Meditasi Harian ~ Rabu dalam Pekan Biasa VIII

image

GEMBALA = HAMBA = PELAYAN

Bacaan:
Sir.36:1,4-5a,10-17; Mzm.79:8,9,11,13; Mrk.10:32-45

Renungan:
Merenungkan bacaan Injil hari ini, kita teringat akan peringatan Bapa Suci Paus Fransiskus dalam homilinya beberapa hari yang lalu, yakni bahwa seorang Kristiani haruslah membuang jauh-jauh niat untuk mengikuti Yesus karena didasarkan pada ambisi pribadi.
Ketika Yakobus dan Yohanes meminta Yesus untuk memberikan mereka tempat terhormat untuk duduk di sisi-Nya dalam kemuliaan, permintaan tersebut menuai kemarahan dari kesepuluh murid yang lain. Di balik kemarahan dan kecaman para rasul lainnya, tersembunyi ambisi yang sama, bahwa di dalam hati, mereka pun  sebenarnya juga mengharapkan hal yang sama. Keinginan hati para rasul akan kemuliaan, yang dengan terus-terang diungkapkan oleh Yakobus dan Yohanes, menunjukkan juga kegagalan yang sama dari para pengikut Kristus lainnya untuk memahami, bahwa kemuliaan sebagai rasul Kristus, hanya bisa ditemukan dalam kesediaan untuk merangkul salib dengan setia dan penuh cinta.

Siapapun yang diberi kepercayaan oleh Allah untuk menjadi seorang pemimpin rohani, harus terlebih dahulu memiliki pemahaman yang benar akan 3 tugas yang menyertai dan diemban oleh seorang pemimpin rohani yang sejati.
Pertama, dia harus menjadi seorang gembala yang baik, yang memelihara jiwa, bukannya menghilangkan atau menyesatkan jiwa yang dipercayakan kepadanya oleh Allah. Dia hendaknya menjadi seorang gembala yang “berjalan di depan” (bdk.Mrk.10:32) terlebih dahulu dalam merangkul salib. Untuk mengajak orang berdoa, dia haruslah terlebih dahulu menjadi seorang pendoa. Untuk berbicara tentang kasih dan pengampunan, dia haruslah lebih dulu mengasihi dan mengampuni. Inilah keteladanan yang membuat domba-dombanya mengenal suara sang gembala.
Kedua, dia harus menjadi seorang hamba yang taat kepada Tuan-nya, yakni Allah sendiri. Di dalam segenap pemberian diri dan karya kerasulannya, Kristus harus semakin besar, dan dia semakin kecil, bukan sebaliknya. Tuhanlah yang harus dia taati. Jangan sampai dia menghambakan diri pada mamon, atau memuliakan dirinya sendiri. Ketaatan kepada Allah akan nampak pula secara sempurna dalam ketaatan mutlaknya kepada Magisterium Gereja Kudus.
Ketiga, dia harus menjadi seorang pelayan. Yesus telah menunjukkan keteladanan itu, ketika Dia membasuh kaki murid-murid-Nya. Maka, seorang pemimpin rohani adalah juga seorang yang siap untuk melayani, bukan hanya bagian terbaik, melainkan terutama bagian terburuk dari kemanusiaan, sebagaimana Tuhan dan Guru kita telah lebih dahulu melakukannya bagi kita.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kegagalan seorang pemimpin rohani untuk berbuah baik dalam karya kerasulannya, disebabkan karena pemahaman yang keliru atau ketika ia begitu lekat dengan dunia, sehingga melupakan makna sejati dari 3 tugas dasar ini. Jangan berbangga dan gila hormat menyebut diri gembala, hamba, dan pelayan Tuhan, bilamana pada kenyataannya yang dilakukan justru berbanding terbalik dari arti sejati seorang gembala, hamba, dan pelayan Tuhan yang sejati.
Semoga Tuhan senantiasa mengaruniakan kepada para pemimpin rohani di tengah kita kerendahan hati, serta keterbukaan untuk dimurnikan dan diubahkan oleh Api Roh Kudus, sehingga sungguh-sungguh menjadi gembala, hamba, dan pelayan yang sejati.
Santa Maria, doakanlah kami.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan Biasa VIII

