Retret Prapaskah Opus Dei

image

Khusus Wanita

Cabang Wanita dari Keuskupan/Prelatur Personal Opus Dei akan mengadakan Retret Prapaskah.
Retret ini diperuntukkan khusus bagi wanita Katolik yang sudah dewasa & wanita Katolik profesional (bekerja).
Info lebih lanjut silakan melihat gambar di atas.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

GEREJA KATOLIK MENOLAK HUKUMAN MATI

Berikut ini ada pernyataan resmi dari Yang Mulia Uskup Agung Jakarta, Ignatius Suharyo Pr., yang juga adalah Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), yaitu menolak eksekusi mati terhadap para terpidana mati oleh Pemerintah Indonesia.

image

“GEREJA KATOLIK MENOLAK HUKUMAN MATI”

Surat Uskup Agung
Untuk para Imam di KAJ

Para Rama yth,

Pada hari-hari ini, televisi, koran dan mass media lain, penuh dengan berita mengenai hukuman mati. Saya pribadi amat sedih setiap kali melihat atau membaca berita itu dan diberitakan dengan cara yang bagi saya mencederai kemanusiaan yang adil dan beradab. Dalam suasana seperti ini saya mengajak para Imam untuk menjelaskan kepada umat pandangan Gereja mengenai hal ini dan mengajak mereka berdoa untuk para terpidana.Katekismus Gereja Katolik menyatakan : Pembelaan kesejahteraan umum masyarakat menuntut agar penyerang dihalangi untuk menyebabkan kerugian. Karena alasan ini, maka ajaran Gereja sepanjang sejarah mengakui keabsahan hak dan kewajiban dari kekuasan politik yang sah, menjatuhkan hukuman yang setimpal dengan beratnya kejahatan, tanpa mengecualikan hukuman mati dalam kejadian-kejadian yang serius (KGK 2266). Menurut Katekismus ini, hukuman mati diperbolehkan dalam kasus-kasus yang sangat parah kejahatannya. Namun, apabila terdapat cara lain untuk melindungi masyarakat dari penyerang yang tidak berperi-kemanusiaan, cara-cara lain ini lebih dipilih daripada hukuman mati karena cara-cara ini dianggap lebih menghormati harga diri seorang manusia dan selaras dengan tujuan kebaikan bersama (bdk KGK 2267). Di sini terjadi peralihan pandangan Gereja tentang konsep hukuman mati  Gereja. KGK 2267 ini diambil dari ensiklik Paus Yohanes Paulus II Evangelium Vitae.Dalam ensiklik Evangelium Vitae yang diterbitkan tahun 1995, Paus Yohanes Paulus II menghapuskan status persyaratan untuk keamanan publik dari hukuman mati ini dan menyatakan bahwa, dalam masyarakat modern saat ini, hukuman mati tidak dapat didukung keberadaannya. Berikut kutipannya:

“Adalah jelas bahwa untuk tercapainya maksud-maksud ini, jenis dan tingkat hukuman harus dengan hati-hati dievaluasi dan diputuskan, dan tidak boleh dilaksanakan sampai ekstrim dengan pembunuhan narapidana, kecuali dalam kasus-kasus keharusan yang absolut: dengan kata lain, ketika sudah tidak mungkin lagi untuk melaksanakan hal lain untuk membela masyarakat luas. Selanjutnya ditegaskan, Namun demikian, dewasa ini, sebagai hasil dari perkembangan yang terus menerus dalam hal pengaturan sistem penghukuman, kasus-kasus sedemikian (kasus-kasus yang mengharuskan hukuman mati) adalah sangat langka, jika tidak secara praktis disebut sebagai tidak pernah ada.” (EV 56). Dengan demikian Gereja Katolik tidak mendukung hukuman mati.

Salah satu orang yang sudah dijatuhi hukuman mati adalah Mary Jane Fiesta Veloso orang Katolik dari Filipina, berumur 30 tahun, ibu dari dua anak Sekolah Dasar. Sejak berumur 14 tahun, Mary Jane bekerja sebagai pembantu rumah tangga, dan untuk mencari nafkah bagi anak-anaknya, ia menjadi tenaga kerja wanita Filipina di Malaysia. Di situ, ibu agen tenaga kerja menghadiahi Mary Jane sebuah koper; dan kemudian agen tenaga kerja menugasi Mary Jane, menemui seorang teman di Yogya. Di situ, polisi menemukan bahan narkoba amat banyak, tersembunyi dalam dinding koper lapis dua. Mary Jane bersikeras: tidak tahu menahu mengenai isi koper itu. Tidak ada bukti untuk menuduh Mary Jane bahwa bohong. Namun semua pengadilan di Indonesia mempidana Ibu Mary Jane dengan hukuman mati. Kini permintaan untuk peninjauan kembali, telah ditolak; maka bersama sembilan orang terpinda Mary Jane menghadapi eksekusi.Komisi Keadilan dan Perdamaian Konferensi Waligereja Indonesia sekarang ini juga sedang meng-advokasi seorang yang sudah dijatuhi hukuman mati dalam kasus yang serupa. Menurut kesaksian keluarga dan saksi-saksi lain, aparat salah menangkap orang.Saya minta para Imam semua untuk mengajak seluruh umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta berdoa bagi Ibu Mary Jane dan kesembilan orang lain, juga untuk negara kita dan Gereja di Indonesia.

