Meditasi Harian ~ Kamis dalam Pekan IV Paskah

image

PENGKHIANATAN AKAN SELALU ADA

Bacaan:
Kis.13:13-25; Mzm.89:2-3.21-22.25.27; Yoh.13:16-20

Renungan:
Sejarah kekristenan ditandai dengan mereka yang dengan berani menjemput berbagai bentuk kemartiran. Memberi diri sebagai santapan bagi binatang-binatang buas daripada kehilangan imannya, merelakan diri untuk dihukum mati di kamar gas dalam kamp konsentrasi demi menggantikan posisi narapidana lain yang seharusnya menjalani hukuman itu, dibakar hidup-hidup karena tidak ingin meninggalkan umatnya sendirian menghadapi keberingasan mereka yang membenci para pengikut Kristus, melayani para penderita kusta sendirian di pulau terasing sampai harus mati karena penyakit yang sama, bahkan untuk mati ditembak saat sedang memberi makan mereka yang kelaparan, kendati yang dia layani itu adalah orang-orang yang tidak beriman, dan mungkin tidak akan pernah mau beriman atau menghargai pengorbanannya.
Akan tetapi di balik sikap heroik dalam beriman yang demikian, sejarah kekeristenan juga mencatat mereka yang meninggalkan salib karena ketidak sanggupan menerima tuntutan salib, yang secara sadar mengkhianati hidup kekristenan itu sendiri. Mereka yang menyebut diri kristen tetapi mendukung hukuman mati, para dokter yang melakukan aborsi dan gigih mempromosikan penggunaan kondom dan alat kontrasepsi, bahkan melakukan euthanasia atas nama rasa kemanusiaan yang keliru, para pengacara yang membela kejahatan karena bayaran yang tinggi, para pejabat yang menerima suap atas dasar bahwa semua orang juga melakukannya, para imam yang sibuk bermain saham, tetapi sementara angka-angka investasinya mengalami kenaikan, tanpa disadari angka-angka domba yang meninggalkan Gereja karena kelalaiannya memelihara jiwa semakin bertambah dari hari ke hari.

Injil hari ini berbicara begitu keras dan jelas, “Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.
Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia” (Yoh.13:18-19).
Pengkhianatan akan selalu ada. Akan selalu ada Yudas-Yudas kekristenan yang meninggalkan altar dan persekutuan Gereja, mengkhianati dengan sebuah ciuman, untuk bergabung dengan para penyamun, singa dan serigala, dan berbalik menyerang Gereja Kudus-Nya dengan membawa nama Tuhan, sambil menuding bahwa Gereja telah kehilangan kemurniannya.

Saudara-saudari terkasih. Gereja Katolik tidak pernah, dan tidak akan pernah kehilangan kemurniannya. Gereja tetap kudus sekalipun orang-orangnya adalah pendosa. Tahbisan itu suci dan mereka yang melayani dalam kuasa tahbisan itu wajib dihormati, ditaati dan dicintai secara total, sekalipun mungkin tahbisan itu dalam pandangan manusia ditumpangkan atas mereka yang dipenuhi dengan berbagai kelemahan dan keterbatasan, bahkan yang mungkin mulai lupa atau melalaikan tugas luhurnya. Itu semua untuk membuatmu rendah hati untuk tidak memandang muka, dan menyadari bahwa Tuhanlah yang berkarya di balik itu semua.

Kamulah yang harus berubah! Kamulah yang harus mengoyakkan hatimu untuk bertobat, bukannya menuntut Gereja untuk merubah sikap demi gagasan yang keliru dan mendorong Gereja supaya menyesuaikan diri dengan semangat zaman. Kebebalan dan ketegaran hatimu-lah yang saat ini mendorongmu untuk memberikan interpretasi baru tetapi sesat pada Kitab Suci, Tradisi dan Ajaran Gereja. Niatmu yang mengatasnamakan hak-hak asasi manusia, terobosan medis, emansipasi dan kesamaan gender, telah melukai Gereja dan mengaburkan jejak-jejak Kristus, serta merusak tatanan Penciptaan.
Bahwa Gereja harus senantiasa membuka diri bagi angin segar perubahan, itu memang benar dan sungguh perlu.
Tetapi, untuk secara keliru menggunakan dalil itu pada usaha untuk menyeret Gereja Katolik tenggelam dalam arus zaman, kehilangan kemurniannya ajaran imannya, membelokkan pewartaan sukacita Injil, menyangkal suara kenabiannya, itu adalah jahat di mata Tuhan.
Injil hari ini menjadi suara Ilahi dan seruan pertobatan bagi kita, “Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.
Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia.” (Yoh.13:18-19)

