Meditasi Harian 19 Januari 2016 ~ Selasa dalam Pekan Biasa II

image

PENGHAKIMAN YANG BERBELAS KASIH

Bacaan:
1Sam.16:1-13; Mzm.89:20.21-22.27-28; Mrk.2:23-28

Renungan:
Who am I to judge?” adalah pernyataan Paus Fransiskus yang dianggap kontroversial oleh banyak orang, baik di dalam maupun di luar Gereja Katolik. Tak sedikit pula orang yang kemudian menggunakan pernyataan singkat ini untuk saling menuding kelompok lain sebagai bersalah, ada juga yang menjadikan kata-kata Paus ini sebagai pembenaran atas posisi dan pilihan hidup mereka.
Belajar dari bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini, kita diingatkan bahwa penghakiman yang terburu-buru, seringkali justru dapat merintangi Karya Allah.

Samuel menggunakan pengertiannya sendiri untuk menilai siapa yang layak diurapi sebagai seorang raja. Dia lupa bahwa, “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1Sam.16:7)
Dalam hidup beriman, kita pun pernah mendapati saat-saat dimana pengertian pribadi yang terpisah dari relasi pribadi nan mesra dengan Allah dalam doa, seringkali berujung pada pilihan-pilihan yang tidak tepat dan keliru.
Dalam Injil hari ini, kita juga mendapati bentuk kegagalan beriman serupa, dalam diri orang-orang Farisi. Mereka begitu mengagung-agungkan Hukum Tuhan, sehingga Hukum Tuhan yang sejatinya membebaskan, justru dijalankan sebagai belenggu bagi orang banyak, sebagai dasar untuk menyerang Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya. Perintah Allah ditaati kata demi kata, detik demi detik, tetapi pada kenyataannya hanya dijadikan sebagai aturan hidup di kulit saja, tetapi tidak mengubah hati.
Lebih baik menaati Hukum Tuhan dan membiarkan orang kelaparan, daripada dengan murah hati memberi makan kepada mereka yang lapar. Sikap pertama berasal dari kegagalan mengenal Allah dan kehendak-Nya, sedangkan sikap kedua bersumber dari pengalaman cinta akan Allah dalam doa, dimana hati meluap-luap dalam cinta dan kehausan akan jiwa-jiwa, karena kesadaran bahwa Allah sendiri telah menciptakan setiap orang menurut gambar dan rupa-Nya.

Marilah di tahun Yubileum Kerahiman ini, dalam kesatuan dengan Bapa Suci di Roma, kita kembali melihat arti panggilan Kristiani kita, yaitu suatu panggilan untuk menghakimi dengan berbelas kasih; untuk bermurah hati kepada sesama, sebagaimana Allah Bapa kita adalah murah hati; untuk melayani, mengampuni, dan mengasihi, sebagaimana Allah telah lebih dahulu melakukan gerak cinta yang sama kepada kita semua.
Dengan demikian, Hukum Tuhan tidak disalahartikan sebagai serangkaian aturan yang membebani, melainkan sebagai pedoman hidup menuju kebebasan sejati anak-anak Allah, dimana karunia Iman benar-benar menjadi sukacita yang tak terkatakan, suatu perjumpaan dengan Allah yang hidup, Yang memanggil kita untuk memberi hidup bagi sesama, serta menjadi saluran rahmat Allah bagi dunia.
Semoga Bunda Maria, Perawan yang amat bijaksana, membimbing kita untuk mencintai kebijaksanaan, yang bersumber dari relasi cinta dengan Putranya, Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 16 Januari 2016 ~ Sabtu dalam Pekan Biasa I

image

CINTA KOTAK-KOTAK

Bacaan:
1Sam.9:1-4.17-19~10:1a; Mzm.21:2-3.4-5.6-7; Mrk.2:13-17

Renungan:
Kaum ortodoks Yahudi pada zaman Tuhan Yesus punya kebiasaan untuk memisahkan semua orang menjadi 2 kelompok: mereka yang dengan sangat ketat menaati Hukum Musa dari menit ke menit, dan mereka yang tidak melakukannya.
Kelompok kedua dianggap warga kelas dua. Kaum ortodoks menghindari pergaulan dengan mereka, menolak berbisnis dengan mereka, menolak pemberian apapun dari mereka, melarang pernikahan dengan mereka, dan menolak menghadiri perayaan apapun bersama mereka, termasuk perjamuan makan.
Inilah latar belakang yang membuat kita mendapat gambaran yang jelas akan kenapa para ahli Taurat dan orang Farisi mempertanyakan Tuhan Yesus yang makan bersama para pemungut cukai dan orang berdosa.
Jawaban Tuhan Yesus sederhana, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit!” (Mrk.2:17)

