Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan Biasa XII

image

PENGHAKIMAN DALAM KUASA CINTA

Bacaan:
Kej.12:1-9; Mzm.33:12-13,18-19,20,22; Mat.7:1-5

Renungan:
Sikap “tinggi hati” menjadikan seseorang seolah begitu lihai melihat apa yang dalam pandangannya “kurang” atau salah dari diri sesamanya.
Bersamaan dengan itu, muncul pula godaan si jahat yang menggelapkan hati, untuk begitu disenangkan boleh melihat kekurangan orang lain, dan merasa diri tidak memiliki kekurangan sebagaimana yang dilihatnya.
Kesenangan untuk menghakimi, apalagi secara tergesa-gesa dan keliru, seringkali menjadi perusak persahabatan, rumah tangga, hidup berkomunitas, dan lebih parah lagi, merusak citra Allah dalam diri seseorang.
Kalau Tuhan sanggup menerima segala yang lemah, kurang, maupun terbatas dari diri kita, dan kalau kita seringkali menemukan diri kita pun memiliki banyak kelemahan, kekurangan maupun keterbatasan…kenapa harus kaget melihat kelemahan, kekurangan, dan keterbatasan dalam diri sesama?
Setiap hari akhirilah segala aktifitas harianmu dengan melakukan pemeriksaan batin, untuk merenungkan keseharianmu, maka engkau akan berlutut dengan rendah hati di hadapan Tuhan, karena kesadaran bahwa kamupun tidak luput dari cacat jiwa yang sama.
Berbahagialah mereka yang “rendah hati“, yang selalu berusaha melihat cahaya kebaikan di balik kejatuhan, kegagalan, dan kekurangan sesama.
Sikap rendah hati memampukan kita untuk mencintai sesama bukan dalam segala kelebihannya, melainkan terutama dalam segala kekurangannya.
Ingatlah selalu kata-kata Yesus dalam Injil hari ini, “Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
Bagi mereka yang diserahi tugas untuk menghakimi di dunia ini, para pejabat pengadilan, pemegang kuasa pemerintahan, bahkan termasuk pula para pembesar biara dan komunitas, para bapa pengakuan serta pembimbing rohani, Injil hari ini mengingatkan anda sekalian untuk sungguh-sungguh menjatuhkan penghakiman atas dasar pertimbangan yang benar-benar matang. Bawalah segala perkara yang dipercayakan kepadamu ke hadapan tahta Allah Yang Mahabijaksana, dan mohonkanlah selalu kebijaksanaan Ilahi, untuk dapat menghakimi dan memberikan pertimbangan yang adil, baik, dan benar.
Agar supaya akal budi dapat menghakimi secara adil, milikilah hati yang mencinta.
Hanya oleh kuasa cinta, kita sanggup menghakimi secara adil. Dan dalam kuasa cinta yang sama pula, kitapun kelak akan dihakimi, sebagaimana kata St. Yohanes dari Salib, “Pada senja hidup, kita akan diadili menurut (ukuran) cinta.

Pax, in aeternum.
Fernando

Tinggalkan komentar