image

MELEPASKAN SEGALA UNTUK BEROLEH SEGALA

Bacaan:
Sir.35: 1-12; Mzm.5:5-6.7-8.14.23;. Mrk.10:28-31

Renungan:
Kelekatan adalah salah satu penyebab utama ketidakbahagiaan, dan penghalang terbesar bagi setiap orang Kristen untuk mengalami kepenuhan dari hidup berimannya.
Orang dapat saja memiliki segalanya, namun tetap tidak bahagia. Kita boleh memiliki sebuah keluarga, tempat tinggal, pekerjaan dan finansial yang mapan, pertemanan, hobi atau talenta, dan berbagai hal lain yang kita sebut sebagai “milik“.
Akan tetapi, dalam Injil hari ini, Yesus mengingatkan kita agar “Janganlah hatimu melekat padanya.”
Ketika seorang anak enggan melepaskan mainan kesayangannya untuk disumbangkan kepada tempat penampungan anak terlantar, itulah kelekatan. Ketika seorang konglomerat, jatuh dalam depresi akibat kehilangan jutaan dollar dalam suatu investasi yang merugikan, itulah kelekatan. Ketika seorang wanita menghabiskan uang begitu banyaknya karena tidak mau tubuhnya mengalami perubahan seiring usia, itulah kelekatan. Ketika seorang Imam setengah hati untuk taat pada Uskupnya, yang memberi tugas ke tempat baru, sehingga ia harus meninggalkan umat yang begitu ia kasihi selama ini, itulah kelekatan.

Panggilan Kristiani adalah panggilan untuk berbahagia dan bersukacita. Maka, bilamana hidup kita ditandai dengan rupa-rupa ketidakbahagiaan dan ketiadaan sukacita, itu berarti ada kelekatan yang harus kita lepaskan.
Saat orang mulai mencari dan menemukan kebahagiaan pada kepemilikan, pada saat itulah dia sebenarnya mulai kehilangan kebahagiaan. Tidak ada satupun yang abadi dari kepemilikan seperti itu. Kita hanya akan menemukan kebahagiaan dan sukacita yang sejati, apabila hati kita melekat erat dan bersatu sepenuhnya dalam Hati Tuhan.
Oleh karena itu, berjalanlah di tengah dunia, tetapi hindarilah dirimu dari keinginan untuk menggenggam sesuatu dalam perjalanan, untuk menjadikannya sebagai milik yang harus dipertahankan.
Melangkahlah seperti seorang peziarah yang dipimpin oleh Roh kemiskinan yang suci, sehingga sekalipun memiliki, namun hatimu tidak melekat pada semua itu, sebab hatimu hanya senantiasa memandang Allah.

St. Yohanes dari Salib mengungkapkan paradoks kristiani ini dengan begitu indahnya dengan mengatakan bahwa, “untuk beroleh Kristus Sang Segala, lepaskanlah segala“.
Seringkali terjadi bahwa kelekatanlah yang membuat kita sulit untuk dapat selalu menjawab “Ya” kepada Allah, atau mengalami Dia sebagai Pribadi yang terlalu banyak menuntut. Ketidakmampuan kita untuk mencintai Tuhan dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatan, disebabkan oleh kelekatan. Hari ini renungkanlah, apa saja kelekatan-kelekatan yang membuat kita seringkali jatuh dalam dosa yang sama, yang berulang kali melukai hati Tuhan dengan kecenderungan-kecenderungannya yang jahat?
Hari ini Tuhan menunggu jawaban darimu, “Jika engkau benar-benar mengasihi Aku lebih dari segala sesuatu, lepaskanlah itu“.

Pandanglah Ibu Maria, dan belajarlah darinya. Dia adalah hamba Allah yang paling setia dan gambaran kesempurnaan Gereja. Perawan Maria dikatakan berbahagia, hidupnya selalu dipenuhi sukacita dan dipuji oleh segala bangsa, karena sepanjang hidupnya dia senantiasa memenuhi hatinya dengan cinta akan Allah, Kekasih jiwanya. Hatinya begitu melekat erat dan bersatu dalam Allah, sebab dia tidak pernah mengijinkan satu bagian pun dalam ruang-ruang hatinya bagi kelekatan atau “milik” yang harus dipertahankan.
Inilah kebahagiaannya. Inilah sukacitanya. Suatu kepenuhan mistik yang Ilahi, sebagaimana diutarakan oleh St. Teresa dari Avila, yaitu “Allah saja cukup ~ solo Dios basta“.
Semoga Roh Allah memurnikan cinta kita, agar menemukan kebahagiaan dan sukacita dalam kelepasan akan segala, sehingga pada akhirnya kita semua beroleh Kristus Sang Segala.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ HARI RAYA PENTAKOSTA

image

PENTAKOSTA VS BABEL

Bacaan:
Kis.2:2-11; Mzm.104: 1ab.24ac.29bc.30.31.34; Gal.5:16-25; Yoh.15:26-27. 16:12-15