Kekristenan adalah panggilan untuk “menyembuhkan“. Panggilan ini menuntut kerendahan hati untuk mengampuni ketika disakiti, mengasihi sekalipun tidak dihargai, dan melihat semua orang, siapapun dia, sebagai berharga di mata Tuhan. Kenyataan bahwa manusia diciptakan seturut gambar dan rupa Allah (Imago Dei), seharusnya menyadarkan kita bahwa sesulit apapun itu, kita dipanggil untuk memandang dan mengasihi wajah Allah dalam diri sesama.
Cinta tidak pernah boleh bersyarat, cinta tidak berada dalam batasan kotak-kotak. Tidak ada dalam kamus kekristenan, bahwa kita hanya perlu bergaul dengan mereka yang hidupnya sempurna saja, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” (Roma 3:23)

Tuhan dan Penyelamat kita telah menunjukkan teladan yang sangat jelas. Dia datang ke dunia untuk menyelamatkan “kita semua“, tanpa kecuali. Dalam kesadaran ini, marilah kita merenungkan hidup kita, keluarga, sahabat, kenalan, rekan kerja, komunitas, dan kebersamaan apapun yang kita miliki. Hadirlah bersama mereka yang terucapkan, terpinggirkan, diperlakukan tidak adil, diasingkan, tidak dimengerti, dan dianggap sampah oleh masyarakat. Hadirlah dengan hati yang mencinta, dan bawalah cahaya Iman dalam hidup mereka, agar mereka mengalami belaskasih Bapa melalui hidup dan karyamu sebagai rasul Kristus yang sejati. Kita semua adalah manusia yang tidak sempurna yang dipanggil untuk mencintai sesama yang tidak sempurna, secara sempurna.
Hidup itu penuh warna, jangan dijadikan satu warna. Belajarlah melihat wajah Allah dalam setiap bentuk kehidupan. Bahwa benar ada kecenderungan dosa dalam diri setiap orang, hendaknya tidak membuat kita lupa bahwa, “Bencilah dosa, tetapi cintailah pendosa.” Demikian kata St. Isaac dari Syria.
Itulah sebabnya kita selalu memerlukan bantuan rahmat Allah, hembusan Roh-Nya dalam hidup kita, untuk memurnikan cinta kita.
Mulailah melayani lebih sungguh, mengasihi lebih sungguh, dan mengampuni lebih sungguh.

Semoga Perawan Suci Maria, yang sekalipun hatinya dihembusi pedang dukacita, tetapi tetap dipenuhi sukacita Iman, boleh menjadi teladan cintakasih. Semoga Bunda kita membimbing kita dengan kasih keibuannya, untuk mengenal dan merangkul cinta tak bersyarat, bukan cinta kotak-kotak. Cinta yang selalu bisa melihat gambar dan rupa Allah dalam diri sesama. Dengan hatimu yang berkobar-kobar dalam cinta akan Allah, bawalah semua orang untuk mengalami belas kasih Bapa, dan bimbinglah tangan mereka untuk menyentuh Hati-Nya.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 15 Januari 2016 ~ Jumat dalam Pekan Biasa I

image

IMAN GAYA NEKAT

Bacaan:
1Sam.8:4-7.10-22a; Mzm.89:16-17.18-19; Mrk.2:1-12

Renungan:
Ada kalanya tindakan iman itu beda tipis dengan berbuat nekat. Atau mungkin lebih tepat dikatakan bahwa “terkadang“, untuk mengalami mujizat atau pertolongan Tuhan, entah bagi diri sendiri maupun bagi orang lain, kita perlu melakukan hal-hal nekat untuk menggerakkan hati Tuhan.
Penderita kusta yang mendekati Yesus (bacaan kemarin), perempuan yang sakit pendarahan yg menerobos kerumunan untuk menjamah jumbai jubah Tuhan, Zakheus yang mendaki pohon, dan dalam Injil hari ini, keempat orang yang membuka atap untuk menurunkan si lumpuh tepat di depan Tuhan Yesus.