Doa ini mohon dipanjatkan di seluruh Gereja Katolik Keuskupan Agung Jakarta dalam DOA UMAT PADA HARI MINGGU kalau dan setelah eksekusi mati jadi dilaksanakan. Kita tetap berdoa, agar eksekusi mati tidak dilaksanakan dan selanjutnya hukuman mati dihapuskan dari sistem hukum di Indonesia.

Berikut usul doa umat itu :

I. PadaMu, ya Allah kehidupan, kami mengarahkan hati untuk mendapatkan kekuatan dan andalan dalam kebimbangan kami, untuk memperoleh terang kalau kami buta, kecewa dan marah, untuk dapat menghirup perikemanusiaan dalam perseteruan kami.

L. Ya Allah, dari kelimpahan hidup-Mu Engkau menciptakan segala yang hidup.

U. Bangkitkanlah tanggungjawab kami untuk memelihara kehidupan dan mengalahkan kekerasan.

L. Ya Allah, dengan tekun dan setia Engkau berbagi kehidupan dengan umat manusia; dan Yesus, utusan-Mu, Engkau bangkitkan, setelah Dia dihukum oleh bangsa-Nya dan dieksekusi oleh yang berkuasa.

U. Gerakkanlah kebersamaan kami dengan solidaritas dan jiwailah pemimpin-pemimpin kami, supaya mereka mempersatukan kami, tanpa mengorbankan hidup siapa pun.

L. Ya Allah, Engkau menggairahkan umat-Mu menjadi pembawa kabar gembira dan penjaring dalam lingkungan persaudaraan.

U. Semoga dengan kekuatan-Mu, jemaat beriman menjadi tempat terbuka dan mampu memberi maaf kepada saudara-saudara yang bersalah dan para pemimpin umat menjadi pembela dan pendamping mereka yang terhukum.

L. Ya Allah, dengan mengenakan hukuman mati, negara kami mau melawan semua ulah yang memusnahkan hidup dan merusak perikemanusiaan. Namun tindakan ini tidak menyelesaikan masalah-masalah kami dan hanya menambahkan kekerasan.

U. Bimbinglah kami, para warga dan para pemimpin, untuk menemukan dan menempuh jalan persaudaraan untuk semua.

L. Ya Allah yang kekal, demi hukum positif, Ibu Mary Jane dan sembilan orang senasib dia, harus meninggalkan kami dan meninggal dunia karena dihukum mati.

U. Ya Allah yang adil, sambutlah mereka semua dalam keadilan-Mu dan penuhilah hidup mereka dengan kemuliaan-Mu.

I. Demikianlah permohonan kami, ya Allah, demi Yesus Kristus yang taat sampai mati di salib dan yang Engkau tinggikan di sisi-Mu, menjadi pengantara kami dan semua orang.

U.  Amin.

8. Sementara itu kampanye untuk menghapus hukuman mati di Indonesia akan terus dilancarkan, meskipun kita tahu perjuangan ini akan memakan waktu, tenaga, pengorbanan yang tidak sedikit. Kita dukung berbagai komunitas yang dengan gigih, memperjuangkan penghapusan hukuman mati, tanpa kecewa kalau gagal.

9. Terima kasih atas kerjasama para Rama sekalian. Semoga hidup manusia semakin dihormati dan martabatnya semakin dijunjung tinggi.

Selamat Paskah,
I. Suharyo

Pax, in aeternum.
Fernando

Info Admin

image

Dengan pertimbangan “kepantasan”, mengingat sebagian besar Keuskupan pagi ini sedang merayakan “Misa Krisma” dengan bacaan Liturgi yang berbeda, maka Meditasi Harian untuk malam Kamis Putih baru akan di-posting di www.jalankecil.com sore nanti.

Semoga dimaklumi.