Pengkhianatan akan selalu ada. Mereka yang meninggalkan Kristus karena kerasnya kata-kata Yesus akan selalu ada. Akan tetapi, milikilah kerendahan hati untuk menerima kenyataan bahwa tidak semua orang sanggup menerima tuntutan Injil. Tugasmu adalah mewartakan, bukan meyakinkan, kendati kamu memang dipanggil untuk mewartakan secara meyakinkan tanpa cacat dalam hidup dan karyamu. Tugasmu hanyalah untuk selalu menjawab, “Ya. Ini aku, Tuhan. Utuslah aku.” Untuk mendorong batu, tanpa mempedulikan apakah batu itu akan terguling atau tidak. Pada waktunya nanti, seturut gerak cinta Tuhan, kamu akan dihantar pada pengalaman mistik yang membuatmu memandang Allah yang berseru dari dalam awan, “Akulah Dia” (bdk. Yoh.13:19).

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Rabu dalam Pekan IV Paskah

image

BERNYALA SAMPAI AKHIR

Bacaan:
Kis.12:24-13:5a; Mzm.27:2-3.5.6.8; Yoh.12:44-50

Renungan:

Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.” ~ Yoh.12:46

Selama dunia menolak untuk menerima cahaya sukacita Injil, selamanya pula dunia akan tetap berada dalam kegelapan.
Sebagaimana cahaya ada untuk menerangi kegelapan, demikian pula Sabda Allah dalam diri Yesus Kristus datang ke dalam dunia untuk menerangi kegelapan.
Dunia ini tidak mungkin hidup tanpa cahaya. Semua makhluk hidup memerlukan cahaya. Sebagaimana cahaya membawa kehangatan dan energi, membuat benih untuk bertunas serta semua yang hidup tumbuh dan berkembang, demikianlah cahaya kebenaran Tuhan membuat semua orang yang beriman kepada-Nya tumbuh dan berkembang serta mengalami hidup dalam segala kelimpahan rahmat yang berasal dari-Nya.
Kata-kata Yesus memberi kehidupan, yakni hidup Allah sendiri, bagi siapapun yang menerimanya dengan penuh sukacita dalam iman.
Ini bukanlah berarti ketiadaan masalah atau pergumulan hidup, melainkan kepastian bahwa di tengah semuanya itu, kita akan selalu menemukan sukacita dan rasa syukur di dalam Tuhan.
Jika kita tetap bersikeras untuk menolak cahaya sukacita Injil dan tuntutan hidup sebagai seorang Kristiani yang sejati, itu artinya kita telah secara tahu dan mau memilih untuk hidup dalam kegelapan rohani.

Hari ini (29 April), bersama Gereja Katolik sedunia, kita juga memperingati St. Katarina dari Siena. Beliau hidup pada masa suram dalam Gereja, saat para petinggi Gereja dan Negara hidup dalam kebobrokan rohani serta kerakusan duniawi luar biasa. Di tengah kerapuhan Gereja pada waktu itu, St. Katarina dari Siena tampil sebagai seorang wanita kudus yang tidak menghakimi atau membangkang terhadap Hirarki, melainkan dengan penuh kesetiaan dan cinta menasehati para gembala untuk kembali menemukan sukacita Injil di dalam panggilan mereka. Kendati mendapat banyak perlawanan, tanpa kenal lelah St. Katarina dari Siena menulis begitu banyak surat yang mengungkapkan kedalaman cinta Ilahi untuk menasihati para pejabat Gereja maupun Negara. Kata-katanya yang penuh hikmat dan kesetiaan mutlaknya pada Iman Katolik, pada akhirnya mendatangkan pertobatan dan bahkan sampai menyentuh hati Paus, yang kembali disadarkan akan tugas kegembalaan yang dipercayakan Kristus kepadanya.
Oleh karena itu, di masa suram yang kurang lebih sama saat ini, hidup dan karya St. Katarina dari Siena kiranya boleh juga meneguhkan iman kita, untuk setia dalam iman, taat pada Hirarki, serta tanpa kenal lelah dengan berbagai cara menopang para Uskup dan Imam terkasih kita dalam karya, demi kemuliaan Allah.