Renungan:
Pentakosta adalah perayaan kesatuan umat dalam iman, pemahaman, kesaksian, dan komunikasi kasih.
Umat manusia saat ini dengan bangganya menyatakan bahwa dirinya semakin menjadi dekat satu dengan yang lain karena kemajuan dalam komunikasi, transportasi, teknologi, dan berbagai kemajuan zaman lainnya. Batasan-batasan geografis, suku, agama, dan budaya, seakan mulai sirna.
Kendati demikian, kitapun menyaksikan bahwa justru di tengah berbagai usaha manusia untuk mendekatkan diri satu sama lain dengan berbagai sarana dari kemajuan tersebut, peradaban kita saat ini semakin ditandai pula dengan berbagai bentuk kebencian, konflik, semakin sulitnya komunikasi dan kesepahaman antara generasi, kecenderungan untuk semakin menutup diri dan terjebak dalam arus jejaring sosial yang membuat manusia kehilangan komunikasi yang lebih nyata dan personal, pemaksaan nilai-nilai baru yang justru merusak martabat manusia, dan egoisme serta kerakusan untuk memenangkan kepentingannya sendiri dengan berbagai cara.
Jikalau demikian, dapatkah benar-benar dikatakan bahwa umat manusia zaman sekarang lebih dekat dibanding sebelumnya, semakin bersatu, semakin saling memahami dan saling berbagi?
Tidakkah usaha manusia saat ini memiliki kesamaan dengan keadaan di masa lalu saat menara Babel dibangun?

Kisah Babel adalah gambaran kemanusiaan yang ingin bersatu, ingin semakin saling memahami dan memiliki bentuk komunikasi yang sama agar lebih mendekatkan diri satu dengan yang lain, serta tidak ingin lagi tercerai-berai. Tetapi, segala usaha ini dilakukan tanpa Tuhan. Mereka merasa dapat menciptakan sendiri jalan ke surga, dan didorong oleh hasrat untuk menciptakan surga serta berkuasa atas hidupnya tanpa Tuhan.
Dan lihatlah, pada akhirnya yang terjadi justru kekacauan dan kehancuran.

Apa yang terjadi di zaman Babel, memiliki kesamaan dengan masa sekarang ini, hidup kita saat ini. Berbagai kemajuan dan ilmu pengetahuan telah memberi kita kekuatan untuk mendominasi kekuatan alam, untuk memanipulasi unsur-unsur dalam kehidupan kita, untuk mereproduksi makhluk hidup, hampir ke titik penciptaan manusia yang seutuhnya. Dalam situasi demikian, berdoa kepada Allah seolah menjadi sesuatu yang ketinggalan zaman, sia-sia, karena kita dapat membangun dan menciptakan apapun yang kita inginkan tanpa Tuhan. Kita tidak menyadari bahwa atas satu dan berbagai cara, kita sebenarnya menghidupkan kembali pengalaman yang sama seperti Babel.
Ada suatu paradoks, bahwa kendati dengan bangganya kita mengatakan atau mengklaim bahwa berbagai kemajuan saat ini telah membuat kita semakin dekat, semakin komunikatif, semakin bersatu, dan semakin saling memahami satu dengan yang lain, pada kenyataannya justru kita semakin enggan untuk saling memahami, semakin merasa tidak percaya, curiga, takut, terancam, menjatuhkan satu dengan yang lain.
Kalau demikian, apa yang sebenarnya yang salah? Bagaimana kita dapat benar-benar memiliki hidup dalam keharmonisan yang sejati?

Jawabannya ada dalam Kitab Suci: persatuan hanya bisa ada dan nyata bila Roh Allah juga berkarya di dalamnya. Sebab hanya oleh Roh-Nya kita dapat diberi hati yang baru dan lidah baru, kemampuan baru untuk berkomunikasi. Inilah yang terjadi pada hari Pentakosta. Pada pagi itu, lima puluh hari setelah Paskah, angin kuat bertiup di atas Yerusalem, dan api Roh Kudus turun atas para murid yang berkumpul disitu. Roh Allah dalam rupa lidah-lidah api itu turun dan menetap di atas kepala masing-masing dari mereka, dan memicu di dalamnya api ilahi, api cinta yang mampu mengubah segala hal. Ketakutan mereka menghilang, hati mereka dipenuhi dengan kekuatan baru, lidah mereka dikendurkan dan mereka mulai berbicara dengan bebas, sedemikian rupa sehingga semua orang yang menyaksikan dan mendengar mereka, beroleh kesaksian akan Kristus yang bangkit. Pada hari Pentakosta, dimana ada perpecahan dan ketidaksepahaman, persatuan dan kesepahaman lahir.

Injil hari ini mengungkapkan penegasan Yesus akan hal ini dengan begitu indahnya: “Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (Yoh.16:13).
Dalam Injil hari ini, Yesus hendak juga menjelaskan bagaimana Gereja seharusnya menampilkan dirinya di tengah dunia, yakni kita dipanggil untuk menjadi tempat dimana semua orang dapat menemukan persatuan yang sejati, komunikasi kasih tanpa kepalsuan, jalan yang aman untuk bersatu dengan Allah. Gereja harus menjadi tempat dimana semua orang menemukan hati yang terbuka dan mencinta, dimana martabat manusia dihargai, dan dimana kehidupan senantiasa diperjuangkan dan memperoleh makna.

