Meditasi Harian 24 April 2016 ~ MINGGU V PASKAH

image

KESAKSIAN CINTAKASIH

Bacaan:
Kis.14:21b-27; Mzm.145:8-9.10-11.12-13ab; Why.21:1-5a; Yoh.13:31-33a.34-35

Renungan:
Tuhan itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. Tuhan itu baik kepada semua orang, penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.” (Mzm.145:8-9)
Dengan begitu indahnya pemazmur mengungkapkan siapa Allah dan bagaimana Dia harus dikenal dan diimani. Allah adalah Kasih, Pribadi yang mengasihi dan menyayangi umat-Nya, dalam keadaan apapun mereka. Dia dikenal karena kesabaran dan kasih setia-Nya, kendati kita seringkali kurang bersabar dan tidak setia menantikan jawaban dan pertolongan Tuhan. Dia baik kepada semua orang, tanpa terkecuali, bahkan kepada mereka yang tidak mengimani Dia dan mereka yang menyangkal kehadiran dan kuasa-Nya. Kepada semua ciptaan-Nya, Dia selalu berlimpah rahmat, namun seringkali dosa kitalah yang membuat kita hidup dalam ketiadaan rahmat.

Oleh karena itu, jika Allah adalah Kasih, maka ini mendatangkan konsekuensi iman bagi kita semua yang menyebut diri Gereja Allah, umat kesayangan-Nya. Dalam diri Yesus, Putra Allah, kita diperkenankan beroleh anugerah untuk memandang wajah belas kasih Bapa. Dengan menjadi pengikut-Nya dalam hidup dan ajaran-Nya, oleh rahmat Pembaptisan dan dengan mengambil bagian serta disatukan dalam santapan Ekaristi, kita pun mengambil bagian dalam tugas kerasulan untuk memancarkan wajah belas kasih Bapa itu kepada sesama.

Ini bukan sekadar gagasan Kristiani yang indah, atau kehidupan idealis dan utopia belaka. Ini sungguh merupakan panggilan dan kewajiban kita. Dengan inilah kita seharusnya dikenal sebagai murid-murid Tuhan, yaitu “bila kita saling mengasihi” (bdk.Yoh.13:35).
Sesulit apapun itu, kendati dalam pandangan manusiawi terasa berat untuk mengungkapkan kasih kepada orang-orang yang justru menyakiti kita, Kasih haruslah selalu menjadi Identitas kita. Melebihi tanda salib sebagai simbol iman, kesaksian Cintakasih adalah tanda pengenal kita.

Ketidakmampuan untuk menjadi saksi-saksi cintakasih dikarenakan kita sulit merangkul 2 konsekuensi dari tuntutan cintakasih ini.
Pertama, cintakasih yang sejati menuntut kesediaan untuk terluka. Cinta tanpa luka itu palsu. Bahkan, untuk mencintai sampai sehabis-habisnya, tak jarang seorang beriman dituntut untuk kehilangan hidupnya sendiri. Ketakutan mencinta seringkali berasal dari keengganan untuk terluka. Itulah sebabnya konsekuensi kedua dari tuntutan cintakasih ini di satu sisi memang berat, tetapi di sisi lain menjadi satu-satunya obat, yang membawa kita pada kesempurnaan cinta, yakni pengampunan. Banyak orang berhenti mencinta setelah terluka, dan tidak mau melangkah di jalan pengampunan. Cinta tanpa luka itu palsu, demikian pula kesediaan terluka tanpa kebesaran hati untuk mengampuni itu mematikan jiwa. Cahaya jiwamu meredup bahkan dapat padam ketika kamu tidak mau mengampuni. Pengampunan adalah obat dari luka itu. Tidak ada obat lain.
Pandanglah Yesus yang tersalib. Semakin dalam paku itu menembus tubuhnya, semakin besarlah Kasih-Nya. Semakin luka, semakin cinta. Dan dari atas salib keluarlah kata-kata pengampunan. Inilah cintakasih yang sejati. Paripurna cinta. Kehilangan hidup untuk memberi hidup. Maka benarlah kata St. Bernardus dari Clairvaux, “ukuran mencinta adalah mencinta tanpa ukuran“.

Injil hari ini hendaknya menjadi permenungan kita dalam melihat panggilan kita sebagai saksi-saksi cintakasih di dalam hidup pernikahan keluarga, komunitas, pekerjaan, dan berbagai bentuk hidup lainnya. Bagaimana Kristus dikenal sangat ditentukan oleh bagaimana kita, para pengikut-Nya dikenal. Semoga kita dikenal karena kesediaan untuk terluka, kesanggupan untuk mengampuni, serta totalitas mencinta sampai sehabis-habisnya.
Mohonkanlah selalu rahmat Allah untuk memampukan kita di jalan kerasulan cintakasih ini.

