Meditasi Harian 26 Agustus 2015 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XXI

image

BERHENTILAH BERTOPENG !

Bacaan:
1Tes.2:9-13; Mzm.139:7-8,9-10,11-12ab; Mat.23:27-32

Renungan:
Lokasi pekuburan Palestina di zaman Tuhan Yesus seringkali berada di depan jalan-jalan umum. Hidup dan aturan keagamaan Yahudi yang begitu ketat soal halal dan tidak halal, tahir dan tidak tahir, najis dan tidak najis, juga berdampak pada segenap sendi kehidupan, termasuk soal pekuburan. Kuburan-kuburan disana, karena banyak yang terletak di pinggir jalan, umumnya dilaburi atau dicat putih untuk dapat terlihat jelas di bawah matahari, lebih-lebih mendekati hari-hari besar keagamaan Yahudi, guna menghindarkan orang-orang yang lewat dari menyentuhnya secara tidak sengaja, karena berakibat menajiskan siapa saja yang menyentuh, serta membuatnya tidak layak untuk mengikuti upacara-upacara keagamaan.
Maka, dalam kecamannya terhadap para ahli Taurat dan orang Farisi, Yesus mengumpamakan sikap keagamaan mereka seperti kuburan yang berlabur putih bersih, tetapi di dalamnya penuh dengan tulang-belulang dan pelbagai jenis kotoran lainnya. Hidup keagamaan mereka secara lahiriah kelihatan benar, tetapi batin mereka sebenarnya dipenuhi kemunafikan dan kedurjanaan.

Tentu kita akan setuju dan membenarkan kritikan Yesus. Kita pun membenci kemunafikan dan kedurjanaan.
Tetapi, tidakkah kita menemukan kesamaan sikap beriman antara hidup kita dengan hidup para ahli Taurat dan orang Farisi?
Bukankah kita pun pernah, atau mungkin seringkali melakukan hal yang sama, bertopengkan kekudusan guna menutup borok-borok kedosaan kita dari pandangan publik? Menjatuhkan penilaian negatif mengenai cara hidup orang-orang di sekitar kita, padahal diri kita pun memiliki kekurangan yang sama, bahkan lebih banyak?
Memang benar bahwa menegur sesama saudara-saudari dalam iman dan dilandasi kasih persaudaraan adalah suatu kewajiban suci.
Tetapi, luangkanlah waktu di setiap akhir hari menjelang beristirahat, untuk melihat hidup harian kita. Sudahkah kita bersikap jujur di hadapan Allah dan sesama, tanpa kemunafikan dan kedurjanaan?
Pemeriksaan batin setiap hari, sebagaimana dianjurkan oleh para Kudus, adalah sarana yang sangat membantu seorang beriman untuk mengoreksi diri dan bersikap jujur di hadapan Allah dan sesama.
Mereka yang senantiasa rajin memeriksa batin, adalah mereka yang kemudian bergegas ke ruang pengakuan dosa, serta tidak akan lagi berbantah di hadapan Tuhan dan sesama dengan mengatakan bahwa dia tidak merasa berdosa atau mengklaim tidak pernah melakukan dosa, karena dalam pemeriksaan batinnya setiap hari, dia justru mendapati ada banyak kekurangan dan dosa yang ia lakukan dalam satu hari saja.

Pemeriksaan batin adalah salah satu check list kita terhadap realita hidup, dan akan apa sesungguhnya yang menjadi motivasi kita ketika melakukan sesuatu.
Jangan sampai di balik karya pelayanan kita, keaktifan menggereja kita, pemberian derma dan berbagai kegiatan sosial karitatif kita, justru bukan dilandasi oleh kerinduan untuk menyatakan kemuliaan Tuhan, melainkan justru pemuliaan diri, kerakusan dan kehausan untuk berkuasa, diakui dan dihormati, keinginan untuk dipuji dan dianggap saleh, serta berbagai niat-niat yang tidak murni lainnya.
Anda mungkin mengklaim diri bekerja bagi Allah, tetapi ingatlah selalu bahwa pada akhirnya, dari buahnyalah akan kelihatan, apakah itu benar Karya Allah, atau karya manusia.
Sikap peduli tampilan luar ketimbang tampilan dalam, bukan hanya terjadi dalam karya yang semata-mata rohani saja.
Manusia saat ini diperhadapkan pada budaya instan. Konsumerisme, narsisme, dan hedonisme membuat banyak orang untuk terlalu menjaga kemudaan fisik, mempertontonkan kekayaan dan kesuksesan, bahkan hal-hal yang sifatnya pribadi atau personal, kini menjadi tontonan publik dalam bentuk reality show yang menyimpang dari hiburan yang sehat.
Orang begitu mempedulikan opini publik terhadap hidup lahiriah mereka, dan justru mengabaikan apa yang paling penting dan sungguh amat menentukan, yaitu bagaimana mempersiapkan diri untuk berdiri di hadapan Tahta Pengadilan Allah, dalam keadaan kudus dan tak bercela.

