Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan Biasa VIII

image

MELEPASKAN SEGALA UNTUK BEROLEH SEGALA

Bacaan:
Sir.35: 1-12; Mzm.5:5-6.7-8.14.23;. Mrk.10:28-31

Renungan:
Kelekatan adalah salah satu penyebab utama ketidakbahagiaan, dan penghalang terbesar bagi setiap orang Kristen untuk mengalami kepenuhan dari hidup berimannya.
Orang dapat saja memiliki segalanya, namun tetap tidak bahagia. Kita boleh memiliki sebuah keluarga, tempat tinggal, pekerjaan dan finansial yang mapan, pertemanan, hobi atau talenta, dan berbagai hal lain yang kita sebut sebagai “milik“.
Akan tetapi, dalam Injil hari ini, Yesus mengingatkan kita agar “Janganlah hatimu melekat padanya.”
Ketika seorang anak enggan melepaskan mainan kesayangannya untuk disumbangkan kepada tempat penampungan anak terlantar, itulah kelekatan. Ketika seorang konglomerat, jatuh dalam depresi akibat kehilangan jutaan dollar dalam suatu investasi yang merugikan, itulah kelekatan. Ketika seorang wanita menghabiskan uang begitu banyaknya karena tidak mau tubuhnya mengalami perubahan seiring usia, itulah kelekatan. Ketika seorang Imam setengah hati untuk taat pada Uskupnya, yang memberi tugas ke tempat baru, sehingga ia harus meninggalkan umat yang begitu ia kasihi selama ini, itulah kelekatan.

Panggilan Kristiani adalah panggilan untuk berbahagia dan bersukacita. Maka, bilamana hidup kita ditandai dengan rupa-rupa ketidakbahagiaan dan ketiadaan sukacita, itu berarti ada kelekatan yang harus kita lepaskan.
Saat orang mulai mencari dan menemukan kebahagiaan pada kepemilikan, pada saat itulah dia sebenarnya mulai kehilangan kebahagiaan. Tidak ada satupun yang abadi dari kepemilikan seperti itu. Kita hanya akan menemukan kebahagiaan dan sukacita yang sejati, apabila hati kita melekat erat dan bersatu sepenuhnya dalam Hati Tuhan.
Oleh karena itu, berjalanlah di tengah dunia, tetapi hindarilah dirimu dari keinginan untuk menggenggam sesuatu dalam perjalanan, untuk menjadikannya sebagai milik yang harus dipertahankan.
Melangkahlah seperti seorang peziarah yang dipimpin oleh Roh kemiskinan yang suci, sehingga sekalipun memiliki, namun hatimu tidak melekat pada semua itu, sebab hatimu hanya senantiasa memandang Allah.

St. Yohanes dari Salib mengungkapkan paradoks kristiani ini dengan begitu indahnya dengan mengatakan bahwa, “untuk beroleh Kristus Sang Segala, lepaskanlah segala“.
Seringkali terjadi bahwa kelekatanlah yang membuat kita sulit untuk dapat selalu menjawab “Ya” kepada Allah, atau mengalami Dia sebagai Pribadi yang terlalu banyak menuntut. Ketidakmampuan kita untuk mencintai Tuhan dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatan, disebabkan oleh kelekatan. Hari ini renungkanlah, apa saja kelekatan-kelekatan yang membuat kita seringkali jatuh dalam dosa yang sama, yang berulang kali melukai hati Tuhan dengan kecenderungan-kecenderungannya yang jahat?
Hari ini Tuhan menunggu jawaban darimu, “Jika engkau benar-benar mengasihi Aku lebih dari segala sesuatu, lepaskanlah itu“.