Dalam salah satu nasehat rohaninya, St. Katarina dari Siena menggambarkan hidup dan panggilan kita seperti sebuah lilin, yang bercahaya dengan lembut dan hangat. Untuk bernyala dengan baik sampai habis, sumbu lilin harus benar-benar tertancap dengan tepat dan lurus di tengah. Bila sumbunya tidak benar-benar tegak lurus, bentuk lilinnya akan tidak bagus, nyalanya tidak elok, bahkan mungkin akan padam dalam perjalanan dan tidak terbakar habis seluruhnya.
Sama seperti lilin itu, demikian pula hidup beriman kita haruslah lurus, stabil, konsisten. Sumbu iman kita haruslah tertancap kuat dan berakar dalam Kristus serta dalam kesetiaan kepada ajaran iman Gereja Katolik secara otentik, tanpa pernah berpikir untuk berdiri di ruang abu-abu. Saat berbicara soal iman, kita tidak boleh bengkok sana-sini dan kompromistis karena takut mengecewakan pendengar.
Untuk dapat bernyala dan membakar seluruh dunia serta menghanguskan dunia dalam ketergila-gilaan cinta akan Allah, sumbu iman kita harus tertancap kuat pada Ekaristi Kudus dan doa tak kunjung putus, sebagai Sumber Hidup yang memampukan kita untuk terus berkobar dan bercahaya menerangi dunia, agar hidup dan karya kita selalu menghasilkan buah yang baik.
Kesetiaan mengikuti Misa Kudus untuk menyambut Tubuh Tuhan, dan ketekunan dalam doa menjadikan setan semakin kehilangan ruang gerak, dan dia tidak mendapat tempat dalam hidup kita, karena hidup kita begitu dipenuhi oleh cinta Tuhan.
Jika tidak demikian, maka datanglah si jahat untuk berbisik di lubuk hati kita agar jatuh dalam dosa dan kehilangan ketakutan yang suci akan Allah.
Dosa akan menjadi ibarat air yang disiramkan ke atas lilin yang bernyala, sehingga lilin itu tidak lagi bercahaya dengan lembut dan hangat, melainkan akan mendesis, berasap, bahkan mati. Lilin hanya dapat bernyala kembali dengan indahnya apabila dikeringkan. Disinilah rahmat Sakramen Tobat membawa pemurnian, mengeringkan kita dari ketenggelaman dalam dosa, sehingga kita dapat kembali bercahaya.
Malanglah mereka yang tidak mencintai Ekaristi, tidak memelihara hidup doa, dan dengan angkuhnya merasa tidak perlu mengaku dosa sesering mungkin.
Jangan heran bila hidupmu tidak berbuah baik, karena cintamu sedikit. Cintamu sedikit karena kamu tidak pernah menimba daya hidup cinta yang berasal dari Ekaristi, doa, dan pertobatan sejati.
Semoga kita senantiasa mendekat kepada Tuhan dan menyentuh Hati Allah karena cinta akan Dia, sehingga pada akhirnya kita akan sanggup menyentuh hati semua orang dan menghanguskan mereka dalam kuasa cinta.

“Engkau bagaikan misteri yang dalam sedalam lautan; semakin aku mencari, semakin aku menemukan, dan semakin aku menemukan, semakin aku mencari Engkau. Tetapi, aku tidak akan pernah merasa puas; apa yang aku terima menjadikanku semakin merindukannya. Apabila Engkau mengisi jiwaku, rasa laparku semakin bertambah, menjadikanku semakin kelaparan akan terang-Mu.” ~ St. Katarina dari Siena

Pax, in aeternum.
Fernando

GEREJA KATOLIK MENOLAK HUKUMAN MATI

Berikut ini ada pernyataan resmi dari Yang Mulia Uskup Agung Jakarta, Ignatius Suharyo Pr., yang juga adalah Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), yaitu menolak eksekusi mati terhadap para terpidana mati oleh Pemerintah Indonesia.

image

“GEREJA KATOLIK MENOLAK HUKUMAN MATI”

