Meditasi Harian 26 Juli 2016 ~ Selasa dalam Pekan Biasa XVII (Peringatan Santa Ana & Santo Yoakim, Orang Tua dari Santa Perawan Maria)

KELUARGA YANG MERASUL

Bacaan:
Sir.44:1.10-15; Mzm.132:11.13-14.17-18; Mat.13:16-17

Renungan:
St. Agustinus mengatakan bahwa, “Allah yang menciptakan kamu tanpa melibatkan kamu, tidak akan menyelamatkan kamu tanpa melibatkan kamu“. Meskipun datangnya dari Tuhan, anugerah keselamatan bukanlah sesuatu yang jatuh begitu saja dari langit. Hidup seorang Kristen sejati haruslah menampakkan tanda-tanda, serta “meninggalkan jejak” yang sungguh menunjukkan bahwa dirinya adalah orang yang sungguh diselamatkan. Kristuslah wajah belas kasih Bapa. Oleh karena itu, bagaimana Sang Penyelamat dikenal oleh dunia, sungguh ditentukan pula oleh keteladanan hidup kita, para pengikut-Nya, yang senantiasa menjadi rekan kerja dan tanda nyata keselamatan dari Allah itu. St. Paulus Rasul pun berkata, “Kerjakan keselamatanmu!” (Flp.2:12).

Jangan sia-siakan karunia iman yang telah kamu terima. Sama seperti Santa Ana dan Santo Yoakim, yang telah mewariskan iman akan Allah Yang Hidup, kepada Santa Perawan Maria, dan telah menyiapkan wanita paling berbahagia dan teramat suci ini, untuk menjadi ibu Sang Juruselamat, demikian pula kamu telah menerima warisan iman yang sama melalui keluarga, dalam kesatuan dengan Bunda Gereja, sebagaimana diungkapkan dalam bacaan pertama hari ini (bdk. Sirakh 44).

Dalam dunia yang semakin mengerdilkan arti keluarga dan perannya dalam karya keselamatan, di tengah segala usaha untuk memperkenalkan definisi baru yang keliru akan keluarga, dan diperhadapkan dengan berbagai bentuk serangan si jahat terhadap keluhuran martabat Sakramen Pernikahan, peringatan Santa Ana dan Yoakim hari ini semakin menyadarkan kita akan pentingnya peranan keluarga-keluarga Kristiani dalam karya keselamatan. Keluarga Kristiani hendaknya menjadi Tanda Keselamatan yang otentik dan meyakinkan bagi dunia. Sebab di dalam keluarga kristiani yang sejati, anak-anak dapat “belajar untuk mencintai sebanyak mereka dicintai tanpa syarat, mereka belajar menghargai orang lain sebanyak mereka dihargai, mereka belajar mengenal wajah Allah sebanyak mereka menerima wahyu Allah pertama dari seorang ayah dan ibu yang penuh perhatian pada mereka” (Kongregasi Ajaran Iman, surat kepada para Uskup – 31 Mei 2004)

Hari ini kaum muda Katolik dari seluruh dunia mengawali World Youth Day 2016. Jutaan muda-mudi dari 187 Negara kini berkumpul di Kraków, Polandia. Peringatan Santa Anna dan Santo Yoakim hari ini, mengingatkan kita bahwa masa depan Gereja Katolik, berada di pundak anggota-anggota termuda dari Bunda Gereja, dan kehadiran dan peran orang tua sangat menentukan menjadi apakah anak-anak mereka kelak. Seorang Karol Wojtyła (St. Yohanes Paulus II), Helena Kowalska (St. Faustina), Raymund Kolbe (St. Maximilianus Maria Kolbe), Marie Françoise Thérèse Martin (St. Teresia dari Kanak-Kanak Yesus), dan Edith Stein (St. Teresia Benedikta dari Salib), mereka semuanya terlahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga. Akan tetapi, demikian pula Adolf Hitler, Mussolini, Kaisar Nero, dan Osama Bin Laden. Mereka pun terlahir dalam sebuah keluarga. Maka, sekali lagi kita diajak untuk menyadari, bahwa peran orang tua sangatlah penting dan menentukan akan menjadi apakah anak-anak kita, putra-putri Gereja kelak. Bagi mereka yang dipanggil ke dalam Sakramen Pernikahan, milikilah kesadaran akan tugas luhur kalian. Jadilah keluarga Katolik yang sejati! Kobarkanlah semangat kerasulan dalam keluarga, dengan menanamkan benih-benih Injil, serta mewariskan kekayaan imanmu kepada anak-anak dan cucu-cucumu. Nyatakanlah imanmu lewat kesaksian hidup keluarga, yang senantiasa memancarkan cahaya Kristiani secara otentik dan meyakinkan. 

Sudah pasti tantangan, halangan, dan rintangan akan selalu ada di jalan keselamatan serta kerasulan keluarga ini. Tetapi, yakinlah. Dia yang sanggup menenangkan gelora lautan dan menenangkan badai, sanggup pula membawamu keluar sebagai Pemenang atas badai hidup yang menerpa bahtera keluargamu. Kendati mungkin Tuhan “seolah” tertidur, tetapi bukankah kenyataan bahwa Tuhan terlelap dalam perahumu, itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi Sumber ketenangan dan sukacitamu, dibandingkan perahu-perahu lainnya yang mengarungi badai tanpa Tuhan?

Keluargamu berharga di mata Tuhan, tanda Kerajaan Allah, diingini oleh-Nya, dan menjadi tempat kediaman-Nya (bdk.Mzm.132:14). Yakinlah, selama kita tidak pernah terpisah dari Yesus, dan menyerahkan hidup seutuhnya ke dalam tangan belas kasih-Nya, niscaya perahu kehidupan kita tidak akan pernah terbalik atau tenggelam. Dengan demikian, perkataan Kristus dalam Injil hari akan menjadi dasar pengharapan dan sukacitamu. “Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya” (Mat.13:16-17).

Semoga Santa Perawan Maria, menjadi Bintang Timur yang menuntunmu kepada Yesus, Putranya. Kiranya Santa Ana dan Santo Yoakim menyertai keluargamu, dalam keteladanan hidup mereka sebagai rekan kerja Allah dalam karya keselamatan, sehingga keluargamu menjadi keluarga yang merasul. 

Regnare Christum volumus!


✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

 

Tinggalkan komentar