Meditasi Harian ~ Pesta Hati Tersuci Maria

image

JANGAN BERSUMPAH !

Bacaan:
2Kor.5:14-21; Mzm.103:1-2.3-4.8-9.11-12; Mat.5:33-37

Renungan:
Umat Kristiani/Katolik di dataran Britania Raya dan Amerika Utara sering disapa sebagai “The Faithful“, yang meskipun hampir selalu diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai “Yang Beriman“, tetapi arti tepat lainnya dari kata tersebut adalah mereka, atau orang-orang “Yang Setia – Yang Memegang Janji“.

Dengan memahami arti kata ini, dan dalam terang Sakramen Baptis, kita bisa lebih memahami Injil hari ini, dan mengerti kenapa orang Katolik sekalipun “tidak dilarang“, tetapi sangat “berhati-hati” untuk bersumpah dengan menggunakan “Nama Tuhan“.
Kalau berjanji demi diri sendiri sudah cukup, maka janganlah bersumpah demi nama Tuhan, karena manakala seorang Katolik berjanji demi dirinya, sebenarnya dia telah memberikan dirinya, mempertaruhkan martabat Kristiani-nya sebagai jaminan atas kata-katanya. Dengan memahami arti sejati “The Faithful – Kaum Beriman – Yang Setia – Yang Memegang Janji“, harusnya janji seorang Katolik sudah lebih dari cukup, tanpa perlu untuk bersumpah.
Demikian pula dapat dikatakan, bahwa seorang beriman yang mengucapkan janji palsu, apalagi sumpah palsu, telah berdosa terhadap Allah, mendatangkan kemalangan bagi tubuh dan jiwanya, dan merusak citra Allah dan martabat Kristiani dalam dirinya.

Larangan Tuhan Yesus untuk mengucapkan sumpah dengan mengatas namakan Tuhan hendaknya tidak ditafsirkan secara keliru, karena dalam Kitab Suci dan Tradisi Gereja pun kita sering mendapati bahwa kaum beriman dan saleh menggunakan nama Tuhan dalam bersumpah.
Yang dikecam Yesus bukanlah hakekat dari sumpah itu sendiri, melainkan bagaimana orang-orang pada masanya (dan juga pada masa sekarang ini) yang secara sadar, sembarangan, gampangan, dan tidak hormat menggunakan nama Tuhan dalam sumpah yang mereka lakukan.
Maka, dalam terang iman kita pun diajak untuk memahami kecaman Tuhan Yesus secara benar dan bijaksana.

Sumpah demi nama Tuhan berarti memanggil Kebenaran Ilahi untuk menjadi Saksi Agung atas kata-kata dari orang yang mengucapkan sumpah itu. Dengan mendasarkan pada Perintah Allah yang ke-2, harusnya setiap orang beriman sungguh merenungkan konsekuensi Ilahi manakala hendak mengucapkan sumpah yang demikian.
Sumpah dengan mengatas namakan Tuhan, hanya boleh dilakukan oleh seorang Katolik dalam situasi yang sungguh benar, berat dan mendesak, bilamana sungguh diperlukan dan diwajibkan oleh Negara (dan wajar), atau demi terlaksananya proses peradilan yang jujur dan adil atas suatu perkara.

Dunia saat ini dipenuhi dengan saling tidak percaya, saling curiga, menjatuhkan satu sama lain, yang bila direnungkan, salah satu penyebab utamanya adalah sikap manusia yang yang merendahkan sumpah dan janji yang mereka buat di hadapan Allah dan sesama, dengan berulang kali melanggarnya.
Setiap hari kira menyaksikan dan melihat bagaimana dalam berbagai tingkatan, lingkup kehidupan, dan relasi sosial, terutama di bidang pemerintahan, hukum dan politik, dimana banyak orang, bahkan termasuk mereka yang menyebut diri kaum beriman, justru melanggar sumpah dan janji yang telah mereka ucapkan di hadapan Tuhan dan sesama.
Kiranya kecaman Yesus mengingatkan kita akan panggilan Kristiani untuk menjadi saksi-saksi Kebenaran.

Pada Pesta Hati Tersuci Santa Perawan Maria ini, marilah kita meneladani kemurnian hati dari Bunda kita yang terkasih.
Saat ia menjawab “Ya” kepada Allah, dan “Tidak” kepada si jahat, maka jawaban itu adalah jawaban final yang terus ia pegang dalam situasi apapun, tanpa syarat, dan dengan kepercayaan tanpa batas, sampai akhir hidupnya di dunia, melebihi semua janji dan sumpah dari manusia manapun di sepanjang sejarah.
Dengan demikian, Pesta Hati Tersuci Maria, yang diperingati sehari sesudah Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus ini, tidak dimaksudkan untuk menyaingi atau seolah hendak men-Tuhan-kan Maria, melainkan semata-mata hendak mengungkapkan bahwa bilamana kemarin umat beriman merayakan kelimpahan cinta Tuhan yang mengalir dari Hati Kudus-Nya, hari ini Gereja bersukacita karena boleh memperingati seorang wanita beriman yang paling bercahaya di antara semua manusia, seorang teladan dalam hal ketaatan untuk membalas cinta Tuhan itu, dengan “Fiat-nya” yang terpancar dari kemurnian hati seorang hamba Allah yang setia.
Itulah inti Pesta Hati Tersuci Maria pada hari ini.

Ya Yesus, semoga kami selalu menjaga kemurnian hati seperti hati tersuci Ibu-Mu, untuk dapat selalu menjawab “Ya” kepada-Mu, dan “Tidak” kepada si jahat. Amen.

Pax, in aeternum.
Fernando

Tinggalkan komentar