Meditasi Harian 26 Juli 2016 ~ Selasa dalam Pekan Biasa XVII (Peringatan Santa Ana & Santo Yoakim, Orang Tua dari Santa Perawan Maria)

KELUARGA YANG MERASUL

Bacaan:
Sir.44:1.10-15; Mzm.132:11.13-14.17-18; Mat.13:16-17

Renungan:
St. Agustinus mengatakan bahwa, “Allah yang menciptakan kamu tanpa melibatkan kamu, tidak akan menyelamatkan kamu tanpa melibatkan kamu“. Meskipun datangnya dari Tuhan, anugerah keselamatan bukanlah sesuatu yang jatuh begitu saja dari langit. Hidup seorang Kristen sejati haruslah menampakkan tanda-tanda, serta “meninggalkan jejak” yang sungguh menunjukkan bahwa dirinya adalah orang yang sungguh diselamatkan. Kristuslah wajah belas kasih Bapa. Oleh karena itu, bagaimana Sang Penyelamat dikenal oleh dunia, sungguh ditentukan pula oleh keteladanan hidup kita, para pengikut-Nya, yang senantiasa menjadi rekan kerja dan tanda nyata keselamatan dari Allah itu. St. Paulus Rasul pun berkata, “Kerjakan keselamatanmu!” (Flp.2:12).

Jangan sia-siakan karunia iman yang telah kamu terima. Sama seperti Santa Ana dan Santo Yoakim, yang telah mewariskan iman akan Allah Yang Hidup, kepada Santa Perawan Maria, dan telah menyiapkan wanita paling berbahagia dan teramat suci ini, untuk menjadi ibu Sang Juruselamat, demikian pula kamu telah menerima warisan iman yang sama melalui keluarga, dalam kesatuan dengan Bunda Gereja, sebagaimana diungkapkan dalam bacaan pertama hari ini (bdk. Sirakh 44).

Dalam dunia yang semakin mengerdilkan arti keluarga dan perannya dalam karya keselamatan, di tengah segala usaha untuk memperkenalkan definisi baru yang keliru akan keluarga, dan diperhadapkan dengan berbagai bentuk serangan si jahat terhadap keluhuran martabat Sakramen Pernikahan, peringatan Santa Ana dan Yoakim hari ini semakin menyadarkan kita akan pentingnya peranan keluarga-keluarga Kristiani dalam karya keselamatan. Keluarga Kristiani hendaknya menjadi Tanda Keselamatan yang otentik dan meyakinkan bagi dunia. Sebab di dalam keluarga kristiani yang sejati, anak-anak dapat “belajar untuk mencintai sebanyak mereka dicintai tanpa syarat, mereka belajar menghargai orang lain sebanyak mereka dihargai, mereka belajar mengenal wajah Allah sebanyak mereka menerima wahyu Allah pertama dari seorang ayah dan ibu yang penuh perhatian pada mereka” (Kongregasi Ajaran Iman, surat kepada para Uskup – 31 Mei 2004)

Hari ini kaum muda Katolik dari seluruh dunia mengawali World Youth Day 2016. Jutaan muda-mudi dari 187 Negara kini berkumpul di Kraków, Polandia. Peringatan Santa Anna dan Santo Yoakim hari ini, mengingatkan kita bahwa masa depan Gereja Katolik, berada di pundak anggota-anggota termuda dari Bunda Gereja, dan kehadiran dan peran orang tua sangat menentukan menjadi apakah anak-anak mereka kelak. Seorang Karol Wojtyła (St. Yohanes Paulus II), Helena Kowalska (St. Faustina), Raymund Kolbe (St. Maximilianus Maria Kolbe), Marie Françoise Thérèse Martin (St. Teresia dari Kanak-Kanak Yesus), dan Edith Stein (St. Teresia Benedikta dari Salib), mereka semuanya terlahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga. Akan tetapi, demikian pula Adolf Hitler, Mussolini, Kaisar Nero, dan Osama Bin Laden. Mereka pun terlahir dalam sebuah keluarga. Maka, sekali lagi kita diajak untuk menyadari, bahwa peran orang tua sangatlah penting dan menentukan akan menjadi apakah anak-anak kita, putra-putri Gereja kelak. Bagi mereka yang dipanggil ke dalam Sakramen Pernikahan, milikilah kesadaran akan tugas luhur kalian. Jadilah keluarga Katolik yang sejati! Kobarkanlah semangat kerasulan dalam keluarga, dengan menanamkan benih-benih Injil, serta mewariskan kekayaan imanmu kepada anak-anak dan cucu-cucumu. Nyatakanlah imanmu lewat kesaksian hidup keluarga, yang senantiasa memancarkan cahaya Kristiani secara otentik dan meyakinkan. 

