Meditasi Harian 30 Juli 2015 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XVII

image

MENEBARKAN JALA UNTUK MENANGKAP JIWA

Bacaan:
Kel.40:16-21,34-38; Mzm.84:3,4,5-6a,8a,11; Mat.13:47-53

Renungan:
Awan Kemuliaan Tuhan yang memenuhi Kemah Suci, yang pada malam hari disertai api melambangkan penyertaan Tuhan bagi umat-Nya.
Allah itu Mahakuasa, tetapi Dia berkuasa bukan seperti penguasa lalim dunia ini, melainkan ke-Mahakuasaan-Nya nampak begitu nyata dalam kebaikan dan cinta-Nya.
Melalui Gereja-Nya, Dia menebarkan jala tanpa membeda-bedakan jiwa.
Semua jiwa, setiap pribadi, dalam keadaan apapun dia, sungguh amat berharga di mata-Nya.
Tugasmu sebagai rasul Kristus dan murid Tuhan adalah menebarkan jala. Soal jiwa-jiwa seperti apa yang tertangkap itu tidak pernah boleh menjadi masalah bagimu, karena itu sepenuhnya bagian dari rancangan Tuhan. Kamu hanyalah alat.
Maka, janganlah heran jika jala kerasulanmu juga menangkap pelbagai jenis ikan, yang baik maupun yang tidak baik.
Dengan mata kerendahan dan kelembutan hati, engkau dapat melihat, bahwa kendati dalam dirimu maupun sesama ditemukan begitu banyak kekurangan, dosa, dan ketidaksempurnaan lainnya, Tuhan sungguh amat baik.
Dia tidak pernah berhenti mencintaimu, selalu menantikanmu membuka hati untuk diubahkan dan disempurnakan oleh-Nya.
Karena itu, ingatlah! Seturut Kerahiman-Nya, manakala pukat itu telah penuh, pada waktu yang tepat menurut ukuran Keadilan Tuhan, tibalah saatnya dimana ikan yang tidak baik dipisahkan dari ikan yang baik, orang jahat akan dipisahkan dari orang benar oleh malaikat-malaikat Tuhan. Ikan yang tidak baik, mereka yang jahat, akan beroleh kebinasaan. Ikan yang baik, mereka yang dibenarkan Tuhan, akan menerima mahkota kemuliaan.

Berjuang! Berjuang! Berjuanglah senantiasa!
Berjuanglah agar dirimu masuk dalam bilangan orang-orang benar, ikan-ikan yang baik.
Seringkali perjuangan itu akan melalui kesusahan besar, menuntutmu untuk melepaskan banyak hal, menanggalkan segala kenyamanan dan kenikmatan dunia, tetapi jangan pernah ragu. Tetaplah berjuang melalui dan mengatasi semua itu, karena ganjarannya sungguh luar biasa menguntungkan, suatu kebahagiaan kekal yang tak terkatakan.

Berbahagialah kamu, karena kamu tidak berjalan sendirian. Kamu memiliki seorang Ibu yang senantiasa menemani perjalananmu menuju Putra-nya. Dia yang disebut “Berbahagia” oleh segala bangsa. Yang telah lebih dahulu menapaki jalan kesempurnaan ini, dan keluar sebagai pemenang yang jaya, sebagai yang pertama di antara para Kudus lainnya.
Berdoalah, “Ibu Maria, semoga saya tetap setia dalam Gereja Katolik yang telah menebarkan jala dan menangkapku. Semoga saya bertumbuh dalam Iman Katolik ini, sehingga pada saatnya nanti, Putra-mu mendapatiku di dalam kebenaran, dan layak beroleh mahkota kemuliaan.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian 29 Juli 2015 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XVII

image

WANITA DALAM KELUARGA DAN GEREJA

29 Juli 2015: Peringatan St. Marta, Perawan & Sahabat Yesus

Bacaan:
Kel.34:29-35; Mzm.99:5,6,7,9; Yoh.11:19-27 atau Luk.10:38-42

Renungan:
Yesus begitu dekat dengan Marta, Maria, dan Lazarus. Rumah mereka merupakan tempat yang dipenuhi kehangatan cinta, dimana Tuhan Yesus boleh beristirahat sejenak di tengah segala karya-Nya. Mereka adalah “keluarga-Nya“.

