Meditasi Harian, 17 Juli 2017 ~ Senin dalam Pekan Biasa XV

LEBIH DARI SEGALANYA

Bacaan:

Kel.1:8-14.22; Mzm.124:1-3.4-6.7-8; Mat.10:34-11:1

Renungan:

Panggilan mengikuti Tuhan di jalan-Nya membawa seorang beriman pada tuntutan suci, untuk menempatkan Allah serta mengasihi Dia di atas segala-galanya, jauh melampaui cinta bakti kepada orang tua serta semua yang terdekat di hati, dan melepaskan kelekatan akan segala sesuatu yang disebut sebagai harta milik, serta menyerahkan diri dengan hati tak terbagi dan tanpa syarat pada desakan untuk mendahulukan kehendak Allah, melebihi segala harapan dan cita-cita yang kamu dambakan dalam kesementaraan dunia ini. “Haruskah saya menaati mereka yang membesarkanku dan kehilangan Dia yang menciptaku?” Inilah pertanyaan St. Agustinus dari Hippo yang dapat menjadi dasar permenungan kita akan tuntutan Injil hari ini. Kenyataan bahwa kita tercipta karena Cinta, sudah lebih dari cukup sebagai alasan bagi kita untuk mempersembahkan segenap hidup kita bagi kemuliaan-Nya. Sembah bakti kita secara total dan mutlak kepada Allah, sama sekali tidak menimbulkan pertentangan antara hukum pertama dan keempat dari “Dekalog“, malah semakin memperjelas tatanan relasi manusia dengan Allah dan sesamanya dalam karya keselamatan. 

Maka, sangatlah disayangkan apabila kita harus menutup mata, telinga dan hati terhadap panggilan Tuhan yang lemah lembut, hanya karena kita tidak ingin mengecewakan orang tua, mereka yang terdekat di hati, atau lebih menyedihkan lagi, bilamana kita mengabaikan kehendak Allah hanya karena tidak sanggup kehilangan persahabatan dengan dunia. Itulah sebabnya, panggilan Kristiani menuntut pula kehendak bebas manusia untuk mengalami kemiskinan roh, suatu bentuk pengosongan diri, sebagaimana terlebih dahulu dilakukan oleh Kristus sendiri, Putra Allah dan Tuhan kita. Kalau seorang rasul Kristus sungguh merindukan surga dan persatuan sempurna dengan Allah, biarlah hatinya tidak melekat pada apapun selain Allah. “Solo Dios Basta – Allah saja Cukup“, demikian kata St. Teresa dari Avila.

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat.10-38-39). Kendati demikian, “Jangan takut!” Kuatkan hatimu dan buatlah keputusan heroik beriman untuk merangkul, menapaki jalan-Nya, tergantung, bahkan mati di salib demi Allah dan Kehendak-Nya. Lebih baik kamu kehilangan seluruh dunia dengan segala kemuliaan yang ditawarkannya, daripada kehilangan Allah dan ganjaran kehidupan kekal. Lebih baik berjalan bersama Tuhan di tengah kegelapan, daripada berjalan sendirian tanpa Tuhan di tengah cahaya. “Adiutorium nostrum in nomine Domini qui fecit caelum et terram” (Mzm.124:8). Semoga Santa Perawan Maria, Ratu para pengaku iman, menyertai jalan panggilanmu menuju Putranya.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Tinggalkan komentar