Pandanglah Ibu Maria, dan belajarlah darinya. Dia adalah hamba Allah yang paling setia dan gambaran kesempurnaan Gereja. Perawan Maria dikatakan berbahagia, hidupnya selalu dipenuhi sukacita dan dipuji oleh segala bangsa, karena sepanjang hidupnya dia senantiasa memenuhi hatinya dengan cinta akan Allah, Kekasih jiwanya. Hatinya begitu melekat erat dan bersatu dalam Allah, sebab dia tidak pernah mengijinkan satu bagian pun dalam ruang-ruang hatinya bagi kelekatan atau “milik” yang harus dipertahankan.
Inilah kebahagiaannya. Inilah sukacitanya. Suatu kepenuhan mistik yang Ilahi, sebagaimana diutarakan oleh St. Teresa dari Avila, yaitu “Allah saja cukup ~ solo Dios basta“.
Semoga Roh Allah memurnikan cinta kita, agar menemukan kebahagiaan dan sukacita dalam kelepasan akan segala, sehingga pada akhirnya kita semua beroleh Kristus Sang Segala.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ VIGILI PASKAH

image

DIPANGGIL UNTUK BERCAHAYA

Bacaan:
Kej.1:1 – 2:2; Mzm.104:1-2a.5-6.10.12.13-14.24.35c atau Mzm.33:4-5.6-7.12-13.20.22; Kej.22:1-18; Mzm.16:5.8.9-10.11; Kel.14:15 – 15:1; MT Kel.15:1-2.3-4.5-6.17-18; Yes.54:5-14; Mzm.30:2.4.5-6.11.12a.13b; Yes.55:1-11; MT Yes.12:2-3.4bcd.5-6; Bar.3:9-15.32 – 4:4; Mzm.19:8.9.10.11; Yeh.36:16-17a.18-28; Mzm.42:3.5bcd – 43:3.4 atau kalau ada pembaptisan MT Yes.12:2-3.4bcd.5-6 atau juga Mzm.51:12-13.14-15.18-19; Rm.6:3-11; Mzm.118:1-2.16ab-17.22-23; Mrk.16:1-8

Renungan:
Inilah malam dimana Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus mengalahkan maut dan kegelapan dengan Cahaya Kebangkitan.
Pada malam ini Gereja Katolik merayakan Puncak dari semua perayaan Liturginya.
Malam ini umat beriman merayakan dasar dari keseluruhan imannya. Sebagaimana diungkapkan begitu tepatnya oleh St. Paulus Rasul, “Seandainya saja Kristus tidak dihidupkan kembali dari kematian, maka tidak ada gunanya kami memberitakan apa-apa dan tidak ada gunanya pula kalian percaya, sebab kepercayaanmu itu tidak mempunyai dasar apa-apa. Dan kalau Kristus tidak dihidupkan kembali maka kepercayaanmu hanyalah impian belaka; itu berarti kalian masih dalam keadaan berdosa dan tidak mempunyai harapan sama sekali. Tetapi nyatanya Kristus sudah dihidupkan kembali dari kematian. Inilah jaminan bahwa orang-orang yang sudah mati akan dihidupkan kembali. Sebab kematian masuk ke dalam dunia dengan perantaraan satu orang, begitu juga hidup kembali dari kematian diberikan kepada manusia dengan perantaraan satu orang pula.” (bdk.Kor.15:14.17.20-21)

Vigili Paskah atau Malam Paskah adalah awal penciptaan yang baru. Ketika Allah menciptakan alam semesta dari kekosongan, ketiadaan dan kegelapan, dia terlebih dahulu menciptakan “Terang“. Maka, malam Paskah dikatakan awal penciptaan baru karena pada malam ini, Allah mengalahkan kegelapan dosa dan maut dengan “Terang Sejati” yang berasal dari Kristus Yang Bangkit.

Di malam Paskah ini, Gereja Katolik mengungkapkan atau menerangkan imannya akan Kristus Yang Bangkit dengan liturgi yang begitu indah, tepat dan penuh kekayaan makna, melalui bentuk yang sangat unik dan sederhana, yaitu Lilin Paskah.
Dari liturgi sederhana ini kita diajak untuk merenungkan 2 sikap yang harus dimiliki oleh setiap orang beriman yang dipanggil menjadi saksi-saksi iman akan Kristus Yang Bangkit.