Sudah pasti tantangan, halangan, dan rintangan akan selalu ada di jalan keselamatan serta kerasulan keluarga ini. Tetapi, yakinlah. Dia yang sanggup menenangkan gelora lautan dan menenangkan badai, sanggup pula membawamu keluar sebagai Pemenang atas badai hidup yang menerpa bahtera keluargamu. Kendati mungkin Tuhan “seolah” tertidur, tetapi bukankah kenyataan bahwa Tuhan terlelap dalam perahumu, itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi Sumber ketenangan dan sukacitamu, dibandingkan perahu-perahu lainnya yang mengarungi badai tanpa Tuhan?

Keluargamu berharga di mata Tuhan, tanda Kerajaan Allah, diingini oleh-Nya, dan menjadi tempat kediaman-Nya (bdk.Mzm.132:14). Yakinlah, selama kita tidak pernah terpisah dari Yesus, dan menyerahkan hidup seutuhnya ke dalam tangan belas kasih-Nya, niscaya perahu kehidupan kita tidak akan pernah terbalik atau tenggelam. Dengan demikian, perkataan Kristus dalam Injil hari akan menjadi dasar pengharapan dan sukacitamu. “Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya” (Mat.13:16-17).

Semoga Santa Perawan Maria, menjadi Bintang Timur yang menuntunmu kepada Yesus, Putranya. Kiranya Santa Ana dan Santo Yoakim menyertai keluargamu, dalam keteladanan hidup mereka sebagai rekan kerja Allah dalam karya keselamatan, sehingga keluargamu menjadi keluarga yang merasul. 

Regnare Christum volumus!


✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

 

Meditasi Harian 14 Juli 2016 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XV

HIDUP TANPA BEBAN DI JALAN-NYA

Bacaan:

Yes.26:7-9.12.16-19; Mzm.102:13-14ab.15.16-18.19-21; Mat.11:18-20

Renungan:

Panggilan Kristiani adalah panggilan untuk “melepaskan“.

Apa yang harus dilepaskan? Dosa.

Kenapa harus dilepaskan?
Karena dosa membebani hidup seorang beriman, dan melenyapkan kehidupan. Dosa adalah beban berat yang diletakkan iblis dalam perjalanan peziarahan kita menuju Allah. Dosa membuat kita merasa begitu kepayahan, terbebani dengan hebatnya, depresi dan jatuh dalam jurang keputusasaan. Itulah sebabnya banyak orang berhenti dan tidak mau berjalan lagi di jalan Tuhan, bahkan tak jarang mengalami kebinasaan dengan pindah ke jalan si jahat, karena beban dosa yang amat berat itu.

Maka, ketika Tuhan Yesus mengatakan, “Marilah datang kepada-Ku, kalian semua yang letih lesu memikul beban berat, Aku akan memberikan kelegaan bagimu,” seruan lembut Tuhan itu bagaikan panggilan di tengah padang gurun, untuk mendekat ke mata air dan minum sampai sepuasnya.
Untuk beroleh kelegaan, hanya satu yang perlu kamu lakukan yaitu “melepaskan“. 