Injil hari ini menyuarakan pesan yang sangat kuat bagi mereka yang melakukan karya kerasulan jiwa-jiwa. Masih ada begitu banyak orang di dunia ini yang belum mengenal dan mengimani Tuhan. Bahkan dalam kalangan mereka yang menyebut diri beriman pun, kita menemukan hidup yang suam-suam kuku.
Injil hari ini adalah tamparan bagi kita yang menyebut diri rasul-rasul Kristus, para pekerja di kebun anggur-Nya, hamba-hamba Allah yang setia.
Kita dipanggil bukan hanya memenangkan jiwa kita, tetapi membawa sebanyak mungkin jiwa kepada Allah.

Oleh karena itu, sama seperti keempat orang dalam bacaan Injil hari ini, kita pun diminta untuk memiliki sikap beriman gaya nekat. Melakukan segala cara yang mungkin untuk membawa semua orang pada pengenalan sejati akan Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus. Mereka yang seperti “orang lumpuh“, yang tidak dapat menjumpai Tuhan dengan kekuatannya sendiri.
Hai para rasul Kristus. Inilah panggilan luhur kita. Untuk membawa mereka semua menemukan Tuhan, disentuh oleh-Nya, dan beroleh kesembuhan dari-Nya. Kesembuhan sejati yang mendatangkan keselamatan, tidak hanya bagi tubuh, melainkan terutama bagi jiwa. Kamu dipanggil untuk menebarkan jala dan menangkap sebanyak mungkin jiwa-jiwa bagi Tuhan.

Ini bukanlah suatu panggilan baru, yang serta merta menuntutmu mengambil profesi yang sama sekali baru. Sama sekali tidak. Kamu masih tetap menjalani karyamu saat ini, entah seorang ibu rumah tanggal, petugas kebersihan, polisi, dokter, pengusaha, guru, mahasiswa, atau profesi apapun. Tetapi kamu dipanggil untuk melakukan semua itu dengan kesadaran, bahwa di balik itu semua, panggilan Kristiani menuntutmu untuk memberi nilai Ilahi di dalam segenap hidup dan karyamu. Lakukanlah semuanya itu dengan dedikasi dan semangat misioner untuk membawa orang-orang yang kaujumpai dalam perjalanan, kepada pengenalan akan Kristus, kepada hidup beriman.
Kamu paling tahu siapa orang-orang di sekitarmu yang belum mengenal Tuhan, yang memerlukan Tuhan, yang bagaikan orang-orang lumpuh dan tidak bisa melangkah menuju Tuhan tanpa bantuan.
Untuk merekalah kamu dipanggil. Lakukan segala cara yang baik dan benar, agar mereka pun boleh merasakan sukacita Injil, sebagaimana yang telah kamu alami. Tugas adalah menjadi alat-alat Tuhan, rasul-rasul-Nya, untuk mendatangkan keselamatan atas hidup mereka.
Cintamu hanya cinta yang kerdil bila engkau tidak bersemangat menyelamatkan semua jiwa. Cintamu miskin bila engkau tidak berhasrat untuk menulari rasul-rasul lain dengan kegilaanmu.” Demikian kata St. Josemaría Escrivá.

Jangan Takut! Bila engkau sungguh memiliki niat suci untuk merasul dan memenangkan jiwa-jiwa, dengan hidup doa yang tekun dan dengan bantuan rahmat-Nya, Allah akan selalu sanggup membuat jala-jala kerasulanmu dipenuhi dengan keberhasilan. Ingatlah pula, bahwa kamu mempunyai seorang Ibu, Perawan Suci Maria, Ratu para Rasul. Dia yang selalu setia menyertaimu dengan doa dan kasih keibuannya. Dialah pula yang akan menjadi penolong yang sejati dalam karya kerasulanmu.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 14 Januari 2016 ~ Kamis dalam Pekan Biasa I

image

MEMINTA DENGAN TAHU DIRI

Bacaan:
1Sam.4:1-11; Mzm.44:10-11.14-15.24-25; Mrk.1:40-45

Renungan:
Tuhan selalu menyertai hidup kita. Disadari atau tidak. Disyukuri atau tidak. Tuhan selalu Ada.
Dalam berbagai situasi hidup, sebagai umat beriman kita selalu memerlukan pertolongan dari Tuhan, Sang Pemilik, asal dan tujuan hidup kita.
Saat merenungkan bacaan Kitab Suci hari ini, kita mendapati 2 sikap yang berbeda dalam mengharapkan pertolongan dari Tuhan.