Pertama, lilin akan menghabiskan dirinya untuk bercahaya. Sebagaimana lilin yang menebarkan cahaya sambil perlahan-lahan menghabiskan dirinya, demikian pula hidup seorang rasul Kristus. Panggilan kita untuk membawa cahaya ke tengah kegelapan dunia adalah juga panggilan untuk mencintai sampai sehabis-habisnya, sama seperti Kristus. Suatu panggilan untuk kehilangan hidup, agar dapat memberi hidup. Hidup seorang Kristen adalah suatu pemberian diri yang total, bahkan sekalipun karenanya ia harus mengurbankan nyawanya, demi imannya akan Allah dan demi membawa keselamatan serta cahaya sukacita Injil kepada semua orang.

Kedua, cahaya lilin adalah api. Ini bukanlah cahaya yang dingin dan tidak memiliki dampak apa-apa jika disentuh, melainkan cahaya yang membawa kehangatan, bahkan sanggup membakar dan menghanguskan siapapun yang disentuh olehnya. Demikian pulalah seharusnya hidup seorang rasul Kristus. Hidupnya harus selalu membawa kehangatan cinta dan belas kasih Allah bagi siapapun yang berjumpa dengannya. Hidup dan karyanya harus selalu membawa orang pada pengenalan iman akan Kristus, dan membuat hati siapapun yang disentuh oleh kehadirannya menjadi berkobar-kobar dan dihanguskan oleh cinta akan Allah.

Di malam Paskah ini, seruan Kristus kembali bergema, “Kamu adalah Terang dunia.
Kita bukanlah anak-anak kegelapan, kita adalah putra-putri Cahaya
Oleh karena itu, malam ini pula Gereja, umat Allah, dengan memegang lilin yang bercahaya di tangannya, membaharui kembali janji baptisnya untuk menjadi putra-putri Cahaya, yang membawa terang dan sukacita Paskah dalam hidup dan karyanya.

Semoga Santa Perawan Maria, Bintang Timur dan Bunda Gereja, menyertai kita dengan doa dan kasih keibuannya, agar kita bisa menjadi saksi-saksi iman akan Kristus Yang Bangkit, serta mengenyahkan kegelapan dunia ini melalui hidup dan karya kita.

Selamat Paskah! Surrexit Christus, Alleluia!

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Senin V Prapaska

image

AKU MAU KAMU MATI

Bacaan:
Tamb.Dan.13:1-9.15-17.19-30.33-62; Mzm.23:1-3a.3b-4.5.6; Yoh.8:1-11

Renungan:
Sebenarnya, tidak ada yang salah dari memberikan penghakiman yang “adil” atas suatu perkara.
Namun, penghakiman dapat menjadi sesuatu yang keliru apabila itu dilakukan secara tergesa-gesa, apalagi tanpa bukti yang cukup.
Lebih jauh lagi, penghakiman bisa mendatangkan kejahatan, manakala itu dilakukan untuk menutupi dosa yang serupa atau bahkan lebih besar lagi dari para “pelempar batu”.
Manusia seringkali tergoda untuk mengungkapkan dosa orang lain, agar dosa-dosanya sendiri menjadi tidak terlihat. Lebih mudah menelanjangi orang, daripada menelanjangi diri kita sendiri. Lebih baik membiarkan borok orang lain kelihatan, daripada borok kita sendiri.
Pembelaan Yesus terhadap perempuan yang berzinah bukan berarti Yesus membenarkan dosa. Akan tetapi, kita diingatkan untuk melakukan penghakiman yang “adil” dalam semangat cintakasih.
Bencilah dosa, tetapi cintailah pendosa.
Konsekuensi dari panggilan Kristiani untuk mengasihi sesama ialah panggilan untuk memelihara kehidupan, bukannya melenyapkan.
Dalam pernyataan, “Aku mengasihi kamu” terkandung pula pernyataan “Aku tidak ingin kamu binasa”.
Cinta kasih selalu berlawanan dengan kematian. Seseorang tidak mungkin mengatakan, “Aku sungguh mengasihi Tuhan dan sesama”, sementara disaat bersamaan dia juga mengatakan, “Aku ingin kamu dihukum mati atas perbuatanmu”.
Tidak mungkin kita menjalankan kerasulan cinta kasih dengan tangan yang senantiasa memegang batu, yang siap dilemparkan kepada siapa saja yang kita anggap berdosa dan layak dibinasakan.
Itulah juga sebabnya Gereja Katolik dengan tegas dan jelas menentang hukuman mati yang diberlakukan di berbagai negara.
Kenyataan bahwa Tuhan dan Penyelamat kita mengalami kematian yang luar biasa keji di kayu salib “demi” menebus dosa kita, seharusnya menyadarkan kita juga bahwa sebagaimana Yesus mati demi memelihara kehidupan, demikian pula kita dipanggil untuk melakukan hal yang sama.
Disadari atau tidak, tak jarang manusia membunuh sesama dengan kata-kata, penghakiman, maupun perbuatan-perbuatan lainnya.
Oleh sebab itu, marilah kita memohon karunia belaskasih dan kebijaksanaan dari Allah, agar bilamana diperhadapkan pada situasi demikian, sama seperti Tuhan Yesus kita sanggup mengatakan, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Jumat IV Prapaska

