Meditasi Harian 22 April 2016 ~ Jumat dalam Pekan IV Paskah

image

LAIN DI BIBIR LAIN DI HATI

Bacaan:
1Kis.13:26-33; Mzm.2:6-7.8-9.10-11; Yoh.14:1-6

Renungan:
Tidak dapat dipungkiri bahwa kita hidup dalam masyarakat yang majemuk. Berbagai ras, suku, budaya, bahasa, agama, dan berbagai bentuk pluralisme lainnya, tentu atas satu dan berbagai cara mempengaruhi seorang pengikut Kristus untuk merasul di tengah dunia. Semangat nasionalisme serta hidup berbangsa dan bernegara pun menuntut kita untuk mengungkapkan iman dengan sikap heroik, sebagaimana dikatakan oleh St. Josemaría Escrivá, yakni menjadi seorang “Katolik berarti cinta tanah air“.

Tantangan hidup beriman seorang Katolik Indonesia di masa sekarang ini, adalah bagaimana menjadi 100% Indonesia dan 100% Katolik yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa, tetapi disaat bersamaan, kita pun harus senantiasa memiliki semangat misioner untuk mewartakan Injil secara otentik. Seorang beriman tidak pernah dibenarkan untuk mengerdilkan hidup berimannya demi pluralisme. Paus Fransiskus dengan tegas menyatakan bahwa “Iman adalah sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan“. Iman itu harga mati, sebab Gereja Katolik adalah Gereja para Martir. Darah mereka telah menjadi ladang yang subur bagi benih iman.

Itulah sebabnya, kita dituntut untuk menjalani hidup beriman kita secara terpercaya dan meyakinkan, tanpa jatuh dalam fanatisme atau radikalisme.
Ada bahaya besar dalam hidup menggereja saat ini, dimana Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus hanya menjadi Jalan, Kebenaran, dan Hidup di bibir saja, tetapi tidak di hati.

Berbagai institusi pendidikan, kesehatan, maupun sosial karitatif, dengan bangga menyandang label “Katolik“, tetapi dijalankan dengan gaya sekuler yang kental, jauh dari jiwa Katolik. Demi pluralisme, kerasulan misioner dikesampingkan, tidak ada baptisan baru disitu, lupa akan tugas luhurnya untuk “menjadikan semua bangsa murid Tuhan, dan untuk membaptis mereka dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.” Bahkan untuk mengawali dan mengakhiri doa dengan Tanda Salib pun, harus pikir seribu kali demi pertimbangan toleransi? Iman Kristiani menjadi tidak lebih dari label yang menjamin mutu, atau salah satu mata kuliah yang wajib dipelajari. Seringkali terjadi bahwa tidak ada pewartaan dan keteladanan yang memenangkan jiwa disitu. Bahkan tak jarang, Salib pun diturunkan dari ruangan selain Kapel, semua atas nama toleransi.
Jikalau tidak demikian, “Apa bedanya kamu dengan  institusi pendidikan, kesehatan, dan lembaga-lembaga sekuler lainnya? Bahkan tanpa label Katolik, orang yang tidak beriman dan tidak mengenal Allah pun melakukan hal yang sama. Apa bedanya kamu dengan mereka?
Kekristenan tidak pernah bertentangan dengan pluralisme. Sebab Katolik itu sendiri berarti Universal.

Injil hari ini mengajak kita semua untuk merenungkan kedalaman hidup beriman kita. Sebagaimana kepada Musa, ALLAH mengungkapkan Diri-Nya dengan pernyataan, “AKU adalah AKU” (Kel.3:14), demikian pula YESUS mengungkapkan ke-ALLAH-an-Nya dengan mengatakan, “AKU-lah JALAN, KEBENARAN, dan HIDUP”.
Tidak ada pendiri agama, nabi, rasul, atau manusia manapun yang sanggup membuat klaim demikian. Hanya ALLAH yang dapat melakukannya.

Maka, “Jangan salah pilih Jalan! Wartakanlah sukacita Injil dalam Kebenaran, tanpa ditutup-tutupi, dan tanpa terjebak dalam tembok pluralisme semu yang mematikan kerasulan. Dengan demikian, kamu akan beroleh Hidup.

Semoga Santa Perawan Maria, Bintang Timur, meneguhkan imanmu untuk tidak dikompromikan dengan berbagai situasi hidup, yang dapat berujung pada kehilangan rasa beriman. Anda bukan warga negara yang setengah-setengah, maka jangan juga menjalani imanmu setengah-setengah. Jangan hanya mengatakan diri beriman dengan ucapan bibir. Berimanlah dengan Hati.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

One thought on “Meditasi Harian 22 April 2016 ~ Jumat dalam Pekan IV Paskah

  1. Saudaraku terkasih,
    Tadi malam saya mendengarkan ulasan tentang Kebenaran Alkitab dari sebuah radio. Dengan suara lantang dikatakan oleh pembicara itu, bahwa segala sesuatu yang ada di dalam Alkitab itu pasti benar. Dan saya setuju. Tetapi ketika dikatakan bahwa praktek-praktek kehidupan kristiani kita yang tidak bersumber dari Alkitab, maka itu tidak akan menjadikan kita masuk surga. Saya mulai mencecap rasanya dalam-dalam, apakah memang demikian? Dan bahkan dikatakannya bahwa, kalau dia mengaku sebagai pengikut kristus tetapi tidak mempelajari Alkitab atau enggan membaca Alkitab dengan alasan tidak sempat dll, maka imannya tidak sempurna. Karena Alkitab mengatakan bahwa “Hendaklah kamu sempurna, sebagaimana BapaKu yang di surga, sempurna adaNya”. Saya tidak hapal dari Injil dan ayat mana ini. Tetapi saya tahu, bahwa ayat itu ada di kitab suci.
    Lebih jauh lagi, apakah cukup untuk masuk surga, dengan berbekal 2 ayat kitab suci yang kita praktekkan dalam hidup? Sang pembicara tidak yakin. Menurut saya, seharusnya dia berkata ” saya tidak tahu” sehingga saya boleh berasumsi bahwa : Hanya Tuhan yang punya kuasa itu. Bukan dia, bukan kita atau saya.

    Saya mengungkapkan gejolak dari kata kata yang berbalut “toleransi” tersebut.
    Diantara kita sesama kristen saja masih sangat susah untuk bisa memahami, apalagi sampai menerima dan memoraktikkan toleransi ini?
    Apalagi di luar gereja?
    Toleransi itu, tanpa syarat dan berasal dari ketulusan hati. Tetapi ketika sudah meminta dan mengatur apalagi menuntut, maka itu bukan toleransi dan tidak ada toleransi di sana.

    Lord have mercy on us.
    Chris

Tinggalkan komentar