Pax, in aeternum.
Fernando

18 Uskup memberkati Gereja Katedral Pontianak

18 USKUP MEMBERKATI GEREJA KATEDRAL PONTIANAK

image

Gereja Katedral Pontianak

Gereja Katedral Santo Yoseph (Gereja Pusat Keuskupan Agung Pontianak) akhirnya resmi diberkati kemarin (19/03/2015), bertepatan dengan HARI RAYA SANTO YOSEF, SUAMI DARI SANTA PERAWAN MARIA, Santo Pelindunh Gereja Katedral ini.

Pembangunan Gereja Katedral ini sendiri menghabiskan biaya tidak kurang dari 76 Milyar Rupiah.
Kemegahan dan besarnya biaya pembangunan sempat membuat beberapa pihak berniat untuk mengajukan permohonan ke Vatikan agar Gereja ini ditingkatkan statusnya dari Gereja Katedral menjadi Gereja Basilika Minor.

Misa Kudus Pemberkatan Gereja Katedral Santo Yoseph ini dipimpin langsung oleh Duta Besar Tahta Suci Vatikan untuk Indonesia (Apostolic Nuncio) Yang Mulia Uskup Agung Antonio Guido Filipazzi, bersama dengan 17 Uskup dari seluruh Indonesia.
Mereka adalah Uskup Agung Pontianak, Uskup Bandung, Uskup Agung Semarang, Uskup Denpasar, Uskup Sibolga, Uskup Tanjungkarang, Uskup Pangkalpinang, Uskup Ketapang, Uskup Sanggau, Uskup Palangkaraya, Uskup Tanjung Selor, Uskup Banjarmasin, Uskup Agung Makasar, Uskup Manado, Uskup Amboina, dan Uskup Emeritus (pensiun) Ketapang.
Selain itu, tidak kurang dari 100 Imam/Pastor dan Biarawan-biarawati dari berbagai Ordo, Kongregasi, serta Diosesan juga turut menghadiri Misa Pemberkatan ini.

Turut hadir juga Gubernur Kalbar, Cornelis, para Pendeta dari berbagai denominasi Protestan, para Bikhu dan beberapa tokoh dari agama-agama lainnya.

Pax, in aeternum.
Fernando

Surat Terbuka Pastor Franz Magnis-Suseno SJ untuk Prabowo

Romo Franz Magnis-Suseno SJ, Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara

Romo Franz Magnis-Suseno SJ, Guru Besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara

Akhirnya salah satu Gembala, Tokoh yang sangat disegani dan dihormati oleh Gereja Katolik Indonesia dan dunia angkat bicara dan melayangkan Surat Resmi Terbuka untuk Prabowo. Semoga seruan Beliau menjadi panduan bagi umat Katolik Indonesia dan semua orang yang berkehendak baik dalam menentukan pilihan. Selamat membaca.

 

MASA DEPAN BANGSA DALAM TARUHAN

Sepuluh tahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono telah meninggalkan seabrek kemacetan dan tantangan nasional yang mau tak mau harus dan akan ditangani oleh presiden baru. Itu berarti, pemerintah baru akan membawa perubahan-perubahan yang mendalam. Dan karena itu, siapa yang dipilih menjadi presiden untuk lima tahun mendatang akan amat menentukan bagi masa depan bangsa.

Sebagai warga negara biasa yang amat khawatir akan masa depan bangsa dan negara Indonesia, saya tentu tidak mungkin netral. Karena itu maka dalam tulisan ini saya mau menjelaskan mengapa saya tidak mungkin memberi suara saya kepada Bapak Prabowo Subiyanto.

Masalah saya bukan dalam program Prabowo. Saya tidak meragukan bahwa Pak Prabowo, sama seperti Pak Joko Widodo, mau menyelamatkan bangsa Indonesia. Saya tidak meragukan bahwa ia mau mendasarkan diri pada Pancasila. Saya tidak menuduh Beliau antipluralis. Saya tidak meragukan iktikat baik Prabowo sendiri.

Yang bikin saya khawatir adalah lingkungannya. Kok Prabowo sekarang sepertinya menjadi tumpuan pihak Islam garis keras. Seakan-akan apa yang sampai sekarang tidak berhasil mereka peroleh mereka harapkan bisa berhasil diperoleh andaikata saja Prabowo menjadi presiden?

Adalah Amien Rais yang membuat jelas yang dirasakan oleh garis keras itu: Ia secara eksplisit menempatkan kontes Prabowo – Jokowi dalam konteks perang Badar, yang tak lain adalah perang suci Nabi Muhammad melawan kafir dari Makkah yang menyerang ke Madinah mau menghancurkan umat Islam yang masih kecil! Itulah bukan slip of the tongue Amien Rais, memang itulah bagaimana mereka melihat pemilihan presiden mendatang.

