Meditasi Harian, 20 Juli 2017 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XV

KELEKATAN MEMADAMKAN CINTA

Bacaan:

Kel.3:13-20; Mzm.105:1,5,8-9,24-25,26-27; Mat.11:28-30

Renungan:
Panggilan Kristiani adalah panggilan untuk “melepaskan“. Apa yang harus dilepaskan? Dosa. Kenapa harus dilepaskan? Karena dosa adalah beban berat yang diletakkan iblis dalam perjalanan peziarahan kita menuju Allah. Karenanya kita merasa begitu kepayahan, terbebani, malah seringkali dengan hebatnya; depresi dan jatuh dalam jurang keputusasaan, yang pada akhirnya membuat banyak orang berhenti dan tidak mau berjalan lagi. Bahkan tak jarang seorang rasul Tuhan mengalami kebinasaan, dikarenakan beban dosa yang amat berat itu. Maka, ketika Tuhan kita mengatakan, “Marilah datang kepada-Ku, kalian semua yang letih lesu memikul beban berat, Aku akan memberikan kelegaan bagimu,” seruan-Nya yang lemah lembut ini bagaikan panggilan di tengah padang gurun, untuk mendekat ke mata air dan minum sampai sepuasnya. Siapapun yang merindukan kelegaan, yang perlu ia lakukannl hanya satu, “melepaskan“. Pertanyaannya, “Beranikah kamu untuk melepaskan?

Keengganan untuk melepaskan merupakan bentuk kelekatan akan dosa yang dapat sangat menyulitkan, memayahkan, bahkan bisa mematikan panggilan seorang beriman dan perjuangannya untuk beroleh mahkota kemuliaan. Lepaskanlah dirimu dari persahabatan dengan dosa. Engkau tentu saja mengenal dirimu sendiri, dan tahu betul beban apa, halangan terberat seperti apa, atau cacat dan kedosaan manakah, yang selama ini telah menghalangi kamu untuk melangkah maju menuju Allah. Entah itu dosa kerakusan, penyangkalan kuasa Allah, pornografi, nafsu seksual yang menyimpang, iri hati, kebiasaan bergosip, atau apapun bentuk dosa itu, “Lepaskanlah!”, “Bertobatlah!”. Beranilah berkata “Tidak” kepada si jahat, dan jawablah “Ya” kepada Allah. Sesudah engkau berani “melepaskan“, maka Tuhan akan menggantikan “beban” itu dengan memberimu suatu “kuk“. Kuk ini sungguh berbeda dengan beban, karena bila beban membuatmu berhenti berjalan menuju Allah, maka kuk ini bagaikan sepasang sayap yang akan membuatmu melesat dan terbang tinggi bagai rajawali, yang menjadikan perjalananmu menuju Allah terasa enak dan lebih ringan. Tentu saja rupa-rupa halangan dan rintangan lainnya akan tetap ada, akan selalu ada binatang buas yang mencoba menerkam kamu di sepanjang perjalanan. Namun, dengan kuk yang dipasang Tuhan atasmu, serta dengan komitmen teguh untuk memikul salib yang diletakkannya atas bahumu, engkau akan terus berjalan maju diterangi sukacita Injil, dan pada akhirnya akan tiba pada tujuan akhir perjalananmu, yaitu beristirahat bersama Allah. Jiwa kita tidak akan pernah beroleh ketenangan, sebelum beristirahat di dalam Dia. Belajarlah dari Hati Tuhan yang lemah lembut dan rendah hati, maka jiwamu akan senantiasa beroleh ketenangan. Panggilan kita adalah panggilan untuk melepaskan segala, untuk beroleh Allah, Sang Segala. Semoga Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, melindungi kita dalam mantol ke-Ibu-annya, dan menjadi bagaikan Bintang Timur yang menuntun kita menuju Yesus, Putranya. Per Mariam ad Iesum.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian, 19 Juli 2017 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XV

KEMESRAAN DAN SEMBAH BAKTI


Bacaan:

Kel.3:1-6.9-11; Mzm.103:1-2,3-4,6-7; Mat.11:25-27


Renungan
:

Hidup kita adalah untuk menyatakan kemuliaan Allah. Luapan hati seorang beriman untuk memuji Dia, bersumber dari kesadaran dan keterpesonaan akan karya Allah yang dinyatakan dalam hidupnya. Namun, kita seringkali gagal menyadari karya Allah yang bekerja di setiap detik kehidupan kita. Kebijaksanaan dan kepandaian duniawi tak jarang mengaburkan pandangan rohani kita untuk melihat bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu, bahkan melalui perkara-perkara yang terlampau kecil dan sederhana dalam pandangan kita. Dia berkarya di setiap hembusan nafas kita, mulai dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, melalui senyum sapa yang kita terima dari sesama. Kehadirannya nampak dalam ciptaan seperti lebah madu yang mengambil sari bunga di taman atau kicauan burung gereja, dalam tetesan embun pagi di dedaunan pohon, melalui kerja keras para buruh di pabrik dan para pekerja yang masuk ke lorong-lorong gelap di pertambangan, bahkan dalam tugas sederhana seorang ibu rumah tangga yang mempersiapkan makan malam di ruang makan bagi suami dan anak-anaknya. Tanpa jatuh dalam “pantheisme“, hendaknya disadari oleh kita semua bahwa Allah hadir dan berkarya di dalam segala sesuatu. Kaum bijak dan pandai seringkali gagal memahami kebenaran ini.

Itulah sebabnya karya Allah yang indah dalam segala hal, hanya dapat dilihat, dimengerti, dan disyukuri oleh mereka yang kecil dan sederhana, mereka yang rendah hati, yang karena kesadaran akan semuanya itu kemudian berseru, “Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!” (Mzm.103:1)
Mereka yang bergaul mesra dengan Allah, adalah mereka yang sanggup melihat karya-Nya dalam segala. Dengan demikian, dapat pula dikatakan bahwa mereka yang mencintai Allah dalam segala, adalah pula mereka yang dalam kuasa cinta juga meratapi kecenderungan jahat manusia yang merusak segala. Ensiklik Laudato Si’, yang dimaklumkan Bapa Suci Paus Fransiskus, merupakan panggilan Gereja yang menyerukan umat manusia untuk memandang dan mencintai Allah dalam segala, dalam karya ciptaan-Nya.

Perjumpaan Musa dengan Allah dalam rupa semak-belukar yang bernyala, seolah mengingatkan kita, bahwa semakin kita merusak alam ciptaan, kita pun akan semakin sulit berjumpa dan memandang Allah dalam karya ciptaan-Nya. Seorang tidak bisa mengatakan bahwa ia telah bergaul mesra dengan Allah, atau menyebut dirinya seorang insan Allah, seorang pendoa, seorang rasul Kristus, kalau pada kenyataannya ia tidak memiliki kepedulian akan lingkungan hidup, merusak alam semesta, menghilangkan jejak-jejak Allah dalam karya ciptaan-Nya. Sama seperti Musa yang terdorong hormat dan sembah bakti sambil menutupi wajah-Nya juga menanggalkan kasutnya untuk mendekati Allah dalam semak-belukar yang bernyala, demikian pula ketika seorang beriman mendekati Allah dan bergaul mesra dengan-Nya, sikap dan cara bergaulnya dengan Allah akan semakin penuh hormat dan ditandai sembah bakti yang sungguh nampak melalui hidup dan karyanya. Dia akan bersikap lebih hormat untuk menyambut Komuni Kudus dan tanpa ragu berlutut di hadapan keagungan Allah yang ia sambut dengan lidahnya, berusaha memelihara alam ciptaan agar dapat tetap melihat jejak-jejak Allah dan berjumpa dengan-Nya, dengan berani membela martabat hidup dan menentang segala bentuk pembenaran medis maupun sosial untuk melenyapkan hidup, serta melakukan banyak tindakan heroik beriman lainnya. Ia akan memiliki hati seperti Hati Allah. Segala karya yang ia lakukan akan memiliki motif adikodrati dan bernilai pengudusan. Inilah kemesraan dan sembah bakti yang sejati, suatu kurban yang harum dan berkenan di Hati Allah. 