Injil hari merupakan teguran iman bagi kita semua, untuk tidak hanya mempedulikan atau mendedikasikan seluruh waktu kehidupan kita dengan memoles bagian luar, melainkan juga untuk memoles bagian dalam. Betapa disayangkan memiliki segala hal yang dapat dikatakan bahagia menurut ukuran dunia yang sementara dan fana ini, tetapi kehilangan kebahagiaan kekal karena tidak pernah memikirkan, apalagi merindukan kehidupan sesudah peziarahan kita di bumi ini.
Jangan hanya pandai berinvestasi untuk hidup nyaman di dunia. Ingatlah pula untuk berinvestasi bagi kekekalan, yang tidak akan dimakan ngengat dan karat.
Jangan kelihatan bercahaya di luar karena berbalutkan perhiasan ratna mutu manikam, padahal hati kita begitu gelap dan menjijikkan untuk menjadi kediaman Tuhan Yesus, Sang Raja segala raja.
Semoga St. Perawan Maria, Bunda Kesalehan sejati, senantiasa menuntun dan memurnikan panggilan dan karya kita dengan doa dan kasih keibuannya, untuk tidak bertopeng di hadapan Allah dan sesama, untuk menyilaukan pandangan orang bukan karena balutan lahiriah yang penuh kebohongan, melainkan menerangi dunia karena keluar dari hati yang selalu siap sedia untuk dimurnikan dalam kuasa cinta Ilahi.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 25 Agustus 2015 ~ Selasa dalam Pekan Biasa XXI

image

HUKUM ATAU HUKUMAN ?

Bacaan:
1Tes.2:1-8; Mzm.139:1-3,4-6; Mat.23:23-26

Renungan:
Salah satu keindahan dan kebanggaan Gereja Katolik adalah kesetiaannya terhadap Kitab Suci dan Tradisi, yang nampak begitu jelas pada kesatuan dan universalitas, adanya suksesi apostolik dan hierarki, ketaatan pada hukum kanonik, dogma serta ajaran magisterium gereja, yang secara konsisten telah membimbing dan menjaga Gereja Katolik dalam kemurnian, sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan Yesus Kristus sendiri sebagai Sang Pendiri.
Akan tetapi, perlu dimengerti bahwa hukum dan aturan, tradisi dan ajaran itu ada untuk melayani umat. Ketaatan kita dimaksudkan sebagai ketaatan yang “membebaskan“, yang membawa kita pada persatuan mesra dengan Allah secara sehat dan benar.
Hukum diberikan untuk menjadikan hidup beriman kita lebih baik, bukan sebaliknya kita diperbudak oleh hukum itu secara keliru, yang menjadikan kita kehilangan esensi utama dari hukum itu, sebagaimana dikatakan dalam Injil hari ini, yakni “keadilan, belas kasih, dan kesetiaan“.

Tentu saja siapapun yang tunduk di bawah Hukum Tuhan, dan yang diberikan tugas untuk memastikan Hukum itu ditaati oleh seluruh umat Allah, yaitu Gereja Katolik yang Kudus, sungguh dituntut untuk menjalankannya dalam keadilan, belas kasih dan kebenaran.
Menjelang Sinode Keluarga di Roma pada bulan Oktober nanti, melalui bacaan Injil hari ini kita diminta untuk melihat realita hidup umat dalam terang iman.
Saat ini ada kebutuhan pastoral yang mendesak akan pelbagai situasi hidup menggereja, yang akan sulit diatasi bila masing-masing pihak, entah mereka yang menyebut diri kaum tradisional, progresif, moderat, konservatif, liberal, atau juga mereka yang tidak mau terjebak dalam pengkotak-kotakan dan label demikian, tidak dengan penuh kerendahan hati dan dikobarkan oleh cinta akan Allah dan sesama untuk duduk bersama mencari solusi yang tepat.
Dialog dalam kasih persaudaraan harus ada dan mutlak perlu. Kasih akan Allah dan umat-Nya, hendaknya mengatasi kepentingan pribadi dan kelompok.
Kita hidup di zaman yang sungguh menantang hidup beriman kita. Bagaimana kita mengkomunikasikan iman di tengah berbagai pergeseran nilai, budaya kematian, dan penolakan akan eksistensi Allah. Sementara itu, hidup menggereja saat ini harus bergumul dengan berbagai tantangan yang memerlukan jawaban mendesak.
Pernikahan bermasalah, komuni bagi mereka yang memiliki halangan kanonik, desakan kelompok dan orientasi seksual tertentu untuk diakui, menurunnya statistik umat maupun panggilan khusus di berbagai negara, budaya konsumerisme dan hedonisme yang mulai melunturkan nilai-nilai iman dan arti keluarga maupun pernikahan, pemahaman hak asasi yang keliru yang berujung pada pembenaran untuk melenyapkan kehidupan bukannya mempertahankan kehidupan, kesenjangan sosial disertai kemiskinan dan ketidakadilan yang menyengsarakan, kemajuan teknologi dan komunikasi yang seringkali justru anti sosial dan anti Tuhan, serta berbagai masalah lainnya.

