Meditasi Harian 25 Agustus 2015 ~ Selasa dalam Pekan Biasa XXI

image

HUKUM ATAU HUKUMAN ?

Bacaan:
1Tes.2:1-8; Mzm.139:1-3,4-6; Mat.23:23-26

Renungan:
Salah satu keindahan dan kebanggaan Gereja Katolik adalah kesetiaannya terhadap Kitab Suci dan Tradisi, yang nampak begitu jelas pada kesatuan dan universalitas, adanya suksesi apostolik dan hierarki, ketaatan pada hukum kanonik, dogma serta ajaran magisterium gereja, yang secara konsisten telah membimbing dan menjaga Gereja Katolik dalam kemurnian, sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan Yesus Kristus sendiri sebagai Sang Pendiri.
Akan tetapi, perlu dimengerti bahwa hukum dan aturan, tradisi dan ajaran itu ada untuk melayani umat. Ketaatan kita dimaksudkan sebagai ketaatan yang “membebaskan“, yang membawa kita pada persatuan mesra dengan Allah secara sehat dan benar.
Hukum diberikan untuk menjadikan hidup beriman kita lebih baik, bukan sebaliknya kita diperbudak oleh hukum itu secara keliru, yang menjadikan kita kehilangan esensi utama dari hukum itu, sebagaimana dikatakan dalam Injil hari ini, yakni “keadilan, belas kasih, dan kesetiaan“.

Tentu saja siapapun yang tunduk di bawah Hukum Tuhan, dan yang diberikan tugas untuk memastikan Hukum itu ditaati oleh seluruh umat Allah, yaitu Gereja Katolik yang Kudus, sungguh dituntut untuk menjalankannya dalam keadilan, belas kasih dan kebenaran.
Menjelang Sinode Keluarga di Roma pada bulan Oktober nanti, melalui bacaan Injil hari ini kita diminta untuk melihat realita hidup umat dalam terang iman.
Saat ini ada kebutuhan pastoral yang mendesak akan pelbagai situasi hidup menggereja, yang akan sulit diatasi bila masing-masing pihak, entah mereka yang menyebut diri kaum tradisional, progresif, moderat, konservatif, liberal, atau juga mereka yang tidak mau terjebak dalam pengkotak-kotakan dan label demikian, tidak dengan penuh kerendahan hati dan dikobarkan oleh cinta akan Allah dan sesama untuk duduk bersama mencari solusi yang tepat.
Dialog dalam kasih persaudaraan harus ada dan mutlak perlu. Kasih akan Allah dan umat-Nya, hendaknya mengatasi kepentingan pribadi dan kelompok.
Kita hidup di zaman yang sungguh menantang hidup beriman kita. Bagaimana kita mengkomunikasikan iman di tengah berbagai pergeseran nilai, budaya kematian, dan penolakan akan eksistensi Allah. Sementara itu, hidup menggereja saat ini harus bergumul dengan berbagai tantangan yang memerlukan jawaban mendesak.
Pernikahan bermasalah, komuni bagi mereka yang memiliki halangan kanonik, desakan kelompok dan orientasi seksual tertentu untuk diakui, menurunnya statistik umat maupun panggilan khusus di berbagai negara, budaya konsumerisme dan hedonisme yang mulai melunturkan nilai-nilai iman dan arti keluarga maupun pernikahan, pemahaman hak asasi yang keliru yang berujung pada pembenaran untuk melenyapkan kehidupan bukannya mempertahankan kehidupan, kesenjangan sosial disertai kemiskinan dan ketidakadilan yang menyengsarakan, kemajuan teknologi dan komunikasi yang seringkali justru anti sosial dan anti Tuhan, serta berbagai masalah lainnya.