image

Yesus mengajar di Sinagoga

JANGAN ABU-ABU

Bacaan:
Keb.2:1a,12-22; Mzm.34:17-18,19-20,21,23; Yoh.7:1-2,10,25-30

Renungan:
Kita dipanggil untuk mewartakan Kerajaan Allah, apapun resikonya.
Tidak ada ruang tengah, atau titik aman dalam kerasulan dan pewartaan Injil.
Sama seperti Yesus, kita tidak mungkin menyenangkan semua orang.
Jangan pernah membelokkan pesan Injil, atau merubah tuntutan kerasulan, hanya karena opini publik, ketakutan untuk berbeda dengan kebanyakan orang, keinginan untuk mendapatkan “win-win solution”.
Hanya ada 2 pilihan, berdiri di pihak Allah, atau berdiri di pihak si jahat. Tidak ada pilihan ruang “abu-abu” di tengahnya.
Sekalipun Injil sendiri berarti “Kabar Baik”, pada kenyataannya tidak semua hati terbuka atau sanggup menerima sukacita Injil.
Ini dikarenakan sukacita Injil hanya bisa dialami oleh mereka yang sungguh-sungguh memutuskan untuk berubah, untuk mengalami metanoia, untuk meninggalkan kegelapan menuju cahaya.

Pax, in aeternum.
Fernando

Cinta akan rumah-Mu menghanguskan daku

MINGGU PRAPASKA II ( TAHUN LITURGI – A )

Bacaan I – Kejadian 12: 1-4a

Mazmur Tanggapan – Mzm. 33: 4-5. 18-19. 20. 22

Bacaan II – 2 Timotius 1: 8b-10

Bacaan Injil – Matius 17: 1-8

CINTA AKAN RUMAH-MU MENGHANGUSKAN DAKU

“Seturut sabda-Mu kucari wajah-Mu, wajah-Mu kucari, Ya Tuhan. Janganlah wajah-Mu Kausembunyikan daripadaku.” (Mzm.26: 8-9)