Karena itu peringatan St. Marta mengingatkan keluarga-keluarga Kristiani akan panggilan luhurnya, untuk menjadi tanah yang subur bagi pewartaan sukacita Injil.
Keluarga-keluarga Kristiani harus selalu memiliki pintu yang terbuka bagi Tuhan, dan sesudah membuka pintu rumah mereka bagi-Nya, tidak pernah boleh lupa bahwa sukacita mereka bersama Tuhan adalah sukacita Injil yang harus senantiasa dibagikan, disaksikan, dan diwartakan dari “bubungan atap” (dengan berbagai cara, dan dalam berbagai kesempatan).

Kenyataan bahwa Tuhan kita juga begitu dekat dgn St. Marta dan wanita-wanita kudus di sekitar-Nya, menunjukkan bahwa sejak awal kaum wanita sungguh memiliki peran penting dalam perkembangan Gereja.
Meskipun seringkali karya atau pelayanan kaum wanita terlihat sederhana, tersembunyi, bahkan diabaikan atau disalahmengerti, Gereja justru tumbuh juga karena pemberian diri total dan ungkapan kerendahan hati mereka.

Semoga akan selalu ada wanita-wanita Kudus yang mencintai Keluarganya, setia pada suami dan membesarkan anak-anaknya dalam nilai-nilai Kristiani yang sejati, serta menyertai para Uskup dan Imam kita di masa sekarang ini secara “tepat dan bijaksana” melalui doa, puasa, kurban silih, mati raga, pelayanan kasih, dan segala karya baik lainnya, seturut teladan St. Marta yang kita peringati hari ini.
Santa Perawan Maria, Santa Marta, dan para Wanita Kudus, doakanlah kami.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian 28 Juli 2015 ~ Selasa dalam Pekan Biasa XVII

image

KAMULAH SAHABATKU

Bacaan:
Kel.33:7-11 – 34:5b-9.28; Mzm.103:6-13; Mat.13:36-43

Renungan :
Untuk mengkomunikasikan Allah kepada dunia secara meyakinkan, seorang beriman terlebih dahulu harus punya komunikasi yang baik dengan Dia, sama seperti Musa yang bergaul akrab dengan Allah, berbicara muka dengan muka.
Pergaulan akrab dengan Dia dalam doa juga memampukan seorang insan Allah dalam hidup menggereja, maupun dalam karya, untuk lebih jeli membedakan mana lalang mana gandum, mana gandum yang terkadang  disalah mengerti orang sebagai lalang, dan mana lalang yang dengan lihainya menipu penilaian manusiawi karena menyamar seperti gandum.
Tanpa relasi yang mesra dengan Allah, seorang pemimpin rohani, pelayan atau rasul Kristus, dapat keliru atau menyerah terhadap gandum (jiwa) yang dikiranya lalang, dan dapat pula salah mempercayakan pelayanan dan karya kerasulan pada lalang yang berkedok sebagai gandum.
Perumpamaan lalang di antara gandum juga mengajar kita untuk rendah hati, bahwa meskipun Gereja adalah Kudus, kita sering menjumpai, baik diri kita sendiri maupun sesama anggota Gereja dalam ketidaksempurnaan, dalam kecacatan, dalam rupa-rupa kerapuhan.
Teladanilah sikap para rasul yang mendekati Yesus untuk mencari pemahaman, untuk dengan rendah hati mau diajar dan dibukakan pengertian, untuk mau dibentuk dan disempurnakan.