Pertanyaannya, “Beranikah kamu untuk melepaskan?

Keengganan untuk melepaskan berakar pada kelekatan dengan dosa, yang tidak akan membuatmu mencapai mahkota kemuliaan.
Lepaskanlah dirimu dari persahabatan dengan dosa. Engkau tentu saja mengenal dirimu sendiri, dan tahu betul beban apa, halangan terberat apa, atau dosa apa yang menghalangi kamu untuk melangkah maju menuju Allah.
Entah itu dosa kerakusan, penyangkalan kuasa Allah, pornografi, nafsu seksual yang menyimpang, iri hati, kebiasaan bergosip, apapun bentuk dosa itu, “Lepaskanlah!”, “Bertobatlah!”.
Beranilah berkata “Tidak” kepada si jahat, dan jawablah “Ya” kepada Allah.
Sesudah engkau berani “melepaskan“, maka Tuhan akan menggantikan “beban” itu dengan memberimu suatu “kuk“.
Kuk ini sungguh berbeda dengan beban, karena bila beban membuatmu berhenti berjalan menuju Allah, maka kuk ini bagaikan sepasang sayap yang akan membuatmu melesat dan terbang tinggi bagai rajawali, yang menjadikan perjalananmu menuju Allah terasa enak dan lebih ringan. Terjemahan lain dari bahasa asli Yunani mengenai ungkapan bahwa kuk itu “enak“, ialah bahwa kuk itu sungguh “sepantasnya“, diberikan secara pas, tidak lebih dan tidak kurang. Inipun menjadi penghiburan bagi kita yang mengalami rupa-rupa pengalaman dalam hidup beriman. Segala rancangan Tuhan itu benar-benar sesuai dengan kemampuan kita menanggungnya, tidak lebih dan tidak kurang. Ini pula yang kita doakan dalam kerinduan setiap hari dengan berseru, “Berikanlah kami rejeki secukupnya“.

Tentu saja rupa-rupa halangan dan rintangan akan selalu ada. Akan selalu ada binatang buas yang mencoba menerkam kamu di sepanjang perjalanan. Namun, dengan kuk yang dipasang Tuhan atasmu, dengan komitmen untuk memikul salib yang diletakkannya atas bahumu, engkau akan terus berjalan maju diterangi sukacita Injil, dan pada akhirnya akan tiba pada tujuan akhir perjalananmu, yaitu beristirahat bersama Allah. Jiwa kita tidak akan pernah beroleh ketenangan, sebelum beristirahat di dalam Dia. Belajarlah dari Hati Tuhan yang lemah lembut dan rendah hati, maka jiwamu akan senantiasa beroleh ketenangan. Panggilanmu adalah panggilan untuk melepaskan segala, untuk beroleh Allah, Sang Segala. 

Hidup tanpa beban di jalan Tuhan bukan berarti ketiadaan masalah. Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang mengajarkan kemakmuran palsu. Jalan kekristenan adalah jalan yang berpuncak di Kalvari. Kekristenan yang hanya menawarkan kesuksesan, kemapanan finansial, dan ketiadaan penderitaan hidup, adalah “palsu“. Hidup tanpa beban di jalan Tuhan berarti masuk ke dalam badai hidup, untuk mengalami goncangan dan pergumulan, dan pada akhirnya keluar sebagai pemenang dalam Iman. Ini dapat disalah mengerti, dan dirasakan sebagai beban berat karena dosa-dosa kitalah, yang mengaburkan penyertaan dan rahmat Tuhan yang senantiasa menyertai kita untuk melalui semuanya itu. 

