Meditasi Harian 28 Juli 2015 ~ Selasa dalam Pekan Biasa XVII

image

KAMULAH SAHABATKU

Bacaan:
Kel.33:7-11 – 34:5b-9.28; Mzm.103:6-13; Mat.13:36-43

Renungan :
Untuk mengkomunikasikan Allah kepada dunia secara meyakinkan, seorang beriman terlebih dahulu harus punya komunikasi yang baik dengan Dia, sama seperti Musa yang bergaul akrab dengan Allah, berbicara muka dengan muka.
Pergaulan akrab dengan Dia dalam doa juga memampukan seorang insan Allah dalam hidup menggereja, maupun dalam karya, untuk lebih jeli membedakan mana lalang mana gandum, mana gandum yang terkadang  disalah mengerti orang sebagai lalang, dan mana lalang yang dengan lihainya menipu penilaian manusiawi karena menyamar seperti gandum.
Tanpa relasi yang mesra dengan Allah, seorang pemimpin rohani, pelayan atau rasul Kristus, dapat keliru atau menyerah terhadap gandum (jiwa) yang dikiranya lalang, dan dapat pula salah mempercayakan pelayanan dan karya kerasulan pada lalang yang berkedok sebagai gandum.
Perumpamaan lalang di antara gandum juga mengajar kita untuk rendah hati, bahwa meskipun Gereja adalah Kudus, kita sering menjumpai, baik diri kita sendiri maupun sesama anggota Gereja dalam ketidaksempurnaan, dalam kecacatan, dalam rupa-rupa kerapuhan.
Teladanilah sikap para rasul yang mendekati Yesus untuk mencari pemahaman, untuk dengan rendah hati mau diajar dan dibukakan pengertian, untuk mau dibentuk dan disempurnakan.

Tuhan selalu menjumpai dan hadir bagi umat-Nya tanpa terkecuali, tetapi sungguh sedikit dari antara umat kesayangan-Nya yang layak disebut “sahabat“.
Kita dipanggil untuk menanggapi cinta-Nya, serta melangkah perlahan, setapak demi setapak dalam tuntunan cinta dan mendekat pada-Nya sebagai sahabat.
Tidak semua cinta dapat menyamai kedalaman cinta seorang sahabat. Ini karena dalam persahabatan terjadi relasi cinta dua arah, dimana Allah mencinta dan kita menanggapi cinta-Nya. Relasi cinta dalam persahabatan pun dilandasi kerendahan hati untuk menerima segala, serta sikap murah hati untuk memberi diri secara total.
Semoga Allah menemukan dalam diri kita tanah yang subur bagi benih yang ditaburkan-Nya untuk berbuah, dan hati seorang sahabat yang selalu menanggapi panggilan-Nya untuk bergaul mesra dengan Dia dalam keakraban dan sembah bakti.
Santa Perawan Maria, doakanlah kami.

Pax, in aeternum.
Fernando

Tinggalkan komentar