Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan Suci

image

CINTA YANG TIDAK TAHU MALU

Bacaan:
Yes.42:1-7; Mzm.27:1.2.3.13-14; Yoh.12:1-11

Renungan:
Salah satu sifat dari cinta yang suci akan Allah, adalah rasa tidak tahu malu untuk melakukan segala-galanya bagi Dia.
Inilah yang dilakukan Maria, manakala dia mengusap kaki Tuhan Yesus dengan rambutnya, kemudian meminyakinya dengan minyak narwastu yang begitu mahal, tindakan yang sangat bertentangan dengan tradisi Yahudi dan norma kepantasan bagi seorang wanita pada waktu itu.
Semua yang hadir pun bertanya-tanya, apa yang memberanikan Maria melakukan tindakan itu?
Tentu saja Maria mengetahui sepenuhnya resiko dan anggapan banyak orang dari tindakannya itu.
Apa yang dilakukan Maria, hanya bisa dimengerti oleh hati yang mencinta.
Setiap orang yang hendak mengenal Tuhan dan jalan-jalan-Nya, harus menyadari satu hal ini: Ketika Tuhan menyentuh hatimu dan meninggalkan luka cinta, hidupmu tidak akan pernah sama lagi.
Luka cinta yang bagaikan nyala api yang memurnikan jiwa, yang sanggup menghanguskan kita dalam suatu keterpesonaan cinta akan Allah.

Satu tindakan cinta yang sederhana dari Maria, membuat seluruh rumah dimana mereka berada dipenuhi oleh bau minyak yang harum semerbak.
Sama seperti Maria, demikianlah seharusnya hidup seorang rasul Kristus.
Seluruh pemberian dirinya dan karyanya, haruslah mendatangkan keharuman bagi hidup semua orang yang disentuh olehnya.
Pelayanan kasihnya haruslah membuat semua orang merasakan kasih Allah dan diubahkan olehnya.
Seorang rasul Kristus yang dipenuhi oleh cinta akan Allah sedemikian, bagaikan seseorang yang tergila-gila dalam cinta akan Allah, yang memberanikan dia “keluar”, meninggalkan segala-galanya untuk mencari Sang Cinta, dan dalam perjalanannya untuk menemukan Kekasih jiwanya, menularkan ketergila-gilaan cinta yang sama, memberi hidup serta meninggalkan keharuman di sepanjang perjalanannya yang memurnikan itu.

Tentu saja, diantara kerumunan orang, akan selalu ada yang seperti Yudas Iskariot, yang dipenuhi iri hati, yang mengatakan bahwa dirinya mengasihi Allah dan setiap hari berbicara tentang kasih, padahal hampir tidak pernah melakukan perbuatan kasih, bahkan menjatuhkan mereka yang melakukan tindakan kasih.
Jangan takut atau kecewa saat karya kerasulan dan pelayanan kasihmu diperhadapkan pada Yudas-Yudas dunia ini. Tetaplah berbuat baik.
Tindakan kasih Maria dan cibiran Yudas atasnya, mengingatkan kita akan kata-kata Rasul St.Yohanes, “Filioli mei, non diligamus verbo neque lingua, sed opere et veritati” – “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.”

Pax, in aeternum.
Fernando

MINGGU PALMA MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN

image

DIPANGGIL UNTUK MENCINTA

Bacaan Injil (sebelum perarakan Palma)
Mrk.11:1-10 atau Yoh.12:12-16
Madah Perarakan Palma
Hosanna Filio David
Bacaan I
Yes.50:4-7
Mazmur Tanggapan
Mzm.22:8-9.17-18a.19-20.23-24
Bacaan II
Flp.2:6-11
BACAAN INJIL
Mrk.14:1 – 15:47
Catatan: Sejalan dengan Tradisi Suci, Bacaan Injil mengenai Kisah Sengsara Tuhan ini wajib “dilagukan/dinyanyikan”.