Menapaki jalan Tuhan memang adalah suatu perjuangan, tetapi bila dimengerti dalam Terang Iman, yakinlah bahwa perjuangan itu sungguh pantas untuk diperjuangkan, karena berujung pada kebahagiaan kekal bersama Allah dan para kudusnya. Tujuannya jelas, tanah air surgawi. Tidak ada jalan lain, sebab jalan manapun di luar itu, adalah perangkap si jahat yang berujung pada kebinasaan. Karena itu mulailah melepaskan segala beban dosa yang membebani hidupmu. Bertobatlah dan berubahlah! Tinggalkanlah jalan si jahat, dan mulailah berbalik untuk menapaki jalan Tuhan. Belajarlah dari Ibu kita Maria, Bintang Timur yang menunjukkan jalan menuju Kristus, Putranya. Dengan penuh kasih keibuan, dia akan menuntunmu bersama semua putra-putri Gereja, untuk memandang dan mulai berjalan ke Timur, kepada Kristus, Sang Surya Kehidupan Abadi. 

Regnare Christum volumus! 


✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Renungan Harian 13 Juli 2016 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XV


BAHAGIA ITU SEDERHANA


Bacaan:

Yes.10:5-7.13-16; Mzm.94:5-6.7-8.9-10.14-15; Mat.11:25-27



Renungan
:

Mereka yang tahu bersyukur adalah mereka yang telah menemukan kebahagiaan beriman dalam kesederhanaan, dalam ketidak punyaan, dalam kemiskinan roh. Demikian pula dapat dikatakan, bahwa kepemilikan akan kesementaraan dunia, merupakan awal ketidak bahagiaan. Ini bukanlah paham sosialis komunis, melainkan berakar dalam hakekat Kekristenan itu sendiri. Ini bukan pula penolakan atau larangan bagi kita untuk memiliki sesuatu dalam hidup, tetapi milikilah tanpa melekatkan hatimu kepada apa yang kamu miliki. Dengan demikian, sesungguhnya kuk yang dipasang atasmu itu enak, dan bebanmupun ringan. Sadarilah bahwa hidupmu semata-mata adalah kasih karunia Allah. Ibarat seorang anak yang terpesona menyaksikan barisan semut yang mencari makan, mulailah memiliki keterpesonaan cinta, dalam kesadaran akan betapa kecilnya dirimu di hadapan kebesaran dan kemahakuasaan Allah. Hidup kerasulan, pelayanan, dan doa-doamu seharusnya adalah agar “Ia harus semakin besar, tetapi aku harus semakin kecil” (Yoh.3:30).

Sebab bukankah apa yang kamu dapatkan, semata-mata adalah anugerah-Nya? Nafas hidup, kesehatan, keluarga, rumah, pekerjaan, harta benda, pakaian dan perhiasan yang menutupi tubuh, kesehatan, kenyamanan hidup, bahkan kepemilikan dalam bentuk yang paling kecil sekalipun, semuanya berasal dari-Nya? Maka, kalau apa yang kamu dapatkan, yang kamu punya, dan kamu sebut milikku, semuanya berasal dari Allah, tidakkah sudah sewajarnya pula bila kamu memilikinya tanpa kelekatan, dan mempersembahkan semuanya sebagai persembahan yang indah, harum dan berkenan di hadirat-Nya?

Sesungguhnya bahagia itu sederhana. Bahagia itu sangat ditentukan oleh kesediaan untuk “melepaskan“. Melepaskan bukan dalam arti kehampaan tanpa beroleh apa-apa, tetapi dalam kesadaran bahwa kita telah menemukan dan memiliki Dia, yang sungguh berharga, jauh melebihi semua yang telah kita lepaskan. St. Yohanes dari Salib mengungkapkannya dengan sangat tepat dan indah, yaitu bahwa “untuk memiliki Kristus Sang Segala, lepaskanlah segala“. Bahagia itu sederhana. Saking sederhananya, sampai sulit dirangkul oleh mereka yang dianggap bijak dan pandai oleh dunia ini. Paus Emeritus Benediktus XVI mengatakan, “Kebahagiaan yang kamu cari, kebahagiaan yang berhak kamu nikmati, memiliki nama dan wajah, yaitu Yesus dari Nazareth“. Dialah wajah belas kasih Bapa. Selama kamu masih mencari kebahagiaan diluar Dia, dan tidak melepaskan diri dari kelekatan akan dunia, sesungguhnya kamu tidak akan benar-benar bahagia. Demikian pula sebaliknya. Selama kamu senantiasa memandang Dia, dan mengajak semua orang melalui hidup kerasulanmu, untuk mengarahkan pandangan, serta merubah arah hidup kepada-Nya, kamu akan selalu menyaksikan perkenanan dan penyertaan Tuhan dengan kuasa-Nya atas hidupmu. Olehnya, seperti Santa Teresa Avila kamupun akan berkata, “Allah saja Cukup!