Tentu saja Gereja tidak pernah boleh merubah ajarannya untuk menyesuaikan diri dengan arus zaman yang menyesatkan. Tentu saja tidak boleh ada interpretasi baru yang mencoba membenarkan kecenderungan dan keengganan meninggalkan dosa atas dasar Kerahiman yang keliru, sebagaimana disarankan oleh kelompok tertentu dalam Gereja.
Akan tetapi, inilah realita hidup umat yang tidak mungkin untuk sekadar menjawab “Tidak” terhadap desakan perubahan, dan menjatuhkan vonis atau menolak perubahan hukum sebagai harga mati tanpa kepedulian akan pesan Injil akan keadilan, belas kasih dan kesetiaan.
Wajah Gereja dapat senantiasa dibaharui tanpa harus merubah Kitab Suci dan Tradisi.
Dalam Injil hari ini, harus dimengerti bahwa kritikan Yesus tidak pernah dimaksudkan sebagai pernyataan akan kekeliruan Hukum Taurat. Tentu saja tidaklah demikian.
Yang dikritik Yesus adalah bagaimana bangsa Yahudi bersama para pemukanya menjalankan Hukum Tuhan secara harafiah, cinta semu yang terukir dalam buku aturan bukannya terukir di hati, yang bukannya semakin menambah kecintaan mereka akan Allah dan sesama, tetapi justru semakin mengerdilkan keadilan, belas kasih, dan kesetiaan, yang harusnya menjiwai hukum itu.
Keprihatinan Yesus inilah, yang seharusnya menjadi keprihatinan kita saat ini.
Seorang Katolik harusnya menjadi teladan dalam ketaatan pada Hukum Tuhan karena cinta, bukannya menjalani hukum Tuhan itu sebagai beban layaknya seorang terhukum yang dijatuhi hukuman berat.

Gereja Katolik bukanlah menara gading yang tak tersentuh. Iman Katolik bukanlah sesuatu yang hanya dikagumi tetapi sulit dijalani. Sejarah dan Hukum Gereja Katolik harus dilihat secara utuh, bukan hanya terjebak utopia atau kenangan akan masa jayanya, dan tidak menyadari akan Bahtera yang bocor sana-sini dan hampir tenggelam.
Sejak awal kelahiran Gereja 2000 tahun yang lalu, Iman Katolik adalah Iman yang hidup, yang mendatangkan sukacita, pembebasan, pertobatan, yang membawa kembali domba-domba yang hilang ke dalam satu kawanan.
Lihatlah Gereja perdana yang hidup begitu dinamis dan merasul. Mereka memiliki ketaatan mutlak pada hukum Tuhan, karena menjalankannya dalam keadilan, belas kasih dan kesetiaan.
Cinta akan Allah dan sesama-lah yang menggerakkan hati mereka untuk merasul serta membawa umat pada kecintaan akan Hukum Tuhan, sebagaimana dikatakan oleh Rasul St. Paulus dalam bacaan pertama hari ini, “Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi.
Maka, kiranya Injil hari ini meruntuhkan tembok-tembok kekerasan hati kita dalam memandang hukum Tuhan.
Semoga mereka yang diserahi tugas untuk memelihara Hukum Tuhan dalam Gereja, tidak sekadar memegang teguh hukum itu tanpa kepedulian terhadap realita umat, tetapi membahasakannya lewat kata dan tindakan keadilan, belas kasih, dan kesetiaan yang “nyata“, yang membawa orang pada kecintaan akan hukum itu, dan pada kesadaran bahwa sebenarnya “tidak ada satu iota pun” dari hukum itu yang harus dihapus atau dirubah, melainkan hati kitalah yang harus diubah untuk mengerti dan menjalankannya secara benar dan tepat.

Komunikasi kasih adalah dasar yang perlu ada agar Hukum Tuhan dapat dijalankan dan ditaati dengan penuh sukacita. Hidup “doa“, sebagaimana dikatakan oleh Bapa Suci Paus Emeritus Benediktus XVI, adalah “jawaban” atas segala permasalahan dalam Gereja saat ini.
Mari kita berdoa agar Sinode Keluarga yang akan berlangsung di Roma pada bulan Oktober nanti, dapat berjalan dalam bimbingan Roh Kudus, agar para Bapa Sinode yakni para Uskup kita dari seluruh dunia, dalam kesatuan dengan Bapa Suci Paus Fransiskus, dapat menghasilkan buah-buah Roh dalam tanggapan pastoral yang otentik dan sungguh menjadi jawaban terhadap berbagai permasalahan hidup beriman dan sosial umat Katolik saat ini.
Kiranya Santa Perawan Maria, Bunda Gereja, sebagaimana pesan Tuhan Yesus Kristus Putranya, menyertai Gereja Katolik dalam peziarahannya agar tidak pernah menyimpang dari kemurnian iman, dan untuk senantiasa berjalan menuju Allah dengan penuh sukacita Injil.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 24 Agustus 2015 ~ Pesta St. Bartolomeus, Rasul

image

JANGAN ADA DUSTA DI ANTARA KITA

Bacaan:
Why.21:9b-14; Mzm.145:10-11,12-13ab,17-18; Yoh.1:45-51

Renungan:
Rasul St. Bartolomeus yang diperingati oleh Gereja Katolik pada hari ini, adalah salah satu dari 12 Rasul dari Tuhan kita Yesus Kristus. Ia dikenal pula dengan nama “Natanael“. Di kemudian hari setelah Tuhan Yesus naik ke surga, Rasul St. Bartolomeus mewartakan Injil ke jazirah Arabia, termasuk Syria dan Persia, bahkan sampai ke India. Pada akhir hidupnya, ia mewartakan Injil ke Armenia, dan berhasil menobatkan Polymius, seorang Raja Armenia, hingga akhirnya dia minta dibaptis oleh Rasul St. Bartolomeus. Peristiwa tersebut mendatangkan kemarahan Astyages, adik Raja Polymius, yang kemudian memerintahkan sang Rasul untuk dibunuh. Rasul St. Bartolomeus menerima mahkota kemartiran dengan cara dikuliti hidup-hidup kemudian wafat disalib dalam posisi terbalik pada akhir abad ke-1 Masehi di Albanopolis, Armenia.
Di kemudian hari jenasahnya dipindahkan dari Armenia, dan saat ini sebagian besar dari potongan tulang jenasahnya disemayamkan dengan penuh hormat dalam Gereja Katolik Basilika St. Bartolomeus, yang terletak di sebuah pulau di tengah sungai Tiber (Roma).
Hidup Rasul St. Bartolomeus memancarkan suatu kesaksian iman akan Allah yang luar biasa. Dalam bacaan Injil hari ini pun, dikatakan bahwa Tuhan Yesus memuji kejujuran hidup Rasul St. Bartolomeus dengan berkata, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!