Demikianlah antifon pembuka hari ini menghantar kita memasuki perjumpaan dengan Allah dalam Misa Kudus hari ini. Kata-kata pemazmur yang indah ini sebenarnya mengungkapkan kodrat dan tujuan keberadaan kita di dunia ini. Sebagai manusia, kita berasal dari Allah dan pada akhirnya, seturut besarnya cinta kita untuk mencari Dia, kita akan kembali kepada Dia, Sang Pemberi Hidup. Santo Agustinus berkata, “Engkau telah mencipta kami bagi Diri-Mu, dan hati kami tidak tenteram sebelum beristirahat di dalam Engkau.” Allah sendiri telah meletakkan dalam hati kita, suatu kerinduan untuk mencari dan menemukan-Nya. Suatu panggilan suci yang penuh misteri, untuk mengalami kemuliaan dan sukacita Tabor. Akan tetapi, salah satu kegagalan terbesar para pengikut Kristus, terlebih di masa sekarang ini, adalah kegagalan untuk melihat bahwa Jalan Salib adalah satu-satunya jalan yang menghantar kita untuk mengalami transfigurasi, untuk berubah rupa dan mengalami persatuan sempurna dengan Allah. Kekristenan tanpa salib adalah palsu.  Panggilan untuk menapaki jalan kesempurnaan adalah suatu perjalanan yang harus dilalui dalam tapak-tapak derita, tapak-tapak dukacita dan air mata. Seperti Abram yang dipanggil keluar ke tanah yang dijanjikan Tuhan, kita akan melihat bahwa perjalanan panggilan ini bagaikan suatu perjalanan melewati malam gelap, suatu pendakian gunung rohani untuk masuk dalam awan ketidaktahuan bersama Allah. “Ikutlah menderita bagi Injil Tuhan dengan kekuatan Allah.” (2 Tim.1: 8c)

Petrus, Yakobus dan Yohanes melihat Yesus berubah rupa di gunung Tabor, sambil berbicara dengan Musa dan Elia.

Petrus, Yakobus dan Yohanes melihat Yesus berubah rupa di gunung Tabor, sambil berbicara dengan Musa dan Elia.

Yesus memahami ketidakmengertian dan ketakutan para murid untuk menapaki jalan ini. Karena itulah Dia mengajak para murid untuk mendaki gunung dan beroleh kesempatan memandang Transfigurasi, agar para murid dapat melihat cahaya dan mahkota kemuliaan di balik misteri Salib.

Saudara-saudari terkasih.

Jikalau memang benar demikian adanya, bahwa Tuhan memanggil kita untuk memulai suatu perjalanan yang dipenuhi penderitaan, dukacita, dan kegelapan iman, apa yang menggerakkan tak terbilang banyaknya para kudus di sepanjang zaman untuk berani melangkahkan kaki tanpa keraguan di jalan ini? Para kudus sesudah zaman Gereja Perdana, bukanlah saksi mata langsung akan peristiwa Transfigurasi semulia itu, tetapi toh dalam kegelapan iman yang luar biasa menyedihkan, gelap dan menakutkan, meskipun seolah-olah air laut belum terbelah, mereka memberanikan diri untuk melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam air, dan di tengah angin kencang dan badai bergemuruh, mereka sanggup berjalan di atas air. Apa yang mendorong kegilaan iman untuk mengikuti Tuhan semacam itu?

Cinta…cinta…cinta…cintalah yang mendorong kegilaan merasul mereka…Sang Mempelai telah meninggalkan dalam hati kita sebuah luka cinta, dan tidak ada yang bisa menyembuhkan luka itu, selain Dia yang telah melukai kita. Bayangkanlah suatu perasaan cinta antara dua orang kekasih yang paling mesra di dunia ini, dan lipatgandakanlah itu beratus-ratus bahkan beribu-ribu kali. Demikianlah api cinta yang ditimbulkan oleh luka cinta dari Tuhan. Sama seperti Abram dan bagaikan seorang mempelai wanita yang meluap-luap dalam cinta akan Kekasihnya, demikianlah panggilan Tuhan telah memabukkan kita dalam cinta, sehingga kita berlari keluar, layaknya orang gila dalam pandangan dunia ini, meninggalkan segala yang merintangi kita, demi mencari Sang Cinta.