Teladanilah kesederhanaan beriman Bunda kita Maria, hamba Allah yang paling berkenan di Hati Tuhan. Ia selalu mensyukuri segala perkara yang dinyatakan Tuhan dalam hidupnya. Kiranya keteladanan berimannya yang selalu menjawab “Ya” kepada Allah, menjadi bagian hidup beriman kita pula. 
Regnare Christum volumus!
✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 11 Juli 2016 ~ Peringatan St. Benediktus, Abbas

BERDOA KEPADA-NYA DAN BEKERJA BAGI-NYA

Bacaan:

Yes.1:11-17; Mzm.50:8-9.16bc-17.21.23; Mat.10:34 – 11:1


Renungan:

Bersama Gereja Katolik sedunia, hari ini kita memperingati St. Benediktus dari Nursia, Bapa Hidup Monastik Barat dan Pelindung Eropa. Seturut regulanya sebagai Bapa Pendiri, para rahib dan rubiah Benediktin senantiasa hidup dalam semangat, “Ora et Labora – Berdoa dan Bekerja“, dalam kesadaran bahwa keduanya sama pentingnya, sama-sama memiliki nilai Adikodrati, dan bahwa keduanya harus berjalan seiring, tanpa mengabaikan atau hanya mengunggulkan salah satunya. Jangan melulu berdoa tanpa bekerja, demikian pula sebaliknya, jangan tenggelam dalam pekerjaan sampai lupa berdoa. Doakan apa yang kita kerjakan, dan kerjakan apa yang kita doakan, sehingga doamu menjadi kerjamu, dan kerjamu menjadi doamu. Baik dalam doa maupun dalam kerja, lakukanlah semuanya karena dan bagi Tuhan Semesta Alam. Dengan demikian, hidupmu akan menjadi persembahan yang murni, harum dan berkenan di Hati Tuhan (bdk.Yes.1:11-17 & Mzm.50:8-9.16bc-17.21.23 ). Maka, bila seluruh hidupmu sejatinya milik Tuhan dan seutuhnya dipersembahkan bagi-Nya, adalah suatu konsekuensi iman pula untuk menjadikan kehendak-Nya sebagai prioritas utama di hidup kita, baik dalam doa maupun kerjamu. Jika ini sungguh dihidupi, sesungguhnya perkataan Tuhan kita dalam Injil hari ini tidaklah mengejutkan, dipandang sebagai tuntutan berat, atau menakutkan bagi kita, apalagi mendatangkan pertentangan akan Dekalog 1 dan 4. 

Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat.10:34-38).

Kerasulan yang sejati berarti melayani Tuhan dengan “hati tak terbagi“, sebab Firman Allah “lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh” (Ibr.4:12). Menempatkan kelekatan, keinginan, hobi, ambisi dan relasi apapun melebihi kemesraan kita dengan Allah, berarti mem-berhala-kan segala, yang pada akhirnya mendatangkan permusuhan dengan Sang Segala.