Dengan demikian, orang dapat melihat dengan jelas mengapa Pentakosta adalah Pentakosta, dan Babel adalah Babel.
Kitapun mengerti apa yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus, yang memperingatkan kita untuk senantiasa dipimpin oleh Roh, dan menjauhi kedagingan.
Pentakosta ditandai dengan buah-buah Roh, sedangkan Babel mengalami kehancuran karena didasarkan pada keinginan-keinginan daging.
Kita tidak bisa memiliki keduanya. Kita harus memiliki keberanian untuk memilih di pihak mana kita berdiri.
Semoga Perawan Suci Maria, Mempelai Roh Kudus, menjadi Bintang Timur yang menunjukkan jalan yang benar bagi kita, mengingatkan kita di pihak mana kita harus berdiri, agar sebagaimana Bunda Maria, kita senantiasa terbuka terhadap pimpinan Roh, kita pun membiarkan Roh Allah berkarya seluas-luasnya dalam hidup kita, sehingga pada akhirnya kita boleh menemukan kesatuan, pemahaman, komunikasi kasih, dan iman yang sejati, yang membawa kita untuk beroleh keselamatan yang kekal di dalam Allah.

Veni Sancte Spiritus !

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan VII Paskah

image

DUNIA TIDAK PERLU MENGENAL KAMU

Bacaan:
Kis.20:17-27; Mzm.68: 10-11.20-21; Yoh.17:1-11a

Renungan:
Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yoh.17:3)

Doa dan kerinduan Yesus ini hendaknya selalu menjadi doa dan kerinduan setiap orang yang menyebut diri “rasul Kristus“, atau “hamba Tuhan“.
Meskipun terkadang sulit di-Amin-kan oleh sebagian orang yang dengan bangga menyandang sapaan “hamba Tuhan“, sebenarnya suka atau tidak, siapapun yang memberi diri bagi karya kerasulan dan pelayanan Kristiani, harus menyadari kebenaran ini, yakni bahwa sukacita terbesar dari karya kerasulan dan pelayanan kita hanya bisa ditemukan dan mencapai kepenuhannya ketika “Kristus” semakin “dikenal“, dan “kita” yang melayani Dia, semakin “tidak dikenal“.

Dunia tidak perlu mengenal kamu. Kristus-lah yang harus mereka kenali di dalam dirimu, di dalam hidup dan karyamu, di dalam pelayananmu, di dalam setiap tugas pekerjaanmu, di dalam keluargamu, di dalam setiap langkah dan menit-menit kehidupanmu.
Kalau karya kerasulanmu berhasil memenangkan jiwa-jiwa bagi Allah, jangan pernah sekali-kali berpikir bahwa itu adalah jasa-jasamu.
Kalau pewartaan sukacita Injil yang kamu lakukan mengobarkan hati dan menyentuh kedalaman jiwa pribadi-pribadi yang mendengarkannya, singkirkanlah jauh-jauh dari pikiranmu bahwa itu karena kekuatan, kehebatan, atau kebijaksanaanmu semata, apalagi sampai tergoda untuk berpikir seakan-akan Tuhan tidak dapat bertindak tanpa kamu, atau karya keselamatan-Nya hanya dapat berbuah secara maksimal melalui kamu.

Salah satu kejatuhan terbesar dari rasul-rasul Kristus ialah ketika melupakan tujuan utama kerasulannya, yaitu agar Tuhan semakin besar, dan dia semakin kecil. Tuhanlah yang harus semakin dikenal, dicintai, dan dimuliakan. Tanpa kesadaran akan tujuan ini, seorang “hamba Tuhan” dapat jatuh dalam kelekatan, kesombongan dan pemuliaan diri, menjadi budak uang dan kerakusan, bahkan nabi-nabi palsu yang menyerukan nama “Tuhan“, padahal hatinya telah digelapkan menjadi seperti “iblis” yang menyamar sebagai “malaikat terang“.
Jangan sampai orang-orang lebih mengenal kamu dengan segala borok-borokmu, dan justru tidak bisa melihat sedikitpun cahaya kemuliaan Tuhan yang bersinar di dalam dirimu.

Mohonkanlah dalam hari-hari Novena Roh Kudus ini, karunia kerendahan hati dan kebijaksaan Ilahi, sehingga kita selalu disadarkan akan kerapuhan kita yang bagaikan bejana tanah liat, senantiasa diingatkan bahwa kita hanyalah alat, bagaikan kuas di tangan pelukis, untuk membiarkan Roh Allah berkarya seluas-luasnya dan menggerakkan kita untuk menghasilkan lukisan yang indah.
Pada akhirnya, bukan lukisan indah itu yang dipuji, bukan pula kuasnya yang dimuliakan, melainkan Sang Pelukis-lah yang dipuji dan dimuliakan.
Sukacita kita adalah dapat mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya, dan pada akhirnya beroleh kekekalan di Surga.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan VII Paskah