Mereka melihat Prabowo sebagai panglima dalam perang melawan kafir. Entah Prabowo sendiri menghendakinya atau tidak. Ada masjid-masjid di mana dikhotbahkan bahwa coblos Jokowi adalah haram. Bukan hanya PKS dan PPP yang merangkul Prabowo, FPI saja merangkul. Mengapa?

Saya bertanya: Kalau Prabowo nanti menjadi presiden karena dukungan pihak-pihak garis keras itu: Bukankah akan tiba pay-back-time, bukankah akan tiba saatnya di mana ia harus bayar kembali hutang itu? Bukankah rangkulan itu berarti bahwa Prabowo sudah tersandera oleh kelompok-kelompok garis keras itu?

Lalu kalimat gawat dalam Manifesto Perjuangan Gerindra: “Negara dituntut untuk menjamin kemurnian ajaran agama yang diakui dari segala bentuk penistaan dan penyelewengan dari ajaran agama”. Kalimat itu jelas pertentangan dengan Pancasila karena membenarkan penindasan terhadap Achmadiyah, kaum Syiah, Taman Eden dan kelompok-kelompok kepercayaan.

Sesudah diprotes Dr. Andreas Yewangoe, Ketua PGI, Pak Hashim, adik Prabowo, seorang new born Christian, sowan pada Pak Yewangoe dan mengaku bahwa kalimat itu memang keliru, bahwa Prabowo 2009 sudah mengatakan harus diperbaiki dan sekarang sudah dihilangkan. Akan tetapi sampai tanggal 25 Juni lalu kalimat itu tetap ada di Manifesto itu di website resmi Gerindra.

Bukankah itu berarti bahwa Hashim tidak punya pengaruh nyata atas Gerindra maupun Prabowo?

Terus terang, saya merasa ngeri kalau negara kita dikuasai oleh orang yang begitu semangat dirangkul dan diharapkan oleh, serta berhutang budi kepada, kelompok-kelompok ekstremis yang sekarang saja sudah semakin menakutkan.

Lagi pula, sekarang para mantan yang mau membuka aib Prabowo dikritik. Tetapi yang perlu dikritik adalah bahwa kok baru saja sekarang orang bicara. Bukankah kita berhak mengetahui latar belakang para calon pemimpin kita?

Prabowo sendiri tak pernah menyangkal bahwa penculikan dan penyiksaan sembilan aktivis yang kemudian muncul kembali, yang menjadi alasan ia diberhentikan dari militer, memang tanggungjawabnya. Prabowo itu melakukannya atas inisiatifnya sendiri.

Saya bertanya: Apa kita betul-betul mau menyerahkan negara ini ke tangan orang yang kalau ia menganggapnya perlu, tak ragu melanggar hak asasi orang-orang yang dianggapnya berbahaya? Apa jaminan bahwa Prabowo akan taat undang-undang dasar dan undang-undang kalau dulu ia merasa tak terikat oleh ketaatan di militer?

Aneh juga, Gerindra menganggap bicara tentang hak-hak asasi manusia sebagai barang usang. Padahal sesudah reformasi hak-hak asasi manusia justru diakarkan ke dalam undang-undang dasar kita agar kita tidak kembali ke masa di mana orang dapat dibunuh begitu saja, ditangkap dan ditahan tanpa proses hukum.

Jakarta, 25 Juni 2014

Franz Magnis-Suseno SJ

 

Semoga ini bisa menjadi panduan bagi kita bersama.

 

PS:

Bagi yang ingin mendapatkan informasi via email mengenai artikel-artikel berita terkini dari web ini, harap mendaftar sebagai “Member Prioritas” di bagian kanan atas dari Beranda. (100% Free)

 

Perbedaan demo mahasiswa tempoe doeloe & sekarang

Nonton berita demonstrasi mahasiswa pagi ini yang begitu anarkis membuat saya berpikir…Demonstrasi para mahasiswa tempoe doeloe terlihat begitu elegan, berwibawa, cerdas, dan dipenuhi semangat nasionalisme, kecintaan terhadap bangsa & negara begitu jelas terlihat.
Suatu kenyataan yang jauh berbeda bila dibandingkan dengan demonstrasi mahasiswa sekarang.
Yang terlihat adalah sekumpulan anak muda barbar, berotak tumpul, sarat kepentingan pribadi/kelompok, anarkis, dan hampir tidak ada semangat nasionalisme.
Seakan tidak pantas menyandang gelar “Maha”.
Inilah kegagalan sistem pendidikan & bukti merosotnya nilai moral di berbagai tingkatan dań bidang kehidupan.

View on Path