Renungan:
Penderitaan adalah bagian dari kemanusiaan. Siapapun yang berkeinginan untuk mengenyahkan penderitaan, haruslah juga menyingkirkan Cinta atau Kasih itu sendiri, karena seseorang tidak mungkin mencintai secara sempurna tanpa penderitaan, luka, dan rasa sakit.
Kesejatian cinta mengandung pula kesediaan untuk mengurbankan diri.
Inilah ukuran kedewasaan rohani dan ke-sejati-an cinta seseorang, yakni seberapa besar kesediaannya untuk mengurbankan segala-galanya, termasuk nyawanya sendiri.
Inilah juga yang semakin hilang dari dunia ini. Banyak orang tidak dapat lagi melihat, atau lebih tepatnya menolak konsekuensi dari cinta, yaitu penderitaan.
Mereka sulit menerima kenyataan bahwa cinta yang sejati haruslah terluka.
Akibatnya, banyak orang pun sulit sekali menerima kenyataan yang kedua dari cinta, yakni sebagaimana cinta haruslah siap terluka dan menderita, cinta yang sejati juga harus selalu mengampuni.
Pengampunan adalah bagian terindah dari cinta, paripurna dari pengurbanan diri yang sejati.
Ketiadaan dari sikap bersedia untuk terluka, menderita, dan mengampuni, berarti pula ketiadaan cinta.
Setiap orang yang mengurbankan dirinya untuk mencintai sampai terluka, menderita, dan mengampuni dengan sendirinya menyempurnakan martabat manusiawinya, dan menjadikan dirinya semakin Ilahi.
Mereka yang menolak hakekat cinta ini berarti hatinya membatu dan egois (cinta diri yang keliru), menolak untuk menerima dan mengasihi orang lain sebagaimana Allah menerima dan mengasihi mereka.
Kalau Allah menerima dan mengasihi bagian-bagian terburuk dari kemanusiaan dan bersedia mengampuni dan menyembuhkannya, demikian pula setiap orang beriman, tanpa kecuali, dipanggil untuk melakukan hal yang sama.

Jadi, bilamana Gereja Katolik hari ini memperingati Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan, sebenarnya hendak mengajak seluruh dunia untuk memandang keagungan cinta Tuhan, dan serentak mengajak kita untuk merenungkan panggilan Kristiani kita untuk mencintai sampai sehabis-habisnya.
Kendati Tuhan Yesus memasuki Yerusalem diiringi sorak-sorai dan kehormatan sebagai Raja, di balik sukacita itu sebenarnya Tuhan dan Penyelamat kita sedang memulai perjalanan akhir-Nya untuk merangkul penderitaan, yang akan memuncak pada kematian-Nya di Salib.
Dia sepenuh-Nya tahu bahwa di balik sorak-sorai dari mereka yang berseru, “Hosanna! Hosanna!”, sebagian besar dari mereka beberapa hari ke depan akan menjadi orang yang sama yang akan berteriak histeris, “Salibkan Dia! Bunuh Dia!”

O Cinta yang mengagumkan…Cinta sehabis-habisnya dari Tuhan dan Penyelamat kita.

Dialah Raja Damai yang datang menunggangi keledai, bukannya kuda perang. Di saat dunia mengartikan kuasa sebagai penindasan terhadap orang lain, mencari kehormatan dengan kekerasan, mencari pembenaran untuk membantai sesama pada ideologi agama dan pembelaan yang keliru atas nama Tuhan, di tengah ketiadaan cinta dari dunia ini, di Minggu Palma ini Tuhan Yesus menyadarkan kita bahwa kebesaran seorang Penguasa, kebesaran Tuhan Allah semesta alam, justru nampak dalam kelemahan lembutan Hati-Nya.

Inilah ke-Katolik-an. Inilah iman Kristiani kita. Kita dipanggil untuk mencinta.
Jangan disilaukan oleh sukacita dan kegembiraan sambutan khalayak di Yerusalem, sampai tidak bisa melihat “Kalvari” di balik semuanya itu.
Kiranya kita senantiasa mengarahkan pandangan pada Salib Tuhan sebagai sumber kekuatan kita untuk mengasihi sampai sehabis-habisnya, dan semoga Santa Perawan Maria, hamba Allah yang menyimpan semua perkara dalam hatinya yang penuh cinta sampai digelari “Mater Dolorosa” (Bunda Dukacita), menyertai kita dengan doa dan kasih keibuannya. Ibu Maria, doakanlah kami, agar setia dalam cinta di jalan salib Yesus, Putramu.

