Meditasi Harian ~ HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS

image

BERILAH HATIMU KEPADA HATINYA

Bacaan:
Hos.11:1.3-4.8c-9; Yes.12:2-3.4bcd.5-6; Ef.3:8-12.14-19; Yoh.19:31-37

Renungan:
Penginjil St. Yohanes Rasul dalam surat-surat pastoralnya berulang kali mengungkapkan bahwa, “Allah adalah Cinta (Kasih)“.
Bahkan pada senja hidupnya dikatakan bahwa St. Yohanes Rasul seringkali duduk berjam-jam lamanya, untuk berbagi sukacita Injil akan hal itu di tengah murid-muridnya yang masih muda.
Suatu ketika, saat sedang mengajar, salah seorang muridnya mengeluh kepada St. Yohanes Rasul, “Bapa…kami selalu mendengarmu berbicara tentang cintakasih, bagaimana Allah begitu mencintai kita, dan bagaimana kita juga dipanggil untuk mencintai sesama. Tetapi, masih banyak hal lain yang diajarkan oleh Tuhan kita. Kenapa Bapa tidak berbicara tentang hal-hal lain itu, selain daripada Cinta?
Maka Sang Rasul, yang pada masa mudanya pernah menyandarkan kepalanya pada Hati Kudus Yesus itu pun menjawab dengan penuh kelembutan, “Karena tiada sesuatupun yang lebih penting selain cinta…cinta…cinta…!

Karena cinta-Nya yang besar, Allah menjadi manusia, menjadi sama dengan kita, kecuali dalam hal dosa. Dalam kelimpahan cinta dari Hati Kudus-Nya, sekalipun ditolak oleh umat kesayangan-Nya yang tidak mau membalas cinta-Nya, Ia rela menderita sengsara yang amat mengerikan, bahkan sampai wafat di kayu salib, supaya umat manusia dapat beroleh keselamatan dan beroleh hidup kekal.
Sebenarnya, Allah dalam ke-Mahakuasaan-Nya dapat saja menyelamatkan dunia dengan cara-cara lain, tanpa harus memberi Diri-Nya sebagai kurban.
Akan tetapi, kiranya baik untuk dikatakan bahwa hanya dengan cara inilah, hanya dengan “memandang Dia yang mereka tikam“, hanya dengan merangkul “Hati Yesus Raja Cinta, yang ditembusi tombak bengis“, umat manusia dapat benar-benar memahami kedalaman cinta yang mengalir dengan begitu melimpah dari Hati Tuhan.
Inilah makna terdalam dari Hari Raya Hati Yesus Yang Mahakudus pada hari ini. Hari ini, Bunda Gereja sekali lagi mengajak kita untuk merenungkan misteri cinta yang bersumber dari Hati Tuhan.
Perlu juga untuk dimengerti bahwa devosi Hati Kudus Yesus tidak dapat dipisahkan dari Sakramen Ekaristi.
Dalam Misa Kudus, umat beriman dapat selalu mengecap dan menikmati secara sempurna saat rahmat ketika Allah memberikan Diri-Nya, Tubuh dan Darah-Nya, sebagai santapan yang memberi kita kekekalan.
Inilah Sakramen Agung dimana darinya mengalir darah dan air yang memberi hidup, yang memungkinkan manusia untuk memandang Hati Kudus-Nya secara tersamar, yang memampukan kita untuk bersatu dengan Allah tanpa harus binasa, serta yang sanggup mengubah hati kita seperti Hati-Nya.

Tidak mungkin memiliki devosi yang besar terhadap Hati Kudus Yesus, tanpa memiliki kecintaan yang besar pula akan Misa Kudus, disertai kerinduan sejati untuk menyambut Tubuh dan Darah Tuhan sesering mungkin.
Siapapun yang hendak mencoba memahami kedalaman cinta dari Hati Tuhan, hanya akan menemukan jawabannya manakala ia menanggapi undangan Tuhan untuk bersatu dengan-Nya dalam Misa Kudus.
Orang tidak dapat menyentuh Hati Tuhan dengan akal budi belaka. Demikian pula, seorang beriman hanya dapat melangkah mendekati Altar Tuhan dalam tuntunan kuasa cinta, agar dapat dengan penuh Iman dan hormat bakti menyambut Tubuh dan Darah Tuhan.
Di tengah tantangan untuk beriman di dunia, diperhadapkan dengan berbagai usaha jahat untuk melemahkan Gereja dari luar dan terutama dari dalam, kita dipanggil, malah dituntut oleh suatu desakan yang suci, untuk menemukan kekuatan dan jawaban terbaik hanya dalam Misa Kudus. Obat paling ampuh untuk melawan kejahatan zaman ini adalah Sakramen Ekaristi.
Semakin sering seseorang menimba dari mata air Ekaristi, hatinya akan semakin diubah menjadi seperti Hati Tuhan, cintanya akan semakin murni dan sempurna sebagaimana Cinta Tuhan.

Cinta hanya akan menemukan kesempurnaan ketika yang mencinta sangat serupa atau telah menjadi satu dengan yang dicintainya.
Ibarat mempelai wanita, seorang Kristiani hanya dapat menemukan kesempurnaan cinta ketika ia, yang telah tergila-gila karena luka cinta, melangkah keluar di malam gelap yang memurnikan, untuk mencari Kekasih jiwanya, yakni Allah sendiri.
Dan seolah masuk ke dalam awan ketidaktahuan, ia pun kemudian berubah rupa dan menjadi satu dengan Sang Cinta, satu-satunya Pribadi yang dapat menyembuhkan luka cinta itu.
Sebab bukan dalam kelimpahan harta seseorang memperoleh hidup, bukan pula dalam kenikmatan, kekuasaan, ketenaran, kenyamanan, kesuksesan, maupun segala hal lain, sebagaimana yang dibisikkan oleh bapa segala dusta, yang meracuni hati manusia.
Bukan dalam segala kefanaan itu seseorang beroleh hidup kekal, melainkan hanya saat ia dicinta dan mencinta, ia beroleh “Hidup“.
Keseluruhan tujuan hidup Kristiani adalah untuk membuka mata hati kita agar dapat melihat, menyentuh, dan menjadi satu dengan Hati Tuhan.

Semoga Hati Kudus Yesus yang terluka karena cinta, menuntun kita untuk menemukan makna hidup yang sejati di dalam Dia, karena menyadari bahwa kita teramat berharga di Hati Tuhan, dicintai oleh-Nya sampai sehabis-habisnya, dan dipanggil untuk mencintai sampai terluka sama seperti Dia.
Di hari istimewa ini, berdoalah secara khusus bagi para Imam, agar mereka dapat menjadi gembala yang baik, lemah lembut dan rendah hati, sebagaimana telah diteladankan oleh Sang Gembala Agung, Tuhan kita Yesus Kristus.
Tugas kerasulan kita saat ini adalah untuk membawa Hati Tuhan ke dalam dunia, dan memenangkan hati sebanyak mungkin orang bagi Allah.
Dunia adalah ladang atau medan tempur kita. Jiwa-jiwa adalah tuaian yang harus kita menangkan.
Oleh karena itu, berilah hatimu kepada Hati-Nya, dan sesudah hatimu dikobarkan oleh api cinta-Nya, jalanilah hidup dan karyamu “sedemikian rupa“, sehingga Hati Kudus Yesus semakin dikasihi oleh dunia.
Bersama Hati Kudus Yesus, marilah kita menguduskan diri, menguduskan karya, dan menguduskan seluruh dunia melalui karya.

Pax, in aeternum.
Fernando

Tinggalkan komentar