Surat Uskup Agung
Untuk para Imam di KAJ

Para Rama yth,

Pada hari-hari ini, televisi, koran dan mass media lain, penuh dengan berita mengenai hukuman mati. Saya pribadi amat sedih setiap kali melihat atau membaca berita itu dan diberitakan dengan cara yang bagi saya mencederai kemanusiaan yang adil dan beradab. Dalam suasana seperti ini saya mengajak para Imam untuk menjelaskan kepada umat pandangan Gereja mengenai hal ini dan mengajak mereka berdoa untuk para terpidana.Katekismus Gereja Katolik menyatakan : Pembelaan kesejahteraan umum masyarakat menuntut agar penyerang dihalangi untuk menyebabkan kerugian. Karena alasan ini, maka ajaran Gereja sepanjang sejarah mengakui keabsahan hak dan kewajiban dari kekuasan politik yang sah, menjatuhkan hukuman yang setimpal dengan beratnya kejahatan, tanpa mengecualikan hukuman mati dalam kejadian-kejadian yang serius (KGK 2266). Menurut Katekismus ini, hukuman mati diperbolehkan dalam kasus-kasus yang sangat parah kejahatannya. Namun, apabila terdapat cara lain untuk melindungi masyarakat dari penyerang yang tidak berperi-kemanusiaan, cara-cara lain ini lebih dipilih daripada hukuman mati karena cara-cara ini dianggap lebih menghormati harga diri seorang manusia dan selaras dengan tujuan kebaikan bersama (bdk KGK 2267). Di sini terjadi peralihan pandangan Gereja tentang konsep hukuman mati  Gereja. KGK 2267 ini diambil dari ensiklik Paus Yohanes Paulus II Evangelium Vitae.Dalam ensiklik Evangelium Vitae yang diterbitkan tahun 1995, Paus Yohanes Paulus II menghapuskan status persyaratan untuk keamanan publik dari hukuman mati ini dan menyatakan bahwa, dalam masyarakat modern saat ini, hukuman mati tidak dapat didukung keberadaannya. Berikut kutipannya:

“Adalah jelas bahwa untuk tercapainya maksud-maksud ini, jenis dan tingkat hukuman harus dengan hati-hati dievaluasi dan diputuskan, dan tidak boleh dilaksanakan sampai ekstrim dengan pembunuhan narapidana, kecuali dalam kasus-kasus keharusan yang absolut: dengan kata lain, ketika sudah tidak mungkin lagi untuk melaksanakan hal lain untuk membela masyarakat luas. Selanjutnya ditegaskan, Namun demikian, dewasa ini, sebagai hasil dari perkembangan yang terus menerus dalam hal pengaturan sistem penghukuman, kasus-kasus sedemikian (kasus-kasus yang mengharuskan hukuman mati) adalah sangat langka, jika tidak secara praktis disebut sebagai tidak pernah ada.” (EV 56). Dengan demikian Gereja Katolik tidak mendukung hukuman mati.

Salah satu orang yang sudah dijatuhi hukuman mati adalah Mary Jane Fiesta Veloso orang Katolik dari Filipina, berumur 30 tahun, ibu dari dua anak Sekolah Dasar. Sejak berumur 14 tahun, Mary Jane bekerja sebagai pembantu rumah tangga, dan untuk mencari nafkah bagi anak-anaknya, ia menjadi tenaga kerja wanita Filipina di Malaysia. Di situ, ibu agen tenaga kerja menghadiahi Mary Jane sebuah koper; dan kemudian agen tenaga kerja menugasi Mary Jane, menemui seorang teman di Yogya. Di situ, polisi menemukan bahan narkoba amat banyak, tersembunyi dalam dinding koper lapis dua. Mary Jane bersikeras: tidak tahu menahu mengenai isi koper itu. Tidak ada bukti untuk menuduh Mary Jane bahwa bohong. Namun semua pengadilan di Indonesia mempidana Ibu Mary Jane dengan hukuman mati. Kini permintaan untuk peninjauan kembali, telah ditolak; maka bersama sembilan orang terpinda Mary Jane menghadapi eksekusi.Komisi Keadilan dan Perdamaian Konferensi Waligereja Indonesia sekarang ini juga sedang meng-advokasi seorang yang sudah dijatuhi hukuman mati dalam kasus yang serupa. Menurut kesaksian keluarga dan saksi-saksi lain, aparat salah menangkap orang.Saya minta para Imam semua untuk mengajak seluruh umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta berdoa bagi Ibu Mary Jane dan kesembilan orang lain, juga untuk negara kita dan Gereja di Indonesia.