Selamat memasuki Pekan Suci.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Sabtu V Prapaska

image

IMAN ITU HARGA MATI

Bacaan:
Yeh.37:21-28; MT Yer.31:10.11-12ab.13; Yoh.11:45-56

Renungan:
Yesus adalah satu-satunya yang ingin disampaikan oleh Allah. Tidak hanya dalam kitab Yehezkiel yang kita renungkan hari ini, melainkan seluruh bagian dari Perjanjian Lama, semua nubuat yang diberikan para nabi, mempersiapkan umat Allah untuk kedatangan Putra Allah. Hidup dan karya Yesus adalah Perjanjian Baru, yang melengkapi seluruh pewahyuan Allah.
Oleh karena itu, penolakan bangsa Yahudi dan persepakatan untuk membunuh Tuhan Yesus, yang juga seolah hendak dimaklumkan dengan nubuat palsu dari Imam Besar Kayafas, merupakan penolakan langsung terhadap perjanjian dan belas kasih Allah.
Mereka yang setiap hari merenungkan Hukum Taurat, menolak menerima kegenapan dari pewahyuan Allah dalam diri Tuhan kita Yesus Kristus.

Kegagalan mengenal Tuhan Yesus dan penolakan terhadap kabar keselamatan yang diwartakan-Nya, sebagaimana dilakukan oleh kaum Yahudi di bawah pimpinan Imam Besar, para ahli Taurat, dan para pemuka agama lainnya, bukan tidak mungkin dapat terjadi juga di dalam Gereja.
Mereka yang diserahi tugas luhur untuk menggembalakan umat Allah senantiasa diingatkan untuk menjaga kemurnian ajaran iman Gereja dari bahaya penyesatan. Kiranya Allah menghindarkan kita semua dari kegagalan mengenali kehendak-Nya.

Di tengah serangan yang semakin terang-terangan terhadap pokok-pokok iman dan ajaran sosial Gereja, orang dapat keliru pula dalam memahami pernyataan “Ecclesia semper reformanda”.
Memang benar bahwa Gereja haruslah selalu membaharui diri, untuk dapat menjelaskan imannya dengan lebih baik, agar bisa menemukan bentuk-bentuk baru yang lebih tepat bagi karya kerasulan saat ini.
Akan tetapi, Ajaran Iman Gereja bukanlah sesuatu yang dapat dirubah sesuai opini publik atau semangat zaman yang keliru. Kita tidak boleh mengabaikan suara-suara kenabian yang mengingatkan kita untuk tetap setia memelihara Iman Katolik secara otentik, dalam kesatuan dengan Bapa Suci di Roma.
Kemurnian iman adalah harga mati yang tidak dapat dikompromikan.

Saat ini, Gereja begitu diombang-ambingkan oleh arus kehidupan. Menjadi seorang Kristiani di masa sekarang ini seringkali menemui berbagai tantangan dan pergumulan.
Diperhadapkan pada kenyataan demikian, putra-putri Gereja harus senantiasa berjaga-jaga, bertekun dalam iman, menjadikan hidup doa sebagai perisai, agar tidak terjerat pada perangkap si jahat.
Percaya saja tidak cukup, kita harus mengetahui apa yang kita percayai, untuk bisa mengimani dan merangkulnya dengan penuh sukacita.
Setiap anggota Gereja di masa sekarang ini haruslah sungguh-sungguh memahami apa yang dia imani, sehingga kita bisa selalu menjawab tantangan dunia ini, yang seringkali mengaburkan pandangan kita dalam mengenali Tuhan dan kehendak-Nya.

Berdoalah agar kita semua dapat menjadi rasul-rasul Kristus yang teguh dalam iman, apapun bentuk panggilan hidup dan karya kita. Berdoalah pula bagi para Uskup kita yang terkasih, yang sementara mempersiapkan diri untuk menghadiri  Sinode Keluarga pada bulan Oktober nanti di Roma. Semoga mereka pun, dalam kesatuan dengan Bapa Suci, meneguhkan apa yang baik, benar dan berkenan di hati Allah, serta dapat memberikan jawaban yang lebih tepat dan sesuai bagi tantangan keluarga-keluarga Kristiani di masa sekarang ini, tanpa kehilangan kemurnian imannya.