Ya Santa Perawan Maria, engkaulah cermin kekudusan tahta kebijaksanaan. Tuntunlah kami dengan kasih keibuanmu untuk merindukan kemesraan dengan Allah, mendekati Dia penuh hormat dan sembah bakti.

Regnare Christum volumus!

 Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian, 17 Juli 2017 ~ Senin dalam Pekan Biasa XV

LEBIH DARI SEGALANYA

Bacaan:

Kel.1:8-14.22; Mzm.124:1-3.4-6.7-8; Mat.10:34-11:1

Renungan:

Panggilan mengikuti Tuhan di jalan-Nya membawa seorang beriman pada tuntutan suci, untuk menempatkan Allah serta mengasihi Dia di atas segala-galanya, jauh melampaui cinta bakti kepada orang tua serta semua yang terdekat di hati, dan melepaskan kelekatan akan segala sesuatu yang disebut sebagai harta milik, serta menyerahkan diri dengan hati tak terbagi dan tanpa syarat pada desakan untuk mendahulukan kehendak Allah, melebihi segala harapan dan cita-cita yang kamu dambakan dalam kesementaraan dunia ini. “Haruskah saya menaati mereka yang membesarkanku dan kehilangan Dia yang menciptaku?” Inilah pertanyaan St. Agustinus dari Hippo yang dapat menjadi dasar permenungan kita akan tuntutan Injil hari ini. Kenyataan bahwa kita tercipta karena Cinta, sudah lebih dari cukup sebagai alasan bagi kita untuk mempersembahkan segenap hidup kita bagi kemuliaan-Nya. Sembah bakti kita secara total dan mutlak kepada Allah, sama sekali tidak menimbulkan pertentangan antara hukum pertama dan keempat dari “Dekalog“, malah semakin memperjelas tatanan relasi manusia dengan Allah dan sesamanya dalam karya keselamatan. 

Maka, sangatlah disayangkan apabila kita harus menutup mata, telinga dan hati terhadap panggilan Tuhan yang lemah lembut, hanya karena kita tidak ingin mengecewakan orang tua, mereka yang terdekat di hati, atau lebih menyedihkan lagi, bilamana kita mengabaikan kehendak Allah hanya karena tidak sanggup kehilangan persahabatan dengan dunia. Itulah sebabnya, panggilan Kristiani menuntut pula kehendak bebas manusia untuk mengalami kemiskinan roh, suatu bentuk pengosongan diri, sebagaimana terlebih dahulu dilakukan oleh Kristus sendiri, Putra Allah dan Tuhan kita. Kalau seorang rasul Kristus sungguh merindukan surga dan persatuan sempurna dengan Allah, biarlah hatinya tidak melekat pada apapun selain Allah. “Solo Dios Basta – Allah saja Cukup“, demikian kata St. Teresa dari Avila.

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat.10-38-39). Kendati demikian, “Jangan takut!” Kuatkan hatimu dan buatlah keputusan heroik beriman untuk merangkul, menapaki jalan-Nya, tergantung, bahkan mati di salib demi Allah dan Kehendak-Nya. Lebih baik kamu kehilangan seluruh dunia dengan segala kemuliaan yang ditawarkannya, daripada kehilangan Allah dan ganjaran kehidupan kekal. Lebih baik berjalan bersama Tuhan di tengah kegelapan, daripada berjalan sendirian tanpa Tuhan di tengah cahaya. “Adiutorium nostrum in nomine Domini qui fecit caelum et terram” (Mzm.124:8). Semoga Santa Perawan Maria, Ratu para pengaku iman, menyertai jalan panggilanmu menuju Putranya.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian, 15 Juli 2017 ~ Sabtu dalam Pekan Biasa XIV

TAKUTMU BEDA DENGAN TAKUTKU

Bacaan:

Kej.49:29-32 dan 50:15-24; Mzm.105:1-2.3-4.6-7; Mat.10:24-33

Renungan:

Perasaan takut punya kuasa yang besar. Seorang dapat menjadi sangat cemas atau melarikan diri karena rasa takut. Akan tetapi, rasa takut dapat pula menghantar kita untuk berdiri teguh dalam iman, dan melakukan tindakan-tindakan heroik sebagai ungkapan nyata dari iman kita. Berlawanan dengan si jahat yang menanamkan benih ketakutan, dan membuat banyak orang berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan nyawanya, sambil menghambakan diri kepada kedagingan; rasa takut yang suci akan Allah adalah obat penawar, yang melenyapkan ketakutan akan kehilangan nyawa. Rasa takut yang suci akan Allah membuahkan kebijaksanaan, kedewasaan rohani, dan discernment yang tepat dalam menjalani hidup. Darinya lahir keberanian yang luar biasa untuk menjadi saksi-saksi kebangkitan, rasul-rasul Kristus yang berani mewartakan Injil sampai ke ujung bumi, serdadu-serdadu Kristus yang siap-sedia menghalau kegelapan dan maju dalam pertempuran iman secara heroik. Bersaksilah melalui hidupmu kekristenanmu yang sungguh-sungguh memantulkan cahaya kemuliaan Tuhan. Hindarilah segala perbuatan yang dapat menciderai karya Allah di dalam dan melalui dirimu, kemudian mulailah lebih giat lagi bersaksi akan karya-karya mengagumkan yang dikerjakan-Nya di dalam dan melalui dirimu. 

Apapun profesi hidupmu, mulailah melihat panggilan adikodrati di dalamnya. Hidupmu adalah Altarmu di hadapan Tuhan. Kamu adalah rekan kerja Allah dalam karya keselamatan dunia. Persembahkanlah hanya keharuman di atas Altar kerjamu itu, bukan kejahatan dan perbuatan lainnya yang tidak berkenan di Hati Tuhan. Tentu ini bukanlah suatu pemberian hidup tanpa risiko. Tak jarang kamu dapat kehilangan kehormatan, karir cemerlang, sahabat, harta milik, keluarga, segalanya, bahkan nyawamu sendiri. Tetapi disinilah letak keindahan panggilan kristiani kita, yaitu “melepaskan segala demi beroleh Kristus, Sang Segala“, kata St. Yohanes dari Salib. Jangan takut! Wartakanlah apapun juga risikonya. Takutlah akan Tuhan yang mengingatkan kita bahwa, “Barangsiapa mengakui Aku di hadapan manusia, dia akan Kuakui juga di depan Bapa-Ku yang di surga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, dia akan Kusangkal di hadapan Bapa-Ku yang di surga” (Mat.10:32-33). Ketakutan sejati selalu berbuah cinta bakti serta penyerahan diri seutuhnya kepada Allah dan kehendak-Nya. Kamu dipanggil dari tengah dunia untuk menjadi saksi-saksi dari Karya Allah.

Temukanlah kekuatan untuk berani menjadi saksi-saksi Kristus di dalam Sakramen Ekaristi. Itulah Roti Kehidupan yang menyempurnakan hidup doamu, mati raga, laku tapa, dan segala karya kerasulanmu. Seberapa dalam persatuan cintamu dengan Allah adalah faktor utama, yang sangat menentukan apakah pertempuranmu melawan si jahat dapat dimenangkan atau tidak. Pandanglah Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, gambaran kesempurnaan Gereja. Hidupnya adalah teladan yang paling mengagumkan dari hidup seorang hamba Tuhan. Hidup yang senantiasa diliputi sukacita di tengah hujaman pedang dukacita, karena dia selalu menjawab “Ya” kepada Allah, dan “Tidak” kepada si jahat. Kiranya dengan kelembutan kasih keibuannya, kita dituntunnya masuk dalam awan kemuliaan Tuhan, ke dalam pergaulan yang penuh hormat dengan Dia, untuk kemudian sujud menyembah dalam ketakutan yang suci di hadirat-Nya. Santa Maria dari Gunung Karmel, doakanlah kami.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian, 14 Juli 2017 ~ Jumat dalam Pekan Biasa XIV

BERANI MATI UNTUK HIDUP

Bacaan:

Kej.46:1-7.28-30; Mzm.37:3-4.18-19.27-28.39-40; Mat.10:16-23

Renungan:

Injil hari ini membawa kita lebih jauh lagi ke dalam realita seorang pengikut Kristus, serta panggilan kerasulan kita untuk menyatakan karya Tuhan. Sesudah meneguhkan hati kita bahwa hidup kristiani adalah hidup yang disertai dengan tanda-tanda penuh kuasa dari-Nya, untuk membawa banyak orang pada pengalaman akan kasih Allah, hari ini Tuhan kita berbicara soal konsekuensi yang sudah pasti tidak kita harapkan. Setelah kemarin memperingatkan kita yang diutus, agar tidak memiliki kelekatan atau “membawa banyak” hal yang justru membebani tugas kerasulan kita, hari ini Tuhan mengutarakan satu lagi kenyataan dari panggilan kita sebagai saksi-saksi Kebangkitan, yaitu bahwa Sang Gembala Yang Baik ini mengutus kita “seperti domba ke tengah-tengah serigala” (Mat.10:16). Seekor domba berhadapan satu lawan satu dengan seekor serigala saja sudah cukup sukar, apalagi untuk hidup di tengah-tengah kawanan serigala.

Siapapun yang hendak melangkah di jalan Tuhan, haruslah terlebih dahulu menyadari betul konsekuensi iman ini. Jalan kecil Tuhan pada hakekatnya adalah jalan Salib, dimana seorang akan kehilangan segala, bahkan nyawanya sendiri, untuk beroleh kesejatian hidup. Predikat “Hamba Tuhan” bukanlah gelar kehormatan, yang darinya seorang dapat menuntut perlakuan istimewa, kenyamanan hidup, kekayaan, kemakmuran, pujian dan kehormatan duniawi lainnya, apalagi menipu mereka yang dipercayakan kepadanya dengan kejahatan bertopeng kerohanian. Jika itu yang kamu harapkan, maka sesungguhnya kamu telah menjadi “hamba mamon“, tak ubahnya seperti “serigala berbulu domba”. Kamu tidak hanya kehilangan aroma domba, melainkan kamu sudah bukan lagi seekor domba. Seorang rasul Kristus diutus ke tengah kegelapan dunia untuk bercahaya, bukan meredupkan apalagi memadamkan cahayanya untuk bergabung dengan saudara-saudari kegelapan. Kita adalah putra-putri Paskah, manusia-manusia kebangkitan, yang hendaknya dengan lantang berseru, “bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21). Dia yang telah memberi diri untuk Tuhan, tetapi masih menyayangi hidupnya sendiri dan hatinya masih melekat pada segala sesuatu diluar Tuhan, pada akhirnya justru akan kehilangan ganjaran hidup kekal dalam kebahagiaan Surga, serta beroleh kebinasaan kekal dalam ratapan dan kertak gigi.

Memang benar bahwa kita diutus ke tengah-tengah serigala. Akan tetapi, “Janganlah kamu kuatir” (Mat.10:29), akan mereka yang hanya dapat membunuh tubuh, tetapi tidak berkuasa sama sekali melenyapkan jiwa. Bersiaplah untuk kehilangan “tubuh” demi menyatakan Kerajaan Allah, maka pada akhirnya nanti baik tubuh maupun jiwamu dapat beroleh kekekalan. Melangkahlah dengan iman layaknya Yakub yang berangkat dalam getaran suara cinta Tuhan, “Akulah Allah, Allah ayahmu, janganlah takut…Aku sendiri akan menyertai engkau…dan tentulah Aku juga akan membawa engkau kembali” (Kej.46:3-4). Milikilah ketulusan merpati dalam kesederhanaan beriman dan kerendahan hati untuk dibentuk serta dimurnikan oleh Tuhan, dan jagalah sikap kerasulan kita dalam kehati-hatian yang suci dan penuh hikmat, agar kita tidak jatuh ke dalam jerat perangkap si jahat, yang menawarkan banyak hal supaya kita menyimpang dari jalan kesempurnaan. Cerdiklah seperti ular untuk bertahan dalam semangat kerasulan di tengah serigala, sebab “barangsiapa bertahan sampai kesudahannya akan selamat” (bdk.Mat.10:22).