Tuhan selalu menjumpai dan hadir bagi umat-Nya tanpa terkecuali, tetapi sungguh sedikit dari antara umat kesayangan-Nya yang layak disebut “sahabat“.
Kita dipanggil untuk menanggapi cinta-Nya, serta melangkah perlahan, setapak demi setapak dalam tuntunan cinta dan mendekat pada-Nya sebagai sahabat.
Tidak semua cinta dapat menyamai kedalaman cinta seorang sahabat. Ini karena dalam persahabatan terjadi relasi cinta dua arah, dimana Allah mencinta dan kita menanggapi cinta-Nya. Relasi cinta dalam persahabatan pun dilandasi kerendahan hati untuk menerima segala, serta sikap murah hati untuk memberi diri secara total.
Semoga Allah menemukan dalam diri kita tanah yang subur bagi benih yang ditaburkan-Nya untuk berbuah, dan hati seorang sahabat yang selalu menanggapi panggilan-Nya untuk bergaul mesra dengan Dia dalam keakraban dan sembah bakti.
Santa Perawan Maria, doakanlah kami.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian 24 Juli 2015 ~ Jumat dalam Pekan Biasa XVI

image

ALLAH MEMANGGILMU UNTUK BERBUAH

Bacaan:
Kel.20:1-17; Mzm.19:8-11; Mat.13:18-23

Renungan:
Dengan berbagai cara, Allah selalu mengkomunikasikan diri-Nya kepada manusia di sepanjang sejarah keselamatan.
Dia bersabda melalui perantaraan para Nabi, para rasul, dan terutama dan teristimewa melalui Putra-Nya yang terkasih, Tuhan kita Yesus Kristus.
Bagaikan benih yang ditabur ke atas bumi, demikianlah Firman Tuhan diterima oleh hati manusia.
Tentu saja bagaimana Firman itu diterima oleh hati berbeda satu dengan yang lain.
Sama seperti bangsa Israel saat menerima “Dekalog” (10 Perintah Allah), ada yang menerima dalam ketakutan sejati dan ketaatan mutlak, yang melihatnya sebagai aturan hidup yang membantu mereka untuk menjadi umat Allah yang kudus. Akan tetapi, ada pula yang merasa terbebani, yang secara keliru takut akan Allah, seolah Allah itu selalu ingin menghukum, suatu ketakutan yang berasal dari si jahat, dan pada akhirnya berbuah pelanggaran dan pemberontakan terhadap hukum Tuhan.
Firman Allah itu benar, mendatangkan kehidupan dan menyegarkan jiwa, namun hati manusialah yang seringkali menanggapinya dengan cara yang berbeda-beda.

Ada yang tidak menghiraukannya sama sekali ibarat benih yang jatuh di pinggir jalan. Ada yang didengar tetapi sulit diterima karena dihimpit oleh rupa-rupa ambisi pribadi, hawa nafsu, kerakusan, serta berbagai bentuk kelekatan dan dosa lainnya, ibarat benih yang jatuh di semak berduri. Ada yang didengar, diterima, tetapi tidak terukir di hati, sehingga manakala badai cobaan menerpa, disaat cinta Tuhan membawa jiwa untuk bergumul bersama Allah dalam malam pemurnian, disaat doa seolah tak terjawab dan air mata seolah tak diindahkan, cintanya akan Allah berhenti, karena sejak semula hatinya sulit diarahkan kepada Allah. Dia berhenti melangkah di jalan kesempurnaan dan meninggalkan Sang Kekasih Jiwa karena kecewa, ibarat benih yang tidak berakar karena jatuh di tanah yang berbatu-batu.

Akan tetapi, Allah kita panjang sabar serta berlimpah kasih setia.
Meskipun sedikit, pasti akan selalu ada hati yang terbuka bagaikan tanah yang subur, yang siap menanggapi dan membalas kasih-Nya, yang mau dibimbing oleh cinta Allah ke dalam penyerahan diri total, kepercayaan tanpa batas, pengharapan yang tidak pernah putus, dan hati yang siap mencinta Allah dan sesama dalam situasi apapun.
Mari kita senantiasa berdoa, agar hati kita dapat selalu menjadi tanah yang subur bagi Firman Allah untuk tumbuh dan berbuah.
Panggilan Kristiani adalah panggilan untuk berbuah. Celakalah mereka yang menyebut diri pengikut Kristus, tetapi tidak pernah berbuah!

