Meditasi Harian ~ Kamis dalam Pekan Biasa XI

image

BAHAYA RUTINITAS

Bacaan:
2Kor.11:1-11; Mzm.111:1-2.3-4.7-8; Mat.6:7-15

Renungan:
Bangsa Yahudi dikenal karena ketekunan mereka dalam doa, bukan hanya di masa lalu, melainkan di sepanjang sejarah sampai saat ini. Di balik berbagai kejatuhan, kemalangan, maupun pergumulan yang mereka hadapi sebagai umat kesayangan Allah, doa selalu menjadi pusat kehidupan mereka, sumber kekuatan mereka. Doa resmi mereka pun dilakukan 3 waktu dalam sehari. Suatu warisan iman yang dalam tradisi Kristiani memperoleh bentuk dan keindahan tersendiri lewat “Doa Ofisi” (Doa Brevir), dan dikenal pula sebagai salah satu bentuk “Doa Vokal” (Doa Lisan).
Dalam Injil hari ini kita diajak merenungkan doa sejati, sebagaimana diajarkan oleh Tuhan kita. Yesus memperingatkan para murid akan bahaya menjadikan doa sebagai rutinitas atau formalitas, yang dapat menurunkan derajat doa menjadi suatu tindakan mekanis tanpa makna. Pada titik rendah demikian, doa memang diarahkan kepada Allah, tetapi menjadi hampa karena tidak disertai kerinduan untuk memikirkan Dia, menyembah Dia, dan mencintai Dia.
Entah Awam, Biarawan-biarawati, Imam, siapapun kita, apapun latar belakang hidup dan profesi kita, panggilan untuk berdoa adalah suatu hal yang mutlak perlu.
Tidak mungkin mencapai kekudusan tanpa doa.
Adalah sangat baik pula untuk memiliki jam doa harian, baik secara pribadi maupun komunitas.
Namun, dalam Injil hari ini, kita diajak untuk menghindari bahaya menjadikan doa harian kita sebagai suatu rutinitas.
Doa harusnya merupakan tindakan cinta, suatu perjumpaan cinta antara Allah dengan manusia.
Itulah sebabnya, diperhadapkan pada kecenderungan dimana doa menjadi bertele-tele, panjang tanpa makna, Tuhan Yesus mengajar kita bagaimana seharusnya berdoa.
Dia mewariskan kepada kita doa “Bapa Kami“.
Keberanian menyapa Allah sebagai “Bapa” dalam doa, sebagaimana yang diajarkan oleh Tuhan kita, menunjukkan keluhuran panggilan kita sebagai putra-putri Allah, sekaligus mengungkapkan bagaimana kita seharusnya mendekati Dia dalam doa, yakni suatu kemesraan cinta antara seorang anak dengan Bapanya.
Inilah doa sejati, bukan rutinitas atau formalitas, bukan rasa hormat yang kaku seolah menghadapi pemimpin lalim, melainkan rasa hormat berlandaskan cinta mesra seorang anak yang menyapa Bapanya.
Doa “Bapa Kami” adalah Doa Agung yang diajarkan oleh Tuhan kita sendiri. Iman Katolik dan Tradisi Gereja, telah mewarisi doa ini dari Tuhan sendiri, untuk kita serukan sesering mungkin dengan kesederhanaan dan kemurnian hati seorang anak.
Sangatlah disayangkan, bahwa dalam banyak komunitas Kristiani dan saudara-i seiman, kita jumpai kenyataan bahwa doa inipun mulai ditinggalkan atau menjadi rutinitas belaka. Bahkan, banyak pengkhotbah yang merasa dirinya guru dalam doa, justru mengajarkan metode-metode doa baru, terkadang tidak Kristiani, yang justru mengembalikan doa pada bentuk bertele-tele, kesalehan palsu berselubung pengucapan doa yang lantang dan manis didengar.
Doa yang sederhana, bila didoakan dalam keheningan batin oleh hati yang mencinta, jauh lebih bernilai dibandingkan doa yang memukau yang diucapkan di atas panggung dengan sorotan lampu konser oleh seorang pendoa yang berlagak “superstar“.
Doa bukanlah pertunjukan di hadapan manusia, melainkan suatu gerakan cinta dalam ketersembunyian batin bersama Allah.
Temukanlah keindahan doa yang sederhana dalam doa “Bapa Kami“, sebagaimana diajarkan oleh Tuhan kita, suatu doa agung yang merangkum seluruh ungkapan hati manusia kepada Allah. Melangkahlah dalam doa dengan cinta seorang anak yang mendekati Bapanya, dan biarlah keheningan doa itu membawamu pada persatuan cinta yang mesra dengan Allah.

Pax, in aeternum.
Fernando

Tinggalkan komentar