Kejujuran adalah salah satu kebajikan dalam hidup Kristiani yang menyukakan hati Tuhan.
Jika “Ya“, katakan “Ya“. Jika “Tidak“, katakan “Tidak“.
Seorang Katolik tidak boleh bersikap abu-abu atau suam-suam kuku.
Dalam hidup menggereja, dalam pelayanan kasih, karya kerasulan dalam bentuk apapun, termasuk dalam profesi kerja dan panggilan apapun yang kita jalani, seorang Katolik harus selalu menghindari bahaya “kepalsuan” dalam hidup.
Tidak boleh menjadi orang Katolik yang setengah-setengah. Mengatakan menyembah Allah, tetapi masih memelihara berhala-berhala dab berpegang pada hal atau benda yang bukan bersumber dari kuasa Allah.
Jadilah teladan kejujuran dalam pekerjaanmu, sesederhana apapun itu. Jalanilah panggilan hidupmu dengan senantiasa menjunjung tinggi kebenaran. Jadilah lilin yang bernyala sampai titik penghabisan, kendati disaat semua orang disekitarmu memilih menjadi lilin yang padam di tengah jalan, karena tidak sanggup melawan desakan untuk turut serta dalam kegelapan.

Kejujuran di hadapan sesama hanya mungkin dilakukan bilamana kita terlebih dahulu telah bersikap jujur di hadapan Tuhan.
Bukankah Tuhan Mahatahu, bahkan tak sehelai rambutmu pun yang jatuh tanpa sepengetahuan-Nya?
Jikalau demikian, bagaimana mungkin kamu menjalani hidup dalam kebusukan dosa yang dikubur dalam-dalam, berusaha menyembunyikannya dalam topeng kepalsuan, sambil tetap melayani Tuhan dan menyembut dirimu hamba yang setia, seolah Tuhan bisa dibodohi atau didustai?
Meskipun anak-anak kegelapan mencoba menyamar sebagai malaikat terang dan menipu banyak orang, di hadapan Tuhan tidak ada yang tersembunyi.
Maka, bila kamu memang adalah putra-putri Cahaya, jujurlah di hadapan Sang Cahaya. Jangan berusaha bercahaya, sambil tetap memelihara kegelapan dalam jiwa. Kendati demikian, jangan pernah menjadikan alasan “masih punya dosa“, sebagai pembenaran untuk menjadi cahaya yang menerangi kegelapan dunia. Kejujuran bukan berarti tidak pernah jatuh dalam dosa, ketiadaan cacat, atau tidak pernah melakukan kesalahan.
Kejujuran berarti kesadaran akan kerapuhan diri, yang mendorong kita untuk meletakkannya ke dalam tangan belas kasih Tuhan, untuk diubahkan. Mereka yang berani jujur dan merendahkan diri di hadapan Allah dalam penyerahan diri total, akan mendapati ketidaksempurnaan dalam dirinya secara perlahan disempurnakan oleh Allah.
Jalanilah hidup setiap hari bagaikan di tengah medan pertempuran antara membiarkan dirimu dikalahkan dan jatuh dalam kepalsuan si jahat, atau untuk menjadi pemenang dalam kejujuran dan kebenaran di hadapan Allah dan sesama.

Anda dan saya tahu, dalam hal apa secara spesifik kita sering bersikap tidak jujur. Ketidakjujuran orang yang satu mungkin berbeda dengan orang yang lain. Tetapi, kendati bentuk, situasi, atau tindakannya berbeda, pada hakikatnya untuk dapat mengikuti Tuhan secara “bebas“, kepalsuan demikian haruslah “dilepaskan“.
Semoga Rasul St. Bartolomeus menjadi teladan kita, akan bagaimana untuk hidup tanpa kepalsuan, dan bagaimana memiliki keberanian beriman untuk mewartakan kebenaran sampai titik darah penghabisan.
Kiranya Santa Perawan Maria, Bunda Tak Bercela, membimbing kita di jalan kejujuran menuju Yesus Putranya, Sang Kebenaran Sejati.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 23 Agustus 2015 ~ Minggu Biasa XXI

image

HIDUP ITU PILIHAN, BIJAKLAH MEMILIH !

Bacaan:
Yos.24:1-2a,15-17,18b; Mzm.34:2-3,16-17,18-19,20-21,22-23; Ef.5:21-32; Yoh.6:60-69

Renungan:
Saat menyeberangi Sungai Yordan, ketika tinggal sedikit lagi akan sampai ke Tanah Terjanji, Yosua berpaling kepada bangsa Israel dan meminta mereka untuk memilih.
Rasul Paulus dalam bacaan II hari ini juga berbicara mengenai konsekuensi dari pilihan hidup, terutama dalam hal pernikahan dan menggereja.
Dan dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus pun, mengetahui bahwa saat penyaliban-Nya semakin dekat, ketika paripurna tindakan cinta-Nya sudah di depan mata, Dia mulai mengungkapkan kedalaman tuntutan hidup yang Ia harapkan dapat di-Amin-kan oleh para pengikut-Nya, akan bagaimana mereka harus melihat Dia dalam pernyataan Diri yang senyata-Nya.
Bahwa Dia adalah benar-benar makanan, dan hanya dengan makan Tubuh-Nya dan minum Darah-Nya kita dapat beroleh kekekalan.
Untuk bisa memahami kedalaman bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini, ada suatu kenyataan iman yang harus dimengerti oleh kita.