Dan lihatlah betapa luar biasanya kobaran cinta yang dinyalakan Roh Cintakasih itu. Jangankan untuk berkarya bagi Allah, untuk mengisahkan tentang Dia pun sudah membuat hati kita berdebar-debar karena luapan cinta.  Panggilan cinta ini bukanlah suatu panggilan untuk mengabaikan dunia, melainkan suatu panggilan untuk merasul dan menulari semua orang dengan kegilaan cinta yang sama. St. Josemaria Escriva  berkata, “Cintamu sedikit bila engkau tidak bersemangat menyelamatkan jiwa-jiwa. Cintamu miskin bila engkau tidak berhasrat untuk menulari rasul-rasul lain dengan kegilaanmu. Jangan biarkan hidupmu menjadi sia-sia, Jadilah manusia yang berguna. Tinggalkan jejak. Pancarkan cahaya iman dan cinta kasihmu. Dengan hidup merasul, lenyapkanlah bekas-bekas yang buruk dan kotor yang ditaburkan oleh penyebar kebencian. Terangilah jalan-jalan dunia ini dengan terang Kristus yang kaubawa dalam hatimu.” Jangan meminta diturunkan dari salibmu, tetapi mohonkanlah kekuatan untuk terentang pada salib. Berharaplah kepada Tuhan. “Dialah penolong dan perisai kita.” (Mzm.33: 20b)

Saudara-saudari terkasih.

Saat ini Yesus berbicara kepadamu, “Berdirilah, jangan takut!” (Mat.17: 7b) Sama seperti ketika pertama kali Ia memanggil Petrus, Yakobus, dan Yohanes, Allah saat ini memanggil engkau tepat di tengah-tengah pekerjaanmu, untuk menjadi “penjala manusia”. Jawablah “Ya” kepada-Nya, hari ini, besok dan sampai selama-lamanya. Kuduskanlah dirimu, kuduskanlah perkerjaanmu, dan kuduskanlah semua orang melalui pekerjaanmu. Inilah panggilan cinta kita, inilah kerasulan kita. Bilamana kita setia, pada senja hidup kita, kita akan mengalami kemuliaan dan sukacita Tabor, berbahagia selamanya bersama Sang Cinta.

Semoga Perawan Maria yang terberkati, selalu menyertai kita dengan doa-doanya, serta melindungi kita dalam naungan kasih dan mantol ke-ibu-annya, agar kita bisa mencapai cita-cita rohani ini, sebagaimana dia sendiri telah lebih dahulu menjalaninya dan beroleh mahkota kemuliaan karenanya. “Regnare Christum volumus!”  – “Kami ingin Kristus meraja!” (VFT)

Kebebasan sejati hanya ada di dalam Tuhan

MINGGU BIASA VI ( TAHUN LITURGI – A )

Bacaan I – Putra Sirakh 15: 15-20

Mazmur Tanggapan – Mazmur 119: 1-2. 4-5. 17-18. 33-34

Bacaan II – 1 Korintus 2: 6-10

Bacaan Injil – Matius 5: 17-37

 

KEBEBASAN SEJATI HANYA ADA DI DALAM TUHAN

Saudara-saudariku yang terkasih.

Kebebasan merupakan suatu kata yang kuat. Karena kerinduan akan kebebasan, seorang yang miskin secara materi dapat bekerja keras untuk keluar dari jurang kemiskinan, seorang wartawan dapat dengan gigih menyampaikan berita yang mengungkapkan ketidakadilan, seorang dokter dapat melakukan berbagai penelitian medis untuk mencari obat dari penyakit yang mematikan, suatu bangsa dapat bangkit melawan perbudakan, dan sebuah rezim pemerintahan yang lalim dapat digulingkan. Kehendak bebas merupakan suatu anugerah Allah yang diberikan secara istimewa bagi manusia.

Akan tetapi, menjadi sesuatu yang sungguh amat membahayakan dan merusak kemanusiaan manakala kebebasan diartikan sebagai penyangkalan sepenuhnya terhadap hukum Tuhan. Kebebasan bukanlah kesewenang-wenangan, bukanlah semata-mata untuk menghendaki yang jahat. Celakalah orang yang memperjuangkan kebebasan manusia untuk hidup, tetapi disaat yang sama membenarkan aborsi yang melenyapkan kehidupan. Celakalah orang yang berusaha meningkatkan kualitas hidup manusia di bidang medis, tetapi disaat yang sama membenarkan euthanasia. Celakalah suatu bangsa yang berjuang untuk kemakmuran rakyatnya dengan menjajah bahkan memperbudak yang lain. Celakalah suatu kelompok masyarakat yang menghendaki kemapanan ekonomi, namun memalingkan wajah dari kemiskinan, membiarkan ketidakadilan, dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan itu. Bilamana demikian, maka sebenarnya itu bukanlah kebebasan, melainkan penghinaan terhadap tujuan utama dari kebebasan itu sendiri, penyangkalan terhadap martabat kemanusiaan yang mulia, dan perlawanan terhadap Hukum Tuhan yang akhirnya berujung pada kebinasaan. Kebebasan palsu yang demikian berasal dari si Jahat, bapa segala dusta.