Hari Peringatan St. Benediktus ini mengingatkan kita sekalian akan konsekuensi iman dari “Ora et Labora“. Untuk apa dan bagi siapa kamu berdoa? Untuk apa dan bagi kamu bekerja?” Kalau Tuhan bukanlah jawaban dari pertanyaan itu, itu artinya Tuhan bukanlah “Yang Terkasih” bagimu. Dia belum menjadi “Yang Terutama” bagimu. 

Semoga Perawan Suci Maria senantiasa menyertai hidupmu sebagai Ibu, yang dengan penuh kasih dan kesetiaan menunjukkan kepadamu jalan menuju Yesus, Putranya. Dan sebagaimana St. Benediktus juga dihormati sebagai Pelindung Eropa, berdoalah bagi dunia Barat. Hari demi hari kita menyaksikan, bagaimana mereka semakin memalingkan wajah mereka dari akar Kristiani, dan menggantikannya dengan nilai-nilai baru yang melukai hati Tuhan, serta mendatangkan kemusnahan secara perlahan atas peradaban mereka sendiri. Semoga karena perantaraan doa St. Benediktus, belas kasih Ilahi menyentuh kedalaman jiwa mereka, untuk menyadari akar Kristiani yang memberi mereka hidup dalam segala kelimpahan kasih karunia, dan dengan hati yang penuh pertobatan berbalik kepada Allah, Sang Sumber Hidup.

Regnare Christum volumus! 
✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 10 Juli 2016 ~ MINGGU BIASA XV

BUKA MATA BUKA HATI

Bacaan:

Ul.30:10-14; Mzm.69:14.17.30-31.33-34.36ab.37; Kol.1:15-20; Luk.10:25-37

Renungan:

Kisah Orang Samaria yang murah hati (The Good Samaritan) mungkin adalah salah satu bagian paling indah dan menyentuh hati dari Injil Tuhan kita Yesus Kristus. Hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan suatu pertanyaan penting akan arti kehadiran putra-putri Gereja bagi dunia, yaitu: “Siapakah sesamaku?

Para Bapa Gereja maupun Penulis Kristiani awali mengatakan bahwa Orang Samaria yang murah hati itu adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri. Pria yang jatuh ke tangan para penyamun adalah gambaran kemanusiaan, kita semua yang jatuh ke dalam dosa asal dan dosa-dosa pribadi lainnya, luka yang merenggut kita dari keabadian, dan memenuhi sekujur tubuh kita dengan rupa-rupa borok serta kecenderungan jahat. Para penyamun adalah si jahat, yakni setan dan roh-roh yang menjadi kaki tangannya. Orang Lewi dan seorang Imam melambangkan  umat Perjanjian Lama, yang tidak dapat menyembuhkan luka sedemikian, dan seringkali berbangga dengan status bangsa pilihan, enggan berhenti dan memilih lewat begitu saja, seolah tidak mau peduli dengan mereka yang dianggap “bukan sesama“.

Keledai melanbangkan Sakramen Pembaptisan, sarana yang membawa kita ke “Tempat Penginapan”, yaitu Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik, yang dipercayakan Tuhan menerima “siapapun” yang mencari perlindungan dan keselamatan.

Dapatkah kita membayangkan seandainya Orang Samaria yang murah hati dalam kisah Injil memilih untuk tinggal berdiam di Rumah-Nya dan tidak keluar untuk melakukan perjalanan melewati jalan tempat para penyamun merampok pria yang malang itu?
Demikian pula hidup kita.
Dalam diri Yesus, Putra-Nya, Allah telah turun dari surga dan masuk ke dalam dunia. Ia keluar ke jalan, mengosongkan diri dan masuk ke dalam peredaran waktu, untuk mengambil rupa seorang hambaDan tidakkah menggembirakan dan mendatangkan rasa syukur tak terhingga, bahwa Ia menemukan Anda sekalian dan saya, yang bagaikan seorang yang disamun, terbaring sekarat di jalan karena dosa, dipenuhi luka-luka kerapuhan dunia ini?