Pax, in aeternum.
Fernando

Jalan Salib ~ Via Crucis

image

Sahabat “jalan kecil” dan BBM Channel “Katolik Indonesia” yang terkasih.

Di Jumat V dalam Masa Prapaska, luangkanlah waktumu sore ini untuk melakukan devosi Jalan Salib (Via Crucis), baik secara pribadi di rumah, maupun bersama sebagai komunitas/umat di Gereja atau Kapela terdekat.
Mari berjalan bersama Tuhan kita Yesus Kristus dalam 14 (15) Perhentian Jalan Salib-Nya.

In Cruce Salus ~ Di dalam Salib ada Keselamatan.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Jumat V Prapaska

image

SIAP SEDIALAH UNTUK DITOLAK

Bacaan:
Yer.20:10-13; Mzm.18:2-3a.3bc-4.5-6.7; Yoh.10:31-42

Renungan:
Meskipun bangsa Yahudi melihat betapa mengagumkan karya Allah yang bekerja di dalam diri Tuhan Yesus, pengajaran-Nya yang penuh hikmat dan kuasa, penyembuhan yang Ia kerjakan, pengusiran roh-roh jahat yang Ia lakukan, bahkan sekalipun mereka melihat sendiri bagaimana Yesus membangkitkan orang mati, toh mereka tetap menolak Yesus.
Keberatan utama yang menyebabkan bangsa Yahudi menolak Yesus bukanlah pada “perbuatan baik” yang Ia kerjakan, melainkan pada pengakuan Yesus akan Diri-Nya sebagai “Anak Allah”.
Dalam bacaan hari ini kita mendapati kenyataan lain dari penolakan banyak orang untuk menerima sukacita Injil.
Terlepas dari banyaknya perbuatan baik yang kita lakukan bagi sesama, tak jarang kita ditolak bukan karena perbuatan-perbuatan baik itu, melainkan semata-mata karena kita adalah seorang Kristen, putra-putri Allah.
Di banyak negara dan tempat, setiap hari kita mendengar dan menyaksikan putra-putri Gereja menderita penganiayaan, penolakan, bahkan dibunuh karena Kristus. Banyak karya misi yang bertujuan memberi hidup dan mengembalikan martabat manusia ditolak semata-mata karena karya baik itu dilakukan oleh anak-anak Allah.
Kita pun terkadang mengalami penolakan serupa dalam karya kerasulan kita.
Mengalami perlakuan demikian, dalam bacaan pertama kita bisa mengerti akan rasa frustasi dan kekecewaan yang dialami oleh Nabi Yeremia. Tidak hanya Yeremia, di sepanjang sejarah pun kita menyaksikan dalam hidup para kudus, baik nabi, rasul, martir, serta para saksi iman, bagaimana mereka mengalami penolakan, rasa frustasi dan kekecewaan serupa dari sesama mereka, bahkan penolakan itu datang dari orang-orang yang terdekat dengan mereka.
Sejenak kita bisa memahami pula latar belakang dari seruan terkenal Improperia, yang sering kita dengarkan dalam Liturgi pada Jumat Agung, Popule meus, quid feci tibi? Aut in quo contris tavite? Responde mihi!” ~ “Hai umat-Ku, apa salah-Ku padamu? Kapan Aku menyusahkanmu? Jawablah Aku!”
Penolakan akan selalu ada. Akan tetapi, waspadalah!
Jangan sampai karena tidak ingin ditolak dalam melakukan perbuatan baik, kita kemudian berkompromi dengan dunia, dan menanggalkan identitas Kristiani kita, ke-Katolik-an kita.
Sekolah dan rumah sakit Katolik begitu dikenal karena kualitasnya, tetapi jangan pernah lupa apa yang menjiwai itu semua.
Anda mungkin seorang atlit Katolik yang meraih prestasi luar biasa dalam suatu pertandingan olahraga, tetapi jangan pernah lupa semangat Iman yang memampukan anda melalui berbagai hal untuk sampai disitu.
Seorang pengacara Katolik dapat memenangkan banyak perkara di pengadilan, tetapi jangan pernah memutarbalikkan apa yang adil dan benar, hanya karena uang dan ketakutan kehilangan klien.
Kita semua dipanggil untuk menjadi Katolik sejati, yang membawa Kristus di tengah dunia, di dalam keluarga, profesi kerja, hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, “apapun” resikonya.
Sama seperti Tuhan dan Penyelamat kita mengalami penolakan, demikian pula kita.
Inilah konsekuensi dari Iman Kristiani kita.
Kendati demikian, belajarlah dari Tuhan Yesus dan para kudus. Di tengah semua penolakan, kekecewaan, air mata, dan ketika darah mereka harus mengalir, bahkan sampai kehilangan nyawa karenanya, dalam kesetiaan iman mereka tetap dipenuhi dengan cinta yang meluap-luap akan sesama, untuk melayani dan mengasihi tanpa batas.
St. Josemaría Escrivá mengatakan, “Seandainya seluruh dunia dengan segala kekuatannya melawanmu, mengapa hal tersebut merisaukan hatimu? Engkau, majulah terus!”
Semoga kita selalu menemukan kekuatan pada Salib Tuhan. Semoga Perawan Suci Maria, hamba Allah yang setia, selalu menyertai kita dengan doa dan kasih keibuannya dalam menjalankan tugas kerasulan kita dengan gembira, dipenuhi sukacita Injil, agar semua orang boleh melihat perbuatan kita yang baik, dan memuliakan Allah Bapa di surga.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Kamis V Prapaska