image

AKAL BUDIMU ADALAH UNTUK TUHAN

Bacaan:
Kis.19: 1-8; Mzm.68: 2-3.4-5ac.6-7ab; Yoh.16:29-33

Renungan:
Orang-orang Kristen sekarang ini haruslah menjadi orang-orang beriman yang cerdas, terdidik, dan menggunakan segenap akal budinya untuk mengenal apa yang ia Imani, sehingga dapat mengkomunikasikannya secara benar, tepat, dan meyakinkan kepada dunia. Itulah sebabnya, ada kebutuhan mendesak saat ini bahwa Teologi bukan hanya didalami oleh para Imam dan Biarawan-biarawati, melainkan juga oleh kaum Awam, sehingga karya kerasulan untuk mewartakan Injil dan menguduskan umat manusia, semakin menghasilkan buah yang melimpah.
Iman akan Allah bukanlah sekedar mitos, sebagaimana yang kita temukan dalam hidup Hesiodos dan Orpheus. Iman tidak pernah bertentangan dengan akal budi.  Manusia-lah yang selalu berusaha mempertentangkan iman melawan akal budi, maupun sebaliknya. Akan tetapi, sejatinya, akal budi adalah salah satu anugerah Ilahi terindah dari Karya Penciptaan, yang diberikan kepada manusia, agar ia dapat mengenal dan mencintai secara benar akan “Pribadi” yang telah menciptakannya dari ketiadaan.
Demikian pula, Akal Budi dapat menjadi sangat keliru, sesat, bahkan melenyapkan kehidupan, bilamana tanpa terang Iman yang sejati.

Karena ketiadaan Iman dan memberhalakan akal budi-lah, maka umat manusia saat ini semakin memalingkan wajah mereka dari Sang Pencipta, dan merasa bisa menyelesaikan segala persoalan dunia ini tanpa Tuhan.
Para ilmuwan melakukan rekayasa genetika untuk menemukan obat dari berbagai penyakit, tetapi untuk melakukan itu mereka membenarkan tindakan penghancuran benih-benih kehidupan;
atas nama kemanusiaan, seorang dokter melakukan euthanasia bagi pasien yang ingin mengakhiri hidupnya, dan seorang ibu merasa berhak melakukan aborsi untuk membunuh darah dagingnya sendiri karena tidak menginginkan anak itu;
demi pemahaman keliru akan hak asasi dan kesetaraan, undang-undang kini disahkan di banyak negara yang memberi definisi baru pada martabat pernikahan suci, yang tidak lagi diartikan sebagai persatuan kasih antara pria dan wanita, dan bahwa keluarga tidak lagi berarti suatu kesatuan kasih antara seorang ayah, seorang ibu, dan anak-anak sebagai adalah buah cinta mereka berdua.
Bahkan di dalam tubuh Gereja sendiri, terang akal budi yang keliru dan sesat saat ini berjuang dengan berbagai cara untuk membelokkan Gereja dari Ajaran Iman yang sejati.

Ke dalam dunia seperti inilah, ke dalam kegagalan akal budi semacam inilah, saat ini kita dipanggil untuk “menebarkan jala“. Dan untuk menebarkan jala secara benar, seseorang haruslah mengenal imannya, sehingga hidupnya dapat kesaksian dari sukacita Injil, dan dia dapat mewartakan imannya itu dengan berani, benar, dan tepat, tanpa keraguan.
Celakalah mereka, yang karena kelalaiannya sendiri, merasa tidak perlu mendalami Iman Katolik-nya dengan tekun, bersikap acuh tak acuh dan cuci tangan seperti Pilatus, dengan menyerahkan tugas itu hanya kepada para Imam dan Biarawan-biarawati.
Jadilah putra-putri Katolik yang tangguh, yang sungguh mengenal imannya, dan berdiri teguh di atasnya, melawan badai dan kegelapan dunia ini.

Bercahayalah! Jadilah Terang!
Mohonkanlah dalam Novena Roh Kudus selama hari-hari ini, karunia kebijaksanaan dan pengertian, sehingga kita semua dapat menjadi rasul-rasul Kristus yang meyakinkan, serta memenangkan sebanyak mungkin jiwa-jiwa bagi Allah.
Kiranya suara Tuhan dalam Injil hari ini meneguhkan imanmu, “Kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yoh.16:33)

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Minggu Paskah VII

image

MINGGU KOMUNIKASI SOSIAL SEDUNIA KE-49

Bacaan:
Kis.1:15-17.20a.20c-26; Mzm.103:1-2.11-12.19-20ab; 1 Yoh.4:11-16; Yoh.17: 11b-19

Renungan:
Gereja Katolik mengajarkan kita bahwa “Keluarga” adalah “Gereja Kecil“, “Gereja Rumah Tangga” (Ecclesia Domestica). Di dalam keluarga yang lengkap, Iman dapat tumbuh dengan lebih baik. Bagaimana cara kita dibesarkan dalam keluarga, nilai-nilai apa yang ditanamkan dalam keluarga, cara kita dididik dan dibesarkan dalam keluarga, sangat menentukan menjadi pribadi seperti apakah kita kelak.
Untuk menjadi Keluarga Katolik yang sejati, kita perlu mengkomunikasikan iman kita secara baik, benar, dan tepat.
Hari ini marilah kita merenungkan Pesan Bapa Suci Paus Fransiskus di Minggu Komunikasi Sosial Sedunia Ke-49 ini, untuk melihat arti Keluarga Katolik sebagai tempat perjumpaan cintakasih dan bagaimana mengkomunikasikan keluarga di tengah berbagai bentuk kegagalan komunikasi dunia saat ini.