Inilah keindahan cinta Tuhan.
Dia menemukanmu, mengangkatmu yang sekarat akibat dosa dari jalan-jalan dunia ini, kemudian dengan penuh kasih Ia membalut lukamu, lalu mempercayakanmu pada pemeliharaan Gereja-Nya untuk dirawat, untuk dipulihkan dan hidup dalam segala kepenuhan rahmat, sampai tiba saat yang membahagiakan, yakni kedatangan-Nya yang kedua kali. Saat dimana Dia akan mengajakmu ke Rumah-Nya, untuk tinggal selamanya bersama Dia.

Jadi, jikalau Tuhan yang melihatmu terbaring sekarat di jalan, tidak berlalu begitu saja, tetapi berhenti untuk merangkulmu sebagai “sesama“, maka demikian pula kamu hendaknya melihat setiap orang, siapapun dia tanpa kecuali, sebagai “sesama“.
Injil hari ini berbicara begitu keras, untuk mengingatkan mereka yang bersikap acuh tak acuh terhadap dunia, sibuk mencari kenyamanan dan keamanan diri; yang menutup mata terhadap mereka yang harus mengungsi karena peperangan; yang menderita karena kemiskinan, kelaparan, dan ketidakadilan; menjauhi mereka yang dianggap berdosa dan dibenci oleh masyarakat; menganggap diri umat pilihan dan berbangga dalam keburukan hati dan kerapuhan jiwa. Injil hari ini berbicara bagi mereka yang memilih untuk menutup pintu belas kasih, daripada membukanya lebar-lebar dan turun ke jalan mencari yang hilang, yang sakit dan menderita, yang dirampas hak dan martabatnya, yang disamun untuk dibiarkan mati di tengah jalan. 

Injil hari ini mengingatkan kita semua. Sebagaimana kita sekalian telah ditemukan dan diselamatkan Tuhan, demikian pula kita dipanggil untuk menemukan sesama kita di sepanjang jalan hidup kita. Kekristenan adalah panggilan untuk menjadi Orang Samaria yang baik hati, sama seperti Kristus sendiri. Kita dipanggil untuk mendatangkan penyembuhan, damai dan sukacita bagi dunia ini, bukan sebaliknya. Kita diutus ke dalam dunia untuk menjadi saksi-saksi Cinta.

Inilah tanggung jawab kerasulan kita sebagai putra-putri Gereja Katolik. Panggilan suci untuk menemukan jiwa dan memelihara jiwa karena dorongan Cinta.
Tuhan memanggilmu tepat di tengah pekerjaan, aktivitas, dan situasi hidupmu saat ini. Bukan untuk meninggalkan semua itu, tetapi menjadikan semuanya itu sebagai sarana keselamatan, sebagai jala untuk menangkap jiwa bagi Tuhan.

Memang ini menuntut keberanian untuk keluar dari ke-Aku-an, menuntut pengorbanan dan totalitas. Oleh karena itu, mohonkanlah selalu karunia yang sama dari Sang Cinta, agar hidup kita senantiasa dipenuhi dan dikobarkan oleh Cinta Allah.
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Luk.10:27).

Kiranya dalam Gereja Katolik akan selalu ditemukan pintu yang terbuka dan hati yang mencinta. Gereja bukanlah menara gading yang kehilangan sentuhan akan dunia.

Lebih baik Gereja itu memar dan kumal karena orang-orangnya keluar ke jalan-jalan dunia ini untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, daripada menutup pintu rapat-rapat karena tidak mau dicemari oleh mereka yang dicap pendosa, yang menutup keran-keran keselamatan dari mereka yang datang mencari kelegaan.
Memang lebih mudah menunjuk jari dan menjatuhkan penghakiman, lebih nyaman dan aman melihat kebobrokan dunia ini, kemudian terus berjalan tanpa mau peduli.

