Meditasi Harian 24 Juli 2015 ~ Jumat dalam Pekan Biasa XVI

image

ALLAH MEMANGGILMU UNTUK BERBUAH

Bacaan:
Kel.20:1-17; Mzm.19:8-11; Mat.13:18-23

Renungan:
Dengan berbagai cara, Allah selalu mengkomunikasikan diri-Nya kepada manusia di sepanjang sejarah keselamatan.
Dia bersabda melalui perantaraan para Nabi, para rasul, dan terutama dan teristimewa melalui Putra-Nya yang terkasih, Tuhan kita Yesus Kristus.
Bagaikan benih yang ditabur ke atas bumi, demikianlah Firman Tuhan diterima oleh hati manusia.
Tentu saja bagaimana Firman itu diterima oleh hati berbeda satu dengan yang lain.
Sama seperti bangsa Israel saat menerima “Dekalog” (10 Perintah Allah), ada yang menerima dalam ketakutan sejati dan ketaatan mutlak, yang melihatnya sebagai aturan hidup yang membantu mereka untuk menjadi umat Allah yang kudus. Akan tetapi, ada pula yang merasa terbebani, yang secara keliru takut akan Allah, seolah Allah itu selalu ingin menghukum, suatu ketakutan yang berasal dari si jahat, dan pada akhirnya berbuah pelanggaran dan pemberontakan terhadap hukum Tuhan.
Firman Allah itu benar, mendatangkan kehidupan dan menyegarkan jiwa, namun hati manusialah yang seringkali menanggapinya dengan cara yang berbeda-beda.

Ada yang tidak menghiraukannya sama sekali ibarat benih yang jatuh di pinggir jalan. Ada yang didengar tetapi sulit diterima karena dihimpit oleh rupa-rupa ambisi pribadi, hawa nafsu, kerakusan, serta berbagai bentuk kelekatan dan dosa lainnya, ibarat benih yang jatuh di semak berduri. Ada yang didengar, diterima, tetapi tidak terukir di hati, sehingga manakala badai cobaan menerpa, disaat cinta Tuhan membawa jiwa untuk bergumul bersama Allah dalam malam pemurnian, disaat doa seolah tak terjawab dan air mata seolah tak diindahkan, cintanya akan Allah berhenti, karena sejak semula hatinya sulit diarahkan kepada Allah. Dia berhenti melangkah di jalan kesempurnaan dan meninggalkan Sang Kekasih Jiwa karena kecewa, ibarat benih yang tidak berakar karena jatuh di tanah yang berbatu-batu.

Akan tetapi, Allah kita panjang sabar serta berlimpah kasih setia.
Meskipun sedikit, pasti akan selalu ada hati yang terbuka bagaikan tanah yang subur, yang siap menanggapi dan membalas kasih-Nya, yang mau dibimbing oleh cinta Allah ke dalam penyerahan diri total, kepercayaan tanpa batas, pengharapan yang tidak pernah putus, dan hati yang siap mencinta Allah dan sesama dalam situasi apapun.
Mari kita senantiasa berdoa, agar hati kita dapat selalu menjadi tanah yang subur bagi Firman Allah untuk tumbuh dan berbuah.
Panggilan Kristiani adalah panggilan untuk berbuah. Celakalah mereka yang menyebut diri pengikut Kristus, tetapi tidak pernah berbuah!

Maukah engkau menjadi tanah yang subur bagi Firman Tuhan? Maukah engkau berbuah dan memenangkan jiwamu sendiri, jiwa anggota keluarga dan orang terdekatmu, serta jiwa banyak orang lain bagi Allah?
Mulailah dengan berusaha untuk selalu menjawab “Ya” kepada Allah, dan “Tidak” kepada si jahat.
Santa Perawan Maria, doakanlah kami agar hidup dan karya kami dapat menghasilkan buah yang baik, demi Putramu terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus.

Pax, in aeternum.
Fernando

Tinggalkan komentar