Semoga Santa Perawan Maria, yang jiwanya luka ditembusi pedang, namun darinya mengalir kelimpahan cinta dan pengampunan, juga menjadi teladan cintakasih bagi kita. Semoga ia menghantar kita pada kesempurnaan cinta, seturut kehendak Yesus, Putranya. Kita tercipta karena cinta, maka hiduplah dalam kuasa cinta.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 23 April 2016 ~ Sabtu dalam Pekan IV Paskah

image

KESAKSIAN PENGHARAPAN

Bacaan:
Kis.13:44-52; Mzm.98:1.2-3b.3c-4; Yoh.14:7-14

Renungan:
Dalam diri Yesus, Putra Allah, kita diperkenankan memandang wajah belas kasih Bapa. Hanya melalui kePengantaraan Putra-lah, kita boleh mengenal Bapa. “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia” (Yoh.14:7).
Dalam Injil hari ini kitapun bersukacita akan janji Tuhan, bahwa kita akan beroleh apa saja yang kita minta kepada Bapa dalam Nama-Nya.
Apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya” (Yoh.14:13-14).

Untuk meminta belas kasih Allah, seorang beriman memerlukan satu keutamaan mendasar, yaitu pengharapan. Warna-warni kehidupan akan terasa lebih mudah untuk dilalui selama kita memiliki pengharapan. Seorang petani berharap hasil yang baik dari benih yang ia tanam, pedagang berharap dagangannya laris terjual, pekerja kantor mengharapkan performa kerjanya dihargai oleh pimpinan, istri dan anak-anak mengharapkan kesembuhan suami dan ayah mereka yang terbaring sakit, serta berbagai bentuk pengharapan lainnya. Sejatinya, pengharapan dalam Tuhan tidak pernah mengecewakan, karena dia yang sungguh berharap kepada Tuhan, adalah dia yang mempercayakan hidup seutuhnya pada Penyelenggaraan Tuhan, dalam keyakinan bahwa rancangan Tuhan dan jawaban apapun yang Ia berikan adalah yang terbaik dan mendatangkan damai sejahtera. Itulah sebabnya, pengharapan yang sejati tentu saja memerlukan iman. Inilah yang membedakan pengharapan dunia dengan pengharapan Ilahi.

Kendati pengharapan dalam Tuhan tidak serta-merta menjamin keselamatan (kecuali bila Allah memperkankan dia beroleh rahmat istimewa), namun seorang beriman boleh yakin, bahwa selama dia melangkah dengan setia di jalan pengharapan, jalan itu adalah jalan paling aman menuju keselamatan. Ibarat seorang yang menempuh perjalanan, kendati dia sendiri belum tahu apakah dia akan mencapai tujuan atau tidak, tetapi selama dia tidak mundur atau memilih jalan lain yang menyesatkan, maka sesungguhnya jalan itu pasti akan menghantarkan di sampai ke tujuan. Inilah kesaksian pengharapan.

Pandanglah Ibu Maria, yang dengan cahaya imannya dan menerangi Gereja dengan kesaksian pengharapannya akan Allah. Semoga kita senantiasa memiliki keberanian iman untuk meminta, serta ketekunan untuk berharap, sehingga pada akhirnya kita akan tiba pada tujuan akhir peziarahan kita, yakni keselamatan kekal.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 22 April 2016 ~ Jumat dalam Pekan IV Paskah

image

LAIN DI BIBIR LAIN DI HATI

Bacaan:
1Kis.13:26-33; Mzm.2:6-7.8-9.10-11; Yoh.14:1-6

Renungan:
Tidak dapat dipungkiri bahwa kita hidup dalam masyarakat yang majemuk. Berbagai ras, suku, budaya, bahasa, agama, dan berbagai bentuk pluralisme lainnya, tentu atas satu dan berbagai cara mempengaruhi seorang pengikut Kristus untuk merasul di tengah dunia. Semangat nasionalisme serta hidup berbangsa dan bernegara pun menuntut kita untuk mengungkapkan iman dengan sikap heroik, sebagaimana dikatakan oleh St. Josemaría Escrivá, yakni menjadi seorang “Katolik berarti cinta tanah air“.