Bangsa Israel menjadikan Tuhan, yang kehadiran-Nya dilambangkan oleh Tabut Perjanjian, seperti sebuah jimat sakti yang dapat menjamin kemenangan mereka atas bangsa Filistin.
Suatu sikap tidak hormat dan sungguh merendahkan kemahakuasaan Allah.
Mereka mengira dengan menyandang gelar bangsa pilihan dan membawa Tabut Perjanjian ke tengah medan pertempuran, mereka dapat memaksa Tuhan untuk bertindak seperti yang mereka inginkan.
Inilah kesombongan yang berasal dari sikap beriman yang keliru. Tuhan tidak dapat didekati dengan kesombongan, keangkuhan, serta ketegaran hati dalam dosa.
Hanya karena kamu menempatkan salib di setiap pintu rumahmu, membawa Rosario dalam tas atau menaruhnya di mobilmu, mengolesi minyak urapan atau memerciki air suci atas dirimu, jangan mengira itu sudah menjadi jaminan pertolongan Tuhan atasmu.
Orang-orang yang tak mengenal Tuhan pun dapat melakukan hal yang serupa.
Itu sama sekali bukan jaminan, bila dilakukan tanpa disposisi batin yang benar. Kehadiran Tuhan memang dilambangkan oleh itu semua.
Tetapi, untuk mendapatkan pertolongan dari-Nya, kamu memerlukan Iman dan Hati yang mencintai Dia.

Belajarlah dari si penderita kusta dalam Injil hari ini.
Tanpa menghiraukan stigma orang-orang Yahudi pada waktu itu, dibayangi risiko dirajam oleh khalayak, dia dengan penuh kerendahan hati mendekati Yesus, kemudian sujud berlutut di hadapan-Nya, untuk memohonkan kesembuhan dari Tuhan.
Seruannya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku,” sama sekali bukanlah ungkapan keraguan akan kuasa Tuhan.
Justru sebaliknya, si kusta sungguh menyadari siapa Pribadi yang saat itu berdiri di hadapannya. Pribadi yang sanggup mengubah hidupnya dan mendatangkan mukjizat yang selama ini ia rindukan. Apa yang dikatakan si kusta didasari kesadaran akan kedosaannya sendiri. Bahwa Tuhan pasti sanggup menolong dia, tetapi dia juga sepenuhnya sadar bahwa dirinya sama sekali tidak layak beroleh pertolongan Tuhan.
Inilah kerendahan hati yang menyentuh hati Tuhan, dimana kita mengharapkan belas kasih Allah, dan tersungkur di hadapan-Nya dengan hati yang remuk redam.
Inilah cara meminta yang benar, berbeda dengan yang dilakukan oleh bangsa Israel dalam bacaan pertama hari ini.

Dengan merenungkan Injil hari ini, kita menjadi lebih memahami sabda Tuhan, “Mintalah maka akan diberikan kepadamu. Carilah maka kamu akan mendapat. Ketoklah maka bagimu pintu akan dibukakan.
Bahwa ternyata untuk menerima apa yang kita minta, mendapat apa yang kita cari, dan supaya bagi kita pintu-pintu rahmat dibukakan, kita terlebih dahulu harus memiliki kerendahan hati dan sikap berserah yang sejati untuk menyadari bawa, “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan Jalan-Ku bukanlah jalanmu.”
Barangsiapa memahaminya dengan sikap beriman demikian, niscaya pertolongan dan berkat Tuhan akan menyertai hidup kita selalu. Tak akan ada doa tak terjawab, karena kita telah meng-Amin-kan jawaban “apapun” yang diberikan Tuhan, dengan sikap hati yang berserah dan mencinta.

