Meditasi Harian, 13 Juli 2017 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XIV

KERASULAN CINTAKASIH

Bacaan:

Kej.44:18-21.23b-29 dan 45:1-5; Mzm.105:16-17.18-19.20-21; Mat.10:7-15

Renungan:

Injil hari ini berbicara mengenai desakan Tuhan Yesus, agar murid-muridnya pergi memberitakan kabar sukacita tentang Kerajaan Allah ke seluruh dunia. Kita, yang menyebut diri “rasul-rasul Kristus“, dipanggil untuk membawa sebanyak mungkin orang kepada pengenalan akan Allah. Ke dalam pergaulan mesra dan persatuan mistik dengan-Nya. Ini berarti bahwa tidaklah cukup menghantar jiwa-jiwa untuk beriman. Sebab sebagaimana “iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati” (bdk.Yak.2:26), maka panggilan untuk mewartakan Kerajaan Allah, adalah tugas luhur yang menuntut perubahan hidup seutuhnya. Hidup yang diubahkan ke dalam habitus baru, dimana iman kristiani sungguh-sungguh dijalani dalam karya nyata, serta kesaksian hidup yang otentik dan meyakinkan. Karya kerasulan yang sejati mendatangkan penyembuhan bukan luka, kesatuan bukan perpecahan, damai sejahtera bukan perselisihan, saling melayani bukan saling menjatuhkan, mempertahankan hidup bukan melenyapkan, melestarikan alam ciptaan bukan merusak, mengangkat martabat manusia bukan merendahkan, melawan ketidakadilan bukan berdiri di atas penderitaan orang lain, dan membangun jembatan bukan tembok.

Di tengah dunia yang semakin kehilangan pengharapan ini, disitulah kita, para pengikut Kristus ditempatkan untuk bercahaya dan membawa damai sejahtera. Satu hal yang tidak pernah boleh kita lupakan, yaitu ibarat suatu cermin, kita bercahaya karena memantulkan cahaya sejati yang berasal dari Allah. Demikian pula kita hanya dapat menjadi rasul-rasul Kristus yang membawa damai sejahtera, manakala kita senantiasa memandang Allah dan memohonkan karunia cintakasih, yang mengalir dari Hati-Nya Yang Mahakudus. Tugas kita adalah mewartakan, terlepas dari kenyataan kita dapat diterima dan dapat pula ditolak. Kalau diterima, bersyukurlah kepada Allah dan milikilah kerendahan hati untuk selalu mengingat, bahwa kamu semata-mata hanyalah alat. Kalau ditolak, bersyukurlah pula bahwa kamu beroleh keistimewaan untuk mengambil bagian dalam sengsara Tuhan kita. Lakukanlah karya kerasulanmu itu dengan penuh sukacita, sebab kehendak Allah-lah yang mendesak kita, bukan kehendak manusia. Kemuliaan-Nyalah yang kita nyatakan, bukan kemuliaan diri atau motif kodrati lainnya. Sebagaiman kata St. Josemaria Escriva, “Berikan suatu motif adikodrati pada pekerjaanmu sehari-hari, maka engkau akan menyucikan pekerjaanmu itu” (Jalan, 359). Biarlah Tuhan semakin besar, dan kita semakin kecil. Dialah yang harus dikenal, dan biarlah kita berkarya dan melayani Dia dalam ketersembunyian. Teladanilah Santa Perawan Maria, Ratu para Rasul. Dialah cermin kekudusan yang bercahaya begitu gemilang karena persatuan mesranya dengan Allah, Sang Kekasih dan Segalanya. Semoga kita senantiasa menjadi rasul-rasul cintakasih yang memantulkan cahaya cintakasih dari Allah, Sang Damai sejati.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Tinggalkan komentar