Ibarat seorang mempelai pria yang begitu mencintai mempelai wanita, sebagaimana diungkapkan Rasul St. Paulus dalam bacaan II hari ini, akan ada saat dalam hidup beriman kita, dimana Sang Kekasih, untuk dapat mencurahkan cinta-Nya secara sempurna, untuk mengalami persatuan mistik dengan Dia, untuk dapat mengalami kedalaman cinta dan pengenalan akan Dia secara baru, akan ada saat dimana Tuhan akan meminta kita untuk “memilih“.
Itulah saat dimana Tanah Terjanji semakin dekat. Sama seperti bangsa Israel yang ditanyakan oleh Yosua, saat itu kamupun akan diminta untuk memilih, “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini.” Berbahagialah kamu bilamana dalam keadaan demikian, sanggup menjawab, “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!
Seiring dengan ayunan langkah cintamu yang semakin dekat mendekati Tuhan, kamu akan mulai merasakan gerak Cinta-Nya yang sama sekali baru, bagaikan suatu api yang membakarmu sampai hangus, yang menuntutmu untuk melepaskan segala, untuk beroleh Dia yang adalah Sang Segala.
Untuk memandang Tuhan dengan suatu kesadaran mistik akan tuntutan-Nya menyambut Roti dan Anggur dalam Sakramen Ekaristi sebagai benar-benar Tubuh dan Darah-Nya.
Kamu mungkin berkata, “Tentu saja saya tahu Hosti itu adalah Tubuh Tuhan. Iman Katolik mengajar saya demikian. Bertahun-tahun saya menyambut-Nya dengan keyakinan yang sama.
Bagi banyak orang Katolik, permenungan ini mungkin terkesan menggugat rasa beriman.
Akan tetapi, sudahkah kita benar-benar memahami Sakramen Ekaristi sebagai sungguh-sungguh Tubuh dan Darah Tuhan?
Pernyataan Yesus dalam Injil hari ini adalah saat menentukan dimana Iman akan Dia menuntut para Pengikut-Nya untuk memilih.
Mereka mulai mengerti bahwa bila mereka ingin benar-benar menerima Yesus sebagai Santapan untuk hidup kekal, untuk dapat meng-Amin-kan tubuh dan Darah-Nya sebagai makanan, mereka pun akan menerima konsekuensi dari persatuan itu.
Perkataan Tuhan Yesus begitu keras, sehingga muncullah reaksi para pengikut-Nya dalam Yoh.6:66 (yang seringkali diibaratkan sebagai ayat AntiKris), sebab “Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.

Mengertilah hal ini.
Iman kita tidak diuji dalam air yang tenang, melainkan dalam api. Kesejatian seorang pengikut Kristus akan terlihat bukan terutama dari bagaimana dia bersikap saat hari yang cerah dan berbunga, disaat dia menjalani hidup dalam kelimpahan susu dan madu (kemanisan rohani), saat doa hampir selalu terjawab. Dengan kata lain, saat Tuhan seolah meletakkanmu di pangkuan-Nya dan membelaimu dengan penuh kasih. Walaupun memang kita dapat menemukan kenyataan bahwa seorang beriman dapat durhaka dan melupakan Tuhan di tengah segala kelimpahan rahmat-Nya, namun bukan itu ujian terbesar dalam hidup berimannya.
Ujian terbesar dalam hidup seorang beriman, kesejatian imannya akan terlihat dari bagaimana dia bersikap di dalam badai, saat doa seolah tak pernah terjawab, saat hidup keluarganya dan harta bendanya berantakan seolah Tuhan telah menutup keran-keran berkat-Nya dan membiarkan hidup keluarganya kering kerontang, saat musibah datang silih berganti dan langit yang cerah diganti awan kelam disusul malam rohani yang gelap dan mencekam.
Saat Tuhan menurunkan kamu dari pangkuan, dan membiarkanmu mulai berjalan bersama Dia secara baru.

Maka, renungkanlah pertanyaan ini dan jawablah dengan jujur, “Sudahkah saya benar-benar mengimani Sakramen Ekaristi sebagai benar-benar Tubuh dan Darah Tuhan? Sudahkan saya benar-benar melihat hidup saya dalam terang Ekaristi?”
Bahwa sebagaimana Tuhan menjadikan Tubuh dan Darah-Nya sebagai santapan bagimu, maka demikian pula hendaknya hidupmu adalah hidup yang senantiasa terbagi-bagi, terpecah-pecah untuk “memberi makan” kepada sesama. Kalau kamu memang setiap hari sungguh mengimani Ekaristi, seharusnya kamu tidak akan pernah kaget mendapati dirimu dimusuhi dunia, tidak perlu heran manakala mendapati tuntutan salib terasa berat di sepanjang perjalanan, tidak perlu bingung ketika diperhadapkan pada berbagai pertanyaan hidup, apalagi mencari jawaban pada juru ramal, sihir dan okultisme, narkoba, pornografi, seks bebas, hamba uang dan kekuasaan, maupun hiburan-hiburan tidak sehat lainnya.
Bila memang benar kamu menghidupi Ekaristi dalam keluargamu, seharusnya kamu tidak begitu mudah menyerah terhadap pernikahanmu, terhadap ketidaksetiaan suamimu, terhadap kekurangan yang kautemukan dalam diri istrimu. Seharusnya kamu tidak mengijinkan anak-anak memilih agama seperti dari katalog belanja atas nama toleransi dan kebebasan yang keliru, atau kehilangan kesabaran merawat anakmu yang terlahir dalam keadaan cacat fisik atau mental, apalagi membuang mereka dan melakukan tindakan aborsi sebelum terlahir ke dunia.
Saat kamu melangkah ke depan altar dalam Komuni Kudus, untuk menjawab “Amin” terhadap perkataan “Tubuh Kristus” yang diucapkan oleh Imam sambil memberikan Hosti Kudus sebagai santapan bagimu, seharusnya daya hidup yang bersumber dari santapan Ekaristi membuatmu tahu bersikap di tengah badai dan pergumulan hidup.

