata yang kuat. Karena kerinduan akan kebebasan, seorang yang miskin secara materi dapat bekerja keras untuk keluar dari jurang kemiskinan, seorang wartawan dapat dengan gigih menyampaikan berita yang mengungkapkan ketidakadilan, seorang dokter dapat melakukan berbagai penelitian medis untuk mencari obat dari penyakit yang mematikan, suatu bangsa dapat bangkit melawan perbudakan, dan sebuah rezim pemerintahan yang lalim dapat digulingkan. Kehendak bebas merupakan suatu anugerah Allah yang diberikan secara istimewa bagi manusia.

Akan tetapi, menjadi sesuatu yang sungguh amat membahayakan dan merusak kemanusiaan manakala kebebasan diartikan sebagai penyangkalan sepenuhnya terhadap hukum Tuhan. Kebebasan bukanlah kesewenang-wenangan, bukanlah semata-mata untuk menghendaki yang jahat. Celakalah orang yang memperjuangkan kebebasan manusia untuk hidup, tetapi disaat yang sama membenarkan aborsi yang melenyapkan kehidupan. Celakalah orang yang berusaha meningkatkan kualitas hidup manusia di bidang medis, tetapi disaat yang sama membenarkan euthanasia. Celakalah suatu bangsa yang berjuang untuk kemakmuran rakyatnya dengan menjajah bahkan memperbudak yang lain. Celakalah suatu kelompok masyarakat yang menghendaki kemapanan ekonomi, namun memalingkan wajah dari kemiskinan, membiarkan ketidakadilan, dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan itu. Bilamana demikian, maka sebenarnya itu bukanlah kebebasan, melainkan penghinaan terhadap tujuan utama dari kebebasan itu sendiri, penyangkalan terhadap martabat kemanusiaan yang mulia, dan perlawanan terhadap Hukum Tuhan yang akhirnya berujung pada kebinasaan. Kebebasan palsu yang demikian berasal dari si Jahat, bapa segala dusta.

Saudara-saudariku yang terkasih.

Pahamilah ini! Segala hukum manusia hanya dapat mendatangkan kebebasan sejati, manakala dibuat sejalan dengan hukum Tuhan. Hukum manusia manapun yang tidak mendatangkan kebebasan semua umat manusia, bukanlah hukum Tuhan. Kekebasan haruslah selalu dikejar untuk mencapai kebahagiaan semua manusia. Tidak ada kebahagiaan sejati di luar Tuhan. Kebebasan bukanlah penyangkalan terhadap hukum Tuhan, bukan pula ketidaksetiaan merangkul misteri salib. Oleh karena itu, ketaatan kepada kehendak Allah, kesetiaan untuk menjalankan hukum-hukum

Kebebasan sejati hanya dapat ditemukan di dalam Allah, dan dalam kesetiaan merangkul Salib.

Kebebasan sejati hanya dapat ditemukan di dalam Allah, dan dalam kesetiaan merangkul Salib.

Tuhan, serta ketekunan menapaki jalan Saliblah, yang pada akhirnya akan membebaskan kita. “Asal sungguh mau engkau dapat menepati hukum, dan berlaku setia pun dapat kaupilih.” (Sir.15:15) Jangan melihat kesetiaan akan hukum Tuhan sebagai sesuatu yang membebani, sehingga kita mencoba mencari celah-celah hukum untuk terbebas darinya. Lihatlah keindahan hukum Tuhan sebagai suatu panggilan suci untuk mengalami libertas filiorum Dei, kebebasan sejati anak-anak Allah. Ketidaksetiaan akan hukum Tuhan sebenarnya berarti kejatuhan dari kebebasan ke dalam belenggu dosa dan kuasa maut yang membinasakan. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menegaskan kembali bahwa kehadiran-Nya, kebebasan sejati yang Ia tawarkan, bukanlah untuk meniadakan atau membatalkan hukum-hukum Tuhan, melainkan untuk menggenapinya. Serangkaian aturan hukum Taurat yang dikemukakan dalam bacaan Injil hari ini, memperoleh makna baru di dalam Yesus. Asalkan kita sungguh-sungguh setia, seturut rahmat Tuhan, hukum-hukum-Nya akan terukir di hati kita, dan kita akan dengan penuh kerinduan mencari kehendak-Nya, karena kesadaran bahwa hanya dalam ketaatan mutlak kepada hukum Tuhanlah kita akhirnya menemukan kebebasan kita yang sejati. Barangsiapa dengan sungguh-sungguh dan penuh cinta melaksanakan segala hukum Tuhan, pada akhirnya, sebagaiamana kata-kata rasul Paulus, “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1Kor.2:9)

Pandanglah Perawan Maria, Bunda Kebijaksanaan. dalam dirinya Gereja melihat seorang hamba Tuhan yang tak bercela dalam kesetiaan akan hukum Tuhan. Maria telah mencari Tuhan dengan segenap hati. Kini, dia memperoleh kebebasan sejati, dan karenanya beroleh kelimpahan anugerah surgawi. Suatu kebebasan sebagai anak Allah yang diawali dengan kalimat sederhana, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.” Semoga Bunda Maria senantiasa menuntun kita, laksana Bintang Timur, yang menunjukkan jalan kesetiaan menuju Allah, sumber kebebasan, harapan dan sukacita kita yang sejati. ( By: Verol Fernando Taole )