Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan Biasa XI

image

KETIKA CINTA MULAI MATI

Bacaan:
2Kor.6:1-10; Mzm.98:1.2-3ab.3cd-4; Mat.5:38-42

Renungan:
Meskipun tekanan individualisme dan hedonisme saat ini cenderung mendorong manusia untuk memberi definisi baru dari cinta, Iman Kristiani sejak masa Gereja purba/perdana tidak pernah membedakan antara cinta kepada Allah dan cinta kepada manusia, antara mencintai Yang Mahatinggi dan mencintai sesama yang paling hina-dina dan menderita, termasuk yang paling sulit dicintai sekalipun.
Tidak mungkin mengatakan mencintai Allah tanpa memiliki cinta yang sama besarnya kepada sesama.
Adalah suatu tragedi kegagalan cinta yang terjadi, manakala seseorang melangkahkan kaki ke Gereja untuk menghadiri Misa Kudus, tetapi dalam perjalanannya justru mengabaikan mereka yang miskin, menderita, dilecehkan martabatnya, dikucilkan, dibuang, diperlakukan tidak adil, yang seolah tanpa harapan, bahkan yang membenci dan melukai kita di sepanjang perjalanan.
Pandangan dan hati seorang Kristiani memang harus selalu diarahkan ke surga, tetapi ini bukan menjadi pembenaran untuk tidak mau ambil pusing melihat penderitaan yang ada di dunia, apalagi menolak untuk mencintai sesama di tengah itu semua.
Kita dipanggil untuk berjumpa dengan Allah, tetapi haruslah dimengerti bahwa bertemu dengan Allah “dalam” sesama manusia merupakan bagian terpenting dari perjumpaan antara Allah dengan manusia.
Maka, kegagalan manusia memandang dan berjumpa dengan Allah dalam dunia sekarang ini, secara jujur haruslah diakui sebagai kegagalan manusia untuk memandang dan menjumpai Dia dalam sesama.
Tentu saja, cinta yang sejati haruslah selalu dan selalu “tak bersyarat“.
Sifat tak bersyarat dari cinta menuntut pula dari kita kesediaan untuk mencintai sampai “terluka“. Banyak orang Kristen mengalami kegagalan mencintai sesama, karena mereka berhenti melangkah saat mengalami luka ketika mencintai. Langkah cinta itu terhenti dikarenakan ketidaksiapan untuk menyadari sifat tak bersyarat dari cinta, yang haruslah pula selalu “mengampuni“, sesulit apapun itu.
Ingatlah baik-baik akan hal ini, setiap kali kita menemukan kesulitan untuk mencintai sampai terluka, atau merasa sulit untuk mengampuni, pandanglah Yesus Yang Tersalib, dan jika engkau memang merasa tuntutan cinta itu tidak adil atau terlampau berat, bawalah perkaramu di hadapan Salib Tuhan.
Orang yang sungguh memahami misteri Salib, ketika membawa perasaan terluka dan sulit mengampuni di hadapan Yesus Yang Tersalib, akan menemukan dirinya tertunduk malu dalam suatu ketidakpantasan yang suci, karena apa yang kita alami, sama sekali tidak sebanding dengan apa yang Dia alami.
Mereka yang menyebut diri pengikut Kristus, tetapi menolak untuk mencintai sampai terluka, dan enggan untuk mengampuni, mungkin sudah saatnya memikirkan jalan lain, karena jalan seorang Kristiani adalah jalan Salib, yang dipenuhi luka, dan menemukan sukacita dalam pengampunan.
Belajarlah mencintai tanpa syarat, tanpa mengharapkan sesuatu sebagai balasan. Ketika kita bertanya, “Apa yang telah kau perbuat bagiku untuk layak kucintai?“, pada saat itulah Cinta kita mulai Mati.

Pax, in aeternum.
Fernando

2 thoughts on “Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan Biasa XI

Tinggalkan komentar