Jangan manja dalam beriman. Kenalilah imanmu. Hidupilah imanmu. Tidak cukup hanya mengakui diri rasul Ekaristi, hidupmu seharusnya menjadi suatu kesaksian yang otentik dan meyakinkan.
Bilamana kamu telah sungguh memahami tuntutan suci dan konsekuensi beriman dari Injil hari ini, maka semoga kamu dapat menjawab pertanyaan Tuhan dalam Injil hari ini, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?
Sama seperti Rasul Petrus, jawablah, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal.
Suatu jawaban yang lahir dari pengenalan cinta yang sejati akan Dia.
Inilah “Rahasia Besar” dari persatuan cinta yang dimaksud oleh Rasul Paulus dalam bacaan II hari ini. Suatu cinta mistik, yang membuatmu sanggup menerima “apapun” dari tangan Tuhan, dan tidak pernah berkurang dalam cinta akan Dia, malah sanggup melihat segala sesuatu yang terjadi di hidupmu dalam terang cinta-Nya, ibarat mempelai wanita yang menyukakan hati Sang Mempelai Pria, yakni Kristus sendiri.
Semoga St. Perawan Maria, Bunda para Mistikus dan Teladan Cinta Sejati akan Allah, membimbingmu pada persatuan cinta yang sempurna dengan Yesus, Putranya, satu-satunya Jawaban dan Pilihan Terbaik.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 21 Agustus 2015 ~ Jumat dalam Pekan Biasa XX

image

INILAH TANDA PENGENALMU
Peringatan Wajib St. Pius X, Paus

Bacaan:
Rut.1:1,3-6,14b-16,22; Mzm.146:5-10; Mat.22:34-40

Renungan:
Hidup seorang Kristiani bukanlah suatu hidup tanpa penderitaan, tanpa sakit, tanpa pergumulan, tanpa pencobaan.
Bagaikan sebuah bahtera, putra-putri Gereja Katolik dipanggil untuk beriman sekaligus merasul, sambil mengarungi lautan kehidupan di tengah badai.
Laut yang tenang tidak pernah menjadikan seorang pelaut menjadi mahir.
Iman kita dimurnikan di dalam badai. Ke dalam malam gelap kita dipanggil untuk bercahaya.
Maka, sebagaimana Israel dalam Perjanjian Lama, dan yang kembali diingatkan melalui dialog tanya jawab antara Tuhan Yesus dan seorang ahli Taurat dalam bacaan Injil hari ini, kita diajak untuk tidak pernah lupa Hukum Tuhan yang paling utama, yang olehnya kita seharusnya dikenal.
Identitas ke-Katolik-an bukanlah sekadar membuat Tanda Salib setiap saat, menghadiri Misa Kudus secara rutin, atau berdoa Rosario setiap hari (bahkan ada yang menggunakannya secara keliru sebagai aksesoris tubuh).
Meskipun tanda-tanda lahiriah dan partisipasi kita dalam liturgi Gereja sungguh perlu, buah dan tanda pengenal terbesar bagi setiap orang Katolik adalah “Kasih“.

Seorang Kristen haruslah pertama-tama dikenal karena cintanya akan Allah dan sesama yang meluap dari kedalaman jiwanya.
Bahwa segenap hidup, kerja, dan pelayanan kita harus senantiasa didasarkan dan diarahkan pada cinta yang total kepada Allah dan sesama.
Tidak cukup bahwa kita melakukan segala sesuatu demi kemuliaan Allah, melainkan seberapa besar kasih yang kira curahkan saat melakukan itu semua.
Tidak mungkin seorang beriman yang tekun menghadiri Misa Kudus setiap hari untuk mengatakan mengasihi Allah, bila pada kenyataannya dia justru mengabaikan dan lewat begitu saja saat berjumpa dengan kaum miskin dan papa di sepanjang perjalanannya menuju ke Gereja.
Seorang guru rohani boleh saja membagikan pengetahuan dengan bahasa yang memukau, tetapi tanpa cinta, tembok-tembok ketegaran hati para pendengar tidak akan runtuh, dan mereka tidak akan pernah diubahkan oleh pengajarannya.
Seorang Bapa Pengakuan hanya dapat memenangkan jiwa para pendosa di ruang pengakuan, manakala dia mendengarkan dengan hati yang berbelas kasih.
Seorang istri dapat diberi kekuatan untuk mengampuni pengkhianatan cinta suaminya, manakala hatinya dipenuhi cinta akan Allah, yang kemudian menggerakkan hatinya untuk memegang tangan suaminya dan memberikan pengampunan.
Selama kasih Allah memenuhi hidup mereka, keluarga-keluarga Kristiani tidak akan dengan begitu mudahnya mengatakan kata menyerah pada bahtera rumah tangganya.
Teladan hidup Naomi dan Rut dalam bacaan pertama hari ini menjadi kesaksian nyata bagaimana imannya tidak goyah, karena kasih Allah memenuhi hatinya.
Kendati dianiaya, dihalang-halangi untuk beribadah, dirampas haknya, bahkan kehilangan nyawa karena imannya, hanya relasi cinta yang mesra dengan Allah sajalah yang membuat seorang beriman tidak gentar dan tidak kehilangan damai di hati.
Cinta yang sejati harus selalu siap menderita, terluka, mengampuni, memberi secara total dan tak bersyarat.