Tetapi, itu bukanlah Kekristenan.
Kita tidak ditempatkan disini secara kebetulan, bukan untuk menjadi penonton dari kejahatan dan kegelapan dunia. Kekristenan menuntut keberanian untuk membawa cahaya, sekalipun untuk bersinar seperti lilin kita harus kehilangan hidup. Kekristenan adalah panggilan untuk mencintai sesama sampai terluka, untuk kehilangan hidup demi memberi hidup, sebagaimana telah lebih dulu dilakukan oleh Tuhan dan Penyelamat kita. Hidup beriman kita menuntut keberanian untuk setiap hari menjawab “Ya” kepada Allah, dan dengan lantang berkata, “Ini aku, Tuhan. Utuslah aku.

Semoga dalam hidup dan karya putra-putri Gereja, dunia akan selalu menemukan orang-orang Samaria yang murah hati, sehingga Kekristenan bukan sekadar ajaran atau konsep hidup ideal dan berada di awan-awan, melainkan sebagai “satu-satunya jawaban” bagi dunia ini, dimana orang dapat menemukan kebenaran dan hidup.
Hidupmu adalah karena kasih karunia.
Kamu telah ditemukan Tuhan dan diberi hidup. Kini saatnya kamu menemukan sesamamu untuk memberi mereka hidup. Mulailah membuka mata dan membuka hati. 

Semoga Perawan Suci Maria, Hawa Baru, Ibu dari semua yang hidup, selalu menyertai kita di jalan dan lorong-lorong dunia ini, serta memberi kita kekuatan karena doa dan kasih Ke-Ibu-annya, agar kita semakin menjadi orang-orang Samaria yang murah hati bagi sesama, demi kemuliaan Allah. 

Regnare Christum volumus! 


✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 9 Juli 2016 ~ Sabtu dalam Pekan Biasa XIV

JANGAN SALAH PILIH !

Bacaan:

Yes.6:1-8; Mzm.93:1ab.1c-2.5; Mat.10:24-33


Renungan:

Kendati berawal dari Timur, Iman Kristiani sama sekali tidak mengenal atau memiliki paham mistik Timur “Yin-Yang“. Analogi demikian “mungkin” dapat dibenarkan dalam penerapan hidup bermasyarakat lainnya, tetapi tidak pernah boleh ada dalam hidup beriman seorang Kristen. Kita tidak pernah dibenarkan untuk mencari titik keseimbangan antara Kebaikan dan Kejahatan, atau antara Terang dan Gelap. Iman Kristiani tidak mengenal daerah neutral. Sikap suam-suam kuku, berdiri di antara 2 pilihan, haram hukumnya bagi seorang Kristen. Hanya ada 2 pilihan: Anda berdiri di pihak ALLAH, atau berdiri di pihak Si Jahat. Jangan salah pilih! Kesalahan memilih berakibat kehilangan hidup kekal dan kemuliaan surgawi. Pilihlah ALLAH dan lakukanlah Karya-Nya! Memilih ALLAH berarti menolak Setan dengan segala perbuatan dan tawarannya.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga” (Mat.10:32-33). 

Seperti serafim yang memurnikan kenajisan dengan sentuhan bara pada bibir Yesaya (Yes.6:6-7), demikian pula santapan Ekaristi telah menyentuh bibir rohani kita. Daya hidup Ekaristi telah mengalir dan memurnikan panggilan kita, serta mengobarkan Api Kerasulan yang mendorong kita untuk bekerja segiat-giatnya bagi Kerajaan Allah. Jangan jadi orang Kristen setengah-setengah!

Semoga Santa Perawan Maria, yang selalu menjawab “Ya” kepada ALLAH, menyertai perjalanan panggilan kita agar setiap kali Tuhan bertanya, “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?”, kita menjadi rasul-rasul Ekaristi yang dengan lantang menjawab,  “Ini aku, utuslah aku!” (Yes.6:8).
Regnare Christum volumus! 



✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