Pesan Bapa Suci Paus Fransiskus

Untuk Hari Komunikasi Sedunia ke-49

Mengkomunikasikan Keluarga: Tempat Istimewa Perjumpaan Karunia Kasih

KELUARGA adalah sebuah pokok refleksi mendalam Gereja dan sebuah proses yang melibatkan dua Sinode: Sinode luar biasa baru-baru ini dan Sinode biasa yang dijadwalkan pada Oktober mendatang. Maka, hemat saya, tepatlah bila tema untuk Hari Komunikasi Sedunia yang ke-49 semestinya menjadikan keluarga sebagai titik acuannya.

Bagaimanapun juga, dalam konteks keluarga itulah kita pertama-tama belajar bagaimana berkomunikasi. Memusatkan perhatian pada konteks ini dapat membantu menjadikan komunikasi kita lebih autentik dan manusiawi, seraya pada saat yang sama membantu kita melihat keluarga dalam perspektif baru.

Kita dapat menimba ilham dari perikop Injil yang mengisahkan kunjungan Maria kepada Elisabet (Luk 1:39-56). ”Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: ‘Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu’” (ay. 41-42).

Kisah perikop itu sekali lagi memperlihatkan bagaimana komunikasi itu pada dasarnya juga melibatkan bahasa tubuh. Respon Elisabet atas salam Maria pertama-tama diekspresikan oleh bayi di dalam kandungannya yang melonjak kegirangan. Merasakan sukacita karena berjumpa sesama –suatu pengalaman personal yang kita alami, bahkan sebelum lahir pun- dalam arti tertentu merupakan wujud asali dan simbol dari semua bentuk komunikasi.

Rahim adalah “sekolah” komunikasi yang pertama, tempat mendengarkan dan kontak fisik di mana kita mulai mengakrabkan diri dengan dunia luar dalam sebuah lingkungan yang terlindung, dengan suara yang menenteramkan dari detak jantung sang ibu. Pertemuan di antara dua orang, yang saling terkait begitu erat namun tetap berbeda satu sama lain, sebuah pertemuan yang sarat janji, adalah pengalaman komunikasi kita yang pertama. Ini adalah pengalaman yang kita semua miliki, karena masing-masing kita terlahir dari seorang ibu.

Bahkan setelah kita terlahir ke dunia, dalam arti tertentu kita masih tetap berada dalam sebuah “rahim”, yakni keluarga. Sebuah rahim terdiri dari berbagai orang yang saling terkait: keluarga adalah tempat “di mana kita, meskipun berbeda, belajar hidup bersama orang lain” (Evangelii Gaudium, 66). Betapapun ada perbedaan jenis kelamin dan usia di antara mereka, namun para anggota keluarga menerima satu sama lain karena ada ikatan di antara mereka. Semakin lebar cakupan relasi ini dan semakin besar perbedaan usia, maka akan semakin kaya lingkungan hidup kita. Ikatan inilah yang merupakan akar bahasa, yang pada gilirannya memperkuat ikatan tersebut. Kita tidak menciptakan bahasa kita; kita dapat menggunakan bahasa karena kita telah mewarisinya. Di dalam keluarga inilah kita belajar menuturkan “bahasaibu”, yaitu bahasa dari mereka yang telah mendahului kita. (Bdk. 2 Makabe 7:25, 27). Di dalam keluarga kita menyadari bahwa ada orang-orang lain yang telah mendahului kita, mereka memungkinkan kita untuk berada dan pada gilirannya kita mesti menghasilkan kehidupan dan melakukan sesuatu yang baik lagi indah. Kita mampu memberi karena kita telah menerima. Lingkaran luhur ini merupakan intipati kemampuan keluarga untuk berkomunikasi di antara para anggotanya dan dengan orang-orang lain. Secara umum, lingkaran tersebut adalah model untuk semua komunikasi.

Pengalaman tentang relasi yang “mendahului” kita memungkinkan keluarga untuk menjadi latar di mana bentuk komunikasi yang paling dasar, yaitudoa, diwariskan. Ketika para orangtua menidurkan anak-anak mereka yang baru lahir, mereka sering kali mempercayakan anak-anak itu kepada Tuhan, seraya memohon agar Ia menjaga mereka. Ketika anak-anak itu bertambah usia, para orangtua membantu mereka untuk mendaraskan beberapa doa sederhana, seraya mengenang kasih sayang orang-orang lain, seperti kakek-nenek, para kerabat, orang-orang sakit dan menderita, dan semua orang yang membutuhkan pertolongan Tuhan. Di dalam keluarga itulah sebagian besar kita mempelajari dimensi rohani komunikasi, yang di dalam Kekristenan diresapi dengan kasih, yaitu kasih yang Allah anugerahkan kepada kita dan yang kemudian kita bagikan kepada orang-orang lain.