Semoga Perawan Suci Maria, teladan beriman dan berserah, menuntun kita pada kesadaran untuk selalu berseru, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”

Mulailah merendahkan dirimu di hadapan Tuhan, dan pada akhirnya tanpa disadari, kamu akan mulai menyaksikan kebesaran dan kemahakuasaan-Nya dalam hidupmu.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 13 Januari 2016 ~ Rabu dalam Pekan Biasa I

image

KERASULAN NOL BESAR

Bacaan:
1Sam.3:1-10.19-20; Mzm.40:2.5.7-8a.8b-9.10; Mrk.1:29-39

Renungan:
Disadari atau tidak, Allah telah memberi dalam hati setiap orang suatu luka cinta. Luka ini begitu istimewa, sebab luka ini memurnikan cinta dan sanggup menghanguskan jiwa, tetapi sekaligus pula mendatangkan sukacita tak terkatakan, karena menumbuhkan dalam jiwa kita suatu kerinduan untuk senantiasa mencari Dia.
Semua orang mencari Tuhan“. (bdk.Mrk.1:37)
Demikianlah diungkapkan oleh St. Markus dalam bacaan Injil hari ini. Kalimat sederhana dan begitu kuat ini seharusnya membuka mata iman kita, untuk menyadari keluhuran panggilan kita sebagai rasul-rasul Kristus.
Kita dipanggil bukan hanya mencari Tuhan dalam peziarahan iman kita. Hidup kita seharusnya ibarat buku yang terbuka, yang bercerita tentang Kristus secara benar dan otentik.
Orang-orang harus menemukan pengenalan yang sejati akan Kristus melalui kita, para pengikut-Nya, yaitu anda sekalian dan saya.
Jangan menjalani hidup Kristiani secara sia-sia, jangan “menahan diri atau membiarkan bibirmu terkatup” (bdk.Mzm.40:9-10).
Hidupmu seharusnya “menceritakan Kristus“.
Sebagaimana kamu dikenal, demikianlah Kristus dapat dikenal.
Maka, bilamana dunia mendapatkan gambaran atau pengenalan yang keliru tentang siapa Kristus itu, dan memilih berdiam dalam kegelapan ketimbang mendekati cahaya sejati yang dibawa-Nya, itu seringkali disebabkan karena para pengikut-Nya, mereka yang menyebut diri rasul-rasul Kristus, telah gagal menghadirkan Dia dalam hidup dan karya mereka. Kegagalan itu bersumber dari kurangnya kesadaran akan landasan utama dari semangat kerasulan itu sendiri, yaitu Doa.

Berbeda dengan kebohongan yang ditanamkan oleh “si jahat” (Bapa segala dusta), setiap orang beriman yang ingin berbuah dalam karya kerasulan, apapun itu, perlu memahami kenyataan berikut ini.
Kerasulan tanpa Doa itu “0” besar. Tidak ada omong kosong seperti itu.
Anda tidak akan pernah menjadi seorang rasul Kristus yang suci tanpa doa.
Tidak mungkin menyebut diri seorang rasul Kristus, namun tenggelam dalam kesibukan karya kerasulan tersebut sampai lupa atau enggan menjadikan doa sebagai prioritas utama. Anda haruslah menjadi seorang rasul Kristus yang pertama-tama mencintai Misa Kudus, tekun mendoakan Brevir, dengan Rosario di tangan dan Salam Maria didaraskan, dengan puasa dan laku tapa, dengan melakukan mati raga dan silih, dengan mendengarkan Dia dalam Lectio Divina, dan berbagai bentuk doa lisan maupun batin lainnya. Lakukanlah itu dengan hati dan ketekunan yang suci, agar tidak jatuh dalam kejenuhan dan rutinitas.
Belajarlah dari Tuhan Yesus, yang di tengah kesibukan-Nya untuk memaklumkan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, tidak pernah lupa untuk pergi ke tempat sunyi dan “berdoa” (bdk.Mrk.1:35).
Kalau Tuhan Yesus sendiri menjadikan doa sebagai sumber kekuatan dan bagian penting dalam Hidup dan Karya-Nya, bagaimana mungkin kamu tidak demikian?