Inilah sebagian kecil dari begitu banyak alasan kenapa siapa pun yang menyebut diri pengikut Kristus, haruslah terlebih dahulu sungguh-sungguh memahami dan menjalani hukum cintakasih sebagai dasar hidup berimannya. Konsekuensi kekristenan yaitu salib akan sulit dirangkul, manakala seorang beriman belum sepenuhnya menjawab “Ya” kepada panggilan cintakasih.
Setiap kali kita memandang Salib Tuhan, yang kita dapati disana bukanlah ketiadaan cinta, melainkan kelimpahan cinta.
Tuhan kita Yesus Kristus telah memberikan kita suatu teladan cinta yang paripurna, yaitu semakin dalam paku itu menghujam tangan dan kaki-Nya di salib, semakin berat penderitaan sakit yang Ia alami, cinta-Nya akan umat manusia justru tidak pernah berkurang, melainkan semakin bertambah, serta tercurah sebagaimana dilambangkan oleh darah dan air yang mengalir dari lambung-Nya.
Dalam terang iman Kristiani, Beata Ibu Teresa dari Kalkutta berkata, “Saya mendapati suatu paradoks, yaitu apabila kita mencintai orang lain sampai terluka, kita justru tidak akan semakin terluka, melainkan semakin mencinta.

Dari hidup dan ajaran St. Pius X, seorang Paus kudus yang kita peringati hari ini, kita diingatkan bahwa sebagai seorang Katolik, kita punya Obat Cinta yang amat ampuh, yaitu Sakramen Ekaristi.
Mereka yang sungguh-sungguh bertekun dalam Misa Kudus, dan sering menerima Komuni Kudus sebagai santapan rohani, bila itu dilakukan dengan disposisi batin yang tepat, maka pada akhirnya Sakramen Ekaristi, Hidup Tuhan yang menyatu dengan hidupmu, akan mengubah dirimu menjadi semakin secitra dengan-Nya. Pada akhirnya, Roti Surgawi itu akan mengubahmu menjadi rasul-rasul cinta yang militan. Bagaikan seorang pembawa api, kamu akan membakar seluruh dunia dalam cinta akan Tuhan.
Semoga Ibu Maria menyertai niat sucimu untuk menjadi rasul-rasul cintakasih, putra-putri Ekaristi, sehingga melalui hidup dan karyamu, semua orang akan mengaku “Benar. Yesus sungguh adalah Putra Allah, Tuhan Yang Hidup.
Kiranya dalam diri setiap pengikut Kristus, cintakasih akan selalu dan selalu menjadi tanda pengenal yang pertama dan terutama.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 20 Agustus 2015 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XX

image

IA MENGUNDANGMU, DATANGLAH !
Peringatan Wajib St. Bernardus dari Clairvaux

Bacaan:
Hak.11:29-39a; Mzm.40:5,7-10; Mat.22:1-14

Renungan:
Ibarat seorang Raja yang mengadakan jamuan makan, kita beroleh keistimewaan boleh menerima undangan dari-Nya. Lihatlah betapa besar kasih Allah bagi kita. Dengan berbagai cara dan melalui berbagai situasi hidup, berulang kali dia mengundang kita untuk mendekat pada-Nya. Undangan paling mendesak, tindakan cinta terbesar yang dilakukan-Nya, ialah dengan mengutus Putra-nya sendiri, yang membawa undangan damai, yang memulihkan relasi cinta kita dengan-Nya yang rusak karena dosa.
Tetapi dari perumpamaan dalam bacaan Injil hari ini, dikatakan bahwa (dan memang seringkali demikianlah adanya) undangan kasih dari Allah ditanggapi dingin oleh umat kesayangan-Nya. Berulang kali Ia mengetuk pintu hati kita, tetapi berulang kali pula Ia mendapati hati yang bebal, yang tidak mau peduli, acuh tak acuh. Kita membiarkan Sang Cinta berdiri di depan pintu yang tertutup, seolah harus mengemis cinta dari kita, malah tak jarang Ia ditendang dan diusir pergi karena kita melihat konsekuensi jalan kekudusan dari-Nya sebagai beban, bukannya rahmat.
Kita tidak mau meninggalkan persahabatan dengan dosa, enggan melepaskan kelekatan kita.
Padahal setiap hari Ia mengundang kita ke dalam Perjamuan Surgawi, yaitu Misa Kudus.
Dalam Sakramen Ekaristi, Yesus sendiri yang mengundang kita, dan Ia sendiri yang menjadi santapan untuk memberi hidup kekal bagi siapapun yang menyantap-Nya.
Namun, tak jarang mereka yang menyebut diri putra-putri Gereja, adalah justru mereka yang dengan sengaja mengabaikan Misa Kudus, serta bersikap tidak pantas saat menyambut Hosti Kudus.