Di dalam keluarga itulah kita belajar bagaimana masing-masing bisa saling berbagi dan mendukung, belajar mampu mengartikan secara tepat ekspresi wajah orang dan membaca isi hatinya sekalipun diam tak berkata-kata; kita tertawa dan menangis bersama pribadi-pribadi yang tidak saling memilih tetapi begitu berarti satu sama lain. Realitas ini tentu saja sangat membantu kita untuk memahami makna komunikasi sebagai kedekatan pertalian batin yang saling meneguhkan dan mempertautkan.

Manakala kita mengurangi jarak dengan bertumbuh lebih dekat dan saling menerima, maka kita mengalami rasa syukur dan sukacita. Salam Maria dan lonjakan sukacita anaknya merupakan sebuah berkat bagi Elisabet; disusul madah indah Magnificat, di mana Maria memuji rencana kasih Allah bagi dirinya dan bagi kaumnya. Sebuah “ya” yang diujarkan dengan iman dapat memiliki dampak yang melampaui diri kita dan tempat kita di dunia ini.

”Mengunjungi” berarti membuka pintu, tidak tinggal tertutup di dunia kecil kita, melainkan pergi mendatangi orang-orang lain. Demikian pula keluarga menjadi hidup lantaran ia melampaui dirinya. Keluarga-keluarga yang melakukan hal demikian mengkomunikasikan pesan mereka tentang hidup dan persekutuan, seraya memberikan penghiburan dan pengharapan kepada keluarga-keluarga yang lebih rapuh, dan dengan demikian membangun Gereja itu sendiri, yang merupakan keluarga semua keluarga.

Lebih daripada apa pun juga, keluarga adalah tempat di mana kita setiap hari mengalami anekaketerbatasan kita sendiri dan keterbatasan orang-orang lain, pelbagai masalah besar dan kecil yang termaktub dalam kehidupan yang damai dengan orang-orang lain. Sebuah keluarga yang sempurna tidak ada. Kita tidak perlu takut akan cacat cela, kelemahan atau bahkan konflik, tetapi sebaliknya belajar untuk mengatasi semuanya secara konstruktif. Keluarga, di mana kita tetap mengasihi satu sama lain meskipun ada serba keterbatasan dan dosa-dosa kita, karenanya merupakan sebuahsekolah pengampunan. Pengampunan itu sendiri merupakan sebuah proses komunikasi. Ketika penyesalan diungkapkan dan diterima, maka ada kemungkinan untuk memulihkan dan membangun kembali komunikasi yang putus. Seorang anak yang belajar dalam keluarga bagaimana mendengarkan orang lain, bagaimana berbicara dengan hormat dan mengungkapkan pandangannya tanpa menafikan orang lain, akan menjadi sebuah kekuatan bagi dialog dan rekonsiliasi di tengah masyarakat.

Ketika bersinggungan dengan tantangan dalam berkomunikasi, maka keluarga-keluarga yang memiliki anak-anak dengan keterbatasan fisik maupun mental mengajarkan banyak hal kepada kita.  Keterbatasan gerak (motorik), perasaan (sensorik) atau mental dapat menjadi alasan untuk kemudian menutup diri, namun sebaliknya –berkat kasih orangtua, saudara kandung dan teman—juga bisa menjadi pendorong untuk terbuka, kemauan berbagi dan kesiapan  menjalin komunikasi dengan siapa saja. Hal ini juga bisa membantu sekolah, paroki, dan kelompok-kelompok orang untuk semakin terbuka dan inklusif bagi siapa pun.

Di dunia nyata dimana orang sering kali dengan gampangnya mengumpat, menggunakan kata-kata kasar, membicarakan kejelekan orang lain, menabur pertentangan dan meracuni pergaulan sosial dengan gosip, maka keluarga menjadi acuan tentang bagaimana seharusnya memahami komunikasi sebagai rahmat. Dalam banyak situasi yang secara nyata dikekang oleh nafas kebencian dan aroma kekerasan, dimana banyak keluarga terpisah satu sama lain oleh kokohnya tembok batu atau jurang pemisah lantaran prasangka buruk dan rasa tidak suka, dimana terjadi situasi yang memungkinkan mengatakan ‘cukuplah sudah sekarang ini!’, rasanya hanya dengan berkah daripada kutukan, dengan jalan berkunjung daripada mengusir, dengan menerima daripada mengajak ribut, maka kita akan mampu mematahkan rantai spiral kejahatan; juga mampu memperlihatkan bahwa kebaikan itu selalu saja mungkin dan mendidik anak-anak kita untuk menghargai pertemanan.