Semoga Perawan Terberkati Maria, Bunda umat beriman, menyertai kita di jalan kecil ini dengan doa dan kasih keibuannya, agar kita senantiasa melangkah dengan penuh sukacita. “Orang-orang benar akan diselamatkan oleh Tuhan; Dialah tempat perlindungan mereka pada waktu kesesakan; Tuhan menolong dan meluputkan mereka dari tangan orang-orang fasik. Tuhan menyelamatkan mereka, sebab mereka berlindung pada-Nya” (Mzm.37:39-40). Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, doakanlah kami.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian, 13 Juli 2017 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XIV

KERASULAN CINTAKASIH

Bacaan:

Kej.44:18-21.23b-29 dan 45:1-5; Mzm.105:16-17.18-19.20-21; Mat.10:7-15

Renungan:

Injil hari ini berbicara mengenai desakan Tuhan Yesus, agar murid-muridnya pergi memberitakan kabar sukacita tentang Kerajaan Allah ke seluruh dunia. Kita, yang menyebut diri “rasul-rasul Kristus“, dipanggil untuk membawa sebanyak mungkin orang kepada pengenalan akan Allah. Ke dalam pergaulan mesra dan persatuan mistik dengan-Nya. Ini berarti bahwa tidaklah cukup menghantar jiwa-jiwa untuk beriman. Sebab sebagaimana “iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati” (bdk.Yak.2:26), maka panggilan untuk mewartakan Kerajaan Allah, adalah tugas luhur yang menuntut perubahan hidup seutuhnya. Hidup yang diubahkan ke dalam habitus baru, dimana iman kristiani sungguh-sungguh dijalani dalam karya nyata, serta kesaksian hidup yang otentik dan meyakinkan. Karya kerasulan yang sejati mendatangkan penyembuhan bukan luka, kesatuan bukan perpecahan, damai sejahtera bukan perselisihan, saling melayani bukan saling menjatuhkan, mempertahankan hidup bukan melenyapkan, melestarikan alam ciptaan bukan merusak, mengangkat martabat manusia bukan merendahkan, melawan ketidakadilan bukan berdiri di atas penderitaan orang lain, dan membangun jembatan bukan tembok.

Di tengah dunia yang semakin kehilangan pengharapan ini, disitulah kita, para pengikut Kristus ditempatkan untuk bercahaya dan membawa damai sejahtera. Satu hal yang tidak pernah boleh kita lupakan, yaitu ibarat suatu cermin, kita bercahaya karena memantulkan cahaya sejati yang berasal dari Allah. Demikian pula kita hanya dapat menjadi rasul-rasul Kristus yang membawa damai sejahtera, manakala kita senantiasa memandang Allah dan memohonkan karunia cintakasih, yang mengalir dari Hati-Nya Yang Mahakudus. Tugas kita adalah mewartakan, terlepas dari kenyataan kita dapat diterima dan dapat pula ditolak. Kalau diterima, bersyukurlah kepada Allah dan milikilah kerendahan hati untuk selalu mengingat, bahwa kamu semata-mata hanyalah alat. Kalau ditolak, bersyukurlah pula bahwa kamu beroleh keistimewaan untuk mengambil bagian dalam sengsara Tuhan kita. Lakukanlah karya kerasulanmu itu dengan penuh sukacita, sebab kehendak Allah-lah yang mendesak kita, bukan kehendak manusia. Kemuliaan-Nyalah yang kita nyatakan, bukan kemuliaan diri atau motif kodrati lainnya. Sebagaiman kata St. Josemaria Escriva, “Berikan suatu motif adikodrati pada pekerjaanmu sehari-hari, maka engkau akan menyucikan pekerjaanmu itu” (Jalan, 359). Biarlah Tuhan semakin besar, dan kita semakin kecil. Dialah yang harus dikenal, dan biarlah kita berkarya dan melayani Dia dalam ketersembunyian. Teladanilah Santa Perawan Maria, Ratu para Rasul. Dialah cermin kekudusan yang bercahaya begitu gemilang karena persatuan mesranya dengan Allah, Sang Kekasih dan Segalanya. Semoga kita senantiasa menjadi rasul-rasul cintakasih yang memantulkan cahaya cintakasih dari Allah, Sang Damai sejati.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