Tantangan hidup beriman seorang Katolik Indonesia di masa sekarang ini, adalah bagaimana menjadi 100% Indonesia dan 100% Katolik yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa, tetapi disaat bersamaan, kita pun harus senantiasa memiliki semangat misioner untuk mewartakan Injil secara otentik. Seorang beriman tidak pernah dibenarkan untuk mengerdilkan hidup berimannya demi pluralisme. Paus Fransiskus dengan tegas menyatakan bahwa “Iman adalah sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan“. Iman itu harga mati, sebab Gereja Katolik adalah Gereja para Martir. Darah mereka telah menjadi ladang yang subur bagi benih iman.

Itulah sebabnya, kita dituntut untuk menjalani hidup beriman kita secara terpercaya dan meyakinkan, tanpa jatuh dalam fanatisme atau radikalisme.
Ada bahaya besar dalam hidup menggereja saat ini, dimana Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus hanya menjadi Jalan, Kebenaran, dan Hidup di bibir saja, tetapi tidak di hati.

Berbagai institusi pendidikan, kesehatan, maupun sosial karitatif, dengan bangga menyandang label “Katolik“, tetapi dijalankan dengan gaya sekuler yang kental, jauh dari jiwa Katolik. Demi pluralisme, kerasulan misioner dikesampingkan, tidak ada baptisan baru disitu, lupa akan tugas luhurnya untuk “menjadikan semua bangsa murid Tuhan, dan untuk membaptis mereka dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.” Bahkan untuk mengawali dan mengakhiri doa dengan Tanda Salib pun, harus pikir seribu kali demi pertimbangan toleransi? Iman Kristiani menjadi tidak lebih dari label yang menjamin mutu, atau salah satu mata kuliah yang wajib dipelajari. Seringkali terjadi bahwa tidak ada pewartaan dan keteladanan yang memenangkan jiwa disitu. Bahkan tak jarang, Salib pun diturunkan dari ruangan selain Kapel, semua atas nama toleransi.
Jikalau tidak demikian, “Apa bedanya kamu dengan  institusi pendidikan, kesehatan, dan lembaga-lembaga sekuler lainnya? Bahkan tanpa label Katolik, orang yang tidak beriman dan tidak mengenal Allah pun melakukan hal yang sama. Apa bedanya kamu dengan mereka?
Kekristenan tidak pernah bertentangan dengan pluralisme. Sebab Katolik itu sendiri berarti Universal.

Injil hari ini mengajak kita semua untuk merenungkan kedalaman hidup beriman kita. Sebagaimana kepada Musa, ALLAH mengungkapkan Diri-Nya dengan pernyataan, “AKU adalah AKU” (Kel.3:14), demikian pula YESUS mengungkapkan ke-ALLAH-an-Nya dengan mengatakan, “AKU-lah JALAN, KEBENARAN, dan HIDUP”.
Tidak ada pendiri agama, nabi, rasul, atau manusia manapun yang sanggup membuat klaim demikian. Hanya ALLAH yang dapat melakukannya.

Maka, “Jangan salah pilih Jalan! Wartakanlah sukacita Injil dalam Kebenaran, tanpa ditutup-tutupi, dan tanpa terjebak dalam tembok pluralisme semu yang mematikan kerasulan. Dengan demikian, kamu akan beroleh Hidup.

Semoga Santa Perawan Maria, Bintang Timur, meneguhkan imanmu untuk tidak dikompromikan dengan berbagai situasi hidup, yang dapat berujung pada kehilangan rasa beriman. Anda bukan warga negara yang setengah-setengah, maka jangan juga menjalani imanmu setengah-setengah. Jangan hanya mengatakan diri beriman dengan ucapan bibir. Berimanlah dengan Hati.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 21 April 2016 ~ Kamis dalam Pekan IV Paskah