Dewasa ini media modern, yang merupakan bagian hakiki dari kehidupan kaum muda khususnya,dapat menjadi bantuan namun juga halangan bagi komunikasi di dalam dan di antara keluarga. Media bisa merupakan halangan jika dijadikan cara untuk mencegah kita mendengarkan orang lain, untuk mengelakkan kontak fisik, untuk mengisi setiap saat hening dan istirahat, sehingga kita lupa bahwa “keheningan adalah bagian terpadu dari komunikasi; tanpa keheningan, kata-kata yang kaya pesan tak akan ada”, (BENEDIKTUS XVI, Pesan Untuk Hari Komunikasi Sedunia Tahun 2012 ). Media dapat menjadi bantuan bagi komunikasi ketika media memungkinkan orang untuk berbagi kisah, untuk tetap menjalin kontak dengan teman-teman yang jauh, untuk mengucapkan terima kasih kepada orang lain atau meminta pengampunan mereka, dan untuk membuka pintu bagi perjumpaan-perjumpaan baru. Dengan berkembang setiap hari dalam kesadaran kita akan betapa pentingnya berjumpa dengan orang-orang lain, “peluang-peluang baru” ini, maka kita akan memakai teknologi secara bijaksana, alih-alih membiarkan diri kita dikuasai media. Di sini juga, para orangtua adalah pendidik utama, tetapi mereka tidak boleh dibiarkan sendirian. Komunitas Kristen dipanggil untuk membantu mereka mengajarkan anak-anak bagaimana hidup dalam sebuah lingkungan media secara sepadan dengan martabat mereka sebagai pribadi manusia dan demi melayani kesejahteraan umum.

Tantangan besar yang kita hadapi saat ini ialah untuk mempelajari kembali bagaimana berbicara satu sama lain, tidak sekadar bagaimana untuk menghasilkan dan memakai informasi. Yang terakhir tadi adalah kecenderungan yang dapat didorong oleh media komunikasi modern kita yang terbilang penting dan berpengaruh. Informasi memang penting, tetapi tidak cukup. Sekian sering hal-hal disederhanakan, aneka posisi dan sudut pandang berbeda diadu satu sama lain, dan orang-orang diajak memihak, alih-alih melihat hal-hal itu secara utuh.

Kesimpulannya, keluarga bukanlah pokok bahasan atau sumber darimana pertentangan ideologis muncul. Melainkan, keluarga harus dipandang sebagai ruang sosial dimana kita semua belajar berkomunikasi yang ditandai oleh pengalaman akan keakraban satu sama lain. Keluarga adalah ruang sosial dimana komunikasi itu terjadi, sebuah komunitas manusia yang saling berkomunikasi. Keluarga adalah suatu komunitas yang senantiasa menyediakan pertolongan, yang menyegarkan kehidupan dan membuahkan hasil.  Begitu kita menyadari hal ini, maka kita sekali lagi akan dimampukan melihat bahwa keluarga senantiasa menjadi sumber daya manusia yang begitu kaya manakala bila bertabrakan dengan masalah. Banyak kali, media suka menampilkan keluarga lazimnya sebuah model abstrak yang bisa ditolak, dibela atau diserang dan bukannya pertama-tama melihatnya sebagai realitas sosial yang hidup. Sering juga keluarga diperlakukan sebagai sumber darimana pertentangan ideologis itu muncul daripada melihatnya sebagai ruang sosial dimana kita semua ini belajar apa artinya berkomunikasi dalam bingkai kasih yang diwarnai semangat saling memberi-menerima. Berpijak pada pengalaman nyata inilah kita menjadi sadar bahwa ternyata hidup kita ini terjalin bersama sebagai suatu realitas tunggal, bahwa kita masing-masing itu banyak perbedaannya namun sekali lagi setiap orang pada dasarnya tetaplah pribadi yang unik.

Keluarga-keluarga harus dilihat sebagai sumber daya alih-alih sebagai masalah bagi masyarakat. Keluarga-keluarga berkomunikasi secara aktif melalui kesaksian mereka tentang keindahan dan kekayaan relasi antara lelaki dan perempuan, dan antara para orangtua dan anak-anak. Kita tidak sedang berjuang untuk membela masa lalu. Sebaliknya, dengan kesabaran dan kepercayaan, kita bekerja untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi dunia di mana kita hidup.

Diberikan di Vatikan, 23 Januari 2015, Vigilii Pesta Santo Fransiskus dari Sales

Semoga Pesan Bapa Suci Paus Fransiskus di Minggu Komunikasi Sosial Sedunia ke-49, mengingatkan kita akan panggilan luhur dari setiap Keluarga Katolik untuk mengkomunikasikan Iman Kristiani kita dalam keluarga dan di tengah dunia.

Pax, in aeternum.
Fernando