Maukah engkau menjadi tanah yang subur bagi Firman Tuhan? Maukah engkau berbuah dan memenangkan jiwamu sendiri, jiwa anggota keluarga dan orang terdekatmu, serta jiwa banyak orang lain bagi Allah?
Mulailah dengan berusaha untuk selalu menjawab “Ya” kepada Allah, dan “Tidak” kepada si jahat.
Santa Perawan Maria, doakanlah kami agar hidup dan karya kami dapat menghasilkan buah yang baik, demi Putramu terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian 23 Juli 2015 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XVI

image

PERJUMPAAN DALAM DOA

Bacaan:
Kel.19:1-2,9-11,16-20b; Mzm.(T.Dan.) 3:52,53,54,56; Mat.13:10-17

Renungan:
Bangsa Israel bersama Musa berdiri di kaki gunung Sinai untuk berjumpa dengan Allah. Dari dalam awan Tuhan berbicara dengan mereka, disertai tanda-tanda alam seperti guntur gemuruh, kilat, dan api.
Perjumpaan bangsa Israel dengan Allah ini begitu personal sekaligus komunal.
Demikianlah juga yang dialami oleh Gereja, umat Allah, dalam peziarahannya.
Dengan berbagai cara, dalam rupa-rupa situasi, dan melalui berbagai pergumulan yang Ia perkenankan untuk kita alami, demikianlah Allah menyatakan diri-Nya, agar kita dapat melihat dan menyentuh Hati-nya, serta merasakan kedalaman Cinta-Nya.
Tetapi tak jarang kita menyikapinya dengan ketidak mengertian, ketidak tahuan, dan terkadang malah mempertanyakan cara dan tindakan Allah yang memperkenalkan diri lewat berbagai peristiwa hidup.
Inilah yang dimaksudkan dalam Injil hari ini, dimana kita seringkali “melihat tapi tidak pernah tahu, mendengar tapi tidak pernah menangkap dan mengerti.
Pergaulan mesra dengan Allah memampukan manusia untuk mengetahui apa yang ia lihat, menangkap dan mengerti apa yang ia dengar.
Hidup doa adalah jalan menuju pergaulan yang mesra dengan Dia, baik doa pribadi maupun komunal, dan terutama dalam Misa Kudus.
Tentu saja, ibarat suatu perjalanan, kita tidak seketika sampai pada persatuan sempurna dengan Allah. Oleh karena itu, hidup doa seseorang adalah juga suatu perjalanan yang menuntut kerendahan hati untuk mau dibentuk, mengenali diri, menyadari kerapuhan, diubahkan, dan berjalan seirama dengan gerak cinta Allah.
Inilah perjalanan batin dimana selaput yang mengaburkan mata rohani kita perlahan gugur, dan sumbatan yang menulikan telinga rohani kita perlahan dibukakan.
Belajarlah untuk mau dibimbing oleh cinta Tuhan, dan sadarilah bahwa tiada jalan lain menuju Allah selain jalan doa.
Mereka yang mengatakan bisa menggapai Allah dan memahami Hati-Nya tanpa menapaki jalan doa, mereka itu adalah pendusta.
Tidak ada kekudusan tanpa doa. Omong kosong semacam itu berasal dari bisikan setan, bapa segala dusta.
Berdoalah senantiasa. Berdoalah tak kunjung putus, melebihi tarikan nafas kita.
Dalam doa iman bertumbuh, pengharapan tak kunjung putus, dan cinta semakin dimurnikan.
Semoga kita senantiasa diberikan keberanian untuk melangkah di jalan kesempurnaan ini, sehingga pada akhirnya kita akan melihat dan mengetahui, serta mendengar dan mengerti bahwa “Itu Tuhan“.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian 16 Juli 2015 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XV

image

MELEPASKAN BEBAN DOSA DAN MEMIKUL SALIB
(Peringatan St. Perawan Maria dari Gunung Karmel)