Panggilan untuk berdoa sama sekali bukan berarti meninggalkan karya kerasulan, atau mengabaikan dunia dengan menjadi pertapa. Tidak semua dipanggil untuk menjadi pertapa dalam kesunyian suci yang demikian. Tetapi kita semua dipanggil untuk menjadi pendoa, seorang insan Allah, sehingga sekalipun melangkah di tengah dunia, mata batin kita senantiasa terarah ke surga, karya kerasulan kita menjadi ibarat siraman air yang membasahi tanah di sepanjang perjalanan dan memberi hidup.
Jangan pernah lupa bahwa ada nilai adikodrati dari segala karya kerasulan kita. Belajarlah dari semangat suci para misionaris di masa lalu. Mereka melakukan berbagai karya kerasulan, pertama-tama dan terutama adalah untuk memuliakan Allah dan membawa jiwa-jiwa kepada Allah, bukan sekadar berbuat kebaikan tanpa nilai adikodrati. Sebab jikalau demikian, maka karyamu itu tidak ubahnya seperti yayasan amal, NGO, atau organisasi sosial karitatif sekuler yang dilakukan bahkan oleh orang-orang yang tidak beriman sekalipun.
Jangan pernah lupa bahwa kamu dipanggil untuk menghadirkan Kristus, menjala manusia ke dalam keluarga Kerajaan Allah. Itulah Misimu!

Mempunyai rumah sakit dengan fasilitas dan pelayanan kesehatan terbaik, mendirikan sekolah-sekolah dengan metode pendidikan yang paling unggul, mencanangkan program kerja yang sangat sistematis dan terukur untuk mensejahterakan umat, berada dalam komunitas yang aturan hidupnya disusun sedemikian rupa dan membanggakannya dalam idealisme yang keliru, bahkan bila kamu membangun rumah tangga dan membesarkan keluarga dengan pengetahuan akan psikologi maupun ekonomi rumah tangga yang cemerlang sekalipun, semuanya itu “NOL BESAR” tanpa “DOA“.
Anda boleh saja melabeli segala karya kerasulan itu dengan menambahkan kata “Katolik“, entah di depan atau di belakang, tetapi semuanya itu tidak akan menghasilkan buah bagi karya kerasulan yang sejati tanpa doa.
Kerasulan yang “memenangkan jiwa-jiwa” adalah kerasulan yang dilandasi doa.

Saat ini kita menyaksikan begitu banyaknya institusi (pernikahan, keluarga, komunitas, sekolah, rumah sakit, ordo, dll.) yang dalam kepongahannya berbangga memakai label “Katolik“, tetapi tidak punya keberanian untuk mengangkat tinggi-tinggi Salib; jatuh dalam kenyamanan dan kelekatan duniawi, mengalah pada desakan arus zaman, kehilangan kewarasan untuk berakar dalam doktrin dan ajaran sosial Gereja, tumpul hati dan tidak tergila-gila untuk mewartakan iman secara berani dan otentik; mengabaikan tugas suci untuk menghasilkan baptisan-baptisan baru yang teruji; tak peduli dan mengabaikan kewajiban untuk mewariskan iman kepada putra-putrinya, agar mereka kemudian tidak ragu-ragu menampilkan identitas ke-Katolik-an secara “benar” dan “tepat” dalam situasi sesulit apapun, termasuk pada kemungkinan merangkul kemartiran karenanya.
Inilah realita pahit dari hidup kekristenan saat ini yang mendesak untuk disikapi.
Kalau tidak, pada akhirnya dari institusi-institusi itu anda mungkin menghasilkan darinya manusia-manusia yang berkualitas menurut ukuran dunia, tetapi mereka bukanlah insan-insan Allah, kekurangan kesadaran untuk memandang Allah dalam keterpesonaan Cinta, dan kekurangan kehausan akan jiwa-jiwa.
Tidak turut berduka bersama dukacita Allah. Tidak meratapi apa yang diratapi Dia, tidak merindukan apa yang dirindukan-Nya, tidak mengingini apa yang diingini-Nya, tidak menolak apa yang dibenci-Nya, tidak mengasihi apa yang dikasihi-Nya.
Hidup keKristenanmu hanya akan menjadi kesaksian yang benar-benar hidup, otentik dan meyakinkan apabila engkau terlebih dahulu adalah seorang pendoa.