Doa ini mohon dipanjatkan di seluruh Gereja Katolik Keuskupan Agung Jakarta dalam DOA UMAT PADA HARI MINGGU kalau dan setelah eksekusi mati jadi dilaksanakan. Kita tetap berdoa, agar eksekusi mati tidak dilaksanakan dan selanjutnya hukuman mati dihapuskan dari sistem hukum di Indonesia.

Berikut usul doa umat itu :

I. PadaMu, ya Allah kehidupan, kami mengarahkan hati untuk mendapatkan kekuatan dan andalan dalam kebimbangan kami, untuk memperoleh terang kalau kami buta, kecewa dan marah, untuk dapat menghirup perikemanusiaan dalam perseteruan kami.

L. Ya Allah, dari kelimpahan hidup-Mu Engkau menciptakan segala yang hidup.

U. Bangkitkanlah tanggungjawab kami untuk memelihara kehidupan dan mengalahkan kekerasan.

L. Ya Allah, dengan tekun dan setia Engkau berbagi kehidupan dengan umat manusia; dan Yesus, utusan-Mu, Engkau bangkitkan, setelah Dia dihukum oleh bangsa-Nya dan dieksekusi oleh yang berkuasa.

U. Gerakkanlah kebersamaan kami dengan solidaritas dan jiwailah pemimpin-pemimpin kami, supaya mereka mempersatukan kami, tanpa mengorbankan hidup siapa pun.

L. Ya Allah, Engkau menggairahkan umat-Mu menjadi pembawa kabar gembira dan penjaring dalam lingkungan persaudaraan.

U. Semoga dengan kekuatan-Mu, jemaat beriman menjadi tempat terbuka dan mampu memberi maaf kepada saudara-saudara yang bersalah dan para pemimpin umat menjadi pembela dan pendamping mereka yang terhukum.

L. Ya Allah, dengan mengenakan hukuman mati, negara kami mau melawan semua ulah yang memusnahkan hidup dan merusak perikemanusiaan. Namun tindakan ini tidak menyelesaikan masalah-masalah kami dan hanya menambahkan kekerasan.

U. Bimbinglah kami, para warga dan para pemimpin, untuk menemukan dan menempuh jalan persaudaraan untuk semua.

L. Ya Allah yang kekal, demi hukum positif, Ibu Mary Jane dan sembilan orang senasib dia, harus meninggalkan kami dan meninggal dunia karena dihukum mati.

U. Ya Allah yang adil, sambutlah mereka semua dalam keadilan-Mu dan penuhilah hidup mereka dengan kemuliaan-Mu.

I. Demikianlah permohonan kami, ya Allah, demi Yesus Kristus yang taat sampai mati di salib dan yang Engkau tinggikan di sisi-Mu, menjadi pengantara kami dan semua orang.

U.  Amin.

8. Sementara itu kampanye untuk menghapus hukuman mati di Indonesia akan terus dilancarkan, meskipun kita tahu perjuangan ini akan memakan waktu, tenaga, pengorbanan yang tidak sedikit. Kita dukung berbagai komunitas yang dengan gigih, memperjuangkan penghapusan hukuman mati, tanpa kecewa kalau gagal.

9. Terima kasih atas kerjasama para Rama sekalian. Semoga hidup manusia semakin dihormati dan martabatnya semakin dijunjung tinggi.

Selamat Paskah,
I. Suharyo

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan IV Paskah

image

JANGAN JADI ORANG KATOLIK YANG BODOH

Bacaan:
Kis.11:19-26; Mzm.87:1-3.4-5.6-7; Yoh.10:22-30

Renungan:
Ketika sebagai seorang Katolik anda ditanya, “Apakah anda seorang Katolik? Apakah anda mencintai dan menaati Paus sebagai Wakil Kristus di dunia dan Kepala Gereja, menaati Uskup-mu, dan mencintai Imam-mu? Banggakah anda dengan beriman Katolik? Setiakah anda pada Kitab Suci, Tradisi dan Ajaran Magisterium Gereja?“, tanpa ragu anda pasti akan menjawab, “Ya, tentu saja!
Tetapi ketika pertanyaan ini dirubah dengan kalimat yang berbeda, tetapi hakekatnya sama, misalnya, “Apakah anda menentang hukuman mati? Apakah anda tidak menggunakan kondom, pil KB, dan alat-alat kontrasepsi lainnya? Apakah anda menolak untuk mendukung gerakan bagi adanya Imam/Pastor perempuan dalam Gereja? Apakah anda mengikuti Misa Kudus setiap hari Minggu dan mengaku dosa secara teratur? Apakah anda menolak aborsi dan euthanasia dalam situasi apapun?“, maka pertanyaan-pertanyaan ini seketika menjadi tidak begitu mudah lagi untuk dijawab lantang dengan mengatakan, “Ya, tentu saja!
Malah, bisa jadi jawabannya berubah 180 derajat menjadi, “Tidak!