image

SETIA DALAM KEBENARAN

Bacaan:
Kis.13:13-25; Mzm.89:2-3.21-22.25.27;Yoh.13:16-20

Renungan:
Dikhianati oleh orang yang kita kasihi dan berada dalam lingkaran dekat persahabatan, seringkali terasa sangat menyakitkan.
Injil hari ini mengangkat isu penting dalam setiap relasi cinta, yakni perihal kesetiaan versus ketidaksetiaan. 
Di saat-saat terakhir sebelum sengsara-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus sudah tahu bahwa salah seorang dari 12 rasul-Nya yang terkasih, akan mengkhianati Dia.
Akan tetapi, pengetahuan akan kenyataan pahit ini tidak membuat Tuhan Yesus menjaga jarak, membentengi diri, dan berhenti mengasihi. Justru sebaliknya, Ia mencurahkan kasih sehabis-habisnya bagi mereka semua, tanpa terkecuali, termasuk kepada Yudas, yang seolah “menikam-Nya dari belakang“, yang siap menjual Tuhan-Nya pada harga yang tepat baginya. 
Untuk mengungkapkan kesedihan-Nya, Tuhan Yesus menyatakannya dalam seruan Mzm.41:9, “Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku.” (bdk.Yoh.13:18)
Pernyataan “mengangkat tumitnya“, hendak mengungkapkan betapa luar biasa menyakitkannya pengkhianatan itu, suatu dosa yang teramat keji dan jahat. Sebaliknya, untuk “makan roti bersama” dalam budaya Yahudi waktu itu adalah ungkapan kepercayaan dan persahabatan.
Maka, ketika Tuhan Yesus duduk makan roti bersama Yudas, kendati tahu isi hati rasul-Nya yang siap mengkhianati Dia, sebenarnya hendak mengajar kita bahwa cintakasih adalah panggilan yang wajib diberikan oleh seorang Kristiani, dalam situasi apapun, seberapa pun beratnya itu, bahkan kendati kita harus kehilangan hidup kita karenanya.
Dalam terang Iman inilah, kita pun diajak untuk merenungkan hidup para martir di sepanjang sejarah, yang dibunuh di daerah-daerah konflik, disaat mereka justru sedang melakukan karya cintakasih sehabis-habisnya bagi semua orang, termasuk kepada mereka yang bukan saudara-saudari seiman, malah membenci nama Yesus dan Gereja Kudus-Nya.
Kita teringat akan 4 Biarawati dari Kongregasi Misionaris Cinta Kasih, yang terbunuh di Yaman. Dan tidak hanya di Yaman. Dimanapun berada, seorang Kristiani dipanggil untuk menjalani hidup berimannya secara otentik. Untuk mengasihi dan mengampuni sampai sehabis-habisnya. “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yoh.13.35)

Bagian akhir dari Injil hari ini menegaskan kembali kenyataan bahwa Iman adalah sesuatu yang tidak bisa dikompromikan. “Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.” (Yoh.13:20)
Perkataan ini sangat jelas dan tidak multi tafsir. Jawaban atasnya sangat menentukan, karena konsekuensi dari kebenaran menyentuh dasar keselamatan.
Siapapun yang mengimani Allah, haruslah menerima semua kebenaran yang diwartakan Yesus, Putra Allah.
Kebenaran yang dengan setia dimaklumkan oleh Gereja-Nya yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.

Dalam terang sukacita Injil inilah kita pun hendaknya bergembira bahwa Sinode Keluarga yang baru saja berlalu, kini semakin bisa dinikmati buah-buahnya dengan dimaklumkannya Eksortasi Apostolik “Amoris Laetitia” oleh Bapa Suci Paus Fransiskus.
Inilah jawaban terhadap berbagai kesulitan hidup dan panggilan mengasihi dalam Sakramen Pernikahan dan tantangan hidup berkeluarga.
Akan tetapi, kita pun diingatkan bahwa cintakasih tidak pernah bertentangan dengan keadilan. Demikian pula perhatian pastoral, sebaik apapun itu menurut pemahaman manusiawi, akan selalu menjadi aplikasi dari doktrin atau ajaran Gereja bukan sebaliknya, apalagi bertentangan.
Kesetiaan terhadap Sakramen Pernikahan dan hidup berkeluarga, haruslah ditandai dengan kesediaan untuk merangkul Iman Kristiani secara otentik, kepada pengenalan akan Kitab Suci, Tradisi dan Ajaran Gereja.
Untuk memahami keluhuran serta martabat Pernikahan dan Keluarga dalam semangat baru (kepenuhan Roh) yang mendatangkan sukacita, bukannya menafsirkannya secara baru yang malah memadamkan Roh.
Maka, barangsiapa sungguh hendak mengasihi Allah dan sesama, haruslah juga menerima kebenaran dalam segala kepenuhannya, tanpa “mengkompromikan” imannya dikarenakan pemahaman belas kasih yang keliru.
Hukum Tuhan yang tertulis menjadi hukum yang menghidupkan karena cinta, tetapi cinta tidak pernah boleh dijadikan pembenaran untuk mengabaikan apalagi mengerdilkan arti hukum itu. Sebab jikalau demikian, cintamu palsu demikian pula kesetiaanmu.

Semoga Perawan Suci Maria, Bunda Gereja, selalu menyertai kita dalam panggilan untuk mengasihi secara sempurna dan untuk mengasihi dalam kebenaran.
Untuk membenci dosa, tapi mengasihi pendosa. Nyatakanlah tanda salib sebagai bukti cinta dan imanmu akan Yesus Sang Putra Allah, bukan hanya dalam gerakan tangan, melainkan juga dalam hidup dan karya. Untuk berbelas kasih seperti Bapa, sebab “Allah adalah Kasih“.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