Kekudusan tanpa doa? Aku tidak percaya akan kekudusan semacam itu. Jika engkau bukan seorang pendoa, aku tidak percaya akan ketulusan niatmu saat engkau mengatakan bahwa engkau bekerja untuk Kristus.” Demikian kata St. Josemaría Escrivá, seorang Kudus besar, yang telah mengajarkan kita jalan suci tersebut setelah lebih dahulu melakukannya.
Jika kamu merasa sulit mengikuti hidup Kristus dan tuntutan-tuntutan Suci dari Injil-Nya, itu karena engkau tidak melakukannya di dalam doa.
Karena itu, bertekunlah dalam doa. Dalam kekeringan rohani dan situasi seburuk apapun, bertekunlah dalam doa. Doa selalu membuahkan hasil. Bahkan jika kamu tidak tahu bagaimana caranya mulai untuk berdoa, atau apa yang harus dikatakan, bilamana kamu dengan rendah hati mengakuinya di hadapan Allah, maka Hati-Nya pasti tergerak oleh belas kasihan, dan lihatlah betapa terkagum-kagumnya kamu nanti saat menyaksikan dan menyadari gerakan cinta Tuhan yang dengan penuh kelembutan menarikmu kepada-Nya. Dia sendiri yang akan mengajarimu berdoa.
Yang perlu kamu lakukan hanyalah menjawab “Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.” (1Sam.3:10)
Serviam! Serviam! Serviam!

Semoga Perawan Suci Maria, Ibu Tuhan dan Ibu kita, menuntun putra-putri Gereja pada pengenalan dan persatuan sempurna dengan Putra-nya dalam doa, serta menyertai kita dalam karya kerasulan untuk membawa api yang sanggup menghanguskan seluruh dunia dalam kobaran Nyala Api Cinta.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 3 Januari 2016 ~ HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN ( EPIPHANY)

image

MENAMPAKKAN TUHAN DALAM DIRI

Bacaan:
Yes.60:1-6; Mzm.72:1-2.7-8.10-11.12-13; Ef.3:2-3a.5-6; Mat.2:1-12

Renungan:
Lihatlah! Tuhan, Sang Penguasa telah datang; dalam tangan-Nya kerajaan, kekuasaan, dan pemerintahan.” (Antifon Pembuka)
Hari ini kita merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan atau Epifani. Dulunya perayaan ini dikenal sebagai Pesta Tiga Raja/Majus dari Timur (Three Orient Kings / Three Wise Men From The East).
Hari ini, bersama seluruh umat Allah, kita mensyukuri kemurahan hati Bapa, yang berkenan menampakkan Cahaya Kemuliaan-Nya dalam diri Yesus, Putra-Nya.

Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” ( Yes.60:1.4.2)

Maka, bila terang Tuhan telah terbit atasmu, kamu dipanggil untuk datang mendekati Sang Terang. Inilah panggilan suci yang dijawab oleh Tiga Majus dari Timur. Mereka keluar dari kegelapan negerinya, dan memulai perjalanan mengikuti cahaya bintang, untuk menemukan Dia yang telah menggerakkan hati mereka oleh kobaran Api Cinta, laksana mempelai wanita yang keluar mencari Sang Kekasih (bdk. Kidung Agung).
Sama seperti Tiga Raja dari Timur, demikianlah siapapun yang hendak menemukan kebenaran, damai, keadilan, dan terang sejati, hanya dapat menemukan-NYA dengan mengikuti cahaya “Bintang“.
Itulah cahaya “Iman“. Inilah karunia Iman yang digerakkan oleh Api Roh Kudus. Api yang sanggup menghanguskan jiwa dalam keterpesonaan cinta akan Allah.

Kita akan selalu memerlukan Iman untuk menemukan Allah. Sebab kesederhanaan Hati Tuhan menjadikan pula Dia sebagai Yang Tersembunyi. Untuk menemukan Dia dalam keheningan Kandang Bethlehem, untuk memandang Dia yang sungguh hadir dalam Hosti Kudus, untuk dapat menyadari kehadiran-Nya selalu dalam setiap peristiwa hidup, kita memerlukan “Iman“. Di dalam Iman, kita mendapati gerakan Roh-Nya, yang dengan penuh kelembutan menuntun kita ke Aliran Hidup Yang Kekal.