Ada yang sanggup antri berjam-jam bahkan membayar mahal untuk menghadiri suatu kebaktian atau konser rohani karena iming-iming mujizat maupun urapan dari tangan seorang manusia biasa dalam topeng kerohanian, yang diselenggarakan di hotel mewah dan di stadion terbuka berbalutkan cahaya lampu panggung superstar yang gemerlap.
Sementara untuk menghadiri Misa Kudus, hadiah terbesar dari Allah yang dianugerahkan secara gratis tanpa bayar, kita sering terlambat dan menuda-nunda, langkah kaki terasa begitu berat. Waktu Misa Kudus yang hanya sesaat dirasakan terlalu lama, Homili dilewatkan begitu saja karena dianggap tidak menarik, Konsekrasi dikaburkan oleh pelanturan dan skrupel. Kita tidak dapat melihat kemuliaan Tuhan dalam kesederhanaan Hosti Kudus, sama seperti raja Herodes yang tidak mengenali Sang Juruselamat dalam kelemah-lembutan seorang Bayi mungil di kandang hina Bethlehem.
Ada pula yang menghadiri undangan pejabat dunia, maupun pesta pora yang memabukkan dengan pakaian kebesaran dari koleksi baju terbaik. Sementara untuk menghadiri Misa Kudus, untuk melangkah ke depan altar dan menyambut Raja Segala Raja dalam Komuni Kudus, tanpa rasa bersalah dan ketiadaan hormat kita datang mengenakan pakaian yang jauh dari kepantasan, mempertontonkan bagian tubuh yang tidak semestinya dijadikan tontonan, padahal Misa Kudus adalah Perjamuan Tuhan, bukan tempat hiburan malam.

Bagaimana mungkin seorang begitu memikirkan bagaimana bersikap dan berbusana saat akan bertemu manusia biasa, menghabiskan berjam-jam untuk memilih baju demi menghadap seorang pejabat dunia yang korup, membungkukkan badan serendah-rendahnya untuk bersalaman dengan pemimpin lalim dunia ini, tetapi sebaliknya seolah tidak peduli bagaimana bersikap dan berpakaian di hadapan Tuhan Allah Semesta Alam, yang berkuasa baik atas hidupmu selagi di dunia, maupun hidupmu sesudah meninggalkan dunia ini nanti?
Bagaimana mungkin seorang menyambut Tubuh Tuhan dengan tangannya tanpa menunjukkan sikap hormat, sementara hati dan pikirannya sedari awal memasuki pintu masuk Gereja sampai keluar tidak pernah sedetikpun terarah kepada Allah?
Kegagalan kita dalam bersikap di hadapan Allah, dan pergaulan kita yang tidak hormat dengan Dia, merupakan indikasi jelas bahwa kita sebenarnya miskin dalam cinta akan Dia. Mengatakan cinta pada-Nya dengan bibir, tetapi tidak dengan hati dan segenap diri kita.
Santo Bernardus dari Clairvaux yang kita peringati hari ini mengatakan, “Ukuran mencintai Allah, adalah mencintai tanpa ukuran.

Injil hari ini berbicara tentang undangan kasih dari Allah. Kita dipanggil untuk menjawab undangan itu dengan datang ke dalam Misa Kudus, sebagaimana diumpamakan dan dilambangkan sebagai Pesta Perjamuan dalam Injil.
Dan karena kita beroleh keistimewaan untuk diundang, datanglah dengan mengenakan pakaian Pesta, putuskanlah ikatan persahabatanmu dengan belenggu dosa si jahat, dan melangkahlah dengan hati yang terarah karena cinta kepada-Nya, kemudian sambutlah Dia sebagai santapan surgawi dengan sikap penuh kekaguman dan hormat, seperti Musa di gunung Sinai yang bergaul begitu mesra dan penuh hormat dengan Allah.

Mulailah melihat hidup berimanmu secara lebih serius dan bertanggung jawab. Sudahkah saya menanggapi undangan Tuhan dalam Misa Kudus, bukan karena kebutuhan, bukan pula karena rutinitas atau kewajiban belaka, melainkan karena kerinduan akan Dia? Apakah saya sudah bersikap penuh hormat, berpakaian rohani maupun jasmani yang sepantasnya saat menyambut Sakramen Ekaristi?
Semoga Perawan Suci Maria dengan kasih keibuan menghantar kita pada kekaguman akan Yesus Putranya. Suatu kekaguman yang membuat kita tersungkur dengan hati yang remuk redam dan dipenuhi rasa syukur karena boleh diundang ke dalam Perjamuan Kasih-Nya, serta didorong oleh kobaran api cinta yang menggerakkan kita untuk melangkah ke depan Altar dan menyambut Komuni Kudus, Tubuh Tuhan sendiri sebagai santapan, sementara wajah kita berlinangan air mata kebahagiaan atas anugerah Sakramen Ekaristi.
Memang benar bahwa “Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih“. Karena itu bertekunlah dalam Iman, mohonkanlah agar Tuhan selalu menambah karunia cinta akan Misa Kudus dalam hatimu, agar kamu tidak hanya merasa terpanggil, tetapi pada akhirnya juga menjadi yang terpilih untuk beroleh mahkota kemuliaan di surga.
Santa Maria, Bunda Ekaristi, doakanlah kami.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++