Tentu saja Gereja tidak pernah boleh merubah ajarannya untuk menyesuaikan diri dengan arus zaman yang menyesatkan. Tentu saja tidak boleh ada interpretasi baru yang mencoba membenarkan kecenderungan dan keengganan meninggalkan dosa atas dasar Kerahiman yang keliru, sebagaimana disarankan oleh kelompok tertentu dalam Gereja.
Akan tetapi, inilah realita hidup umat yang tidak mungkin untuk sekadar menjawab “Tidak” terhadap desakan perubahan, dan menjatuhkan vonis atau menolak perubahan hukum sebagai harga mati tanpa kepedulian akan pesan Injil akan keadilan, belas kasih dan kesetiaan.
Wajah Gereja dapat senantiasa dibaharui tanpa harus merubah Kitab Suci dan Tradisi.
Dalam Injil hari ini, harus dimengerti bahwa kritikan Yesus tidak pernah dimaksudkan sebagai pernyataan akan kekeliruan Hukum Taurat. Tentu saja tidaklah demikian.
Yang dikritik Yesus adalah bagaimana bangsa Yahudi bersama para pemukanya menjalankan Hukum Tuhan secara harafiah, cinta semu yang terukir dalam buku aturan bukannya terukir di hati, yang bukannya semakin menambah kecintaan mereka akan Allah dan sesama, tetapi justru semakin mengerdilkan keadilan, belas kasih, dan kesetiaan, yang harusnya menjiwai hukum itu.
Keprihatinan Yesus inilah, yang seharusnya menjadi keprihatinan kita saat ini.
Seorang Katolik harusnya menjadi teladan dalam ketaatan pada Hukum Tuhan karena cinta, bukannya menjalani hukum Tuhan itu sebagai beban layaknya seorang terhukum yang dijatuhi hukuman berat.

Gereja Katolik bukanlah menara gading yang tak tersentuh. Iman Katolik bukanlah sesuatu yang hanya dikagumi tetapi sulit dijalani. Sejarah dan Hukum Gereja Katolik harus dilihat secara utuh, bukan hanya terjebak utopia atau kenangan akan masa jayanya, dan tidak menyadari akan Bahtera yang bocor sana-sini dan hampir tenggelam.
Sejak awal kelahiran Gereja 2000 tahun yang lalu, Iman Katolik adalah Iman yang hidup, yang mendatangkan sukacita, pembebasan, pertobatan, yang membawa kembali domba-domba yang hilang ke dalam satu kawanan.
Lihatlah Gereja perdana yang hidup begitu dinamis dan merasul. Mereka memiliki ketaatan mutlak pada hukum Tuhan, karena menjalankannya dalam keadilan, belas kasih dan kesetiaan.
Cinta akan Allah dan sesama-lah yang menggerakkan hati mereka untuk merasul serta membawa umat pada kecintaan akan Hukum Tuhan, sebagaimana dikatakan oleh Rasul St. Paulus dalam bacaan pertama hari ini, “Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi.
Maka, kiranya Injil hari ini meruntuhkan tembok-tembok kekerasan hati kita dalam memandang hukum Tuhan.
Semoga mereka yang diserahi tugas untuk memelihara Hukum Tuhan dalam Gereja, tidak sekadar memegang teguh hukum itu tanpa kepedulian terhadap realita umat, tetapi membahasakannya lewat kata dan tindakan keadilan, belas kasih, dan kesetiaan yang “nyata“, yang membawa orang pada kecintaan akan hukum itu, dan pada kesadaran bahwa sebenarnya “tidak ada satu iota pun” dari hukum itu yang harus dihapus atau dirubah, melainkan hati kitalah yang harus diubah untuk mengerti dan menjalankannya secara benar dan tepat.

Komunikasi kasih adalah dasar yang perlu ada agar Hukum Tuhan dapat dijalankan dan ditaati dengan penuh sukacita. Hidup “doa“, sebagaimana dikatakan oleh Bapa Suci Paus Emeritus Benediktus XVI, adalah “jawaban” atas segala permasalahan dalam Gereja saat ini.
Mari kita berdoa agar Sinode Keluarga yang akan berlangsung di Roma pada bulan Oktober nanti, dapat berjalan dalam bimbingan Roh Kudus, agar para Bapa Sinode yakni para Uskup kita dari seluruh dunia, dalam kesatuan dengan Bapa Suci Paus Fransiskus, dapat menghasilkan buah-buah Roh dalam tanggapan pastoral yang otentik dan sungguh menjadi jawaban terhadap berbagai permasalahan hidup beriman dan sosial umat Katolik saat ini.
Kiranya Santa Perawan Maria, Bunda Gereja, sebagaimana pesan Tuhan Yesus Kristus Putranya, menyertai Gereja Katolik dalam peziarahannya agar tidak pernah menyimpang dari kemurnian iman, dan untuk senantiasa berjalan menuju Allah dengan penuh sukacita Injil.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Tinggalkan komentar