Bacaan Injil hari ini seharusnya menjadi tamparan iman bagi kita semua.
Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku.” (Yoh.10:27)
Kamu adalah domba, bukan kambing, bukan pula binatang liar tanpa gembala.
Domba yang sejati, “mendengarkan” suara Sang Gembala Sejati.
Seorang Katolik sejati, haruslah menaati Paus dan para Uskup yang telah diserahi tugas oleh Kristus sendiri untuk menggembalakan domba-domba-Nya.
Tidak mungkin menyebut diri seorang Katolik, tetapi menolak apa yang diimani oleh Gereja Katolik.
Tidak mungkin mengakui, “Allah adalah Kasih, dan saya dipanggil untuk mengasihi, baik orang benar maupun yang tidak benar“, tetapi dengan lantang mengatakan pada para pelaku kriminal berat, “Kalian pantas mati! Kalian tidak layak diampuni!
Tidak mungkin berkata, “Saya sepenuhnya percaya apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik!“, sementara pada kenyataannya justru tidak bersedia menolak apa yang ditolak oleh Gereja Katolik.
Domba sejati adalah domba yang taat secara mutlak, tanpa syarat, dan dengan kepercayaan tanpa batas kepada Gembalanya.
Ketaatan mutlak bukan berarti ketaatan buta.

Karena itu, kenalilah Iman Katolik-mu. Dalamilah Kitab Suci, Tradisi, dan Ajaran Gereja Katolik secara benar, sehingga anda bisa dicelikkan dari kebutaan serta dapat melihat keindahan Iman Katolik, dan tidak dengan mudahnya menvonis Gereja Katolik sebagai sesat atau keliru.
Jangan jadi orang Katolik yang tidak memahami apa yang sebenarnya ia harusnya imani. Jika demikian, kita dapat dengan mudah jatuh dalam penyesatan, mengikuti opini publik dan setuju dengan pandangan mayoritas, padahal hal itu nyata-nyata bertentangan dengan Ajaran Iman Gereja Katolik.
Hanya karena itu sudah menjadi budaya yang lumrah, sebagian besar orang percaya demikian, atau hampir semua orang melakukannya hal yang sama, tidaklah menjadikan hal itu dapat dibenarkan di hadapan Allah dan Gereja Katolik-Nya yang kudus.
Jangan jadi saksi-saksi iman yang tidak terdidik, atau malah saksi-saksi palsu.
Jadilah saksi sukacita Injil yang sungguh mengenal dan merangkul Iman Katolik, sehingga kita berani untuk mewartakannya tanpa keraguan, apapun resikonya, bahkan sekalipun harus bermusuhan dengan seluruh dunia, atau malah harus kehilangan nyawa karena kesetiaan pada Iman Katolik.

Pax, in aeternum.
Fernando

Yohanes Paulus II dan Yohanes XXIII

image

Hari ini, tepat setahun yang lalu (27/04/14), Bapa Suci Paus Fransiskus atas nama seluruh Gereja, memaklumkan 2 orang Paus besar ini untuk dikanonisasi / digelari “Kudus” (Santo).

Semoga St. Yohanes Paulus II dan St. Yohanes XXIII menjadi teladan bagi para Uskup dan para Imam di seluruh dunia, akan bagaimana sejatinya seorang Gembala yang baik bagi domba-dombanya.

