Meditasi Harian 6 Juli 2016 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XIV

DARI BIASA MENJADI LUAR BIASA


Bacaan:

Hos.10:1-3.7-8.12; Mzm.105:2-3.4-5.6-7; Mat.10:1-7


Renungan:

Di sepanjang sejarah keselamatan kita menemukan, bagaimana Allah secara amat personal memilih orang-orang “biasa” dalam pandangan manusia, untuk melakukan perkara-perkara “luar biasa” dalam Nama-Nya. Demikian pula yang terjadi saat Tuhan kita memilih 12 Rasul, yang diserahi tugas untuk menyatakan, “Kerajaan Sorga sudah dekat” (Mat.10:7). Bahwa satu di antara ke-12 Rasul pada akhirnya mengkhianati Dia, sebenarnya menunjukkan pula kerapuhan kemanusiaan akibat dosa dan kegagalan menanggapi panggilan Allah. 

Maka, ketika di kemudian hari para Rasul ini (dengan segala keberadaan dan kerapuhan yang ada) menjadi saksi-saksi Kebangkitan, dan darah mereka menjadi ladang subur bagi tumbuhnya Gereja Perdana, yang juga dengan gilang-gemilang memancarkan cahaya sukacita Injil lewat hidup dan kemartiran mereka; siapapun yang melihat atau mendengar bagaimana mereka menjalani hidup beriman secara heroik dan otentik, akan memberikan pujian, hormat dan kemuliaan bukan kepada para rasul atau jemaat perdana, melainkan kepada Allah yang telah berkarya begitu dashyat dan mengagumkan di dalam dan melalui hidup mereka semua. 

Inilah  panggilan kita, “menjadi rasul-rasul Kristus“. Panggilan yang bukan berujung pada kefanaan, melainkan kebakaan. Mereka yang menabur dalam keadilan, pada akhirnya akan menuai kasih setia (bdk.Hos.10:12). Nyatakanlah Kerajaan Allah dengan hidupmu yang dijalani sedemikian rupa, sehingga mendatangkan pengenalan dalam kekaguman akan Kristus. 

Kalau kita, yang dipanggil dari keadaan dunia yang “biasa“, sungguh rindu untuk melakukan karya-karya “luar biasa” di dalam Nama-Nya, dan demi kemuliaan-Nya, maka ada satu keutamaan yang harus kita minta dari-Nya. Mintalah karunia “kerendahan hati” untuk selalu bersedia dibentuk Tuhan. Dengan demikian, kita akan selalu sanggup menerima tugas kerasulan apapun yang diberikan dari tangan kemurahan Tuhan, dalam kesadaran bahwa diri kita semata-mata hanyalah alat, kompas yang senantiasa menunjuk ke Utara, kepada Allah. Kristuslah yang harus dikenal, bukan kita. Kerajaan-Nyalah yang hendaknya diwartakan, bukan agenda pribadi kita. 

Kegagalan Yudas Iskariot di jalan kerasulan hendaknya mengingatkan kita bahwa segala yang kita miliki berasal dari Allah, bukan karena kekuatan dan kehebatan kita belaka. “Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!” (Mzm.105:4). Jalan kerasulan akan selalu mendatangkan sukacita, dan langkah ke sorga terasa begitu ringan, bila dijalani dengan kerendahan hati. Sebab benarlah kata St. Paulus Rasul, “Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2Kor.4:7).

Semoga Santa Perawan Maria, Ratu para Rasul, menyertai jalan kerasulan kita dengan kasih keibuannya, agar seluruh bangsa menerima kabar sukacita dari Allah. “Kerajaan Sorga sudah dekat“. Sudah waktunya untuk mencari Tuhan (bdk.Hos.10:12).

Regnare Christum volumus!



Fidei Defensor ~ Fernando

One thought on “Meditasi Harian 6 Juli 2016 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XIV

  1. Dear Saudaraku,
    Dalam budaya “throw away” dalam istillah Bapa Suci Franciscus, budaya ini sangat nyata, dimana orang mencari yang seba instant, jalan pintas, tidak mau belajar, karena semua bisa didapatkan dari google, sehingga sikap indifferent pun menjadi budaya sehari hari dikalangan umat katolik sekalipun.
    Mari kita mohon, kerendahan hati kepada Tuhan.
    Berkah Dalem,
    Chris

Tinggalkan komentar