image

DIPANGGIL UNTUK MATI

Bacaan:
Kej.17:3-9; Mzm.105:4-5.6-7.8-9; Yoh.8:51-59

Renungan:
Kerasulan untuk mewartakan Injil dan menjadikan “semua bangsa murid-Ku”, seringkali harus berhadapan dengan kenyataan bahwa tidak semua orang bisa menerima tuntutan Salib atau dipanggil untuk mengikuti jalan Sang Tersalib.
Penolakan akan selalu ada.
Ketika Allah mengikat perjanjian dengan Abraham pun, Allah sepenuhnya tahu bahwa bangsa yang dipilih-Nya untuk menjadi “kesayangan-Nya” itu akan berulang kali melukai Hati-Nya.
Tetapi, disinilah letak keagungan cinta dan belas kasih Allah.
Untuk mencintai tanpa batas, untuk memberi diri dan menyerahkan nyawa bagi mereka yang mungkin saja tidak akan pernah menghargai arti pengurbanan Salib.
Semakin paku menghujam tubuh Sang Penyelamat, yang ada bukanlah kekurangan atau ketiadaan cinta, melainkan kelimpahan cinta.
Karena itu, sama seperti Dia, demikianlah juga kita dipanggil.
Kita dipanggil untuk mencinta, cinta yang berbeda dengan yang dimengerti oleh dunia ini.
Cinta yang di dalamnya terkandung penolakan, air mata, derita, dan luka. Mereka yang setia memberi diri dalam cinta yang total sedemikian, pada akhirnya akan menemukan dirinya bersama Allah.
Inilah paradox cinta Ilahi, semakin sakit semakin cinta. Cinta yang meniadakan kesediaan untuk terluka dan mengampuni, adalah cinta yang bersyarat dan tidak Kristiani.
Karena itu, ingatlah baik-baik, setiap kali anda merasa lelah ditolak, dilempari batu, diludahi, diolo-olok karena mencintai sampai terluka, dan manakala hati serta lutut anda sudah merasa letih untuk berlutut dan membasuh kaki sesamamu, arahkanlah pandanganmu pada Salib dan temukanlah kekuatan disana.
Mereka yang kehilangan segala-galanya karena Salib, akan menemukan dan memperoleh Tuhan, Sang Segala.

“Tuhan, berilah kami hati seperti hatimu, yang selalu menaati kehendak-Mu, yang selalu dipenuhi dengan belas kasihan untuk mencintai sampai terluka, bahkan sekalipun kami harus mati karenanya. Amin.”

Pax, in aeternum.
Fernando