St. Yohanes Paulus II dan St. Yohanes XXIII, doakanlah kami. Amin.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan IV Paskah

image

KAMU DIPANGGIL UNTUK MEMELIHARA JIWA

Bacaan:
Kis.11:1-18; Mzm.42:2-3. 43:3.4; Yoh.10:1-10

Renungan:
Memiliki hati seorang gembala adalah tuntutan mutlak bagi siapapun yang diserahi tugas dari Allah untuk memelihara jiwa.
Ini adalah panggilan suci yang tak jarang berselubungkan misteri.
Coba bayangkan, Tuhan meminta kamu untuk memelihara jiwa. Sebenarnya, Ia dapat memilih siapa saja yang jauh lebih baik menurut ukuran manusia dibandingkan kamu, tetapi kenyataannya toh Ia justru memilih kamu, dengan segala kerapuhan dan keterbatasan.
Kalau demikian, apa artinya?
Artinya kamu senantiasa diingatkan untuk rendah hati, bahwa tugas dan kuasa kegembalaanmu sepenuhnya tergantung pada persatuan cintamu dengan Yesus Sang Gembala Baik, bersumber dari-Nya, menemukan makna di dalam-Nya, dan pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
Bahwa tongkat kegembalaan yang diberikan itu untuk memelihara jiwa bukan membinasakan; untuk melayani bukan dilayani; untuk membawa pulang yang tersesat dan kehilangan kepastian, bukannya justru menyesatkan mereka dengan pemahaman iman yang keliru; untuk mencintai sampai terluka bahkan mati demi membela mereka, bukannya berdiri di pihak penguasa yang lalim; untuk mempersembahkan kurban Ekaristi setiap hari bagi keselamatan dunia, bukannya duduk dalam perjamuan pesta dan kemabukan dunia ini, sampai lupa memberi mereka makanan rohani pada waktunya; untuk menghabiskan waktumu di ruang pengakuan serta memberikan pengampunan dan menyembuhkan luka, bukannya menutup pintu rapat-rapat karena tidak mau diganggu; untuk mengangkat tangan ke hadirat Allah setiap hari bagi mereka dalam doa, puasa, silih, mati raga, dan laku tapamu, bukannya sibuk menggunakan tangan itu untuk menghitung berapa banyak uang yang didapatkan dari dalam pundi-pundi derma.

Kesadaran para gembala untuk memelihara domba-dombanya semakin menjadi tuntutan yang mendesak di zaman ini, disaat Gereja berada pada masa paling suram dalam sejarahnya, disaat kehadiran dan kuasa si jahat semakin nyata dan lihainya untuk menjatuhkan jiwa-jiwa dalam jerat perangkapnya.
Gereja memerlukan para gembala yang benar-benar menjadi pintu menuju keselamatan, bukan pencuri dan perampok yang berjubah laksana malaikat terang.
Domba-domba yang setia dapat mengenali suara gembala yang sejati, karena gembala yang sejati memiliki hati yang mencinta. Getaran cinta yang dinyatakan dalam hidup dan karya sang gembala, sanggup memabukkan domba-dombanya dalam kuasa cinta, sehingga kemanapun sang gembala menuntun mereka, kesanalah mereka akan pergi, dalam kepercayaan penuh tanpa keraguan.

Dalam homilinya pada Hari Minggu Panggilan kemarin (26/04/15), Bapa Suci Paus Fransiskus mengingatkan para imam akan tugas suci ini:
Inilah makanan bagi Umat Allah; yakni bahwa khotbahmu tidak membosankan; bahwa homilimu menyentuh hati orang-orang karena berasal dari hatimu, karena apa yang kamu katakan adalah benar-benar apa yang ada dalam hatimu. Ketika kamu merayakan Misa, sadarilah sepenuhnya apa yang kamu lakukan. Jangan lakukan itu terburu-buru!
Jangan pernah menolak Baptisan untuk siapa pun yang memintanya! Dalam Sakramen Tobat, saya memintamu untuk tidak bosan berbelas kasihan. Dalam pengakuan dosa, kamu harus pergi untuk memaafkan, bukan untuk mengutuk! Teladanilah Bapa yang tidak pernah merasa lelah dalam memaafkan. Dengan Pengurapan Minyak Suci, kamu memberikan kelegaan bagi mereka yang sakit. Dengan merayakan ritual suci dan mengangkat tangan beberapa kali sehari dalam doa pujian dan permohonan, kamu menjadikan dirimu suara Umat Allah dan seluruh umat manusia.

Semoga di tengah krisis panggilan saat ini, seruan Sang Gembala Yang Baik boleh bergema di hati mereka yang diberi tugas suci untuk memelihara jiwa dan mengobarkan nyala api cinta dalam hati mereka, sekaligus menggerakkan hati siapapun yang dipanggil Tuhan ke dalam tugas suci ini, untuk menjawab panggilan-Nya dengan penuh sukacita.

Pax, in aeternum.
Fernando