Saudara-saudariku yang terkasih.

Pahamilah ini! Segala hukum manusia hanya dapat mendatangkan kebebasan sejati, manakala dibuat sejalan dengan hukum Tuhan. Hukum manusia manapun yang tidak mendatangkan kebebasan semua umat manusia, bukanlah hukum Tuhan. Kekebasan haruslah selalu dikejar untuk mencapai kebahagiaan semua manusia. Tidak ada kebahagiaan sejati di luar Tuhan. Kebebasan bukanlah penyangkalan terhadap hukum Tuhan, bukan pula ketidaksetiaan merangkul misteri salib. Oleh karena itu, ketaatan kepada kehendak Allah, kesetiaan untuk menjalankan hukum-hukum

Kebebasan sejati hanya dapat ditemukan di dalam Allah, dan dalam kesetiaan merangkul Salib.

Kebebasan sejati hanya dapat ditemukan di dalam Allah, dan dalam kesetiaan merangkul Salib.

Tuhan, serta ketekunan menapaki jalan Saliblah, yang pada akhirnya akan membebaskan kita. “Asal sungguh mau engkau dapat menepati hukum, dan berlaku setia pun dapat kaupilih.” (Sir.15:15) Jangan melihat kesetiaan akan hukum Tuhan sebagai sesuatu yang membebani, sehingga kita mencoba mencari celah-celah hukum untuk terbebas darinya. Lihatlah keindahan hukum Tuhan sebagai suatu panggilan suci untuk mengalami libertas filiorum Dei, kebebasan sejati anak-anak Allah. Ketidaksetiaan akan hukum Tuhan sebenarnya berarti kejatuhan dari kebebasan ke dalam belenggu dosa dan kuasa maut yang membinasakan. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menegaskan kembali bahwa kehadiran-Nya, kebebasan sejati yang Ia tawarkan, bukanlah untuk meniadakan atau membatalkan hukum-hukum Tuhan, melainkan untuk menggenapinya. Serangkaian aturan hukum Taurat yang dikemukakan dalam bacaan Injil hari ini, memperoleh makna baru di dalam Yesus. Asalkan kita sungguh-sungguh setia, seturut rahmat Tuhan, hukum-hukum-Nya akan terukir di hati kita, dan kita akan dengan penuh kerinduan mencari kehendak-Nya, karena kesadaran bahwa hanya dalam ketaatan mutlak kepada hukum Tuhanlah kita akhirnya menemukan kebebasan kita yang sejati. Barangsiapa dengan sungguh-sungguh dan penuh cinta melaksanakan segala hukum Tuhan, pada akhirnya, sebagaiamana kata-kata rasul Paulus, “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1Kor.2:9)

Pandanglah Perawan Maria, Bunda Kebijaksanaan. dalam dirinya Gereja melihat seorang hamba Tuhan yang tak bercela dalam kesetiaan akan hukum Tuhan. Maria telah mencari Tuhan dengan segenap hati. Kini, dia memperoleh kebebasan sejati, dan karenanya beroleh kelimpahan anugerah surgawi. Suatu kebebasan sebagai anak Allah yang diawali dengan kalimat sederhana, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.” Semoga Bunda Maria senantiasa menuntun kita, laksana Bintang Timur, yang menunjukkan jalan kesetiaan menuju Allah, sumber kebebasan, harapan dan sukacita kita yang sejati. ( By: Verol Fernando Taole )