Bacaan:
Kel.3:13-20; Mzm.105:1,5,8-9,24-25,26-27; Mat.11:28-30

Renungan:
Panggilan Kristiani adalah panggilan untuk “melepaskan“.
Apa yang harus dilepaskan?
Dosa.
Kenapa harus dilepaskan?
Karena dosa adalah beban berat yang diletakkan iblis dalam perjalanan peziarahan kita menuju Allah, yang membuat kita merasa begitu kepayahan, terbebani dengan hebatnya, depresi dan jatuh dalam jurang keputusasaan, yang pada akhirnya membuat banyak orang berhenti dan tidak mau berjalan lagi, bahkan tak jarang mengalami kebinasaan karena beban dosa yang amat berat itu.
Maka, ketika Tuhan Yesus mengatakan, “Marilah datang kepada-Ku, kalian semua yang letih lesu memikul beban berat, Aku akan memberikan kelegaan bagimu,” seruan lembut Tuhan itu bagaikan panggilan di tengah padang gurun untuk mendekat ke mata air dan minum sampai sepuasnya.
Untuk beroleh kelegaan, hanya satu yang perlu kamu lakukan yaitu “melepaskan“.

Pertanyaannya, “Beranikah kamu untuk melepaskan?
Keengganan untuk melepaskan merupakan kelekatan dengan dosa, yang tidak akan membuatmu mencapai mahkota kemuliaan.
Lepaskanlah dirimu dari persahabatan dengan dosa. Engkau tentu saja mengenal dirimu sendiri, dan tahu betul beban apa, halangan terberat apa, atau dosa apa yang menghalangi kamu untuk melangkah maju menuju Allah.
Entah itu dosa kerakusan, penyangkalan kuasa Allah, pornografi, nafsu seksual yang menyimpang, iri hati, kebiasaan bergosip, apapun bentuk dosa itu, “Lepaskanlah!”, “Bertobatlah!”.
Beranilah berkata “Tidak” kepada si jahat, dan jawablah “Ya” kepada Allah.
Sesudah engkau berani “melepaskan“, maka Tuhan akan menggantikan “beban” itu dengan memberimu suatu “kuk“.
Kuk ini sungguh berbeda dengan beban, karena bila beban membuatmu berhenti berjalan menuju Allah, maka kuk ini bagaikan sepasang sayap yang akan membuatmu melesat dan terbang tinggi bagai rajawali, yang menjadikan perjalananmu menuju Allah terasa enak dan lebih ringan.

Tentu saja rupa-rupa halangan dan rintangan lainnya akan tetap ada, akan selalu ada binatang buas yang mencoba menerkam kamu di sepanjang perjalanan. Namun, dengan kuk yang dipasang Tuhan atasmu, dengan komitmen untuk memikul salib yang diletakkannya atas bahumu, engkau akan terus berjalan maju diterangi sukacita Injil, dan pada akhirnya akan tiba pada tujuan akhir perjalananmu, yaitu beristirahat bersama Allah.
Jiwa kita tidak akan pernah beroleh ketenangan, sebelum beristirahat di dalam Dia.
Belajarlah dari Hati Tuhan yang lemah lembut dan rendah hati, maka jiwamu akan senantiasa beroleh ketenangan.
Panggilanmu adalah panggilan untuk melepaskan segala, untuk beroleh Allah, Sang Segala.

Semoga Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, yang kita peringati hari ini, melindungi kita dalam mantol ke-Ibu-annya, dan menjadi bagaikan Bintang Timur yang menuntun kita menuju Yesus, Putranya.
Per Mariam ad Iesum.
Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, doakanlah kami.

Pax, in aeternum.
Fernando