Meditasi Harian ~ Rabu dalam Pekan Biasa VIII

image

GEMBALA = HAMBA = PELAYAN

Bacaan:
Sir.36:1,4-5a,10-17; Mzm.79:8,9,11,13; Mrk.10:32-45

Renungan:
Merenungkan bacaan Injil hari ini, kita teringat akan peringatan Bapa Suci Paus Fransiskus dalam homilinya beberapa hari yang lalu, yakni bahwa seorang Kristiani haruslah membuang jauh-jauh niat untuk mengikuti Yesus karena didasarkan pada ambisi pribadi.
Ketika Yakobus dan Yohanes meminta Yesus untuk memberikan mereka tempat terhormat untuk duduk di sisi-Nya dalam kemuliaan, permintaan tersebut menuai kemarahan dari kesepuluh murid yang lain. Di balik kemarahan dan kecaman para rasul lainnya, tersembunyi ambisi yang sama, bahwa di dalam hati, mereka pun  sebenarnya juga mengharapkan hal yang sama. Keinginan hati para rasul akan kemuliaan, yang dengan terus-terang diungkapkan oleh Yakobus dan Yohanes, menunjukkan juga kegagalan yang sama dari para pengikut Kristus lainnya untuk memahami, bahwa kemuliaan sebagai rasul Kristus, hanya bisa ditemukan dalam kesediaan untuk merangkul salib dengan setia dan penuh cinta.

Siapapun yang diberi kepercayaan oleh Allah untuk menjadi seorang pemimpin rohani, harus terlebih dahulu memiliki pemahaman yang benar akan 3 tugas yang menyertai dan diemban oleh seorang pemimpin rohani yang sejati.
Pertama, dia harus menjadi seorang gembala yang baik, yang memelihara jiwa, bukannya menghilangkan atau menyesatkan jiwa yang dipercayakan kepadanya oleh Allah. Dia hendaknya menjadi seorang gembala yang “berjalan di depan” (bdk.Mrk.10:32) terlebih dahulu dalam merangkul salib. Untuk mengajak orang berdoa, dia haruslah terlebih dahulu menjadi seorang pendoa. Untuk berbicara tentang kasih dan pengampunan, dia haruslah lebih dulu mengasihi dan mengampuni. Inilah keteladanan yang membuat domba-dombanya mengenal suara sang gembala.
Kedua, dia harus menjadi seorang hamba yang taat kepada Tuan-nya, yakni Allah sendiri. Di dalam segenap pemberian diri dan karya kerasulannya, Kristus harus semakin besar, dan dia semakin kecil, bukan sebaliknya. Tuhanlah yang harus dia taati. Jangan sampai dia menghambakan diri pada mamon, atau memuliakan dirinya sendiri. Ketaatan kepada Allah akan nampak pula secara sempurna dalam ketaatan mutlaknya kepada Magisterium Gereja Kudus.
Ketiga, dia harus menjadi seorang pelayan. Yesus telah menunjukkan keteladanan itu, ketika Dia membasuh kaki murid-murid-Nya. Maka, seorang pemimpin rohani adalah juga seorang yang siap untuk melayani, bukan hanya bagian terbaik, melainkan terutama bagian terburuk dari kemanusiaan, sebagaimana Tuhan dan Guru kita telah lebih dahulu melakukannya bagi kita.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kegagalan seorang pemimpin rohani untuk berbuah baik dalam karya kerasulannya, disebabkan karena pemahaman yang keliru atau ketika ia begitu lekat dengan dunia, sehingga melupakan makna sejati dari 3 tugas dasar ini. Jangan berbangga dan gila hormat menyebut diri gembala, hamba, dan pelayan Tuhan, bilamana pada kenyataannya yang dilakukan justru berbanding terbalik dari arti sejati seorang gembala, hamba, dan pelayan Tuhan yang sejati.
Semoga Tuhan senantiasa mengaruniakan kepada para pemimpin rohani di tengah kita kerendahan hati, serta keterbukaan untuk dimurnikan dan diubahkan oleh Api Roh Kudus, sehingga sungguh-sungguh menjadi gembala, hamba, dan pelayan yang sejati.
Santa Maria, doakanlah kami.

Pax, in aeternum.
Fernando

Tinggalkan komentar