Inilah panggilan kita. Suatu peziarahan suci menuju persatuan mistik yang sempurna dengan Allah. Satu hal yang hendaknya dimaklumi, bahwa perjalanan ini bukan tanpa kesalahan. Tetapi yakinlah, bahwa rahmat Tuhan akan selalu menyertaimu dalam perjalanan ini, asalkan kamu mau dengan rendah hati, dengan kepasrahan dan kepercayaan tanpa batas, menyerahkan dirimu untuk dibimbing oleh cahaya sukacita iman.

Sama seperti Tiga Raja membawa persembahan untuk diberikan kepada Sang Raja Semesta Alam, demikian pula perjalanan hidup kita hendaknya menjadi suatu persembahan yang hidup dan berkenan bagi Allah.
Bawalah Emas, yakni kesediaanmu untuk mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan lewat hidup dan karyamu. Kalau kamu sungguh-sungguh melayani Allah, buanglah keinginan untuk memperkaya diri atau mendatangkan kemuliaan bagi dirimu sendiri. Suatu paradoks yang indah bahwa kekayaan Kristus justru nampak dalam kemiskinan-Nya. Dalam pengosongan Diri-Nya yang tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, sehingga rela mengosongkan Diri-Nya dan mengambil rupa seorang Hamba (Manusia).
Itulah sebabnya, siapapun kamu yang menyebut diri pengikut Kristus, mulailah melepaskan segala, dan persembahkanlah emasmu, ketidaklekatanmu, kepada Kristus, Sang Segala.

Bawalah kepada-Nya Mur, lambang Penyembuhan dan Penyerahan Diri sebagai Kurban. Kekristenan adalah panggilan untuk terikat dengan Kristus. Kita mengingini apa yang Ia ingini, kita menolak apa yang Ia tolak, dan kita mencintai apa yang Ia cintai.
Konsekuensi dari ini, ialah Salib. Untuk dapat merangkul salib dengan bahagia, persembahkanlah mur, lambang kesediaan untuk terluka, namun juga kesediaan untuk mengampuni. Hanya dengan kesediaan untuk terluka dan mengampuni, yang membuat perjalanan hidup ini sungguh dipenuhi sukacita dalam segala situasi hidup, seburuk apapun itu.

Bawalah kepada-Nya Kemenyan, lambang Pengudusan. Sebagaimana Allah adalah Kudus, demikian pula kamu dipanggil kepada Kekudusan, kepada Kemerdekaan Sejati, bukannya perbudakan serta kebinasaan. Kamu dipanggil untuk bercahaya dalam cahaya kesucian. Kuduskanlah dirimu, kuduskanlah karyamu, dan kuduskanlah dunia ini dengan karyamu.
Kekudusan bukanlah suatu kemewahan yang hanya diperuntukkan bagi segelintir orang, melainkan suatu panggilan bagi kita semua tanpa terkecuali.
Kekudusan sejati tumbuh dari kesadaran untuk berkanjang dalam Doa. Seorang yang ingin Kudus, hendaknya terlebih dahulu menjadi seorang pendoa. Pendoa yang bukan melulu meminta, melainkan mencinta.

Apa yang dipersembahkan oleh Tiga Raja dari Timur, semuanya dapat ditemukan dalam diri seorang wanita yang paling bercahaya dalam Gereja. Dialah Perawan Suci Maria, Bunda Allah dan Bunda Gereja.
Barangsiapa yang mengingini hidupnya menjadi suatu persembahan hidup yang berkenan bagi Allah, hendaknya meneladani Bunda Maria. Hidupnya senantiasa menunjuk kepada Kristus. Dialah teladan yang paling aman. Mereka yang hendak memandang Allah, dapat melihatnya pada dan melalui mata Maria yang senantiasa terarah kepada Putranya.
Semoga Hari Raya Penampakan Tuhan ini menjadi perayaan Iman yang mengobarkan hati kita untuk menjalani hidup yang senantiasa memandang Allah.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++